Rabu, 28 Oktober 2015

Pandora 04


 Title : Pandora
Author : Veve
Genre : Fantasy, Comedy, Romance
Cast :
All Hey! Say! JUMP Members
Kawazoe Tori / OC
Ishihara Mio / OC
Watanabe Ayaka / OC
Fukushi Hiroko / OC
Other casts will revealed
Length : Chapter
*
Chapter 4

Mio berjalan santai sambil bersiul. Hari ini dia tidak memakai sepeda seperti biasa, karena rantai sepedanya rusak. Mio melangkah sambil melihat-lihat bangunan yang berjajar, dia mengeluarkan ponselnya dan mulai mendengarkan musik.

Mio menoleh, dia berhenti lalu melangkah mundur. Dahi Mio berkerut melihat seseorang di gang sempit seberang jalan. 'Sepertinya itu Tegoshi Sensei,' batin Mio, 'sedang apa dia disana?'

''Mio, selamat pagiiiii!''

Mio menoleh, dia tersenyum kepada Ryosuke yang berlari kearahnya. ''Selamat pagi,'' balas Mio. Ryosuke merangkul Mio dan berkata, ''Kau melihat apa, sih, sampai serius begitu?''

Mio menoleh, dia terkejut melihat tidak ada siapa-siapa di gang seberang jalan. ''Aku....'' Mio menoleh menatap Ryosuke, dia melongo saat matanya menangkap sosok Tegoshi melangkah diantara murid-murid lain. ''Selamat pagi,'' Tegoshi berhenti dan menyapa Mio beserta Ryosuke, ''kalian tidak masuk? Gerbang akan ditutup.''

Ryosuke menoleh, dia memekik kaget, ''Gerbang!'' Ryosuke segera menarik Mio dan berlari masuk sekolah. Mio menoleh, dia melihat Tegoshi yang berjalan ke sekolah. 'Apa aku salah orang, ya?' batin Mio, 'tapi itu memang seperti Tegoshi Sensei.'

Tegoshi berhenti sejenak di gerbang, dia berbalik dan menatap kearah gang sempit. Tegoshi tersenyum, dia membungkuk kecil dan kembali berjalan masuk sekolah.

Tori muncul diantara murid-murid yang berlarian masuk gerbang. Dia menoleh, lalu mengerutkan dahi dan kembali menatap Tegoshi. 'Orang aneh,' batin Tori, 'dia memberi salam kepada siapa? Apa semua seniman begitu, ya?' Tori mengendikkan bahu dan berlari menuju kelasnya.
*
Yuto menguap kesekian kalinya, dia menopangkan kepalanya di tangan dan menatap bosan kearah papan tulis. Yuto menoleh, dia berdecih melihat Keito begitu serius memperhatikan materi biologi yang baginya sangat membosankan itu.

Yuto menatap keluar jendela, dia memperhatikan iring-iringan awan di luar. Yuto tersenyum, dia merasa damai melihat suasana di luar sana. Dari jauh matanya menangkap sebuah istana yang megah dan indah. Istana itu berkilauan seperti permata, dengan halaman yang luas dan dipenuhi bunga-bunga aneka warna.

Hah?

Yuto menegakkan duduknya, dia mengerjapkan mata dan menatap keluar dengan dahi berkerut heran. Istana? Kok ada istana? Yuto mencondongkan tubuhnya ke jendela dan memastikan penglihatannya tidak sedang bermasalah.

''Nakajima!''

Yuto tersentak, dia menoleh menatap guru biologi. Yuto melirik dan terkekeh pelan saat menyadari semua mata menatapnya. ''Cuci mukamu,'' kata guru itu, ''sana.''

Yuto berdiri, dia melangkah pelan keluar kelas. Beberapa murid terkikik geli melihat Yuto dimarahi begitu.

Yuto berbelok dan masuk toilet, lalu membasuh mukanya. Yuto menghela napas, dia menatap bayangannya cermin. ''Aaaaa,'' Yuto mengerang, ''apa kata dunia kalau mereka tahu Yuto ditegur oleh guru di kelas? Memalukan sekali.''

Yuto melangkah keluar, dia lalu celingukan. ''Kok sepi?'' gumamnya, dia melangkah keluar toilet. ''Kenapa suasananya berbeda?'' Yuto celingukan, ''kemana semua orang?''

Yuto berhenti di ujung lorong, dia berbalik. Yuto sedikit tersentak melihat ada seseorang berjubah hitam di ujung lorong persis di depannya. Yuto menatap bingung orang itu, dia melangkah dan berkata, ''Oi, kau siapa? Dan aku dimana?''

''Di depan gerbang kematianmu.''

Yuto berhenti seketika. ''Wohoo, apa maksudmu?'' tanya Yuto, ''jangan bercanda.''

Orang itu melepaskan jubahnya. Yuto menjerit kaget, dia lalu melongo dan menatap orang itu dengan mata memicing. ''Kau jelek,'' komentar Yuto, ''tidak menarik sama sekali.''

''Mana ada kematian yang menarik?'' balas orang itu, ''aku dikirim Yang Mulia untuk membunuhmu. Membunuh Pandora.''

Yuto mengerutkan dahi. ''Pandora?'' tanyanya, ''tunggu, kau bicara ap....''

Belum selesai Yuto bicara, tubuhnya terhempas keras di lantai. Yuto meringis, dia merasa tulang-tulangnya seperti remuk. Yuto baru setengah berdiri saat orang itu menghantamkan seperti bola besi ke dadanya. Yuto kembali terhempas, dia memuntahkan sedikit darah.

''Pandora tidak membutuhkan orang-orang lemah,'' desis orang itu, dia mencekik kuat leher Yuto, ''Pandora dan alam semesta akan dipimpin oleh Shora, dan keberadaan kalian hanya menjadi pengganggu.''

Yuto tersedak, dia berusaha melepaskan cekikan orang aneh itu. Tapi tenaganya seakan menghilang, dia bahkan tidak bisa menyingkirkan tangan orang itu dari lehernya. ''Selamat datang di neraka, Tuan,'' orang itu menyeringai, ''nikmatilah sisa hidupmu ini.''

''Yuto!''

Yuto melirik, matanya mulai berair. Yuto merasa mendengar suara Keito dari kejauhan. Dia tersedak lagi saat orang itu menguatkan cekikannya.

''Yuto bangunlah!''

''Yuto, buka matamu!''

''Yuto, kalau kau tidak bangun kau akan mati!''

''Ayo Yuto bangunlah!''

''Yuto!''

''Yuto, kalau kau mau bangun aku tidak akan memukul kepalamu lagi dan akan mengijinkanmu mendekati Tori!''

''Yuto, buka matamu!''

''Dia hanya ilusi, Yuto!''

''Yuto, ayo bangun!''

''Kau tidak bisa mati dengan cara seperti ini!''

''Yuto, bangunlah! Kau bisa mengalahkannya!''

Yuto semakin kehabisan napas. Dia bisa mendengar suara teman-temannya, hanya saja Yuto merasa terlalu lemah untuk melepaskan cekikan orang ini.

Hiroko sangat khawatir, dia menoleh dan menghampiri Tori yang diam di sudut ruang kesehatan. ''Tori, hanya kau yang belum menyuruhnya bangun!'' kata Hiroko, ''ayolah, bantu dia!''

''Tori, Yuto bisa mati!'' kata Ayaka, dia ingin menangis melihat tubuh Yuto yang membiru dan seperti kehabisan napas. Darah keluar dari sela-sela bibirnya, dia tersedak beberapa kali namun matanya tertutup rapat.

Tori menatap yang lain, lalu dia menatap Yuto. Tori sangat tidak tega melihat Yuto seperti itu. Tori menatap Yuya, dan Yuya mengangguk kepadanya. ''Setidaknya kau bantu dia,'' kata Yuya, ''setelah itu kau bisa menghindarinya lagi.''

Tori mendekat, dia melihat Yuto. Tori mencengkeram kerah seragam Yuto, dia lalu berkata, ''Kalau kau tidak mau bangun, akan kuhajar kau. Bangun, Yuto.''

Mio menatap Tori, dia bisa menangkap butir airmata di ujung mata temannya itu. ''Bangun, Yuto!'' teriak Tori, ''buka matamu!''

Mio memegang pundak Tori. ''Tori-Chan....''

''Kau selalu mengatakan kalau kau kuat dan tidak terkalahkan!'' kata Tori, ''sekarang bangun! Kalahkan mimpi burukmu dan bangun!''

Yuto menatap orang itu, dia tersedak lagi. Yuto mencengkeram tangan orang itu, dia menggeram dan melepaskan cekikan orang itu lalu menghempaskannya jauh-jauh. Yuto tersengal, dia susah payah bangkit dan berlari menjauhi orang itu.

''Kau tidak akan bisa menghindariku!'' orang itu memekik, dia berlari mengejar Yuto. Yuto panik, dia mempercepat larinya. Yuto dengan cepat meraih sebuah pintu dan membukanya, lalu masuk ke sebuah ruangan dan menutup pintu sebelum orang itu meraihnya.

Yuto terbatuk keras, jemarinya perlahan bergerak. ''Tolong....'' Yuto bergumam lemah, ''tolong aku.''

Semua yang ada disana menghela napas lega. Perawat sekolah segera menangani Yuto, dia berkata, ''Kalian keluarlah. Aku akan mengobatinya.''

Semua orang melangkah keluar ruang kesehatan. ''Astaga, aku tidak menyangka semua ini akan terjadi,'' kata Keito, dia merosot lemas di lantai, ''Dewa, terimakasih banyak.''

''Kalau saja Hikaru tidak melarikan diri ke toilet untuk menghindari Fujiwara Sensei, Yuto tidak akan ditemukan,'' kata Kei, ''dia pasti sudah.... Ah, aku tidak berani membayangkannya.''

Tori menoleh, dia menatap Yabu dan seorang laki-laki di dekatnya. ''Kau sudah menolong kami dua kali,'' kata Tori, ''siapa kau ini?''

Yabu dan laki-laki itu menatap Tori. ''Namaku Tatsuya,'' jawab laki-laki itu, ''Ueda Tatsuya. Aku teman Yabu saat kami sama-sama belajar di kuil Zanzou.''

''Baiklah, kami pergi dulu,'' kata Yabu, ''kalau ada kabar beritahu aku.''

''Terimakasih sudah mau datang,'' Ayaka membungkuk kepada Yabu dan Tatsuya. Mereka berdua tersenyum, lalu melangkah pergi meninggalkan yang lain.

Ryosuke diam menatap Yabu dan Tatsuya. Dia mengerutkan dahi, lalu membatin, 'Sepertinya aku pernah melihat orang itu sebelumnya. Tapi kapan, ya? Sebelum kejadian di hutan itu juga, rasanya aku pernah melihatnya di suatu tempat.'
*
Tegoshi menghela napas, dia melangkah di atap gedung sekolah. ''Mungkin karena dia sudah lama tidak menggunakan kekuatannya, dia jadi tidak bisa maksimal,'' kata Tegoshi, ''Tuan, apa lagi sekarang?''

''Kau bebaskan saja teman-temanmu dulu,'' ucap seorang laki-laki berjubah hitam.

''Hanya tiga orang lagi,'' kata Tegoshi, ''artinya mereka hanya bisa membebaskan tiga tuan saja. Lalu bagaimana dengan Venom?''

''Itu urusan nanti.''

''Kalau saja Venom masih mengingat kita,'' kata Tegoshi, ''ck, menyebalkan. Dia memiliki Tuan yang paling kuat, tapi tidak bisa dilepaskan kalau bukan dia yang membuka segelnya.''

Mereka berdua diam menatap kebawah. ''Tegoshi,'' panggil laki-laki itu.

''Ya, Tuan Sho?'' sahut Tegoshi.

''Kau lepaskan dulu Shige,'' kata Sho, ''setidaknya aku bisa mengandalkan Tuannya.''

Tegoshi diam sejenak, dia tersenyum dan berkata, ''Baiklah akan kulepaskan dia. Tapi.... Soal tabirnya....''

''Tabir itu bisa dihancurkan sekali serang,'' kata Sho, ''makanya aku minta kau bebaskan dulu Shige.''

Tegoshi mengangguk. Sho tersenyum tipis, dia menatap kebawah memperhatikan murid-murid SMA Higashiyama.
***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar