Senin, 26 Oktober 2015

Vampire's Tale 02

Title : Vampire's Tale
Author : Veve
Genre : Comedy, Fantasy, Drama
Fandom : Tokusatsu
Cast :
Gou Shijima
Chase
And Others
Length : Chapter
*
Nah karena kemarin udah sampe chapter 3 maka saya post aja deh ya sekalian
Semoga sukaaa
*
sumber gambar : Twitter
*
   Vampire's Tale 02



Chase dan Shinnosuke, perdana menteri kerajaan berjalan di lorong Kementrian. ''Tolong datangi desa itu, Tomari-san,'' kata Chase, ''pindahkan penduduk yang selamat ke desa yang aman. Dan pastikan desa-desa lain tidak terkena serangan yang sama.''

''Aku sudah mengirim beberapa prajurit kesana, Pangeran,'' kata Shinnosuke, ''menurut laporan dari Panglima Perang kita, Akira-san, tidak banyak yang selamat. Diperkirakan ada lebih dari dua vampir yang menyerang desa.''

Chase berhenti, dia menatap Shinnosuke dengan dahi berkerut kecil. ''Jadi itu bukan ulah vampir yang itu?'' katanya.

''Maksudnya?'' Shinnosuke ganti bertanya.

Chase mengerjapkan mata, dia menggeleng dan berkata, ''Bukan apa-apa.'' Chase kembali berjalan, meninggalkan Shinnosuke yang mengerutkan dahi menatap Chase. ''Sepertinya ada yang disembunyikan Pangeran,'' gumam Shinnosuke, ''kenapa dia menyebut 'vampir yang itu'? Vampir yang mana yang dia maksud?'' Shinnosuke menghela napas dan berjalan lagi. ''Dia itu penuh misteri,'' katanya.

Chase masuk ke sebuah ruangan, dia duduk di kursi dekat jendela dan menatap kearah halaman Kementrian. Chase masih ingat kejadian di jalan tadi, dimana dia melihat sosok yang masuk kamarnya malam itu.

Tapi kenapa saat didekati malah orang lain?

''Ah, aku mencari Pangeran sejak tadi.''

Chase menoleh, dia melihat Kiriko melangkah masuk dan mendekatinya. ''Ada apa?'' tanya Chase.

''Ada anak yang ingin mencari pekerjaan,'' jawab Kiriko, ''jadi aku memberinya pekerjaan di istana. Dia cekatan sekali, kurasa dia bisa jadi asisten pelayan di istana.''

''Kau tanyakan saja kepada ayahku,'' kata Chase, ''aku tidak punya hak untuk menentukan siapa saja yang bisa bekerja di istana.''

''Tapi Yang Mulia Heart mengatakan kau saja yang menentukan,'' kata Kiriko.

Chase menghela napas, dia merasa kesal dengan Heart, ayahnya. Chase tahu kalau dia adalah pewaris tahta, tapi Chase masih butuh waktu untuk bisa menjalankan pemerintahan. ''Baiklah, bawa dia kemari,'' katanya sambil memijit dahi.

Kiriko keluar, lalu kembali lagi bersama seorang laki-laki. Chase menoleh, dia menatap laki-laki berwajah ceria itu. ''Siapa namamu?'' tanya Chase.

''Raito,'' jawab laki-laki itu.

''Apa keahlianmu?''

''Memasak, mencuci piring, mencuci pakaian, membersihkan karpet, membersihkan tirai, mengepel lantai, membersihkan perabot, menanam bunga, menanam....''

''Cukup, cukup,'' sela Chase, dia sweatdrop dan menatap Kiriko yang menahan tawa. Chase menghela napas, dia menatap Raito yang tersenyum ceria dan berkata, ''Baiklah kau diterima. Kiriko, kau pekerjakan dia di dapur istana.''

Kiriko mengangguk, dia membawa Raito keluar dari ruangan. Chase menghela napas dan memijit keningnya. ''Banyak sekali orang aneh disini,'' katanya menggumam. Chase menatap halaman Kementrian lagi, berharap pikirannya akan tenang saat melihat bunga-bunga disana.

''Pangeran itu baik sekali,'' puji Raito, ''tapi mukanya datar.''

Kiriko terkekeh. ''Dia memang begitu,'' katanya, ''tapi Pangeran sangat baik, seperti Permaisuri.''

''Aku ingin sekali melayani Pangeran dengan baik,'' kata Raito, ''aku akan memasak makanan terenak untuknya.''

''Ya, kau boleh melakukannya,'' kata Kiriko, ''sekarang akan kuantar kau ke dapur istana.''

Raito mengangguk, dia melangkah mengikuti Kiriko yang berjalan cepat keluar dari Kementrian. Raito berhenti sejenak, dia menatap kearah Kementrian dan tersenyum. ''Biasanya orang baik akan mati lebih cepat,'' gumam Raito, dia tersenyum manis kearah jendela ruangan tempat Chase berada. Raito berbalik, dia berlari mengikuti Kiriko.
***
Chase turun dari kereta kuda, dia melangkah masuk ke istana. ''Apa Yang Mulia sudah kembali?'' tanya Chase.

''Belum, Pangeran,'' jawab pengawal, ''Yang Mulia baru akan kembali tiga hari lagi.''

Chase mengangguk. Dia melangkah menyusuri koridor istana. Chase mendongak, dia merasakan kesunyian di istana sebesar ini. Langkah kaki yang menggema keras menandakan kalau istana ini memang sangat sepi. Chase berhenti sejenak, dia menatap kearah kamar Heart, Sang Raja. Chase lalu kembali berjalan menuju kamarnya.

Chase membuka pintu kamar, dia baru melangkah masuk saat tubuhnya terhempas ke lantai. Chase mendongak, dia melihat seorang laki-laki mencekik lehernya. ''Aku akan menuntaskan keinginanku dan segera pergi darisini,'' katanya menggeram, ''kau benar-benar menyusahkan.''

Chase menatap orang itu. ''Kau vampir yang waktu itu,'' katanya tenang.

Vampir itu terkejut, mereka bertatapan dalam diam. Vampir itu perlahan meregangkan cekikannya, dia lalu menjauh dan akan melesat saat Chase berkata, ''Kenapa kau tidak membunuhku?''

Vampir itu terpaku di balkon, dia tidak menjawab. ''Kau harusnya langsung membunuhku saat itu,'' kata Chase sambil beranjak bangun, ''lalu kau bisa pergi ke kerajaan lain dan mencari makan disana.''

''Itu bukan urusanmu,'' ucap vampir itu ketus, dia segera melesat keluar balkon. Chase diam, dia menatap balkon kamarnya yang kini kosong. Chase menghela napas, dia lalu duduk di sofa dekat balkon dan menatap keluar istana.

Gou berhenti di balik pohon, dia menoleh kearah istana. ''Aaah!'' Gou memekik marah, dia memukul sebuah pohon dan langsung tumbang. ''Kenapa?'' geramnya, ''kenapa aku tidak bisa menghabisinya? Kenapa?!''

Gou terdiam, dia kembali menatap kearah istana. ''Tunggu dulu,'' Gou bergumam dengan dahi berkerut, ''sepertinya aku.... Aku mencium bau vampir. Kenapa ada vampir lain disana?'' Gou mendongak, menatap balkon kamar pangeran itu. ''Aku harus mencaritahu,'' gumamnya, ''kalau dia berbahaya, aku akan melindungi pangeran itu.''

''Kenapa?''

''Waaa!'' Gou menjerit dan berbalik. Sekelompok vampir berdiri di dekat Gou, empat laki-laki dan dua. perempuan. ''Kenapa kau malah melindunginya?'' tanya seorang vampir perempuan berambut pendek, ''dia manusia.''

Gou menatap vampir-vampir itu, dia segera menjawab, ''Karena hanya aku yang boleh membunuhnya. Bukan mereka. Aku yang pertama menemukannya, jadi kuputuskan dia adalah makananku. Tidak akan kubiarkan siapapun merebutnya.''

''Termasuk aku?'' tanya vampir itu lagi.

''Ya. Termasuk kau, Fuuka.''

''Lalu kenapa kau tidak memakannya saja saat pertama kali melihatnya?'' tanya vampir laki-laki berwajah suram.

''Yakumo, kau tidak mengerti,'' Gou berkata resah.

''Apa yang tidak kumengerti?'' tanya Yakumo.

''Darahnya masih tidak enak,'' kata Gou, ''belum lezat. Sudahlah, aku pergi dulu.'' Gou segera melesat meninggalkan vampir-vampir itu.

Yakumo terkekeh, dia berkata, ''Dasar aneh. Dia masih saja suka menyembunyikan perasaannya.''

''Dia mengira aku tidak bisa membaca pikiran,'' kata Takaharu sambil bersandar, ''Gou. Ck ck ck, dasar bocah.''

''Tapi apa yang dia lihat dari pangeran itu, ya?'' gumam Kasumi, ''sepertinya tidak ada yang istimewa darinya.''

''Kita tidak akan bisa melihat itu, Kasumi,'' kata Kinji, ''cuma Gou yang tahu kenapa pangeran itu sangat berharga untuknya.''

''Aku tahu,'' kata Nagi.

Semua menoleh kearah Nagi. ''Kau vampir baru, tahu apa?'' tanya Kinji.

Nagi tersenyum dan berkata, ''Cinta.''

Krik.

''Dasar bocah,'' kata Fuuka, ''kau masih membawa perasaan manusiamu ternyata.''

''Sudah, sudah,'' kata Takaharu, ''kita cari mangsa saja dulu. Apa kali ini? Beruang? Harimau?''
***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar