Title : Pandora
Author : Veve
Genre : Fantasy, Comedy, Romance
Cast :
All Hey! Say! JUMP Members
Kawazoe Tori / OC
Ishihara Mio / OC
Watanabe Ayaka / OC
Fukushi Hiroko / OC
Other casts will revealed
Length : Chapter
*
Chapter 5
Yabu membuka mata, dia
menoleh dan bergeser saat Tatsuya duduk di sebelahnya. ''Sudah ada ide?'' tanya
Tatsuya.
''Ideku, biarkan saja
mereka mengetahui semua ini sendiri,'' kata Yabu.
''Kau tahu kalau mereka
tidak akan siap menerima ini, Yabu,'' kata Tatsuya, ''kalau kau aku tidak
masalah. Tapi yang lain akan sulit menerima semua ini.''
''Paling yang tidak
bisa menerima cuma Tori,'' kata Yabu terkekeh, ''dia kan yang paling menganggap
Pandora cuma dongeng.''
''Menurutku justru Yang
Mulia yang tidak akan bisa menerima hal ini dengan mudah,'' kata Tatsuya, ''apa
kau tidak membayangkan bagaimana reaksinya kalau dia tahu dia adalah raja
Pandora?''
''Aku sudah bisa
menebaknya, Tatsuya,'' kata Yabu, ''tapi selama itu, biarkan ini menjadi
rahasia. Kemunculan monster-monster Shora adalah pemanasan sebelum mereka tahu
jatidiri mereka sebenarnya.''
''Tapi selama itu
mereka akan mengacau,'' kata Tatsuya, ''kita tidak bisa selamanya membantu
mereka, kan?''
''Kalau aku bisa,''
kata Yabu, ''aku, kan, salah satu pengawal Raja.''
Tatsuya mendengus dan
memutar bolamatanya. ''Ya aku tidak bertanya soal itu, Yabu,'' katanya
sweatdrop, ''dan.... Ah, apa kau sudah menemukan keturunan Venom?''
''Aku malah ngobrol
dengannya setiap hari,'' kata Yabu.
Tatsuya menoleh. ''Siapa?''
tanyanya, ''yang mana orangnya?''
''Kau akan tahu sendiri
nanti,'' kata Yabu sambil tersenyum, ''sekarang biarkan mereka bersenang-senang
dulu.'' Yabu menghela napas, dia memejamkan matanya.
*
''Aku kesepian,'' Keito
menghela napas, ''tidak ada yang bisa kuajak bercanda di kelas.''
''Apa kabar diriku yang
sendirian di kelas sejak tahun ajaran baru?'' balas Chinen sambil menyeruput
jusnya, ''kau baru ditinggal seminggu saja sudah kebakaran jenggot.''
''Kalau mereka enak,
ya,'' kata Keito sambil melihat yang lain, ''bertujuh. Bisa bercanda
ramai-ramai.''
''Ya tapi kalau mereka
berpacaran aku jadi obat nyamuk,'' balas Tori, ''mending sendirian di kelas
seperti Chii.''
Saat ini Tori dan yang
lain berkumpul di halaman kantin. ''Nanti kita ke kuil atau menjenguk Yuto?''
tanya Ryosuke.
''Ke kuil dulu untuk
berdoa, baru menjenguk Yuto,'' jawab Ayaka, ''kita mendoakan kesembuhan untuk
Yuto dulu baru menjenguknya.''
''Bicara soal Yuto,''
kata Chinen, ''jujur saja ini pertama kalinya aku melihat kejadian seperti itu.
Mengerikan sekali.''
''Kau benar,'' kata
Ryutaro, ''aku tidak menyangka kalau kita memang bisa mati betulan walaupun
hanya membunuh lewat mimpi. Seperti di film-film saja.''
Tori diam saja, dia berpikir
serius. Tori masih ingat saat pertama kali dia mendengar dongeng Pandora dari
Yabu, dan semua yang ada di dongeng itu seakan muncul menjadi nyata.
Monster-monster dan kejadian aneh yang bermunculan, semua seperti berhubungan.
Yang tidak dimengerti Tori, kenapa teman-temannya yang mengalami kejadian aneh
itu? Pertama Kei, sekarang Yuto. Entah nanti siapa yang jadi sasaran.
''Tori?''
Tori menoleh, dia
membuyarkan lamunannya dan menatap Yuya yang entah sejak kapan ada disana.
''Ee.... Menurutku kita ke kuil saja dulu,'' kata Tori, ''setelah itu baru
menjenguk Yuto.''
''Tori, kita tidak
membicarakan itu,'' kata Hikaru, ''ya ampun, kau melamun, ya?''
''Kau memikirkan apa?''
tanya Daiki, ''ada yang mengganggu pikiranmu, ya?''
Tori menghela napas dan
menggeleng. ''Maaf, aku pergi dulu,'' kata Tori. Dia melangkah meninggalkan
teman-temannya yang saling pandang kebingungan. Hiroko beranjak, diikuti Mio
dan Ayaka. ''Waktunya para gadis,'' kata Ayaka, ''dia hanya akan bicara kalau
ada kita berempat saja.'' Mereka bertiga berlari mengikuti Tori yang sudah
menghilang dari pandangan.
''Aku tidak mengerti
para gadis,'' gumam Keito, dia menyeruput jus jeruknya.
Hiroko, Mio, dan Ayaka
berlari menyusul Tori yang berjalan cepat di depan mereka. ''Tori,'' Hiroko menahan
Tori, ''kenapa kau ini? Kau mau kemana?''
''Aku mau ke hutan,''
jawab Tori.
''Kau mau apa ke
hutan?'' tanya Ayaka, ''kalau Takaki Senpai tahu dia bisa memarahimu.''
''Ya makanya jangan
memberitahu yang lain kalau aku ke hutan,'' kata Tori, ''apalagi Yuya Senpai.''
''Kau mau ke wilayah
batu itu, ya?'' tanya Mio.
Tori menoleh, dia
menatap Mio. ''Setelah apa yang terjadi, aku tidak bisa diam saja,'' kata Tori,
''aku harus mencaritahu apa yang sebenarnya terjadi.''
''Itu artinya kau
percaya dengan Pandora,'' kata Hiroko, ''apa aku benar?''
Tori menghela napas.
''Yah, aku tidak bisa tidak percaya,'' katanya, ''makanya aku harus mencaritahu
sebenarnya siapa yang menyebabkan teror ini.''
''Shora,'' jawab
Hiroko, Mio, dan Ayaka bersamaan.
Krik.
''Sudahlah,'' Tori
berlalu, ''ingat, jangan beritahu Yuya Senpai kalau aku meninggalkan sekolah.
Aku akan kembali sebelum jam sekolah berakhir.'' Tori berlari meninggalkan tiga
temannya itu.
*
Hikaru menghela napas,
dia lalu berjalan santai sambil melepas dasinya. Hikaru memasukkan dasi dan
jasnya ke tasnya, dia lalu berjalan sambil bersiul. Hikaru bosan mengikuti
kelas biologi, dan dia memilih untuk kabur dari sekolah.
Hikaru, sih, bosan
setiap saat.
Hikaru baru akan masuk
ke kedai ramen favoritnya saat dia melihat Tori dari kejauhan. ''Lho? Tori
membolos juga?'' gumam Hikaru, ''wah, kalau Yuya tahu bisa mengamuk dia.''
Hikaru berbalik, dia berlari mengikuti Tori. Hikaru menyeberang jalan, dia
melangkah cepat di belakang Tori.
Hikaru berhenti sejenak
dan melihat Tori masuk hutan. ''Mau apa dia kesana?'' gumam Hikaru, dia
terbelalak dan menjentikkan jarinya. ''Dia pasti mau ke batu Pandora itu,''
gumamnya, ''ah, dasar Tori. Sok tidak percaya, ujungnya percaya juga.'' Hikaru
terkikik dan kembali mengikuti Tori. Akan lucu bagi Hikaru kalau dia bisa
menggoda Tori besok.
Tori melangkah pelan
mendekati batu besar itu, dia menatap sekeliling. Kabut tebal menutupi
sekeliling batu, membuat Tori tidak melihat apa-apa selain kabut putih di
sekitarnya. ''Jadi batu ini yang katanya gerbang Pandora itu,'' gumam Tori
sambil menengok kesana kemari, ''batu berlumut begini apa istimewanya?'' Tori
mendongak, dia melihat tulisan diatas batu itu. ''Itu apa?'' gumamnya,
''tulisan apa itu?''
''Bari Pandorayi.
Artinya Selamat Datang Di Pandora.''
Tori menoleh, dia
melihat Hikaru mendekat dan menatapnya jahil. ''Wah, lihat ini,'' kata Hikaru
sambil terkekeh, ''sepertinya ada yang mulai percaya dengan kisah Pandora.''
''Tidak lucu,'' sahut
Tori saat Hikaru tertawa. Tori kembali menoleh kesana kemari, dia mencoba
mencari sesuatu yang bisa diteliti. Atau paling tidak menjadi petunjuk soal apa
yang terjadi belakangan ini.
''Monster!''
Tori tersentak dan
segera bersembunyi di belakang Hikaru. ''Mana?!'' katanya sambil celingukan,
''mana monsternya?! Ayo lari saja!'' Tori sudah berlari, tapi lalu dia berhenti
dan berbalik menatap Hikaru yang malah tertawa.
Cling.
''Senpai,'' Tori
menatap datar Hikaru, dia kesal sekali sekarang. Hikaru masih tertawa, dia
berkata, ''Aduh kau lucu sekali. Kemana Tori yang selalu ngotot kalau monster
hanya ilusi, hah? Dan kemana Tori yang selalu ngotot kalau Pandora hanya
dongeng?''
''Senpai, tidak ada
yang lucu!'' Tori mendekat dan menggeplak kepala Hikaru, ''apa sih yang kau
tertawakan?!''
Hikaru masih tertawa.
Tori berdecak, dia akhirnya melangkah meninggalkan Hikaru. Suasana hatinya
rusak seketika gara-gara Hikaru. ''Oi Tori!'' panggil Hikaru sambil berlari
mengikuti Tori, ''jangan marah, dong.''
Tori diam saja, dia
masih melangkah keluar hutan. Hikaru berlari, dia menahan Tori dan berkata,
''Maaf, deh. Nah, sekarang beritahu aku. Kau sedang apa disana?''
Tori diam saja, dia
membuang muka dan memasang wajah kesal setengah mati. ''Aku tidak akan
memberitahu siapapun,'' kata Hikaru, ''apa kau mencaritahu soal kejadian aneh
yang terjadi belakangan ini?''
''Kau sudah tahu kenapa
masih bertanya?'' balas Tori, ''tapi sepertinya tidak ada yang bisa ditemukan
di hutan.'' Tori menoleh kearah hutan, dia berkata, ''Dan soal monster yang
kulihat di hutan.... Senpai apa Pandora itu benar-benar ada?''
''Well, aku tidak tahu
soal itu,'' kata Hikaru, ''tapi kalau seperti ini kejadiannya sepertinya
Pandora benar-benar ada.''
Tori menghela napas dan
mengerang pelan. ''Katanya mereka disegel,'' kata Tori, ''lalu kenapa mereka
sekarang muncul?''
''Mungkin karena
segelnya lepas,'' kata Hikaru.
Tori diam, dia menatap
Hikaru dengan tatapan yang sulit diartikan. ''Kenapa kau menatapku begitu?''
Hikaru jadi bergidik ngeri melihat tatapan Tori, ''oi, jangan menatapku begitu.
Mengerikan, tahu tidak.''
''Segelnya terlepas,''
gumam Tori, ''aku harus kembali dulu.'' Tori langsung berlari meninggalkan
Hikaru, dia kembali ke hutan. Tori berhenti di depan batu besar itu, dia
celingukan dan mulai mengelilingi wilayah itu. Tori ingat cerita soal batu
kecil yang menurut teman-temannya adalah segel untuk para monster Shora. 'Kalau
aku bisa menemukannya, aku akan menutup segel itu jadi monster-monster itu
tidak akan mengacau disini,' kata Tori dalam hati, 'lalu Pandora akan kembali
jadi dongeng pengantar tidur.'
''Tori.''
Tori menoleh sekilas
kearah Hikaru, dia lalu kembali mencari batu segel itu. ''Tori,'' Hikaru
kembali memanggil.
''Apa?'' tanya Tori
tanpa menoleh.
''Ada pesan dari Mio,''
kata Hikaru.
''Bacakan.''
''Baiklah. Dia tanya
kapan kau kembali, karena Yuya Senpai mencarimu.''
Krik.
Tori menegakkan
tubuhnya, dia menatap Hikaru dengan mata terbelalak. ''Mati aku,'' gumamnya,
''aku lupa kalau aku harus kembali ke sekolah.''
*
Tegoshi dan Sho
berjalan mendekati seorang berjubah hitam di hutan. ''Selamat datang, Shige,''
ujar Sho, ''bagaimana perasaanmu sekarang?''
''Aku menghirup aroma
kemenangan, Tuan,'' kata Shige, ''sekarang apa yang harus aku lakukan?''
''Kau sudah membebaskan
tuanmu?'' tanya Tegoshi sambil celingukan, ''mana dia?''
''Tuan masih
beradaptasi dengan dunia manusia,'' jawab Shige, ''setelah ini dia akan
datang.'' Shige menatap Sho dan berujar, ''Tolong beri saya tugas, Tuan.''
''Lepaskan monster
andalan tuanmu,'' kata Sho, ''dan bunuh raja Pandora.''
''Menurutku sebaiknya
dia untuk penutup.''
Sho, Tegoshi, dan Shige
menoleh. Shige dan Tegoshi membungkuk memberi salam kepada seseorang yang
muncul di depan mereka. ''Apa kabar keturunan Venom, Tegoshi?'' tanya orang
itu, ''ah, lama sekali aku tidak bertemu dengannya.''
''Dia mirip Venom,
Tuan,'' jawab Tegoshi tersenyum, ''lalu, siapa target kita sekarang?''
''Aku ingin sekali
menghabisi Yuto,'' kata Shige, ''kenapa dia masih hidup sampai sekarang?''
''Yuto urusanku,
Shige,'' ucap orang itu tegas, ''kau urus saja Yuya. Dia lawanmu sejak lama,
kan?''
Shige diam sejenak, dia
menatap tajam orang itu. ''Yuya,'' gumamnya, ''aku sampai lupa dengan pengawal
itu. Akan kuhabisi dia.''
''Hati-hati, ya,'' kata
Tegoshi sambil memasang seringai jahilnya, ''Yuya itu tidak bisa dikalahkan,
lho. Kau saja kalah dengannya.''
''Itu dulu,'' kata
Shige, ''yang kuhadapi sekarang hanya keturunannya, dan dia tidak bisa apa-apa.
Sekali serang akan menghancurkan tulang-tulangnya sampai dia tidak akan
mengharapkan apapun kecuali kematiannya sendiri.''
''Ya ya,'' kata
Tegoshi, dia berdiri di belakang Sho dan tersenyum ceria. ''Aku bertaruh kau
akan gagal lagi,'' katanya sambil tersenyum.
''Kenapa kau mengatakan
itu?'' tanya Sho.
''Karena, Tuanku,''
jawab Tegoshi, dia mendekati Shige dan berkata, ''dia punya pelindung yang
kuat.''
''Siapa?'' tanya Shige.
''Lihat saja siapa
pelindungnya,'' kata Tegoshi, ''kau akan menangis nanti.''
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar