Title : You And I
Subtitle : Mr. Cold
Author : Mickey
Genre : Romance
Length : Oneshoot
Cast :
Sengoku Ryouma
Takatora Kureshima
~~~
"Aku pulang dulu, ya," kata Yoko, "dah." Ryouma melambaikan tangan sambil tersenyum kepada Yoko, asisten sekaligus sahabatnya. Ryouma menghela napas, dia menoleh menatap jam dinding. Sudah jam sebelas malam. Takatora udah kelar belum, ya?
Ryouma melangkah menuju ruangan Takatora, dan melihat kekasihnya yang makin tua makin ganteng itu masih serius dengan map berisi dokumen penting dan data-data pengeluaran perusahaan. Takatora tampak lelah, meskipun yah wajahnya gitu-gitu aja. Nggak bereskpresi.
"Takatora," Ryouma memanggil Takatora, yang hanya ditanggapi dengan lirikan datar. "Kirain udah pulang," kata Takatora datar. "Ya mana mungkin aku pulang kalau kamu belum pulang," kata Ryouma, dia menyeret kursi dan duduk di samping Takatora, "pulang, yuk. Besok aja itu data diliatinnya."
"Hm," balas Takatora tanpa beralih posisi.
Ryouma menatap Takatora, ingin rasanya dia menonjok wajah kekasihnya itu. Dingin, kaku, datar, lempeng. Tidak bisakah dia bersikap sedikit romantis dan hangat? Tidak perlu seperti Hase dan Jonouchi, duo yang romantisnya keterlaluan itu. Senyum kek sekali-sekali. Sekalinya senyum cuma kalau ada Micchy, habis itu? Udah.
Ryouma jadi cemburu sama Micchy.
"Ayo," kata Takatora membuyarkan lamunan Ryouma. Ryouma berdiri, berjalan di sebelah Takatora. Ryouma mencoba menggandeng tangan Takatora, tapi tanpa bicara Takatora menepis tangan Ryouma dan berjalan sedikit lebih cepat.
"Takatora."
"Apa?"
"Kamu marah sama aku?"
"Nggak."
"Kalau gitu senyum coba."
"Males."
Ryouma melongo, dia sebal sekali. Kapan Takatora bisa senyum dan bersikap hangat kepadanya? Apa Ryouma harus ngancem bunuh diri dulu baru Takatora mau bersikap hangat? Kalau begitu selama ini hubungan mereka ini bagaimana? Apa gunanya Ryouma dan Takatora berpacaran kalau pada akhirnya Takatora sama sekali tidak bisa bersikap romantis?
Jangan-jangan Takatora selingkuh.
Ryouma menggelengkan kepalanya. Mana mungkin Takatora selingkuh. Takatora itu orang yang setia, walaupun dinginnya luar biasa. Yah, mungkin Ryouma harus bersabar. Mungkin suatu saat Takatora akan berubah lebih hangat kepadanya.
~~~
Ryouma masuk ruangan Takatora, senyumnya sangat cerah. "Takatora," sapanya, "makan siang, yuk."
"Nanti aja," jawab Takatora.
"Nii-saaaaaaan," suara Micchy terdengar membahana. Mereka menoleh, Ryouma bisa melihat dari ekor matanya kalau Takatora langsung tersenyum. Oh haruskah Ryouma mendatangkan Micchy agar dia bisa melihat senyum Takatora?
"Nii-san temenin aku keluar, dong," ajak Micchy, "aku mau beli kado buat Rat. Dia kan mau ulangtahun." Takatora meletakkan map di tangannya, berdiri dan segera mengajak Micchy keluar. Ryouma terkejut, hei dia bahkan melewati Ryouma tanpa dosa seakan Ryouma tidak ada disana. Micchy juga tampaknya tidak menyadari kehadiran Ryouma.
Ryouma menunduk, dia jelas merasa sakit hati. Sebenarnya apa hubungannya dengan Takatora? Apa Takatora menjadikannya pacar hanya untuk sebuah status saja? Haruskah Ryouma meninggalkan Takatora? Atau jangan-jangan Takatora menjadikannya pacar hanya untuk menyenangkan Ryouma saja? Tidak tahukah Takatora kalau Ryouma sangat sakit hati dengan perlakuannya?
"Profesor."
Ryouma mendongak, melihat Yoko setengah berlari mendekatinya. "Kamu baik-baik aja, kan?" tanya Yoko. Ryouma menatap Yoko dengan tatapan aku-nggak-baik-baik-aja.
Yoko yang menyadari itu langsung membawa Ryouma meninggalkan ruang kerja Takatora. Yoko merasa hawa ruangan bosnya ini sangat tidak mengenakkan untuk Ryouma.
~~~
"Yaelah elo kayak nggak kenal Takatora aja, sih," kata Sid sambil menyesap kopinya, "dia kan emang gitu. Lempeng, nggak ada ekspresinya. Orang nonton film horor di bioskop yang lain jerit-jerit dia malah masang tampang lempeng." "Sabar aja lah," kata Yoko, "dia mungkin masih belum terbiasa sama statusnya yang udah punya pacar." "Kelamaan ngejomblo bikin dia nggak tau caranya memperlakukan pacar dengan baik," sambung Sid, "sabar aja."
Ryouma menghela napas. Benar juga, sih. Takatora kelamaan jomblo, mungkin itu yang jadi faktor utama dia jadi kaku. Tapi masa senyum aja nggak bisa, sih? "Aku pengen banget dia senyum kayak dia ke Micchy," kata Ryouma, "sekali aja aku pengen dia senyum semanis itu ke aku."
"Tungguin aja sampe Helheim kiamat," balas Sid, "dia cuma bakal senyum kalo ada Micchy."
"Dingin bukan berarti nggak sayang, Profesor," suara Jonouchi terdengar, "Pak Takatora itu kaku, itu watak dasarnya. Tapi bukan berarti dia nggak sayang sama Profesor. Buktinya dia masih bisa senyum walaupun cuma ke Micchy. Artinya dia masih punya sisi lembut."
"Tapi........"
"Setiap orang punya cara sendiri buat menunjukkan perasaannya," sela Jonouchi, "aku nunjukkin perasaanku dengan melayani Hase-Chan sepenuh hati. Kaito nunjukkin perasaannya ke Kouta dengan ngomelin Kouta kalau dia mulai bertingkah. Zack nunjukkin perasaannya dengan memberi motivasi dan mendampingi Peco sepanjang waktu. Pak Takatora mungkin masih mencari metode yang pas buat nunjukkin perasaannya. Dia nggak mau caranya nunjukkin perasaan terkesan kaku. Mungkin dia nyari cara yang bakal terus diinget sama Profesor sampai akhir hayat Profesor."
Ryouma terdiam. Ada benarnya juga omongan Jonouchi. Mungkin Takatora masih bingung gimana caranya nunjukkin perasaannya. Efek kelamaan jomblo tuh pasti.
"Tumben elo bijak," sahut Yoko, "biasanya ngalay tiada henti."
Jonouchi terkekeh saja, sementara Ryouma tersenyum kecil. Oke, dia akan menunggu kejutan apa yang akan diberikan Takatora untuk menunjukkan perasaannya.
~~~
Ryouma menghela napas, dia mengerang sambil meregangkan tubuhnya. Sepertinya dia harus lembur, ada banyak hal yang harus diselesaikan hari ini. Nyesel dia kelamaan nongkrong di Charmant. Gara-gara Sid sama Yoko, nih. Sekarang mereka malah pulang duluan, lari dari tanggung jawab. Awas aja kalo dia dapet uang lembur, Yoko sama Sid nggak bakal dibagi.
Ryouma tersentak saat tiba-tiba Takatora menahan tubuhnya. "Kamu kalo capek istirahat," katanya datar, "untung nggak kejedot lantai itu kepala."
Ryouma menggumamkan terimakasih, dia melirik. Takatora masih saja bersikap biasa, tapi ada sirat kekhawatiran di matanya. "Tumben kemari," kata Ryouma.
"Maaf," kata Takatora.
Ryouma menoleh. Dia nggak lagi mabok, kan? Takatora bilang apa tadi? Maaf?
"Aku denger dari Yoko kalau kamu kecewa sama aku," kata Takatora, "maaf kalau aku nggak perhatian sama kamu. Aku nggak tau gimana memperlakukan pacar dengan baik, karena aku tau pasti beda antara memperlakukan pacar sama memperlakukan adik." Takatora menatap Ryouma, berkata, "Kalau kamu nggak betah kamu boleh nyari pasangan lain."
Ryouma menggeleng. "Aku nggak akan ninggalin kamu cuma karena hal sepele kayak gini," katanya. Takatora langsung menatap Ryouma terkejut. "Sepele?" tanyanya, "kamu nganggep ini sepele?"
Ryouma terkekeh. "Hidupku udah ribet, Takatora," balasnya, "aku nggak mau jadi tambah ruwet dengan meruwetkan masalah kayak gini." Ryouma memegang pipi Takatora, melanjutkan, "Aku ngerti sifatmu. Aku juga minta maaf nggak mau ngerti sama sikap kamu yang emang udah dari sononya lempeng."
Takatora menunduk, dan Ryouma seakan kejatuhan duren melihat Takatora tersenyum tipis. Hanya berdua untuk pertama kalinya tanpa ada Micchy! "Ayo pulang," kata Takatora. Dia berdiri, mengulurkan tangannya kepada Ryouma. Ryouma tersenyum, dia menggandeng tangan Takatora dan berjalan keluar kantor.
~~~
Ryouma melangkah menuju ruangan Takatora, dan melihat kekasihnya yang makin tua makin ganteng itu masih serius dengan map berisi dokumen penting dan data-data pengeluaran perusahaan. Takatora tampak lelah, meskipun yah wajahnya gitu-gitu aja. Nggak bereskpresi.
"Takatora," Ryouma memanggil Takatora, yang hanya ditanggapi dengan lirikan datar. "Kirain udah pulang," kata Takatora datar. "Ya mana mungkin aku pulang kalau kamu belum pulang," kata Ryouma, dia menyeret kursi dan duduk di samping Takatora, "pulang, yuk. Besok aja itu data diliatinnya."
"Hm," balas Takatora tanpa beralih posisi.
Ryouma menatap Takatora, ingin rasanya dia menonjok wajah kekasihnya itu. Dingin, kaku, datar, lempeng. Tidak bisakah dia bersikap sedikit romantis dan hangat? Tidak perlu seperti Hase dan Jonouchi, duo yang romantisnya keterlaluan itu. Senyum kek sekali-sekali. Sekalinya senyum cuma kalau ada Micchy, habis itu? Udah.
Ryouma jadi cemburu sama Micchy.
"Ayo," kata Takatora membuyarkan lamunan Ryouma. Ryouma berdiri, berjalan di sebelah Takatora. Ryouma mencoba menggandeng tangan Takatora, tapi tanpa bicara Takatora menepis tangan Ryouma dan berjalan sedikit lebih cepat.
"Takatora."
"Apa?"
"Kamu marah sama aku?"
"Nggak."
"Kalau gitu senyum coba."
"Males."
Ryouma melongo, dia sebal sekali. Kapan Takatora bisa senyum dan bersikap hangat kepadanya? Apa Ryouma harus ngancem bunuh diri dulu baru Takatora mau bersikap hangat? Kalau begitu selama ini hubungan mereka ini bagaimana? Apa gunanya Ryouma dan Takatora berpacaran kalau pada akhirnya Takatora sama sekali tidak bisa bersikap romantis?
Jangan-jangan Takatora selingkuh.
Ryouma menggelengkan kepalanya. Mana mungkin Takatora selingkuh. Takatora itu orang yang setia, walaupun dinginnya luar biasa. Yah, mungkin Ryouma harus bersabar. Mungkin suatu saat Takatora akan berubah lebih hangat kepadanya.
~~~
Ryouma masuk ruangan Takatora, senyumnya sangat cerah. "Takatora," sapanya, "makan siang, yuk."
"Nanti aja," jawab Takatora.
"Nii-saaaaaaan," suara Micchy terdengar membahana. Mereka menoleh, Ryouma bisa melihat dari ekor matanya kalau Takatora langsung tersenyum. Oh haruskah Ryouma mendatangkan Micchy agar dia bisa melihat senyum Takatora?
"Nii-san temenin aku keluar, dong," ajak Micchy, "aku mau beli kado buat Rat. Dia kan mau ulangtahun." Takatora meletakkan map di tangannya, berdiri dan segera mengajak Micchy keluar. Ryouma terkejut, hei dia bahkan melewati Ryouma tanpa dosa seakan Ryouma tidak ada disana. Micchy juga tampaknya tidak menyadari kehadiran Ryouma.
Ryouma menunduk, dia jelas merasa sakit hati. Sebenarnya apa hubungannya dengan Takatora? Apa Takatora menjadikannya pacar hanya untuk sebuah status saja? Haruskah Ryouma meninggalkan Takatora? Atau jangan-jangan Takatora menjadikannya pacar hanya untuk menyenangkan Ryouma saja? Tidak tahukah Takatora kalau Ryouma sangat sakit hati dengan perlakuannya?
"Profesor."
Ryouma mendongak, melihat Yoko setengah berlari mendekatinya. "Kamu baik-baik aja, kan?" tanya Yoko. Ryouma menatap Yoko dengan tatapan aku-nggak-baik-baik-aja.
Yoko yang menyadari itu langsung membawa Ryouma meninggalkan ruang kerja Takatora. Yoko merasa hawa ruangan bosnya ini sangat tidak mengenakkan untuk Ryouma.
~~~
"Yaelah elo kayak nggak kenal Takatora aja, sih," kata Sid sambil menyesap kopinya, "dia kan emang gitu. Lempeng, nggak ada ekspresinya. Orang nonton film horor di bioskop yang lain jerit-jerit dia malah masang tampang lempeng." "Sabar aja lah," kata Yoko, "dia mungkin masih belum terbiasa sama statusnya yang udah punya pacar." "Kelamaan ngejomblo bikin dia nggak tau caranya memperlakukan pacar dengan baik," sambung Sid, "sabar aja."
Ryouma menghela napas. Benar juga, sih. Takatora kelamaan jomblo, mungkin itu yang jadi faktor utama dia jadi kaku. Tapi masa senyum aja nggak bisa, sih? "Aku pengen banget dia senyum kayak dia ke Micchy," kata Ryouma, "sekali aja aku pengen dia senyum semanis itu ke aku."
"Tungguin aja sampe Helheim kiamat," balas Sid, "dia cuma bakal senyum kalo ada Micchy."
"Dingin bukan berarti nggak sayang, Profesor," suara Jonouchi terdengar, "Pak Takatora itu kaku, itu watak dasarnya. Tapi bukan berarti dia nggak sayang sama Profesor. Buktinya dia masih bisa senyum walaupun cuma ke Micchy. Artinya dia masih punya sisi lembut."
"Tapi........"
"Setiap orang punya cara sendiri buat menunjukkan perasaannya," sela Jonouchi, "aku nunjukkin perasaanku dengan melayani Hase-Chan sepenuh hati. Kaito nunjukkin perasaannya ke Kouta dengan ngomelin Kouta kalau dia mulai bertingkah. Zack nunjukkin perasaannya dengan memberi motivasi dan mendampingi Peco sepanjang waktu. Pak Takatora mungkin masih mencari metode yang pas buat nunjukkin perasaannya. Dia nggak mau caranya nunjukkin perasaan terkesan kaku. Mungkin dia nyari cara yang bakal terus diinget sama Profesor sampai akhir hayat Profesor."
Ryouma terdiam. Ada benarnya juga omongan Jonouchi. Mungkin Takatora masih bingung gimana caranya nunjukkin perasaannya. Efek kelamaan jomblo tuh pasti.
"Tumben elo bijak," sahut Yoko, "biasanya ngalay tiada henti."
Jonouchi terkekeh saja, sementara Ryouma tersenyum kecil. Oke, dia akan menunggu kejutan apa yang akan diberikan Takatora untuk menunjukkan perasaannya.
~~~
Ryouma menghela napas, dia mengerang sambil meregangkan tubuhnya. Sepertinya dia harus lembur, ada banyak hal yang harus diselesaikan hari ini. Nyesel dia kelamaan nongkrong di Charmant. Gara-gara Sid sama Yoko, nih. Sekarang mereka malah pulang duluan, lari dari tanggung jawab. Awas aja kalo dia dapet uang lembur, Yoko sama Sid nggak bakal dibagi.
Ryouma tersentak saat tiba-tiba Takatora menahan tubuhnya. "Kamu kalo capek istirahat," katanya datar, "untung nggak kejedot lantai itu kepala."
Ryouma menggumamkan terimakasih, dia melirik. Takatora masih saja bersikap biasa, tapi ada sirat kekhawatiran di matanya. "Tumben kemari," kata Ryouma.
"Maaf," kata Takatora.
Ryouma menoleh. Dia nggak lagi mabok, kan? Takatora bilang apa tadi? Maaf?
"Aku denger dari Yoko kalau kamu kecewa sama aku," kata Takatora, "maaf kalau aku nggak perhatian sama kamu. Aku nggak tau gimana memperlakukan pacar dengan baik, karena aku tau pasti beda antara memperlakukan pacar sama memperlakukan adik." Takatora menatap Ryouma, berkata, "Kalau kamu nggak betah kamu boleh nyari pasangan lain."
Ryouma menggeleng. "Aku nggak akan ninggalin kamu cuma karena hal sepele kayak gini," katanya. Takatora langsung menatap Ryouma terkejut. "Sepele?" tanyanya, "kamu nganggep ini sepele?"
Ryouma terkekeh. "Hidupku udah ribet, Takatora," balasnya, "aku nggak mau jadi tambah ruwet dengan meruwetkan masalah kayak gini." Ryouma memegang pipi Takatora, melanjutkan, "Aku ngerti sifatmu. Aku juga minta maaf nggak mau ngerti sama sikap kamu yang emang udah dari sononya lempeng."
Takatora menunduk, dan Ryouma seakan kejatuhan duren melihat Takatora tersenyum tipis. Hanya berdua untuk pertama kalinya tanpa ada Micchy! "Ayo pulang," kata Takatora. Dia berdiri, mengulurkan tangannya kepada Ryouma. Ryouma tersenyum, dia menggandeng tangan Takatora dan berjalan keluar kantor.
~~~


