HOLLAAAAAAAA!!!!!!!!!
I'm back with part 2
*gak ada yang nanya* *oh yaudah makasih*
Oke, mungkin di part 2 ini lucunya cuma dikit dan mungkin FTV banget
Maklum, gak bakat bikin cerita romance
Enjoy!!!
>>>
"Micchy."
"Ya, Kak Yuuya?"
"Kamu yakin mau minta Kaito ngajarin Kouta?"
"Yakin. Kenapa sih?"
"Nggak. Masalahnya kamu, kan, tau sendiri gimana otaknya Kouta. Dan Kaito bukan orang yang sabaran. Kamu nggak takut Kouta bakal disikat abis sama Kaito?"
"Kalo disikat abis tapi jadi pinter sih nggak masalah, Kak."
"Ya sama aja bo'ong. Dia jadi pinter tapi mati disikat Kaito."
Micchy dan Yuuya mengadakan sesi diskusi kecil di dekat tong sampah. Yup, karena pembicaraan ini bersifat privat jadi mereka diskusinya disana. Siapa yang mau deket-deket tong sampah yang baunya semerbak itu? Mau lewat di deket tong sampah aja udah syukur.
"Udahlah, Kak," kata Micchy, "Kak Kaito itu sebenernya baik, kok. Cuma songongnya aja keterlaluan."
Yuuya menghela napas. Ada baiknya juga Kouta belajar sama Kaito. Kaito, teman sekampusnya itu memang terkenal super cerdas untuk pelajaran matematika dan punya metode belajar yang pasti bisa membuat Kouta pinteran dikit. Dikit aja jangan banyak-banyak, nanti kekenyangan.
Tapi....
Kaito itu....
Songongnya....
Keterlaluan....
Yang membuat Yuuya khawatir, betah nggak Kouta belajar sama Kaito? Bisa sabar nggak Kaito ngajarin Kouta? Yuuya yang super sabar aja jadi senewen sendiri kalau sudah berurusan dengan Kouta, apalagi Kaito yang senewen sejak lahir.
"Kak."
"Apa?"
"Udahan yuk diskusinya. Bau, nih."
Yuuya tersadar daritadi mereka nongkrong di tong sampah, akhirnya dia berdiri dan beranjak kembali ke markas bersama Micchy.
~~~
"Skak mat."
"Eh? Lho?"
"Apanya yang lho? Skak mat. Gue menang, situ kalah."
"Yaah, kalah lagi."
"Oke. Time to get some punishment, Peco."
"Jangan ngasih hukuman yang aneh-aneh. Satu aja."
"Oke, just one. Kiss me."
Kaito dengan cuek memainkan kartu-kartunya, sama sekali tidak terpengaruh dengan aura penuh cinta yang diumbar Zack dan Peco. Dia sudah tahu maksud Zack menantang Peco bermain catur. Zack itu jagoan catur, Peco mah seujung kuku doang. Jelas ada niat terselubung dibalik tantangan itu.
"Kak Kaito. Kak"
Kaito melirik datar seorang anak yang berjalan kearahnya. "Bocah SMA itu dateng sama temennya, Kak," kata anak itu, "katanya ada perlu sama Kakak."
Kaito membereskan kartu-kartunya. "Suruh masuk," katanya memberi perintah. Anak itu segera keluar, lalu kembali bersama dua anak berseragam SMA Negeri Zawame. Kaito melirik, dan detik berikutnya dia terkejut dengan seorang anak.
'Lho? Micchy ngapain bawa anak itu kesini?'
"Hai, Kak Kaito," Micchy langsung menyapa ramah Kaito, yang hanya ditanggapinya dengan wajah datar. "Apaan?" tanya Kaito jutek. "Gini, Kak," kata Micchy sambil duduk menghadap Kaito yang setia dengan wajah datar nan sombongnya, "aku mau minta tolong sama Kak Kaito. Temenku ini agak kesulitan nyerap materi matematika. Nah, Kak Kaito kan pinter matematika, tolong lah dia diajarin biar pinternya Kak Kaito nular ke dia."
Kaito melirik anak yang mengekor di belakang Micchy, lalu mendengus kesal. Dian ingat dengan jelas insiden memalukan yang membuatnya senewen seminggu penuh dengan anak ini.
#Flashback On#
Kaito berjalan pelan pulang kuliah tanpa Zack dan Peco. Hal ini cukup menyenangkan, mengingat sebagian besar hidupnya selalu bersama dua orang itu. Apalagi dua anak itu menurut Kaito sangat menyebalkan. Kalau pulang barengan pasti minta ditraktir ini itu. Peco apalagi, yang perutnya nggak jauh beda sama karung beras.
Untunglah dua anak itu sedang menikmati masa awal jadian mereka.
Kaito menyeruput es cappucino yang dibelinya di kedai kopi langganannya. Panas-panas minum es cappucino itu bagaikan surga dunia. Kaito mengabaikan pandangan kagum anak-anak SMP yang berpapasan dengannya Kaito nggak level pacaran sama anak kecil.
Brak!
Butuh waktu lima detik bagi Kaito untuk memulihkan diri dari shocknya. Matanya terbelalak, mulutnya menganga melihat es cappucinonya tumpah dan saus berwarna orange mengotori pakaiannya. Kaito dengan cepat menatap tajam seorang anak berpakaian SMA yang juga melongo kaget.
"Heh!" sentak Kaito, "jalan itu pake mata! Lo pikir ini jalan punya bapak moyang lo?! Liat, baju gue kotor gara-gara makanan lo!"
"Maaf, Kak," suara pelan anak itu terdengar. Kaito melihat anak itu mendongak.
Dan Kaito terkesiap.
Anak laki-laki di depannya itu menatapnya innocent, dengan mata yang penuh dengan kata 'sorry'. Kaito menelan ludahnya, entah kenapa jantungnya dag dig dug tidak karuan melihat wajah anak di depannya ini.
"Maaf!" anak itu mengeluarkan saputangannya, niatnya ingin membersihkan noda di baju Kaito. Tapi yang ada noda itu justru meluas, membuat Kaito benar-benar geram.
"Aaaahh udah udah!" sergah Kaito menyingkirkan lengan anak itu kasar, "bukannya bersihin malah bikin tambah kotor. Sekalian aja lo jorokin gue ke selokan biar kotornya sebadan."
Ups.
Kaito sadar ucapannya salah total. anak itu benar-benar mendorongnya ke selokan di belakang Kaito. Dan sialnya seloka itu kotor, jadi;ah seluruh tubuh Kaito kotor. Bahkan sebagian air selokan terciprat ke mukanya.
"Heh!" teriak Kaito, "kenapa gue didorong?!"
"Lha tadi katanya biar sekalian kotor," jawab anak itu tanpa dosa, "udah ah. Aku pulang dulu. Dah. Maaf ya." Dia berlari, lalu berhenti dan menoleh. "Oh iya," katanya, "dimana-mana jalan itu pake kaki bukan mata. Nggak lulus TK, ya? Gitu aja nggak tau." Anak itu kembali berlari meninggalkan Kaito yang cengo di selokan. Anak itu..................... Bego apa bloon? Kenapa malah nggak ngerasa bersalah?
"Ma, Kaka itu aneh, ya. Masa mandi di selokan.
"Sst. Jangan diliatin, itu orang gila."
Kaito terkejut mendengar ucapan ibu dan anak yang melewatinya. "Aaaaahhh!!" teriaknya frustrasi. Bebas dari Zack dan Peco, tapi malah sial dua kal lipat.
Kaito menggeram, matanya menatap tajam jalan yang tadi dilewati anak itu. 'Awas lo,' batinnya dengan memasang ekspresi antagonis penuh dendam kesumat, 'kalo ketemu gue cekek trus gue lelepin lo ke selokan.'
#Flashback End#
"Kak!"
"Gue nggak mau," jawab Kito cepat.
"Aaaaa........ Ayo dong, Kaaakk," Micchy setengah merajuk, " kasian dia, Kak. Matematikanya dapet jelek, seenggaknya ditolong lah biar dia bagusan dikit nilainya."
"Kok jadi elo yang mita?" tanya Kaito, " lha dianya aja adem ayem kayak kucing dikasih ikan sekilo." Kaito menatap anak itu, lalu bertanya, "Apa yang bikin elo dateng keisni dan minta tolong gue ngajarin elo matematika?"
"Eh?" anak itu agak terkejut ditanyai tiba-tiba, "anu......... Aku.......... Biar komikku balik."
Kaito berdiri, dengan sigap mendorong Micchy dan temannya itu keluar ruangannya, "Gue nggak mau ngajarin orang yang belajar cuma demi hal nggak penting," katanya, "sana pulang. Elo ganggu waktu santai gue."
Kaito menutup pintu, kembali duduk dan memainkan kartu-kartunya. Perlahan bibirnya tertarik membentuk sebuah senyuman kecil, entah apa yang dirasakannya tapi jujur saja dia merindukan tatapan bocah SMA itu.
Eh?
Apa-apaan?
Kaito, mahasiswa pandai kebanggan universitas jatuh cinta dengan anak SMA?
Dunia belum kiamat, kan?
Kaito mengerjapkan matanya. Dia menapmar pipinya beberapa kali. "Sadar, Kaito," katanya bergumam, "elo nggak mungkin jatuh cinta sama anak nggak punya otak kayak dia. Ayo sadar."
"Ayo dong, Kak. Seminggu aja deh."
"Waaaa!!" Kaito terlonjak kaget. Bagaimana caranya anak tadi masuk? Anak itu menatapnya dengan tatapan memelas. "Seminggu aja," pintanya memelas, "ya, Kak? Ya?"
Kaito mendengus, dia berusaha menormalkan detak jantungnya yang tidak karuan melihat wajah polos anak itu. Sebenarnya apa yang terjadi?
"Kaaakk," anak itu merajuk.
"Nggak," jawab Kaito, "daripada gue buang-buang waktu buat ngajarin anak blo'on kayak elo mending gue belajar buat diri sendiri. Sana pergi."
Anak itu menunduk, terlihat jelas kekecewaan di wajahnya. Kaito melirik, hatinya agak mencelos melihat ekspresi anak itu. "Sana pergi," ujar Kaito sambil mengibaskan tangannya, "gue ini orang penting, banyak kesibukan. Artis aja kalah sibuk sama gue. Sana pergi. Hush."
Perlahan anak itu berbalik, berjalan meninggalkan Kaito dengan kepala menunduk dalam. Kaito sampai ngeri sendiri, jangan-jangan nanti kepala anak itu putus gara-gara menunduk sedalam itu. Tapi Kaito harus menjaga wibawanya. Dia tidak mau sembarangan memberi privat kepada orang lain.
Yaaah, walaupun jauh di dalam hati Kaito yang paliiiiiinngg dalam, dia merasa agak bersalah juga.
~~~
Brak! Bug! Gedubrak! Gubrak! Prang! Meow.....
"Kouta! Berisik!"
Kouta manyun semanyun-manyunnya. "Sombong banget sih jadi orang," gerutunya, "mentang-mentang dia pinter trus dia seenaknya ngatain gue blo'on? Sepinter apa. sih, dia sampe kepalanya gede gitu?"
"Heh," suara Akira menginterupsi di dekat pintu, "ngapain, sih, kamu? Bukannya tidur malah bikin ribut. Berisik, tauk. Baek-baek nggak ada tetangga yang bawa golok kesini gara-gara kamu."
"Kakak nggak ngerti!" sahut Kouta, "tadi tuh ada mahasiswa yang songongnya minta ampun, Kak. Mentang-mentang dia pnter trus dia ngatain aku blo'on. Aku nggak blo'on, Kak. Cuma kurang pinter dikit."
"Siapa?"
"Dia itu kenalannya Micchy. Tau deh Micchy kenalnya dimana. Namanya...... Ee..... Kaaaa.... Kaito! Iya Kaito! Kaitonggosongong!"
Akira melongo. Bisa-bisanya Kouta mengganti nama orang seenak udelnya. "Pokoknya aku bakal buktiin kalo aku nggak blo'on, biar dia tau rasa!" teriak Kouta. Dia meraih buku matematikanya, mulai membaca meskipun......... Yah, you know what I want to write.
Akira tersenyum, dia hanya menggelengkan kepalanya. Kouta hanya perlu sedikit dorongan agar dia mau belajar. Perlahan Akira menutup pintu kamar Kouta, kebali ke kamarnya.
~~~
Kaito melangkah keluar rumah, mengunci pintu dan bersiap menuju kampus. Sambil bersiul pelan, dia berjalan menuruni tangga.
"Kak Kaito."
Kaito menoleh, dia tersentak kaget melihat anak SMA yang kemarin berdiri di belakangnya. Kaito melirik name tag di seragam anak itu, membaca namanya.
Kouta Kazuraba.
Pertanyaannya gimana caranya anak itu bisa sampai disini? Masa iya dikasih tau Micchy? Micchy aja nggak tau rumah ini.
"Apa?" Kaito bertanya dengan suara datarnya.
Kouta menunduk, dia menggaruk kepalanya salah tingkah. Oh, baiklah Kaito harus menahan diri. Entah siapa yang melakukannya tapi dimata Kaito sikap Kouta itu sangat menggoda iman. "Gini, Kak," kata Kouta, "pertama-tama aku mau minta maaf soal kejadian waktu itu. Yang aku dorong Kak Kaito ke selokan."
Kaito masih memasang wajah datarnya. "Iya," jawabnya, "tapi bukan berarti gue mau ngasih elo les matematika. Gue pergi dulu."
"Tunggu, Kak!" Kouta dengan sigap menahan lengan Kaito, mencegahnya pergi. Kaito melirik tangan Kouta yang memegangi lengannya dengan wajah flat.
"Please ajarin aku matematika, Kak," pinta Kouta memelas, "aku nggak tau harus belajar sama siapa lagi. Bahkan metodenya temen-temenku nggak ada yang berhasil. Aku mohon, Kak. Seminggu aja deh, nanti aku bayar."
"Anak SMA kayak elo mau bayar pake apa?" balas Kaito, "uang monopoli? Sekali gue bilang enggak ya nggak. Nggak usah maksa." Kaito menyentakkan lengannya, melangkah pergi.
"Aku cuma pengen kakakku bangga sama aku, Kak."
Langkah Kaito berhenti. Dia tidak berbalik, tapi ucapan itu sukses membuatnya ingin mendengar alasan Kouta lebih jauh lagi.
"Aku pengen kakakku berhenti marah sama aku," Kouta menunduk, "kakakku kepingin liat nilaiku bagus-bagus. Iya awalnya aku belajar biar komikku balik, tapi aku sadar bukan itu tujuanku. Aku pengen kakakku bangga sama aku, dan aku juga pengen lulus dengan nilai bagus jadi aku bisa masuk universitas ternama dan dapet pekerjaan yang enak kayak kakakku. Bantuin dia biar nggak kelimpungan ngebiayain hidup sendirian.
"Aku tau aku ini bukan anak yang pinter, tapi aku mau berusaha. Aku bakal bayar berapapun yang Kak Kaito minta, nanti aku kerja part time deh. Tapi Kak Kaito mau ngajarin aku, ya, Kak."
Krik.
.
.
.
.
.
.
.
"DASAR KAITONGGOSONGONG SIALAN! GUE UDAH NGOMONG PANJANG KALI LEBAR KALI TINGGI MALAH DITINGGAL! JADI DARITADI GUE NGOMONG SENDIRIAN KAYAK ORANG GILA?! AWAS LO YA!"
~~~
"Kouta, kamu yakin nggak mau pulang sampe kamu nyelesaiin pe.er matematikanya?" tanya Rika.
Kouta hanya menjawab "Hm" tanpa menoleh sedikitpun. Dahinya berkerut mengerjakan soal-soal itu. "Ini udah malem," kata Chucky, "ntar Kak Akira nyariin lho. Ayo pulang. Mau dikunci sama Kak Yuuya."
"Kunciin aja nggak papa," kata Kouta, "gue nginep disini. Ni pe.er harus kelar sekarang."
Semua saling berpandangan khawatir. Bagaimanapun juga mereka tidak tega melihat Kouta seperti itu. Bahkan Kouta tidak mau dibantu siapa-siapa. Mencontek juga tidak mau, padahal biasanya dia maunya instan, nyalin punyanya Chucky.
"Pe.ernya, kan, masih buat minggu depan," bujuk Yuuya, "besok diselesaiin lagi." "Nggak," kata Kouta, "pokoknya harus selesai sekarang."
"Udah pulang aja. Biar anak itu gue yang jagain."
Semua anak termasuk Kouta menoleh kearah pintu. Mata Kouta terbelalak melihat sesosok bertubuh tegap berjalan dengan gayanya yang sok bos itu kearahnya dan yang lain.
"Kak Kaito," sapa Micchy, "tau darimana tempat ini?"
"Gue tadi mampir ke rumah lo," kata Kaito, "sekalian ngambil data penelitian gue yang dipinjem Professor Ryouma. Trus kata Kak Takatora elo ada disini, yaudah gue kesini atas alamat yang dikasih kakak lo." Dia melirik Kouta yang masih melongo, mendengus kecil. "Dia biar gue yang jaga. Elo semua pulang aja."
"Yakin?" tanya Yuuya.
"Nggak usah kuatir," jawab Kaito, "gue nggak nafsu sama anak blo'on itu. Cakepan juga Peco daripada dia."
"PECO PUNYA GUE! NYEROBOT GUE BACOK LO!"
"IYA BAWEL! TIKUS GOT JUGA TAU KALO PECO PUNYA LO!"
Kaito kembali menatap Yuuya dan yang lain. "Pada nungguin apa?" tanya Kaito, "sana pulang. Biar gue yang jagain dia sampe pe.ernya selesai."
Yuuya menatap yang lain, memberi isyarat untuk pulang. "Gue percaya sama elo," kata Yuuya menepuk pundak Kaito, "kunci gue taruh dibawah keset." Dia berjalan keluar diikuti yang lain. "Dah semua," ujar Micchy sambil melambaikan tangannya.
Kaito menatap Kouta, lalu menarik kursi dan duduk di depannya. Koura menatap Kaito dengan tatapan tidak suka, lalu kembali berkutat dengan tugasnya.
"Sana pulang," ujar Kouta, "aku nggak butuh penjagaan orang songong kayak situ."
"Nggak sopan," dengus Kaito, "jadi gitu cara lo ngomong sama guru lo?"
Tangan Kouta berhenti menulis. Dia menatap Kaito dengan tatapan elo-ngomong-apaan-gue-nggak-ngerti-plis-dijelasin.
Kaito tersenyum sombong, kedua tangannya menopang dagu. "Mulai sekarang gue guru lo," katanya, "jadi elo harus sopan sama gue atau gue siksa lo sampe jadi ikan asin."
~TO BE CONTINUED~


