Selasa, 02 Februari 2016

The School Lesson 03 (Part 2)



Title : The School
Author : Veve
Genre : School, Drama
Cast :
BTS All Members
Han Jiyoo (OC)
Park Sena (OC)
Red Velvet All Members (start from Lesson 02)
And others
Length : Chapter
*
Huollaaaaaa!!!
Akhirnya balik juga dengan FF ini setelah kelamaan hibernasi
Maaf yaaaaaa
FF ini terinfluence oleh drama Jepang Shiritsu Bakaleya Koukou dan Gokusen
Mohon maaf kalo ada banyak typo
Jangan bash saya dengan pairing di FF ini :v
 Dan jangan diplagiat..... Kasihani saya *ngek
Enjoy!!!
*
 
Tim Bangtan berjalan pelan keluar kantor polisi. ''Bahkan Taehyung tidak mau bicara apa-apa,'' kata Jin, ''dia malah memberikan naskah pidato yang aneh ini.'' ''Dia ingin aku memenangkan pemilihan,'' kata Jungkook, ''aaaaa, eottokhaeeee?''

''Annyeonghasseo.''

Tim Bangtan berhenti. Jungkook seketika kesal melihat Jiyoo dan Irene yang berdiri di depannya. ''Bagaimana keadaan Taehyung-ssi?'' tanya Jiyoo, ''aku dan Irene-ssi ingin menemuinya untuk meminta penjelasan.''

''Tch, jangan sok peduli,'' kata Jungkook, ''Taehyung ditahan gara-gara teman kalian itu. Dan sekarang kau datang lalu pura-pura menanyakan keadaan Taehyung untuk menutupi kesalahan temanmu? Mian, kami tidak akan termakan tipuan macam itu.''

Jiyoo sangat terkejut dan terluka mendengar ucapan Jungkook. ''Sena-ssi memberitahu kalau kami harus mencari di sekitar jembatan,'' kata Irene, ''kami juga tidak ingin Taehyung-ssi ditahan atas kesalahan orang lain.''

''Oh, jadi benar Sena yang menyuruh kalian?'' sahut Jin, ''berarti Jiyoo tidak melakukan ini atas keinginannya sendiri, kan?'' ''Jadi dia menutupi kesalahannya dengan pura-pura peduli kepada Taehyung?'' sahut Yoongi sinis, ''jangan-jangan justru dia pencopetnya.''

''Tolong jangan sembarangan menuduh,'' sahut Irene, ''Sena-ssi adalah putri seorang pengawas pendidikan, dia tidak mungkin melakukannya.''

''Siapa yang peduli?'' sahut Jimin, ''bahkan anak presiden juga bisa melakukan tindak kriminal.'' ''Kau mau mengatakan kalau orang kaya selalu bersih dari tindak kriminal?'' sambung Namjoon, ''enyahlah dari Bumi, Nona.''

''Kalian diamlah!'' sahut Jungkook dan Jiyoo bersamaan.

Mereka semua terdiam. ''Tolong jangan bertengkar,'' kata Jiyoo, ''bisakah kita bekerjasama dan menyelesaikan masalah ini?''

''Aku tidak mau bekerjasama dengan kalian,'' kata Hoseok. Jungkook dan yang lain menatap sinis dua gadis itu, lalu melangkah pergi. ''Mereka sangat kasar dan tidak beretika,'' kata Irene, ''Jiyoo-ssi, apa kau masih akan menemui Taehyung-ssi?''

Jiyoo menggeleng. ''Ayo kita pulang saja,'' ucapnya.

Irene mengangguk, dia segera menyetop taksi. Jiyoo menoleh kearah kantor polisi sejenak, dia menghela napas dan masuk taksi bersama Irene.
*
(flashback on)
Taehyung berjalan sambil menguap dan mengucek matanya. Dia memainkan kunci berbandul biru di tangan, lalu memasukkannya ke kantong jaket. Taehyung kembali menguap, hari ini sangat melelahkan untuknya. 'Setelah ini aku tidak akan merepotkan Appa lagi,' batinnya, 'bekerja ternyata sangat berat dan melelahkan. Aku akan berjuang dan menghasilkan uang sendiri.' Taehyung merapatkan jaketnya dan melangkah pulang. Besok ada tes matematika, dan Taehyung belum belajar.

Eh, sejak kapan dia belajar?

Taehyung terus berjalan, dia berbelok dan melangkah melewati stasiun. Sudah jam delapan malam, jelas saja stasiun sudah agak sepi. Hanya ada beberapa orang yang lewat dan keluar dari stasiun, kebanyakan pegawai kantoran atau mahasiswa. Melihat pegawai kantoran yang mengenakan jas dan dasi membuat Taehyung iri. Dia ingin bisa bekerja di perusahaan besar, jadi dia bisa punya banyak uang dan ayahnya tidak perlu repot-repot bekerja lagi.

Brak!

Tubuh Taehyung agak limbung saat seseorang menabraknya keras. ''Ya! Kau itu punya mata tidak?!'' sahut Taehyung, dia mencengkeram kerah jaket orang itu dan melotot kearahnya. Tapi pelototan Taehyung hilang saat menyadari siapa yang menabraknya? ''Baekhyun hyung?'' gumam Taehyung, ''hyung, kau sedang apa disini? Bukannya kau bilang kau sedang belajar untuk persiapan kuliah?''

Pemuda bernama Baekhyun itu segera menepis keras pegangan Taehyung dan berlari menjauh. ''Hyung!'' teriak Taehyung, dia menunduk melihat sebuah dompet terjatuh. Taehyung mengambilnya, dia berlari mengejar Baekhyun. ''Hyung, dompet!'' teriak Taehyung sambil berlari, ''Ya! Baekhyun Hyung!''

Taehyung berlari, dia mendadak berhenti saat sebuah mobil hampir menabraknya. Taehyung berdecak kesal, dia kembali berlari mengejar Baekhyun. Dia berhenti sejenak dan menoleh, lalu membatin, 'Itu seperti Park Sena. Ah, peduli apa aku dengannya?' Taehyung kembali berlari mencari Baekhyun.
(flashback off)
*
Jiyoo  berjalan masuk kelas bersama Sena, dia menoleh dan tertegun melihat bangku para siswa kosong. ''Sepertinya mereka kembali membolos,'' kata Sena, ''Jiyoo-ssi?''

Jiyoo diam saja, dia melangkah masuk dan duduk di bangkunya. ''Sena-ssi,'' ujar Jiyoo, ''apa menurutmu mereka masih mencari pelaku aslinya?''

''Sepertinya begitu,'' jawab Sena, ''ah, pidato akhir dilaksanakan hari ini, kan, Jiyoo-ssi?''

Jiyoo mengangguk, dia menatap bangku Jungkook di barisan belakang. 'Kumohon datanglah saat pidato akhir, Jungkook-ssi,' batin Jiyoo, 'jebal.'

Sena menatap Jiyoo, dia lalu menoleh kearah bangku-bangku yang kosong itu dan kembali menatap Jiyoo. Sena memegang pundak Jiyoo dan berkata, ''Jiyoo-ssi, mari kita siapkan pelajaran.'' Sena tersenyum dan menyiapkan buku teks serta catatan di meja.
*
Di tepi jembatan, Namjoon dan Hoseok mengintip kearah stasiun. ''Demi apapun kalian jelek sekali,'' komentar Jin, ''apa-apaan kacamata norak itu? Lepas!'' Jin menatap jijik Hoseok dan Namjoon yang memakai kacamata yang berkelap-kelip di bingkainya. ''Kalian jangan membuat malu Bangtan, dong,'' sahut Jimin, ''norak sekali kalian ini.''

Sementara empat orang itu ribut sendiri, Jungkook dan Yoongi malah asyik makan ramyun di tepi jalan dekat stasiun. ''Pencopetnya pasti masih beraksi disini,'' ucap Jungkook sambil mengunyah ramyun, ''jangan sampai dia lepas. Ini demi Taehyung.''

''Hm,'' jawab Yoongi sambil menyeruput kuah ramyun, dia mendesah kepedasan dan berkata kepada si penjual, ''Ahjussi, aku minta air! Ppali!''

Jungkook mengawasi keadaan sekitar, dia terkejut dan berdecak kesal saat ponselnya bergetar. Jungkook merogoh saku, dia melihat pesan yang masuk dan membacanya.

To : 1234xxxx
Pencopet aslinya beraksi di belakang stasiun.

Jungkook mengerutkan dahi membaca pesan anonim itu. ''Yoongi-ah, ayo kita ke belakang stasiun,'' kata Jungkook, dia berdiri dan membayar ramyunnya dan Yoongi lalu berlari menuju belakang stasiun. Yoongi memberi kode kepada empat orang lain agar mengikuti mereka berdua.

Mereka berenam berhenti di jalan belakang stasiun. ''Ada yang memberitahu kalau pencopetnya disini,'' kata Jungkook, ''tapi dimana?'' Jungkook dan yang lain celingukan, namun tidak ada yang mencurigakan disana. Hanya ada beberapa orang saja yang melintas, penampilannyapun tidak menunjukkan kalau mereka pencopet.

''Jungkook?''

Jungkook menoleh. ''Oh, Baekhyun Hyung,'' sapa Jungkook sambil membungkuk ramah, ''apa kabar? Lama sekali tidak bertemu.''

Baekhyun tersenyum kecil dan menatap Tim Bangtan. ''Benar-benar kompak,'' gumamnya, ''ah, jinjja. Aku jadi iri melihat kekompakkan kalian. Tapi....'' Baekhyun meneliti satu persatu, ''....mana Taehyungie?''

Jungkook dan yang lain terdiam dan saling pandang. ''Taehyung.... Dia ditahan polisi,'' jawab Hoseok, ''dia dituduh melakukan pencopetan di dekat stasiun. Makanya kami kemari mencari pelaku aslinya.'' ''Aku mendapat pesan kalau pelaku aslinya sedang disini,'' sahut Jungkook, ''Hyung, apa kau melihat ada orang yang mencurigakan?''

Baekhyun tampak tertegun mendengar ucapan Jungkook dan Hoseok. ''Bantu kami, Hyung,'' pinta Jungkook, ''kami tidak mungkin membiarkan Taehyung dihukum atas kesalahan orang lain.''

Untuk beberapa saat mereka semua terdiam. Baekhyun menatap Tim Bangtan satu persatu, tatapannya tampak sangat iba. ''Geurae,'' katanya, ''kau benar. Taehyungie.... Dia tidak bisa dihukum atas kesalahan orang lain.'' Baekhyun menghela napas panjang sambil memejamkan mata, dia lalu meneruskan, ''Dia tidak bisa dihukum atas kesalahanku.''

''Hah?'' Jin mengerutkan dahi.

''Aku yang melaporkan Taehyung ke polisi,'' sahut Baekhyun, ''aku.... Akulah pencopet yang kalian cari.''

Deg.

Jungkook dan yang lain tertegun. Jungkook sangat kaget dengan ucapan Baekhyun. ''Hyung....'' suara Jungkook tercekat di leher, ''....hyung apa maksudmu?''

''Aku yang melaporkannya ke polisi,'' kata Baekhyun, ''aku bertemu dengannya saat aku baru mencopet, dan aku tahu aku akan mendapat masalah kalau dia sampai tahu apa yang kulakukan. Makanya aku melaporkannya ke polisi dan mengatakan kalau dialah pelaku pencopetan di stasiun.'' Baekhyun menunduk, dia tidak berani menatap wajah Tim Bangtan. ''Tapi setelah itu aku merasa bersalah,'' katanya, terdengar isak kecil di mulutnya, ''aku tahu aku tidak boleh menjadikannya kambing hitam, membuatnya dihukum atas kesalahanku. Tapi aku tidak bisa.... Aku tidak berani mengatakan hal yang sebenarnya.'' Baekhyun terisak dan bersujud di dekat kaki Jungkook yang semakin shock mendengar pernyataan Baekhyun. ''Mianhae, Jungkook-ah!'' katanya sambil menangis, ''yeorobun, jeongmal mianhae!''

''Hyung....'' Yoongi menggeram, dia mencengkeram kerah kaos Baekhyun dan berteriak, ''Hyung kenapa kau melakukan ini?! Kau tahu, Taehyung sangat menderita di penjara sana! Dia akan sakit hati kalau tahu kau yang menjebaknya!''

''Aku tidak punya pilihan lain!'' sahut Baekhyun, ''aku sangat takut waktu itu, makanya aku bertindak tanpa pikir panjang.''

''Yoongi-ah, lepaskan dia,'' kata Jin sambil memisahkan Yoongi dan Baekhyun. Yoongi terengah-engah, dia menatap marah Baekhyun. Jungkook sendiri masih tidak percaya dengan semua hal ini. Dia mengenal Baekhyun, mantan kakak kelasnya ini. Baekhyun dulu dikenal sebagai anak yang pintar, humoris, dan ramah kepada siapapun. Jungkook sama sekali tidak menyangka Baekhyun sekarang menjadi seperti ini. ''Kumohon antar aku ke kantor polisi,'' kata Baekhyun, ''aku akan mengakui semuanya dan Taehyung akan dibebaskan.''

''Tidak akan kubiarkan itu terjadi.''

Semua menoleh. Baekhyun terkejut melihat sekelompok orang berjalan kearah mereka dengan membawa senjata berupa balok kayu dan tongkat besi. ''Kau tidak akan pergi ke kantor polisi,'' kata orang bertubuh tinggi yang disinyalir Namjoon sebagai ketua geng, ''kalau kau kesana, kau juga pasti akan memberitahu soal kita dan kita semua akan dipenjara.''

''Tapi aku tidak bisa membiarkan adikku dipenjara atas kesalahanku,'' kata Baekhyun. Tim Bangtan agak kaget mendengar Baekhyun menyebut Taehyung adiknya. ''Aku akan menyerahkan diri,'' kata Baekhyun lagi, ''jangan khawatir, aku tidak akan melibatkan kalian.''

''Aku tidak percaya,'' sahut orang itu, ''lagipula mengorbankan satu orang saja tidak apa-apa, kan? Paling adikmu hanya akan ditahan selama sepuluh tahun.''

''Kurang ajar kau!'' Yoongi maju dan menghajar laki-laki itu dengan tinjunya. ''Tidak akan kubiarkan kau mengorbankan Taehyung seenaknya!'' sentak Yoongi, dia menghajar laki-laki itu dengan membabibuta.

Jungkook menggeram, dia dan yang lain segera maju dan melindungi Yoongi. Beberapa kali Jungkook terkena pukulan tongkat besi lawannya, darah mengalir kecil dari pelipis namun Jungkook masih bisa memberikan perlawanan. Hoseok dan Jin bekerjasama mengalahkan beberapa orang yang mengepung mereka. Jin dengan sigap menangkis pukulan lawannya dan memelintir tangan orang itu hingga tulangnya berderak. Hoseok sendiri melancarkan tendangan tepat ke ulu hati lawannya. Namjoon lebih banyak menghindar, dia beberapa kali memukul namun matanya jeli mencari titik lemah lawannya. Namjoon menyeringai, dia seketika meninju rusuk lawannya dan berkata, ''Skak mat.''

Jimin mendengus kesal, dia menggerutu, ''Kalau saja ada Taehyung orang-orang ini pasti sudah dibabat habis.'' Jimin menoleh, dia mengerutkan dahi saat tidak mendapati Baekhyun disana. ''Geu saram,'' geram Jimin, dia berbalik dan kembali menghajar lawannya.

''Itu! Tolong teman-temanku! Mereka dikeroyok!''

Tim Bangtan menoleh cepat, mereka minggir saat para polisi menangkap gerombolan pencopet itu. ''Baekhyun, kau pengkhianat!'' teriak si ketua geng, ''akan kuhabisi kau!'' Dia terus menyumpah dan berusaha memberontak dari polisi yang menangkapnya.

Jungkook dan yang lain berlari mendekati Baekhyun. ''Aku akan ke kantor polisi,'' kata Baekhyun, ''aku akan membebaskan Taehyung dan menyerahkan diriku.'' Baekhyun menatap Tim Bangtan dan tersenyum. ''Aku percaya kalian pasti akan menjaga Taehyungie dengan baik, kan?'' katanya, ''nah, aku pergi dulu. Sampai jumpa lagi.''

Jungkook menatap Baekhyun yang melangkah menjauh dengan perasaan campur aduk. Dia senang Baekhyun mau mengakui kesalahannya, tapi juga sedih karena Baekhyun harus ditahan di penjara. Taehyung juga pasti akan sangat sedih, apalagi dua orang itu sangat dekat seperti kakak beradik. ''Kenapa aku jadi sedih, ya?'' kata Yoongi, ''Baekhyun Hyung akan dipenjara karena hal ini.''

''Sudahlah, yang penting dia sudah mau mengakui kesalahannya dan Taehyung akan kembali ke sekolah,'' kata Namjoon, ''tinggal hukuman di sekolah saja yang harus dia jalani, kan?'' ''Mungkin dia akan terkena skorsing,'' sahut Hoseok, ''kalau dia dikeluarkan, akan kubakar habis kantor guru.''

Jin menatap kearah jam di dekatnya. ''Sudah jam dua siang,'' katanya, ''Jungkook-ah, kau merasa ada yang terlewatkan, tidak?''

Jungkook menatap jam juga, dia mengerutkan dahi. ''Apa, ya?'' gumamnya, ''aku tidak merasa ada yang terlewatkan, tuh.''

''Ah!'' Jimin memekik mengagetkan yang lain. Yoongi dengan kesal memukul kepala Jimin. ''Ya! Jangan membuat orang kaget!'' sentak Yoongi. ''Kau kenapa, sih?'' tanya Hoseok, ''tidak jelas sekali kau ini.''

''Jungkook-ah! Pidato!'' sahut Jimin, ''Dewan Murid!''

Jungkook diam sejenak, detik berikutnya terbelalak dan menjerit. ''Aku terlambat!'' pekiknya sambil berlari, ''waaaa! Aku tidak mau kalah dari anak ituuuuu!'' Dia berlari meninggalkan teman-temannya yang melongo sambil berteriak, ''Minggir! Ini darurat! Ini pertarungan hidup dan mati!''

Jin dan yang lain saling pandang dengan muka datar. ''Itu.... Ketua geng kita, ya?'' gumam Namjoon. ''Apa dia Jungkook yang biasanya?'' sahut Jimin, ''kerasukan apa dia?''

Jungkook menjeblak pintu ruang guru, dia berkata lantang, ''Maaf aku terlambat. Aku sudah siap untuk pidato akhir!''

Wendy mendekati Jungkook. ''Pidato apa?'' tanyanya, ''pidato akhir sudah selesai sejak sejam yang lalu.'' ''Dan karena kau tidak hadir, maka Jiyoo-ssi dinyatakan menang telak,'' sahut Seulgi, ''dan kau kalah. Jiyoo-ssi kembali menjabat sebagai ketua Dewan Murid untuk periode ini.''

Jungkook menatap Jiyoo yang mendekat dan memasang wajah kesal. ''Aku sangat kecewa, Jungkook-ssi,'' katanya, tampak jelas kekecewaan di matanya yang sudah berair, ''sangat kecewa.'' Jiyoo berjalan keluar ruang guru ditemani Sena yang hanya menatapnya diam. Wendy, Seulgi, Irene, Yeri, dan Joy juga berjalan melewatinya mengikuti Jiyoo dan Sena.

''Dia mengulur waktu tadi,'' suara Leeteuk mengejutkan Jungkook, ''dia berharap kau datang untuk pidato akhir. Kau tahu, dia sangat antusias karena ini pertama kalinya dia punya lawan saat pemilihan.'' Leeteuk menghela napas, dia menatap Jungkook lalu mengerutkan dahi. ''Kenapa kau acak-acakan begitu?'' tanyanya, ''kau berkelahi lagi, ya?''

Jungkook diam saja, dia berlari menyusul Jiyoo dan teman-temannya. ''Aku menangkap pencopet aslinya,'' kata Jungkook, ''aku terlambat karena membebaskan Taehyung.''

''Apa hal itu sangat penting sampai kau melewatkan pemilihan ketua Dewan Murid?'' tanya Joy.

''Untukku yang sangat menomorsatukan sahabatku, jawabannya tentu saja iya,'' jawab Jungkook, ''tapi aku tidak yakin kalian juga punya jawaban sama denganku.'' Jungkook mendesis dan melanjutkan, ''Dari pertanyaan tadi saja aku sudah tahu jawabannya.''

Jiyoo berbalik menatap Jungkook. ''Aku senang Taehyung-ssi bebas dari penjara,'' katanya, ''tapi dia baru boleh mengikuti kegiatan belajar setelah dua minggu.''

Jungkook menatap Jiyoo yang tersenyum. ''Aku sudah mengatakan semuanya kepada Kepala Sekolah,'' kata Jiyoo, ''Taehyung-ssi tidak jadi dikeluarkan. Dia hanya akan diskorsing selama dua minggu.'' Jiyoo membungkuk memberi salam, dia berlalu bersama teman-temannya meninggalkan Jungkook.
*
Dua minggu kemudian....

Taehyung berhenti di depan gerbang, dia menatap gedung sekolahnya dalam diam. Taehyung menghela napas, dia lalu melangkah pelan masuk sekolah. Untuk pertama kali dalam hidupnya, Taehyung merindukan sekolahnya ini. Terutama merindukan Tim Bangtan, padahal setiap hari mereka merusuh di rumah Taehyung sampai larut malam. Taehyung berbelok, dia melangkah dan berhenti di depan pintu kelasnya. Taehyung diam sejenak, dia menghela napas lagi dan akhirnya membuka pintu.

''TAEHYUUUUUNG!''

Taehyung terkejut melihat teman-temannya berkumpul di kelas, menebar konfeti kepadanya. ''Taehyung-ah, welcome back!'' teriak Sungjae, ''kenapa kau terlambat, hah?!'' ''Kami sudah menunggumu sejak tadi,'' kata Ilhoon, ''kau tidak mendapat masalah, kan?''

Taehyung tertegun, dia lalu tersenyum dan menggeleng. Jimin dan Jungkook mendekat, mereka merangkul erat Taehyung. ''Kami semua merindukanmu, Taehyung-ah,'' kata Jimin. ''Aku tahu ini pasti sangat sulit untukmu,'' kata Jungkook, ''tapi selama ada kami, semua kesulitan akan teratasi.''

Taehyung tertawa. Dia jujur saja masih agak terluka saat mengetahui Baekhyun terlibat dibalik penahanannya. Tapi Taehyung tidak tega saat melihat Baekhyun di dalam penjara. Bagaimanapun Baekhyun sudah seperti kakaknya, dan melihat seorang kakak dipenjara pasti menyakitkan bagi seorang adik. ''Nah,'' kata Jungkook, ''aku harus pergi. Ada rapat dengan anggota Dewan Murid. Aku akan membuat para perempuan tidak berkutik dengan keahlianku.''

''Chamkamman,'' kata Jin, ''sebelum itu aku mau bertanya sesuatu.'' Jin mengeluarkan sebuah kunci berbandul biru dari sakunya, dia menatap Taehyung dan bertanya, ''Apa ini, Taehyung-ah?''

Semua mata menatap Taehyung. Taehyung terdiam, dia lalu menunduk dan bergumam, ''Mianhae.''

''Kenapa kau tidak memberitahu kami kalau kau bekerja di toilet stasiun?'' tanya Yoongi.

''Aku....'' Taehyung menggigit bibirnya, ''aku hanya tidak ingin kalian khawatir. Lagipula aku melakukannya untuk menggantikan ayahku yang sakit. Sekarang ayahku sudah sembuh, jadi aku tidak bekerja disana lagi.''

''Tapi kalau kau memberitahu, kami bisa membantumu,'' kata Namjoon.

Taehyung tersenyum. ''Sudahlah,'' katanya, ''maafkan aku sudah membuat kalian khawatir. Jungkook-ah, sana pergi. Tunjukkan kepada gadis-gadis sombong itu kalau kau adalah ketua yang hebat dan keren.''

''Eh, ketua ya,'' Jungkook terkekeh dan menggaruk kepala, ''aku cuma jadi wakil ketua. Jiyoo tetap jadi ketuanya.''

Krik.

Jiyoo dan Sena berjalan di koridor, Jiyoo tersentak saat Jungkook berlari melintas disusul Taehyung. ''YA! JEON JUNGKOOK!'' suara Taehyung menggelegar, ''AKU SUDAH MENGATAKAN KAU HARUS MENANG! AKU BERKORBAN BANYAK AGAR KAU MENANG DAN KAU HANYA JADI WAKIL KETUA?! KEMARI KAU!''

Jiyoo melongo, dia menatap Sena yang hanya diam. ''Aku senang Taehyung-ssi kembali,'' ucap Jiyoo sambil tersenyum, ''bukan begitu, Sena-ssi?'' Jiyoo menatap Sena, dia tersenyum dan Sena juga ikut tersenyum. ''Yah, setidaknya dia sudah mendapatkan keadilan,'' kata Sena.

''Bicara soal keadilan, Sena-ssi,'' kata Jiyoo, ''Jin-ssi memberitahuku kalau Baekhyun-ssi mengakui kesalahannya setelah ada yang membujuknya. Menurutku orang itu pasti hebat sekali sudah berhasil membujuk Baekhyun-ssi.''

Sena hanya tersenyum. Dia mengerling singkat kepada Jin yang melintas bersama Tim Bangtan. Jin menatap sekilas Sena, dia mengangguk samar dan kembali berjalan. ''Kajja, Jiyoo-ssi,'' kata Sena, ''ayo kita masuk kelas.''

Jiyoo mengangguk, dia berjalan bersama Sena menuju kelas. Sena hanya menghela napas, dia tersenyum kecil dan melangkah masuk kelas.
*
(flashback on)
Baekhyun berjalan di jalan setapak yang sepi. Dia menguap, lalu mengucek matanya dan menendang kaleng peyok di jalanan.

''Annyeonghasseo. Byun Baekhyun-ssi?''

Baekhyun berhenti dan mendongak, dia mengerutkan dahi melihat seorang laki-laki di depannya. ''Nuguya?'' tanya Baekhyun ketus.

''Saya Eunkwang,'' jawab laki-laki itu sambil tersenyum.

''Tch, tidak penting,'' decih Baekhyun. Dia melangkah melintasi Eunkwang saat dia mendengar Eunkwang berkata, ''Aku tahu kau yang melaporkan Taehyung ke polisi.''

Deg.

Baekhyun seketika berhenti, dia membelalakkan mata kaget. Eunkwang berbalik dan menatap Baekhyun. ''Jangan khawatir,'' katanya, ''aku tidak akan melaporkanmu ke polisi. Kau sendiri yang akan melakukannya.''

Baekhyun menatap Eunkwang yang tersenyum. ''Taehyung sudah tahu kalau kau adalah pencopet,'' kata Eunkwang, ''tapi dia tidak tahu kalau kau yang menjebaknya. Menurutmu bagaimana reaksinya kalau dia tahu soal itu, hm?''

Baekhyun semakin terhenyak mendengar ucapan Eunkwang. ''Kalau dia mau, saat itu dia bisa saja mengatakan apa yang dia ketahui,'' kata Eunkwang, ''dan kau akan ditahan juga. Tapi dia tidak melakukannya.'' Eunkwang menatap Baekhyun yang menunduk. ''Kenapa kau tega sekali melakukan itu?'' tanyanya.

Baekhyun masih tidak menjawab, ketakutan menjalar masuk benaknya. ''Aku tahu kau masih punya hati nurani,'' kata Eunkwang, dia menyodorkan sebuah kartu nama kepada Baekhyun, ''kau punya banyak waktu untuk mengubah keadaan, setelah ini kau bisa menghubungiku dan akan kuberi kau pekerjaan.'' Eunkwang tersenyum dan membungkuk memberi salam kepada Baekhyun, dia lalu melangkah pergi.

Eunkwang berjalan cepat menuju sebuah mobil hitam di tepi jalan sepi, dia masuk dan memasang sabuk pengaman. ''Bagaimana?'' suara seorang gadis terdengar, ''kau mengatakan apa?''

''Saya hanya mengatakan dia bisa mengubah keadaan,'' jawab Eunkwang, ''kalau dia punya hati nurani dia akan menyerahkan dirinya sendiri.''

''Dia pasti punya hati nurani, Eunkwang-ssi,'' sahut gadis itu, ''baiklah. Ayo kita pulang.''

''Sena-ssi, kau tidak ke bimbingan belajar?'' tanya Eunkwang sambil menatap Sena dari kaca spion.

''Aku sudah minta ijin tidak hadir hari ini,'' jawab Sena, ''akan kuganti besok.''

Eunkwang mengangguk, dia menghela napas dan menyetir mobil menjauhi tempat itu.
***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar