Jumat, 30 Oktober 2015

Pandora 05


Title : Pandora
Author : Veve
Genre : Fantasy, Comedy, Romance
Cast :
All Hey! Say! JUMP Members
Kawazoe Tori / OC
Ishihara Mio / OC
Watanabe Ayaka / OC
Fukushi Hiroko / OC
Other casts will revealed
Length : Chapter
*

Chapter 5


Yabu membuka mata, dia menoleh dan bergeser saat Tatsuya duduk di sebelahnya. ''Sudah ada ide?'' tanya Tatsuya.

''Ideku, biarkan saja mereka mengetahui semua ini sendiri,'' kata Yabu.

''Kau tahu kalau mereka tidak akan siap menerima ini, Yabu,'' kata Tatsuya, ''kalau kau aku tidak masalah. Tapi yang lain akan sulit menerima semua ini.''

''Paling yang tidak bisa menerima cuma Tori,'' kata Yabu terkekeh, ''dia kan yang paling menganggap Pandora cuma dongeng.''

''Menurutku justru Yang Mulia yang tidak akan bisa menerima hal ini dengan mudah,'' kata Tatsuya, ''apa kau tidak membayangkan bagaimana reaksinya kalau dia tahu dia adalah raja Pandora?''

''Aku sudah bisa menebaknya, Tatsuya,'' kata Yabu, ''tapi selama itu, biarkan ini menjadi rahasia. Kemunculan monster-monster Shora adalah pemanasan sebelum mereka tahu jatidiri mereka sebenarnya.''

''Tapi selama itu mereka akan mengacau,'' kata Tatsuya, ''kita tidak bisa selamanya membantu mereka, kan?''

''Kalau aku bisa,'' kata Yabu, ''aku, kan, salah satu pengawal Raja.''

Tatsuya mendengus dan memutar bolamatanya. ''Ya aku tidak bertanya soal itu, Yabu,'' katanya sweatdrop, ''dan.... Ah, apa kau sudah menemukan keturunan Venom?''

''Aku malah ngobrol dengannya setiap hari,'' kata Yabu.

Tatsuya menoleh. ''Siapa?'' tanyanya, ''yang mana orangnya?''

''Kau akan tahu sendiri nanti,'' kata Yabu sambil tersenyum, ''sekarang biarkan mereka bersenang-senang dulu.'' Yabu menghela napas, dia memejamkan matanya.
*
''Aku kesepian,'' Keito menghela napas, ''tidak ada yang bisa kuajak bercanda di kelas.''

''Apa kabar diriku yang sendirian di kelas sejak tahun ajaran baru?'' balas Chinen sambil menyeruput jusnya, ''kau baru ditinggal seminggu saja sudah kebakaran jenggot.''

''Kalau mereka enak, ya,'' kata Keito sambil melihat yang lain, ''bertujuh. Bisa bercanda ramai-ramai.''

''Ya tapi kalau mereka berpacaran aku jadi obat nyamuk,'' balas Tori, ''mending sendirian di kelas seperti Chii.''

Saat ini Tori dan yang lain berkumpul di halaman kantin. ''Nanti kita ke kuil atau menjenguk Yuto?'' tanya Ryosuke.

''Ke kuil dulu untuk berdoa, baru menjenguk Yuto,'' jawab Ayaka, ''kita mendoakan kesembuhan untuk Yuto dulu baru menjenguknya.''

''Bicara soal Yuto,'' kata Chinen, ''jujur saja ini pertama kalinya aku melihat kejadian seperti itu. Mengerikan sekali.''

''Kau benar,'' kata Ryutaro, ''aku tidak menyangka kalau kita memang bisa mati betulan walaupun hanya membunuh lewat mimpi. Seperti di film-film saja.''

Tori diam saja, dia berpikir serius. Tori masih ingat saat pertama kali dia mendengar dongeng Pandora dari Yabu, dan semua yang ada di dongeng itu seakan muncul menjadi nyata. Monster-monster dan kejadian aneh yang bermunculan, semua seperti berhubungan. Yang tidak dimengerti Tori, kenapa teman-temannya yang mengalami kejadian aneh itu? Pertama Kei, sekarang Yuto. Entah nanti siapa yang jadi sasaran.

''Tori?''

Tori menoleh, dia membuyarkan lamunannya dan menatap Yuya yang entah sejak kapan ada disana. ''Ee.... Menurutku kita ke kuil saja dulu,'' kata Tori, ''setelah itu baru menjenguk Yuto.''

''Tori, kita tidak membicarakan itu,'' kata Hikaru, ''ya ampun, kau melamun, ya?''

''Kau memikirkan apa?'' tanya Daiki, ''ada yang mengganggu pikiranmu, ya?''

Tori menghela napas dan menggeleng. ''Maaf, aku pergi dulu,'' kata Tori. Dia melangkah meninggalkan teman-temannya yang saling pandang kebingungan. Hiroko beranjak, diikuti Mio dan Ayaka. ''Waktunya para gadis,'' kata Ayaka, ''dia hanya akan bicara kalau ada kita berempat saja.'' Mereka bertiga berlari mengikuti Tori yang sudah menghilang dari pandangan.

''Aku tidak mengerti para gadis,'' gumam Keito, dia menyeruput jus jeruknya.

Hiroko, Mio, dan Ayaka berlari menyusul Tori yang berjalan cepat di depan mereka. ''Tori,'' Hiroko menahan Tori, ''kenapa kau ini? Kau mau kemana?''

''Aku mau ke hutan,'' jawab Tori.

''Kau mau apa ke hutan?'' tanya Ayaka, ''kalau Takaki Senpai tahu dia bisa memarahimu.''

''Ya makanya jangan memberitahu yang lain kalau aku ke hutan,'' kata Tori, ''apalagi Yuya Senpai.''

''Kau mau ke wilayah batu itu, ya?'' tanya Mio.

Tori menoleh, dia menatap Mio. ''Setelah apa yang terjadi, aku tidak bisa diam saja,'' kata Tori, ''aku harus mencaritahu apa yang sebenarnya terjadi.''

''Itu artinya kau percaya dengan Pandora,'' kata Hiroko, ''apa aku benar?''

Tori menghela napas. ''Yah, aku tidak bisa tidak percaya,'' katanya, ''makanya aku harus mencaritahu sebenarnya siapa yang menyebabkan teror ini.''

''Shora,'' jawab Hiroko, Mio, dan Ayaka bersamaan.

Krik.

''Sudahlah,'' Tori berlalu, ''ingat, jangan beritahu Yuya Senpai kalau aku meninggalkan sekolah. Aku akan kembali sebelum jam sekolah berakhir.'' Tori berlari meninggalkan tiga temannya itu.
*
Hikaru menghela napas, dia lalu berjalan santai sambil melepas dasinya. Hikaru memasukkan dasi dan jasnya ke tasnya, dia lalu berjalan sambil bersiul. Hikaru bosan mengikuti kelas biologi, dan dia memilih untuk kabur dari sekolah.

Hikaru, sih, bosan setiap saat.

Hikaru baru akan masuk ke kedai ramen favoritnya saat dia melihat Tori dari kejauhan. ''Lho? Tori membolos juga?'' gumam Hikaru, ''wah, kalau Yuya tahu bisa mengamuk dia.'' Hikaru berbalik, dia berlari mengikuti Tori. Hikaru menyeberang jalan, dia melangkah cepat di belakang Tori.

Hikaru berhenti sejenak dan melihat Tori masuk hutan. ''Mau apa dia kesana?'' gumam Hikaru, dia terbelalak dan menjentikkan jarinya. ''Dia pasti mau ke batu Pandora itu,'' gumamnya, ''ah, dasar Tori. Sok tidak percaya, ujungnya percaya juga.'' Hikaru terkikik dan kembali mengikuti Tori. Akan lucu bagi Hikaru kalau dia bisa menggoda Tori besok.

Tori melangkah pelan mendekati batu besar itu, dia menatap sekeliling. Kabut tebal menutupi sekeliling batu, membuat Tori tidak melihat apa-apa selain kabut putih di sekitarnya. ''Jadi batu ini yang katanya gerbang Pandora itu,'' gumam Tori sambil menengok kesana kemari, ''batu berlumut begini apa istimewanya?'' Tori mendongak, dia melihat tulisan diatas batu itu. ''Itu apa?'' gumamnya, ''tulisan apa itu?''

''Bari Pandorayi. Artinya Selamat Datang Di Pandora.''

Tori menoleh, dia melihat Hikaru mendekat dan menatapnya jahil. ''Wah, lihat ini,'' kata Hikaru sambil terkekeh, ''sepertinya ada yang mulai percaya dengan kisah Pandora.''

''Tidak lucu,'' sahut Tori saat Hikaru tertawa. Tori kembali menoleh kesana kemari, dia mencoba mencari sesuatu yang bisa diteliti. Atau paling tidak menjadi petunjuk soal apa yang terjadi belakangan ini.

''Monster!''

Tori tersentak dan segera bersembunyi di belakang Hikaru. ''Mana?!'' katanya sambil celingukan, ''mana monsternya?! Ayo lari saja!'' Tori sudah berlari, tapi lalu dia berhenti dan berbalik menatap Hikaru yang malah tertawa.

Cling.

''Senpai,'' Tori menatap datar Hikaru, dia kesal sekali sekarang. Hikaru masih tertawa, dia berkata, ''Aduh kau lucu sekali. Kemana Tori yang selalu ngotot kalau monster hanya ilusi, hah? Dan kemana Tori yang selalu ngotot kalau Pandora hanya dongeng?''

''Senpai, tidak ada yang lucu!'' Tori mendekat dan menggeplak kepala Hikaru, ''apa sih yang kau tertawakan?!''

Hikaru masih tertawa. Tori berdecak, dia akhirnya melangkah meninggalkan Hikaru. Suasana hatinya rusak seketika gara-gara Hikaru. ''Oi Tori!'' panggil Hikaru sambil berlari mengikuti Tori, ''jangan marah, dong.''

Tori diam saja, dia masih melangkah keluar hutan. Hikaru berlari, dia menahan Tori dan berkata, ''Maaf, deh. Nah, sekarang beritahu aku. Kau sedang apa disana?''

Tori diam saja, dia membuang muka dan memasang wajah kesal setengah mati. ''Aku tidak akan memberitahu siapapun,'' kata Hikaru, ''apa kau mencaritahu soal kejadian aneh yang terjadi belakangan ini?''

''Kau sudah tahu kenapa masih bertanya?'' balas Tori, ''tapi sepertinya tidak ada yang bisa ditemukan di hutan.'' Tori menoleh kearah hutan, dia berkata, ''Dan soal monster yang kulihat di hutan.... Senpai apa Pandora itu benar-benar ada?''

''Well, aku tidak tahu soal itu,'' kata Hikaru, ''tapi kalau seperti ini kejadiannya sepertinya Pandora benar-benar ada.''

Tori menghela napas dan mengerang pelan. ''Katanya mereka disegel,'' kata Tori, ''lalu kenapa mereka sekarang muncul?''

''Mungkin karena segelnya lepas,'' kata Hikaru.

Tori diam, dia menatap Hikaru dengan tatapan yang sulit diartikan. ''Kenapa kau menatapku begitu?'' Hikaru jadi bergidik ngeri melihat tatapan Tori, ''oi, jangan menatapku begitu. Mengerikan, tahu tidak.''

''Segelnya terlepas,'' gumam Tori, ''aku harus kembali dulu.'' Tori langsung berlari meninggalkan Hikaru, dia kembali ke hutan. Tori berhenti di depan batu besar itu, dia celingukan dan mulai mengelilingi wilayah itu. Tori ingat cerita soal batu kecil yang menurut teman-temannya adalah segel untuk para monster Shora. 'Kalau aku bisa menemukannya, aku akan menutup segel itu jadi monster-monster itu tidak akan mengacau disini,' kata Tori dalam hati, 'lalu Pandora akan kembali jadi dongeng pengantar tidur.'

''Tori.''

Tori menoleh sekilas kearah Hikaru, dia lalu kembali mencari batu segel itu. ''Tori,'' Hikaru kembali memanggil.

''Apa?'' tanya Tori tanpa menoleh.

''Ada pesan dari Mio,'' kata Hikaru.

''Bacakan.''

''Baiklah. Dia tanya kapan kau kembali, karena Yuya Senpai mencarimu.''

Krik.

Tori menegakkan tubuhnya, dia menatap Hikaru dengan mata terbelalak. ''Mati aku,'' gumamnya, ''aku lupa kalau aku harus kembali ke sekolah.''
*
Tegoshi dan Sho berjalan mendekati seorang berjubah hitam di hutan. ''Selamat datang, Shige,'' ujar Sho, ''bagaimana perasaanmu sekarang?''

''Aku menghirup aroma kemenangan, Tuan,'' kata Shige, ''sekarang apa yang harus aku lakukan?''

''Kau sudah membebaskan tuanmu?'' tanya Tegoshi sambil celingukan, ''mana dia?''

''Tuan masih beradaptasi dengan dunia manusia,'' jawab Shige, ''setelah ini dia akan datang.'' Shige menatap Sho dan berujar, ''Tolong beri saya tugas, Tuan.''

''Lepaskan monster andalan tuanmu,'' kata Sho, ''dan bunuh raja Pandora.''

''Menurutku sebaiknya dia untuk penutup.''

Sho, Tegoshi, dan Shige menoleh. Shige dan Tegoshi membungkuk memberi salam kepada seseorang yang muncul di depan mereka. ''Apa kabar keturunan Venom, Tegoshi?'' tanya orang itu, ''ah, lama sekali aku tidak bertemu dengannya.''

''Dia mirip Venom, Tuan,'' jawab Tegoshi tersenyum, ''lalu, siapa target kita sekarang?''

''Aku ingin sekali menghabisi Yuto,'' kata Shige, ''kenapa dia masih hidup sampai sekarang?''

''Yuto urusanku, Shige,'' ucap orang itu tegas, ''kau urus saja Yuya. Dia lawanmu sejak lama, kan?''

Shige diam sejenak, dia menatap tajam orang itu. ''Yuya,'' gumamnya, ''aku sampai lupa dengan pengawal itu. Akan kuhabisi dia.''

''Hati-hati, ya,'' kata Tegoshi sambil memasang seringai jahilnya, ''Yuya itu tidak bisa dikalahkan, lho. Kau saja kalah dengannya.''

''Itu dulu,'' kata Shige, ''yang kuhadapi sekarang hanya keturunannya, dan dia tidak bisa apa-apa. Sekali serang akan menghancurkan tulang-tulangnya sampai dia tidak akan mengharapkan apapun kecuali kematiannya sendiri.''

''Ya ya,'' kata Tegoshi, dia berdiri di belakang Sho dan tersenyum ceria. ''Aku bertaruh kau akan gagal lagi,'' katanya sambil tersenyum.

''Kenapa kau mengatakan itu?'' tanya Sho.

''Karena, Tuanku,'' jawab Tegoshi, dia mendekati Shige dan berkata, ''dia punya pelindung yang kuat.''

''Siapa?'' tanya Shige.

''Lihat saja siapa pelindungnya,'' kata Tegoshi, ''kau akan menangis nanti.''
***

Rabu, 28 Oktober 2015

Pandora 04


 Title : Pandora
Author : Veve
Genre : Fantasy, Comedy, Romance
Cast :
All Hey! Say! JUMP Members
Kawazoe Tori / OC
Ishihara Mio / OC
Watanabe Ayaka / OC
Fukushi Hiroko / OC
Other casts will revealed
Length : Chapter
*
Chapter 4

Mio berjalan santai sambil bersiul. Hari ini dia tidak memakai sepeda seperti biasa, karena rantai sepedanya rusak. Mio melangkah sambil melihat-lihat bangunan yang berjajar, dia mengeluarkan ponselnya dan mulai mendengarkan musik.

Mio menoleh, dia berhenti lalu melangkah mundur. Dahi Mio berkerut melihat seseorang di gang sempit seberang jalan. 'Sepertinya itu Tegoshi Sensei,' batin Mio, 'sedang apa dia disana?'

''Mio, selamat pagiiiii!''

Mio menoleh, dia tersenyum kepada Ryosuke yang berlari kearahnya. ''Selamat pagi,'' balas Mio. Ryosuke merangkul Mio dan berkata, ''Kau melihat apa, sih, sampai serius begitu?''

Mio menoleh, dia terkejut melihat tidak ada siapa-siapa di gang seberang jalan. ''Aku....'' Mio menoleh menatap Ryosuke, dia melongo saat matanya menangkap sosok Tegoshi melangkah diantara murid-murid lain. ''Selamat pagi,'' Tegoshi berhenti dan menyapa Mio beserta Ryosuke, ''kalian tidak masuk? Gerbang akan ditutup.''

Ryosuke menoleh, dia memekik kaget, ''Gerbang!'' Ryosuke segera menarik Mio dan berlari masuk sekolah. Mio menoleh, dia melihat Tegoshi yang berjalan ke sekolah. 'Apa aku salah orang, ya?' batin Mio, 'tapi itu memang seperti Tegoshi Sensei.'

Tegoshi berhenti sejenak di gerbang, dia berbalik dan menatap kearah gang sempit. Tegoshi tersenyum, dia membungkuk kecil dan kembali berjalan masuk sekolah.

Tori muncul diantara murid-murid yang berlarian masuk gerbang. Dia menoleh, lalu mengerutkan dahi dan kembali menatap Tegoshi. 'Orang aneh,' batin Tori, 'dia memberi salam kepada siapa? Apa semua seniman begitu, ya?' Tori mengendikkan bahu dan berlari menuju kelasnya.
*
Yuto menguap kesekian kalinya, dia menopangkan kepalanya di tangan dan menatap bosan kearah papan tulis. Yuto menoleh, dia berdecih melihat Keito begitu serius memperhatikan materi biologi yang baginya sangat membosankan itu.

Yuto menatap keluar jendela, dia memperhatikan iring-iringan awan di luar. Yuto tersenyum, dia merasa damai melihat suasana di luar sana. Dari jauh matanya menangkap sebuah istana yang megah dan indah. Istana itu berkilauan seperti permata, dengan halaman yang luas dan dipenuhi bunga-bunga aneka warna.

Hah?

Yuto menegakkan duduknya, dia mengerjapkan mata dan menatap keluar dengan dahi berkerut heran. Istana? Kok ada istana? Yuto mencondongkan tubuhnya ke jendela dan memastikan penglihatannya tidak sedang bermasalah.

''Nakajima!''

Yuto tersentak, dia menoleh menatap guru biologi. Yuto melirik dan terkekeh pelan saat menyadari semua mata menatapnya. ''Cuci mukamu,'' kata guru itu, ''sana.''

Yuto berdiri, dia melangkah pelan keluar kelas. Beberapa murid terkikik geli melihat Yuto dimarahi begitu.

Yuto berbelok dan masuk toilet, lalu membasuh mukanya. Yuto menghela napas, dia menatap bayangannya cermin. ''Aaaaa,'' Yuto mengerang, ''apa kata dunia kalau mereka tahu Yuto ditegur oleh guru di kelas? Memalukan sekali.''

Yuto melangkah keluar, dia lalu celingukan. ''Kok sepi?'' gumamnya, dia melangkah keluar toilet. ''Kenapa suasananya berbeda?'' Yuto celingukan, ''kemana semua orang?''

Yuto berhenti di ujung lorong, dia berbalik. Yuto sedikit tersentak melihat ada seseorang berjubah hitam di ujung lorong persis di depannya. Yuto menatap bingung orang itu, dia melangkah dan berkata, ''Oi, kau siapa? Dan aku dimana?''

''Di depan gerbang kematianmu.''

Yuto berhenti seketika. ''Wohoo, apa maksudmu?'' tanya Yuto, ''jangan bercanda.''

Orang itu melepaskan jubahnya. Yuto menjerit kaget, dia lalu melongo dan menatap orang itu dengan mata memicing. ''Kau jelek,'' komentar Yuto, ''tidak menarik sama sekali.''

''Mana ada kematian yang menarik?'' balas orang itu, ''aku dikirim Yang Mulia untuk membunuhmu. Membunuh Pandora.''

Yuto mengerutkan dahi. ''Pandora?'' tanyanya, ''tunggu, kau bicara ap....''

Belum selesai Yuto bicara, tubuhnya terhempas keras di lantai. Yuto meringis, dia merasa tulang-tulangnya seperti remuk. Yuto baru setengah berdiri saat orang itu menghantamkan seperti bola besi ke dadanya. Yuto kembali terhempas, dia memuntahkan sedikit darah.

''Pandora tidak membutuhkan orang-orang lemah,'' desis orang itu, dia mencekik kuat leher Yuto, ''Pandora dan alam semesta akan dipimpin oleh Shora, dan keberadaan kalian hanya menjadi pengganggu.''

Yuto tersedak, dia berusaha melepaskan cekikan orang aneh itu. Tapi tenaganya seakan menghilang, dia bahkan tidak bisa menyingkirkan tangan orang itu dari lehernya. ''Selamat datang di neraka, Tuan,'' orang itu menyeringai, ''nikmatilah sisa hidupmu ini.''

''Yuto!''

Yuto melirik, matanya mulai berair. Yuto merasa mendengar suara Keito dari kejauhan. Dia tersedak lagi saat orang itu menguatkan cekikannya.

''Yuto bangunlah!''

''Yuto, buka matamu!''

''Yuto, kalau kau tidak bangun kau akan mati!''

''Ayo Yuto bangunlah!''

''Yuto!''

''Yuto, kalau kau mau bangun aku tidak akan memukul kepalamu lagi dan akan mengijinkanmu mendekati Tori!''

''Yuto, buka matamu!''

''Dia hanya ilusi, Yuto!''

''Yuto, ayo bangun!''

''Kau tidak bisa mati dengan cara seperti ini!''

''Yuto, bangunlah! Kau bisa mengalahkannya!''

Yuto semakin kehabisan napas. Dia bisa mendengar suara teman-temannya, hanya saja Yuto merasa terlalu lemah untuk melepaskan cekikan orang ini.

Hiroko sangat khawatir, dia menoleh dan menghampiri Tori yang diam di sudut ruang kesehatan. ''Tori, hanya kau yang belum menyuruhnya bangun!'' kata Hiroko, ''ayolah, bantu dia!''

''Tori, Yuto bisa mati!'' kata Ayaka, dia ingin menangis melihat tubuh Yuto yang membiru dan seperti kehabisan napas. Darah keluar dari sela-sela bibirnya, dia tersedak beberapa kali namun matanya tertutup rapat.

Tori menatap yang lain, lalu dia menatap Yuto. Tori sangat tidak tega melihat Yuto seperti itu. Tori menatap Yuya, dan Yuya mengangguk kepadanya. ''Setidaknya kau bantu dia,'' kata Yuya, ''setelah itu kau bisa menghindarinya lagi.''

Tori mendekat, dia melihat Yuto. Tori mencengkeram kerah seragam Yuto, dia lalu berkata, ''Kalau kau tidak mau bangun, akan kuhajar kau. Bangun, Yuto.''

Mio menatap Tori, dia bisa menangkap butir airmata di ujung mata temannya itu. ''Bangun, Yuto!'' teriak Tori, ''buka matamu!''

Mio memegang pundak Tori. ''Tori-Chan....''

''Kau selalu mengatakan kalau kau kuat dan tidak terkalahkan!'' kata Tori, ''sekarang bangun! Kalahkan mimpi burukmu dan bangun!''

Yuto menatap orang itu, dia tersedak lagi. Yuto mencengkeram tangan orang itu, dia menggeram dan melepaskan cekikan orang itu lalu menghempaskannya jauh-jauh. Yuto tersengal, dia susah payah bangkit dan berlari menjauhi orang itu.

''Kau tidak akan bisa menghindariku!'' orang itu memekik, dia berlari mengejar Yuto. Yuto panik, dia mempercepat larinya. Yuto dengan cepat meraih sebuah pintu dan membukanya, lalu masuk ke sebuah ruangan dan menutup pintu sebelum orang itu meraihnya.

Yuto terbatuk keras, jemarinya perlahan bergerak. ''Tolong....'' Yuto bergumam lemah, ''tolong aku.''

Semua yang ada disana menghela napas lega. Perawat sekolah segera menangani Yuto, dia berkata, ''Kalian keluarlah. Aku akan mengobatinya.''

Semua orang melangkah keluar ruang kesehatan. ''Astaga, aku tidak menyangka semua ini akan terjadi,'' kata Keito, dia merosot lemas di lantai, ''Dewa, terimakasih banyak.''

''Kalau saja Hikaru tidak melarikan diri ke toilet untuk menghindari Fujiwara Sensei, Yuto tidak akan ditemukan,'' kata Kei, ''dia pasti sudah.... Ah, aku tidak berani membayangkannya.''

Tori menoleh, dia menatap Yabu dan seorang laki-laki di dekatnya. ''Kau sudah menolong kami dua kali,'' kata Tori, ''siapa kau ini?''

Yabu dan laki-laki itu menatap Tori. ''Namaku Tatsuya,'' jawab laki-laki itu, ''Ueda Tatsuya. Aku teman Yabu saat kami sama-sama belajar di kuil Zanzou.''

''Baiklah, kami pergi dulu,'' kata Yabu, ''kalau ada kabar beritahu aku.''

''Terimakasih sudah mau datang,'' Ayaka membungkuk kepada Yabu dan Tatsuya. Mereka berdua tersenyum, lalu melangkah pergi meninggalkan yang lain.

Ryosuke diam menatap Yabu dan Tatsuya. Dia mengerutkan dahi, lalu membatin, 'Sepertinya aku pernah melihat orang itu sebelumnya. Tapi kapan, ya? Sebelum kejadian di hutan itu juga, rasanya aku pernah melihatnya di suatu tempat.'
*
Tegoshi menghela napas, dia melangkah di atap gedung sekolah. ''Mungkin karena dia sudah lama tidak menggunakan kekuatannya, dia jadi tidak bisa maksimal,'' kata Tegoshi, ''Tuan, apa lagi sekarang?''

''Kau bebaskan saja teman-temanmu dulu,'' ucap seorang laki-laki berjubah hitam.

''Hanya tiga orang lagi,'' kata Tegoshi, ''artinya mereka hanya bisa membebaskan tiga tuan saja. Lalu bagaimana dengan Venom?''

''Itu urusan nanti.''

''Kalau saja Venom masih mengingat kita,'' kata Tegoshi, ''ck, menyebalkan. Dia memiliki Tuan yang paling kuat, tapi tidak bisa dilepaskan kalau bukan dia yang membuka segelnya.''

Mereka berdua diam menatap kebawah. ''Tegoshi,'' panggil laki-laki itu.

''Ya, Tuan Sho?'' sahut Tegoshi.

''Kau lepaskan dulu Shige,'' kata Sho, ''setidaknya aku bisa mengandalkan Tuannya.''

Tegoshi diam sejenak, dia tersenyum dan berkata, ''Baiklah akan kulepaskan dia. Tapi.... Soal tabirnya....''

''Tabir itu bisa dihancurkan sekali serang,'' kata Sho, ''makanya aku minta kau bebaskan dulu Shige.''

Tegoshi mengangguk. Sho tersenyum tipis, dia menatap kebawah memperhatikan murid-murid SMA Higashiyama.
***

Pandora 03

Title : Pandora
Author : Veve
Genre : Fantasy, Comedy, Romance
Cast :
All Hey! Say! JUMP Members
Kawazoe Tori / OC
Ishihara Mio / OC
Watanabe Ayaka / OC
Fukushi Hiroko / OC
Other casts will revealed
Length : Chapter
*
 
 
Chapter 3


            Mio terbangun saat ponselnya berdering. “Siapa, sih, menelepon sepagi ini?” erang Mio, dia mengambil ponselnya dan melihat nama siapa yang muncul di layar.

            ‘Chicken’.

            Mio membuka mata, dia bangun dan menjawab panggilan yang masuk. “Ya, halo, Yamada?” kata Mio. Astaga, ada angin apa Ryosuke menelepon sepagi ini?

            ‘Kau sudah bangun belum?’ tanya Ryosuke.

            Mio memutar bolamatanya. “Ya kalau aku belum bangun siapa yang sekarang sedang bicara, hah?” kata Mio, “baka.”

            Terdengar suara Ryosuke terkekeh. ‘Jalan-jalan, yuk,’ katanya, ‘aku traktir eskrim, deh. Ayo.’

            Mio menghela napas. “Satu jam lagi di taman,” kata Mio, “tunggu aku disana, oke?”

            ‘Oke.’ Sambungan telepon terputus. Mio memekik senang, dia beranjak dan segera menuju kamar mandi. Persetan dengan kamarnya yang berantakan, dia akan membereskannya nanti.
*
            “Tori! Tori, astaga ayo bangun! TORI!”

            Tori membuka mata, dia menyibakkan selimut dan memicing kesal kearah pintu kamarnya yang bergetar. “Kalau aku tidak ingat siapa dia, aku sudah melemparkannya ke luar angkasa,” gerutu Tori. Dia beranjak dan melangkah menuju pintu lalu membukanya.

            Pletak!

            “Aduh!” Tori memekik, dia memegangi dahinya yang terkena jitakan Yuya. “Senpai ini apa-apaan, sih?!” katanya kesal, “ini masih pagi, dan ini hari Minggu!”

            “Peduli setan dengan itu semua,” kata Yuya, “cepat ganti baju, kita akan lari pagi.”

            “Apa? Aku tidak mau,” kata Tori, dia akan menutup pintu kamar saat Yuya menahan pintu dengan kakinya dan berkata, “Kau pilih, ikut aku lari pagi atau membantu ibuku memasak.”

            Ming.

            “Sepuluh menit,” Tori menutup pintu dan segera berganti pakaian. “Dasar Bakaki,” gerutunya sambil berganti pakaian, “aaaah, kenapa aku harus menyukai orang seperti dia? Dan kenapa dia yang akan menjadi kakak tiriku? Dia akan jadi manusia bertanduk iblis nanti.”

            “TORI!”

            “BERISIK! TERIAK SEKALI LAGI KUHAJAR KAU!”
*
            “Aaaa.”

            “Aaaam.”

            Ayaka terkikik, Ryutaro tersenyum dan menyuapi Ayaka kembang gula. Ayaka juga menyuapi Ryutaro kembang gula, mereka duduk berdua dibawah pohon bunga sakura.

            Mesra sekali, bukan?

            “Oh iya, nanti kita ke kuil lagi, yuk,” ajak Ayaka, “tinggal sedikit lagi dan kuil Yabu akan selesai. Kau akan membantu, kan?”

            “Tentu saja,” kata Ryutaro, “apalagi ada kau juga disana, aku jelas akan ikut.” Ryutaro menatap Ayaka dan berkata, “Kan, dimana ada Ayaka disitu ada Ryutaro.”

            Ayaka tergelak, dan Ryutaro tersenyum saja melihat tawa Ayaka. Ryutaro tiba-tiba berhenti tersenyum, dia lalu menoleh kebelakang. Ryutaro mengerutkan dahi, dia celingukan memperhatikan keadaan di belakangnya.

            “Ada apa?” tanya Ayaka, dia mengerutkan dahi melihat tingkah aneh Ryutaro.

            “Sepertinya ada yang mengawasi kita,” kata Ryutaro, dia masih celingukan. Ayaka sendiri jadi ikut-ikutan celingukan, walaupun dia tidak tahu apa yang dicari Ryutaro.

            Ryutaro beranjak, dia menggandeng tangan Ayaka dan mengajak gadis itu untuk pergi. “Aku merasa tidak tenang, Ayaka-Chan,” kata Ryutaro, “kita pergi saja, yuk. Ah, kita ke kuil saja, disana sudah jelas aman.”
*
            Hiroko menatap Daiki, dia khawatir melihat wajah Daiki yang pucat. “Kau itu masih sakit, Dai-Chan,” kata Hiroko, “kenapa memaksakan diri lari pagi, hah? Ayo kita pulang saja.”

            Daiki dengan sigap menahan Hiroko. “Aku baik-baik saja,” kata Daiki, “aku, kan, sudah berjanji akan lari pagi bersamamu.”

            “Tapi kau masih sakit,” balas Hiroko, “kita bisa lari pagi lain kali, kan.”

            Daiki menegakkan tubuhnya, dia menghela napas dan menatap Hiroko dengan senyum cerah. “Aku sudah sembuh,” katanya semangat, “tidak sakit lagi. Ayo lari pagi lagi.”

            Hiroko diam menatap Daiki yang tersenyum. Dia tidak tega melihat Daiki berpura-pura sehat di depan Hiroko. Sikap Daiki ini kadang membuatnya terlihat seperti anak kecil. “Baiklah,” kata Hiroko, “tapi kalau kau capek kau harus istirahat. Kalau kau masih memaksakan diri, aku tidak mau bicara denganmu.”

            “Siap, Bos,” Daiki memberi sikap hormat kepada Hiroko. Hiroko tertawa melihat tingkah Daiki, dia gemas dan mencubit pipi tembam Daiki. “Ayo,” ajak Hiroko.

            “Senpai! Kau itu kalau lari jangan cepat-cepat, dong!”

            “Bukan aku yang cepat, tapi kau yang lambat. Kura-kura saja masih lebih cepat daripada kau.”

            “Senpai!”

            Hiroko dan Daiki saling pandang dengan tatapan sweatdrop, mereka menghela napas dan menoleh kearah turunan. Yuya tampak berlari kecil, di belakangnya ada Tori yang tampak kelelahan menyusul Yuya. Melihat itu, seketika Daiki dan Hiroko menahan tawa. “Tori itu malas olahraga malah diajak lari pagi,” kata Daiki, “lihat wajahnya. Dia seperti menderita sekali.”

            “Kalian membicarakan siapa, hah?” sahut Tori, dia mengatur napasnya yang terengah-engah. Yuya menoleh kearah Daiki dan Hiroko, lalu bertanya, “Kalian lari pagi juga?”

            “Iya,” jawab Daiki, “aku bosan di rumah, makanya aku lari pagi.”

            “Kau, kan, masih sakit,” kata Tori, “kenapa memaksakan diri, sih?”

            “Biar cepat kurus,” jawab Daiki polos.

            “Kau itu sudah ditakdirkan jadi gemuk, jangan banyak tingkah,” sahut Tori.

            “Lho, kalian disini?”

            Semua menoleh, Hiroko dan Tori melambaikan tangan kepada Ryutaro dan Ayaka yang bergandengan tangan mendekat kearah mereka. “Ini masih pagi, dan kalian sudah berduaan,” kata Yuya, “dasar kalian ini.”

            “Senpai juga berduaan dengan Tori,” balas Ayaka, “Daiki dan Hiroko juga.”

            “Kenapa namaku disebut?” sahut Hiroko, “aku, kan, tidak mengatakan apa-apa.”

            “Memangnya kenapa kalau aku berduaan dengan Tori? Toh dia adikku,” kata Yuya sambil menjulurkan lidahnya kepada Ayaka.

            “Astaga, apa ada arisan disini?”

            Mio dan Ryosuke muncul, mereka mendekati yang lain. “Kalian mau kemana?” tanya Ryutaro.

            “Tadinya sih kami mau jalan-jalan di taman,” jawab Ryosuke, “tapi kita kan masih ada tugas memperbaiki kuil. Makanya aku dan Mio mau kesana sekarang.”

            “Baiklah, kalau begitu kita kesana saja sekarang,” kata Yuya, “ayo.” Yuya berjalan lebih dulu, diikuti Tori dan yang lain. Mereka berjalan sambil sesekali bercanda, sasaran utamanya tentu saja Ayaka dan Ryutaro. “Kalian itu terlalu mengumbar kemesraan,” komentar Mio, “kalau ada kalian, rasanya seluruh dunia ini berubah warna jadi pink.”

            “Dan ada hati bertebaran dimana-mana,” sambung Ryosuke, mereka semua lalu tertawa.

            “Biarkan saja,” kata Ryutaro, “daripada kalian, dibilang pacaran tidak mesra sama sekali. Tapi dibilang berteman biasa kalian itu seperti orang pacaran. Tidak jelas.”

            Tori hanya menghela napas, dia melirik sekilas kearah hutan. Tori berhenti, dia lalu berbalik menatap jalan setapak yang mengarah ke hutan. Tori mengerutkan dahi, dia melangkah perlahan lalu berhenti tepat di tepi hutan. Tori menatap kearah kabut yang sedikit menyembul diantara dedaunan, dia membatin, ‘Sepertinya aku merasa ada yang aneh disana.’

            “Tori.”

            Tori menoleh, dia melihat Yuya berdiri di dekatnya. “Kau melihat apa?” tanya Yuya.

            Tori menunjuk kearah hutan. “Aku mendengar ada suara dari sana, Senpai,” kata Tori, “mungkin binatang dari hutan turun kesini. Yah, semoga saja tidak menyerang warga.”

            Yuya menatap kearah hutan, dia mengerutkan dahinya. “Ayo kita pergi saja,” kata Yuya, “kau mungkin cuma salah dengar.” Yuya menyentuh pundak Tori dan menggiringnya menjauhi hutan. Tori menoleh, dia yakin sekali ada yang bergerak disana.

            Delapan anak itu sampai di kuil. Chinen, Yuto, Hikaru, dan Keito sudah ada disana. Yabu menoleh, dia melangkah menyambut mereka yang baru datang. “Selamat pagi,” sapanya, “wah, ada yang baru berolahraga ternyata. Bagus sekali.”

            “Lho Tori olahraga?” sahut Hikaru, “kukira dia masih asyik berkelana di alam mimpi.” Hikaru terkekeh, dia berkelit saat Tori menyabetkan handuk kecilnya kearah Hikaru. Mio celingukan, dia lalu bertanya, “Inoo Senpai belum datang?”

            Yabu menoleh, dia lalu menjawab, “Sepertinya dia akan terlambat. Entahlah, aku belum meneleponnya hari ini.” Yabu menatap yang lain, dia berkata, “Terimakasih kalian sudah mau meluangkan waktu kalian. Ayo, sebentar lagi kuil akan selesai diperbaiki.”

            Yuya, Ryosuke, Ryutaro, dan Daiki mengambil peralatan pertukangan di dekat pohon. Hiroko dengan sigap mengambil palu dari tangan Daiki dan berkata, “Kau duduk saja. Aku yang akan membantu mereka.”

            “Hiroko…”

            “Kau masih sakit,” sela Hiroko, “duduk. Atau aku tidak mau lagi bicara kepadamu.”

            Tori menoleh, dia melangkah menjauhi kuil. “Tori kau mau kemana?” tanya Mio.

            Tori menoleh, dia memberi tanda kepada Mio agar tidak berisik. “Aku mau ke hutan sebentar,” kata Tori, “diamlah, Yuya Senpai bisa mengamuk kalau aku ke hutan sendirian.” Tori menatap Yuya, dia melesat masuk hutan. Tori masih penasaran dengan suara dan aura aneh yang dirasakannya tadi.

            Tori berhenti, dia mengerutkan dahinya. “Lha kenapa aku jadi penasaran,” gumamnya, “kembali saja deh.” Tori menghela napas, dia berbalik dan melangkah kembali ke kuil.

            “Grrrrrr.”

            Langkah Tori terhenti, dia diam seperti patung. Tori melirik, dia menerka-nerka suara apa yang baru saja dia dengar. Tori menunduk, dia perlahan berjongkok dan mengambil sebuah kayu yang terjatuh di tanah. Kayu itu dia lenturkan, lalu Tori mengambil sebuah benang karet dan mengaitkannya di dua ujung kayu menyerupai busur panah. Tori berbalik, dia menatap waspada ke sekeliling hutan.

            “Grrrrr.”

            Tori bernapas perlahan, dia melangkah hati-hati masuk ke hutan. Tori sesekali menoleh ke belakang, waspada kalau-kalau ada serangan yang tidak diinginkan. Tori terus berjalan, dia mencari ranting atau apa saja yang bisa dia gunakan sebagai anak panah.

            Eh?

            Tori bersembunyi di balik pohon. Dia mengerutkan dahi melihat Kei dari kejauhan. “Inoo Senpai sedang apa disana?” gumam Tori. Tori baru akan memanggil saat dia menyadari Kei tampak tegang. Kei mundur teratur, Tori menoleh dan terbelalak melihat ada sebuah monster melangkah maju kearah Kei. Monster itu bertubuh bungkuk, tapi ukurannya jelas lebih tinggi daripada Kei. Moncongnya seperti moncong buaya, tubuhnya berbulu lebat dan kedua tangannya hanya berjari tiga dengan kuku tebal dan tajam seperti gading gajah.

Mungkin sekali sabet akan menghancurkan tubuh Kei.

Tori menoleh kesana kemari, dia segera menyambar sebuah ranting yang cukup panjang dan membidikkannya kearah monster itu. Kei tidak melakukan apa-apa, dia jelas sangat ketakutan. “Aku akan melakukan apapun,” kata Tori, “apapun monster itu, dia harus dikalahkan.” Tori melepaskan ranting itu, melesat menancap di lengan monster itu.

Raungan monster itu menggema di hutan, memekakkan telinga Tori. “Senpai, lari!” teriak Tori, dia menghambur dan menarik tangan Kei yang terkejut dengan kehadiran Tori disana. Mereka berdua lari, dan monster itu mengejar meski masih tampak kesakitan. “Tori kau sedang apa disini?!” teriak Kei.

“Harusnya aku yang bertanya, Senpai!” balas Tori, “Senpai sedang apa disini?!”

Mereka bersembunyi dibalik sebuah pohon besar. Kei terbatuk, dan Tori tersengal karena berlari terlalu kencang. “Senpai, apa itu tadi?” tanya Tori sambil mengawasi keadaan.

“Monster,” jawab Kei, “segel Pandora sudah lepas. Ada yang melepaskan monster itu.”

Tori berdecak kesal. “Senpai, Pandora hanya dongeng!” sentaknya.

“Lalu kau pikir monster itu apa, hah?!” balas Kei.

Dua anak itu berteriak saat pohon tempat mereka bersembunyi terbelah dua. Tori dan Kei kembali berlari, Tori mengambil sebuah ranting dan kembali menembakkannya kearah monster itu. “Tidak akan bekerja, Tori!” sahut Kei, “kau pikir panah rantingmu mengandung racun?!”

“Tori! Kei! Lewat sini!”

Tori menoleh, dia menarik Kei dan berbelok kearah jalan setapak. Mereka terus berlari, Tori menjerit saat monster itu akan meraihnya. Kei menarik Tori, mereka keluar hutan tepat saat monster itu mengayunkan cakarnya.

Tori dan Kei terkejut melihat monster itu seperti terhalang kaca tak kasatmata. Monster itu meraung, dia berusaha keluar tapi seakan ada yang menahannya agar tidak keluar hutan.

“Itu tabir pelindung dari kuil. Monster itu tidak akan bisa menembusnya.”

Tori dan Kei menoleh, mereka mengerutkan dahi melihat seorang pria berdiri di dekat mereka. Pria itu tersenyum, dia menghampiri Tori dan Kei. “Kalian baik-baik saja?” tanya pria itu, “kuharap kalian tidak terluka.”

“Kami baik-baik saja,” Kei membungkuk sopan, “terimakasih sudah menolong kami.”

Pria itu tersenyum, dia membungkuk kecil. “Aku belum pernah melihatmu disini,” kata Tori, “kau siapa?”

“Tori!”

Semua menoleh, Tori seketika bersembunyi dibalik punggung pria itu melihat Yuya dan yang lain mendekat. “Paman, lindungi aku,” pinta Tori.

Yuya mendekat, dia menarik Tori keluar dari persembunyiannya dan menjitak kepala gadis itu. “Sudah kubilang jangan ke hutan sembarangan!” kata Yuya kesal, “kau itu senang sekali, sih, membuat orang khawatir?!”
 
Tori mendesis, dia membalas, “Tapi kalau aku tidak kesana Inoo Senpai akan mati!”

“Sudah, sudah,” kata Yabu, dia menatap pria itu dan tersenyum. “Terimakasih sudah mau menolong mereka.”

Pria itu mengangguk, dia berkata, “Jaga diri kalian. Ada banyak bahaya disini. Kalau kalian lengah, kalian bisa terkena masalah.” Pria itu berlalu begitu saja.

“Ada apa?” tanya Yuto, “apa yang terjadi?”

“Ada monster di hutan sana,” kata Kei, “dia muncul di sekitar batu besar itu.”

Ayaka dan Mio memekik seketika. “Jangan-jangan itu monster yang disegel Raja Pandora itu,” kata Ayaka, “segelnya terbuka dan mereka lepas. Lalu mereka akan meneror manusia dan tidak akan ada yang selamat karena Raja Pandora dan pengawalnya hilang!”

“Ck, berlebihan,” gerutu Tori, “itu cuma dongeng saja. Kenapa dianggap serius, sih?”

“Lalu bagaimana dengan monster tadi, Tori?” sahut Kei, “apa menurutmu mereka juga cuma dongeng?”

Tori akan menjawab, Yabu segera menyela dengan berkata, “Sudahlah. Yang penting tidak ada yang terluka. Sekarang ayo kita ke kuil. Kebetulan aku membawa banyak makanan.” Yabu mengajak yang lain kembali ke kuil. Yuya menggandeng tangan Tori dan menyeretnya ke kuil sambil mengomel tidak jelas.

Hikaru berhenti, dia menoleh kearah hutan. Hikaru diam cukup lama, entah apa yang dia pikirkan. Hikaru menghela napas, dia berlari menyusul yang lain.
***