Title : The School
Author : Veve
Genre : School, Drama
Cast :
BTS All Members
Han Jiyoo (OC)
Park Sena (OC)
Red Velvet All Members (start from Lesson 02)
And others
Length : Chapter
*
Holla minna-san
Ini FF Kpop pertamaku, atau mungkin yang pertama dipost
Eh yang kedua ding salah/?
FF ini terinfluence oleh drama Jepang Shiritsu Bakaleya Koukou dan Gokusen
Mohon maaf kalo ada banyak typo
Jangan bash saya dengan pairing di FF ini :v
Jangan diplagiat ya, susah tauk bikinnya *author banyak bacot
Enjoy!!!
*
Lesson
3
Sena
menyetir mobilnya keluar dari tempat bimbingan belajar. Sudah jam delapan
malam, Appa pasti sudah pulang. Sena sedikit mempercepat laju mobilnya, dia
ingin cepat sampai di rumah.
Sena
mendadak menginjak rem mobilnya, dia terkejut melihat Taehyung tiba-tiba muncul
di depannya. Taehyung tampak berdecak, dia berlari lagi seakan tidak melihat
Sena disana. Sena melongo, dia menghela napas dan kembali menyetir mobilnya
menuju rumah.
“Anak
aneh,” gumam Sena.
*
Jiyoo
duduk, dia membuka kotak bekalnya dan menatap teman-temannya sambil tersenyum.
“Manhi duseyo, yeorobun,” kata Jiyoo. “Manhi duseyo,” sahut yang lain, mereka
mulai memakan bekal mereka. Jiyoo tersenyum, dia melahap bekal kesukaannya,
nasi goring Thailand buatan ibunya. Meskipun beliau sibuk, tapi selalu
menyempatkan diri membuatkan bekal untuk Jiyoo.
Brak!
Jiyoo
dan yang lain menoleh kaget. Jungkook duduk tak jauh dari Jiyoo, dia menghirup
napas dalam-dalam dan mulai makan ramyun secepat kilat. Setelah menyeruput kuah
terakhir, Jungkook menoleh kearah Jiyoo dan teman-temannya yang melongo
keheranan. “Aku menaaaaang!” teriak Jungkook, “aku makan lebih cepat daripada
mereka!”
Teman-teman
Jungkook muncul, mereka bersorak, “Jeon Jungkook! Jeon Jungkook! Uri leader
Jeon Jungkook!” Mereka terus bersorak sambil meninggalkan tempat itu. “Mereka…
sedang apa?” Tanya Wendy, dia masih tidak mengerti dengan sikap Jungkook tadi.
Jiyoo
menghela napas, dia menatap yang lain dan berkata, “Mari kita lanjutkan makan.”
Jiyoo tersenyum, dia melanjutkan makan bersama yang lain. Dalam hati Jiyoo
sedikit geli dengan tingkah Jungkook tadi, walaupun dia juga bingung apa maksud
Jungkook melakukannya.
Lain
di kantin, lain pula di kelas. Leeteuk mengakhiri pelajaran dengan memberikan
tugas esai kepada para murid. “Jiyoo-ssi, tolong bersihkan papan tulisnya,”
kata Leeteuk sambil tersenyum. Jiyoo tersenyum, dia berdiri dan mengambil
penghapus lalu mulai membersihkan tulisan di papan tulis.
Jungkook
secepat kilat menyambar penghapus di sebelah Jiyoo, mengagetkan gadis itu.
Jungkook dengan cekatan menghapus tulisan, walaupun masih banyak yang tidak
terhapus. Jungkook lalu berteriak dan berkata, “Aku menghapus tulisan lebih
banyak darinyaaaaa!” Teriakan Jungkook lagi-lagi disambut sorakan
teman-temannya yang meneriakkan nama Jungkook seperti mengelu-elukan seorang
raja.
Jiyoo menoleh, dia
menatap kearah Sena keheranan. Sena diam saja, dia membuang muka dan terlihat
jelas kalau dia menahan tawa. Sementara teman-teman lain hanya menatap para
laki-laki dengan tatapan what-the-hell-are-you-doing. Jiyoo melongo, tapi dia
sedikit terhibur dengan tingkah konyol Jungkook. Leeteuk sendiri tidak bisa
berkata apa-apa, dia juga melongo bingung melihat tingkah Jungkook.
*
“Aku
tidak paham dengan maksud mereka,” ucap Yeri.
“Mereka
berkampanye, kan?” sahut Wendy.
Dua
anak itu menatap gerombolan Jungkook dari kejauhan. Jungkook memakai selempang
bertuliskan ‘Jungkook LEADER’ dan ikat kepala bertuliskan serupa. Teman-teman
Jungkook juga memakai ikat kepala serupa dan membawa papan bertuliskan dukungan
untuk Jungkook. “Yeorobun!” teriak Yoongi, “sambutlah ketua kita, Jeon
Jungkook!” Yang lain bersorak lagi lalu berteriak, “Jeon Jungkook! Jeon
Jungkook! Uri leader Jeon Jungkook!”
“Apa
kubilang,” kata Wendy, “kampanye tidak resmi.”
Irene
dan Seulgi melangkah mendekati gerombolan siswa Narin. “Jungkook-ssi,” panggil
Seulgi, “ini adalah jadwal yang harus kau penuhi selama pemilihan.” Dia
menyerahkan selembar kertas kepada Jungkook. Jungkook membaca tulisan di kertas
itu, dia bertanya, “Pengajuan visi dan misi? Apa itu?”
“Kau
akan masuk ke setiap kelas untuk mengutarakan visi dan misi kalau kau terpilih
menjadi ketua Dewan Murid,” Irene menjelaskan, “itu dilakukan untuk menunjukkan
kepedulianmu terhadap sekolah.”
“Pidato
akhir akan diadakan tiga hari lagi,” kata Seulgi, “kalau kau tidak hadir saat
pidato akhir, kau akan dianggap mengundurkan diri.” “Dan setelah pidato akhir
baru akan dilaksanakan pemilihan,” kata Irene. Mereka berdua memberi salam,
lalu pergi meninggalkan yang lain. Jungkook membaca jadwal itu lagi, dia lalu
berdecak dan berkata, “Kenapa tidak adu kekuatan saja, sih? Ini merepotkan
sekali.”
“Ya.
Taehyung kenapa?” sahut Ilhoon.
Jungkook
dan yang lain menoleh. Jungkook terkejut melihat Taehyung berontak saat dibawa
oleh dua orang yang dikenali Jungkook sebagai orang kepolisian. Jungkook dan
teman-temannya berlari dan menghalau polisi itu. “Apa-apaan kalian, hah?!”
sahut Jungkook, “kenapa kalian memaksa temanku ikut kalian?!” Jungkook menatap
Taehyung dan bertanya, “Apa yang terjadi? Kau tidak membuat masalah, kan?”
“Bukan
aku pelakunya,” kata Taehyung, dia menatap polisi itu dan berteriak, “Aku tidak
melakukannya!”
Jungkook
mengerutkan dahi bingung. “Maaf, tapi dia akan ditahan sampai penyidikan
selesai,” ucap seorang polisi, “dia ditahan atas tuduhan pencopetan di dekat
stasiun. Saksi melihat dia berkeliaran di tempat kejadian semalam.”
Semua
orang terkejut mendengar pernyataan polisi itu. Taehyung terbelalak, dia
langsung menatap Sena penuh kebencian. “Chamkamman,” kata Jungkook, dia
berusaha menahan polisi itu membawa Taehyung, “Taehyung tidak mungkin mencopet!
Kalian salah orang! Hei!” Jungkook mengejar polisi itu, dia berteriak,
“Taehyung bukan pencopet! Tunggu! Kalian tidak boleh membawanya!” Murid-murid
lain juga ikut berlari mengejar mobil polisi yang membawa Taehyung. Jungkook
terengah-engah, dia berhenti mengejar saat mobil polisi itu hilang di belokan.
“Taehyung tidak bersalah!” teriak Jungkook, “dia tidak bersalah sama sekali!”
“Tidak
kusangka Taehyung-ssi melakukan tindakan seburuk itu,” komentar Irene, “sangat
tidak terpuji.” “Pantas saja sekolah ini akan ditutup,” sahut Wendy, “tindakan
mereka sangat tidak mencerminkan perilaku murid teladan.”
Jiyoo
menoleh, dia melihat Sena diam menatap kearah gerbang sekolah. Tatapan Sena
menandakan dia sedang memikirkan sesuatu. “Sena-ssi,” panggil Jiyoo, “apa kau
memikirkan sesuatu?”
Sena
menatap Jiyoo, dia tersenyum dan memberi salam. Sena menatap sekilas kearah
gerbang sekolah sebelum melangkah masuk kearah gedung. Jiyoo menatap intens
Sena, dia tahu persis ada yang disembunyikan gadis itu. Jiyoo menghela napas,
dia menatap yang lain seraya berkata, “Yeorobun, mari kita masuk kelas. Jam
pelajaran sudah akan dimulai.” Jiyoo menatap kearah gerbang, dia lalu melangkah
bersama yang lain menuju kelas.
*
Jungkook
dan yang lain diam, dia terlihat sangat kalut. “Taehyung tidak mungkin
mencopet,” kata Namjoon, “aku sangat mengenalnya. Taehyung bukan orang yang
akan melakukan tindakan bodoh seperti itu.” “Meskipun dia idiot, tapi dia tahu
perbedaan benar dan salah,” kata Jimin, “dia tidak akan mencopet meskipun
hidupnya sengsara."
“Tapi
orang bias melakukan banyak hal tanpa pikir panjang saat sedang terdesak,”
sahut Yeri.
“Diam
kalian!” Yoongi menyentak sambil menggebrak meja, membuat para gadis langsung
merapat takut dibelakang Sena dan Jiyoo. “Kalian tidak mengenal Taehyung, jadi
diam dan jangan berargumen macam-macam,” geram Yoongi.
“Pertanyaannya,
kenapa kesaksian orang itu langsung menuju kepada Taehyung?” tanya Jin .
Semua
mata menatap Jin. “Kalau laporan saksi itu langsung mengarah kepada Taehyung,
artinya dia mengenal Taehyung, kan?” sahut Jin mengutarakan analisanya, “dia
pasti masih punya hubungan dengan Taehyung, atau minimal pernah mengenal
Taehyung.”
“Kau
benar,” sahut Hoseok, “kalau memang begitu, pasti dia mengenal Taehyung dan
mengira Taehyung pelakunya.” “Akan kuhabisi orang itu,” Yoongi menggeram, “dia
membuat Taehyung dipenjara atas kesalahan orang lain!” “Kau benar,” kata Jimin,
“aku tidak akan memberi ampun kepada orang itu.”
“Semalam
aku melihatnya di dekat lokasi kejadian.”
Jiyoo
dan yang lain langsung menatap Sena.”Aku baru pulang dari tempat bimbingan
belajar saat aku melihat Taehyung-ssi berlari dari arah stasiun,” Sena
bercerita, “sekitar jam delapan malam.”
Yoongi
menggebrak meja dan menarik kasar kerah seragam Sena. Beberapa murid memekik,
Jiyoo segera berkata, “Tolong jangan kasar kepada Sena-ssi!” Jiyoo yang akan
menolong Sena didorong dengan keras oleh Yoongi hingga menabrak meja. “Kau
pasti yang melaporkannya ke polisi!” sentak Yoongi, “kurang ajar! Beraninya kau
menuduh Taehyung!” Yoongi langsung mengayunkan kepalan tangannya kearah Sena.
“Hentikan!” jerit Jiyoo panik.
Namjoon
langsung menangkis pukulan Yoongi dan mendorongnya. Jiyoo langsung mendekati
Sena dan menatap khawatir temannya itu. “Sena-ssi, neo gwaenchanha?” tanya
Jiyoo panik, dia menatap kesal Yoongi dan berkata, “Kenapa kau jahat sekali
menuduh Sena-ssi yang melaporkan Taehyung-ssi?”
“Harusnya
kau tanyakan itu kepadanya!” sahut Yoongi, dia akan menerjang Sena tapi Namjoon
masih menahannya. “Lepaskan aku! Biar kuhajar dia!” teriak Yoongi. Namjoon
meninju muka Yoongi keras dan mendorongnya kasar. “Hei! Kalian kenapa malah
berkelahi?! Berhenti!” sahut Jin, dia dan Jimin segera memisahkan dua orang itu
sebelum terjadi perkelahian susulan. Jiyoo dan yang lain berdiri melindungi
Sena, sementara Sena masih tampak tenang merapikan seragamnya. Jiyoo menatap
Sena, dia tidak percaya Sena yang melaporkan Taehyung.
“Daripada
kau menghajarnya, lebih baik kita cari pelaku asli pencopetan dan membebaskan
Taehyung,” kata Namjoon, “kau akan tampak bodoh karena memukul perempuan.”
“Kita akan membebaskan Taehyung,” kata Hoseok, dia menatap sinis para gadis,
terlebih kepada Sena dan melangkah keluar diikuti yang lain. “Jungkook-ssi,
kalau kau membuat masalah kau akan didiskualifikasi dari pemilihan,” sahut
Jiyoo.
“Justru
kalian yang membuat masalah!” bentak Jungkook, “aku akan membebaskan Taehyung,
dan mengalahkan kalian.” Jungkook langsung berlari menyusul yang lain. Jiyoo
menunduk sedih mendengar ucapan Jungkook barusan. “Apa aku membuat masalah?”
gumamnya sedih. Jiyoo menatap Sena, dia mendekat dan bertanya, “Sena-ssi, apa
kau yang melaporkan Taehyung-ssi kepada polisi?”
Sena
menghela napas, dia menjawab, “Tidak. Aku bahkan baru hari ini mendengar berita
pencopetan di stasiun.” “Jadi, siapa yang melaporkan Taehyung-ssi?” tanya Joy,
“dia bisa saja tidak bersalah.” “Kita akan tahu setelah penyidikan selesai,”
kata Seulgi, “nah, bagaimana kalau kita rapikan dulu kelas ini? Jiyoo-ssi?”
Jiyoo
mengangguk, dia menatap sedih Sena dan mulai membersihkan kelas. Sena ikut
menata meja, dia menunduk dan mengerutkan dahi melihat sebuah kunci berbandul
biru di dekat kaki meja. “Ige mwoya?” gumam Sena, dia menatap sekeliling kelas
dan mengantongi kunci itu.
*
Jungkook
menyeka keringat di dahinya, dia berlari pelan dan menemui beberapa orang yang
berkerumun di dekat stasiun. “Permisi, apa ada diantara kalian yang berada
disini semalam?” tanyanya, “temanku dituduh melakukan pencopetan disini. Apa
ada diantara kalian yang berada disini sekitar jam delapan malam dan melihat
kejadian itu?”
Di
sisi lain, Jimin dan Yoongi membagikan selebaran. “Siapapun yang melihat
kejadian pencopetan di stasiun atau berada di sekitar stasiun semalam, tolong
hubungi kami,” sahut Jimin sambil membagikan selebaran. “Kami membutuhkan saksi
untuk membebaskan teman kami,” sahut Yoongi, “tolong bantu kami.” Yoongi
menoleh dan melihat orang-orang membuang selebaran yang mereka bagikan, dia ingin
marah tapi Jimin menahannya. “Ingat, kita sedang berusaha membebaskan
Taehyung,” kata Jimin mengingatkan. Dia mengambil selebaran di tempat sampah
dan kembali membagikannya.
“Kalau
kalian lewat sana semalam dan melihat ada yang mencurigakan, tolong beritahu
kami,” ucap Jin kepada sekelompok siswi SMP, “teman kami dipenjara karena
dituduh mencopet di stasiun.” “Apa kalian melihat ada orang yang mencurigakan
disana semalam?” tanya Namjoon.
“Kalaupun
kami tahu, kami tidak akan memberitahu kalian,” kata seorang siswi ketus.
“Kecuali kalian mau membelikan kami rokok disana,” sahut yang lain, mereka
terkikik dan melangkah meninggalkan Jin dan Namjoon yang melongo. “Dasar,”
umpat Namjoon, “kalau aku orangtua kalian sudah kupasung kalian di gudang bawah
tanah.”
Jungkook
duduk di trotoar, Jimin dan Yoongi menyusul. Dua anak itu sudah mandi keringat.
Jin dan Namjoo mendekat dan duduk di dekat Jimin dan Yoongi. “Nol,” kata Jimin,
“tidak ada yang membantu.” “Aku juga,” kata Jungkook, “mereka tidak memberikan
jawaban yang memuaskan.” “Aku dan Namjoon malah hampir dipalak anak SMP,” sahut
Jin. Yoongi tertawa dan menendang Jin. “Payah,” kata Yoongi, “masa anak SMA
dipalak anak SMP? Bunuh diri saja sana.”
“Mana
Hoseok?” tanya Namjoon.
Jungkook
menoleh kearah stasiun. “Kami berpisah di pintu masuk tadi,”jawab Jungkook,
“entahlah. Mungkin dia masih mencari saksi.”
Tak
lama, Hoseok muncul dan berjalan kearah yang lain. “Bagaimana?” tanya Jin, “kau
menemukan sesuatu?”
Hoseok
memasang wajah kusut, dia menjawab, “Aku mencari rekaman CCTV di ruang
informasi, tapi ternyata semua kamera CCTV sedang dalam perbaikan semalam.”
Hoseok mengerang dan duduk di dekat Jungkook. “Sekarang apa?” tanyanya, “tidak
ada bukti yang menunjukkan Taehyung tidak bersalah.” “Ini semua gara-gara Sena,”
kata Yoongi kesal, “aku akan memberinya pelajaran.” “Mereka benar-benar membawa
sial,” sahut Namjoon, “sejak kedatangan mereka, kita terus mendapat masalah.”
Jin
menoleh, dia menatap Jimin yang seperti sedang berpikir. “Jimin, neo
gwaenchanha?” tanyanya.
“Aniya,
aky hanya sedang memikirkan sesuatu yang aneh,” jawab Jimin, “belakangan ini
Taehyung sering sekali pulang lebih awal. Dia biasanya bersama kita, tapi
beberapa hari ini dia jarang berkumpul bersama kita.” Jimin menatap yang lain
dan berkata, “Apa kalian tidak merasa ada yang aneh dengan Taehyung?”
Jungkook
terdiam, dia berpikir. Jungkook menyadari perubahan sikap Taehyung belakangan
ini. Dia sering melamun, kadang fokusnya juga hilang. Taehyung juga sering
tertidur di kelas atau saat jam istirahat. “Kalau saja Taehyung bersama kita
malam itu, hari ini tidak akan terjadi,” kata Namjoon, “nah, bagaimana kalau
kita menengok Taehyung? Dia akan senang dengan kedatangan kita.”
*
Jiyoo
menatap Sena, dia mendekat dan berkata, “Sena-ssi, aku percaya kau tidak akan
melaporkan Taehyung-ssi tanpa bukti yang kuat. Tapi… apa menurutmu kita harus
melakukan sesuatu?”
“Untuk
apa?” sahut Yeri, “Jiyoo-ssi, sebaiknya kau berkonsentrasi dengan pemilihan.”
“Yeri-ssi benar,” ucap Wendy, “kalau kau melibatkan diri, kau akan ikut kena
masalah. Lagipula, kita tidak tahu apakah Taehyung-ssi bersalah atau tidak,
kan?”
Jiyoo
menatap jajaran bangku yang kosong, dia lalu menatap Sena seakan meminta
pendapatnya. “Bantu mereka menemukan pelaku aslinya, Jiyoo-ssi,” kata Sena,
“anggaplah ini politik pemilihan. Kalau kau menunjukkan kepedulianmu, mereka
akan mendukungmu.” Sena tersenyum, dia melanjutkan, “Aku tahu kau pasti bisa
melakukannya.” Sena memberi salam, dia berjalan keluar meninggalkan yang lain.
“Sena-ssi.
Chamkamman.”
Sena
menoleh, dia melihat Jiyoo berlari kearahnya. “Sena-ssi, apa kau mau membantuku
mencari pelaku aslinya?” tanya Jiyoo.
Sena
diam sejenak, dia tampak berpikir. “Kalau saja aku bisa, Jiyoo-ssi,” kata Sena,
“tapi aku tidak bisa melewatkan bimbingan belajar.” Sena menatap Jiyoo yang
menunduk, dia berkata, “Jeosonghamnida, Jiyoo-ssi. Ah, bagaimana kalau
Irene-ssi saja yang membantumu?” Sena menoleh dan berkata, “Irene-ssi, maukah
kau membantu Jiyoo-ssi mencari pelaku asli pencopetan itu?”
Irene
mendekati Jiyoo dan Sena. “Apa kita benar-benar harus melakukannya?” tanya
Irene, “mencari bukti itu tidak bisa cepat.”
“Setidaknya
kita membantu,” kata Sena, “nah, Jiyoo-ssi, sudah ada Irene-ssi yang akan
membantu. Anggap ini sebagai bagian tugas kita membersihkan nama baik sekolah
ini. Dan saranku, carilah petunjuk di sekitar stasiun sampai ke wilayah di
jembatan dekatnya.” Sena tersenyum, dia kembali memberi salam dan melangkah
pergi.
Jiyoo
menghela napas menatap kepergian Sena. “Jiyoo-ssi,” panggil Irene, “kajja, kita
bantu mereka menemukan pelaku aslinya.” Jiyoo tersenyum dan mengangguk, dia
berjalan bersama Irene keluar sekolah.
*
Jungkook
dan Jin duduk berhadapan dengan Taehyung, dibatasi dinding kaca. Jungkook miris
sekali melihat Taehyung dan tampak pucat. Tidak ada sinar kegilaan yang
terpancar di mata Taehyung, sorot matanya kosong dan rambutnya acak-acakan.
“Apa yang terjadi?” sahut Jungkook, “kau tidak mungkin melakukan tindakan bodoh
seperti itu, kan, Taehyung-ah?” “Katakan saja apa yang terjadi,” kata Jin,
“kalau kau diam saja, kami tidak akan bisa membelamu.”
Taehyung
diam, bibirnya terkatup rapat. “Taehyung-ah,” sahut Jin, “kau jangan diam
saja.” “Kumohon bicaralah,” kata Jungkook.
Taehyung
mendongak, dia menatap jenaka kedua sahabatnya itu. “Apa-apaan sikap dramatis
itu, hah?” kata Taehyung ceria, “nan gwaenchanha. Ya, Jungkook-ah, dua hari
lagi pidato akhir. Kau sudah menyiapkan pidatonya belum? Kau harus menang, ya.
Tidak lucu kalau kau dikalahkan oleh perempuan.”
“Aku
tidak bisa berkonsentrasi,” kata Jungkook, “ayolah, bagaimana bisa aku menulis
pidato kalau kau terkena masalah begini?”
Taehyung
tertawa, dan itu semakin membuat Jungkook sakit karena dia tahu Taehyung
memaksakan diri untuk terlihat baik-baik saja. “Babo,” katanya, “sejak kapan
kau jadi melankolis begitu, hah?” Taehyung merogoh saku seragamnya dan
menunjukkan selembar kertas yang terlipat kepada Jungkook. “Ini pidato
untukmu,” kata Taehyung, “kau harus memenangkan pemilihan. Aku yakin pidato ini
akan memenangkan hati semua orang.” Taehyung menatap polisi yang mengawasi
mereka, dia berkata, “Tolong berikan ini kepada dia. Ini naskah pidato, dia
akan ikut pemilihan ketua Dewan Murid besok.”
“Taehyung-ah…”
“Lakukan
untukku, Jungkook-ah,” sela Taehyung, “tolong menangkan pemilihan ini untukku.
Jebal.”
Jungkook
dan Jin menatap Taehyung. Jungkook tahu Taehyung menahan airmatanya. Jungkook menerima
teks pidato itu, membacanya dan seketika dia tertawa. “Aku justru akan kalah
kalau memakai pidato ini,” ejek Jungkook, “Jin-ah. Baca ini.” Jin membaca
naskah itu, dia lalu tertawa. “Dasar payah, pidato macam apa ini?” komentar
Jin, “ini sangat tidak Bangtan.”
“Ya!
Jangan tertawa!” sahut Taehyung cepat, tapi Jin dan Jungkook masih saja
tertawa. Jin keluar ruangan sambil membawa naskah itu, tak lama Yoongi
berteriak, “Babo! Kau pikir Jungkook akan pidato di depan anak TK?!”
“Ini bahkan lebih buruk
daripada buatanku,” suara Jimin terdengar.
“Taehyung-ah! Kau mau
Jungkook kalah, ya?!” sahut Hoseok.
“Ini membuktikan
kejeniusan Taehyung,” kata Namjoon, “dia terlalu jenius sampai akhirnya jadi
bodoh.”
Taehyung tersenyum
kecil mendengar keributan teman-temannya, dia merasa sedikit terhibur. Dia
berusaha keras menahan airmatanya. “Gomawo, Taehyung-ah,” ucap Jungkook, “aku
janji akan membebaskanmu darisini.”
“Jangan pikirkan aku,” kata Taehyung, “sana pulang. Kau
harus bangun pagi besok untuk kampanye lagi.”
Jungkook mengangguk. “Jaga dirimu,” kata Jungkook, dia
beranjak dan melangkah keluar. Yoongi, Jimin, Namjoon, Hoseok, dan Jin melongok
lalu melambaikan tangan kepada Taehyung. Taehyung tersenyum dan melambaikan
tangan juga, dia menghela napas menatap kepergian teman-temannya dan bergumam,
“Mianhae.”
*
Sebenernya ini FF mau aku terusin sampe kelar, cuma karena kepanjangan aku bagi aja jadi dua part
Hayooooo, siapa kira-kira yang ngelaporin Taehyung hayoooo?
Tunggu di part kedua yaaaaa *cuih XD
See you

Tidak ada komentar:
Posting Komentar