Title : The School
Author : Veve
Genre : School, Drama
Cast :
BTS All Members
Han Jiyoo (OC)
Park Sena (OC)
Red Velvet All Members (start from Lesson 02)
And others
Length : Chapter
*
Huollaaaaaa!!!
Akhirnya balik juga dengan FF ini setelah kelamaan hibernasi
Maaf yaaaaaa
FF ini terinfluence oleh drama Jepang Shiritsu Bakaleya Koukou dan Gokusen
Mohon maaf kalo ada banyak typo
Jangan bash saya dengan pairing di FF ini :v
Dan jangan diplagiat..... Kasihani saya *ngek
Enjoy!!!
*
Tim Bangtan berjalan pelan keluar kantor polisi.
''Bahkan Taehyung tidak mau bicara apa-apa,'' kata Jin, ''dia malah memberikan
naskah pidato yang aneh ini.'' ''Dia ingin aku memenangkan pemilihan,'' kata
Jungkook, ''aaaaa, eottokhaeeee?''
''Annyeonghasseo.''
Tim Bangtan berhenti.
Jungkook seketika kesal melihat Jiyoo dan Irene yang berdiri di depannya.
''Bagaimana keadaan Taehyung-ssi?'' tanya Jiyoo, ''aku dan Irene-ssi ingin
menemuinya untuk meminta penjelasan.''
''Tch, jangan sok
peduli,'' kata Jungkook, ''Taehyung ditahan gara-gara teman kalian itu. Dan
sekarang kau datang lalu pura-pura menanyakan keadaan Taehyung untuk menutupi
kesalahan temanmu? Mian, kami tidak akan termakan tipuan macam itu.''
Jiyoo sangat terkejut
dan terluka mendengar ucapan Jungkook. ''Sena-ssi memberitahu kalau kami harus
mencari di sekitar jembatan,'' kata Irene, ''kami juga tidak ingin Taehyung-ssi
ditahan atas kesalahan orang lain.''
''Oh, jadi benar Sena
yang menyuruh kalian?'' sahut Jin, ''berarti Jiyoo tidak melakukan ini atas
keinginannya sendiri, kan?'' ''Jadi dia menutupi kesalahannya dengan pura-pura
peduli kepada Taehyung?'' sahut Yoongi sinis, ''jangan-jangan justru dia
pencopetnya.''
''Tolong jangan
sembarangan menuduh,'' sahut Irene, ''Sena-ssi adalah putri seorang pengawas
pendidikan, dia tidak mungkin melakukannya.''
''Siapa yang peduli?''
sahut Jimin, ''bahkan anak presiden juga bisa melakukan tindak kriminal.''
''Kau mau mengatakan kalau orang kaya selalu bersih dari tindak kriminal?''
sambung Namjoon, ''enyahlah dari Bumi, Nona.''
''Kalian diamlah!''
sahut Jungkook dan Jiyoo bersamaan.
Mereka semua terdiam.
''Tolong jangan bertengkar,'' kata Jiyoo, ''bisakah kita bekerjasama dan
menyelesaikan masalah ini?''
''Aku tidak mau
bekerjasama dengan kalian,'' kata Hoseok. Jungkook dan yang lain menatap sinis
dua gadis itu, lalu melangkah pergi. ''Mereka sangat kasar dan tidak
beretika,'' kata Irene, ''Jiyoo-ssi, apa kau masih akan menemui Taehyung-ssi?''
Jiyoo menggeleng. ''Ayo
kita pulang saja,'' ucapnya.
Irene mengangguk, dia
segera menyetop taksi. Jiyoo menoleh kearah kantor polisi sejenak, dia menghela
napas dan masuk taksi bersama Irene.
*
(flashback on)
Taehyung berjalan
sambil menguap dan mengucek matanya. Dia memainkan kunci berbandul biru di
tangan, lalu memasukkannya ke kantong jaket. Taehyung kembali menguap, hari ini
sangat melelahkan untuknya. 'Setelah ini aku tidak akan merepotkan Appa lagi,'
batinnya, 'bekerja ternyata sangat berat dan melelahkan. Aku akan berjuang dan
menghasilkan uang sendiri.' Taehyung merapatkan jaketnya dan melangkah pulang.
Besok ada tes matematika, dan Taehyung belum belajar.
Eh, sejak kapan dia
belajar?
Taehyung terus
berjalan, dia berbelok dan melangkah melewati stasiun. Sudah jam delapan malam,
jelas saja stasiun sudah agak sepi. Hanya ada beberapa orang yang lewat dan
keluar dari stasiun, kebanyakan pegawai kantoran atau mahasiswa. Melihat
pegawai kantoran yang mengenakan jas dan dasi membuat Taehyung iri. Dia ingin
bisa bekerja di perusahaan besar, jadi dia bisa punya banyak uang dan ayahnya
tidak perlu repot-repot bekerja lagi.
Brak!
Tubuh Taehyung agak
limbung saat seseorang menabraknya keras. ''Ya! Kau itu punya mata tidak?!''
sahut Taehyung, dia mencengkeram kerah jaket orang itu dan melotot kearahnya.
Tapi pelototan Taehyung hilang saat menyadari siapa yang menabraknya?
''Baekhyun hyung?'' gumam Taehyung, ''hyung, kau sedang apa disini? Bukannya kau
bilang kau sedang belajar untuk persiapan kuliah?''
Pemuda bernama Baekhyun
itu segera menepis keras pegangan Taehyung dan berlari menjauh. ''Hyung!''
teriak Taehyung, dia menunduk melihat sebuah dompet terjatuh. Taehyung
mengambilnya, dia berlari mengejar Baekhyun. ''Hyung, dompet!'' teriak Taehyung
sambil berlari, ''Ya! Baekhyun Hyung!''
Taehyung berlari, dia
mendadak berhenti saat sebuah mobil hampir menabraknya. Taehyung berdecak
kesal, dia kembali berlari mengejar Baekhyun. Dia berhenti sejenak dan menoleh,
lalu membatin, 'Itu seperti Park Sena. Ah, peduli apa aku dengannya?' Taehyung
kembali berlari mencari Baekhyun.
(flashback off)
*
Jiyoo berjalan masuk kelas bersama Sena, dia menoleh
dan tertegun melihat bangku para siswa kosong. ''Sepertinya mereka kembali
membolos,'' kata Sena, ''Jiyoo-ssi?''
Jiyoo diam saja, dia
melangkah masuk dan duduk di bangkunya. ''Sena-ssi,'' ujar Jiyoo, ''apa
menurutmu mereka masih mencari pelaku aslinya?''
''Sepertinya begitu,''
jawab Sena, ''ah, pidato akhir dilaksanakan hari ini, kan, Jiyoo-ssi?''
Jiyoo mengangguk, dia
menatap bangku Jungkook di barisan belakang. 'Kumohon datanglah saat pidato
akhir, Jungkook-ssi,' batin Jiyoo, 'jebal.'
Sena menatap Jiyoo, dia
lalu menoleh kearah bangku-bangku yang kosong itu dan kembali menatap Jiyoo.
Sena memegang pundak Jiyoo dan berkata, ''Jiyoo-ssi, mari kita siapkan
pelajaran.'' Sena tersenyum dan menyiapkan buku teks serta catatan di meja.
*
Di tepi jembatan,
Namjoon dan Hoseok mengintip kearah stasiun. ''Demi apapun kalian jelek
sekali,'' komentar Jin, ''apa-apaan kacamata norak itu? Lepas!'' Jin menatap
jijik Hoseok dan Namjoon yang memakai kacamata yang berkelap-kelip di
bingkainya. ''Kalian jangan membuat malu Bangtan, dong,'' sahut Jimin, ''norak
sekali kalian ini.''
Sementara empat orang
itu ribut sendiri, Jungkook dan Yoongi malah asyik makan ramyun di tepi jalan
dekat stasiun. ''Pencopetnya pasti masih beraksi disini,'' ucap Jungkook sambil
mengunyah ramyun, ''jangan sampai dia lepas. Ini demi Taehyung.''
''Hm,'' jawab Yoongi
sambil menyeruput kuah ramyun, dia mendesah kepedasan dan berkata kepada si
penjual, ''Ahjussi, aku minta air! Ppali!''
Jungkook mengawasi
keadaan sekitar, dia terkejut dan berdecak kesal saat ponselnya bergetar.
Jungkook merogoh saku, dia melihat pesan yang masuk dan membacanya.
To : 1234xxxx
Pencopet aslinya beraksi di belakang stasiun.
Jungkook mengerutkan
dahi membaca pesan anonim itu. ''Yoongi-ah, ayo kita ke belakang stasiun,''
kata Jungkook, dia berdiri dan membayar ramyunnya dan Yoongi lalu berlari
menuju belakang stasiun. Yoongi memberi kode kepada empat orang lain agar
mengikuti mereka berdua.
Mereka berenam berhenti
di jalan belakang stasiun. ''Ada yang memberitahu kalau pencopetnya disini,''
kata Jungkook, ''tapi dimana?'' Jungkook dan yang lain celingukan, namun tidak
ada yang mencurigakan disana. Hanya ada beberapa orang saja yang melintas,
penampilannyapun tidak menunjukkan kalau mereka pencopet.
''Jungkook?''
Jungkook menoleh. ''Oh,
Baekhyun Hyung,'' sapa Jungkook sambil membungkuk ramah, ''apa kabar? Lama
sekali tidak bertemu.''
Baekhyun tersenyum
kecil dan menatap Tim Bangtan. ''Benar-benar kompak,'' gumamnya, ''ah, jinjja.
Aku jadi iri melihat kekompakkan kalian. Tapi....'' Baekhyun meneliti satu
persatu, ''....mana Taehyungie?''
Jungkook dan yang lain
terdiam dan saling pandang. ''Taehyung.... Dia ditahan polisi,'' jawab Hoseok,
''dia dituduh melakukan pencopetan di dekat stasiun. Makanya kami kemari
mencari pelaku aslinya.'' ''Aku mendapat pesan kalau pelaku aslinya sedang
disini,'' sahut Jungkook, ''Hyung, apa kau melihat ada orang yang
mencurigakan?''
Baekhyun tampak
tertegun mendengar ucapan Jungkook dan Hoseok. ''Bantu kami, Hyung,'' pinta
Jungkook, ''kami tidak mungkin membiarkan Taehyung dihukum atas kesalahan orang
lain.''
Untuk beberapa saat
mereka semua terdiam. Baekhyun menatap Tim Bangtan satu persatu, tatapannya
tampak sangat iba. ''Geurae,'' katanya, ''kau benar. Taehyungie.... Dia tidak
bisa dihukum atas kesalahan orang lain.'' Baekhyun menghela napas panjang
sambil memejamkan mata, dia lalu meneruskan, ''Dia tidak bisa dihukum atas
kesalahanku.''
''Hah?'' Jin
mengerutkan dahi.
''Aku yang melaporkan
Taehyung ke polisi,'' sahut Baekhyun, ''aku.... Akulah pencopet yang kalian
cari.''
Deg.
Jungkook dan yang lain
tertegun. Jungkook sangat kaget dengan ucapan Baekhyun. ''Hyung....'' suara
Jungkook tercekat di leher, ''....hyung apa maksudmu?''
''Aku yang
melaporkannya ke polisi,'' kata Baekhyun, ''aku bertemu dengannya saat aku baru
mencopet, dan aku tahu aku akan mendapat masalah kalau dia sampai tahu apa yang
kulakukan. Makanya aku melaporkannya ke polisi dan mengatakan kalau dialah
pelaku pencopetan di stasiun.'' Baekhyun menunduk, dia tidak berani menatap
wajah Tim Bangtan. ''Tapi setelah itu aku merasa bersalah,'' katanya, terdengar
isak kecil di mulutnya, ''aku tahu aku tidak boleh menjadikannya kambing hitam,
membuatnya dihukum atas kesalahanku. Tapi aku tidak bisa.... Aku tidak berani
mengatakan hal yang sebenarnya.'' Baekhyun terisak dan bersujud di dekat kaki
Jungkook yang semakin shock mendengar pernyataan Baekhyun. ''Mianhae,
Jungkook-ah!'' katanya sambil menangis, ''yeorobun, jeongmal mianhae!''
''Hyung....'' Yoongi
menggeram, dia mencengkeram kerah kaos Baekhyun dan berteriak, ''Hyung kenapa
kau melakukan ini?! Kau tahu, Taehyung sangat menderita di penjara sana! Dia
akan sakit hati kalau tahu kau yang menjebaknya!''
''Aku tidak punya
pilihan lain!'' sahut Baekhyun, ''aku sangat takut waktu itu, makanya aku
bertindak tanpa pikir panjang.''
''Yoongi-ah, lepaskan
dia,'' kata Jin sambil memisahkan Yoongi dan Baekhyun. Yoongi terengah-engah,
dia menatap marah Baekhyun. Jungkook sendiri masih tidak percaya dengan semua
hal ini. Dia mengenal Baekhyun, mantan kakak kelasnya ini. Baekhyun dulu
dikenal sebagai anak yang pintar, humoris, dan ramah kepada siapapun. Jungkook
sama sekali tidak menyangka Baekhyun sekarang menjadi seperti ini. ''Kumohon
antar aku ke kantor polisi,'' kata Baekhyun, ''aku akan mengakui semuanya dan
Taehyung akan dibebaskan.''
''Tidak akan kubiarkan
itu terjadi.''
Semua menoleh. Baekhyun
terkejut melihat sekelompok orang berjalan kearah mereka dengan membawa senjata
berupa balok kayu dan tongkat besi. ''Kau tidak akan pergi ke kantor polisi,''
kata orang bertubuh tinggi yang disinyalir Namjoon sebagai ketua geng, ''kalau
kau kesana, kau juga pasti akan memberitahu soal kita dan kita semua akan
dipenjara.''
''Tapi aku tidak bisa membiarkan
adikku dipenjara atas kesalahanku,'' kata Baekhyun. Tim Bangtan agak kaget
mendengar Baekhyun menyebut Taehyung adiknya. ''Aku akan menyerahkan diri,''
kata Baekhyun lagi, ''jangan khawatir, aku tidak akan melibatkan kalian.''
''Aku tidak percaya,''
sahut orang itu, ''lagipula mengorbankan satu orang saja tidak apa-apa, kan?
Paling adikmu hanya akan ditahan selama sepuluh tahun.''
''Kurang ajar kau!''
Yoongi maju dan menghajar laki-laki itu dengan tinjunya. ''Tidak akan kubiarkan
kau mengorbankan Taehyung seenaknya!'' sentak Yoongi, dia menghajar laki-laki
itu dengan membabibuta.
Jungkook menggeram, dia
dan yang lain segera maju dan melindungi Yoongi. Beberapa kali Jungkook terkena
pukulan tongkat besi lawannya, darah mengalir kecil dari pelipis namun Jungkook
masih bisa memberikan perlawanan. Hoseok dan Jin bekerjasama mengalahkan
beberapa orang yang mengepung mereka. Jin dengan sigap menangkis pukulan
lawannya dan memelintir tangan orang itu hingga tulangnya berderak. Hoseok
sendiri melancarkan tendangan tepat ke ulu hati lawannya. Namjoon lebih banyak
menghindar, dia beberapa kali memukul namun matanya jeli mencari titik lemah
lawannya. Namjoon menyeringai, dia seketika meninju rusuk lawannya dan berkata,
''Skak mat.''
Jimin mendengus kesal,
dia menggerutu, ''Kalau saja ada Taehyung orang-orang ini pasti sudah dibabat
habis.'' Jimin menoleh, dia mengerutkan dahi saat tidak mendapati Baekhyun
disana. ''Geu saram,'' geram Jimin, dia berbalik dan kembali menghajar
lawannya.
''Itu! Tolong teman-temanku!
Mereka dikeroyok!''
Tim Bangtan menoleh
cepat, mereka minggir saat para polisi menangkap gerombolan pencopet itu.
''Baekhyun, kau pengkhianat!'' teriak si ketua geng, ''akan kuhabisi kau!'' Dia
terus menyumpah dan berusaha memberontak dari polisi yang menangkapnya.
Jungkook dan yang lain
berlari mendekati Baekhyun. ''Aku akan ke kantor polisi,'' kata Baekhyun, ''aku
akan membebaskan Taehyung dan menyerahkan diriku.'' Baekhyun menatap Tim
Bangtan dan tersenyum. ''Aku percaya kalian pasti akan menjaga Taehyungie
dengan baik, kan?'' katanya, ''nah, aku pergi dulu. Sampai jumpa lagi.''
Jungkook menatap
Baekhyun yang melangkah menjauh dengan perasaan campur aduk. Dia senang
Baekhyun mau mengakui kesalahannya, tapi juga sedih karena Baekhyun harus
ditahan di penjara. Taehyung juga pasti akan sangat sedih, apalagi dua orang
itu sangat dekat seperti kakak beradik. ''Kenapa aku jadi sedih, ya?'' kata
Yoongi, ''Baekhyun Hyung akan dipenjara karena hal ini.''
''Sudahlah, yang
penting dia sudah mau mengakui kesalahannya dan Taehyung akan kembali ke
sekolah,'' kata Namjoon, ''tinggal hukuman di sekolah saja yang harus dia
jalani, kan?'' ''Mungkin dia akan terkena skorsing,'' sahut Hoseok, ''kalau dia
dikeluarkan, akan kubakar habis kantor guru.''
Jin menatap kearah jam
di dekatnya. ''Sudah jam dua siang,'' katanya, ''Jungkook-ah, kau merasa ada
yang terlewatkan, tidak?''
Jungkook menatap jam
juga, dia mengerutkan dahi. ''Apa, ya?'' gumamnya, ''aku tidak merasa ada yang
terlewatkan, tuh.''
''Ah!'' Jimin memekik
mengagetkan yang lain. Yoongi dengan kesal memukul kepala Jimin. ''Ya! Jangan
membuat orang kaget!'' sentak Yoongi. ''Kau kenapa, sih?'' tanya Hoseok,
''tidak jelas sekali kau ini.''
''Jungkook-ah! Pidato!''
sahut Jimin, ''Dewan Murid!''
Jungkook diam sejenak,
detik berikutnya terbelalak dan menjerit. ''Aku terlambat!'' pekiknya sambil
berlari, ''waaaa! Aku tidak mau kalah dari anak ituuuuu!'' Dia berlari
meninggalkan teman-temannya yang melongo sambil berteriak, ''Minggir! Ini
darurat! Ini pertarungan hidup dan mati!''
Jin dan yang lain
saling pandang dengan muka datar. ''Itu.... Ketua geng kita, ya?'' gumam
Namjoon. ''Apa dia Jungkook yang biasanya?'' sahut Jimin, ''kerasukan apa
dia?''
Jungkook menjeblak
pintu ruang guru, dia berkata lantang, ''Maaf aku terlambat. Aku sudah siap
untuk pidato akhir!''
Wendy mendekati
Jungkook. ''Pidato apa?'' tanyanya, ''pidato akhir sudah selesai sejak sejam
yang lalu.'' ''Dan karena kau tidak hadir, maka Jiyoo-ssi dinyatakan menang
telak,'' sahut Seulgi, ''dan kau kalah. Jiyoo-ssi kembali menjabat sebagai
ketua Dewan Murid untuk periode ini.''
Jungkook menatap Jiyoo
yang mendekat dan memasang wajah kesal. ''Aku sangat kecewa, Jungkook-ssi,''
katanya, tampak jelas kekecewaan di matanya yang sudah berair, ''sangat
kecewa.'' Jiyoo berjalan keluar ruang guru ditemani Sena yang hanya menatapnya
diam. Wendy, Seulgi, Irene, Yeri, dan Joy juga berjalan melewatinya mengikuti
Jiyoo dan Sena.
''Dia mengulur waktu
tadi,'' suara Leeteuk mengejutkan Jungkook, ''dia berharap kau datang untuk
pidato akhir. Kau tahu, dia sangat antusias karena ini pertama kalinya dia
punya lawan saat pemilihan.'' Leeteuk menghela napas, dia menatap Jungkook lalu
mengerutkan dahi. ''Kenapa kau acak-acakan begitu?'' tanyanya, ''kau berkelahi
lagi, ya?''
Jungkook diam saja, dia
berlari menyusul Jiyoo dan teman-temannya. ''Aku menangkap pencopet aslinya,''
kata Jungkook, ''aku terlambat karena membebaskan Taehyung.''
''Apa hal itu sangat
penting sampai kau melewatkan pemilihan ketua Dewan Murid?'' tanya Joy.
''Untukku yang sangat
menomorsatukan sahabatku, jawabannya tentu saja iya,'' jawab Jungkook, ''tapi
aku tidak yakin kalian juga punya jawaban sama denganku.'' Jungkook mendesis
dan melanjutkan, ''Dari pertanyaan tadi saja aku sudah tahu jawabannya.''
Jiyoo berbalik menatap
Jungkook. ''Aku senang Taehyung-ssi bebas dari penjara,'' katanya, ''tapi dia
baru boleh mengikuti kegiatan belajar setelah dua minggu.''
Jungkook menatap Jiyoo
yang tersenyum. ''Aku sudah mengatakan semuanya kepada Kepala Sekolah,'' kata
Jiyoo, ''Taehyung-ssi tidak jadi dikeluarkan. Dia hanya akan diskorsing selama
dua minggu.'' Jiyoo membungkuk memberi salam, dia berlalu bersama teman-temannya
meninggalkan Jungkook.
*
Dua minggu kemudian....
Taehyung berhenti di
depan gerbang, dia menatap gedung sekolahnya dalam diam. Taehyung menghela
napas, dia lalu melangkah pelan masuk sekolah. Untuk pertama kali dalam
hidupnya, Taehyung merindukan sekolahnya ini. Terutama merindukan Tim Bangtan,
padahal setiap hari mereka merusuh di rumah Taehyung sampai larut malam.
Taehyung berbelok, dia melangkah dan berhenti di depan pintu kelasnya. Taehyung
diam sejenak, dia menghela napas lagi dan akhirnya membuka pintu.
''TAEHYUUUUUNG!''
Taehyung terkejut
melihat teman-temannya berkumpul di kelas, menebar konfeti kepadanya.
''Taehyung-ah, welcome back!'' teriak Sungjae, ''kenapa kau terlambat, hah?!''
''Kami sudah menunggumu sejak tadi,'' kata Ilhoon, ''kau tidak mendapat
masalah, kan?''
Taehyung tertegun, dia
lalu tersenyum dan menggeleng. Jimin dan Jungkook mendekat, mereka merangkul
erat Taehyung. ''Kami semua merindukanmu, Taehyung-ah,'' kata Jimin. ''Aku tahu
ini pasti sangat sulit untukmu,'' kata Jungkook, ''tapi selama ada kami, semua
kesulitan akan teratasi.''
Taehyung tertawa. Dia
jujur saja masih agak terluka saat mengetahui Baekhyun terlibat dibalik
penahanannya. Tapi Taehyung tidak tega saat melihat Baekhyun di dalam penjara.
Bagaimanapun Baekhyun sudah seperti kakaknya, dan melihat seorang kakak
dipenjara pasti menyakitkan bagi seorang adik. ''Nah,'' kata Jungkook, ''aku
harus pergi. Ada rapat dengan anggota Dewan Murid. Aku akan membuat para
perempuan tidak berkutik dengan keahlianku.''
''Chamkamman,'' kata
Jin, ''sebelum itu aku mau bertanya sesuatu.'' Jin mengeluarkan sebuah kunci
berbandul biru dari sakunya, dia menatap Taehyung dan bertanya, ''Apa ini,
Taehyung-ah?''
Semua mata menatap
Taehyung. Taehyung terdiam, dia lalu menunduk dan bergumam, ''Mianhae.''
''Kenapa kau tidak
memberitahu kami kalau kau bekerja di toilet stasiun?'' tanya Yoongi.
''Aku....'' Taehyung
menggigit bibirnya, ''aku hanya tidak ingin kalian khawatir. Lagipula aku
melakukannya untuk menggantikan ayahku yang sakit. Sekarang ayahku sudah
sembuh, jadi aku tidak bekerja disana lagi.''
''Tapi kalau kau
memberitahu, kami bisa membantumu,'' kata Namjoon.
Taehyung tersenyum.
''Sudahlah,'' katanya, ''maafkan aku sudah membuat kalian khawatir.
Jungkook-ah, sana pergi. Tunjukkan kepada gadis-gadis sombong itu kalau kau
adalah ketua yang hebat dan keren.''
''Eh, ketua ya,''
Jungkook terkekeh dan menggaruk kepala, ''aku cuma jadi wakil ketua. Jiyoo
tetap jadi ketuanya.''
Krik.
Jiyoo dan Sena berjalan
di koridor, Jiyoo tersentak saat Jungkook berlari melintas disusul Taehyung.
''YA! JEON JUNGKOOK!'' suara Taehyung menggelegar, ''AKU SUDAH MENGATAKAN KAU
HARUS MENANG! AKU BERKORBAN BANYAK AGAR KAU MENANG DAN KAU HANYA JADI WAKIL KETUA?!
KEMARI KAU!''
Jiyoo melongo, dia
menatap Sena yang hanya diam. ''Aku senang Taehyung-ssi kembali,'' ucap Jiyoo
sambil tersenyum, ''bukan begitu, Sena-ssi?'' Jiyoo menatap Sena, dia tersenyum
dan Sena juga ikut tersenyum. ''Yah, setidaknya dia sudah mendapatkan
keadilan,'' kata Sena.
''Bicara soal keadilan,
Sena-ssi,'' kata Jiyoo, ''Jin-ssi memberitahuku kalau Baekhyun-ssi mengakui
kesalahannya setelah ada yang membujuknya. Menurutku orang itu pasti hebat
sekali sudah berhasil membujuk Baekhyun-ssi.''
Sena hanya tersenyum.
Dia mengerling singkat kepada Jin yang melintas bersama Tim Bangtan. Jin
menatap sekilas Sena, dia mengangguk samar dan kembali berjalan. ''Kajja,
Jiyoo-ssi,'' kata Sena, ''ayo kita masuk kelas.''
Jiyoo mengangguk, dia
berjalan bersama Sena menuju kelas. Sena hanya menghela napas, dia tersenyum
kecil dan melangkah masuk kelas.
*
(flashback on)
Baekhyun berjalan di
jalan setapak yang sepi. Dia menguap, lalu mengucek matanya dan menendang
kaleng peyok di jalanan.
''Annyeonghasseo. Byun
Baekhyun-ssi?''
Baekhyun berhenti dan
mendongak, dia mengerutkan dahi melihat seorang laki-laki di depannya.
''Nuguya?'' tanya Baekhyun ketus.
''Saya Eunkwang,''
jawab laki-laki itu sambil tersenyum.
''Tch, tidak penting,''
decih Baekhyun. Dia melangkah melintasi Eunkwang saat dia mendengar Eunkwang
berkata, ''Aku tahu kau yang melaporkan Taehyung ke polisi.''
Deg.
Baekhyun seketika
berhenti, dia membelalakkan mata kaget. Eunkwang berbalik dan menatap Baekhyun.
''Jangan khawatir,'' katanya, ''aku tidak akan melaporkanmu ke polisi. Kau
sendiri yang akan melakukannya.''
Baekhyun menatap
Eunkwang yang tersenyum. ''Taehyung sudah tahu kalau kau adalah pencopet,''
kata Eunkwang, ''tapi dia tidak tahu kalau kau yang menjebaknya. Menurutmu
bagaimana reaksinya kalau dia tahu soal itu, hm?''
Baekhyun semakin
terhenyak mendengar ucapan Eunkwang. ''Kalau dia mau, saat itu dia bisa saja
mengatakan apa yang dia ketahui,'' kata Eunkwang, ''dan kau akan ditahan juga.
Tapi dia tidak melakukannya.'' Eunkwang menatap Baekhyun yang menunduk.
''Kenapa kau tega sekali melakukan itu?'' tanyanya.
Baekhyun masih tidak
menjawab, ketakutan menjalar masuk benaknya. ''Aku tahu kau masih punya hati
nurani,'' kata Eunkwang, dia menyodorkan sebuah kartu nama kepada Baekhyun,
''kau punya banyak waktu untuk mengubah keadaan, setelah ini kau bisa
menghubungiku dan akan kuberi kau pekerjaan.'' Eunkwang tersenyum dan
membungkuk memberi salam kepada Baekhyun, dia lalu melangkah pergi.
Eunkwang berjalan cepat
menuju sebuah mobil hitam di tepi jalan sepi, dia masuk dan memasang sabuk
pengaman. ''Bagaimana?'' suara seorang gadis terdengar, ''kau mengatakan apa?''
''Saya hanya mengatakan
dia bisa mengubah keadaan,'' jawab Eunkwang, ''kalau dia punya hati nurani dia
akan menyerahkan dirinya sendiri.''
''Dia pasti punya hati nurani,
Eunkwang-ssi,'' sahut gadis itu, ''baiklah. Ayo kita pulang.''
''Sena-ssi, kau tidak
ke bimbingan belajar?'' tanya Eunkwang sambil menatap Sena dari kaca spion.
''Aku sudah minta ijin
tidak hadir hari ini,'' jawab Sena, ''akan kuganti besok.''
Eunkwang mengangguk,
dia menghela napas dan menyetir mobil menjauhi tempat itu.
***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar