Rabu, 04 November 2015

Pandora 08

Title : Pandora
Author : Veve
Genre : Fantasy, Comedy, Romance
Cast :
All Hey! Say! JUMP Members
Kawazoe Tori / OC
Ishihara Mio / OC
Watanabe Ayaka / OC
Fukushi Hiroko / OC
Other casts will revealed
Length : Chapter
*
Chapter 8


Mio melangkah masuk kamar, dia mendesis miris melihat Ryosuke yang tertidur pulas di kamarnya. Ryosuke diperbolehkan pulang oleh dokter, karena luka di lengannya sudah dijahit. Mio duduk di lantai, dia melihat lengan kanan Ryosuke yang terluka dengan tatapan tidak tega. Mio lalu menoleh menatap Ryosuke, dia membelai lembut rambut Ryosuke yang masih terlelap.

Mio menarik tangannya ketika Ryosuke membuka mata. ''Sudah jangan bangun,'' Mio mencegah Ryosuke yang akan bangun, ''kau berbaring saja. Lukamu belum sembuh.''

Ryosuke kembali berbaring, dia dan Mio bertatapan dalam diam. ''Baka,'' kata Mio, ''kau senang sekali membuatku khawatir.''

''Maaf,'' kata Ryosuke, ''maafkan aku.''

Mereka berdua kembali diam. Mio menunduk, dia menggigit bibirnya kuat-kuat. Ryosuke menatap Mio, dia mengangkat pelan lengan kirinya. Ryosuke meringis sedikit, dia menepuk pelan kepala Mio. ''Kau kenapa, Mio-Chan?'' tanya Ryosuke, ''kau ada masalah?''

Mio menggeleng, dia masih menunduk. Ryosuke bergeser dan mengintip, dia terhenyak melihat Mio menangis. ''Mio, kenapa kau menangis?'' tanya Ryosuke, ''apa aku yang salah? Kumohon jangan menangis.''

''Jangan membuatku khawatir terus,'' kata Mio terisak, ''jangan melakukan tindakan bodoh. Aku benci orang yang melakukan tindakan bodoh.''

Ryosuke terdiam, dia membelai rambut Mio. ''Kalau aku tidak melakukan hal bodoh, kau yang akan terluka,'' kata Ryosuke, ''aku menahan vampir itu agar kau tidak diserang. Bagiku tidak masalah kalau aku yang terluka, toh aku tidak mati.''

''Iya, itu karena ada Daiki dan Tori yang membantumu,'' kata Mio, dia menatap Ryosuke dengan mata berair dan merah, ''bagaimana kalau tidak ada mereka? Kau bisa mati.''

''Tidak apa-apa, asalkan kau tetap hidup,'' kata Ryosuke.

''Yamada Ryosuke!'' sentak Mio terisak, ''kubilang jangan melakukan hal bodoh!''

''Kalau melindungimu adalah hal bodoh, maka aku akan melakukan hal bodoh itu setiap saat,'' kata Ryosuke.

''Lalu kalau kau mati, siapa yang akan melindungiku selanjutnya?'' balas Mio, ''kalau kau mati, tidak akan ada yang melindungiku.''

''Ada yang lain,'' kata Ryosuke, ''dan aku juga tetap akan melindungimu meskipun aku sudah mati.''

Mio tertawa di sela tangisnya. ''Gombal,'' katanya, ''aku tidak mau melihatmu terluka seperti ini lagi.''

Ryosuke hanya tersenyum menanggapi kalimat Mio. Mio juga tersenyum, dia mengambil sebuah kotak bekal dari tasnya. ''Aku membuat makanan ini sendiri, lho,'' kata Mio, dia menunjukkan sebuah bekal yang ditata dengan cantik kepada Ryosuke. Ryosuke menengok, dia berkata, ''Ini kau yang membuat, kan?''

''Kau tidak percaya?'' tanya Mio.

''Aku baru tidak percaya kalau kau mengatakan Tori yang membuatnya,'' kata Ryosuke.

Mio tertawa. ''Mana mungkin,'' kata Mio, ''ini buatanku. Coba saja.'' Mio menyuapi Ryosuke dengan masakannya. Ryosuke memakan bekal buatan Mio, dia lalu memasang ekspresi yang aneh. ''It's delicious,'' katanya, ''tasty and.... Sweet.''

''Tch, sok komentator,'' kata Mio, dia terkekeh dan kembali menyuapi Ryosuke. Melihat Ryosuke yang terkekeh manis begitu membuat Mio tidak tega memberitahu kenyataan yang dia dengar dari Tatsuya malam itu.

Tapi Mio tidak bisa menyimpan rahasia terlalu lama.
*
''Yang perlu kalian lakukan hanya mencari keturunan Venom. Kalau Shora sampai menemukannya lebih dulu, mereka akan menguasai dunia manusia. Venom jelas akan membangkitkan tuannya, Tuan Besar Shora. Dan itu bencana untuk Pandora, juga untuk manusia.''

Hiroko dan Tori melangkah pelan menyusuri jalan. ''Mereka semua adalah keturunan Pandora,'' kata Hiroko pelan, ''Dai-Chanku.... Dia....'' Hiroko mengerang, dia mengacak rambutnya dan berkata, ''Kenapa harus dia raja Pandora?''

''Takdir,'' jawab Tori singkat.

Hiroko menunduk lemas. ''Aku tidak bisa memberitahunya, Tori,'' kata Hiroko.

''Kenapa?''

''Aku...'' Hiroko berhenti, dia merenung, ''aku hanya tidak mau dia meninggalkanku.''

Tori berhenti, dia menoleh dan menatap Hiroko yang memasang wajah sedih. ''Kau tidak bisa membelokkan takdir seseorang, Hiroko,'' kata Tori, ''Daiki akan tahu kalau dia adalah raja Pandora. Dan dia harus menyelesaikan misinya.''

Hiroko menatap Tori, dia berlari mendekat dan bertanya, ''Lalu dimana para Shora itu?''

''Mana aku tahu, kau pikir aku pelayan Shora?'' balas Tori, dia kembali berjalan dan memasukkan kedua tangannya di saku jaketnya. Tori sendiri sebenarnya berusaha menjernihkan pikirannya. Dia juga shock mengetahui Yuya adalah salah satu pengawal Pandora. Tori tidak siap dengan keadaan ini, dan sepertinya Yuya juga. Tori tidak bertemu Yuya sejak hari itu. Terhitung sudah dua hari sejak malam itu, Yuya tidak datang ke rumahnya. Menelepon juga tidak.

''Tori-Chan.''

Tori berhenti, dia berbalik menatap Hiroko. ''Aku.... Aku butuh bantuanmu,'' kata Hiroko.

''Apa?'' tanya Tori.

''Bantu aku memberi Dai-Chan pengertian,'' kata Hiroko, ''kau tahu... Dai-Chan yang membuka segel itu, dia pasti merasa bersalah dan akan sangat terpuruk. Bantu aku menyemangatinya.''

Mendengar itu, Tori terkekeh. ''Kau ini bagaimana,'' katanya, ''kau pacarnya, sudah jelas kau yang lebih bisa menyemangatinya.''

Hiroko menghela napas. ''Aku hanya tidak mau melihatnya merasa bersalah,'' kata Hiroko, ''kau tahu kan kalau....''

''Iya aku tahu,'' sela Tori, ''dia yang membuka segel Pandora. Tapi itu kan tidak sengaja, Hiroko. Siapa yang tahu kalau dia memang keturunan Pandora? Rajanya pula.'' Tori merangkul Hiroko, dia mengajak Hiroko berjalan sambil berkata, ''Sekarang kita fokus saja mencari keturunan Venom dan mencaritahu siapa saja Shora yang sudah lepas. Soal memberitahu Daiki, Ryosuke, Ryutaro, dan Hikaru, itu bisa diurus sambil lalu. Oke?''

Hiroko mengangguk pelan, dia merangkul Tori dan mereka berdua berjalan pelan. ''Um, Tori-Chan,'' panggil Hiroko.

''Apa?'' tanya Tori.

''Bagaimana hubunganmu dengan Yuya Senpai?''

Tori berhenti melangkah, dia terdiam. Hiroko menatap Tori, dia bisa melihat perubahan ekspresi sahabat sekaligus sepupu jauhnya itu. ''Aku tidak bertemu dengannya sejak malam itu,'' kata Tori, ''aku mencoba ke rumahnya, tapi kata Bibi dia tidak ada di rumah. Dia seperti sengaja menghindariku.''

Hiroko menepuk bahu Tori, dia berkata, ''Mungkin dia butuh waktu untuk menghadapi dirimu. Dia sekarang punya tugas penting, kan?''

Tori mengangguk pelan. ''Ayo ke rumah sakit,'' kata Tori, ''aku mau menjenguk Ryutaro. Setelah itu baru kita menjenguk Ryosuke.''
*
Pintu kamar rawat terbuka. Tegoshi melangkah masuk, dia mendekat dan berhenti di dekat Ryutaro yang masih belum sadar. Tegoshi menatap Ryutaro dengan mata tajam, dia menyeringai dan berkata pelan, ''Kasihan sekali kau, harus menderita seperti ini. Kau pengawal Pandora, dan harus menderita seperti ini.'' Tegoshi mengarahkan tangannya kepada Ryutaro, cakar tajam kemerahan muncul di jari-jarinya. ''Akan kuakhiri rasa sakitmu,'' kata Tegoshi sambil menyeringai.

''Sensei?''

Tegoshi segera menarik tangannya dan menyembunyikannya di saku jaket, dia menoleh dan tersenyum kepada Tori dan Hiroko yang melangkah masuk. ''Wah, Sensei datang,'' kata Hiroko, dia tersenyum memberi salam kepada Tegoshi.

''Ryutaro adalah muridku, jadi aku punya kewajiban menjenguknya,'' kata Tegoshi, dia menatap Tori yang hanya diam dan berkata, ''Tori, apa kau bertemu Takaki? Aku tidak melihatnya di sekolah dua hari ini.''

''Dia sedang tidak enak badan, Sensei,'' jawab Tori, ''dia terlalu banyak memakan saus, jadi perutnya sakit.''

Tegoshi mengangguk. 'Pembohong ulung,' batinnya.

Pintu terbuka. Tegoshi, Tori, dan Hiroko menoleh. Ayaka masuk, dia memekik tertahan melihat tiga orang itu. ''Astaga kalian membuatku kaget,'' kata Ayaka sambil menghela napas lega, ''ada Sensei juga. Terimakasih sudah mau menjenguk Ryutaro.'' Ayaka menatap Hiroko dan Tori, dia bertanya, ''Bagaimana keadaan Ryosuke?''

''Kalau itu tanyakan saja kepada Mio,'' kata Tori sambil melangkah mendekati Ryutaro. Tori membelai rambut teman sekelasnya itu, dia berkata, ''Aku berjanji akan menyegel ulang Shora. Bersama yang lain. Pegang janjiku, Ryutaro.''

''Aku harus pergi,'' kata Tegoshi, ''kakakku akan datang hari ini. Jadi aku harus menyiapkan makanan untuknya.'' Tegoshi membungkuk, dia tersenyum dan melangkah keluar kamar. Tegoshi melangkah pelan, dia lalu berhenti dan menoleh menatap kamar rawat Ryutaro. 'Sebelum kalian sadar, aku sudah menemukan Venom lebih dulu,' batin Tegoshi, 'dan sebelum kalian bertindak, aku dan yang lain sudah menguasai dunia.' Tegoshi tersenyum samar, dia melangkah meninggalkan rumah sakit.
*
Yuya menoleh, dia melihat keadaan sekelilingnya. Yuya sudah sangat terbiasa dengan suasana hutan, terutama di wilayah gerbang Pandora. Yuya menyentuh batu yang diselimuti lumut itu, dia berkata pelan, ''Dibalik batu ini, ada rumahku. Seperti apa rupanya sekarang? Apa indah seperti dunia peri yang sering diceritakan di dongeng? Atau sudah berubah?''

''Yang jelas tidak seaman dulu.''

Yuya menoleh, dia melihat Tatsuya melangkah tenang kearahnya bersama Yabu. ''Tidak ada yang duduk di singgasana,'' kata Tatsuya, ''semua rakyat bingung, bagaimana akhir dari kisah ini. Apakah Pandora yang menang, atau justru Shora yang berkuasa.''

''Shige adalah anak buah kesayangan Ninomiya,'' kata Yabu, ''Ninomiya adalah pengendali ilusi. Dia yang menguasai monster-monster yang menyerang melalui ilusi dan mimpi. Lalu Sho.... Aku tidak tahu siapa yang melepaskannya, tapi dia juga berbahaya. Masih ada Massu dan Keiichiro, serta dua tuan mereka, Jun dan Ohno.''

''Dan Venom,'' kata Yuya, ''bersama tuannya, entah siapa namanya.''

''Aiba,'' jawab Tatsuya, ''hanya Raja Pandora--Daiki--dan Venom.... Maksudku keturunannya yang bisa melepaskan Aiba. Dan Shora tentu saja mencari keturunan Venom, teman mereka.''

''Hikaru, Ryutaro, Ryosuke, dan Daiki belum tahu soal siapa mereka,'' kata Yuya sambil bersandar di gerbang Pandora, ''bagaimana ini?''

''Hikaru akan diberitahu Chinen dan Kei,'' kata Yabu, ''kalau tiga orang itu.... Biar para gadis yang menanganinya.''
*
''APA?! AKU?!''

Kei menggeplak kepala Hikaru, dia mendesis, ''Pelankan suaramu!''

Hikaru menutup mulutnya, dia menoleh kesana kemari lalu berbisik, ''Kalian bicara apa, sih?''

Chinen menghela napas dan menyeruput jusnya. ''Sudah kuduga dia tidak akan paham,'' katanya datar, ''kapasitas otaknya masih dibawah rata-rata.''

Hikaru menoleh, dia lantas menggeplak kepala Chinen dan membalas, ''Heh, aku seniormu. Yang sopan sedikit.''

''Sudah jangan bertengkar dulu,'' kata Kei melerai, ''Hikaru, aku tahu ini sulit dipercaya. Tapi ini kenyataan. Kita adalah pengawal Pandora, pengawal Daiki.''

Hikaru melongo, dia lalu berkata, ''Lalu Daiki sudah tahu?''

''Entahlah, mungkin Hiroko sudah memberitahunya,'' kata Kei, ''dan sekarang tugas kita adalah mencari keturunan Venom. Dan Shora yang lepas.''

''Jadi tugas kita itu mencari keturunan Venom atau memusnahkan Shora?'' tanya Hikaru.

''Dua-duanya,'' jawab Chinen.

Hikaru, Chinen, dan Kei menghela napas, mereka bersandar di kursi. ''Akan sangat sulit,'' kata Kei, ''kata Tatsuya, keturunan Venom ada di sekitar kita. Tapi siapa?''

''Mungkin.... Salah satu dari keempat gadis itu,'' kata Chinen.

''Tidak mungkin!'' Kei dan Hikaru menyahut bersamaan, membuat Chinen kaget. ''Aku tidak percaya kalau salah satu dari mereka adalah keturunan Venom,'' kata Hikaru.

''Kita juga belum menemukan Shora yang lepas,'' kata Chinen, ''kita punya tugas ganda, Senpai.''

''Begini saja,'' kata Hikaru, ''sebagian mencari keturunan Venom, sebagian lagi mencari Shora yang lepas.''

''Ah, benar,'' kata Kei, ''baiklah, aku akan menghubungi yang lain.''

''Yosh,'' kata Hikaru, ''nah, siapa yang akan membayar minuman ini?''
*
Hiroko mondar mandir, dia menoleh beberapa kali kearah jalanan. ''Dai-Chan, kau itu lambat sekali, sih,'' Hiroko menggerutu cemas, ''begitu, tuh, kalau berat badannya naik. Langkahnya jadi lamban.''

Hiroko menoleh, dia segera mendekat kearah Daiki yang berjalan kearahnya. ''Dai-Chan kau lama sekali,'' kata Hiroko, ''aku sudah menunggu lama.''

''Kau tumben sekali, sih, tidak sabar menunggu,'' kata Daiki, ''kau sudah merindukanku, ya?'' Daiki tertawa, dia mengaduh saat Hiroko menggeplak kepalanya. ''Baka,'' kata Hiroko, ''jangan tertawa dulu.''

''Iya iya,'' kata Daiki, ''ada apa, Hiroko-Chan?''

''Anoo.... Ada hal yang ingin kubicarakan,'' kata Hiroko. Dia sangat gelisah dan meremas jemarinya panik. Hiroko jadi bimbang harus memberitahu Daiki soal kenyataannya.

''Soal aku adalah Raja Pandora, kan?''
***
 

Senin, 02 November 2015

Pandora 07



Title : Pandora
Author : Veve
Genre : Fantasy, Comedy, Romance
Cast :
All Hey! Say! JUMP Members
Kawazoe Tori / OC
Ishihara Mio / OC
Watanabe Ayaka / OC
Fukushi Hiroko / OC
Other casts will revealed
Length : Chapter
*
Chapter 7


''Kau adalah keturunan para pengawal Pandora.''

Yuya menoleh, dia menatap heran laki-laki itu. ''Apa yang kau bicarakan?'' kata Yuya, ''ah, gara-gara kau aku harus meninggalkan sekolah.'' Yuya melangkah pergi, dia sudah sampai tepi hutan saat tubuhnya terpental kembali ke hutan. Yuya terjatuh, dia meringis kesakitan saat dia mendengar laki-laki itu tertawa. ''Sudah kuduga kau itu lemah,'' kata laki-laki itu, ''kau bahkan tidak bisa menembus tabirku. Kau tidak sekuat leluhurmu.''

Yuya menoleh, dia memicingkan mata. 'Tabir?' batinnya, 'astaga, ada apa ini?' Yuya berdiri, dia menatap waspada laki-laki itu. ''Leluhurmu yang menyegelku ratusan tahun lalu,'' kata laki-laki itu sambil melangkah pelan di sekitar Yuya, ''tapi sekarang aku bebas. Dan target utamaku tentu saja penyegelku, leluhurmu.'' Laki-laki itu menatap tajam Yuya. ''Kau,'' katanya.

''Aku tidak mengerti yang kau bicarakan,'' kata Yuya.

''Pantas gadismu itu selalu memanggilmu 'Baka','' kata laki-laki itu.

Yuya mengerutkan dahi. ''Gadis?'' gumamnya, ''siapa yang....'' Yuya terbelalak. Sekarang dia tahu trik tipuan yang memancingnya datang kemari. ''Jadi kau mengelabuiku dengan menyamar menjadi Tori dan membawaku kemari?'' kata Yuya.

''Aku tahu kau akan mengikutiku kalau kau melihatku sebagai gadis itu,'' kata laki-laki itu, ''sekarang kau hanya sendirian disini. Aku, pelayan setia Shora akan membereskanmu disini.''

Yuya memasang wajah tegang. Shora, dia akrab dengan nama itu. 'Mereka benar-benar bangkit,' batin Yuya, 'apa yang harus kulakukan?' Yuya berusaha tenang, walaupun sebenarnya dia sangat panik.

''Ucapkan selamat tinggal, Yuya,'' desis laki-laki itu, dia berlari maju menerjang Yuya dan menghunuskan pedangnya kearah Yuya.
*
Tori menoleh, dia melihat Ayaka yang masih menangis di pelukan Mio. ''Kalau saja aku tidak menuruti Ryutaro, semua ini tidak akan terjadi,'' Ayaka terisak, ''harusnya aku memaksanya tetap datang ke sekolah.''

Tori dan Ryosuke berpandangan, mereka berdua lalu menatap Mio. Tiga anak itu sama-sama merasa bersalah, pasalnya mereka yang menyuruh Ryutaro dan Ayaka untuk membolos. Tori menoleh kearah ICU, dia cemas dengan keadaan Ryutaro. Awalnya Ryutaro akan dibawa ke rumah Tegoshi, hanya saja karena lukanya terlalu parah Daiki mengusulkan agar membawanya ke rumah sakit saja.

Dan disinilah mereka sekarang. Cemas menunggu dokter memberitahu keadaan Ryutaro.

''Semua akan baik-baik saja, Ayaka,'' kata Tegoshi menenangkan, ''Ryutaro baik-baik saja. Jangan khawatir.''

''KYAAAA!''

Semua menoleh kaget. Beberapa perawat berlarian dengan panik, dari jauh terdengar suara ribut. ''Ada monster!'' pekik salah satu pengunjung rumah sakit sambil berlari menghindar.

Daiki menoleh, dia terkejut melihat seorang wanita yang terlihat mengerikan dengan wajah pucatnya muncul dan mulai mengacaukan rumah sakit. ''Vampir!'' teriak Daiki. Yang lain ikut terkejut, Ryosuke dengan sigap mendekat dan berdiri di depan Mio dan Ayaka.

''Lari!'' teriak Tegoshi, dia menggiring Mio, Ayaka, dan Hiroko menjauh. Daiki, Tori, dan Ryosuke menghadang vampir itu agar tidak melukai orang lain. ''Cepat lari!'' teriak Tori sambil mendorong wanita itu kuat-kuat, ''Sensei! Bawa mereka pergi!'' ''Kami akan menahan vampir ini!'' kata Daiki, dia sekuat tenaga berusaha menahan vampir itu agar tidak mendekati yang lain.

Tegoshi mengangguk, dia segera membawa pergi Mio, Ayaka, dan Hiroko. Vampir itu meraung, dia menghempaskan Tori, Daiki, dan Ryosuke hingga mereka terjatuh ke lantai dengan keras.

''Dai-Chan!'' Hiroko akan mendekat, namun Tegoshi segera menahannya. ''Kau bisa terluka kalau mendekatinya!'' kata Tegoshi.

Hiroko akan membalas, tapi Mio segera menariknya menjauh. Tinggal Daiki, Ryosuke, dan Tori yang masih disana. Mereka dengan sedikit kesakitan karena terbanting menghadap vampir wanita itu. ''Vampir itu cuma minum darah, tapi tenaganya besar sekali,'' kata Ryosuke, ''kita harus memancingnya dengan darah dan membawanya keluar dari tempat ini.''

''Darah,'' gumam Tori, dia menatap Ryosuke dan Daiki lalu berkata, ''Kalian tangani dia dulu. Aku akan mencari darah untuk memancingnya.'' Tori berlari, dia dengan gesit menghindar saat vampir itu akan menangkapnya.

''Oi! Disini!'' Daiki berteriak. Vampir itu menoleh, dia menerjang Daiki. Vampir itu akan menggigit leher Daiki, tapi Ryosuke menghantamkan tongkat besi yang entah dia dapat darimana ke tengkuk vampir itu. Vampir itu berbalik menyerang Ryosuke, dia merebut dan mematahkan tongkat besi di tangan Ryosuke. ''Aku akan membunuh kalian!'' raung vampir itu, dia mencengkeram lengan Ryosuke dan menggigitnya kuat-kuat.

''AAAAKKHH!'' Ryosuke menjerit, dia menarik lengannya sekuat tenaga hingga merobek lengan bajunya. Ryosuke terhuyung mundur, dia kesakitan memegangi lengannya. Sebuah luka memanjang terbuka di lengan, meneteskan darah cukup banyak.

Daiki dengan cepat menahan vampir itu, mendorongnya kuat-kuat. ''Kau tidak boleh melukai Ryosuke!'' katanya berteriak, dia berusaha menahan vampir itu. Tapi Daiki tidak cukup kuat menahan vampir itu. Dia terhempas kuat ke lantai. Vampir itu kembali menerjang Ryosuke, dia tampak kelaparan melihat darah yang mengalir dari luka di lengan Ryosuke.

''Oi!''

Vampir itu berhenti, dia menoleh dan menatap lapar Tori. Daiki menoleh, dia melongo melihat Tori muncul dengan seragam berlumuran darah. Wajah dan tangannya juga berdarah-darah, entah darah siapa yang dia pakai. ''Kau mau darah, hm?'' tanya Tori keras, ''lihat aku. Darahnya banyak sekali, kan? Kalau kau mau, coba tangkap aku.'' Tori melesat menjauh, dan sesuai dugaannya vampir itu meraung lalu mengejarnya.

Daiki bangkit, dia merobek lengan seragamnya dan membalutkannya di lengan Ryosuke yang terluka. ''Jangan khawatir, Yama-Chan,'' kata Daiki, ''kau akan baik-baik saja.'' Daiki memapah Ryosuke yang memucat karena darah terus mengalir, dia membawa Daiki menuju ICU.

Tori berhenti di atap gedung, dia berbalik menghadap vampir wanita itu. ''Kau suruhan Shora, kan?'' kata Tori lantang, ''kenapa kau muncul?''

''Karena sudah saatnya kami menguasai dunia,'' jawab vampir itu, ''Tuanku yang menyuruhku menghabisi Pandora.''

''Ck, jawaban murahan,'' kata Tori, ''Pandora tidak ada. Kau cari saja dia di kerajaanmu.''

''Jangan banyak bicara, kau manusia lemah!'' vampir itu menerjang Tori. Tori terbanting ke lantai, dia berusaha melepaskan diri dari vampir itu. ''Kau akan mati sebentar lagi,'' vampir itu tertawa keras, ''nikmati sisa hidupmu, manusia.''
*
Kei berhenti, dia mengatur napasnya. ''Astaga, dimana Yuya?'' tanya Kei pada diri sendiri, ''dia dalam bahaya. Aku harus menolongnya.'' Kei berlari masuk hutan, dia berharap segera menemukan Yuya.

Yuya menangkis serangan laki-laki itu dengan tongkat besi yang entah muncul darimana tiba-tiba saja ada di tangannya. ''Kenapa kau begitu lemah, hah?'' laki-laki itu mengejek, ''kau tidak sekuat leluhurmu.''

''Berisik!'' Yuya membalas, dia memukul lengan laki-laki itu dengan kuat. Yuya sebal sekali kalau dibilang lemah. Dia mantan yankee, bahkan mungkin sampai sekarang bisa dibilang yankee. Apa kata dunia kalau tahu yankee kalah melawan orang aneh ini? Yuya dengan serampangan menyerang laki-laki itu, tapi lawannya gesit sekali menghindar dan balas menyerang Yuya dengan sabetan pedang apinya.

Plok!

Yuya tersentak, dan laki-laki itu berhenti. Yuya menoleh, dia cengo melihat Kei berdiri disana dengan membawa segenggam tanah. Laki-laki itu menoleh, dia menyeringai menatap Kei. ''Halo, Tuan,'' sapanya, ''lama sekali tidak berjumpa.''

''Aku tidak mengenalmu, jadi jangan sok akrab,'' balas Kei ketus.

Laki-laki itu tertawa mengejek, dia membalas, ''Tentu saja kau tidak mengenalku. Tapi aku mengenalmu dengan baik.'' Dia mengangkat pedang apinya, lalu mendesis, ''Ayo bersenang-senang sedikit.'' Laki-laki itu mengayunkan pedangnya, meluncurkan kobaran api kearah Kei.

Kei dengan sigap menghindar, dia terbelalak melihat pohon di belakangnya tadi terbakar. ''Hei, kau merusak lingkungan!'' teriak Kei, ''membakar pohon, kau pikir kau siapa, hah?! Pohon itu sumber kehidupan, tahu tidak kau?!''

Yuya mendesis sweatdrop, dia mendekat dan menggeplak kepala Kei. ''Bukan waktunya kampanye cinta lingkungan, dasar aktivis amatir!'' kata Yuya.

Laki-laki itu kembali menyabetkan pedangnya. Yuya segera menangkis serangan laki-laki itu, dia balas menyerang lawannya dengan tongkat besinya. ''Kalau memang aku adalah pengawal Pandora, maka takdirku adalah menghabisimu,'' kata Yuya, ''dan akan kupenuhi takdirku.''

''Takdirmu adalah mati dibawah kakiku,'' ucap laki-laki itu, ''dan akan kubantu kau memenuhinya.''

Kei panik, dia bingung harus membantu Yuya dengan cara apa. Kei berusaha menemukan benda yang bisa dia gunakan untuk senjata.

Eh?

Kei menoleh, dia segera mengambil sebuah busur panah yang tergeletak begitu saja di tanah. Busur panah itu berwarna keemasan, berkilau dengan permata menghiasi busur. Kei menarik tali busur, dia terkejut melihat sebuah anak panah muncul dengan ajaib di tangannya. Kei mengarahkan panah kearah laki-laki itu, dia memicingkan mata membidik dan langsung melepaskan anak panahnya.

Kei berdecak saat anak panahnya meleset dan melebur menjadi udara. Kei baru akan membidik lagi saat sebuah bumerang melesat menghantam tangan laki-laki itu hingga pedangnya terlempar ke tanah.

Kei dan Yuya menoleh, mereka agak kaget melihat Chinen berdiri dengan memegang bumerang itu. Di sebelahnya ada Yabu yang tampak tenang dengan memegang trisula perak. ''Waktumu habis, Shige,'' kata Yabu, ''dan lagi, kami berempat sedangkan kau sendirian. Kami bisa menyegelmu lagi kalau kami mau.''

Shige menatap tajam Yabu dan Chinen, dia menghilang begitu saja. Yuya berlari mendekat, dia bertanya, ''Apa yang kudengar itu bohong?''

Yabu dan Chinen saling pandang. ''Kalian ikut kami ke kuil,'' kata Yabu, ''ada yang harus kuceritakan.''
*
Tori terbanting kesekian kalinya, dia terbatuk kesakitan dan kembali bangkit. Vampir itu tidak menyerah rupanya. Dia berusaha menyerang Tori, tapi tidak berhasil. Tori sendiri bingung darimana dia mendapat kekuatan melawan vampir itu. 'Kalau begini terus, tulangku bisa hancur,' batin Tori, 'harus kuapakan vampir ini?'

''Kau kuat juga,'' kata vampir itu mengejek, ''tapi tenagamu akan habis dan kau akan mati di tanganku.''

''Ck, cheesy,'' kata Tori, ''aku tidak akan mati di tanganmu. Siapapun kau, apapun tujuanmu kemari, aku tidak peduli. Hanya saja karena kau meresahkan banyak orang maka aku harus menanganimu.''

Vampir itu tertawa mengejek. ''Silahkan berkhayal, manusia,'' katanya. Vampir itu berlari kearah Tori, detik berikutnya dia sudah terhempas menjauhi Tori.

Tori menoleh, dia melihat Tatsuya melangkah tenang dan berhenti di depan Tori. Vampir itu berdiri, dia mendesis melihat Tatsuya. ''Kau lagi,'' katanya, ''minggir! Aku tidak ada urusan denganmu!''

''Tapi aku ada,'' kata Tatsuya, dia mengacungkan tangannya dan vampir itu meraung kesakitan. ''Kau akan kuhancurkan sekarang juga,'' kata Tatsuya, ''tidak ada kesempatan kedua untukmu, Minora.''

Vampir bernama Minora itu semakin meraung. Dia melotot kesakitan, membuat Tori bergidik ngeri karena baginya wajah itu seperti wajah orang yang akan meledak seperti di film-film horor. Minora menunjuk Tori, dia berkata di tengah raung kesakitannya, ''Kau akan mati! Kau akan musnah!''

Tatsuya mengepalkan tangannya, dan Minora langsung melebur menjadi kabut dan menguap seperti asap. Tori menelan ludahnya tercengang, dia menoleh kearah Tatsuya yang masih tenang menatapnya. ''Sebenarnya kau ini siapa?'' tanya Tori pelan, ''kenapa kau selalu muncul saat monster-monster itu mengacau?''

''Namaku Tatsuya,'' jawabnya, ''aku adalah salah satu penghuni Pandora. Aku datang kemari untuk membantu kalian, para penghuni Pandora menyegel kembali Shora.''

Ming.

''Aku.... Aku bukan penghuni Pandora,'' kata Tori cengo.

Tatsuya tersenyum. ''Memang bukan kau,'' katanya, ''nah, dimana teman-temanmu? Akan kuceritakan potongan kisah Pandora yang tidak pernah kalian dengar. Kisah ini yang akan membantu kalian mengenaliku. Dan Pandora lainnya.''
*