Jumat, 18 Desember 2015

The School Lesson 03 (Part 1)






Title : The School
Author : Veve
Genre : School, Drama
Cast :
BTS All Members
Han Jiyoo (OC)
Park Sena (OC)
Red Velvet All Members (start from Lesson 02)
And others
Length : Chapter
*
Holla minna-san
Ini FF Kpop pertamaku, atau mungkin yang pertama dipost
Eh yang kedua ding salah/?
FF ini terinfluence oleh drama Jepang Shiritsu Bakaleya Koukou dan Gokusen
Mohon maaf kalo ada banyak typo
Jangan bash saya dengan pairing di FF ini :v
Jangan diplagiat ya, susah tauk bikinnya *author banyak bacot
Enjoy!!!
*

Lesson 3

            Sena menyetir mobilnya keluar dari tempat bimbingan belajar. Sudah jam delapan malam, Appa pasti sudah pulang. Sena sedikit mempercepat laju mobilnya, dia ingin cepat sampai di rumah.

            Sena mendadak menginjak rem mobilnya, dia terkejut melihat Taehyung tiba-tiba muncul di depannya. Taehyung tampak berdecak, dia berlari lagi seakan tidak melihat Sena disana. Sena melongo, dia menghela napas dan kembali menyetir mobilnya menuju rumah.

            “Anak aneh,” gumam Sena.
*
            Jiyoo duduk, dia membuka kotak bekalnya dan menatap teman-temannya sambil tersenyum. “Manhi duseyo, yeorobun,” kata Jiyoo. “Manhi duseyo,” sahut yang lain, mereka mulai memakan bekal mereka. Jiyoo tersenyum, dia melahap bekal kesukaannya, nasi goring Thailand buatan ibunya. Meskipun beliau sibuk, tapi selalu menyempatkan diri membuatkan bekal untuk Jiyoo.

            Brak!

            Jiyoo dan yang lain menoleh kaget. Jungkook duduk tak jauh dari Jiyoo, dia menghirup napas dalam-dalam dan mulai makan ramyun secepat kilat. Setelah menyeruput kuah terakhir, Jungkook menoleh kearah Jiyoo dan teman-temannya yang melongo keheranan. “Aku menaaaaang!” teriak Jungkook, “aku makan lebih cepat daripada mereka!”

            Teman-teman Jungkook muncul, mereka bersorak, “Jeon Jungkook! Jeon Jungkook! Uri leader Jeon Jungkook!” Mereka terus bersorak sambil meninggalkan tempat itu. “Mereka… sedang apa?” Tanya Wendy, dia masih tidak mengerti dengan sikap Jungkook tadi.

            Jiyoo menghela napas, dia menatap yang lain dan berkata, “Mari kita lanjutkan makan.” Jiyoo tersenyum, dia melanjutkan makan bersama yang lain. Dalam hati Jiyoo sedikit geli dengan tingkah Jungkook tadi, walaupun dia juga bingung apa maksud Jungkook melakukannya.

            Lain di kantin, lain pula di kelas. Leeteuk mengakhiri pelajaran dengan memberikan tugas esai kepada para murid. “Jiyoo-ssi, tolong bersihkan papan tulisnya,” kata Leeteuk sambil tersenyum. Jiyoo tersenyum, dia berdiri dan mengambil penghapus lalu mulai membersihkan tulisan di papan tulis.

            Jungkook secepat kilat menyambar penghapus di sebelah Jiyoo, mengagetkan gadis itu. Jungkook dengan cekatan menghapus tulisan, walaupun masih banyak yang tidak terhapus. Jungkook lalu berteriak dan berkata, “Aku menghapus tulisan lebih banyak darinyaaaaa!” Teriakan Jungkook lagi-lagi disambut sorakan teman-temannya yang meneriakkan nama Jungkook seperti mengelu-elukan seorang raja.

Jiyoo menoleh, dia menatap kearah Sena keheranan. Sena diam saja, dia membuang muka dan terlihat jelas kalau dia menahan tawa. Sementara teman-teman lain hanya menatap para laki-laki dengan tatapan what-the-hell-are-you-doing. Jiyoo melongo, tapi dia sedikit terhibur dengan tingkah konyol Jungkook. Leeteuk sendiri tidak bisa berkata apa-apa, dia juga melongo bingung melihat tingkah Jungkook.
*
            “Aku tidak paham dengan maksud mereka,” ucap Yeri.

            “Mereka berkampanye, kan?” sahut Wendy.

            Dua anak itu menatap gerombolan Jungkook dari kejauhan. Jungkook memakai selempang bertuliskan ‘Jungkook LEADER’ dan ikat kepala bertuliskan serupa. Teman-teman Jungkook juga memakai ikat kepala serupa dan membawa papan bertuliskan dukungan untuk Jungkook. “Yeorobun!” teriak Yoongi, “sambutlah ketua kita, Jeon Jungkook!” Yang lain bersorak lagi lalu berteriak, “Jeon Jungkook! Jeon Jungkook! Uri leader Jeon Jungkook!”

            “Apa kubilang,” kata Wendy, “kampanye tidak resmi.”

            Irene dan Seulgi melangkah mendekati gerombolan siswa Narin. “Jungkook-ssi,” panggil Seulgi, “ini adalah jadwal yang harus kau penuhi selama pemilihan.” Dia menyerahkan selembar kertas kepada Jungkook. Jungkook membaca tulisan di kertas itu, dia bertanya, “Pengajuan visi dan misi? Apa itu?”

            “Kau akan masuk ke setiap kelas untuk mengutarakan visi dan misi kalau kau terpilih menjadi ketua Dewan Murid,” Irene menjelaskan, “itu dilakukan untuk menunjukkan kepedulianmu terhadap sekolah.”

            “Pidato akhir akan diadakan tiga hari lagi,” kata Seulgi, “kalau kau tidak hadir saat pidato akhir, kau akan dianggap mengundurkan diri.” “Dan setelah pidato akhir baru akan dilaksanakan pemilihan,” kata Irene. Mereka berdua memberi salam, lalu pergi meninggalkan yang lain. Jungkook membaca jadwal itu lagi, dia lalu berdecak dan berkata, “Kenapa tidak adu kekuatan saja, sih? Ini merepotkan sekali.”

            “Ya. Taehyung kenapa?” sahut Ilhoon.

            Jungkook dan yang lain menoleh. Jungkook terkejut melihat Taehyung berontak saat dibawa oleh dua orang yang dikenali Jungkook sebagai orang kepolisian. Jungkook dan teman-temannya berlari dan menghalau polisi itu. “Apa-apaan kalian, hah?!” sahut Jungkook, “kenapa kalian memaksa temanku ikut kalian?!” Jungkook menatap Taehyung dan bertanya, “Apa yang terjadi? Kau tidak membuat masalah, kan?”

            “Bukan aku pelakunya,” kata Taehyung, dia menatap polisi itu dan berteriak, “Aku tidak melakukannya!”

            Jungkook mengerutkan dahi bingung. “Maaf, tapi dia akan ditahan sampai penyidikan selesai,” ucap seorang polisi, “dia ditahan atas tuduhan pencopetan di dekat stasiun. Saksi melihat dia berkeliaran di tempat kejadian semalam.”

            Semua orang terkejut mendengar pernyataan polisi itu. Taehyung terbelalak, dia langsung menatap Sena penuh kebencian. “Chamkamman,” kata Jungkook, dia berusaha menahan polisi itu membawa Taehyung, “Taehyung tidak mungkin mencopet! Kalian salah orang! Hei!” Jungkook mengejar polisi itu, dia berteriak, “Taehyung bukan pencopet! Tunggu! Kalian tidak boleh membawanya!” Murid-murid lain juga ikut berlari mengejar mobil polisi yang membawa Taehyung. Jungkook terengah-engah, dia berhenti mengejar saat mobil polisi itu hilang di belokan. “Taehyung tidak bersalah!” teriak Jungkook, “dia tidak bersalah sama sekali!”

            “Tidak kusangka Taehyung-ssi melakukan tindakan seburuk itu,” komentar Irene, “sangat tidak terpuji.” “Pantas saja sekolah ini akan ditutup,” sahut Wendy, “tindakan mereka sangat tidak mencerminkan perilaku murid teladan.”

            Jiyoo menoleh, dia melihat Sena diam menatap kearah gerbang sekolah. Tatapan Sena menandakan dia sedang memikirkan sesuatu. “Sena-ssi,” panggil Jiyoo, “apa kau memikirkan sesuatu?”

            Sena menatap Jiyoo, dia tersenyum dan memberi salam. Sena menatap sekilas kearah gerbang sekolah sebelum melangkah masuk kearah gedung. Jiyoo menatap intens Sena, dia tahu persis ada yang disembunyikan gadis itu. Jiyoo menghela napas, dia menatap yang lain seraya berkata, “Yeorobun, mari kita masuk kelas. Jam pelajaran sudah akan dimulai.” Jiyoo menatap kearah gerbang, dia lalu melangkah bersama yang lain menuju kelas.
*
            Jungkook dan yang lain diam, dia terlihat sangat kalut. “Taehyung tidak mungkin mencopet,” kata Namjoon, “aku sangat mengenalnya. Taehyung bukan orang yang akan melakukan tindakan bodoh seperti itu.” “Meskipun dia idiot, tapi dia tahu perbedaan benar dan salah,” kata Jimin, “dia tidak akan mencopet meskipun hidupnya sengsara."

            “Tapi orang bias melakukan banyak hal tanpa pikir panjang saat sedang terdesak,” sahut Yeri.

            “Diam kalian!” Yoongi menyentak sambil menggebrak meja, membuat para gadis langsung merapat takut dibelakang Sena dan Jiyoo. “Kalian tidak mengenal Taehyung, jadi diam dan jangan berargumen macam-macam,” geram Yoongi.

            “Pertanyaannya, kenapa kesaksian orang itu langsung menuju kepada Taehyung?” tanya Jin .

            Semua mata menatap Jin. “Kalau laporan saksi itu langsung mengarah kepada Taehyung, artinya dia mengenal Taehyung, kan?” sahut Jin mengutarakan analisanya, “dia pasti masih punya hubungan dengan Taehyung, atau minimal pernah mengenal Taehyung.”

            “Kau benar,” sahut Hoseok, “kalau memang begitu, pasti dia mengenal Taehyung dan mengira Taehyung pelakunya.” “Akan kuhabisi orang itu,” Yoongi menggeram, “dia membuat Taehyung dipenjara atas kesalahan orang lain!” “Kau benar,” kata Jimin, “aku tidak akan memberi ampun kepada orang itu.”

            “Semalam aku melihatnya di dekat lokasi kejadian.”

            Jiyoo dan yang lain langsung menatap Sena.”Aku baru pulang dari tempat bimbingan belajar saat aku melihat Taehyung-ssi berlari dari arah stasiun,” Sena bercerita, “sekitar jam delapan malam.”

            Yoongi menggebrak meja dan menarik kasar kerah seragam Sena. Beberapa murid memekik, Jiyoo segera berkata, “Tolong jangan kasar kepada Sena-ssi!” Jiyoo yang akan menolong Sena didorong dengan keras oleh Yoongi hingga menabrak meja. “Kau pasti yang melaporkannya ke polisi!” sentak Yoongi, “kurang ajar! Beraninya kau menuduh Taehyung!” Yoongi langsung mengayunkan kepalan tangannya kearah Sena. “Hentikan!” jerit Jiyoo panik.

            Namjoon langsung menangkis pukulan Yoongi dan mendorongnya. Jiyoo langsung mendekati Sena dan menatap khawatir temannya itu. “Sena-ssi, neo gwaenchanha?” tanya Jiyoo panik, dia menatap kesal Yoongi dan berkata, “Kenapa kau jahat sekali menuduh Sena-ssi yang melaporkan Taehyung-ssi?”

            “Harusnya kau tanyakan itu kepadanya!” sahut Yoongi, dia akan menerjang Sena tapi Namjoon masih menahannya. “Lepaskan aku! Biar kuhajar dia!” teriak Yoongi. Namjoon meninju muka Yoongi keras dan mendorongnya kasar. “Hei! Kalian kenapa malah berkelahi?! Berhenti!” sahut Jin, dia dan Jimin segera memisahkan dua orang itu sebelum terjadi perkelahian susulan. Jiyoo dan yang lain berdiri melindungi Sena, sementara Sena masih tampak tenang merapikan seragamnya. Jiyoo menatap Sena, dia tidak percaya Sena yang melaporkan Taehyung.

            “Daripada kau menghajarnya, lebih baik kita cari pelaku asli pencopetan dan membebaskan Taehyung,” kata Namjoon, “kau akan tampak bodoh karena memukul perempuan.” “Kita akan membebaskan Taehyung,” kata Hoseok, dia menatap sinis para gadis, terlebih kepada Sena dan melangkah keluar diikuti yang lain. “Jungkook-ssi, kalau kau membuat masalah kau akan didiskualifikasi dari pemilihan,” sahut Jiyoo.

            “Justru kalian yang membuat masalah!” bentak Jungkook, “aku akan membebaskan Taehyung, dan mengalahkan kalian.” Jungkook langsung berlari menyusul yang lain. Jiyoo menunduk sedih mendengar ucapan Jungkook barusan. “Apa aku membuat masalah?” gumamnya sedih. Jiyoo menatap Sena, dia mendekat dan bertanya, “Sena-ssi, apa kau yang melaporkan Taehyung-ssi kepada polisi?”

            Sena menghela napas, dia menjawab, “Tidak. Aku bahkan baru hari ini mendengar berita pencopetan di stasiun.” “Jadi, siapa yang melaporkan Taehyung-ssi?” tanya Joy, “dia bisa saja tidak bersalah.” “Kita akan tahu setelah penyidikan selesai,” kata Seulgi, “nah, bagaimana kalau kita rapikan dulu kelas ini? Jiyoo-ssi?”

            Jiyoo mengangguk, dia menatap sedih Sena dan mulai membersihkan kelas. Sena ikut menata meja, dia menunduk dan mengerutkan dahi melihat sebuah kunci berbandul biru di dekat kaki meja. “Ige mwoya?” gumam Sena, dia menatap sekeliling kelas dan mengantongi kunci itu.
*
            Jungkook menyeka keringat di dahinya, dia berlari pelan dan menemui beberapa orang yang berkerumun di dekat stasiun. “Permisi, apa ada diantara kalian yang berada disini semalam?” tanyanya, “temanku dituduh melakukan pencopetan disini. Apa ada diantara kalian yang berada disini sekitar jam delapan malam dan melihat kejadian itu?”

            Di sisi lain, Jimin dan Yoongi membagikan selebaran. “Siapapun yang melihat kejadian pencopetan di stasiun atau berada di sekitar stasiun semalam, tolong hubungi kami,” sahut Jimin sambil membagikan selebaran. “Kami membutuhkan saksi untuk membebaskan teman kami,” sahut Yoongi, “tolong bantu kami.” Yoongi menoleh dan melihat orang-orang membuang selebaran yang mereka bagikan, dia ingin marah tapi Jimin menahannya. “Ingat, kita sedang berusaha membebaskan Taehyung,” kata Jimin mengingatkan. Dia mengambil selebaran di tempat sampah dan kembali membagikannya.

            “Kalau kalian lewat sana semalam dan melihat ada yang mencurigakan, tolong beritahu kami,” ucap Jin kepada sekelompok siswi SMP, “teman kami dipenjara karena dituduh mencopet di stasiun.” “Apa kalian melihat ada orang yang mencurigakan disana semalam?” tanya Namjoon.

            “Kalaupun kami tahu, kami tidak akan memberitahu kalian,” kata seorang siswi ketus. “Kecuali kalian mau membelikan kami rokok disana,” sahut yang lain, mereka terkikik dan melangkah meninggalkan Jin dan Namjoon yang melongo. “Dasar,” umpat Namjoon, “kalau aku orangtua kalian sudah kupasung kalian di gudang bawah tanah.”

            Jungkook duduk di trotoar, Jimin dan Yoongi menyusul. Dua anak itu sudah mandi keringat. Jin dan Namjoo mendekat dan duduk di dekat Jimin dan Yoongi. “Nol,” kata Jimin, “tidak ada yang membantu.” “Aku juga,” kata Jungkook, “mereka tidak memberikan jawaban yang memuaskan.” “Aku dan Namjoon malah hampir dipalak anak SMP,” sahut Jin. Yoongi tertawa dan menendang Jin. “Payah,” kata Yoongi, “masa anak SMA dipalak anak SMP? Bunuh diri saja sana.”

            “Mana Hoseok?” tanya Namjoon.

            Jungkook menoleh kearah stasiun. “Kami berpisah di pintu masuk tadi,”jawab Jungkook, “entahlah. Mungkin dia masih mencari saksi.”

            Tak lama, Hoseok muncul dan berjalan kearah yang lain. “Bagaimana?” tanya Jin, “kau menemukan sesuatu?”

            Hoseok memasang wajah kusut, dia menjawab, “Aku mencari rekaman CCTV di ruang informasi, tapi ternyata semua kamera CCTV sedang dalam perbaikan semalam.” Hoseok mengerang dan duduk di dekat Jungkook. “Sekarang apa?” tanyanya, “tidak ada bukti yang menunjukkan Taehyung tidak bersalah.” “Ini semua gara-gara Sena,” kata Yoongi kesal, “aku akan memberinya pelajaran.” “Mereka benar-benar membawa sial,” sahut Namjoon, “sejak kedatangan mereka, kita terus mendapat masalah.”

            Jin menoleh, dia menatap Jimin yang seperti sedang berpikir. “Jimin, neo gwaenchanha?” tanyanya.

            “Aniya, aky hanya sedang memikirkan sesuatu yang aneh,” jawab Jimin, “belakangan ini Taehyung sering sekali pulang lebih awal. Dia biasanya bersama kita, tapi beberapa hari ini dia jarang berkumpul bersama kita.” Jimin menatap yang lain dan berkata, “Apa kalian tidak merasa ada yang aneh dengan Taehyung?”

            Jungkook terdiam, dia berpikir. Jungkook menyadari perubahan sikap Taehyung belakangan ini. Dia sering melamun, kadang fokusnya juga hilang. Taehyung juga sering tertidur di kelas atau saat jam istirahat. “Kalau saja Taehyung bersama kita malam itu, hari ini tidak akan terjadi,” kata Namjoon, “nah, bagaimana kalau kita menengok Taehyung? Dia akan senang dengan kedatangan kita.”
*
            Jiyoo menatap Sena, dia mendekat dan berkata, “Sena-ssi, aku percaya kau tidak akan melaporkan Taehyung-ssi tanpa bukti yang kuat. Tapi… apa menurutmu kita harus melakukan sesuatu?”

            “Untuk apa?” sahut Yeri, “Jiyoo-ssi, sebaiknya kau berkonsentrasi dengan pemilihan.” “Yeri-ssi benar,” ucap Wendy, “kalau kau melibatkan diri, kau akan ikut kena masalah. Lagipula, kita tidak tahu apakah Taehyung-ssi bersalah atau tidak, kan?”

            Jiyoo menatap jajaran bangku yang kosong, dia lalu menatap Sena seakan meminta pendapatnya. “Bantu mereka menemukan pelaku aslinya, Jiyoo-ssi,” kata Sena, “anggaplah ini politik pemilihan. Kalau kau menunjukkan kepedulianmu, mereka akan mendukungmu.” Sena tersenyum, dia melanjutkan, “Aku tahu kau pasti bisa melakukannya.” Sena memberi salam, dia berjalan keluar meninggalkan yang lain.

            “Sena-ssi. Chamkamman.”

            Sena menoleh, dia melihat Jiyoo berlari kearahnya. “Sena-ssi, apa kau mau membantuku mencari pelaku aslinya?” tanya Jiyoo.

            Sena diam sejenak, dia tampak berpikir. “Kalau saja aku bisa, Jiyoo-ssi,” kata Sena, “tapi aku tidak bisa melewatkan bimbingan belajar.” Sena menatap Jiyoo yang menunduk, dia berkata, “Jeosonghamnida, Jiyoo-ssi. Ah, bagaimana kalau Irene-ssi saja yang membantumu?” Sena menoleh dan berkata, “Irene-ssi, maukah kau membantu Jiyoo-ssi mencari pelaku asli pencopetan itu?”

            Irene mendekati Jiyoo dan Sena. “Apa kita benar-benar harus melakukannya?” tanya Irene, “mencari bukti itu tidak bisa cepat.”

            “Setidaknya kita membantu,” kata Sena, “nah, Jiyoo-ssi, sudah ada Irene-ssi yang akan membantu. Anggap ini sebagai bagian tugas kita membersihkan nama baik sekolah ini. Dan saranku, carilah petunjuk di sekitar stasiun sampai ke wilayah di jembatan dekatnya.” Sena tersenyum, dia kembali memberi salam dan melangkah pergi.

            Jiyoo menghela napas menatap kepergian Sena. “Jiyoo-ssi,” panggil Irene, “kajja, kita bantu mereka menemukan pelaku aslinya.” Jiyoo tersenyum dan mengangguk, dia berjalan bersama Irene keluar sekolah.
*
            Jungkook dan Jin duduk berhadapan dengan Taehyung, dibatasi dinding kaca. Jungkook miris sekali melihat Taehyung dan tampak pucat. Tidak ada sinar kegilaan yang terpancar di mata Taehyung, sorot matanya kosong dan rambutnya acak-acakan. “Apa yang terjadi?” sahut Jungkook, “kau tidak mungkin melakukan tindakan bodoh seperti itu, kan, Taehyung-ah?” “Katakan saja apa yang terjadi,” kata Jin, “kalau kau diam saja, kami tidak akan bisa membelamu.”

            Taehyung diam, bibirnya terkatup rapat. “Taehyung-ah,” sahut Jin, “kau jangan diam saja.” “Kumohon bicaralah,” kata Jungkook.

            Taehyung mendongak, dia menatap jenaka kedua sahabatnya itu. “Apa-apaan sikap dramatis itu, hah?” kata Taehyung ceria, “nan gwaenchanha. Ya, Jungkook-ah, dua hari lagi pidato akhir. Kau sudah menyiapkan pidatonya belum? Kau harus menang, ya. Tidak lucu kalau kau dikalahkan oleh perempuan.”

            “Aku tidak bisa berkonsentrasi,” kata Jungkook, “ayolah, bagaimana bisa aku menulis pidato kalau kau terkena masalah begini?”

            Taehyung tertawa, dan itu semakin membuat Jungkook sakit karena dia tahu Taehyung memaksakan diri untuk terlihat baik-baik saja. “Babo,” katanya, “sejak kapan kau jadi melankolis begitu, hah?” Taehyung merogoh saku seragamnya dan menunjukkan selembar kertas yang terlipat kepada Jungkook. “Ini pidato untukmu,” kata Taehyung, “kau harus memenangkan pemilihan. Aku yakin pidato ini akan memenangkan hati semua orang.” Taehyung menatap polisi yang mengawasi mereka, dia berkata, “Tolong berikan ini kepada dia. Ini naskah pidato, dia akan ikut pemilihan ketua Dewan Murid besok.”

            “Taehyung-ah…”

            “Lakukan untukku, Jungkook-ah,” sela Taehyung, “tolong menangkan pemilihan ini untukku. Jebal.”

            Jungkook dan Jin menatap Taehyung. Jungkook tahu Taehyung menahan airmatanya. Jungkook menerima teks pidato itu, membacanya dan seketika dia tertawa. “Aku justru akan kalah kalau memakai pidato ini,” ejek Jungkook, “Jin-ah. Baca ini.” Jin membaca naskah itu, dia lalu tertawa. “Dasar payah, pidato macam apa ini?” komentar Jin, “ini sangat tidak Bangtan.”

            “Ya! Jangan tertawa!” sahut Taehyung cepat, tapi Jin dan Jungkook masih saja tertawa. Jin keluar ruangan sambil membawa naskah itu, tak lama Yoongi berteriak, “Babo! Kau pikir Jungkook akan pidato di depan anak TK?!”

“Ini bahkan lebih buruk daripada buatanku,” suara Jimin terdengar.

“Taehyung-ah! Kau mau Jungkook kalah, ya?!” sahut Hoseok.

“Ini membuktikan kejeniusan Taehyung,” kata Namjoon, “dia terlalu jenius sampai akhirnya jadi bodoh.”

Taehyung tersenyum kecil mendengar keributan teman-temannya, dia merasa sedikit terhibur. Dia berusaha keras menahan airmatanya. “Gomawo, Taehyung-ah,” ucap Jungkook, “aku janji akan membebaskanmu darisini.”

            “Jangan pikirkan aku,” kata Taehyung, “sana pulang. Kau harus bangun pagi besok untuk kampanye lagi.”

            Jungkook mengangguk. “Jaga dirimu,” kata Jungkook, dia beranjak dan melangkah keluar. Yoongi, Jimin, Namjoon, Hoseok, dan Jin melongok lalu melambaikan tangan kepada Taehyung. Taehyung tersenyum dan melambaikan tangan juga, dia menghela napas menatap kepergian teman-temannya dan bergumam, “Mianhae.”
*
Sebenernya ini FF mau aku terusin sampe kelar, cuma karena kepanjangan aku bagi aja jadi dua part
Hayooooo, siapa kira-kira yang ngelaporin Taehyung hayoooo?
Tunggu di part kedua yaaaaa *cuih XD
See you

Rabu, 16 Desember 2015

The School Lesson 02



 
Title : The School
Author : Veve
Genre : School, Drama
Cast :
BTS All Members
Han Jiyoo (OC)
Park Sena (OC)
Red Velvet All Members (start from Lesson 02)
And others
Length : Chapter
*
Holla minna-san
Ini FF Kpop pertamaku, atau mungkin yang pertama dipost
Eh yang kedua ding salah/?
FF ini terinfluence oleh drama Jepang Shiritsu Bakaleya Koukou dan Gokusen
Mohon maaf kalo ada banyak typo
Jangan bash saya dengan pairing di FF ini :v
Jangan diplagiat ya, susah tauk bikinnya *author banyak bacot
Enjoy!!!
*

Lesson 2

            “Jungkook-ah.”

            “Hm?”

            “Bolos, yuk.”

            Jungkook tersedak minumannya, dia menoleh kearah Taehyung yang memasang wajah malas. “Kau kenapa mendadak malas begitu, hah?” tanya Jungkook.

            “Habisnya hari ini, kan, murid-murid SMA Seolyeong datang,” kata Taehyung, “sekolah kita akan jadi super membosankan.”

            Jungkook terdiam, dia lalu menghela napas. “Benar juga,” katanya, “haaaah, kenapa kita harus mengalami nasib buruk seperti ini?” Jungkook menatap Taehyung dan berkata, “Bolos saja, yuk.” Mereka berdua kembali berjalan, tidak ada yang bicara. Taehyung sibuk dengan ponselnya, sedangkan Jungkook berkonsentrasi dengan minumannya. “Hoaaah, Namjoon daebak,” kata Taehyung, dia menunjukkan ponselnya yang menampilkan postingan status Namjoon kepada Jungkook,. “dia datang ke sekolah. Padahal semalam dia berkata tidak mau lagi ke sekolah.”

            “Taehyung-ah! Jungkook-ah!”

            Taehyung dan Jungkook menoleh. “Oh, annyeong, Ilhoon-ah,” sapa Taehyung, “tumben kau sudah muncul pagi-pagi begini.” Ilhoon berhenti berlari, dia terengah-engah mengatur napas lalu menatap Jungkook dan Taehyung. “Kalian cepatlah ke sekolah!” katanya panik, “ada masalah serius!”

            “Masalah apa?” Tanya Jungkook.

            “Papan nama sekolah kita hilang!” jawab Ilhoon, “dan meja kita juga!”

            Taehyung dan Jungkook saling pandang, mereka langsung berlari menuju sekolah. Jungkook berhenti sejenak, matanya terbelalak melihat papan nama SMA Narin berganti dengan tulisan ‘SMA Seolyeong II’ di sisi gerbang. Dia kembali berlari masuk, lalu menjeblak pintu kelas dan mendapati teman-temannya sudah ada disana. Jungkook dan Taehyung tercengang melihat penampilan baru kelas mereka. Dinding kelas berubah warna menjadi pink pastel, tirai jendela juga berganti warna menjadi pink. Tidak ada meja penuh coretan, semua diganti dengan bangku baru yang tertata rapi. Aroma lavender menguar di kelas, taplak meja dan vas berisi bunga lily cantik tertata rapi di meja guru.

            “Ige mwoya?” Jungkook tercengang, “apa-apaan ini?! Kemana meja kita?!”

            Taehyung segera memeriksa laci meja. “Majalah dan komik-komikku juga hilang!” sahutnya.

            “Toiletnya juga sangat bersih,” kata Jimin, “klosetnya terbuka otomatis seperti robot.”

            “Annyeonghasseo. Kalian menyukai kelas baru ini?”

            Semua anak menoleh. Sekelompok gadis berbaris rapi di dekat pintu. Seorang gadis berambut hitam sebahu tersenyum manis kepada mereka. Dia melangkah maju didampingi seorang gadis lain. “Namaku Han Jiyoo,” katanya memperkenalkan diri, “ini teman-temanku. Kami dari SMA Seolyeong, dan mulai hari ini kami akan menjadi teman sekelas kalian.” Jiyoo tersenyum, dia membungkuk dan berkata, “Bangapseumnida.”

            “Bangapseumnida,” gadis-gadis lain serempak mengikuti Jiyoo.

            Gerombolan laki-laki itu terdiam, mereka agak bingung dengan sikap para gadis. “Jadi kalian yang mengubah kelas ini?” tanya Jin.

            “Benar sekali,” jawab Jiyoo sambil tersenyum, “aku dan temanku, Sena-ssi mengadakan riset tiga hari lalu. Dan kami juga mengganti beberapa yang tidak layak pakai.”

            “Lalu ditaruh dimana meja-meja kami?” Yoongi bersuara.

            “Karena meja-meja itu sangat kotor dan tidak layak pakai, maka kami membuangnya,” jawab Jiyoo.

            “MWO?!” teriakan para laki-laki mengejutkan para gadis. Yoongi maju, dengan kesal dia menendang sebuah meja dan menatap kesal gadis-gadis itu. Para gadis merapat takut dibelakang Jiyoo dan Sena. “Tidak layak pakai katamu?!” sahut Yoongi keras, “kau jangan sok tahu! Meja itu sudah turun-temurun di kelas ini!”

            “Tapi meja-meja itu tidak sesuai dengan standar sekolah,” sahut Jiyoo tenang.

            “Meja itu adalah sebagian jiwa kami!” balas Jungkook, “itu adalah jiwa Bangtan!”

            “Aku tidak paham dengan itu,” kata Jiyoo.

            “Jelas saja, yang kau pahami cuma bagaimana bicara dengan sopan seperti putri malu,” ucap Jungkook sinis.

            “Tolong bicaralah dengan sopan kepada Jiyoo-ssi,” gadis bernama Sena akhirnya bersuara, “dia adalah ketua Dewan Murid.”

            “Hah? Ketua Dewan Murid?” Jungkook mengerutkan dahi bingung.

            Sena mengangguk. “Sebagai ketua Dewan Murid, dia memiliki wewenang mengatur sarana dan prasarana yang dibutuhkan disini,” katanya menjelaskan, “dan tugas utamanya adalah menyesuaikan standar sekolah ini dengan standar SMA Seolyeong.”

            Jungkook mendengus. “Kalau begitu, aku adalah ketua Dewan Murid SMA Narin,” katanya sambil menatap tajam Jiyoo, “jadi aku lebih berhak menentukan apapun disini. Ini SMA Narin, bukan SMA Seolyeong.”

            “Yeaahh! All hail Jungkook!” teriak Hoseok.

            Para laki-laki bersorak menyemangati Jungkook. Para gadis tampak keheranan dengan situasi di depan mereka, kecuali Jiyoo yang masih tenang dan Sena yang hanya mengerutkan dahi. Jungkook tersenyum mendengar sorakan teman-temannya, dia menatap tajam Jiyoo. “Dan aku menentukan bahwa meja-meja itu harus dikembalikan ke kelas ini,” katanya, “ayo kita ambil mejanya!”

            Yang lain mengikuti Jungkook, mereka keluar sambil menendangi meja-meja. “Jiyoo-ssi,” sahut Yeri, “apa mereka akan benar-benar mengambil meja mereka?”

            “Mereka, kan, tidak tahu mejanya dibuang dimana,” kata Wendy, “jadi kurasa mereka tidak akan menemukannya. Bukan begitu, Jiyoo-ssi?”

            Jiyoo tersenyum, dia menatap semua temannya. “Kajja, kita rapikan meja-meja ini,” ajaknya, “mereka hanya belum terbiasa. Nanti mereka pasti akan menyukai pemberian kita.” Jiyoo berbalik, dia mulai menata meja-meja dibantu yang lain.
*
            “Ketemu?”

            Taehyung melompat dari tumpukan meja bekas, dia menggeleng. “Sial, dimana mereka membuang meja kita?” umpat Yoongi, “kalau saja mereka bukan perempuan sudah kuhajar mereka.” “Ada banyak tempat pembuangan seperti ini,” kata Namjoon, “mau tidak mau kita harus mendatanginya satu persatu.”

            Ketujuh anak itu berjalan pelan. “Mereka benar-benar membawa masalah,” kata Jimin, “pertama mereka membuang papan nama dan meja kita. Mungkin nanti mereka akan menyuruh kita memakai rok.”

            “Yang benar saja,” sahut Hoseok, “kalau itu terjadi, aku tidak akan peduli lagi mereka laki-laki atau perempuan. Akan kuhajar mereka.”

            “Wah wah wah. Apa yang dilakukan gadis-gadis ini?”

            Jungkook dan yang lain berbalik. Sekelompok pemuda berdiri di hadapan mereka, memberi tatapan meremehkan. “Kenapa murid SMA Seolyeong ada disini?” sahut seorang dengan nada mengejek, “bukannya kalian seharunya ada di kelas mendengarkan guru kalian mendongeng?” “Lalu kenapa kalian memakai seragam SMA Narin?” ejek pemuda yang lain, “bukannya SMA Narin sudah tamat? Kalian harusnya memakai rok, kan?” Mereka lalu tertawa keras.

            Yoongi akan maju, tapi Jin dengan sigap menahan. “Kami tidak ada urusan dengan kalian,” kata Namjoon, “kami tidak punya waktu. Ayo kita pergi.” Namjoon berbalik, dia melangkah pergi diikuti yang lain.

            “Pergilah,” kata pemuda itu, “pergilah seperti pengecut.” “Mereka, kan, murid SMA Seolyeong,” sahut yang lain, “jadi mereka bertingkah seperti anak perempuan, yang lari saat ada masalah.”

            Yoongi seketika maju dan meninju muka pemuda itu. “Kami dari SMA Narin!” bentaknya, “bukan SMA Seolyeong!”

            “Yoongi babo,” decak Jin, “dia itu tidak pernah bias mengontrol emosinya.” Jin berlari dan menghajar seorang yang akan menyerang Yoongi dari belakang. Jungkook dan yang lain juga ikut membantu dua orang itu. Taehyung dan Jimin kompak menghantamkan kursi kepada lawan mereka. Jungkook beberapa kali terkena pukulan, tapi dia dengan sigap membalas serangan lawannya.

            Sementara di kelas, Jiyoo mulai khawatir dan menatap jajaran meja yang kosong. Dia menoleh kearah Sena dan berkata, “Sena-ssi, bagaimana jika mereka tidak datang lagi ke sekolah? Apa aku membuat kesalahan? Apa artinya aku gagal?”

            Sena berhenti menulis, dia menoleh juga kearah bangku-bangku kosong itu. “Jangan khawatir, Jiyoo-ssi,” Sena menghibur, “mereka tidak akan menemukan meja itu dan akan menyerah. Kau tidak gagal, hanya saja keberhasilanmu belum terlihat.” Sena tersneyum kepada Jiyoo. Jiyoo menghela napas, dia membalas senyuman Sena dan kembali fokus kepada pelajaran.

            Leeteuk menatap Jiyoo dan Sena, lalu beralih menatap jajaran bangku kosong itu. Dia menghela napas. Leeteuk paham dengan tekad kuat Jiyoo dan Sena mengubah kebiasaan murid-muridnya. Tapi Leeteuk lebih memahami karakter murid-muridnya, terutama Bangtan. Mereka tidak akan menyerah begitu saja. ‘Dasar tidak bias diatur,’ batin Leeteuk.
*
            “Mereka belum kembali bahkan sampai jam sekolah berakhir,” kata Seulgi, “mungkin mereka masih belum menyerah.” “Aku yakin mereka tidak akan menemukannya,” kata Joy, “mereka akan menyerah sebentar lagi.”

            Sena menoleh kearah jendela, dia berhenti dan berkata, “Kalian semua salah.”

            Jiyoo dan yang lain berhenti, lalu menengok kearah jendela. Jiyoo sangat terkejut melihat Tim Bangtan berjalan menuju sekolah mereka dengan membawa bangku yang tampak usang dan kotor. Teman-teman mereka yang lain juga berjalan dibelakang Bangtan, membawa bangku-bangku yang sama. Salah satunya memanggul papan nama kayu bertuliskan ‘SMA Narin’. Jiyoo mendadak teringat saat dia masih anak-anak. Ibunya memberikan hadish berupa sebuah gelang yang sangat bagus. Dan ketika Ayah membuang gelang itu karena dianggap sudah usang, Jiyoo mencarinya sampai ke tumpukan sampah dan tidak menyerah sampai menemukan gelang itu.

            Sena menoleh, dia melihat seulas senyum tersamar di wajah Jiyoo. “Tidak kusangka mereka menemukan meja itu,” kata Irene, “Jiyoo-ssi, kau tidak akan membiarkan mereka memakai meja itu, kan?”

            “Kajja, kita temui mereka,” kata Jiyoo. Dia melangkah diikuti yang lain menemui Tim Bangtan dan yang lain. “Aku ikut senang kalian menemukan meja kalian,” kata Jiyoo sambil tersenyum, “chukkahamnida.” “Sayangnya kalian tidak boleh menggunakan meja itu di kelas,” kata Sena, “itu sudah peraturan.”

            “Aku tidak akan membiarkan kalian menguasai sekolah ini,” sahut Jungkook, “aku adalah ketua di SMA Narin, kau dari SMA Seolyeong jangan sok kuasa.”

            Jiyoo tetap tersenyum. “Ngomong-ngomong soal ketua,” kata Wendy, “pemilihan ketua Dewan Murid akan diadakan sebentar lagi. Dan kami serta sekolah sudah sepakat menjadikan Jiyoo-ssi sebagai ketua Dewan Murid periode selanjutnya.”

            “Mana boleh begitu?” kata Jungkook, “kau perempuan dan tidak bisa berkelahi.”

            “Karena tidak ada kandidat lain, maka sesuai peraturan kami akan menunjuk ketua lama untuk kembali menjadi ketua di periode selanjutnya,” kata Irene.

            Mendengar ucapan Irene, terlintas sesuatu di pikiran Jiyoo. “Begini saja,” kata Jiyoo, “Jungkook-ssi, bagaimana kalau kau juga mencalonkan dirimu sebagai kandidat ketua Dewan Murid? Kalau kau memenangkan pemilihan, kau boleh memakai meja ini lagi. Kau juga akan menjabat sebagai ketua Dewan Murid. Eotte?”

            “Jiyoo-ssi, kenapa kau malah menawarinya ikut pemilihan?” sahut Yeri.

            Jiyoo tersenyum dan menjawab, “Bukannya dia ketua Dewan Murid juga? Dia juga berhak ikut pemilihan.”

            “Aku siap,” kata Jungkook mantap, “dimana kita melakukannya? Lapangan? Gedung kosong?”

            “Maaf, kita sedang mengadakan pemilihan, bukan berkelahi,” kata Sena.

            Krik.

            “Aaaah, apapun dan bagaimanapun caranya, aku akan mengalahkanmu,” kata Jungkook, “lihat bagaimana kami beraksi. Kalian akan kalah.” Jungkook menyeringai, dia dan yang lain berlalu dari hadapan Jiyoo dan teman-temannya dengan gaya yang aneh.

            “Mereka sangat percaya diri,” komentar Irene, “tapi aku yakin mereka tidak akan bisa mengalahkan Jiyoo-ssi.” “Kau benar, Irene-ssi,” kata Seulgi, “selama ini tidak ada yang bisa mengalahkan Jiyoo-ssi dalam pemilihan apapun.”

            Jiyoo tersenyum mendengar pujian teman-temannya. Sena menatap Jiyoo, dia melihat Jiyoo tampak cerah dan bersemangat. Sena tersenyum kecil, dia senang melihat Jiyoo berubah menjadi lebih cerah.
***