Senin, 02 November 2015

Pandora 06

Title : Pandora
Author : Veve
Genre : Fantasy, Comedy, Romance
Cast :
All Hey! Say! JUMP Members
Kawazoe Tori / OC
Ishihara Mio / OC
Watanabe Ayaka / OC
Fukushi Hiroko / OC
Other casts will revealed
Length : Chapter
*
Chapter 6


''HIROKO!''

Daiki tersentak bangun, dia terengah-engah dan wajahnya sangat panik. Daiki menghela napas dan kembali berbaring, dia menatap langit-langit kamarnya. Daiki bermimpi buruk, sangat buruk. Dia bermimpi Hiroko berlari menjauhinya. Daiki berusaha menjangkau Hiroko, tapi dia ditahan oleh Yabu. Dan dari kejauhan Daiki melihat Hiroko menghilang begitu saja dari hadapannya.

Pertanda apa ini?

Daiki menoleh, dia segera bangun dan mengambil ponselnya yang berdering. Daiki segera menjawab panggilan dari Hiroko. ''Ya halo, Hiroko-Chan?'' kata Daiki.

'Eh? Tumben kau belum tidur,' kata Hiroko.

Daiki menghela napas, dia lega sekali mendengar suara Hiroko. ''Aku belum tidur, kok,'' katanya, ''kau sendiri tumben belum tidur.''

'Aku tidak bisa tidur,' kata Hiroko.

''Tumben,'' kata Daiki jahil.

Terdengar suara Hiroko berdecak. 'Kau tahu, Dai-Chan,' kata Hiroko, 'kukira ada perampok di rumahku tadi. Tapi ternyata aku hanya bermimpi.'

Daiki menegakkan duduknya. 'Aku merasa ada yang mengawasiku dari jendela kamar,' Hiroko bercerita, 'dia mengerikan sekali. Memakai jubah hitam dan melayang seperti hantu. Tapi ternyata aku cuma mimpi.' Hiroko lalu tertawa pelan.

''Syukurlah kalau cuma mimpi,'' kata Daiki, ''tapi.... Kurasa kau harus waspada. Siapa tahu itu betulan.''

'Tenang saja. Aku tinggal memasang foto Tori di jendela dan semua hantu akan kabur karena ketakutan,' balas Hiroko.

Daiki tertawa mendengar lelucon Hiroko. ''Kalau Tori dengar dia akan menghabisi kita,'' kata Daiki.

'Dai-Chan.'

''Hm?''

'Kita banyak mengalami hal aneh sejak hari kita ke hutan waktu itu. Apa ini berhubungan?'

Daiki bersandar, dia berpikir sejenak. ''Iya juga, ya,'' kata Daiki, ''ya ampun, masa aku melepaskan monster-monster itu? Bagaimana ini?''

'Bukannya di sekeliling hutan dipasang tabir pelindung? Mereka tidak akan bisa keluar dari hutan.'

''Tapi bagaimana kalau kasusnya seperti Yuto?''

'Wah, kalau itu aku tidak tahu juga.'

Keduanya terdiam. Daiki berpikir, dan sepertinya Hiroko juga. 'Dai-Chan,' panggil Hiroko.

''Iya?'' balas Daiki.

'Kalau monster itu menyerangku, apa kau akan melindungiku?'

Deg.

Daiki seketika tegang mendengar ucapan Hiroko. ''Kau bicara apa, sih?'' sahut Daiki, ''monster itu tidak akan menyerangmu. Tidak ada yang akan menyerangmu, mereka akan kuhabisi kalau melakukannya.'' Daiki mendadak gelisah, dia kembali memikirkan mimpi tadi. Apa-apaan Hiroko ini? Apa jangan-jangan mimpi Daiki akan jadi nyata? Daiki cepat-cepat membuang pikiran buruk itu dari otaknya.

'Dai-Chan?'

''Aku akan melindungimu,'' kata Daiki lantang, ''kau jangan khawatir.''

'Aku percaya, kok. Ya sudah, aku tidur, ya. Aku mengantuk sekali.'

''Hm. Oyasumi, Hiroko-Chan.''

'Oyasumi, Dai-Chan.'

Sambungan telepon terputus. Daiki menghela napas, dia memejamkan mata dan berusaha menenangkan pikirannya. 'Tidak akan ada yang melukai Hiroko,' batinnya, 'tidak akan.'

Daiki akan berbaring saat ponselnya berbunyi tanda ada pesan masuk. Daiki membuka pesan, dia membaca pesan dari Hiroko.

From : Hiroko-Chan
Cepat tidur, gembul XD

Daiki tersenyum, dia membalas pesan dari Hiroko.

To : Hiroko-Chan
Kau juga, gembul XD

Daiki menekan tombol 'send', dia meletakkan ponselnya di meja dan kembali berbaring. Daiki menghela napas beberapa kali, dia lalu memejamkan mata dan mulai tidur. Besok pagi dia harus sekolah, kalau terlambat dia akan kena masalah.

Masalah utama adalah dia akan mendapat amukan dari Hiroko.
*
''Ayaka-Chaaaaan.''

''Apaaaaa?''

''Bolos, yuk.''

Ayaka menoleh cepat kearah Ryutaro yang memasang wajah memelas. ''Aku bosan, nih,'' kata Ryutaro, ''bolos sekali saja, yuk. Please.''

Ayaka melongo. Ajaib sekali pemuda di depannya ini, dengan santai malah mengajak bolos. ''Tapi kita kan ada tes hari ini,'' kata Ayaka, ''kalau bolosnya setelah tes bagaimana?''

''Ya kalau kau bisa menghadapi Takaki Senpai, sih tidak masalah, Ayaka-Chan,'' balas Ryutaro, ''ayolaaah. Kita bisa ikut tes susulan.''

Ayaka menghela napas, dia menyentuh kedua pipi Ryutaro. ''Kalau kau mau ikut tes ini, aku mau membolos di jam berikutnya,'' kata Ayaka sambil tersenyum, ''janji.''

''Mau bolos itu jangan setengah-setengah.''

Ayaka dan Ryutaro menoleh, Ayaka manyun melihat Tori yang melangkah santai bersama Mio dan Ryosuke kearah mereka. ''Ikut tes susulan saja sana,'' kata Tori sambil berlalu, ''kalau mau bolos itu sekalian, jangan datang ke sekolah lalu kabur. Kau bukan ahli kabur dari sekolah seperti Hikaru Senpai.'' ''Dan kau bukan ahli akting seperti Tori,'' sambung Ryosuke, ''kalau Tori, dia bisa pura-pura sakit atau hal lain yang membuat staf sekolah akan mengijinkannya pulang. Kalau kau malah akan gugup dan pasti ketahuan.'' ''Sudahlah, sana pergi,'' kata Mio, ''mending ikut tes susulan.''

''Kalian memang sahabatku,'' kata Ryutaro senang, ''aku berterimakasih kepada kalian.'' Ryutaro menatap Ayaka yang cengo menatapnya, dia berkata dengan semangat, ''Ayo kita pergi.''

''Lho tunggu,'' Ayaka menoleh saat Ryutaro menyeretnya, ''bagaimana kalau Sensei bertanya?'' Ayaka melihat Ryosuke melambaikan selembar kertas. Ayaka masih bingung dengan maksud Ryosuke, tapi dia tetap mengikuti Ryutaro.

Ryosuke menghela napas. ''Mau bolos kok diskusi,'' katanya, ''eh Mio, kita bolos juga, yuk.''

Ming.

''Yama-Chan, kau kan harus mengumpulkan tugas hukumanmu,'' kata Mio, ''kau mau hukumanmu ditambah sepuluh kali lipat?''

Ryosuke diam, detik berikutnya dia mengerang. ''Aaah mou,'' keluhnya, dia berjalan gontai masuk sekolah, ''aku benci Tegoshi Sensei.''

''Tegoshi Sensei juga membencimu,'' sahut Tori cuek. Dia menatap Ryosuke dan melesat kencang menghindari Ryosuke yang melotot kearahnya.
*
Ayaka dan Ryutaro duduk di kursi taman sambil memakan burger. ''Ternyata bolos enak juga, ya,'' kata Ayaka terkikik.

Ryutaro tersenyum, dia merangkul Ayaka dan berkata, ''Awas keterusan, ya.''

Ayaka terkekeh, dia kembali memakan burgernya. Ayaka lalu celingukan, dia mengerutkan dahi. ''Tumben tamannya sepi,'' ujar Ayaka, ''biasanya ramai.''

Ryutaro menatap sekeliling. ''Iya juga, ya,'' gumamnya. Ryutaro menyentuh tengkuknya, dia merasa tidak nyaman. Ryutaro menoleh, dia berkerut melihat stan penjual burger sudah tidak ada disana. ''Lho, kemana penjual burgernya?'' tanya Ryutaro, ''kenapa cepat sekali dia pergi?''

''Ryu....''

Ryutaro menoleh, dia melihat Ayaka terbelalak menatap ke sebuah arah. Ryutaro menoleh, dia terkejut melihat sesosok berjubah hitam. Sosok itu mengenakan topeng tengkorak yang menutupi sebagian wajahnya, mata abu-abunya menatap tajam Ryutaro. Ryutaro segera berdiri di depan Ayaka, dia bertanya lantang, ''Siapa kau?''

''Aku lapar,'' geram sosok itu.

''Ya kalau kau lapar kau pergi saja ke rumah makan,'' kata Ryutaro, ''disana ada kedai ramen. Enak sekali, dan harganya juga murah. Kau bisa makan disana.''

''Aku lapar,'' sosok itu mendekat perlahan, ''aku tidak makan selama ratusan tahun. Aku lapar.''

Ryutaro mengerutkan dahi bingung. ''Kok bisa dia menahan lapar selama ratusan tahun?'' gumam Ryutaro, ''memangnya dia vampir?''

Ayaka terkejut mendengar ucapan Ryutaro. Dia menoleh kearah sosok itu, lalu berkata, ''Ryutaro, kita harus lari sekarang.''

Ryutaro menatap sosok itu. Dia menggenggam erat tangan Ayaka, lalu berlari sekencang mungkin bersama Ayaka. ''Kalau mau makan cari di hutan sana!'' teriak Ryutaro.
*
''Aku tidak paham dengan soal nomor 15 tadi, Kei,'' kata Yuya, ''kau bisa, kan, menjelaskannya kepadaku?''

''Tenang saja,'' kata Kei, ''aku akan menjelaskannya. Aku paham kapasitas otakmu yang terbatas.''

Yuya berdecak kesal, dan Kei terkekeh geli. Mereka berjalan menuju kelas, setelah melarikan diri sejenak dari Sakamoto Sensei, si guru genit wali kelas mereka. ''Aku tidak mengerti soal semua kejadian yang terjadi belakangan ini,'' kata Yuya, ''apa menurutmu mereka benar-benar dari Pandora?''

''Sepertinya iya,'' kata Kei, ''menurutmu mereka datang darimana kalau bukan dari Pandora?''

''Ya siapa tahu mereka datang dari luar angkasa,'' kata Yuya, ''segala kemungkinan itu ada, kan. Lagipula bukannya Pandora itu...... Lho, Tori?'' Yuya berhenti melangkah, dia melihat Tori berlari menuju halaman belakang sekolah.

Kei ikut menoleh, dia mengerutkan dahi. ''Ya ampun anak itu nakal sekali, sih,'' Yuya menggerutu, ''dia pasti mau bolos. Akan kususul dia.'' Yuya melangkah, tapi Kei menahannya dan berkata, ''Kenapa kau pusing, sih? Yang bolos, kan, Tori. Biarkan sajalah.''

''Tapi ayah Tori memintaku mengawasinya,'' kata Yuya, ''aku akan segera kembali.'' Yuya melepaskan pegangan tangan Kei, dia berlari meninggalkan kawannya itu.

Kei menghela napas, dia akhirnya melangkah ke kelas. Kei menoleh, dia memutar bolamatanya melihat Daiki, Ryosuke, Mio, Hiroko, dan Tori mengobrol di kelas. Kei melihat Tegoshi Sensei sedang menerangkan materi kesenian, hal itu membuat Kei menghela napas. ''Anak-anak tidak tahu aturan,'' kata Kei sambil melangkah, ''ada guru sedang menerangkan materi mereka malah mengobrol. Tori pasti biang keladinya.''

Eh.

Kei langsung berbalik kembali menatap kelas Ryosuke. ''Lho?'' Kei bingung, ''kalau Tori ada di kelas, lalu yang dikejar Yuya tadi siapa?'' Kei diam sejenak, dia tiba-tiba terbelalak dan segera berlari menyusul Yuya. 'Jangan bilang kalau ada yang menjebak Yuya,' batinnya panik, 'aku harus segera mencegahnya menemui orang itu.'

''Inoo Senpai kenapa?'' tanya Hiroko, ''aneh sekali dia.''

''Dia tadi melihat kesini, kan?'' tanya Mio, ''mencari apa dia?''

''Ehem.''

Tori, Mio, Hiroko, Daiki, dan Ryosuke buru-buru menghadap ke depan mendengar deheman Tegoshi. Mereka terkikik kecil, mulai mencatat materi yang diterangkan guru baru itu. Tori menoleh, dia menatap keluar kelas. 'Kenapa aku merasa tidak nyaman, ya?' batinnya, 'ah sudahlah. Cuma perasaan.'
*
BRAK!

Ayaka menjerit dan menolong Ryutaro yang terbanting kuat menabrak tumpukan kotak kayu. ''Jangan disini, Ayaka!'' kata Ryutaro, ''lari! Aku akan menahannya!''

''Kau bisa apa, hah?!'' balas Ayaka, ''kau sudah terluka begini, lalu bagaimana bisa aku meninggalkanmu?!''

Ryutaro berdiri, dia menatap monster aneh yang tampak marah itu. Taringnya mencuat, wajahnya seperti tengkorak. Ryutaro menatap Ayaka, dia berkata, ''Cari bantuan. Aku akan menahannya.''

''Ryutaro....''

''Kubilang cari bantuan!'' teriak Ryutaro, dia mendorong Ayaka menjauhi lokasi. Ryutaro mengambil balok kayu, dia berlari dan menghantamkannya kearah monster itu. Monster itu meraung dan terhuyung, tapi kemudian dia mengayunkan tangannya dan menghantam Ryutaro hingga dia terhempas jauh.

Ayaka berhenti, dia berbalik menatap Ryutaro yang sudah tampak kelelahan. ''Ini yang membuatku tidak mau membolos,'' kata Ayaka panik, ''aku harus minta bantuan siapa? Aku harus bagaimana?'' Ayaka kebingungan, dia lalu teringat teman-temannya. Ayaka mengambil ponselnya, mencoba menghubungi Tori. Entah kenapa Tori yang terlintas di pikirannya.

'Apa?' suara Tori terdengar.

''Tori tolong aku!'' kata Ayaka.

'Hah? Kau kenapa?'

''Tori! Kumohon tolong aku! Ada makhluk aneh menyerangku dan Ryutaro!'' Ayaka menjerit terisak.

'Monster apa?'

''Cepat kemari!'' Ayaka menjerit histeris. Dia kesal sekali dengan Tori yang malah bertanya aneh-aneh.

''AAAAAA!''

Ayaka tersentak, dia menjatuhkan ponselnya. Dia terbelalak melihat monster itu menggigit lengan Ryutaro. ''Lepaskan Ryutaro!'' Ayaka menjerit, dia melempari monster itu dengan apa saja yang dia temukan.

Usahanya membuahkan hasil. Monster itu terusik dengan lemparan asalnya dan menoleh menghadap Ayaka. Monster itu menggeram, dia melesat dan mencekik Ayaka lalu meraung keras.

''Menyingkir dari Ayaka-Chan!'' Ryutaro berlari dan menancapkan kayu ke tengkuk monster itu. Monster itu melepaskan Ayaka, dia kembali menghadap Ryutaro dan mencakar lengan Ryutaro. Ryutaro menjerit, dia terhuyung lemah dan terjatuh.

''Aku lapar.''

''Kalau lapar kau makan saja binatang di hutan.''

Ayaka menoleh, dia senang luar biasa melihat Daiki dan yang lain ada disana, bahkan Tegoshi Sensei juga ada. ''Minna....'' Ayaka menatap senang yang lain.

Hiroko dan Mio segera menolong Ayaka, sementara Tori memapah Ryutaro yang pingsan. ''Pergilah darisini,'' kata Ryosuke, ''apapun kau, jangan mengganggu manusia.''

Monster itu meraung, dia berlari kearah Ryosuke. ''Ryosuke awas!'' Mio memekik, dia berlari dan menghadang monster itu. Mio terdorong kuat, dia terbanting ke tanah.

''Mio-Chan!'' Ryosuke memapah Mio, dia menggeram marah dan menyerang monster itu, memukulnya di dada. Daiki menggendong Mio yang tersedak kesakitan, dia menoleh kepada Hiroko dan berkata, ''Kita harus pergi! Ryosuke! Ayo menyingkir!''

Ryosuke memukul mundur makhluk itu, dia lalu berlari dan mengambil Mio dari gendongan Daiki. Tegoshi menoleh, dia mengangguk singkat menyuruh monster itu pergi. Dia lalu berlari menyusul murid-muridnya. ''Kita bawa dia ke rumahku,'' katanya, ''tidak jauh dari sini. Ayo.''
*
Yuya berteriak, ''Tori! Oi kau mau kemana?! Tori!''

Yuya terus berlari, dia lalu berhenti dan celingukan. ''Sejak kapan anak itu bisa berlari cepat?'' gerutunya, ''kemana dia sekarang?'' Yuya menoleh kesana kemari mencari Tori, detik berikutnya dia menatap sekeliling. ''Lho ini hutan,'' gumamnya, ''kenapa aku kemari?''

''Apa kabar, Tuan?''

Yuya berbalik, dia menatap seorang laki-laki yang berdiri di depannya. Laki-laki itu memberi tatapan tajam, dia tersenyum kecil. ''Lama sekali tidak bertemu,'' katanya, ''tidak banyak berubah ternyata.''

''Kau siapa?'' tanya Yuya, ''aku tidak ingat punya teman yang wajahnya sepertimu.''

Laki-laki itu tertawa, dia mendekat perlahan, ''Karena kau bukan dia, makanya kau tidak mengenalku. Tapi jujur saja, kau benar-benar keturunannya yang paling sempurna.''

Yuya semakin bingung dengan orang ini. ''Keturunan apa, sih?'' tanyanya, ''kau aneh.''

''Kau tidak tahu?'' laki-laki itu mendekat dan berbisik di telinga Yuya, ''kau adalah keturunan para pengawal Pandora.''
***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar