Title : You And I
Subtitle :Friendzone
Author : Mickey
Genre :Unknown
Length : Oneshoot
Cast :
Kouta Kazuraba
Mitsuzane Kureshima a.k.a Micchy
~~~
Micchy berjalan semangat menuju markas Team Gaim. Hari ini adalah hari yang membahagiakan, selain karena dia baru saja mendapat uang jajan tambahan dia juga akan tampil lagi bersama teman-temannya setelah seminggu libur. Apalagi Kouta akan bergabung lagi, dia makin semangat.
Tujuan Micchy bergabung di Team Gaim kan karena ada Kouta.
Micchy melangkah masuk markas, dia sangat gugup sekaligus senang melihat hanya ada Kouta disana. Kesempatan, nih berduaan aja sama Kouta. Micchy baru akan menyapa saat Kouta mendekat dan berkata semangat, "Micchy Kaito sms gue!"
Ming.
Micchy langsung diam, dia menatap Kouta yang tampak super duper bahagia itu. "Emang sih dia smsnya ngomel gitu, nyuruh gue makan dan blablabla," kata Kouta tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya, "tapi kan seenggaknya dia mulai merhatiin gue, nggak cuek kayak dulu."
Micchy tersenyum, dia mengangguk. "Bagus deh kalo dia mulai perhatian," kata Micchy. Jujur saja dia sangat kesal, moodnya hancur lebur mendengar Kouta menyebut nama Kaito. Kenapa Kaito yang jauh disana yang dilihat? Kenapa Micchy yang ada persis di depannya justru diabaikan? Baiklah, maksudnya bukan dianggap tidak ada tapi.... tidak bisakah Kouta menangkap sinyal dari Micchy?
"Kok tumben jam segini udah nongol aja?" tanya Kouta, "biasanya agak sorean dikit baru keliatan." "Oh tadi kelasnya selesai lebih cepet, jadi ya daripada nganggur mending kesini," jawab Micchy. Dia duduk di sebelah Kouta, menatap sendu laki-laki yang masih asyik membalas pesan Kaito. Ingin sekali Micchy teriak di depan muka Kouta agar pemuda bantet itu sadar kalau Micchy di sebelahnya. Malah orang yang nggak keliatan yang diajak ngobrol.
"Kouta-san," panggil Micchy, "udahan dong smsnya. Jalan-jalan yuk."
Kouta menoleh, dia tertawa dan merangkul Micchy. "Ayo deh," katanya, "bete juga ngerem di markas." Micchy terkekeh, dia super senang Kouta memeluknya. Ya walaupun bukan pelukan cinta, hanya pelukan persahabatan. Micchy sih berharap suatu saat Kouta akan memeluknya dengan status mereka berpacaran. Pasti lebih mantap.
~~~
Micchy dan Kouta berkeliling Zawame, sesekali berhenti buat selfie atau sekedar motret-motret random. Kadang mereka mandek di stage Team Raid Wild atau Team Invitto, sok fanboying diantara penonton. Micchy tergelak saat Kouta dengan alaynya sok jadi fans dan minta foto bareng Jonouchi. Mereka juga mampir ke Charmant, ngerayu Oren biar ngasih mereka kue gratis. Micchy sampe janji bakal ngasih dia foto seksinya Takatora biar dikasih dobel gratis.
Jahat ih. Kakaknya jadi umpan.
Micchy menatap Kouta yang makan kue dengan lahap. Dia tersenyum, lucu melihat sisi lain Kouta yang tidak semua orang tahu. Kaito juga dijamin nggak tahu. Kalau begitu Micchy boleh kan mengklaim Kouta sebagai miliknya? Kan dia lebih kenal Kouta daripada si Kaito itu.
"Sering-sering aja kita kesini, ya," kata Kouta, "elo pinter banget ngerayu Oren-san."
Micchy tertawa, dia membalas, "Beres lah itu. Kapan-kapan kita rame-rame aja kesininya. Bangkrut bangkrut dah Oren-san."
~~~
Micchy berhenti di depan markas Gaim bersama Kouta. "Yakin nggak mau dianter pulang?" tanya Kouta, "udah malem lho. Ntar kalo kamu diculik gimana?" "Ya aku culik balik orangnya," sahut Micchy, dan keduanya tertawa. "Ada gitu ya diculik malah balik nyulik," kata Kouta. Micchy menjawab, "Kalo buat Micchy segalanya ada."
Kouta terkekeh pelan, dia menepuk pelan puncak kepala Micchy. "Ati-ati, ya," katanya, "pokoknya jangan kemana-mana sampe supir dateng."
Micchy menatap Kouta. "Kouta-san," kata Micchy, "aku.... aku sayang sama Kouta-san."
"Gue juga sayang banget sama elo," Kouta merangkul Micchy dan mengacak rambut remaja itu, "kalo gue nggak sayang sama elo, nggak bakal gue bisa sahabatan sama elo. Elo sahabat terbaik gue, adik gue. So...... gue sayang banget sama elo."
Micchy menghela napas. Ternyata Kouta masih menganggapnya sahabat. Micchy jadi bingung sendiri bagaimana caranya Kouta sadar kalau Micchy sangat menyayanginya. Kalau rasa sayang Micchy lebih besar daripada Kaito. Micchy bisa saja menempuh jalan ekstrim seperti menyingkirkan Kaito atau menyihir Kouta agar mencintainya, tapi Micchy masih punya hati nurani.
"Eh Kaito sms," suara Kouta membuyarkan lamunan Micchy, "Micchy, nggak papa kan kalo gue tinggal sendirian? Oh gue teleponin Mai, ya, biar nemenin elo." "Nggak usah," kata Micchy, "kasian Mai ntar malem-malem keluar kandang. Ntar disangka cabe-cabean lagi."
Kouta tertawa, dia membalas, "Oke deh gue tinggal ya. Salam buat supir lo. Bye." Micchy tersenyum, dia melambaikan tangannya kepada Kouta. Dia menghela napas, menunduk dalam. Sepertinya hubungannya dengan Kouta tidak akan pernah melewati batas persahabatan. Micchy menatap jalanan sepi di depannya, dia perlahan tersenyum manis. Kalau memang hanya persahabatan yang bisa membuatnya selalu berdekatan dengan Kouta, dia akan berusaha menikmatinya. Mungkin memang Micchy dan Kouta hanya akan bersenang-senang di dalam zona pertemanan abadi, bukan cinta abadi. Persahabatan juga dilandasi oleh cinta, jadi baginya sama saja berpacaran dengan bersahabat. Kouta tetap mencintainya, walupun rasa cintanya hanya sebagai sahabat.
They are friends, and forever will be.
Micchy langsung diam, dia menatap Kouta yang tampak super duper bahagia itu. "Emang sih dia smsnya ngomel gitu, nyuruh gue makan dan blablabla," kata Kouta tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya, "tapi kan seenggaknya dia mulai merhatiin gue, nggak cuek kayak dulu."
Micchy tersenyum, dia mengangguk. "Bagus deh kalo dia mulai perhatian," kata Micchy. Jujur saja dia sangat kesal, moodnya hancur lebur mendengar Kouta menyebut nama Kaito. Kenapa Kaito yang jauh disana yang dilihat? Kenapa Micchy yang ada persis di depannya justru diabaikan? Baiklah, maksudnya bukan dianggap tidak ada tapi.... tidak bisakah Kouta menangkap sinyal dari Micchy?
"Kok tumben jam segini udah nongol aja?" tanya Kouta, "biasanya agak sorean dikit baru keliatan." "Oh tadi kelasnya selesai lebih cepet, jadi ya daripada nganggur mending kesini," jawab Micchy. Dia duduk di sebelah Kouta, menatap sendu laki-laki yang masih asyik membalas pesan Kaito. Ingin sekali Micchy teriak di depan muka Kouta agar pemuda bantet itu sadar kalau Micchy di sebelahnya. Malah orang yang nggak keliatan yang diajak ngobrol.
"Kouta-san," panggil Micchy, "udahan dong smsnya. Jalan-jalan yuk."
Kouta menoleh, dia tertawa dan merangkul Micchy. "Ayo deh," katanya, "bete juga ngerem di markas." Micchy terkekeh, dia super senang Kouta memeluknya. Ya walaupun bukan pelukan cinta, hanya pelukan persahabatan. Micchy sih berharap suatu saat Kouta akan memeluknya dengan status mereka berpacaran. Pasti lebih mantap.
~~~
Micchy dan Kouta berkeliling Zawame, sesekali berhenti buat selfie atau sekedar motret-motret random. Kadang mereka mandek di stage Team Raid Wild atau Team Invitto, sok fanboying diantara penonton. Micchy tergelak saat Kouta dengan alaynya sok jadi fans dan minta foto bareng Jonouchi. Mereka juga mampir ke Charmant, ngerayu Oren biar ngasih mereka kue gratis. Micchy sampe janji bakal ngasih dia foto seksinya Takatora biar dikasih dobel gratis.
Jahat ih. Kakaknya jadi umpan.
Micchy menatap Kouta yang makan kue dengan lahap. Dia tersenyum, lucu melihat sisi lain Kouta yang tidak semua orang tahu. Kaito juga dijamin nggak tahu. Kalau begitu Micchy boleh kan mengklaim Kouta sebagai miliknya? Kan dia lebih kenal Kouta daripada si Kaito itu.
"Sering-sering aja kita kesini, ya," kata Kouta, "elo pinter banget ngerayu Oren-san."
Micchy tertawa, dia membalas, "Beres lah itu. Kapan-kapan kita rame-rame aja kesininya. Bangkrut bangkrut dah Oren-san."
~~~
Micchy berhenti di depan markas Gaim bersama Kouta. "Yakin nggak mau dianter pulang?" tanya Kouta, "udah malem lho. Ntar kalo kamu diculik gimana?" "Ya aku culik balik orangnya," sahut Micchy, dan keduanya tertawa. "Ada gitu ya diculik malah balik nyulik," kata Kouta. Micchy menjawab, "Kalo buat Micchy segalanya ada."
Kouta terkekeh pelan, dia menepuk pelan puncak kepala Micchy. "Ati-ati, ya," katanya, "pokoknya jangan kemana-mana sampe supir dateng."
Micchy menatap Kouta. "Kouta-san," kata Micchy, "aku.... aku sayang sama Kouta-san."
"Gue juga sayang banget sama elo," Kouta merangkul Micchy dan mengacak rambut remaja itu, "kalo gue nggak sayang sama elo, nggak bakal gue bisa sahabatan sama elo. Elo sahabat terbaik gue, adik gue. So...... gue sayang banget sama elo."
Micchy menghela napas. Ternyata Kouta masih menganggapnya sahabat. Micchy jadi bingung sendiri bagaimana caranya Kouta sadar kalau Micchy sangat menyayanginya. Kalau rasa sayang Micchy lebih besar daripada Kaito. Micchy bisa saja menempuh jalan ekstrim seperti menyingkirkan Kaito atau menyihir Kouta agar mencintainya, tapi Micchy masih punya hati nurani.
"Eh Kaito sms," suara Kouta membuyarkan lamunan Micchy, "Micchy, nggak papa kan kalo gue tinggal sendirian? Oh gue teleponin Mai, ya, biar nemenin elo." "Nggak usah," kata Micchy, "kasian Mai ntar malem-malem keluar kandang. Ntar disangka cabe-cabean lagi."
Kouta tertawa, dia membalas, "Oke deh gue tinggal ya. Salam buat supir lo. Bye." Micchy tersenyum, dia melambaikan tangannya kepada Kouta. Dia menghela napas, menunduk dalam. Sepertinya hubungannya dengan Kouta tidak akan pernah melewati batas persahabatan. Micchy menatap jalanan sepi di depannya, dia perlahan tersenyum manis. Kalau memang hanya persahabatan yang bisa membuatnya selalu berdekatan dengan Kouta, dia akan berusaha menikmatinya. Mungkin memang Micchy dan Kouta hanya akan bersenang-senang di dalam zona pertemanan abadi, bukan cinta abadi. Persahabatan juga dilandasi oleh cinta, jadi baginya sama saja berpacaran dengan bersahabat. Kouta tetap mencintainya, walupun rasa cintanya hanya sebagai sahabat.
They are friends, and forever will be.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar