Rabu, 20 Agustus 2014

My Teacher, My Enemy, My...... Love? part 4

Part terakhir is here, epriwaaaaannnnnn
enjoy yaaaaaaa

~~~
"KAKAAAAAAKKKK!!"

"BERISIK! JANGAN TERIAK-TERIAK KAYAK ORANG KECOPETAN!"

Akira meletakkan pisaunya, dia baru saja berbalik saat Kouta menabraknya dengan tenaga seratus kuda. Untung saja Kouta dengan sigap menahan tubuh Akira agar tidak terjatuh.

"Kakakululusujianakhirterusnilaimatematikakubagusbanget!"

Akira melongo. Adiknya ini kesambet setan dimana ngomongnya jadi kayak gitu? "Kamu ngomong apa? Kakak nggak ngerti sumpah deh," kata Akira dengan cengo.

Kouta menghela napas. "Kak-aku-lulus-ujian-akhir-terus-nilai-matematikaku-bagus-banget," Kouta mengeja kata-katanya tadi. Kouta mengeluarkan selembar kertas dari tasnya, lalu diberikan kepada Akira. "Liat, deh berapa nilai matematikanya," kata Kouta, tidak bisa menyembunyikan rasa bangga dan leganya. Akira yang masih saja cengo membaca daftar nilai ujian akhir Kouta, lalu berhenti di baris nilai terakhir.

Matematika : 98

.

.

.

.

"WAAAA!! AKHIRNYA KAMU LULUS! AKHIRNYA NILAI MATEMATIKAMU BAGUS JUGA AKHIRNYAAAA! YA AMPUN KOUTA KAKAK BANGGA BANGET SAMA KAMU!"

"Kak, jangan heboh kayak abis dapet lotere, deh," balas Kouta sweatdrop melihat kehebohan kakaknya yang terlonjak kegirangan. Jadi sebenernya yang ujian itu siapa? Kenapa malah Kak Akira yang bahagia tralala trilili gitu?

"Jadi gimana ceritanya kamu dapet nilai sebagus ini?" tanya Akira. Kouta menunduk, senyumnya agak pudar. "Ada temen-temen yang mau ngajarin aku," jawab Kouta, "dan ada satu temennya Micchy yang paling berjasa ngajarin aku. Namanya.... Kaito."

Kouta menghela napas, memorinya tentang Kaito kembali terbuka. Sejak hari itu, dia sama sekali tidak bertemu Kaito. Masih ingat? Itu, lho, yang kakinya Kouta kejepit pintu. Itu sudah berlalu sekitar tiga bulan. Lama juga, ya.

"Oh yang kamu panggil Kaitonggosongong itu, ya?" terka Akira, dan Kouta mengangguk pelan. "Aku belajar dari rumus-rumus sama soal-soal yang dia kasih," Kouta menunjukkan beberapa lembar kertas yang dia jadikan satu menyerupai makalah, "cuma darisini, Kak. Nggak tau kenapa rumus yang dia tulis itu lebih gampang dihapal, padahal sama aja kayak yang di buku."

Mendengar ucapan Kouta, Akira tersenyum. "Kamu harus ngucapin terimakasih ke dia," katanya, "bawain kue atau apa gitu."

Kouta mengangguk perlahan. Bagaimana dia bisa mengucapkan terimakasih kalau bertemu saja dia sudah tidak pernah? Kalaupun bertemu, rasanya Kouta kurang yakin Kaito masih mau memaafkan dia. Sepertinya Kaito benar-benar marah karena kejadian waktu itu.

"Eh, Kak," kata Kouta, "berarti komik, video game, sama laptopku bisa balik, kan?"

"Ambil aja di kamar Kakak," jawab Akira sambil mengupas kentang, "di laci bawah kasur."

Kouta bergegas masuk kamar Akira. Tidak sabar rasanya dia menyentuh kembali barang-barang kesayangannya itu. Tak lama terdengar Kouta kembali berteriak. "Komiknya mana, Kak?"

Akira berhenti mengupas kentang, dia menoleh menatap Kouta yang keluar kamar sambil menyeringai aneh. Kouta cengo, mendadak dia merasakan aura kurang mengenakkan dari Akira. "Komik, ya," ujar Akira, "udah Kakak loakin minggu lalu, belum gajian soalnya."

.

.

.

.

.

"UAPA?!"
~~~
Kaito berjalan pelan menyusuri jalanan sambil menyeruput jus jeruk. Dia sendirian, Zack tidak mau diajak jalan-jalan karena Peco baru saja menjalani operasi usus buntu. Dan sebagai rasa sayang, Zack ngotot tidak mau makan sampai Peco kentut.

Kok Kaito malah asyik minum jus?

Iya, dong. Kaito, kan, bukan pacarnya Peco. Dia juga masih sayang nyawa, sayang perut. Kaito jelas memilih makan daripada kelaparan nungguin orang kentut.

Darisini aja udah keliatan kalau Kaito emang luar biasa. Songongnya.

Kaito perlahan berhenti, lalu berbalik sejenak. 'Kok....' batinnya, 'perasaan gue jadi nggak enak, ya?' Kaito mengendikkan bahunya, lalu kembali berjalan sambil menikmati jus jeruknya.

"Kak Kaito!"

Gubrak!

Kaito shock, dia melongo saat jus jeruknya terciprat ke muka dan bajunya. Dia semakin cengo saat menyadari yang menabraknya adalah Kouta.

Kouta.

'Jadi ini jawaban feeling nggak enak gue,' batin Kaito, 'jangan-jangan ini anak emang bakat bawa apes buat gue kali, ya."

"Eh.... Maaf, Kak," Kouta mengambil saputangannya, lalu mengusap muka Kaito membersihkan cipratan jus jeruk di mukanya. Kaito tidak berkedip sama sekali, dia seakan tersedot ke masalalu saat pertama kali bertemu Kouta.

Eh.

Kaito tersadar, dia menoleh. Dia menyadari ini tempat pertama kalinya dia bertemu Kouta dua tahun lalu, saat Kouta masih duduk di kelas satu SMA dan Kaito masih semester dua kuliah. Selokan, pohon, bahkan kejadiannya sama persis. Bedanya sekarang kaito bawa jus jeruk, bukan es cappucino.

"Elo itu bawa apes melulu, ya," kata Kaito, "dulu ngotorin baju gue, sekarang juga. Ditambah muka gue kena juga. Mau lo apa, sih?"

Kouta mendengus kesal. "Aku cuma mau ngasih tau kalo aku lulus ujian," kata Kouta, "aku lulus SMA."

"Terus gue harus bilang wow gitu?"

"Dan nilai matematikaku 98!"

Kaito terdiam, dia terkejut mendengar kalimat Kouta. "Makasih," bisik Kouta, "aku belajar dari soal-soal yang Kak Kaito kasih buat aku. Dari rumus-rumusnya juga. Makasih banyak." Kouta menatap Kaito. "Sebagai ucapan terimakasih aku traktir makan kue di tokonya Tante Oren. Ayo." Kouta menarik tangan Kaito, dan Kaito hanya diam mengikuti Kouta. Dia sadar Kouta menarik tangannya, dan itu membuatnya sangat bahagia. Sepertinya Kouta tidak marah lagi kepadanya.

"Tanteeeeeeee," suara cempreng Kouta terdengar syahdu membahana membelah langit. Seorang pria macho tapi gaya tukan rias lekong itu muncul dari dalam sebuah kedai kue bernama Charmant. "Cake coklat dua, ya," kata Kouta semangat.

"Gue nggak suka cake coklat," sahut Kaito, " gue cake pisang aja."

"Oh," kata Kouta, "yaudah, tante. Cake coklat satu sama Cake pisang satu. Kak, ayo duduk disana." Kouta menarik lengan Kaito untuk duduk di tempat yang sedikit rindang. Kaito dengan malas-malasan mengikuti saja apa maunya anak SMA baru lulus ini.

Kaito terus memandangi wajah Kouta yang sedaritadi melihat-lihat sekeliling Charmant dengan wajah berseri-seri. Menurut Kaito, wajah Kouta sudah terlihat lebih dewasa walaupun masih ada sisa kekanak-kanakkan di dirinya. Dia tersenyum kecil, ikut senang dengan kebahagiaan yang dirasakan Kouta.

"Kak, diliat dong nilai-nilaiku," kata Kouta menyodorkan selembar kertas kepada Kaito. Kaito hanya melirik, lalu membalas, "Buat apa? Elo kan udah ngasuh tau semua nilai lo tadi di jalan."

"Duh, diliat aja apa susahnya, sih?" balas Kouta kesal. Kaito mendengus, akhirnya dia mengambil kertas itu dan membaca daftar nilai ujian akhir Kouta. Dia agak takjub dengan nilai-nilai Kouta yang sangat bagus. Dan itu membuat Kaito heran, pelajaran lain Kouta bisa dapet nilai hampir sempurna, tapi kenapa dia bego banget  di pelajaran matematika?

"Bagus-bagus, kan, nilaiku?" Kouta memasang wajah bangga maksimal, "aku nggak sebego yang Kak Kaito bilang dulu."

Kaito mengembalikan kertas itu. "Nilai kayak gitu, sih, udah biasa buat gue," kata Kaito sombong, "norak."

Kouta terdiam, matanya lurus menatap Kaito yang melihat kearah lain dengan posisi duduk bak seorang bos besar. "Kak Kaito masih marah, ya, sama aku?" tanya Kouta pelan. Kaito hanya melirik sekilas, lalu mendengus singkat.

Kouta menunduk, dia bertanya lagi, "Kak Kaito masih marah, kan, sama aku gara-gara waktu itu?"

"Setelah gue nyisihin waktu buat ngajarin elo matematika, setelah gue harus bengek masuk gudang bukain buku-buku matematika SMA gue yang debunya sampe 10 senti, setelah gue begadang bikinin elo soal latihan sama rangkuman rumus, dan setelah gue harus lari dari kampus ke markas lo tiap hari cuma buat ngajarin elo, balesannya cuma maki-maki? Elo bilang gue cuma bikin elo stres? Elo nggak tau, kan, gimana stresnya gue bagi waktu kuliah gue sama ngajarin elo matematika? Sakit hati gue gara-gara omongan elo.Ngerti?"

Kali ini Kouta yang terdiam. Dia merasa sangat bersalah sekarang. "Abisnya Kak Kaito juga, sih, ngata-ngatain melulu," balas Kouta pelan, "ngatain bego, blo'on, payah. Aku juga sakit hati dikatain gitu."

Kaito dan Kouta sama-sama terdiam, entah apa yang sekarang mereka pikirkan.

"Pesanan datang," suara Jonouchi menginterupsi kesunyian sambil menyajikan sepiring cake coklat dan cake pisang, lalu pergi meninggalkan keduanya kembali ke lingkup kesunyian.

"Maaf," suara keduanya terdengar, lalu sama-sama tercengang dan saling pandang.

Kouta tersenyum kecil, akhirnya memilih memakan kuenya. Kaito juga memakan kuenya, dia tesenyum samar. "Aku dikasih hadiah, nggak?" tanya Kouta.

"Enak aja minta hadiah," sahut Kaito, "elo udah ngata-ngatain gue masih sempet juga minta hadiah. Nggak ada!"

"Ada."

"Nggak."

"Ada."

"Nggak."

"Ada. Kan aku udah dapet nilai bagus matematikanya."

"Oke gue kasih hadiah. Tapi elo harus gue hukum dulu. Kan elo udah maki-maki gue."

Kouta melongo. "Jangan aneh-aneh ya hukumannya," kata Kouta pelan. Kaito tersenyum miring, dia menatap Kouta dengan mata memicing tajam. Jujur saja Kouta jadi agak ngeri dengan ekspresi Kaito yang mirip penjahat-penjahat di film koboi.

"Halo, Rat. Nih Kouta makan kue nggak ngajak elo. Gampar aja biar lega."

Kouta mengerutkan dahi, dengan cepat menoleh ke belakang setelah mendengar ucapan Kaito. "Ah, rese," gumam Kouta, "gue diboongin." Kouta menoleh, mulutnya sudah bersiap meluncurkan omelan kepada Kaito.

.

.

.

Kouta terbelalak, berbagai macam perasaan berjejalan di dirinya. Entah sensasi apa yang dirasakannya sekarang. Basah? Hangat? Lembut? Ya, kurang lebih itu yang dirasakannya.

Kaito memundurkan wajahnya menjauhi Kouta, menjilat bibirnya sensual. "Anggap itu hukuman," Kaito tersenyum kecil, "dan hadiah." Kaito kembali menikmati cakenya, sementara Kouta masih shock. Dia tidak tahu harus bicara apa sekarang. Kaito menahan tawa melihat semburat pink merona muncul di pipi Kouta.

"I love you," ujar Kaito, dan itu sangat kaku. Kaito berdehem, dia membenarkan bajunya lalu kembali melahap cakenya. Kouta menatap Kaito, perlahan dia mencondongkan tubuhnya kearah Kaito dan mendekatkan bibirnya ke telinga mahasiswa itu.

"You too."
~~~
"Ya ampun ini salah. Jangan dibagi dulu, woi. Aduuuuuh masih nggak paham juga?"

"Tapi ini rumusnya kan bilangnya dibagi dulu."

"Jangan nurutin rumus yang ini! Ini rumus sesat! Gue udah makan soal ini dari SD. Udah nurut aja kenapa, sih?"

"Nurut sama elo lebih sesat."

"Bilang sekali lagi."

"Idih budeg. Gue bilang nurut sama elo itu lebih s..........."

Ucapan Kouta terhenti mendadak dengan lumatan lembut bibir Kaito di bibirnya. "Ngomel sekali lagi gue makan lo," ancam Kaito, lalu kembali menjelaskan rumus-rumus untuk soal matematika Kouta yang dia buat sebagai persiapan kekasihnya ujian masuk perguruan tinggi.

Kouta terdiam sejenak, lalu tertawa dan menopang pipinya dengan kedua tangan memandangi wajah Kaito yang serius menjelaskan soal-soal itu. Dia baru sadar kalau Kaito itu sangat tampan.

"I love you, Kak Kaito."

"Hm."

"Pait. Jawabnya gitu doang." Kouta mendengus kesal.

Kaito meletakkan pulpennya, menatap Kouta dengan mata memicing. "Mau jawaban yang gimana?" tanya Kaito. "Yang romantis kayak Kak Jonouchi sama Hase," jawab Kouta sambil menyeringai jahil.

"Najis," gumam Kaito. Dia melirik Kouta yang menggerutu "Nggak romantis, kaku, songong, gengsian, blablablablabla", lalu tersenyum kecil. "Udah jangan bawel, kerjain aja soal-soalnya," kata Kaito.

"Tapi kalo bisa aku dapet hadiah, ya," balas Kouta.

"Hm. Udah kerjain."

Kouta tertawa, dia mulai serius mengerjakan soal-soal pemberian Kaito.

"I love you too, Kouta."
~~~
#Bonus# (abaikan aja, nggak penting dan absurd banget)
"Ammmmm," Mai terkikik kecil bersama Micchy setelah keduanya saling menyuapi cake tiramisu. Rat dan Rika saling pandang, lalu memutar bolamata melihat kemesraan keduanya yang terlalu berlebihan. Mereka menoleh, lebih sweatdrop lagi melihat Yuuya dan Chucky yang pacarannya kayak orang bisu. Bicaranya pake bahasa kalbu mungkin. Cuma saling pandang, lalu tersenyum malu-malu, liat-liatan lagi, malu-malu lagi.

"Rika," panggil Rat.

"Apa?"

"Pacaran yuk. Biar nggak ngenes ngeliatin mereka."

"Hah?"

Rika cengo menatap Rat yang tampak lesu. "Wah mabok ni anak satu," kata Rika, "semalem elo minum sake yang dioplos pake apaan? Bensin?"

"Bangke lo," balas Rat, "nyium bau sake aja gue mau muntah pake dioplos bensin. Mati dong gue. Serius nih."

"Elo nggak asik banget, sih, nembaknya. Tapi boleh, sih. Ayo, deh, pacaran."

"Sialan. Ujungnya diterima juga."
*
"Aaaaahhh. Iya Peco, turun sedikit lagi. Aaaahhh iya disitu, terus Peco terus."

"Jangan gerak-gerak dong. Ntar nggak pas."

"Kalo diem aja nggak tahan, Pecooo. Turunan dikit lagi dong. Naah itu dia. Enaknyaaa."

"Tangannya jangan ikut-ikutan! Nggak pas beneran, kan?"

"Aku kan cuma bantuin kamu, beb. Biar makin pas dan makin enak garuknya."

Peco mendengus kesal, dia kembali menggaruk punggung Zack yang kemerahan. Dia jadi penasaran, apa yang dikerjakannya kemarin sama Kaito sampai gatel-gatel kayak orang nggak mandi dua tahun ini.
#Bonus End#
~~~
AKHIRNYA TAMAAAATTTTT!!!!
Thanks to :
Cc Mar, Cc Joonivi, Bebeb Novia, Cc Anna, Mbak Onya, Hera, Natsumo
Yang sudah dengan jahatnya menenggelamkanku ke dalam dunia tokusatsu ini XD
Karu, sang dedek Kookie yang juga setia ngasih pujian buat FFku
Dan buat semuanya yang ngomen dan baca serta setia nungguin FF ini
MAKASIH YAAAAAA
*sungkemin satu-satu*

Selasa, 19 Agustus 2014

My Teacher, My Enemy, My...... Love? part 3B


Hollaaaaaaaaaa
Hai hai hai....
Ada yang kangen?
Atau malah bosen??
Ini sebenernya jadi satu sama part sebelumnya, makanya judulnya part 3B
Maklum, faktor M XD
Oke deh, enjoy ya :D
~~~

Satu bulan berlalu. Semua berjalan seperti biasa. Kouta tetap dengan nila rendahnya untuk matematika, dan yang lain harus berpusing-pusing mengajari Kouta. Namanya solidaritas tanpa batas ya gitu. Susah ditelen bareng-bareng.

Seperti deja vu, hari ini semua member Gaim berkumpul di markas dan sangat tegang duduk mengelilingi meja bundar. Mereka semua menatap selembar kertas terlipat di tengah-tengah meja dengan wajah seperti sedang menghadapi calon mertua. Tegang nggak ada santainya sama sekali. Kertas itu seakan menjadi penentu hidup dan mati mereka hari ini.

Kouta doang sih. Nggak tahu juga kenapa yang lain ikutan tegang.

"Gue nggak sanggup buat buka," gumam Kouta, "gue nerpes." "Nervous, Kak. Nervous," Mai mengoreksi dengan mulut monyong-monyong minta dicium Micchy.

"Iya tau," balas Kouta cepat. Dia kembali menatap kertas itu, susah payah dia menelan ludahnya sendiri. Kertas itu bahkan lebih mengerikan daripada amukan Akira. Dengan tangan gemetar, Kouta mengambil kertas itu dan membukanya lalu meletakkannya kembali di meja agar yang lain bisa melihat juga.

Matematika : 78

.

.

.

.

"KOUTAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!"

Sorak-sorak bergembira terdengar membahana badai ulala di markas. Semua anak loncat-loncat bahagia, mereka mengelu-elukan Kouta yang masih tidak percaya mendapat nilai 78. "Wah, kerja keras lo nggak sia-sia!" kata Rat memekik senang, "akhirnya elo dapet nilai diatas 50!"

"Gue yakin Kak Akira pasti balikin semua komik yang disita," sambung Rika.

Kouta tersenyum senang, akhirnya ikut melompat bahagia dengan yang lain. Eh, tapi kebahagiaan ini tidak boleh dirasakan sendiri. Kaito juga harus tahu kalau dia dapat nilai 78.

Kaito.

Perlahan senyum Kouta memudar, dia pelan-pelan menyingkir dari euforia kebahagiaan yang lain. Kouta menunduk, menatap lembar kertas di tangannya. Kaito, orang songong nan sombong itu berperan besar dalam kemajuan Kouta. Walaupun hanya seminggu, tapi dia telaten mengajari Kouta. Yah, walaupun dengan segala macam cacian dan hinaan, sih.

Haruskah Kouta memberitahu Kaito?

Kouta menoleh, tangannya meraih lembaran kertas di dalam tasnya. Kertas-kertas itu adalah rangkuman rumus dan contoh soal dari Kaito. Kouta menghela napas, dia menyadari kalau sebagian kecil hatinya merindukan kehadiran Kaito. Dia merindukan ejekan Kaito yang mengatainya bodoh, payah, tolol, oon, dan lain-lain. Dia merindukan Kaito yang kadang tersenyum kalau Kouta bisa menyelesaikan satu soal.

Intinya, Kouta merindukan Kaito.

Kouta kembali menghela napas. Dia merasa bersalah sudah membentak Kaito, dan sudah pasti Kaito akan marah besar. Pasti Kaito tidak mau melihatnya lagi. Kouta melirik kertas nilai ujiannya, membayangkan Kaito kalau saja hari itu tidak pernah terjadi.

Kaito pasti masih disini dan tidak akan bereaksi apa-apa. Biasalah, jaga image.

"Eh, gue pergi dulu, ya," Kouta menginterupsi yang lain. " Mau kemana? Ngasih tau Kak Akira?" tanya Yuuya. Kouta hanya tersenyum, dia langsung berlari meninggalkan yang lain.

Kouta harus menemuinya, apapun yang terjadi.
~~~
Kaito memeriksa ulang laporan yang akan dia serahkan kepada dosen besok. Dia yakin sekali kalau laporannya tidak akan mengalami yang namanya perbaikan atau apalah. Pede aja. Kaito, kan, anaknya pinter. Orang pinter, mah, nggak kenal perbaikan. Kenalnya cuma nilai bagus sama juara satu doang.

Kaito menghela napas, dia sudah yakin laporannya benar. Kaito meregangkan tubuhnya, lalu bersandar di dinding kamarnya. Zack dan Peco terdengar bermesraan di ruang tengah, dan jujur saja Kaito iri. Dia hanya sendirian di kamarnya. Jones sih.

Andaikan dia dan Kouta seperti itu.

Eh.

Kouta.

Kaito menatap langit-langit kamar. Bagaimana kabar anak itu? Setahunya sekarang ada ujian untuk anak-anak tingkat akhir SMA. Dia sangat penasaran apakah Kouta ada kemajuan. Apakah nilainya membaik, atau justru dapat nol. Kalau benar begitu, Kaito ingin sekali mengajarinya lagi.

Tapi....

Kouta sudah sangat marah kepadanya.

Kaito merutuki dirinya sendiri. Kenapa dia sekasar itu? Mengatai Kouta bodoh, bahkan memukul kepalanya tanpa ampun. Kouta pasti sangat membencinya sekarang. Dia merasa bersalah, tapi Kaito mempertahankan gengsinya. Dia ogah minta maaf duluan. It's totally not Kaito's style.

"Kaito. Woi."

Kaito menoleh. "Ada tamu," kata Peco, "mau nemuin elo katanya."

"Siapa?" tanya Kaito datar. Dalam hati dia berharap tamu itu adalah Kouta.

"Jonouchi. Dia mau ngambil makalah yang elo pinjem katanya."

Kaito mencelos. Oh, Jonouchi ternyata. Kaito mendengus, menyaut sebuah makalah dan berjalan malas ke pintu. Dia keluar, menemui Jonouchi yang....

"Ehem. Get a room please."

Kaito dengan jelas melihat keterkejutan Jonouchi dan Hase, sang kekasih. Jonouchi dengan sigap melepas cumbuan mesranya dan menatap Kaito dengan salah tingkah sendiri. "Nih, makasih makalahnya," Kaito menyodorkan makalah di tangannya, "lain kali kalo mau ngesuk-ngesuk jangan di muka umum. Dirazia tau rasa lo berdua."

"Oh, oke," Jonouchi masih agak salah tingkah, "aku... aku langsung aja ya. Bye." Jonouchi langsung ngacir bersama Hase tanpa menunggu jawaban dari Kaito. Kaito mendengus, dia agak jijik kalau melihat dua sejoli itu mengumbar kemesraan di muka umum. Berlebihan sekali. Kaito melangkah masuk, lalu menutup pintu.

"Kak Kaito!"

Jdugh!

"Aww!"

Kaito terkejut, dia membuka pintu dengan cepat. Matanya terbelalak melihat Kouta berdiri di depan pintu rumahnya sambil meringis mengusap-usap dahinya. Seketika Kaito merasakan letupan kebahagiaan melihat Kouta. Dia sangat rindu dengan anak SMA itu.

"Mau ngapain lo kesini?" tanya kaito, dia berusaha mendatarkan suaranya, "masih mau marah-marah? Sana ngomong sama tembok." Kaito baru akan menutup pintu ketika Kouta menyahut, "Nilai matematikaku 78!"

Kaito terpaku, tangannya berhenti seketika. "Nilaiku naik, Kak!" Kouta terdengar sangat gembira, "liat, deh. Emang, sih, masih kalah bagus dibandingin nilai-nilai yang lain, tapi seenggaknya nilaiku nggak dibawah 50 lagi."

Kaito berusaha keras menahan tawanya mendengar pengakuan anak SMA di depannya ini. "Halah nilai 78 aja bangganya selangit," balas Kaito, "gue yang dari brojol ditakdirin dapet nlai 100 aja nggak heboh kayak elo."

Kaito bisa melihat perubahan ekspresi Kouta dari tersenyum cerah menjadi kesal. "Masih sempet nyombongin diri," gumam Kouta, "songong amat ini orang satu."

"Ngatain gue songong lagi," sahut Kaito keras, "mending gue songong, daripada elo norak. Udah, ah, gue nggak ada waktu buat elo." Kaito langsung menutup pintu dengan agak keras.

"Kak!"

Kaito berdecak. "Apa lagi?!"

"Buka dulu pintunya!"

"Nyaman banget lo nyuruh gue buka pintu. Ogah!"

"Bentar doang, Kak! Buka dulu!"

"Gue bilang ogah ya ogah!"

"Tapi kaki gue kecepit, Kak! Adududuh!"

kaito terbelalak, dia cepat-cepat menunduk. Benar juga, ada sebuah kaki bersepatu putih terjepit di pintu. Kaito membuka pintu, lagi-lagi matanya melihat Kouta yang meringis kesakitan. Dia lagi-lagi berusaha menahan diri untuk tidak mendekati Kouta, dan akhirnya hanya memasang wajah datar andalannya.

"Aku mau minta maaf," kata Kouta, "maaf udah maki-maki kak Kaito waktu itu. Abisnya Kak Kaito juga nyebelin banget jadi orang. Lidahnya pedes kayak lidah mertua."

Kaito memutar matanya malas. Enak saja lidahnya disamakan dengan lidah mertua. Pedesan lidah mertua, tauk. "Elo minta maaf tapi dibelakangnya masih aja ngatain," kata Kaito, "sana pulang. Maaf gue mahal buat elo." Tanpa basa-basi Kaito menutup pintu. Dia tidak peduli mau Kouta kejedot kek, kakinya kejepit kek bodo amat dah.

"Halah elo pake gengsi segala," suara Zack terdengar. Kaito menoleh, matanya memicing menatap Zack yang tengah menyuapi Peco cake coklat. "maksud lo apaan?" tanya Kaito, "gue emang nggak minat sama anak SMA banyak tingkah kayak dia."

"Nggak usah ngeles kayak bis kejar setoran," sahut Zack, "gue udah kenal elo sejak SD. Gue paham banget kalo elo sebenernya naksir si Kouta itu, cuma elonya aja kegedean gengsi." "Makan tuh gengsi," sahut Peco sambil tertawa.

Kaito mendengus. Kata-kata Peco barusan membuatnya ingin menghajar orang itu andaikan tidak ada Zack di dekatnya. Kaito masuk kamar, menghempaskan tubuhnya di ranjang.

Gengsi.

Iya. Kaito gengsi ingin menyatakan perasaannya kepada Kouta. Sudah lama dia sadar kalau dia menyukai Kouta, apalagi sejak dia menjadi guru les matematika dadakan untuk bocah itu. Kouta itu blo'on, lelet, payah, cerewet kayak emak-emak, tapi itu yang disukai Kaito. Dia suka melihat senyuman kouta, matanya yang menyipit saat tertawa, suara cemprengnya, dan bibirnya yang melekuk indah menggoda iman.

Eh.

Kaito mengerjapkan mata. "Aaaahhhh!!!" Kaito mengerang frustrasi, "Kouta itu...... Aaaahhh!! Gue benci Kouta! Gue benciiiii!"
~~~


N.B : maafkan segala typo yang bertebaran. salahkan keyboard komputer warnet yang minta dibanting.