Senin, 26 Januari 2015

Double Episode 2

Title : Double
Fandom : Kamen Rider
Author : Mickey
Genre : Masih belum diketahui
Cast :
Kouta
Kaito
Mai
Micchy
etc.,
~~~
YES I'M BACK!!! *semangat berlebihan
Ini episode 2, sembari nyelesaiin FF yang sempat terbengkalai....
Untung diingetin, kalo enggak pasti lupa total....
Enjoy!!
~~~
Yutaka sangat senang memeluk Gaku. Tapi dia agak heran melihat Gaku yang menatapnya seperti terkejut. Ah, Gaku pasti memang terkejut dengan kedatangannya. Sampai Yutaka menyadari sesuatu.

"Eh, kenapa kau memakai pakaian yang aneh seperti itu?" tanya Yutaka menunjuk pakaian Kouta, "kemana pakaian yang biasa kau pakai?"

"Gue kan emang biasanya make baju ini," jawabnya, "elo yang mabok. Ngapain coba dateng-dateng pake baju adat. Abis semedi dimana lo? Pake meluk-meluk lagi. Risih tauk."

Yutaka mengerutkan dahinya. Kenapa Gaku bicara sekasar itu kepadanya? "Gaku," Yutaka mengulurkan tangan ke pipi Kouta, "kenapa kau sekasar itu? Aku kan..."

Yutaka terkejut bukan main saat tangannya ditampik dengan kasar. "Gaku itu siapa sih?!" sentaknya, "gue bukan Gaku, Kaito! Gue Kouta! Wah, mabok ini anak. Jangan-jangan sake dua kerdus diabisin semua sama dia." Yutaka masih terkejut saat dia melanjutkan, "Denger, ya, Kaito. Semua temen lo nyariin lo sampe ke lubang semut, mereka kuatir sama elo. Mending elo pulang sana."

Yutaka menatap punggung Kouta yang menjauhinya. "Kouta?" gumamnya, "tunggu dulu. Sebenarnya dimana aku ini?" Yutaka menoleh ke sekeliling, dia menyadari kalau ada banyak bangunan berbentuk aneh di sekitarnya. "Ini bukan tempat tinggalku," ujarnya mulai panik, "aku dimana?" Yutaka menatap tangga yang tadi dilalui Kouta, dia mengerutkan dahi. "Aku yakin sekali itu Gaku," ujarnya, "itu Gaku. Dia pasti pura-pura tidak kenal aku."
~~~
Natsuru menghela napas, dia terbatuk dan berpegangan kepada dinding gua yang berlumut. "Merepotkan sekali Tuan Muda yang satu ini," gumamnya menggerutu, "tidak bisakah dia sehari saja tidak membuatku panik? Apa dia tidak tahu kalau aku yang selalu dimarahi Tuan Besar kalau terjadi apa-apa dengannya? Kenapa dia keras kepala sekali? Gaku, apa yang istimewa dari orang bernama Gaku itu? Kenapa Tuan Muda sampai bersikeras ingin menemuinya?" Natsuru berdiri, dia menghela napas dan berjalan pelan. "Sekarang aku harus mencarinya kemana?" gumamnya lagi, "sudah gelap. Matsuda juga pasti kebingungan." Natsuru menoleh ke belakang, dia tidak menemukan sosok Matsuda. Pasti dia mencari kearah lain.

"Natsuru."

Natsuru menoleh, dia waspada menyiapkan katananya. Natsuru agak melonggarkan kewaspadaannya melihat seorang berpakaian serba hitam mendekatinya. Mata Natsuru memicing, mencoba mengenali siapa yang mendekatinya. "Siapa kau?" tanya Natsuru, dia merasa mengenali suara itu. Sayang sekali suaranya teredam topeng yang dia kenakan.

"Aku tahu dimana Yutaka," ujarnya, "seseorang membawanya kearah sana tadi." Orang itu menunjuk sebuah arah.

"Siapa yang membawnaya?!" Natsuru panik, "katakan kepadaku! Akan kuhabisi dia membawa Tuan Muda ke hutan!"

Orang itu tertawa kecil. "Saat kau tiba disana, menunduklah dan ikuti jalannya," katanya, "kau akan menemukan Tuan Mudamu. Cepatlah."

Natsuru mengangguk, dia segera berlari kearah yang ditunjuk orang itu. Persetan dengan identitasnya, yang penting dia harus menemukan Tuan Muda dan membawanya pulang sebelum Tuan Besar dan Nyonya pulang. Kasihan Saku kalau harus terlalu lama mengalihkan perhatian.

Orang itu hanya menatap Natsuru yang menjauh dalam diam. Perlahan dia menghilang di balik mulut gua.
~~~
Kouta melangkah keluar apartmentnya, dia bersiul. Pagi ini, dia akan bekerja di Yggdrasill. Keren, ya, lulusan SMA kayak Kouta bisa kerja di perusahaan bonafid kelas Yggdrasill. Emang sih dia bisa disana gara-gara ada Micchy, semacam KKN lah. Tapi dia menunjukkan kesungguhannya dalam bekerja, makanya Takatora trenyuh dan menerimanya.

Jadi cleaning service.

Kouta turun tangga, hampir saja dia terpeleset saat melihat sosok yang mengenakan baju adat Jepang tertidur di dekat tumpukan tong sampah. 'Buset ini orang ngapain coba tidur disana?' batinnya, 'kenapa dia nggak balik aja sih ke markasnya?' Kouta mendekat, dia akan membangunkan Kaito saat menyadari wajah laki-laki itu pucat.

Seketika Kouta menyentuh dahi Kaito, dia panik seketika tahu Kaito demam. Dia langsung mengambil ponselnya, menelepon Zack.

'Ya halo.'

"Zack! Ini gue Kouta!"

'Iya gue tau, bantet. Nama lo ada di hape gue. Ada apa pagi-pagi nelepon?'

"Kaito! Dia demam!"

'Lho? Kaito sama elo?'

"Ntar aja ceritanya! Sekarang elo ke apartment gue, ambil bos lo ini!" Kouta menutup telepon, dia panik dan memangku kepala Kaito. "Duh elo sakit di tempat gue lagi," katanya gusar, "ntar disangkanya gue ngapa-ngapain elo lagi. Rese lo." Kouta merasa udara dingin, dia memutuskan membawa Kaito masuk dulu sambil menunggu Zack dan Peco datang.

(to be continued)

Rabu, 21 Januari 2015

Double Episode 1

Title : Double
Fandom : Kamen Rider
Author : Mickey
Genre : Masih belum diketahui
Cast :
Kouta
Kaito
Mai
Micchy
etc.,
~~~
PUJA KERANG AJAIB! *plakk
Halo semua, apa kabarnya?
Setelah sekian lama nggak post, kangen nggak? *nggak
Saya masih terjebak masalalu, atau kerennya masih gagal move on
Jadi saya bikin FF dengan cast yang itu lagi itu lagi XD
Enjoy!
~~~


1535....
"Natsuru! Natsuru!"
Natsuru berhenti, menoleh kebelakang dengan wajah gusar. "Apa lagi?!" sergahnya, "jangan membuang waktu! Kita harus menemukan Tuan Muda sebelum Tuan Besar dan Nyonya Besar datang!" Natsuru kembali berlari menembus hutan, sesekali menyabet ranting dan dahan pohon yang menghalangi jalannya.

Gaku dan Saku berlari mengikuti Natsuru dari belakang, akhirnya berhenti saat gadis itu juga menghentikan larinya. "Apa yang dipikirkan Tuan Muda?" gumam Natsuru, "pergi tanpa ada yang mengawasi. Sekarang kalau begini, semua orang akan kerepotan mencarinya." Natsuru menatap Gaku, pemuda jangkung di sebelahnya, lalu menendang kaki pemuda itu. "Kenapa kau tidak menemaninya hah?!" teriak Natsuru gusar, "kalau sudah begini aku juga repot!"

"Dia sendiri tidak mau ditemani," Saku menjawab, "katanya dia ingin sesekali pergi sendiri tanpa pengawalan."

Natsuru menatap Saku. "Memangnya dia mau kemana?" tanyanya.

"Katanya ingin menjenguk temannya yang sakit," jawab Gaku, "dan dia hanya mengatakan kalau temannya itu tinggal di sekitar sini."

Natsuru diam, dia menoleh. "Mana mungkin temannya tinggal di tempat seperti ini," gumamnya pelan, "lagipula.... teman yang mana yang dimaksud Tuan Muda?" Natsuru mengerjapkan matanya, dia kembali berlari. "Kita harus segera menemukannya," ucap Natsuru keras, "Saku, selama aku dan Gaku mencari Tuan Muda Yutaka, kau harus mengalihkan Tuan Besar dan Nyonya Besar. Jangan sampai mereka tiba di rumah sebelum kami menemukan Tuan Muda." Saku mengangguk, dia berlari kembali ke desa.

"Kau akan mencarinya kemana?" tanya Gaku.

"Ke dalam hutan sana," jawab Natsuru, "jangan banyak tanya. Temukan saja Tuan Muda. Aaahh, merepotkan saja orang itu."
~~~
2015....

"HAH?! KAITO ILANG?!"

Zack mengangguk pelan, sementara Peco hanya diam memasang wajah khawatir tingkat dewa. "Sejak kapan?" tanya Micchy.

"Sejak semalem," jawab Peco, "dia nggak pulang ke markas."

"Kok bisa ilang, sih?" tanya Rika.

"Ya bisalah. Ini buktinya dia ilang," jawab Zack.

"Ilangnya dimana?" tanya Mai.

Krik.

"Yaelah, Mai, kalo kita tau dia ilangnya dimana namanya bukan ilang," balas Zack, "ini cewek cantik-cantik bego, ya."

"Oh!" Rat tersadar sesuatu, "jangan-jangan dia minggat."

Seketika semua mata terarah ke Rat. "Maksudnya?" tanya Yuuya. Rat berdiri, lalu bergaya bak detektif gadungan dan menjawab, "Bisa aja dia minggat. Soalnya kemaren kan dia ada masalah sama Kouta. Kemaren mereka berantem rebutan kursi di Charmant, kan? Menurut gue itu penyebab Kaito minggat."

"Kalo ternyata dia minggat," balas Zack, "lha kalo ternyata dia diculik?"

"Penculik nggak doyan keles sama Kaito," ucap Kouta malas.

"Kalo diculik, berarti penculiknya kerjasama sama Kouta-san," jawab Micchy terkikik, "kan yang bermasalah sama Kaito-san itu Kouta-san."

Kouta langsung menoleh, melotot kepada Micchy. "Sialan," gumamnya, "kenapa jadi gue yang dituduh?"

"Udah udah," Yuuya melerai, "gini aja, kita lapor polisi gimana?"

"Setuju," jawab Chucky, "lapor polisi jalan terbaik."

"Nggak bisa," jawab Micchy, "bukannya harus nunggu sampe besok baru bisa dianggep ilang? Kalo mau lapor polisi harus 2x24 jam, kan?"

Semua diam sejenak. "Iya juga," kata Zack, "lagian dia ilang juga baru semalem. Berarti nunggu sampe besok."

Micchy mengangguk. "Sambil nunggu, kita cari ke tempat-tempat yang biasa dia datengin," katanya, "kalo sampe nanti malem dia nggak muncul, baru kita lapor polisi."

Yang lain mengangguk, setuju saja dengan usul Micchy. "Paling ntar kalo laper juga balik," gumam Kouta, "pake acara minggat segala. Childish banget jadi orang." "Ya itu semua juga gara-gara elo, somplak," kata Zack, "coba elo ngalah, Kaito nggak bakal minggat."

"Yaelah childish amat sih itu orang tua," balas Kouta, "gitu doang aja ngambeknya kayak anak kecil nggak dibeliin permen." Kouta menyambar tasnya, melangkah pergi. "Ntar kalo udah ketemu bilang gue," katanya, "biar gue jambakin rambutnya. Ngeselin amat jadi orang." Kouta pun melangkah meninggalkan markas gengnya yang dikasih nama Tim Gaul Asik Imut Manis atau disingkat Tim GAIM.

Kouta berjalan pelan, akhirnya mandek. Dia jadi kepikiran, apa iya Kaito minggat gara-gara dia? Tapi masa sih cuma gara-gara kursi dia ngambek terus ngilang gitu aja? Biasanya Kouta nendangin kakinya dia biasa-biasa aja, malah ngebales lebih sadis. Ini? Cuma gara-gara kursi dia ngambek kayak anak perawan putus cinta.

"Ah bodo ah," kata Kouta, "kalo laper juga nongol lagi." Kouta kembali berjalan menuju rumahnya.
~~~
 Kouta menghela napasnya, dia duduk lesu di salah satu kursi di kafe Bandou. Kata Zack, Kaito belum balik juga, dan ini udah hari kelima sejak Kaito ngilang nggak tau dimana. Zack nolak buat lapor polisi, soalnya kata Zack polisi itu ribetnya setengah mati. Mending mereka yang nyari sendiri deh.

"Kouta-san."

Kouta menoleh, dia tersenyum saat Micchy melangkah mendekatinya dengan senyum cerah semanis permen. "Kouta-san kenapa cemberut?" tanya Micchy, "ada masalah?"

Kouta menggeleng, dia tersenyum. "Aku cuma mikir, kemana si Kaito," kata Kouta, "bukan apa-apa, aku sih nggak masalah dia mau ke ujung dunia kek, mau ngubur diri kek aku nggak peduli. Tapi gimana-gimana dia itu udah setiap hari seliweran di depan kita. Jadi, kalo dia nggak ada ya emang kerasa sepi gitu."

Micchy mengangguk mengerti. "Emang sih jadi kerasa sepi," katanya, "ah, aku bilang sama Nii-san aja buat nyuruh anak buahnya nyari Kaito. Gimana?"

"Nggak usah deh," kata Kouta, "biar anak buahnya aja yang nyari Kaito." Kouta tersenyum, dan Micchy ikut senyum. "Kamu nggak sekolah?" tanya Kouta, "aku mau pulang nih. Barengan yuk."

Micchy menggeleng. "Aku mau ke kantornya Nii-san," katanya, "mau ngerecokin dia biar nggak indehoy sama Professor Ryouma terus." Keduanya tertawa, berjalan bersama keluar kafe dan berpisah di pintu keluar. Kouta melangkah pelan, dia kembali berwajah murung. Dia memang sebel luar biasa sama Kaito, makanya sekarang dia bingung kenapa dia malah kangen sama Kaito pas orang itu nggak ada.

Grep.

"Ternyata kau disini. Aku sangat merindukanmu."

Krik.

Siapa nih?

Kouta beku, diam, mematung, bingung, dan segalanya. Siapa coba yang tiba-tiba bilang kangen sama dia? Kouta menoleh, jantungnya serasa dilemparin bom molotov mendadak. Matanya terbelalak melihat sosok yang memeluknya dari belakang, tersenyum manis kepadanya. "Gaku," ucapnya sambil tersenyum manis.

"K.... Kaito?"

(to be continued)
~~~
Nah loh aneh jadinya.........
gakpapa deh......
udah lama nggak nulis FF sih soalnya.......