Jumat, 30 Oktober 2015

Pandora 05


Title : Pandora
Author : Veve
Genre : Fantasy, Comedy, Romance
Cast :
All Hey! Say! JUMP Members
Kawazoe Tori / OC
Ishihara Mio / OC
Watanabe Ayaka / OC
Fukushi Hiroko / OC
Other casts will revealed
Length : Chapter
*

Chapter 5


Yabu membuka mata, dia menoleh dan bergeser saat Tatsuya duduk di sebelahnya. ''Sudah ada ide?'' tanya Tatsuya.

''Ideku, biarkan saja mereka mengetahui semua ini sendiri,'' kata Yabu.

''Kau tahu kalau mereka tidak akan siap menerima ini, Yabu,'' kata Tatsuya, ''kalau kau aku tidak masalah. Tapi yang lain akan sulit menerima semua ini.''

''Paling yang tidak bisa menerima cuma Tori,'' kata Yabu terkekeh, ''dia kan yang paling menganggap Pandora cuma dongeng.''

''Menurutku justru Yang Mulia yang tidak akan bisa menerima hal ini dengan mudah,'' kata Tatsuya, ''apa kau tidak membayangkan bagaimana reaksinya kalau dia tahu dia adalah raja Pandora?''

''Aku sudah bisa menebaknya, Tatsuya,'' kata Yabu, ''tapi selama itu, biarkan ini menjadi rahasia. Kemunculan monster-monster Shora adalah pemanasan sebelum mereka tahu jatidiri mereka sebenarnya.''

''Tapi selama itu mereka akan mengacau,'' kata Tatsuya, ''kita tidak bisa selamanya membantu mereka, kan?''

''Kalau aku bisa,'' kata Yabu, ''aku, kan, salah satu pengawal Raja.''

Tatsuya mendengus dan memutar bolamatanya. ''Ya aku tidak bertanya soal itu, Yabu,'' katanya sweatdrop, ''dan.... Ah, apa kau sudah menemukan keturunan Venom?''

''Aku malah ngobrol dengannya setiap hari,'' kata Yabu.

Tatsuya menoleh. ''Siapa?'' tanyanya, ''yang mana orangnya?''

''Kau akan tahu sendiri nanti,'' kata Yabu sambil tersenyum, ''sekarang biarkan mereka bersenang-senang dulu.'' Yabu menghela napas, dia memejamkan matanya.
*
''Aku kesepian,'' Keito menghela napas, ''tidak ada yang bisa kuajak bercanda di kelas.''

''Apa kabar diriku yang sendirian di kelas sejak tahun ajaran baru?'' balas Chinen sambil menyeruput jusnya, ''kau baru ditinggal seminggu saja sudah kebakaran jenggot.''

''Kalau mereka enak, ya,'' kata Keito sambil melihat yang lain, ''bertujuh. Bisa bercanda ramai-ramai.''

''Ya tapi kalau mereka berpacaran aku jadi obat nyamuk,'' balas Tori, ''mending sendirian di kelas seperti Chii.''

Saat ini Tori dan yang lain berkumpul di halaman kantin. ''Nanti kita ke kuil atau menjenguk Yuto?'' tanya Ryosuke.

''Ke kuil dulu untuk berdoa, baru menjenguk Yuto,'' jawab Ayaka, ''kita mendoakan kesembuhan untuk Yuto dulu baru menjenguknya.''

''Bicara soal Yuto,'' kata Chinen, ''jujur saja ini pertama kalinya aku melihat kejadian seperti itu. Mengerikan sekali.''

''Kau benar,'' kata Ryutaro, ''aku tidak menyangka kalau kita memang bisa mati betulan walaupun hanya membunuh lewat mimpi. Seperti di film-film saja.''

Tori diam saja, dia berpikir serius. Tori masih ingat saat pertama kali dia mendengar dongeng Pandora dari Yabu, dan semua yang ada di dongeng itu seakan muncul menjadi nyata. Monster-monster dan kejadian aneh yang bermunculan, semua seperti berhubungan. Yang tidak dimengerti Tori, kenapa teman-temannya yang mengalami kejadian aneh itu? Pertama Kei, sekarang Yuto. Entah nanti siapa yang jadi sasaran.

''Tori?''

Tori menoleh, dia membuyarkan lamunannya dan menatap Yuya yang entah sejak kapan ada disana. ''Ee.... Menurutku kita ke kuil saja dulu,'' kata Tori, ''setelah itu baru menjenguk Yuto.''

''Tori, kita tidak membicarakan itu,'' kata Hikaru, ''ya ampun, kau melamun, ya?''

''Kau memikirkan apa?'' tanya Daiki, ''ada yang mengganggu pikiranmu, ya?''

Tori menghela napas dan menggeleng. ''Maaf, aku pergi dulu,'' kata Tori. Dia melangkah meninggalkan teman-temannya yang saling pandang kebingungan. Hiroko beranjak, diikuti Mio dan Ayaka. ''Waktunya para gadis,'' kata Ayaka, ''dia hanya akan bicara kalau ada kita berempat saja.'' Mereka bertiga berlari mengikuti Tori yang sudah menghilang dari pandangan.

''Aku tidak mengerti para gadis,'' gumam Keito, dia menyeruput jus jeruknya.

Hiroko, Mio, dan Ayaka berlari menyusul Tori yang berjalan cepat di depan mereka. ''Tori,'' Hiroko menahan Tori, ''kenapa kau ini? Kau mau kemana?''

''Aku mau ke hutan,'' jawab Tori.

''Kau mau apa ke hutan?'' tanya Ayaka, ''kalau Takaki Senpai tahu dia bisa memarahimu.''

''Ya makanya jangan memberitahu yang lain kalau aku ke hutan,'' kata Tori, ''apalagi Yuya Senpai.''

''Kau mau ke wilayah batu itu, ya?'' tanya Mio.

Tori menoleh, dia menatap Mio. ''Setelah apa yang terjadi, aku tidak bisa diam saja,'' kata Tori, ''aku harus mencaritahu apa yang sebenarnya terjadi.''

''Itu artinya kau percaya dengan Pandora,'' kata Hiroko, ''apa aku benar?''

Tori menghela napas. ''Yah, aku tidak bisa tidak percaya,'' katanya, ''makanya aku harus mencaritahu sebenarnya siapa yang menyebabkan teror ini.''

''Shora,'' jawab Hiroko, Mio, dan Ayaka bersamaan.

Krik.

''Sudahlah,'' Tori berlalu, ''ingat, jangan beritahu Yuya Senpai kalau aku meninggalkan sekolah. Aku akan kembali sebelum jam sekolah berakhir.'' Tori berlari meninggalkan tiga temannya itu.
*
Hikaru menghela napas, dia lalu berjalan santai sambil melepas dasinya. Hikaru memasukkan dasi dan jasnya ke tasnya, dia lalu berjalan sambil bersiul. Hikaru bosan mengikuti kelas biologi, dan dia memilih untuk kabur dari sekolah.

Hikaru, sih, bosan setiap saat.

Hikaru baru akan masuk ke kedai ramen favoritnya saat dia melihat Tori dari kejauhan. ''Lho? Tori membolos juga?'' gumam Hikaru, ''wah, kalau Yuya tahu bisa mengamuk dia.'' Hikaru berbalik, dia berlari mengikuti Tori. Hikaru menyeberang jalan, dia melangkah cepat di belakang Tori.

Hikaru berhenti sejenak dan melihat Tori masuk hutan. ''Mau apa dia kesana?'' gumam Hikaru, dia terbelalak dan menjentikkan jarinya. ''Dia pasti mau ke batu Pandora itu,'' gumamnya, ''ah, dasar Tori. Sok tidak percaya, ujungnya percaya juga.'' Hikaru terkikik dan kembali mengikuti Tori. Akan lucu bagi Hikaru kalau dia bisa menggoda Tori besok.

Tori melangkah pelan mendekati batu besar itu, dia menatap sekeliling. Kabut tebal menutupi sekeliling batu, membuat Tori tidak melihat apa-apa selain kabut putih di sekitarnya. ''Jadi batu ini yang katanya gerbang Pandora itu,'' gumam Tori sambil menengok kesana kemari, ''batu berlumut begini apa istimewanya?'' Tori mendongak, dia melihat tulisan diatas batu itu. ''Itu apa?'' gumamnya, ''tulisan apa itu?''

''Bari Pandorayi. Artinya Selamat Datang Di Pandora.''

Tori menoleh, dia melihat Hikaru mendekat dan menatapnya jahil. ''Wah, lihat ini,'' kata Hikaru sambil terkekeh, ''sepertinya ada yang mulai percaya dengan kisah Pandora.''

''Tidak lucu,'' sahut Tori saat Hikaru tertawa. Tori kembali menoleh kesana kemari, dia mencoba mencari sesuatu yang bisa diteliti. Atau paling tidak menjadi petunjuk soal apa yang terjadi belakangan ini.

''Monster!''

Tori tersentak dan segera bersembunyi di belakang Hikaru. ''Mana?!'' katanya sambil celingukan, ''mana monsternya?! Ayo lari saja!'' Tori sudah berlari, tapi lalu dia berhenti dan berbalik menatap Hikaru yang malah tertawa.

Cling.

''Senpai,'' Tori menatap datar Hikaru, dia kesal sekali sekarang. Hikaru masih tertawa, dia berkata, ''Aduh kau lucu sekali. Kemana Tori yang selalu ngotot kalau monster hanya ilusi, hah? Dan kemana Tori yang selalu ngotot kalau Pandora hanya dongeng?''

''Senpai, tidak ada yang lucu!'' Tori mendekat dan menggeplak kepala Hikaru, ''apa sih yang kau tertawakan?!''

Hikaru masih tertawa. Tori berdecak, dia akhirnya melangkah meninggalkan Hikaru. Suasana hatinya rusak seketika gara-gara Hikaru. ''Oi Tori!'' panggil Hikaru sambil berlari mengikuti Tori, ''jangan marah, dong.''

Tori diam saja, dia masih melangkah keluar hutan. Hikaru berlari, dia menahan Tori dan berkata, ''Maaf, deh. Nah, sekarang beritahu aku. Kau sedang apa disana?''

Tori diam saja, dia membuang muka dan memasang wajah kesal setengah mati. ''Aku tidak akan memberitahu siapapun,'' kata Hikaru, ''apa kau mencaritahu soal kejadian aneh yang terjadi belakangan ini?''

''Kau sudah tahu kenapa masih bertanya?'' balas Tori, ''tapi sepertinya tidak ada yang bisa ditemukan di hutan.'' Tori menoleh kearah hutan, dia berkata, ''Dan soal monster yang kulihat di hutan.... Senpai apa Pandora itu benar-benar ada?''

''Well, aku tidak tahu soal itu,'' kata Hikaru, ''tapi kalau seperti ini kejadiannya sepertinya Pandora benar-benar ada.''

Tori menghela napas dan mengerang pelan. ''Katanya mereka disegel,'' kata Tori, ''lalu kenapa mereka sekarang muncul?''

''Mungkin karena segelnya lepas,'' kata Hikaru.

Tori diam, dia menatap Hikaru dengan tatapan yang sulit diartikan. ''Kenapa kau menatapku begitu?'' Hikaru jadi bergidik ngeri melihat tatapan Tori, ''oi, jangan menatapku begitu. Mengerikan, tahu tidak.''

''Segelnya terlepas,'' gumam Tori, ''aku harus kembali dulu.'' Tori langsung berlari meninggalkan Hikaru, dia kembali ke hutan. Tori berhenti di depan batu besar itu, dia celingukan dan mulai mengelilingi wilayah itu. Tori ingat cerita soal batu kecil yang menurut teman-temannya adalah segel untuk para monster Shora. 'Kalau aku bisa menemukannya, aku akan menutup segel itu jadi monster-monster itu tidak akan mengacau disini,' kata Tori dalam hati, 'lalu Pandora akan kembali jadi dongeng pengantar tidur.'

''Tori.''

Tori menoleh sekilas kearah Hikaru, dia lalu kembali mencari batu segel itu. ''Tori,'' Hikaru kembali memanggil.

''Apa?'' tanya Tori tanpa menoleh.

''Ada pesan dari Mio,'' kata Hikaru.

''Bacakan.''

''Baiklah. Dia tanya kapan kau kembali, karena Yuya Senpai mencarimu.''

Krik.

Tori menegakkan tubuhnya, dia menatap Hikaru dengan mata terbelalak. ''Mati aku,'' gumamnya, ''aku lupa kalau aku harus kembali ke sekolah.''
*
Tegoshi dan Sho berjalan mendekati seorang berjubah hitam di hutan. ''Selamat datang, Shige,'' ujar Sho, ''bagaimana perasaanmu sekarang?''

''Aku menghirup aroma kemenangan, Tuan,'' kata Shige, ''sekarang apa yang harus aku lakukan?''

''Kau sudah membebaskan tuanmu?'' tanya Tegoshi sambil celingukan, ''mana dia?''

''Tuan masih beradaptasi dengan dunia manusia,'' jawab Shige, ''setelah ini dia akan datang.'' Shige menatap Sho dan berujar, ''Tolong beri saya tugas, Tuan.''

''Lepaskan monster andalan tuanmu,'' kata Sho, ''dan bunuh raja Pandora.''

''Menurutku sebaiknya dia untuk penutup.''

Sho, Tegoshi, dan Shige menoleh. Shige dan Tegoshi membungkuk memberi salam kepada seseorang yang muncul di depan mereka. ''Apa kabar keturunan Venom, Tegoshi?'' tanya orang itu, ''ah, lama sekali aku tidak bertemu dengannya.''

''Dia mirip Venom, Tuan,'' jawab Tegoshi tersenyum, ''lalu, siapa target kita sekarang?''

''Aku ingin sekali menghabisi Yuto,'' kata Shige, ''kenapa dia masih hidup sampai sekarang?''

''Yuto urusanku, Shige,'' ucap orang itu tegas, ''kau urus saja Yuya. Dia lawanmu sejak lama, kan?''

Shige diam sejenak, dia menatap tajam orang itu. ''Yuya,'' gumamnya, ''aku sampai lupa dengan pengawal itu. Akan kuhabisi dia.''

''Hati-hati, ya,'' kata Tegoshi sambil memasang seringai jahilnya, ''Yuya itu tidak bisa dikalahkan, lho. Kau saja kalah dengannya.''

''Itu dulu,'' kata Shige, ''yang kuhadapi sekarang hanya keturunannya, dan dia tidak bisa apa-apa. Sekali serang akan menghancurkan tulang-tulangnya sampai dia tidak akan mengharapkan apapun kecuali kematiannya sendiri.''

''Ya ya,'' kata Tegoshi, dia berdiri di belakang Sho dan tersenyum ceria. ''Aku bertaruh kau akan gagal lagi,'' katanya sambil tersenyum.

''Kenapa kau mengatakan itu?'' tanya Sho.

''Karena, Tuanku,'' jawab Tegoshi, dia mendekati Shige dan berkata, ''dia punya pelindung yang kuat.''

''Siapa?'' tanya Shige.

''Lihat saja siapa pelindungnya,'' kata Tegoshi, ''kau akan menangis nanti.''
***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar