Title : Vampire's Tale
Author : Veve
Genre : Comedy, Fantasy, Drama
Fandom : Tokusatsu
Cast :
Gou Shijima
Chase
And Others
Length : Chapter
*
HUOLLAAAAAA!!!
Ini adalah fanfiction terbaru sayaaaaa
Sengaja saya post di blog ini sebagai tanda kalo blog ini sudah bersih dari sarang laba-laba *Plakk
Dan ff ini juga dibuat untuk memperingati Halloween (dan akan berlanjut meskipun Halloween lewat)
Semoga suka semuanyaaaa
*
sumber gambar : Twitter
*
*
Vampire's Tale 01
''Chase.''
Chase menoleh, dia menatap datar Brain yang melangkah kearahnya. ''Belum tidur?'' tanya Brain, ''ini sudah malam, Chase. Kau harus istirahat.''
''Aku belum mengantuk,'' jawab Chase.
Brain berdiri di dekat Chase. ''Kau harus banyak istirahat,'' katanya, ''kau, kan, pewaris tahta. Kau harus selalu fit dan sehat. Kalau kau sakit, keadaan itu akan dimanfaatkan musuh untuk menyerang kerajaan ini.''
''Aku masih pewaris tahta, belum naik tahta, kan?'' balas Chase, ''selama aku belum naik tahta, kurasa aku tidak perlu seserius itu.''
Brain hanya bisa melongo mendengar ucapan Chase. ''Baiklah, baiklah,'' katanya, ''aku keluar dulu. Selamat malam.'' Brain melangkah keluar kamar Chase dan menutup pintu. Dia melepas kacamatanya lalu membersihkan lensa kacamata. ''Anak keras kepala,'' gumamnya. Brain mengenakan kacamatanya lagi, dia kemudian berjalan menuju kamarnya.
Chase diam, matanya lurus menatap hutan yang berada tak jauh dari istananya. Cukup lama Chase menatap kearah hutan, dia akhirnya menutup pintu balkon dan melangkah ke tempat tidurnya.
Gou keluar dari persembunyiannya di balik pohon, dia lalu menatap kearah istana. Selama 250 tahun, baru kali ini Gou memperhatikan seseorang dengan sangat serius. Dan dia adalah seorang pangeran. Pewaris tahta, calon raja. Pertama kali Gou melihatnya di festival kerajaan, Gou hampir mengira dia vampir sampai Gou tahu dia adalah manusia. Saat Gou mencium aroma darahnya, Gou sangat tertarik. Aroma manis seperti anggur, dan Gou tidak sabar ingin segera menghisapnya.
Akan sangat menarik kalau dia bisa menghisap darah seorang pewaris tahta.
Maka malam itu juga, Gou masuk ke istana. Dia membunuh beberapa prajurit yang berjaga, dan masuk ke kamar Sang Pangeran dengan halus dan mudah. Gou mendekat kearah pangeran itu, dia mengamati si pangeran dan mulai menghirup aroma darahnya. Ritual kecil sebelum makan malam bagi Gou. Gou belum pernah mencium aroma darah semanis ini, aroma yang biasa dia hirup menurutnya seperti kayu manis dan bunga mawar.
Hanya tinggal sedikit lagi Gou akan menancapkan taringnya di leher pangeran itu, menghisap habis darahnya saat pangeran itu tiba-tiba saja membuka matanya. Gou terpaku, matanya bertumbukan dengan mata Sang Pangeran.
Gou berhenti saat dia menyadari dirinya sudah ada di luar istana. Gou ingat dia langsung melesat keluar istana saat pangeran itu terbangun. Hal ini tentu saja membuat Gou heran, pasalnya dia tidak pernah menghindari mangsanya seperti ini. Kalaupun ketahuan, dia malah akan mempercepat misinya dan pergi setelah perutnya kenyang.
Lalu kenapa sekarang Gou lari?
Gou menoleh kearah istana, dia melihat pangeran itu berdiri di balkon. Entah dia bisa melihat Gou atau tidak, kalau penglihatannya bagus sih pasti bisa. Gou memutuskan untuk masuk ke hutan, dia mencari mangsa lain saja. Nanti saja pangeran itu dijadikan makanan penutup.
Dan disinilah Gou sekarang.
Gou tidak pernah melaksanakan niatnya. Entah kenapa Gou seakan tidak bisa melakukan niatnya menghisap darah pangeran itu. Bahkan hingga sekarang rumor vampir sudah tersebar luas di kerajaan itu, Gou masih saja diam disana memperhatikan pangeran itu.
***
''Chase adikku, selamat pagi.''
Chase menoleh, dia memberi salam kepada Medic, adik dari mendiang ibunya. Harusnya Chase memanggilnya Bibi, tapi karena selisih usia mereka tidak terlalu jauh maka Chase menganggap Medic adalah kakaknya. ''Selamat pagi,'' sapa Chase, dia masih saja memasang wajah datar, ''bagaimana tidurmu? Nyenyak?''
''Yah, cukup nyenyak sampai suara cempreng Brain masuk ke telingaku,'' ucap Medic dengan wajah merengut. Chase tertawa pelan, dia berkata, ''Dia alarm berjalan di istana ini. Kau harus terbiasa dengannya, Medic.''
Medic tertawa halus. ''Kau harus lebih berhati-hati, Chase,'' kata Medic, ''kalau tidur, kunci balkon kamarmu. Pintu kamar juga. Kau tahu sekarang ada vampir berkeliaran, mereka bahkan membunuh prajurit istana kita. Artinya dia sudah pernah masuk kemari, kan?''
Chase menghela napas dan memilih menatap taman yang dipenuhi bunga-bunga mawar aneka warna. Dia sudah tahu soal vampir itu, apalagi vampir itu masuk kamarnya dan berniat menghisap darahnya. ''Tapi aku tidak banyak mendengar laporan serangan dari kota,'' kata Medic, ''jadi dia itu vampir apa? Kenapa tidak menyerang manusia?''
''Mungkin dia vampir yang disewa menjadi pembunuh bayaran,'' kata Chase.
Medic tertawa mendengar ucapan datar Chase. ''Vampir jadi pembunuh bayaran,'' kata Medic terkekeh, ''aduh perutku sakit aduh.''
''Pangeran.''
Medic dan Chase menoleh. Seorang pelayan berdiri di dekat Chase dan berkata, ''Pangeran, Yang Mulia meminta Pangeran untuk mengunjungi Kementrian.''
''Kemana Yang Mulia?'' tanya Chase.
''Yang Mulia pergi berburu selama beberapa hari, Pangeran,'' jawab pelayan itu.
''Apa?'' Medic berdiri dan memasang wajah kaget, ''dengan siapa dia pergi?''
''Bersama Tuan Brain dan pengawal kerajaan, Tuan Putri,'' jawab pelayan itu.
Medic mendengus kesal. ''Sudah kuduga Brain pasti mengatur siasat licik,'' gerutunya, ''dia sengaja menyuruhku menghampirimu kesini dan pergi diam-diam. Awas saja dia, akan kubalas dia nanti.''
Chase diam saja, dia beranjak dan mengajak Medic ke Kementrian. ''Ayo temani aku saja,'' katanya, ''kita ke Kementrian sekarang.''
Chase dan Medic masuk ke kereta kuda, mereka menuju Kementrian. Medic masih saja menggerutu sepanjang perjalanan, dan Chase hanya diam menatap jalanan. Chase menduga kasus yang diangkat di Kementrian pasti kasus serangan vampir.
Eh.
''Berhenti!'' perintah Chase. Kereta kuda berhenti, Chase segera turun dan berlari menjauhi kereta kuda. ''Chase!'' teriak Medic, ''Chase kau mau kemana?! Pengawal, awasi Pangeran!''
Chase terus berlari, dia menyentuh pundak seseorang dan menariknya. Chase menatap orang itu, dia berkata, ''Kau....''
''Astaga, Pangeran apa yang kau lakukan disini?''
Chase tersentak, dia segera berkata, ''Maaf, aku salah orang.'' Chase berbalik dan kembali ke kereta kuda bersama pengawalnya. Chase masuk ke kereta kuda, Medic segera memeluknya. ''Apa yang kau lakukan?'' tanyanya khawatir, ''kalau Heart tahu kau tiba-tiba keluar dari kereta kuda dan berlari tidak jelas begitu, dia akan panik.''
Chase menggumam maaf, dia kembali menatap jalanan. Chase yakin sekali tadi orang itu adalah vampir yang masuk kamarnya malam itu.
Tapi wajahnya berbeda. Sorot matanya juga.
Gou menatap kereta kuda yang menjauh dari balik tembok gang sempit. Dia diam menatap kereta kuda itu, Gou lalu tersenyum tipis dan melangkah kembali masuk gang.
***
''Chase.''
Chase menoleh, dia menatap datar Brain yang melangkah kearahnya. ''Belum tidur?'' tanya Brain, ''ini sudah malam, Chase. Kau harus istirahat.''
''Aku belum mengantuk,'' jawab Chase.
Brain berdiri di dekat Chase. ''Kau harus banyak istirahat,'' katanya, ''kau, kan, pewaris tahta. Kau harus selalu fit dan sehat. Kalau kau sakit, keadaan itu akan dimanfaatkan musuh untuk menyerang kerajaan ini.''
''Aku masih pewaris tahta, belum naik tahta, kan?'' balas Chase, ''selama aku belum naik tahta, kurasa aku tidak perlu seserius itu.''
Brain hanya bisa melongo mendengar ucapan Chase. ''Baiklah, baiklah,'' katanya, ''aku keluar dulu. Selamat malam.'' Brain melangkah keluar kamar Chase dan menutup pintu. Dia melepas kacamatanya lalu membersihkan lensa kacamata. ''Anak keras kepala,'' gumamnya. Brain mengenakan kacamatanya lagi, dia kemudian berjalan menuju kamarnya.
Chase diam, matanya lurus menatap hutan yang berada tak jauh dari istananya. Cukup lama Chase menatap kearah hutan, dia akhirnya menutup pintu balkon dan melangkah ke tempat tidurnya.
Gou keluar dari persembunyiannya di balik pohon, dia lalu menatap kearah istana. Selama 250 tahun, baru kali ini Gou memperhatikan seseorang dengan sangat serius. Dan dia adalah seorang pangeran. Pewaris tahta, calon raja. Pertama kali Gou melihatnya di festival kerajaan, Gou hampir mengira dia vampir sampai Gou tahu dia adalah manusia. Saat Gou mencium aroma darahnya, Gou sangat tertarik. Aroma manis seperti anggur, dan Gou tidak sabar ingin segera menghisapnya.
Akan sangat menarik kalau dia bisa menghisap darah seorang pewaris tahta.
Maka malam itu juga, Gou masuk ke istana. Dia membunuh beberapa prajurit yang berjaga, dan masuk ke kamar Sang Pangeran dengan halus dan mudah. Gou mendekat kearah pangeran itu, dia mengamati si pangeran dan mulai menghirup aroma darahnya. Ritual kecil sebelum makan malam bagi Gou. Gou belum pernah mencium aroma darah semanis ini, aroma yang biasa dia hirup menurutnya seperti kayu manis dan bunga mawar.
Hanya tinggal sedikit lagi Gou akan menancapkan taringnya di leher pangeran itu, menghisap habis darahnya saat pangeran itu tiba-tiba saja membuka matanya. Gou terpaku, matanya bertumbukan dengan mata Sang Pangeran.
Gou berhenti saat dia menyadari dirinya sudah ada di luar istana. Gou ingat dia langsung melesat keluar istana saat pangeran itu terbangun. Hal ini tentu saja membuat Gou heran, pasalnya dia tidak pernah menghindari mangsanya seperti ini. Kalaupun ketahuan, dia malah akan mempercepat misinya dan pergi setelah perutnya kenyang.
Lalu kenapa sekarang Gou lari?
Gou menoleh kearah istana, dia melihat pangeran itu berdiri di balkon. Entah dia bisa melihat Gou atau tidak, kalau penglihatannya bagus sih pasti bisa. Gou memutuskan untuk masuk ke hutan, dia mencari mangsa lain saja. Nanti saja pangeran itu dijadikan makanan penutup.
Dan disinilah Gou sekarang.
Gou tidak pernah melaksanakan niatnya. Entah kenapa Gou seakan tidak bisa melakukan niatnya menghisap darah pangeran itu. Bahkan hingga sekarang rumor vampir sudah tersebar luas di kerajaan itu, Gou masih saja diam disana memperhatikan pangeran itu.
***
''Chase adikku, selamat pagi.''
Chase menoleh, dia memberi salam kepada Medic, adik dari mendiang ibunya. Harusnya Chase memanggilnya Bibi, tapi karena selisih usia mereka tidak terlalu jauh maka Chase menganggap Medic adalah kakaknya. ''Selamat pagi,'' sapa Chase, dia masih saja memasang wajah datar, ''bagaimana tidurmu? Nyenyak?''
''Yah, cukup nyenyak sampai suara cempreng Brain masuk ke telingaku,'' ucap Medic dengan wajah merengut. Chase tertawa pelan, dia berkata, ''Dia alarm berjalan di istana ini. Kau harus terbiasa dengannya, Medic.''
Medic tertawa halus. ''Kau harus lebih berhati-hati, Chase,'' kata Medic, ''kalau tidur, kunci balkon kamarmu. Pintu kamar juga. Kau tahu sekarang ada vampir berkeliaran, mereka bahkan membunuh prajurit istana kita. Artinya dia sudah pernah masuk kemari, kan?''
Chase menghela napas dan memilih menatap taman yang dipenuhi bunga-bunga mawar aneka warna. Dia sudah tahu soal vampir itu, apalagi vampir itu masuk kamarnya dan berniat menghisap darahnya. ''Tapi aku tidak banyak mendengar laporan serangan dari kota,'' kata Medic, ''jadi dia itu vampir apa? Kenapa tidak menyerang manusia?''
''Mungkin dia vampir yang disewa menjadi pembunuh bayaran,'' kata Chase.
Medic tertawa mendengar ucapan datar Chase. ''Vampir jadi pembunuh bayaran,'' kata Medic terkekeh, ''aduh perutku sakit aduh.''
''Pangeran.''
Medic dan Chase menoleh. Seorang pelayan berdiri di dekat Chase dan berkata, ''Pangeran, Yang Mulia meminta Pangeran untuk mengunjungi Kementrian.''
''Kemana Yang Mulia?'' tanya Chase.
''Yang Mulia pergi berburu selama beberapa hari, Pangeran,'' jawab pelayan itu.
''Apa?'' Medic berdiri dan memasang wajah kaget, ''dengan siapa dia pergi?''
''Bersama Tuan Brain dan pengawal kerajaan, Tuan Putri,'' jawab pelayan itu.
Medic mendengus kesal. ''Sudah kuduga Brain pasti mengatur siasat licik,'' gerutunya, ''dia sengaja menyuruhku menghampirimu kesini dan pergi diam-diam. Awas saja dia, akan kubalas dia nanti.''
Chase diam saja, dia beranjak dan mengajak Medic ke Kementrian. ''Ayo temani aku saja,'' katanya, ''kita ke Kementrian sekarang.''
Chase dan Medic masuk ke kereta kuda, mereka menuju Kementrian. Medic masih saja menggerutu sepanjang perjalanan, dan Chase hanya diam menatap jalanan. Chase menduga kasus yang diangkat di Kementrian pasti kasus serangan vampir.
Eh.
''Berhenti!'' perintah Chase. Kereta kuda berhenti, Chase segera turun dan berlari menjauhi kereta kuda. ''Chase!'' teriak Medic, ''Chase kau mau kemana?! Pengawal, awasi Pangeran!''
Chase terus berlari, dia menyentuh pundak seseorang dan menariknya. Chase menatap orang itu, dia berkata, ''Kau....''
''Astaga, Pangeran apa yang kau lakukan disini?''
Chase tersentak, dia segera berkata, ''Maaf, aku salah orang.'' Chase berbalik dan kembali ke kereta kuda bersama pengawalnya. Chase masuk ke kereta kuda, Medic segera memeluknya. ''Apa yang kau lakukan?'' tanyanya khawatir, ''kalau Heart tahu kau tiba-tiba keluar dari kereta kuda dan berlari tidak jelas begitu, dia akan panik.''
Chase menggumam maaf, dia kembali menatap jalanan. Chase yakin sekali tadi orang itu adalah vampir yang masuk kamarnya malam itu.
Tapi wajahnya berbeda. Sorot matanya juga.
Gou menatap kereta kuda yang menjauh dari balik tembok gang sempit. Dia diam menatap kereta kuda itu, Gou lalu tersenyum tipis dan melangkah kembali masuk gang.
***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar