''Ichiko, kau dimana?'' Ryosuke tampak gelisah menelepon Ichiko.
'Di rumah,' jawab Ichiko di seberang.
Ryosuke membelalakkan matanya. ''Ichiko!'' sentaknya kesal, ''kau ini bagaimana, sih. Kau kan sudah berjanji mau menemuiku!''
'Memangnya kenapa aku harus menemuimu?' tanya Ichiko.
Krik.
''Ichiko....'' Ryosuke menghela napas, dia lalu berteriak, ''KAU BILANG KAN MAU MEMBANTUKU MEMILIHKAN KADO YANG BAGUS UNTUK ISAE! CEPAT KEMARI ATAU KURUSAK RANTAI SEPEDAMU BESOK!''
'Besok aku tidak membawa sepeda,' jawab Ichiko.
''Ichiko!''
Terdengar suara Ichiko tertawa, membuat Ryosuke semakin kesal. 'Iya, iya aku kesana,' kata Ichiko, 'kau dimana, sih? Di depan Hello Style, kan? Isae suka dengan gelang, kau pilihkan saja gelang yang lucu. Aku kesana sebentar lagi.'
''Sekarang,'' jawab Ryosuke memerintah.
'Heh, kau mau aku dibunuh ibuku, ya? Aku masih mencuci piring, nih.'
Ryosuke menghela napas. ''Baiklah baiklah,'' katanya, dia lalu memutus sambungan telepon. Ryosuke masuk ke sebuah toko pernak pernik bernama Hello Style, lalu menuju rak gelang. Ryosuke jujur saja merasa aneh masuk ke toko bernuansa pink itu. Dominasi pengunjungnya adalah perempuan, beberapa dari mereka melihati Ryosuke sambil berbisik-bisik. Ryosuke menahan malunya, dia berpura-pura memilih gelang yang terpajang di rak itu. Ryosuke mendongak, dia tersenyum dan mengambil sebuah gelang berwarna ungu yang manis. Ryosuke tersenyum, dia membayangkan reaksi senang Isae saat menerima gelang hadiahnya.
Ah, membayangkannya saja sudah membuat Ryosuke bahagia.
''Kalau kau memilih gelang itu, Isae tidak akan mau menyapamu seumur hidup.''
Ryosuke menoleh, dia menatap Ichiko yang sudah di dekatnya. ''Isae suka warna pink dan kuning,'' kata Ichiko sambil mengambil gelang berwarna pink dan kuning lalu diberikan kepada Ryosuke, ''berikan gelang ini kalau kau mau menarik perhatiannya.''
Ryosuke tersenyum, dia menerima gelang itu dan segera membayarnya, sementara Ichiko membeli gelang berwarna biru. Kedua orang itu keluar dari toko, mereka berjalan menuju rumah Isae. ''Isae pasti senang,'' kata Ryosuke sambil tersenyum sendiri, ''eh tapi aku harus bilang apa? Masa tiba-tiba memberikannya? Itu, kan, aneh.''
Ichiko menjawab, ''Ya bilang saja kalau kau tidak sengaja melihatnya, dan kau ingat dia suka warna itu makanya kau membelinya.''
Ryosuke berhenti dan menatap datar Ichiko. ''Alasan yang luar biasa,'' kata Ryosuke, ''luar biasa norak.''
Ichiko tertawa. Dia menoleh kearah rumah Isae, mendadak Ichiko menarik Ryosuke kembali ke belokan. ''Ya ampun ada apa, sih?'' tanya Ryosuke kaget, dia membenahi kerah bajunya yang ditarik Ichiko.
''Gawat,'' kata Ichiko memasang wajah horor, ''kau tidak boleh ke rumah Isae sekarang.''
Ryosuke mengerutkan dahi. ''Kenapa?'' tanya Ryosuke.
''Ada kakeknya,'' jawab Ichiko, ''kau tahu, kakeknya Isae itu galak sekali. Dia tidak suka kalau ada laki-laki bertamu kesana, apalagi menemui Isae. Kau pulang saja, deh.''
Ryosuke menoleh kearah rumah Isae. ''Lalu gelangnya?'' tanya Ryosuke.
Ichiko mengambil tas kecil di tangan Ryosuke, dia menjawab, ''Aku yang akan memberikannya. Kau sana pulang. Kalau kakek Isae melihatmu, dia bisa curiga.'' Ichiko mendorong Ryosuke sambil sesekali menoleh kearah rumah Isae, membuat pemuda itu menjauhi rumah Isae. Ryosuke berdecak, dia akhirnya menjauh. ''Dasar aneh,'' gerutu Ryosuke, dia menghela napas dan menggumam, ''gagal, deh, menemui Isae.''
Ichiko menghela napas, dia lega sekali Ryosuke sudah tidak disana. Ichiko berlari menuju rumah Isae, dia masuk dan memberi salam kepada ibu Isae di depan. ''Selamat sore, Bibi,'' sapa Ichiko, ''Isae di rumah, kan?''
''Masuklah, nak,'' jawab ibu Isae, ''Isae ada di dalam.''
Ichiko tersenyum, dia melangkah ke ruang tengah. ''Halo Isae,'' sapa Ichiko, ''dan.... Eh halo Keito. Kau disini ternyata.''
Isae berdiri, dia tersenyum dan menyambut Ichiko. ''Kau darimana saja?'' tanyanya, ''aku menunggumu.''
''Aku barusaja dari rumah Ryosuke,'' jawab Ichiko sambil duduk diantara Isae dan Keito. Ichiko melirik, dahinya berkerut melihat gelang di tangan Isae. 'Kok sama?' batinnya, 'kok sama dengan yang dibeli Ryosuke?' ''Itu gelang baru, ya?'' tanya Ichiko sambil menunjuk gelang di tangan Isae.
Isae menunduk, dia tersenyum dan menjawab, ''Ini gelang dari Keito. Bagus, ya?'' Isae menatap Keito yang tersenyum kearahnya dan berkata, ''Terimakasih, ya, Keito. Kau baik sekali.''
Ichiko setengah membelalakkan mata, dia menunduk menatap tas kecil di tangannya. 'Diberikan tidak, ya?' batin Ichiko, dia memasukkan tangannya ke tas itu saat Keito bertanya, ''Itu apa?''
''Apa?'' Isae menoleh, dia terkekeh dan menjawab, ''tadi Ryosuke membelikanku gelang, tapi aku tidak begitu suka.'' Ichiko mengambil gelang warna biru dan memberikannya kepada Isae. ''Untukmu saja,'' kata Ichiko.
Isae menerima gelang itu dan mengamatinya. ''Lho Ichiko, kau bukannya maniak warna biru, ya?'' tanya Isae, ''kenapa malah kau berikan?''
''Soalnya aku sudah punya yang itu,'' jawab Ichiko, ''untukmu sajalah. Eh tapi kau harus mengucapkan terimakasih kepadanya, ya. Anggap saja dia membelikannya untukmu.''
Isae mengangguk senang. ''Hei, bagaimana kalau kita jalan-jalan akhir minggu ini?'' usul Keito, ''kau, aku, Ichiko, dan Ryosuke juga. Kita nonton bioskop atau jalan-jalan ke Shibuya. Bagaimana?''
''Wah, aku tidak bisa,'' jawab Ichiko cepat, ''aku harus membantu ibuku membuat kue. Ryosuke juga kalau tidak ada aku tidak akan mau ikut.''
''Oh, Ryosuke bisa, kan?'' suara Isae terdengar. Ichiko dan Keito serentak menoleh kearah Isae yang berbicara dengan Ryosuke lewat telepon. ''Baiklah, sampai ketemu akhir minggu,'' kata Isae senang, dia menutup telepon menatap Keito dan Ichiko. ''Ryosuke bisa, kok,'' kata Isae, ''dia malah semangat sekali.''
Ichiko melongo. 'Sial, kenapa Isae yang menelepon?' batinnya, 'aku harus bagaimana, nih?' ''Eh aku ikut deh,'' kata Ichiko, ''toh ibuku pasti akan mengusirku dari dapur karena aku suka mengacau disana. Jadi aku ikut, deh.''
Keito tersenyum, begitupun Isae. ''Aku senang kau mau bergabung,'' kata Keito, ''iya, kan, Isae?'' Isae mengangguk mengiyakan ucapan Keito.
Ichiko tersenyum kecut, dalam hati dia berpikir bagaimana caranya agar dia bisa mendekatkan Ryosuke dengan Isae tanpa ketahuan Keito. Dan bagaimana cara mendekatkan Keito dengan Isae tanpa ketahuan Ryosuke.
Hidup ini rumit sekali.
***
''Ryosuke!''
Ryosuke menoleh, dia terkejut dan senang bukan main Isae berlari kearahnya. ''Selamat pagi, Ryosuke,'' sapa Isae tersenyum, ''apa kabarmu?''
''Aku sangat baik,'' jawab Ryosuke senang, ''kau sendiri? Apa kabar?''
''Baik sekali,'' jawab Isae, ''ah, terimakasih gelangnya, ya. Aku senang sekali. Kau itu baik sekali membelikan gelang ini.'' Isae menunjukkan gelang di tangannya.
Ryosuke menoleh, dia tersenyum melihat gelang pemberiannya dipakai oleh Isae. ''Aku hanya iseng membelinya,'' kata Ryosuke beralasan, ''aku tidak sengaja melihat gelang itu dan aku teringat kepadamu. Makanya kubelikan, kukira kau tidak akan menyukainya.''
Isae tersenyum, dia mencubit lengan Ryosuke dan membalas, ''Tentu saja aku suka. Kau pandai sekali merayu.''
Dua anak itu tertawa. ''Baiklah, sampai jumpa akhir minggu, ya,'' kata Isae sambil melangkah menuju kelasnya, ''dah, Ryosuke.'' Isae melambaikan tangan, lalu masuk kelasnya.
Ryosuke melambaikan tangan juga, setelah Isae masuk dia segera berlari ke kelas. Ryosuke segera menghampiri Ichiko yang asyik makan ramen dan memeluk gadis itu seerat mungkin. ''Ichiko aku mencintaimu!'' pekik Ryosuke, ''sangaaaaat mencintaimu! Kau yang terbaik!''
Ichiko tersedak, dia berbalik dan menggeplak kepala Ryosuke yang masih cengengesan senang. ''Kau senang tapi jangan mengagetkanku, dong!'' kata Ichiko kesal, ''dasar kau ini!'' Ichiko berbalik dan kembali menikmati ramennya.
Ryosuke menarik sebuah kursi dan dia duduk di sebelah Ichiko. ''Kau tahu, tadi Isae menyapaku!'' kata Ryosuke antusias, ''dia bilang dia suka gelang yang kubelikan! Dan dia memakainya! Astaga, aku senang sekali!''
Ichiko hanya mengangguk tanpa menoleh. Melihat itu, Ryosuke menatap kesal Ichiko yang terkesan mencuekinya. Tapi rasa bahagia Ryosuke lebih besar sekarang. Ryosuke kembali tersenyum-senyum sambil kembali ke bangkunya. Dia semakin senang membayangkan dirinya akan kencan bersama Isae akhir minggu. Tidak bisa disebut kencan, karena ada Ichiko dan Keito.
Ah tetap saja ada Isae.
Ichiko berhenti makan, dia menatap sedih punggung Ryosuke. 'Kalau kau tahu kalau gelang itu bukan darimu, kau pasti akan marah kepadaku,' batinnya, 'maaf, Ryosuke. Tapi aku tidak tahu harus melakukan apa.' Ichiko menghela napas, dia kembali memakan ramennya walaupun sudah tidak senikmat tadi.
***
Keito berlari menyusuri koridor, dia berbelok dan memanggil, ''Ichiko! Oi, Ichiko!''
Ichiko menoleh, dia berhenti dan menatap Keito yang berlari kearahnya. ''Ichiko, aku bisa mengerti kesulitanmu,'' kata Keito sambil menepuk pundak Ichiko, ''mungkin aku bukan sahabat masa kecilmu, tapi aku bisa mengerti bebanmu. Aku bisa mengerti kesulitanmu.''
Ichiko mengerutkan dahi, dia bingung mendengar ucapan Keito. ''Kau bicara apa?'' tanya Ichiko bingung.
Keito menunduk dan tersenyum, lalu menatap Ichiko. ''Cinta itu memang hal yang rumit,'' kata Keito, ''aku tahu seharusnya aku tidak memaksamu mendekatkanku dengan Isae. Tapi..... Sekarang aku akan membantumu. Seperti kau membantuku sekarang.''
Ichiko semakin tidak mengerti dengan ucapan Keito. ''Sampai jumpa akhir minggu,'' kata Keito sambil berlari menjauhi Ichiko yang masih kebingungan. Ichiko hanya menatap heran Keito yang berlari menjauhinya, dia menghela napas dan menggeleng-gelengkan kepalanya. ''Sepertinya dia mulai tidak waras,'' gumam Ichiko. Dia kembali berjalan menuju ruang klub drama.
Keito berhenti, dia melihat Ryosuke keluar dari toilet. Keito berlari, dia menepuk bahu Ryosuke. Ryosuke menoleh, dia menatap Keito dan bertanya, ''Ada apa? Ichiko di ruang klub drama. Kau temui saja dia disana.''
Keito tersenyum dan menggeleng. ''Aku baru bertemu dengannya, kok,'' katanya, ''aku mencarimu.''
''Mencariku?'' tanya Ryosuke dengan dahi berkerut, ''kenapa? Hei, aku kan sudah membayar hutangku. Jangan bilang kau lupa dan menagihku lagi.''
Keito tertawa, dia membalas, ''Bukan itu. Aku ingat, kok kau sudah membayarnya. Jangan khawatir, aku tidak menagihmu.''
Ryosuke bernapas lega. ''Aku sudah tahu semuanya, Ryosuke,'' kata Keito, ''aku sudah tahu semuanya. Aku akan membantumu dekat dengannya.''
Ryosuke terkejut dengan ucapan Keito. ''Hah?'' tanyanya. Ryosuke lalu membatin, 'Jangan-jangan Ichiko memberitahu Keito kalau aku menyukai Isae. Ah, dasar perempuan. Tidak bisa jaga rahasia.' Ryosuke menatap Keito dan bertanya, ''Apa saja yang sudah kau tahu?''
''Yang aku tahu dia sangat menyukaimu,'' kata Keito, ''aku bisa melihatnya. Kau juga sepertinya menyukainya, hanya saja kurasa kau tidak menyadarinya.''
''Tentu saja aku menyadarinya,'' kata Ryosuke cerah, ''aku malah tidak menyangka dia menyukakiku juga.''
''Kau sudah tahu?'' kata Keito, ''wah, sepertinya aku tidak butuh usaha keras membantumu dekat dengannya.''
Ryosuke tersenyum senang. ''Baiklah, sampai jumpa akhir minggu,'' kata Keito, ''kau jangan sampai menyia-nyiakan kesempatan ini, oke?'' Keito melangkah menjauhi Ryosuke.
Ryosuke sangat senang. Dia berniat akan memberitahu Ichiko soal bantuan dari Keito. 'Dia akan membantuku dekat dengan Isae,' batin Ryosuke senang, 'ah, Ichiko. Kau yang terbaik. Yang terbaik.' Ryosuke berjalan sambil bersiul bahagia menuju kantin di lantai satu.
Keito menoleh, dia tersenyum melihat Ryosuke yang tampak bahagia. 'Aku melakukannya untuk Ichiko,' batin Keito, 'dia sudah membantuku lebih dekat dengan Isae. Sekarang aku akan membantunya dekat dengan orang yang disukainya. Membantunya dekat dengan Ryosuke.'
***
''Ichiko.''
''Hm?''
''Menurutmu aku pakai dress putih atau pink?''
Ichiko menatap Isae dan menghela napas. ''Kita itu mau jalan-jalan, bukan ke pesta dansa,'' kata Ichiko, ''kau pakai baju yang santai saja, lah. Celana dan kaos lengan panjang, itu kan simpel.''
''Kau sendiri mau pakai baju apa?'' tanya Isae.
''Yang jelas aku tidak akan memakai dress,'' jawab Ichiko, dia terkekeh dan meletakkan vas bunga di meja pajangan toko. Ichiko berbalik dan menatap Isae, lalu berkata, ''Lagipula kita tidak sedang kencan. Kencanpun harus melihat situasi. Kalau kencannya pagi dan tujuannya jalan-jalan, kenapa harus memakai dress?''
Isae terkekeh. ''Baiklah, baiklah,'' katanya, ''aku akan memakai baju yang simpel.'' Isae menata bunga di vas dekat meja kasir, dia lalu menoleh dan berucap, ''Ichiko, boleh aku bertanya?''
''Kapan aku melarangmu bertanya?'' balas Ichiko.
Isae tersenyum. ''Apa yang kau lakukan saat kau menyukai seseorang, tapi tiba-tiba ada yang....''
''Oi, Ryosuke! Sini!''
Isae berhenti saat mendengar teriakan Ichiko, dia menoleh. Ryosuke melangkah masuk, dia tersenyum dan membungkuk kepada Isae. Isae tersenyum dan balas membungkuk. ''Aku ada keperluan dengan Ichiko,'' kata Ryosuke salah tingkah, ''Ichiko. Sini, deh. Aku mau bicara sesuatu.''
Ichiko mengerutkan dahi, tapi dia beranjak dan mengikuti Ryosuke keluar toko. Isae mengintip, dia melihat Ryosuke tampak gembira bersama Ichiko. Isae tersenyum, dia menggumam, ''Pasangan yang manis.'' Isae kembali ke toko bunganya dan kembali menata bunga di vas dekat meja kasir.
''Apa?'' tanya Ichiko, ''aku sibuk, nih.''
''Ichiko, aku rasa kau tidak perlu terlalu ngoyo lagi mendekatkanku dengan Isae,'' ujar Ryosuke gembira, ''aku sudah mendapat bantuan lain. Dia tahu aku suka dengan Isae, dan berniat membantuku agar aku dekat dengannya.''
Ichiko mengerutkan dahi. ''Siapa?'' tanyanya.
''Keito,'' jawab Ryosuke, ''dia yang akan membantu.''
''HAH?!'' Ichiko memekik kaget, dia mencerna kalimat Ryosuke. Keito membantu Ryosuke? Bagaimana, sih? Katanya Keito juga suka Isae, kenapa malah membantu Ryosuke agar dekat dengan Isae? Siapa yang salah pengertian disini?
Eh tunggu.
Keito akan mendekatkan Ryosuke dengan orang yang dia suka.
Tadi Keito juga mengatakan kepada Ichiko kalau dia akan membantu Ichiko seperti Ichiko membantunya.
Artinya Keito akan mendekatkan Ichiko dengan orang yang dia suka.
Artinya....
Ichiko menatap Ryosuke yang masih tampak gembira dengan mata terbelalak. 'Ini tidak mungkin,' kata Ichiko, 'Keito dan Ryosuke salah paham disini. Keito mengira aku menyukai Ryosuke dan akan mendekatkanku dengannya. Keito juga menyangka Ryosuke menyukaiku. Dan Ryosuke mengira Keito membantunya dekat dengan Isae. Apa yang harus kulakukan?'
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar