Kamis, 16 Oktober 2014

You And I : Mr. Cold

Title : You And I
Subtitle : Mr. Cold
Author : Mickey
Genre : Romance
Length : Oneshoot
Cast :
Sengoku Ryouma
Takatora Kureshima
~~~
"Aku pulang dulu, ya," kata Yoko, "dah." Ryouma melambaikan tangan sambil tersenyum kepada Yoko, asisten sekaligus sahabatnya. Ryouma menghela napas, dia menoleh menatap jam dinding. Sudah jam sebelas malam. Takatora udah kelar belum, ya?

Ryouma melangkah menuju ruangan Takatora, dan melihat kekasihnya yang makin tua makin ganteng itu masih serius dengan map berisi dokumen penting dan data-data pengeluaran perusahaan. Takatora tampak lelah, meskipun yah wajahnya gitu-gitu aja. Nggak bereskpresi.

"Takatora," Ryouma memanggil Takatora, yang hanya ditanggapi dengan lirikan datar. "Kirain udah pulang," kata Takatora datar. "Ya mana mungkin aku pulang kalau kamu belum pulang," kata Ryouma, dia menyeret kursi dan duduk di samping Takatora, "pulang, yuk. Besok aja itu data diliatinnya."

"Hm," balas Takatora tanpa beralih posisi.

Ryouma menatap Takatora, ingin rasanya dia menonjok wajah kekasihnya itu. Dingin, kaku, datar, lempeng. Tidak bisakah dia bersikap sedikit romantis dan hangat? Tidak perlu seperti Hase dan Jonouchi, duo yang romantisnya keterlaluan itu. Senyum kek sekali-sekali. Sekalinya senyum cuma kalau ada Micchy, habis itu? Udah.

Ryouma jadi cemburu sama Micchy.

"Ayo," kata Takatora membuyarkan lamunan Ryouma. Ryouma berdiri, berjalan di sebelah Takatora. Ryouma mencoba menggandeng tangan Takatora, tapi tanpa bicara Takatora menepis tangan Ryouma dan berjalan sedikit lebih cepat.

"Takatora."

"Apa?"

"Kamu marah sama aku?"

"Nggak."

"Kalau gitu senyum coba."

"Males."

Ryouma melongo, dia sebal sekali. Kapan Takatora bisa senyum dan bersikap hangat kepadanya? Apa Ryouma harus ngancem bunuh diri dulu baru Takatora mau bersikap hangat? Kalau begitu selama ini hubungan mereka ini bagaimana? Apa gunanya Ryouma dan Takatora berpacaran kalau pada akhirnya Takatora sama sekali tidak bisa bersikap romantis?

Jangan-jangan Takatora selingkuh.

Ryouma menggelengkan kepalanya. Mana mungkin Takatora selingkuh. Takatora itu orang yang setia, walaupun dinginnya luar biasa. Yah, mungkin Ryouma harus bersabar. Mungkin suatu saat Takatora akan berubah lebih hangat kepadanya.
~~~
Ryouma masuk ruangan Takatora, senyumnya sangat cerah. "Takatora," sapanya, "makan siang, yuk."

"Nanti aja," jawab Takatora.

"Nii-saaaaaaan," suara Micchy terdengar membahana. Mereka menoleh, Ryouma bisa melihat dari ekor matanya kalau Takatora langsung tersenyum. Oh haruskah Ryouma mendatangkan Micchy agar dia bisa melihat senyum Takatora?

"Nii-san temenin aku keluar, dong," ajak Micchy, "aku mau beli kado buat Rat. Dia kan mau ulangtahun." Takatora meletakkan map di tangannya, berdiri dan segera mengajak Micchy keluar. Ryouma terkejut, hei dia bahkan melewati Ryouma tanpa dosa seakan Ryouma tidak ada disana. Micchy juga tampaknya tidak menyadari kehadiran Ryouma.

Ryouma menunduk, dia jelas merasa sakit hati. Sebenarnya apa hubungannya dengan Takatora? Apa Takatora menjadikannya pacar hanya untuk sebuah status saja? Haruskah Ryouma meninggalkan Takatora? Atau jangan-jangan Takatora menjadikannya pacar hanya untuk menyenangkan Ryouma saja? Tidak tahukah Takatora kalau Ryouma sangat sakit hati dengan perlakuannya?

"Profesor."

Ryouma mendongak, melihat Yoko setengah berlari mendekatinya. "Kamu baik-baik aja, kan?" tanya Yoko. Ryouma menatap Yoko dengan tatapan aku-nggak-baik-baik-aja.

Yoko yang menyadari itu langsung membawa Ryouma meninggalkan ruang kerja Takatora. Yoko merasa hawa ruangan bosnya ini sangat tidak mengenakkan untuk Ryouma.
~~~
"Yaelah elo kayak nggak kenal Takatora aja, sih," kata Sid sambil menyesap kopinya, "dia kan emang gitu. Lempeng, nggak ada ekspresinya. Orang nonton film horor di bioskop yang lain jerit-jerit dia malah masang tampang lempeng." "Sabar aja lah," kata Yoko, "dia mungkin masih belum terbiasa sama statusnya yang udah punya pacar." "Kelamaan ngejomblo bikin dia nggak tau caranya memperlakukan pacar dengan baik," sambung Sid, "sabar aja."

Ryouma menghela napas. Benar juga, sih. Takatora kelamaan jomblo, mungkin itu yang jadi faktor utama dia jadi kaku. Tapi masa senyum aja nggak bisa, sih? "Aku pengen banget dia senyum kayak dia ke Micchy," kata Ryouma, "sekali aja aku pengen dia senyum semanis itu ke aku."

"Tungguin aja sampe Helheim kiamat," balas Sid, "dia cuma bakal senyum kalo ada Micchy."

"Dingin bukan berarti nggak sayang, Profesor," suara Jonouchi terdengar, "Pak Takatora itu kaku, itu watak dasarnya. Tapi bukan berarti dia nggak sayang sama Profesor. Buktinya dia masih bisa senyum walaupun cuma ke Micchy. Artinya dia masih punya sisi lembut."

"Tapi........"

"Setiap orang punya cara sendiri buat menunjukkan perasaannya," sela Jonouchi, "aku nunjukkin perasaanku dengan melayani Hase-Chan sepenuh hati. Kaito nunjukkin perasaannya ke Kouta dengan ngomelin Kouta kalau dia mulai bertingkah. Zack nunjukkin perasaannya dengan memberi motivasi dan mendampingi Peco sepanjang waktu. Pak Takatora mungkin masih mencari metode yang pas buat nunjukkin perasaannya. Dia nggak mau caranya nunjukkin perasaan terkesan kaku. Mungkin dia nyari cara yang bakal terus diinget sama Profesor sampai akhir hayat Profesor."

Ryouma terdiam. Ada benarnya juga omongan Jonouchi. Mungkin Takatora masih bingung gimana caranya nunjukkin perasaannya. Efek kelamaan jomblo tuh pasti.

"Tumben elo bijak," sahut Yoko, "biasanya ngalay tiada henti."

Jonouchi terkekeh saja, sementara Ryouma tersenyum kecil. Oke, dia akan menunggu kejutan apa yang akan diberikan Takatora untuk menunjukkan perasaannya.
~~~
Ryouma menghela napas, dia mengerang sambil meregangkan tubuhnya. Sepertinya dia harus lembur, ada banyak hal yang harus diselesaikan hari ini. Nyesel dia kelamaan nongkrong di Charmant. Gara-gara Sid sama Yoko, nih. Sekarang mereka malah pulang duluan, lari dari tanggung jawab. Awas aja kalo dia dapet uang lembur, Yoko sama Sid nggak bakal dibagi.

Ryouma tersentak saat tiba-tiba Takatora menahan tubuhnya. "Kamu kalo capek istirahat," katanya datar, "untung nggak kejedot lantai itu kepala."

Ryouma menggumamkan terimakasih, dia melirik. Takatora masih saja bersikap biasa, tapi ada sirat kekhawatiran di matanya. "Tumben kemari," kata Ryouma.

"Maaf," kata Takatora.

Ryouma menoleh. Dia nggak lagi mabok, kan? Takatora bilang apa tadi? Maaf?

"Aku denger dari Yoko kalau kamu kecewa sama aku," kata Takatora, "maaf kalau aku nggak perhatian sama kamu. Aku nggak tau gimana memperlakukan pacar dengan baik, karena aku tau pasti beda antara memperlakukan pacar sama memperlakukan adik." Takatora menatap Ryouma, berkata, "Kalau kamu nggak betah kamu boleh nyari pasangan lain."

Ryouma menggeleng. "Aku nggak akan ninggalin kamu cuma karena hal sepele kayak gini," katanya. Takatora langsung menatap Ryouma terkejut. "Sepele?" tanyanya, "kamu nganggep ini sepele?"

Ryouma terkekeh. "Hidupku udah ribet, Takatora," balasnya, "aku nggak mau jadi tambah ruwet dengan meruwetkan masalah kayak gini." Ryouma memegang pipi Takatora, melanjutkan, "Aku ngerti sifatmu. Aku juga minta maaf nggak mau ngerti sama sikap kamu yang emang udah dari sononya lempeng."

Takatora menunduk, dan Ryouma seakan kejatuhan duren melihat Takatora tersenyum tipis. Hanya berdua untuk pertama kalinya tanpa ada Micchy! "Ayo pulang," kata Takatora. Dia berdiri, mengulurkan tangannya kepada Ryouma. Ryouma tersenyum, dia menggandeng tangan Takatora dan berjalan keluar kantor.
~~~

Rabu, 15 Oktober 2014

You And I : Friendzone

Title : You And I
Subtitle :Friendzone
Author : Mickey
Genre :Unknown
Length : Oneshoot
Cast :
Kouta Kazuraba
Mitsuzane Kureshima a.k.a Micchy
~~~
Micchy berjalan semangat menuju markas Team Gaim. Hari ini adalah hari yang membahagiakan, selain karena dia baru saja mendapat uang jajan tambahan dia juga akan tampil lagi bersama teman-temannya setelah seminggu libur. Apalagi Kouta akan bergabung lagi, dia makin semangat.
Tujuan Micchy bergabung di Team Gaim kan karena ada Kouta.
Micchy melangkah masuk markas, dia sangat gugup sekaligus senang melihat hanya ada Kouta disana. Kesempatan, nih berduaan aja sama Kouta. Micchy baru akan menyapa saat Kouta mendekat dan berkata semangat, "Micchy Kaito sms gue!"
 Ming.

Micchy langsung diam, dia menatap Kouta yang tampak super duper bahagia itu. "Emang sih dia smsnya ngomel gitu, nyuruh gue makan dan blablabla," kata Kouta tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya, "tapi kan seenggaknya dia mulai merhatiin gue, nggak cuek kayak dulu."

Micchy tersenyum, dia mengangguk. "Bagus deh kalo dia mulai perhatian," kata Micchy. Jujur saja dia sangat kesal, moodnya hancur lebur mendengar Kouta menyebut nama Kaito. Kenapa Kaito yang jauh disana yang dilihat? Kenapa Micchy yang ada persis di depannya justru diabaikan? Baiklah, maksudnya bukan dianggap tidak ada tapi.... tidak bisakah Kouta menangkap sinyal dari Micchy?

"Kok tumben jam segini udah nongol aja?" tanya Kouta, "biasanya agak sorean dikit baru keliatan." "Oh tadi kelasnya selesai lebih cepet, jadi ya daripada nganggur mending kesini," jawab Micchy. Dia duduk di sebelah Kouta, menatap sendu laki-laki yang masih asyik membalas pesan Kaito. Ingin sekali Micchy teriak di depan muka Kouta agar pemuda bantet itu sadar kalau Micchy di sebelahnya. Malah orang yang nggak keliatan yang diajak ngobrol.

"Kouta-san," panggil Micchy, "udahan dong smsnya. Jalan-jalan yuk."

Kouta menoleh, dia tertawa dan merangkul Micchy. "Ayo deh," katanya, "bete juga ngerem di markas." Micchy terkekeh, dia super senang Kouta memeluknya. Ya walaupun bukan pelukan cinta, hanya pelukan persahabatan. Micchy sih berharap suatu saat Kouta akan memeluknya dengan status mereka berpacaran. Pasti lebih mantap.
~~~
Micchy dan Kouta berkeliling Zawame, sesekali berhenti buat selfie atau sekedar motret-motret random. Kadang mereka mandek di stage Team Raid Wild atau Team Invitto, sok fanboying diantara penonton. Micchy tergelak saat Kouta dengan alaynya sok jadi fans dan minta foto bareng Jonouchi. Mereka juga mampir ke Charmant, ngerayu Oren biar ngasih mereka kue gratis. Micchy sampe janji bakal ngasih dia foto seksinya Takatora biar dikasih dobel gratis.

Jahat ih. Kakaknya jadi umpan.

Micchy menatap Kouta yang makan kue dengan lahap. Dia tersenyum, lucu melihat sisi lain Kouta yang tidak semua orang tahu. Kaito juga dijamin nggak tahu. Kalau begitu Micchy boleh kan mengklaim Kouta sebagai miliknya? Kan dia lebih kenal Kouta daripada si Kaito itu.

"Sering-sering aja kita kesini, ya," kata Kouta, "elo pinter banget ngerayu Oren-san."

Micchy tertawa, dia membalas, "Beres lah itu. Kapan-kapan kita rame-rame aja kesininya. Bangkrut bangkrut dah Oren-san."
~~~
Micchy berhenti di depan markas Gaim bersama Kouta. "Yakin nggak mau dianter pulang?" tanya Kouta, "udah malem lho. Ntar kalo kamu diculik gimana?" "Ya aku culik balik orangnya," sahut Micchy, dan keduanya tertawa. "Ada gitu ya diculik malah balik nyulik," kata Kouta. Micchy menjawab, "Kalo buat Micchy segalanya ada."

Kouta terkekeh pelan, dia menepuk pelan puncak kepala Micchy. "Ati-ati, ya," katanya, "pokoknya jangan kemana-mana sampe supir dateng."

Micchy menatap Kouta. "Kouta-san," kata Micchy, "aku.... aku sayang sama Kouta-san."

"Gue juga sayang banget sama elo," Kouta merangkul Micchy dan mengacak rambut remaja itu, "kalo gue nggak sayang sama elo, nggak bakal gue bisa sahabatan sama elo. Elo sahabat terbaik gue, adik gue. So...... gue sayang banget sama elo."

Micchy menghela napas. Ternyata Kouta masih menganggapnya sahabat. Micchy jadi bingung sendiri bagaimana caranya Kouta sadar kalau Micchy sangat menyayanginya. Kalau rasa sayang Micchy lebih besar daripada Kaito. Micchy bisa saja menempuh jalan ekstrim seperti menyingkirkan Kaito atau menyihir Kouta agar mencintainya, tapi Micchy masih punya hati nurani.

"Eh Kaito sms," suara Kouta membuyarkan lamunan Micchy, "Micchy, nggak papa kan kalo gue tinggal sendirian? Oh gue teleponin Mai, ya, biar nemenin elo." "Nggak usah," kata Micchy, "kasian Mai ntar malem-malem keluar kandang. Ntar disangka cabe-cabean lagi."

Kouta tertawa, dia membalas, "Oke deh gue tinggal ya. Salam buat supir lo. Bye." Micchy tersenyum, dia melambaikan tangannya kepada Kouta. Dia menghela napas, menunduk dalam. Sepertinya hubungannya dengan Kouta tidak akan pernah melewati batas persahabatan. Micchy menatap jalanan sepi di depannya, dia perlahan tersenyum manis. Kalau memang hanya persahabatan yang bisa membuatnya selalu berdekatan dengan Kouta, dia akan berusaha menikmatinya. Mungkin memang Micchy dan Kouta hanya akan bersenang-senang di dalam zona pertemanan abadi, bukan cinta abadi. Persahabatan juga dilandasi oleh cinta, jadi baginya sama saja berpacaran dengan bersahabat. Kouta tetap mencintainya, walupun rasa cintanya hanya sebagai sahabat.

They are friends, and forever will be.

Selasa, 14 Oktober 2014

You And I : Over

Title : You And I
Subtitle : Over
Author : Mickey
Genre :Romance
Length : Oneshoot
Cast :
Hase Ryouji
Jonouchi Hideyasu
~~~
"Hase-Chan. Ayo buka mulut. Aaaaaa."

Hase tampak agak malu, tapi dia menuruti Jonouchi dan membuka mulutnya. Jonouchi dengan senang menyuapi Hase potongan demi potongan kue di kafe Charmant. Sungguh romantis, ya. Sesekali Jonouchi mengelap krim di ujung bibir Hase dengan saputangannya yang selalu wangi setiap saat setiap waktu itu.

"Aku bukan bayi, Jonouchi," kata Hase, "aku bisa makan sendiri. Liat, deh." Hase menyuap sepotong kue sendiri, lalu tersenyum seakan berkata gue-bisa-makan-sendiri.

Jonouchi berdecak, dia mengelap krim di ujung bibir Hase lagi. "Belepotan, tuh," katanya, "udah aku suapin. Biar romantis gitu. Masa kencan nggak ada romantis-romantisnya, sih." Hase menghela napas, dia akhirnya pasrah dengan perlakuan Jonouchi. Yah, seenggaknya lebih baik daripada kencan kayak Kaito sama Kouta yang jauuuuuuuh dari kesan romantis.

Nggak romantis orang selama kencan ribut melulu.

Selesai makan kue di kafe Charmant, Hase dan Jonouchi berjalan-jalan. Jonouchi menggandeng mesra lengan Hase, dan jujur saja Hase agak risih. "Jalannya biasa aja nggak usah gandengan," kata Hase sambil melepaskan pegangan tangan Jonouchi.

"Ih biar romantis tauk," kata Jonouchi, lalu kembali menggandeng tangan Hase. "Zack sama Peco nggak perlu gandengan buat keliatan romantis," balas Hase, "jadi nggak usah gandengan, ya. Please."

"Malu ya?"

Ming.

Hase melongo, dia mendadak panik melihat wajah Jonouchi yang mulai mengeluarkan aura mendung. "Bukan malu," Hase berusaha menjelaskan, "tapi...." "Yaudah kalo nggak malu," Jonouchi mendadak cerah dan menggandeng tangan Hase lagi.

Hase menghela napas. Iyain aja deh daripada ngambek.
~~~
Hase duduk lega di kursi markas Team Raid Wild. Setidaknya cuma disini dia bisa bebas dari segala keromantisan Jonouchi yang lebai itu. Hase jadi bingung, kok bisa ya dia jadian sama Jonouchi? Padahal harusnya dia bisa jadian sama Kaito, sama-sama berpenampilan ala preman. Serasi, kan.

Iya terus selama pacaran tawuran melulu.

"Eh, bayi Hase ngelamun," goda salah satu temannya, "kangen sama Mama Jonouchi, ya?" Teman-temannya yang lain tertawa, sementara Hase hanya mendengus menahan malu. Tuh, kan. Dia pasti digodain kayak gini. Males kan jadinya. Sejak dia jadian sama Jonouchi, semua memanggil dia 'Baby Hase' atau "Hase-Chan' niruin omongannya Jonouchi. Teman-temannya juga kadang menggodanya dengan pura-pura akan menyuapinya atau mengelap keringat di dahinya.

Semua gara-gara over romantisme dari Jonouchi.
~~~
"Baby Haseeeee," suara Jonouchi membahana membelah langit taman kota. Anggota Team Raid Wild dan beberapa orang disana seketika menahan tawa, sementara Hase melongo. Ya ampun Jonouchi ini nggak bisa dikecilin ya suaranya? Bikin malu aja sih ah.

"Ini aku bawain minum," Jonouchi menyerahkan botol minuman kepada Hase, lalu menyeka keringat di dahi Hase dengan tangannya. Tangan ya, catet tuh. Suatu kegegeran mengingat Jonouchi orang yang sangat cinta kebersihan dan selalu pakai saputangan buat menyeka apapun.

"Biasa aja dong," desis Hase tengsin, dia super malu melihat Jonouchi menunjukkan perhatiannya di depan umum. "Emang kenapa?" balas Jonouchi, "kita kan pacaran, wajar dong kalo deket-deketan dan romantis."

Plak!

Jonouchi terkejut bukan main saat Hase menampar tangannya. "Gue bukan bayi!" teriak Hase, "gue nggak suka diperlakuin kayak bayi!"

"Hase-Chan....."

"Jangan manggil gue Hase-Chan!" teriak Hase menyela, "gue nggak suka! Gue nggak suka sama sikap lebai lo ini! Mulai detik ini gue nggak mau diperlakukan kayak bayi! Kalo elo masih aja over romantis ke gue, gue hajar lo!" Hase langsung berlari meninggalkan kerumunan, dan meninggalkan Jonouchi yang shock dengan teriakan Hase.
~~~
Hase bersin untuk kesekian kalinya, dia menyeka ingus yang intip-intip di hidungnya dengan tissue. Sial banget deh, niatnya sehat lari pagi malah kena flu. Memang Hasenya juga yang bloon, lari pagi jam 4 subuh, pas gerimis lagi. Makan tuh pilek.

Hase berbaring lemas di kasurnya yang berantakan, dia membayangkan bubur hangat dan segelas teh manis hangat atau susu. Kalau Jonouchi tahu dia sakit, Jonouchi pasti bakal langsung meluncur kesini dan membuatkannya bubur super enak dan membawakan kue dari Charmant.

Ming.

Hase menoleh, menatap handphonenya di meja. Hase mengambil handphonenya, perlahan menatap fotonya dan Jonouchi yang jadi wallpaper disana. Jonouchi yang masang sih, awalnya wallpapernya ya logo Team Raid Wild. Perlahan rasa kangen masuk ke benaknya, dia kangen sama perhatian Jonouchi. Dia kangen dipeluk, kangen dimanjain sama pacarnya yang wangi sepanjang hari itu.

Hase menghela napas. Dia jadi merasa bersalah sudah membentak Jonouchi, di depan umum lagi. Jonouchi itu biarpun cowok dia sensitif, dia pasti marah besar. Buktinya dia nggak nelpon sama sekali sejak seminggu lalu, padahal biasanya sehari bisa puluhan kali nelpon.

Jujur Hase sudah terbiasa dengan perhatian Jonouchi. Kebiasaan dimanja membuat Hase seperti kehilangan satu rutinitas pentingnya saat Jonouchi nggak ada. Dan sebenarnya Hase suka dimanja seperti itu. Diladeni, dibuatkan masakan, dicucikan bajunya, dibantu membersihkan apartmentnya yang kayak kapal pecah, dan segala bentuk perhatian lainnya.

Apa Hase minta maaf aja ya ke Jonouchi?

Hase berdiri, dengan badan lemas dia meraih jaketnya dan berjalan keluar apartment. Dia bertekad akan minta maaf kepada Jonouchi.
~~~
Jonouchi dengan lesu membersihkan meja pengunjung Charmant. Hal ini tentu membingungkan Oren, secara biasanya Jonouchi selalu bersemangat kayak batere habis dicharge. Jonouchi menghela napas, dia duduk di salah satu kursi dan menunduk.

Salah ya kalau Jonouchi perhatian ke Hase? Jonouchi kan begitu karena dia sayang sama Hase. Dia merasa cuma dengan perhatian dia bisa menunjukkan kalau dia sayang sama Hase.

Yang diperhatiin malah marah-marah.

"Sebenernya sih kamu itu nggak salah," suara Oren mengejutkan Jonouchi, "maksudmu baik, ngasih perhatian ke Hase. Tapi porsinya yang kebanyakan. Nggak semua orang seneng diperhatiin secara berlebihan kayak gitu."

"Kayaknya nggak berlebihan deh," balas Jonouchi.

"Buat kamu mungkin nggak," balas Oren, "tapi buat Hase? Jelas itu lebai banget. Hase nggak terbiasa dimanja kayak gitu, dia jelas ngerasa malu. Apalagi kamu nunjukkin perhatianmu di depan orang banyak." Oren menatap Jonouchi, melanjutkan, "Kamu nggak perlu menunjukkan ke semua orang di Zawame kalau kamu adalah pacar paling perhatian. Cukup Hase aja yang tau kalau kamu sayang sama dia."

Jonouchi menatap Oren yang tersenyum. Benar juga, cukup Hase saja yang tahu kalau dia adalah pacar yang perhatian. "Nah sekarang cuci piring sana," kata Oren. Jonouchi mengangguk, dia berdiri dan merapikan kursi yang masih agak berantakan sebelum melangkah masuk Charmant.

"Jonouch...... Hatchiu!"

Jonouchi menoleh, dia seketika berlari kearah Hase saat mendengar pemuda itu memanggilnya sambil bersin. Hase segera didudukkan di salah satu kursi, lalu Jonouchi duduk di dekatnya dengan pandangan khawatir. "Kamu kenapa, Hase-Chan?" Jonouchi panik, "kamu sakit, ya? Ya ampun hidungnya merah gitu, kamu pasti flu. Kenapa nggak nelpon aja, pake kesini lagi. Kan bisa aku yang kesana."

Hase menatap Jonouchi, dia super senang mendengar suara laki-laki itu. "Maaf," Jonouchi tampak salah tingkah sendiri, "aku..." "Aku kangen kamu, Jonouchi," kata Hase kaku, dia menunduk, "maaf udah marah-marah. Aku nggak biasa dimanja kayak gitu, makanya aku risih. Aku juga nggak suka jalan gandengan, kesannya menye-menye gitu. Maaf."

"Aku juga minta maaf," balas Jonouchi, "aku pikir kamu suka sama perhatian yang aku kasih. Aku pikir kamu bakal seneng kalo aku perhatiin kayak gitu."

"Aku suka kok," kata Hase, "cuma........ Jangan lebai."

Jonouchi menatap Hase, terlihat matanya bling-bling. "Kamu suka aku perhatiin?" tanyanya senang. Hase mengangguk semangat, dia menjawab, "Sekarang aku flu, Jonouchiiii. Suapin doooong."

Jonouchi tertawa melihat sikap manja Hase, di matanya Hase tampak lucu sekali kalau seperti itu. "Tunggu disini, aku ambilin kue sama susu anget dulu," kata Jonouchi. Dia bergegas masuk, tak lama dia keluar dengan sepotong kue dan segela susu hangat. "Ayo buka mulut. Aaaaaa," kata Jonouchi sambil menyuapkan sepotong kecil kue. Hase dengan semangat memakan kue itu, lalu bersandar manja di bahu Jonouchi.

Dimanja itu enak ternyata.
~FIN~