Title : Pandora
Author : Veve
Genre : Fantasy, Comedy, Romance
Cast :
All Hey! Say! JUMP Members
Kawazoe Tori / OC
Ishihara Mio / OC
Watanabe Ayaka / OC
Fukushi Hiroko / OC
Other casts will revealed
Length : Chapter
*
Chapter
6
''HIROKO!''
Daiki tersentak bangun,
dia terengah-engah dan wajahnya sangat panik. Daiki menghela napas dan kembali
berbaring, dia menatap langit-langit kamarnya. Daiki bermimpi buruk, sangat
buruk. Dia bermimpi Hiroko berlari menjauhinya. Daiki berusaha menjangkau Hiroko,
tapi dia ditahan oleh Yabu. Dan dari kejauhan Daiki melihat Hiroko menghilang
begitu saja dari hadapannya.
Pertanda apa ini?
Daiki menoleh, dia
segera bangun dan mengambil ponselnya yang berdering. Daiki segera menjawab
panggilan dari Hiroko. ''Ya halo, Hiroko-Chan?'' kata Daiki.
'Eh? Tumben kau belum
tidur,' kata Hiroko.
Daiki menghela napas,
dia lega sekali mendengar suara Hiroko. ''Aku belum tidur, kok,'' katanya,
''kau sendiri tumben belum tidur.''
'Aku tidak bisa tidur,'
kata Hiroko.
''Tumben,'' kata Daiki
jahil.
Terdengar suara Hiroko
berdecak. 'Kau tahu, Dai-Chan,' kata Hiroko, 'kukira ada perampok di rumahku
tadi. Tapi ternyata aku hanya bermimpi.'
Daiki menegakkan
duduknya. 'Aku merasa ada yang mengawasiku dari jendela kamar,' Hiroko bercerita,
'dia mengerikan sekali. Memakai jubah hitam dan melayang seperti hantu. Tapi
ternyata aku cuma mimpi.' Hiroko lalu tertawa pelan.
''Syukurlah kalau cuma
mimpi,'' kata Daiki, ''tapi.... Kurasa kau harus waspada. Siapa tahu itu
betulan.''
'Tenang saja. Aku
tinggal memasang foto Tori di jendela dan semua hantu akan kabur karena
ketakutan,' balas Hiroko.
Daiki tertawa mendengar
lelucon Hiroko. ''Kalau Tori dengar dia akan menghabisi kita,'' kata Daiki.
'Dai-Chan.'
''Hm?''
'Kita banyak mengalami
hal aneh sejak hari kita ke hutan waktu itu. Apa ini berhubungan?'
Daiki bersandar, dia
berpikir sejenak. ''Iya juga, ya,'' kata Daiki, ''ya ampun, masa aku melepaskan
monster-monster itu? Bagaimana ini?''
'Bukannya di sekeliling
hutan dipasang tabir pelindung? Mereka tidak akan bisa keluar dari hutan.'
''Tapi bagaimana kalau
kasusnya seperti Yuto?''
'Wah, kalau itu aku
tidak tahu juga.'
Keduanya terdiam. Daiki
berpikir, dan sepertinya Hiroko juga. 'Dai-Chan,' panggil Hiroko.
''Iya?'' balas Daiki.
'Kalau monster itu
menyerangku, apa kau akan melindungiku?'
Deg.
Daiki seketika tegang
mendengar ucapan Hiroko. ''Kau bicara apa, sih?'' sahut Daiki, ''monster itu
tidak akan menyerangmu. Tidak ada yang akan menyerangmu, mereka akan kuhabisi
kalau melakukannya.'' Daiki mendadak gelisah, dia kembali memikirkan mimpi
tadi. Apa-apaan Hiroko ini? Apa jangan-jangan mimpi Daiki akan jadi nyata?
Daiki cepat-cepat membuang pikiran buruk itu dari otaknya.
'Dai-Chan?'
''Aku akan
melindungimu,'' kata Daiki lantang, ''kau jangan khawatir.''
'Aku percaya, kok. Ya
sudah, aku tidur, ya. Aku mengantuk sekali.'
''Hm. Oyasumi,
Hiroko-Chan.''
'Oyasumi, Dai-Chan.'
Sambungan telepon
terputus. Daiki menghela napas, dia memejamkan mata dan berusaha menenangkan
pikirannya. 'Tidak akan ada yang melukai Hiroko,' batinnya, 'tidak akan.'
Daiki akan berbaring
saat ponselnya berbunyi tanda ada pesan masuk. Daiki membuka pesan, dia membaca
pesan dari Hiroko.
From : Hiroko-Chan
Cepat tidur, gembul XD
Daiki tersenyum, dia
membalas pesan dari Hiroko.
To : Hiroko-Chan
Kau juga, gembul XD
Daiki menekan tombol
'send', dia meletakkan ponselnya di meja dan kembali berbaring. Daiki menghela
napas beberapa kali, dia lalu memejamkan mata dan mulai tidur. Besok pagi dia
harus sekolah, kalau terlambat dia akan kena masalah.
Masalah utama adalah
dia akan mendapat amukan dari Hiroko.
*
''Ayaka-Chaaaaan.''
''Apaaaaa?''
''Bolos, yuk.''
Ayaka menoleh cepat
kearah Ryutaro yang memasang wajah memelas. ''Aku bosan, nih,'' kata Ryutaro,
''bolos sekali saja, yuk. Please.''
Ayaka melongo. Ajaib
sekali pemuda di depannya ini, dengan santai malah mengajak bolos. ''Tapi kita
kan ada tes hari ini,'' kata Ayaka, ''kalau bolosnya setelah tes bagaimana?''
''Ya kalau kau bisa
menghadapi Takaki Senpai, sih tidak masalah, Ayaka-Chan,'' balas Ryutaro,
''ayolaaah. Kita bisa ikut tes susulan.''
Ayaka menghela napas,
dia menyentuh kedua pipi Ryutaro. ''Kalau kau mau ikut tes ini, aku mau
membolos di jam berikutnya,'' kata Ayaka sambil tersenyum, ''janji.''
''Mau bolos itu jangan
setengah-setengah.''
Ayaka dan Ryutaro
menoleh, Ayaka manyun melihat Tori yang melangkah santai bersama Mio dan
Ryosuke kearah mereka. ''Ikut tes susulan saja sana,'' kata Tori sambil
berlalu, ''kalau mau bolos itu sekalian, jangan datang ke sekolah lalu kabur.
Kau bukan ahli kabur dari sekolah seperti Hikaru Senpai.'' ''Dan kau bukan ahli
akting seperti Tori,'' sambung Ryosuke, ''kalau Tori, dia bisa pura-pura sakit
atau hal lain yang membuat staf sekolah akan mengijinkannya pulang. Kalau kau
malah akan gugup dan pasti ketahuan.'' ''Sudahlah, sana pergi,'' kata Mio, ''mending
ikut tes susulan.''
''Kalian memang
sahabatku,'' kata Ryutaro senang, ''aku berterimakasih kepada kalian.'' Ryutaro
menatap Ayaka yang cengo menatapnya, dia berkata dengan semangat, ''Ayo kita
pergi.''
''Lho tunggu,'' Ayaka
menoleh saat Ryutaro menyeretnya, ''bagaimana kalau Sensei bertanya?'' Ayaka
melihat Ryosuke melambaikan selembar kertas. Ayaka masih bingung dengan maksud
Ryosuke, tapi dia tetap mengikuti Ryutaro.
Ryosuke menghela napas.
''Mau bolos kok diskusi,'' katanya, ''eh Mio, kita bolos juga, yuk.''
Ming.
''Yama-Chan, kau kan
harus mengumpulkan tugas hukumanmu,'' kata Mio, ''kau mau hukumanmu ditambah
sepuluh kali lipat?''
Ryosuke diam, detik
berikutnya dia mengerang. ''Aaah mou,'' keluhnya, dia berjalan gontai masuk
sekolah, ''aku benci Tegoshi Sensei.''
''Tegoshi Sensei juga
membencimu,'' sahut Tori cuek. Dia menatap Ryosuke dan melesat kencang
menghindari Ryosuke yang melotot kearahnya.
*
Ayaka dan Ryutaro duduk
di kursi taman sambil memakan burger. ''Ternyata bolos enak juga, ya,'' kata
Ayaka terkikik.
Ryutaro tersenyum, dia
merangkul Ayaka dan berkata, ''Awas keterusan, ya.''
Ayaka terkekeh, dia
kembali memakan burgernya. Ayaka lalu celingukan, dia mengerutkan dahi.
''Tumben tamannya sepi,'' ujar Ayaka, ''biasanya ramai.''
Ryutaro menatap
sekeliling. ''Iya juga, ya,'' gumamnya. Ryutaro menyentuh tengkuknya, dia
merasa tidak nyaman. Ryutaro menoleh, dia berkerut melihat stan penjual burger
sudah tidak ada disana. ''Lho, kemana penjual burgernya?'' tanya Ryutaro,
''kenapa cepat sekali dia pergi?''
''Ryu....''
Ryutaro menoleh, dia
melihat Ayaka terbelalak menatap ke sebuah arah. Ryutaro menoleh, dia terkejut
melihat sesosok berjubah hitam. Sosok itu mengenakan topeng tengkorak yang
menutupi sebagian wajahnya, mata abu-abunya menatap tajam Ryutaro. Ryutaro segera
berdiri di depan Ayaka, dia bertanya lantang, ''Siapa kau?''
''Aku lapar,'' geram
sosok itu.
''Ya kalau kau lapar
kau pergi saja ke rumah makan,'' kata Ryutaro, ''disana ada kedai ramen. Enak
sekali, dan harganya juga murah. Kau bisa makan disana.''
''Aku lapar,'' sosok
itu mendekat perlahan, ''aku tidak makan selama ratusan tahun. Aku lapar.''
Ryutaro mengerutkan
dahi bingung. ''Kok bisa dia menahan lapar selama ratusan tahun?'' gumam
Ryutaro, ''memangnya dia vampir?''
Ayaka terkejut
mendengar ucapan Ryutaro. Dia menoleh kearah sosok itu, lalu berkata,
''Ryutaro, kita harus lari sekarang.''
Ryutaro menatap sosok
itu. Dia menggenggam erat tangan Ayaka, lalu berlari sekencang mungkin bersama
Ayaka. ''Kalau mau makan cari di hutan sana!'' teriak Ryutaro.
*
''Aku tidak paham
dengan soal nomor 15 tadi, Kei,'' kata Yuya, ''kau bisa, kan, menjelaskannya
kepadaku?''
''Tenang saja,'' kata
Kei, ''aku akan menjelaskannya. Aku paham kapasitas otakmu yang terbatas.''
Yuya berdecak kesal,
dan Kei terkekeh geli. Mereka berjalan menuju kelas, setelah melarikan diri
sejenak dari Sakamoto Sensei, si guru genit wali kelas mereka. ''Aku tidak
mengerti soal semua kejadian yang terjadi belakangan ini,'' kata Yuya, ''apa
menurutmu mereka benar-benar dari Pandora?''
''Sepertinya iya,''
kata Kei, ''menurutmu mereka datang darimana kalau bukan dari Pandora?''
''Ya siapa tahu mereka
datang dari luar angkasa,'' kata Yuya, ''segala kemungkinan itu ada, kan.
Lagipula bukannya Pandora itu...... Lho, Tori?'' Yuya berhenti melangkah, dia
melihat Tori berlari menuju halaman belakang sekolah.
Kei ikut menoleh, dia
mengerutkan dahi. ''Ya ampun anak itu nakal sekali, sih,'' Yuya menggerutu,
''dia pasti mau bolos. Akan kususul dia.'' Yuya melangkah, tapi Kei menahannya
dan berkata, ''Kenapa kau pusing, sih? Yang bolos, kan, Tori. Biarkan
sajalah.''
''Tapi ayah Tori
memintaku mengawasinya,'' kata Yuya, ''aku akan segera kembali.'' Yuya
melepaskan pegangan tangan Kei, dia berlari meninggalkan kawannya itu.
Kei menghela napas, dia
akhirnya melangkah ke kelas. Kei menoleh, dia memutar bolamatanya melihat
Daiki, Ryosuke, Mio, Hiroko, dan Tori mengobrol di kelas. Kei melihat Tegoshi
Sensei sedang menerangkan materi kesenian, hal itu membuat Kei menghela napas.
''Anak-anak tidak tahu aturan,'' kata Kei sambil melangkah, ''ada guru sedang
menerangkan materi mereka malah mengobrol. Tori pasti biang keladinya.''
Eh.
Kei langsung berbalik
kembali menatap kelas Ryosuke. ''Lho?'' Kei bingung, ''kalau Tori ada di kelas,
lalu yang dikejar Yuya tadi siapa?'' Kei diam sejenak, dia tiba-tiba terbelalak
dan segera berlari menyusul Yuya. 'Jangan bilang kalau ada yang menjebak Yuya,'
batinnya panik, 'aku harus segera mencegahnya menemui orang itu.'
''Inoo Senpai kenapa?''
tanya Hiroko, ''aneh sekali dia.''
''Dia tadi melihat
kesini, kan?'' tanya Mio, ''mencari apa dia?''
''Ehem.''
Tori, Mio, Hiroko,
Daiki, dan Ryosuke buru-buru menghadap ke depan mendengar deheman Tegoshi.
Mereka terkikik kecil, mulai mencatat materi yang diterangkan guru baru itu.
Tori menoleh, dia menatap keluar kelas. 'Kenapa aku merasa tidak nyaman, ya?'
batinnya, 'ah sudahlah. Cuma perasaan.'
*
BRAK!
Ayaka menjerit dan
menolong Ryutaro yang terbanting kuat menabrak tumpukan kotak kayu. ''Jangan
disini, Ayaka!'' kata Ryutaro, ''lari! Aku akan menahannya!''
''Kau bisa apa, hah?!''
balas Ayaka, ''kau sudah terluka begini, lalu bagaimana bisa aku
meninggalkanmu?!''
Ryutaro berdiri, dia
menatap monster aneh yang tampak marah itu. Taringnya mencuat, wajahnya seperti
tengkorak. Ryutaro menatap Ayaka, dia berkata, ''Cari bantuan. Aku akan
menahannya.''
''Ryutaro....''
''Kubilang cari
bantuan!'' teriak Ryutaro, dia mendorong Ayaka menjauhi lokasi. Ryutaro
mengambil balok kayu, dia berlari dan menghantamkannya kearah monster itu.
Monster itu meraung dan terhuyung, tapi kemudian dia mengayunkan tangannya dan
menghantam Ryutaro hingga dia terhempas jauh.
Ayaka berhenti, dia
berbalik menatap Ryutaro yang sudah tampak kelelahan. ''Ini yang membuatku
tidak mau membolos,'' kata Ayaka panik, ''aku harus minta bantuan siapa? Aku
harus bagaimana?'' Ayaka kebingungan, dia lalu teringat teman-temannya. Ayaka
mengambil ponselnya, mencoba menghubungi Tori. Entah kenapa Tori yang terlintas
di pikirannya.
'Apa?' suara Tori
terdengar.
''Tori tolong aku!''
kata Ayaka.
'Hah? Kau kenapa?'
''Tori! Kumohon tolong
aku! Ada makhluk aneh menyerangku dan Ryutaro!'' Ayaka menjerit terisak.
'Monster apa?'
''Cepat kemari!'' Ayaka
menjerit histeris. Dia kesal sekali dengan Tori yang malah bertanya aneh-aneh.
''AAAAAA!''
Ayaka tersentak, dia
menjatuhkan ponselnya. Dia terbelalak melihat monster itu menggigit lengan
Ryutaro. ''Lepaskan Ryutaro!'' Ayaka menjerit, dia melempari monster itu dengan
apa saja yang dia temukan.
Usahanya membuahkan
hasil. Monster itu terusik dengan lemparan asalnya dan menoleh menghadap Ayaka.
Monster itu menggeram, dia melesat dan mencekik Ayaka lalu meraung keras.
''Menyingkir dari
Ayaka-Chan!'' Ryutaro berlari dan menancapkan kayu ke tengkuk monster itu.
Monster itu melepaskan Ayaka, dia kembali menghadap Ryutaro dan mencakar lengan
Ryutaro. Ryutaro menjerit, dia terhuyung lemah dan terjatuh.
''Aku lapar.''
''Kalau lapar kau makan
saja binatang di hutan.''
Ayaka menoleh, dia
senang luar biasa melihat Daiki dan yang lain ada disana, bahkan Tegoshi Sensei
juga ada. ''Minna....'' Ayaka menatap senang yang lain.
Hiroko dan Mio segera
menolong Ayaka, sementara Tori memapah Ryutaro yang pingsan. ''Pergilah
darisini,'' kata Ryosuke, ''apapun kau, jangan mengganggu manusia.''
Monster itu meraung,
dia berlari kearah Ryosuke. ''Ryosuke awas!'' Mio memekik, dia berlari dan
menghadang monster itu. Mio terdorong kuat, dia terbanting ke tanah.
''Mio-Chan!'' Ryosuke
memapah Mio, dia menggeram marah dan menyerang monster itu, memukulnya di dada.
Daiki menggendong Mio yang tersedak kesakitan, dia menoleh kepada Hiroko dan
berkata, ''Kita harus pergi! Ryosuke! Ayo menyingkir!''
Ryosuke memukul mundur
makhluk itu, dia lalu berlari dan mengambil Mio dari gendongan Daiki. Tegoshi
menoleh, dia mengangguk singkat menyuruh monster itu pergi. Dia lalu berlari
menyusul murid-muridnya. ''Kita bawa dia ke rumahku,'' katanya, ''tidak jauh dari
sini. Ayo.''
*
Yuya berteriak, ''Tori!
Oi kau mau kemana?! Tori!''
Yuya terus berlari, dia
lalu berhenti dan celingukan. ''Sejak kapan anak itu bisa berlari cepat?''
gerutunya, ''kemana dia sekarang?'' Yuya menoleh kesana kemari mencari Tori,
detik berikutnya dia menatap sekeliling. ''Lho ini hutan,'' gumamnya, ''kenapa
aku kemari?''
''Apa kabar, Tuan?''
Yuya berbalik, dia
menatap seorang laki-laki yang berdiri di depannya. Laki-laki itu memberi
tatapan tajam, dia tersenyum kecil. ''Lama sekali tidak bertemu,'' katanya,
''tidak banyak berubah ternyata.''
''Kau siapa?'' tanya
Yuya, ''aku tidak ingat punya teman yang wajahnya sepertimu.''
Laki-laki itu tertawa,
dia mendekat perlahan, ''Karena kau bukan dia, makanya kau tidak mengenalku.
Tapi jujur saja, kau benar-benar keturunannya yang paling sempurna.''
Yuya semakin bingung
dengan orang ini. ''Keturunan apa, sih?'' tanyanya, ''kau aneh.''
''Kau tidak tahu?''
laki-laki itu mendekat dan berbisik di telinga Yuya, ''kau adalah keturunan
para pengawal Pandora.''
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar