Kamis, 16 Oktober 2014

You And I : Mr. Cold

Title : You And I
Subtitle : Mr. Cold
Author : Mickey
Genre : Romance
Length : Oneshoot
Cast :
Sengoku Ryouma
Takatora Kureshima
~~~
"Aku pulang dulu, ya," kata Yoko, "dah." Ryouma melambaikan tangan sambil tersenyum kepada Yoko, asisten sekaligus sahabatnya. Ryouma menghela napas, dia menoleh menatap jam dinding. Sudah jam sebelas malam. Takatora udah kelar belum, ya?

Ryouma melangkah menuju ruangan Takatora, dan melihat kekasihnya yang makin tua makin ganteng itu masih serius dengan map berisi dokumen penting dan data-data pengeluaran perusahaan. Takatora tampak lelah, meskipun yah wajahnya gitu-gitu aja. Nggak bereskpresi.

"Takatora," Ryouma memanggil Takatora, yang hanya ditanggapi dengan lirikan datar. "Kirain udah pulang," kata Takatora datar. "Ya mana mungkin aku pulang kalau kamu belum pulang," kata Ryouma, dia menyeret kursi dan duduk di samping Takatora, "pulang, yuk. Besok aja itu data diliatinnya."

"Hm," balas Takatora tanpa beralih posisi.

Ryouma menatap Takatora, ingin rasanya dia menonjok wajah kekasihnya itu. Dingin, kaku, datar, lempeng. Tidak bisakah dia bersikap sedikit romantis dan hangat? Tidak perlu seperti Hase dan Jonouchi, duo yang romantisnya keterlaluan itu. Senyum kek sekali-sekali. Sekalinya senyum cuma kalau ada Micchy, habis itu? Udah.

Ryouma jadi cemburu sama Micchy.

"Ayo," kata Takatora membuyarkan lamunan Ryouma. Ryouma berdiri, berjalan di sebelah Takatora. Ryouma mencoba menggandeng tangan Takatora, tapi tanpa bicara Takatora menepis tangan Ryouma dan berjalan sedikit lebih cepat.

"Takatora."

"Apa?"

"Kamu marah sama aku?"

"Nggak."

"Kalau gitu senyum coba."

"Males."

Ryouma melongo, dia sebal sekali. Kapan Takatora bisa senyum dan bersikap hangat kepadanya? Apa Ryouma harus ngancem bunuh diri dulu baru Takatora mau bersikap hangat? Kalau begitu selama ini hubungan mereka ini bagaimana? Apa gunanya Ryouma dan Takatora berpacaran kalau pada akhirnya Takatora sama sekali tidak bisa bersikap romantis?

Jangan-jangan Takatora selingkuh.

Ryouma menggelengkan kepalanya. Mana mungkin Takatora selingkuh. Takatora itu orang yang setia, walaupun dinginnya luar biasa. Yah, mungkin Ryouma harus bersabar. Mungkin suatu saat Takatora akan berubah lebih hangat kepadanya.
~~~
Ryouma masuk ruangan Takatora, senyumnya sangat cerah. "Takatora," sapanya, "makan siang, yuk."

"Nanti aja," jawab Takatora.

"Nii-saaaaaaan," suara Micchy terdengar membahana. Mereka menoleh, Ryouma bisa melihat dari ekor matanya kalau Takatora langsung tersenyum. Oh haruskah Ryouma mendatangkan Micchy agar dia bisa melihat senyum Takatora?

"Nii-san temenin aku keluar, dong," ajak Micchy, "aku mau beli kado buat Rat. Dia kan mau ulangtahun." Takatora meletakkan map di tangannya, berdiri dan segera mengajak Micchy keluar. Ryouma terkejut, hei dia bahkan melewati Ryouma tanpa dosa seakan Ryouma tidak ada disana. Micchy juga tampaknya tidak menyadari kehadiran Ryouma.

Ryouma menunduk, dia jelas merasa sakit hati. Sebenarnya apa hubungannya dengan Takatora? Apa Takatora menjadikannya pacar hanya untuk sebuah status saja? Haruskah Ryouma meninggalkan Takatora? Atau jangan-jangan Takatora menjadikannya pacar hanya untuk menyenangkan Ryouma saja? Tidak tahukah Takatora kalau Ryouma sangat sakit hati dengan perlakuannya?

"Profesor."

Ryouma mendongak, melihat Yoko setengah berlari mendekatinya. "Kamu baik-baik aja, kan?" tanya Yoko. Ryouma menatap Yoko dengan tatapan aku-nggak-baik-baik-aja.

Yoko yang menyadari itu langsung membawa Ryouma meninggalkan ruang kerja Takatora. Yoko merasa hawa ruangan bosnya ini sangat tidak mengenakkan untuk Ryouma.
~~~
"Yaelah elo kayak nggak kenal Takatora aja, sih," kata Sid sambil menyesap kopinya, "dia kan emang gitu. Lempeng, nggak ada ekspresinya. Orang nonton film horor di bioskop yang lain jerit-jerit dia malah masang tampang lempeng." "Sabar aja lah," kata Yoko, "dia mungkin masih belum terbiasa sama statusnya yang udah punya pacar." "Kelamaan ngejomblo bikin dia nggak tau caranya memperlakukan pacar dengan baik," sambung Sid, "sabar aja."

Ryouma menghela napas. Benar juga, sih. Takatora kelamaan jomblo, mungkin itu yang jadi faktor utama dia jadi kaku. Tapi masa senyum aja nggak bisa, sih? "Aku pengen banget dia senyum kayak dia ke Micchy," kata Ryouma, "sekali aja aku pengen dia senyum semanis itu ke aku."

"Tungguin aja sampe Helheim kiamat," balas Sid, "dia cuma bakal senyum kalo ada Micchy."

"Dingin bukan berarti nggak sayang, Profesor," suara Jonouchi terdengar, "Pak Takatora itu kaku, itu watak dasarnya. Tapi bukan berarti dia nggak sayang sama Profesor. Buktinya dia masih bisa senyum walaupun cuma ke Micchy. Artinya dia masih punya sisi lembut."

"Tapi........"

"Setiap orang punya cara sendiri buat menunjukkan perasaannya," sela Jonouchi, "aku nunjukkin perasaanku dengan melayani Hase-Chan sepenuh hati. Kaito nunjukkin perasaannya ke Kouta dengan ngomelin Kouta kalau dia mulai bertingkah. Zack nunjukkin perasaannya dengan memberi motivasi dan mendampingi Peco sepanjang waktu. Pak Takatora mungkin masih mencari metode yang pas buat nunjukkin perasaannya. Dia nggak mau caranya nunjukkin perasaan terkesan kaku. Mungkin dia nyari cara yang bakal terus diinget sama Profesor sampai akhir hayat Profesor."

Ryouma terdiam. Ada benarnya juga omongan Jonouchi. Mungkin Takatora masih bingung gimana caranya nunjukkin perasaannya. Efek kelamaan jomblo tuh pasti.

"Tumben elo bijak," sahut Yoko, "biasanya ngalay tiada henti."

Jonouchi terkekeh saja, sementara Ryouma tersenyum kecil. Oke, dia akan menunggu kejutan apa yang akan diberikan Takatora untuk menunjukkan perasaannya.
~~~
Ryouma menghela napas, dia mengerang sambil meregangkan tubuhnya. Sepertinya dia harus lembur, ada banyak hal yang harus diselesaikan hari ini. Nyesel dia kelamaan nongkrong di Charmant. Gara-gara Sid sama Yoko, nih. Sekarang mereka malah pulang duluan, lari dari tanggung jawab. Awas aja kalo dia dapet uang lembur, Yoko sama Sid nggak bakal dibagi.

Ryouma tersentak saat tiba-tiba Takatora menahan tubuhnya. "Kamu kalo capek istirahat," katanya datar, "untung nggak kejedot lantai itu kepala."

Ryouma menggumamkan terimakasih, dia melirik. Takatora masih saja bersikap biasa, tapi ada sirat kekhawatiran di matanya. "Tumben kemari," kata Ryouma.

"Maaf," kata Takatora.

Ryouma menoleh. Dia nggak lagi mabok, kan? Takatora bilang apa tadi? Maaf?

"Aku denger dari Yoko kalau kamu kecewa sama aku," kata Takatora, "maaf kalau aku nggak perhatian sama kamu. Aku nggak tau gimana memperlakukan pacar dengan baik, karena aku tau pasti beda antara memperlakukan pacar sama memperlakukan adik." Takatora menatap Ryouma, berkata, "Kalau kamu nggak betah kamu boleh nyari pasangan lain."

Ryouma menggeleng. "Aku nggak akan ninggalin kamu cuma karena hal sepele kayak gini," katanya. Takatora langsung menatap Ryouma terkejut. "Sepele?" tanyanya, "kamu nganggep ini sepele?"

Ryouma terkekeh. "Hidupku udah ribet, Takatora," balasnya, "aku nggak mau jadi tambah ruwet dengan meruwetkan masalah kayak gini." Ryouma memegang pipi Takatora, melanjutkan, "Aku ngerti sifatmu. Aku juga minta maaf nggak mau ngerti sama sikap kamu yang emang udah dari sononya lempeng."

Takatora menunduk, dan Ryouma seakan kejatuhan duren melihat Takatora tersenyum tipis. Hanya berdua untuk pertama kalinya tanpa ada Micchy! "Ayo pulang," kata Takatora. Dia berdiri, mengulurkan tangannya kepada Ryouma. Ryouma tersenyum, dia menggandeng tangan Takatora dan berjalan keluar kantor.
~~~

Rabu, 15 Oktober 2014

You And I : Friendzone

Title : You And I
Subtitle :Friendzone
Author : Mickey
Genre :Unknown
Length : Oneshoot
Cast :
Kouta Kazuraba
Mitsuzane Kureshima a.k.a Micchy
~~~
Micchy berjalan semangat menuju markas Team Gaim. Hari ini adalah hari yang membahagiakan, selain karena dia baru saja mendapat uang jajan tambahan dia juga akan tampil lagi bersama teman-temannya setelah seminggu libur. Apalagi Kouta akan bergabung lagi, dia makin semangat.
Tujuan Micchy bergabung di Team Gaim kan karena ada Kouta.
Micchy melangkah masuk markas, dia sangat gugup sekaligus senang melihat hanya ada Kouta disana. Kesempatan, nih berduaan aja sama Kouta. Micchy baru akan menyapa saat Kouta mendekat dan berkata semangat, "Micchy Kaito sms gue!"
 Ming.

Micchy langsung diam, dia menatap Kouta yang tampak super duper bahagia itu. "Emang sih dia smsnya ngomel gitu, nyuruh gue makan dan blablabla," kata Kouta tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya, "tapi kan seenggaknya dia mulai merhatiin gue, nggak cuek kayak dulu."

Micchy tersenyum, dia mengangguk. "Bagus deh kalo dia mulai perhatian," kata Micchy. Jujur saja dia sangat kesal, moodnya hancur lebur mendengar Kouta menyebut nama Kaito. Kenapa Kaito yang jauh disana yang dilihat? Kenapa Micchy yang ada persis di depannya justru diabaikan? Baiklah, maksudnya bukan dianggap tidak ada tapi.... tidak bisakah Kouta menangkap sinyal dari Micchy?

"Kok tumben jam segini udah nongol aja?" tanya Kouta, "biasanya agak sorean dikit baru keliatan." "Oh tadi kelasnya selesai lebih cepet, jadi ya daripada nganggur mending kesini," jawab Micchy. Dia duduk di sebelah Kouta, menatap sendu laki-laki yang masih asyik membalas pesan Kaito. Ingin sekali Micchy teriak di depan muka Kouta agar pemuda bantet itu sadar kalau Micchy di sebelahnya. Malah orang yang nggak keliatan yang diajak ngobrol.

"Kouta-san," panggil Micchy, "udahan dong smsnya. Jalan-jalan yuk."

Kouta menoleh, dia tertawa dan merangkul Micchy. "Ayo deh," katanya, "bete juga ngerem di markas." Micchy terkekeh, dia super senang Kouta memeluknya. Ya walaupun bukan pelukan cinta, hanya pelukan persahabatan. Micchy sih berharap suatu saat Kouta akan memeluknya dengan status mereka berpacaran. Pasti lebih mantap.
~~~
Micchy dan Kouta berkeliling Zawame, sesekali berhenti buat selfie atau sekedar motret-motret random. Kadang mereka mandek di stage Team Raid Wild atau Team Invitto, sok fanboying diantara penonton. Micchy tergelak saat Kouta dengan alaynya sok jadi fans dan minta foto bareng Jonouchi. Mereka juga mampir ke Charmant, ngerayu Oren biar ngasih mereka kue gratis. Micchy sampe janji bakal ngasih dia foto seksinya Takatora biar dikasih dobel gratis.

Jahat ih. Kakaknya jadi umpan.

Micchy menatap Kouta yang makan kue dengan lahap. Dia tersenyum, lucu melihat sisi lain Kouta yang tidak semua orang tahu. Kaito juga dijamin nggak tahu. Kalau begitu Micchy boleh kan mengklaim Kouta sebagai miliknya? Kan dia lebih kenal Kouta daripada si Kaito itu.

"Sering-sering aja kita kesini, ya," kata Kouta, "elo pinter banget ngerayu Oren-san."

Micchy tertawa, dia membalas, "Beres lah itu. Kapan-kapan kita rame-rame aja kesininya. Bangkrut bangkrut dah Oren-san."
~~~
Micchy berhenti di depan markas Gaim bersama Kouta. "Yakin nggak mau dianter pulang?" tanya Kouta, "udah malem lho. Ntar kalo kamu diculik gimana?" "Ya aku culik balik orangnya," sahut Micchy, dan keduanya tertawa. "Ada gitu ya diculik malah balik nyulik," kata Kouta. Micchy menjawab, "Kalo buat Micchy segalanya ada."

Kouta terkekeh pelan, dia menepuk pelan puncak kepala Micchy. "Ati-ati, ya," katanya, "pokoknya jangan kemana-mana sampe supir dateng."

Micchy menatap Kouta. "Kouta-san," kata Micchy, "aku.... aku sayang sama Kouta-san."

"Gue juga sayang banget sama elo," Kouta merangkul Micchy dan mengacak rambut remaja itu, "kalo gue nggak sayang sama elo, nggak bakal gue bisa sahabatan sama elo. Elo sahabat terbaik gue, adik gue. So...... gue sayang banget sama elo."

Micchy menghela napas. Ternyata Kouta masih menganggapnya sahabat. Micchy jadi bingung sendiri bagaimana caranya Kouta sadar kalau Micchy sangat menyayanginya. Kalau rasa sayang Micchy lebih besar daripada Kaito. Micchy bisa saja menempuh jalan ekstrim seperti menyingkirkan Kaito atau menyihir Kouta agar mencintainya, tapi Micchy masih punya hati nurani.

"Eh Kaito sms," suara Kouta membuyarkan lamunan Micchy, "Micchy, nggak papa kan kalo gue tinggal sendirian? Oh gue teleponin Mai, ya, biar nemenin elo." "Nggak usah," kata Micchy, "kasian Mai ntar malem-malem keluar kandang. Ntar disangka cabe-cabean lagi."

Kouta tertawa, dia membalas, "Oke deh gue tinggal ya. Salam buat supir lo. Bye." Micchy tersenyum, dia melambaikan tangannya kepada Kouta. Dia menghela napas, menunduk dalam. Sepertinya hubungannya dengan Kouta tidak akan pernah melewati batas persahabatan. Micchy menatap jalanan sepi di depannya, dia perlahan tersenyum manis. Kalau memang hanya persahabatan yang bisa membuatnya selalu berdekatan dengan Kouta, dia akan berusaha menikmatinya. Mungkin memang Micchy dan Kouta hanya akan bersenang-senang di dalam zona pertemanan abadi, bukan cinta abadi. Persahabatan juga dilandasi oleh cinta, jadi baginya sama saja berpacaran dengan bersahabat. Kouta tetap mencintainya, walupun rasa cintanya hanya sebagai sahabat.

They are friends, and forever will be.

Selasa, 14 Oktober 2014

You And I : Over

Title : You And I
Subtitle : Over
Author : Mickey
Genre :Romance
Length : Oneshoot
Cast :
Hase Ryouji
Jonouchi Hideyasu
~~~
"Hase-Chan. Ayo buka mulut. Aaaaaa."

Hase tampak agak malu, tapi dia menuruti Jonouchi dan membuka mulutnya. Jonouchi dengan senang menyuapi Hase potongan demi potongan kue di kafe Charmant. Sungguh romantis, ya. Sesekali Jonouchi mengelap krim di ujung bibir Hase dengan saputangannya yang selalu wangi setiap saat setiap waktu itu.

"Aku bukan bayi, Jonouchi," kata Hase, "aku bisa makan sendiri. Liat, deh." Hase menyuap sepotong kue sendiri, lalu tersenyum seakan berkata gue-bisa-makan-sendiri.

Jonouchi berdecak, dia mengelap krim di ujung bibir Hase lagi. "Belepotan, tuh," katanya, "udah aku suapin. Biar romantis gitu. Masa kencan nggak ada romantis-romantisnya, sih." Hase menghela napas, dia akhirnya pasrah dengan perlakuan Jonouchi. Yah, seenggaknya lebih baik daripada kencan kayak Kaito sama Kouta yang jauuuuuuuh dari kesan romantis.

Nggak romantis orang selama kencan ribut melulu.

Selesai makan kue di kafe Charmant, Hase dan Jonouchi berjalan-jalan. Jonouchi menggandeng mesra lengan Hase, dan jujur saja Hase agak risih. "Jalannya biasa aja nggak usah gandengan," kata Hase sambil melepaskan pegangan tangan Jonouchi.

"Ih biar romantis tauk," kata Jonouchi, lalu kembali menggandeng tangan Hase. "Zack sama Peco nggak perlu gandengan buat keliatan romantis," balas Hase, "jadi nggak usah gandengan, ya. Please."

"Malu ya?"

Ming.

Hase melongo, dia mendadak panik melihat wajah Jonouchi yang mulai mengeluarkan aura mendung. "Bukan malu," Hase berusaha menjelaskan, "tapi...." "Yaudah kalo nggak malu," Jonouchi mendadak cerah dan menggandeng tangan Hase lagi.

Hase menghela napas. Iyain aja deh daripada ngambek.
~~~
Hase duduk lega di kursi markas Team Raid Wild. Setidaknya cuma disini dia bisa bebas dari segala keromantisan Jonouchi yang lebai itu. Hase jadi bingung, kok bisa ya dia jadian sama Jonouchi? Padahal harusnya dia bisa jadian sama Kaito, sama-sama berpenampilan ala preman. Serasi, kan.

Iya terus selama pacaran tawuran melulu.

"Eh, bayi Hase ngelamun," goda salah satu temannya, "kangen sama Mama Jonouchi, ya?" Teman-temannya yang lain tertawa, sementara Hase hanya mendengus menahan malu. Tuh, kan. Dia pasti digodain kayak gini. Males kan jadinya. Sejak dia jadian sama Jonouchi, semua memanggil dia 'Baby Hase' atau "Hase-Chan' niruin omongannya Jonouchi. Teman-temannya juga kadang menggodanya dengan pura-pura akan menyuapinya atau mengelap keringat di dahinya.

Semua gara-gara over romantisme dari Jonouchi.
~~~
"Baby Haseeeee," suara Jonouchi membahana membelah langit taman kota. Anggota Team Raid Wild dan beberapa orang disana seketika menahan tawa, sementara Hase melongo. Ya ampun Jonouchi ini nggak bisa dikecilin ya suaranya? Bikin malu aja sih ah.

"Ini aku bawain minum," Jonouchi menyerahkan botol minuman kepada Hase, lalu menyeka keringat di dahi Hase dengan tangannya. Tangan ya, catet tuh. Suatu kegegeran mengingat Jonouchi orang yang sangat cinta kebersihan dan selalu pakai saputangan buat menyeka apapun.

"Biasa aja dong," desis Hase tengsin, dia super malu melihat Jonouchi menunjukkan perhatiannya di depan umum. "Emang kenapa?" balas Jonouchi, "kita kan pacaran, wajar dong kalo deket-deketan dan romantis."

Plak!

Jonouchi terkejut bukan main saat Hase menampar tangannya. "Gue bukan bayi!" teriak Hase, "gue nggak suka diperlakuin kayak bayi!"

"Hase-Chan....."

"Jangan manggil gue Hase-Chan!" teriak Hase menyela, "gue nggak suka! Gue nggak suka sama sikap lebai lo ini! Mulai detik ini gue nggak mau diperlakukan kayak bayi! Kalo elo masih aja over romantis ke gue, gue hajar lo!" Hase langsung berlari meninggalkan kerumunan, dan meninggalkan Jonouchi yang shock dengan teriakan Hase.
~~~
Hase bersin untuk kesekian kalinya, dia menyeka ingus yang intip-intip di hidungnya dengan tissue. Sial banget deh, niatnya sehat lari pagi malah kena flu. Memang Hasenya juga yang bloon, lari pagi jam 4 subuh, pas gerimis lagi. Makan tuh pilek.

Hase berbaring lemas di kasurnya yang berantakan, dia membayangkan bubur hangat dan segelas teh manis hangat atau susu. Kalau Jonouchi tahu dia sakit, Jonouchi pasti bakal langsung meluncur kesini dan membuatkannya bubur super enak dan membawakan kue dari Charmant.

Ming.

Hase menoleh, menatap handphonenya di meja. Hase mengambil handphonenya, perlahan menatap fotonya dan Jonouchi yang jadi wallpaper disana. Jonouchi yang masang sih, awalnya wallpapernya ya logo Team Raid Wild. Perlahan rasa kangen masuk ke benaknya, dia kangen sama perhatian Jonouchi. Dia kangen dipeluk, kangen dimanjain sama pacarnya yang wangi sepanjang hari itu.

Hase menghela napas. Dia jadi merasa bersalah sudah membentak Jonouchi, di depan umum lagi. Jonouchi itu biarpun cowok dia sensitif, dia pasti marah besar. Buktinya dia nggak nelpon sama sekali sejak seminggu lalu, padahal biasanya sehari bisa puluhan kali nelpon.

Jujur Hase sudah terbiasa dengan perhatian Jonouchi. Kebiasaan dimanja membuat Hase seperti kehilangan satu rutinitas pentingnya saat Jonouchi nggak ada. Dan sebenarnya Hase suka dimanja seperti itu. Diladeni, dibuatkan masakan, dicucikan bajunya, dibantu membersihkan apartmentnya yang kayak kapal pecah, dan segala bentuk perhatian lainnya.

Apa Hase minta maaf aja ya ke Jonouchi?

Hase berdiri, dengan badan lemas dia meraih jaketnya dan berjalan keluar apartment. Dia bertekad akan minta maaf kepada Jonouchi.
~~~
Jonouchi dengan lesu membersihkan meja pengunjung Charmant. Hal ini tentu membingungkan Oren, secara biasanya Jonouchi selalu bersemangat kayak batere habis dicharge. Jonouchi menghela napas, dia duduk di salah satu kursi dan menunduk.

Salah ya kalau Jonouchi perhatian ke Hase? Jonouchi kan begitu karena dia sayang sama Hase. Dia merasa cuma dengan perhatian dia bisa menunjukkan kalau dia sayang sama Hase.

Yang diperhatiin malah marah-marah.

"Sebenernya sih kamu itu nggak salah," suara Oren mengejutkan Jonouchi, "maksudmu baik, ngasih perhatian ke Hase. Tapi porsinya yang kebanyakan. Nggak semua orang seneng diperhatiin secara berlebihan kayak gitu."

"Kayaknya nggak berlebihan deh," balas Jonouchi.

"Buat kamu mungkin nggak," balas Oren, "tapi buat Hase? Jelas itu lebai banget. Hase nggak terbiasa dimanja kayak gitu, dia jelas ngerasa malu. Apalagi kamu nunjukkin perhatianmu di depan orang banyak." Oren menatap Jonouchi, melanjutkan, "Kamu nggak perlu menunjukkan ke semua orang di Zawame kalau kamu adalah pacar paling perhatian. Cukup Hase aja yang tau kalau kamu sayang sama dia."

Jonouchi menatap Oren yang tersenyum. Benar juga, cukup Hase saja yang tahu kalau dia adalah pacar yang perhatian. "Nah sekarang cuci piring sana," kata Oren. Jonouchi mengangguk, dia berdiri dan merapikan kursi yang masih agak berantakan sebelum melangkah masuk Charmant.

"Jonouch...... Hatchiu!"

Jonouchi menoleh, dia seketika berlari kearah Hase saat mendengar pemuda itu memanggilnya sambil bersin. Hase segera didudukkan di salah satu kursi, lalu Jonouchi duduk di dekatnya dengan pandangan khawatir. "Kamu kenapa, Hase-Chan?" Jonouchi panik, "kamu sakit, ya? Ya ampun hidungnya merah gitu, kamu pasti flu. Kenapa nggak nelpon aja, pake kesini lagi. Kan bisa aku yang kesana."

Hase menatap Jonouchi, dia super senang mendengar suara laki-laki itu. "Maaf," Jonouchi tampak salah tingkah sendiri, "aku..." "Aku kangen kamu, Jonouchi," kata Hase kaku, dia menunduk, "maaf udah marah-marah. Aku nggak biasa dimanja kayak gitu, makanya aku risih. Aku juga nggak suka jalan gandengan, kesannya menye-menye gitu. Maaf."

"Aku juga minta maaf," balas Jonouchi, "aku pikir kamu suka sama perhatian yang aku kasih. Aku pikir kamu bakal seneng kalo aku perhatiin kayak gitu."

"Aku suka kok," kata Hase, "cuma........ Jangan lebai."

Jonouchi menatap Hase, terlihat matanya bling-bling. "Kamu suka aku perhatiin?" tanyanya senang. Hase mengangguk semangat, dia menjawab, "Sekarang aku flu, Jonouchiiii. Suapin doooong."

Jonouchi tertawa melihat sikap manja Hase, di matanya Hase tampak lucu sekali kalau seperti itu. "Tunggu disini, aku ambilin kue sama susu anget dulu," kata Jonouchi. Dia bergegas masuk, tak lama dia keluar dengan sepotong kue dan segela susu hangat. "Ayo buka mulut. Aaaaaa," kata Jonouchi sambil menyuapkan sepotong kecil kue. Hase dengan semangat memakan kue itu, lalu bersandar manja di bahu Jonouchi.

Dimanja itu enak ternyata.
~FIN~

Rabu, 20 Agustus 2014

My Teacher, My Enemy, My...... Love? part 4

Part terakhir is here, epriwaaaaannnnnn
enjoy yaaaaaaa

~~~
"KAKAAAAAAKKKK!!"

"BERISIK! JANGAN TERIAK-TERIAK KAYAK ORANG KECOPETAN!"

Akira meletakkan pisaunya, dia baru saja berbalik saat Kouta menabraknya dengan tenaga seratus kuda. Untung saja Kouta dengan sigap menahan tubuh Akira agar tidak terjatuh.

"Kakakululusujianakhirterusnilaimatematikakubagusbanget!"

Akira melongo. Adiknya ini kesambet setan dimana ngomongnya jadi kayak gitu? "Kamu ngomong apa? Kakak nggak ngerti sumpah deh," kata Akira dengan cengo.

Kouta menghela napas. "Kak-aku-lulus-ujian-akhir-terus-nilai-matematikaku-bagus-banget," Kouta mengeja kata-katanya tadi. Kouta mengeluarkan selembar kertas dari tasnya, lalu diberikan kepada Akira. "Liat, deh berapa nilai matematikanya," kata Kouta, tidak bisa menyembunyikan rasa bangga dan leganya. Akira yang masih saja cengo membaca daftar nilai ujian akhir Kouta, lalu berhenti di baris nilai terakhir.

Matematika : 98

.

.

.

.

"WAAAA!! AKHIRNYA KAMU LULUS! AKHIRNYA NILAI MATEMATIKAMU BAGUS JUGA AKHIRNYAAAA! YA AMPUN KOUTA KAKAK BANGGA BANGET SAMA KAMU!"

"Kak, jangan heboh kayak abis dapet lotere, deh," balas Kouta sweatdrop melihat kehebohan kakaknya yang terlonjak kegirangan. Jadi sebenernya yang ujian itu siapa? Kenapa malah Kak Akira yang bahagia tralala trilili gitu?

"Jadi gimana ceritanya kamu dapet nilai sebagus ini?" tanya Akira. Kouta menunduk, senyumnya agak pudar. "Ada temen-temen yang mau ngajarin aku," jawab Kouta, "dan ada satu temennya Micchy yang paling berjasa ngajarin aku. Namanya.... Kaito."

Kouta menghela napas, memorinya tentang Kaito kembali terbuka. Sejak hari itu, dia sama sekali tidak bertemu Kaito. Masih ingat? Itu, lho, yang kakinya Kouta kejepit pintu. Itu sudah berlalu sekitar tiga bulan. Lama juga, ya.

"Oh yang kamu panggil Kaitonggosongong itu, ya?" terka Akira, dan Kouta mengangguk pelan. "Aku belajar dari rumus-rumus sama soal-soal yang dia kasih," Kouta menunjukkan beberapa lembar kertas yang dia jadikan satu menyerupai makalah, "cuma darisini, Kak. Nggak tau kenapa rumus yang dia tulis itu lebih gampang dihapal, padahal sama aja kayak yang di buku."

Mendengar ucapan Kouta, Akira tersenyum. "Kamu harus ngucapin terimakasih ke dia," katanya, "bawain kue atau apa gitu."

Kouta mengangguk perlahan. Bagaimana dia bisa mengucapkan terimakasih kalau bertemu saja dia sudah tidak pernah? Kalaupun bertemu, rasanya Kouta kurang yakin Kaito masih mau memaafkan dia. Sepertinya Kaito benar-benar marah karena kejadian waktu itu.

"Eh, Kak," kata Kouta, "berarti komik, video game, sama laptopku bisa balik, kan?"

"Ambil aja di kamar Kakak," jawab Akira sambil mengupas kentang, "di laci bawah kasur."

Kouta bergegas masuk kamar Akira. Tidak sabar rasanya dia menyentuh kembali barang-barang kesayangannya itu. Tak lama terdengar Kouta kembali berteriak. "Komiknya mana, Kak?"

Akira berhenti mengupas kentang, dia menoleh menatap Kouta yang keluar kamar sambil menyeringai aneh. Kouta cengo, mendadak dia merasakan aura kurang mengenakkan dari Akira. "Komik, ya," ujar Akira, "udah Kakak loakin minggu lalu, belum gajian soalnya."

.

.

.

.

.

"UAPA?!"
~~~
Kaito berjalan pelan menyusuri jalanan sambil menyeruput jus jeruk. Dia sendirian, Zack tidak mau diajak jalan-jalan karena Peco baru saja menjalani operasi usus buntu. Dan sebagai rasa sayang, Zack ngotot tidak mau makan sampai Peco kentut.

Kok Kaito malah asyik minum jus?

Iya, dong. Kaito, kan, bukan pacarnya Peco. Dia juga masih sayang nyawa, sayang perut. Kaito jelas memilih makan daripada kelaparan nungguin orang kentut.

Darisini aja udah keliatan kalau Kaito emang luar biasa. Songongnya.

Kaito perlahan berhenti, lalu berbalik sejenak. 'Kok....' batinnya, 'perasaan gue jadi nggak enak, ya?' Kaito mengendikkan bahunya, lalu kembali berjalan sambil menikmati jus jeruknya.

"Kak Kaito!"

Gubrak!

Kaito shock, dia melongo saat jus jeruknya terciprat ke muka dan bajunya. Dia semakin cengo saat menyadari yang menabraknya adalah Kouta.

Kouta.

'Jadi ini jawaban feeling nggak enak gue,' batin Kaito, 'jangan-jangan ini anak emang bakat bawa apes buat gue kali, ya."

"Eh.... Maaf, Kak," Kouta mengambil saputangannya, lalu mengusap muka Kaito membersihkan cipratan jus jeruk di mukanya. Kaito tidak berkedip sama sekali, dia seakan tersedot ke masalalu saat pertama kali bertemu Kouta.

Eh.

Kaito tersadar, dia menoleh. Dia menyadari ini tempat pertama kalinya dia bertemu Kouta dua tahun lalu, saat Kouta masih duduk di kelas satu SMA dan Kaito masih semester dua kuliah. Selokan, pohon, bahkan kejadiannya sama persis. Bedanya sekarang kaito bawa jus jeruk, bukan es cappucino.

"Elo itu bawa apes melulu, ya," kata Kaito, "dulu ngotorin baju gue, sekarang juga. Ditambah muka gue kena juga. Mau lo apa, sih?"

Kouta mendengus kesal. "Aku cuma mau ngasih tau kalo aku lulus ujian," kata Kouta, "aku lulus SMA."

"Terus gue harus bilang wow gitu?"

"Dan nilai matematikaku 98!"

Kaito terdiam, dia terkejut mendengar kalimat Kouta. "Makasih," bisik Kouta, "aku belajar dari soal-soal yang Kak Kaito kasih buat aku. Dari rumus-rumusnya juga. Makasih banyak." Kouta menatap Kaito. "Sebagai ucapan terimakasih aku traktir makan kue di tokonya Tante Oren. Ayo." Kouta menarik tangan Kaito, dan Kaito hanya diam mengikuti Kouta. Dia sadar Kouta menarik tangannya, dan itu membuatnya sangat bahagia. Sepertinya Kouta tidak marah lagi kepadanya.

"Tanteeeeeeee," suara cempreng Kouta terdengar syahdu membahana membelah langit. Seorang pria macho tapi gaya tukan rias lekong itu muncul dari dalam sebuah kedai kue bernama Charmant. "Cake coklat dua, ya," kata Kouta semangat.

"Gue nggak suka cake coklat," sahut Kaito, " gue cake pisang aja."

"Oh," kata Kouta, "yaudah, tante. Cake coklat satu sama Cake pisang satu. Kak, ayo duduk disana." Kouta menarik lengan Kaito untuk duduk di tempat yang sedikit rindang. Kaito dengan malas-malasan mengikuti saja apa maunya anak SMA baru lulus ini.

Kaito terus memandangi wajah Kouta yang sedaritadi melihat-lihat sekeliling Charmant dengan wajah berseri-seri. Menurut Kaito, wajah Kouta sudah terlihat lebih dewasa walaupun masih ada sisa kekanak-kanakkan di dirinya. Dia tersenyum kecil, ikut senang dengan kebahagiaan yang dirasakan Kouta.

"Kak, diliat dong nilai-nilaiku," kata Kouta menyodorkan selembar kertas kepada Kaito. Kaito hanya melirik, lalu membalas, "Buat apa? Elo kan udah ngasuh tau semua nilai lo tadi di jalan."

"Duh, diliat aja apa susahnya, sih?" balas Kouta kesal. Kaito mendengus, akhirnya dia mengambil kertas itu dan membaca daftar nilai ujian akhir Kouta. Dia agak takjub dengan nilai-nilai Kouta yang sangat bagus. Dan itu membuat Kaito heran, pelajaran lain Kouta bisa dapet nilai hampir sempurna, tapi kenapa dia bego banget  di pelajaran matematika?

"Bagus-bagus, kan, nilaiku?" Kouta memasang wajah bangga maksimal, "aku nggak sebego yang Kak Kaito bilang dulu."

Kaito mengembalikan kertas itu. "Nilai kayak gitu, sih, udah biasa buat gue," kata Kaito sombong, "norak."

Kouta terdiam, matanya lurus menatap Kaito yang melihat kearah lain dengan posisi duduk bak seorang bos besar. "Kak Kaito masih marah, ya, sama aku?" tanya Kouta pelan. Kaito hanya melirik sekilas, lalu mendengus singkat.

Kouta menunduk, dia bertanya lagi, "Kak Kaito masih marah, kan, sama aku gara-gara waktu itu?"

"Setelah gue nyisihin waktu buat ngajarin elo matematika, setelah gue harus bengek masuk gudang bukain buku-buku matematika SMA gue yang debunya sampe 10 senti, setelah gue begadang bikinin elo soal latihan sama rangkuman rumus, dan setelah gue harus lari dari kampus ke markas lo tiap hari cuma buat ngajarin elo, balesannya cuma maki-maki? Elo bilang gue cuma bikin elo stres? Elo nggak tau, kan, gimana stresnya gue bagi waktu kuliah gue sama ngajarin elo matematika? Sakit hati gue gara-gara omongan elo.Ngerti?"

Kali ini Kouta yang terdiam. Dia merasa sangat bersalah sekarang. "Abisnya Kak Kaito juga, sih, ngata-ngatain melulu," balas Kouta pelan, "ngatain bego, blo'on, payah. Aku juga sakit hati dikatain gitu."

Kaito dan Kouta sama-sama terdiam, entah apa yang sekarang mereka pikirkan.

"Pesanan datang," suara Jonouchi menginterupsi kesunyian sambil menyajikan sepiring cake coklat dan cake pisang, lalu pergi meninggalkan keduanya kembali ke lingkup kesunyian.

"Maaf," suara keduanya terdengar, lalu sama-sama tercengang dan saling pandang.

Kouta tersenyum kecil, akhirnya memilih memakan kuenya. Kaito juga memakan kuenya, dia tesenyum samar. "Aku dikasih hadiah, nggak?" tanya Kouta.

"Enak aja minta hadiah," sahut Kaito, "elo udah ngata-ngatain gue masih sempet juga minta hadiah. Nggak ada!"

"Ada."

"Nggak."

"Ada."

"Nggak."

"Ada. Kan aku udah dapet nilai bagus matematikanya."

"Oke gue kasih hadiah. Tapi elo harus gue hukum dulu. Kan elo udah maki-maki gue."

Kouta melongo. "Jangan aneh-aneh ya hukumannya," kata Kouta pelan. Kaito tersenyum miring, dia menatap Kouta dengan mata memicing tajam. Jujur saja Kouta jadi agak ngeri dengan ekspresi Kaito yang mirip penjahat-penjahat di film koboi.

"Halo, Rat. Nih Kouta makan kue nggak ngajak elo. Gampar aja biar lega."

Kouta mengerutkan dahi, dengan cepat menoleh ke belakang setelah mendengar ucapan Kaito. "Ah, rese," gumam Kouta, "gue diboongin." Kouta menoleh, mulutnya sudah bersiap meluncurkan omelan kepada Kaito.

.

.

.

Kouta terbelalak, berbagai macam perasaan berjejalan di dirinya. Entah sensasi apa yang dirasakannya sekarang. Basah? Hangat? Lembut? Ya, kurang lebih itu yang dirasakannya.

Kaito memundurkan wajahnya menjauhi Kouta, menjilat bibirnya sensual. "Anggap itu hukuman," Kaito tersenyum kecil, "dan hadiah." Kaito kembali menikmati cakenya, sementara Kouta masih shock. Dia tidak tahu harus bicara apa sekarang. Kaito menahan tawa melihat semburat pink merona muncul di pipi Kouta.

"I love you," ujar Kaito, dan itu sangat kaku. Kaito berdehem, dia membenarkan bajunya lalu kembali melahap cakenya. Kouta menatap Kaito, perlahan dia mencondongkan tubuhnya kearah Kaito dan mendekatkan bibirnya ke telinga mahasiswa itu.

"You too."
~~~
"Ya ampun ini salah. Jangan dibagi dulu, woi. Aduuuuuh masih nggak paham juga?"

"Tapi ini rumusnya kan bilangnya dibagi dulu."

"Jangan nurutin rumus yang ini! Ini rumus sesat! Gue udah makan soal ini dari SD. Udah nurut aja kenapa, sih?"

"Nurut sama elo lebih sesat."

"Bilang sekali lagi."

"Idih budeg. Gue bilang nurut sama elo itu lebih s..........."

Ucapan Kouta terhenti mendadak dengan lumatan lembut bibir Kaito di bibirnya. "Ngomel sekali lagi gue makan lo," ancam Kaito, lalu kembali menjelaskan rumus-rumus untuk soal matematika Kouta yang dia buat sebagai persiapan kekasihnya ujian masuk perguruan tinggi.

Kouta terdiam sejenak, lalu tertawa dan menopang pipinya dengan kedua tangan memandangi wajah Kaito yang serius menjelaskan soal-soal itu. Dia baru sadar kalau Kaito itu sangat tampan.

"I love you, Kak Kaito."

"Hm."

"Pait. Jawabnya gitu doang." Kouta mendengus kesal.

Kaito meletakkan pulpennya, menatap Kouta dengan mata memicing. "Mau jawaban yang gimana?" tanya Kaito. "Yang romantis kayak Kak Jonouchi sama Hase," jawab Kouta sambil menyeringai jahil.

"Najis," gumam Kaito. Dia melirik Kouta yang menggerutu "Nggak romantis, kaku, songong, gengsian, blablablablabla", lalu tersenyum kecil. "Udah jangan bawel, kerjain aja soal-soalnya," kata Kaito.

"Tapi kalo bisa aku dapet hadiah, ya," balas Kouta.

"Hm. Udah kerjain."

Kouta tertawa, dia mulai serius mengerjakan soal-soal pemberian Kaito.

"I love you too, Kouta."
~~~
#Bonus# (abaikan aja, nggak penting dan absurd banget)
"Ammmmm," Mai terkikik kecil bersama Micchy setelah keduanya saling menyuapi cake tiramisu. Rat dan Rika saling pandang, lalu memutar bolamata melihat kemesraan keduanya yang terlalu berlebihan. Mereka menoleh, lebih sweatdrop lagi melihat Yuuya dan Chucky yang pacarannya kayak orang bisu. Bicaranya pake bahasa kalbu mungkin. Cuma saling pandang, lalu tersenyum malu-malu, liat-liatan lagi, malu-malu lagi.

"Rika," panggil Rat.

"Apa?"

"Pacaran yuk. Biar nggak ngenes ngeliatin mereka."

"Hah?"

Rika cengo menatap Rat yang tampak lesu. "Wah mabok ni anak satu," kata Rika, "semalem elo minum sake yang dioplos pake apaan? Bensin?"

"Bangke lo," balas Rat, "nyium bau sake aja gue mau muntah pake dioplos bensin. Mati dong gue. Serius nih."

"Elo nggak asik banget, sih, nembaknya. Tapi boleh, sih. Ayo, deh, pacaran."

"Sialan. Ujungnya diterima juga."
*
"Aaaaahhh. Iya Peco, turun sedikit lagi. Aaaahhh iya disitu, terus Peco terus."

"Jangan gerak-gerak dong. Ntar nggak pas."

"Kalo diem aja nggak tahan, Pecooo. Turunan dikit lagi dong. Naah itu dia. Enaknyaaa."

"Tangannya jangan ikut-ikutan! Nggak pas beneran, kan?"

"Aku kan cuma bantuin kamu, beb. Biar makin pas dan makin enak garuknya."

Peco mendengus kesal, dia kembali menggaruk punggung Zack yang kemerahan. Dia jadi penasaran, apa yang dikerjakannya kemarin sama Kaito sampai gatel-gatel kayak orang nggak mandi dua tahun ini.
#Bonus End#
~~~
AKHIRNYA TAMAAAATTTTT!!!!
Thanks to :
Cc Mar, Cc Joonivi, Bebeb Novia, Cc Anna, Mbak Onya, Hera, Natsumo
Yang sudah dengan jahatnya menenggelamkanku ke dalam dunia tokusatsu ini XD
Karu, sang dedek Kookie yang juga setia ngasih pujian buat FFku
Dan buat semuanya yang ngomen dan baca serta setia nungguin FF ini
MAKASIH YAAAAAA
*sungkemin satu-satu*

Selasa, 19 Agustus 2014

My Teacher, My Enemy, My...... Love? part 3B


Hollaaaaaaaaaa
Hai hai hai....
Ada yang kangen?
Atau malah bosen??
Ini sebenernya jadi satu sama part sebelumnya, makanya judulnya part 3B
Maklum, faktor M XD
Oke deh, enjoy ya :D
~~~

Satu bulan berlalu. Semua berjalan seperti biasa. Kouta tetap dengan nila rendahnya untuk matematika, dan yang lain harus berpusing-pusing mengajari Kouta. Namanya solidaritas tanpa batas ya gitu. Susah ditelen bareng-bareng.

Seperti deja vu, hari ini semua member Gaim berkumpul di markas dan sangat tegang duduk mengelilingi meja bundar. Mereka semua menatap selembar kertas terlipat di tengah-tengah meja dengan wajah seperti sedang menghadapi calon mertua. Tegang nggak ada santainya sama sekali. Kertas itu seakan menjadi penentu hidup dan mati mereka hari ini.

Kouta doang sih. Nggak tahu juga kenapa yang lain ikutan tegang.

"Gue nggak sanggup buat buka," gumam Kouta, "gue nerpes." "Nervous, Kak. Nervous," Mai mengoreksi dengan mulut monyong-monyong minta dicium Micchy.

"Iya tau," balas Kouta cepat. Dia kembali menatap kertas itu, susah payah dia menelan ludahnya sendiri. Kertas itu bahkan lebih mengerikan daripada amukan Akira. Dengan tangan gemetar, Kouta mengambil kertas itu dan membukanya lalu meletakkannya kembali di meja agar yang lain bisa melihat juga.

Matematika : 78

.

.

.

.

"KOUTAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!"

Sorak-sorak bergembira terdengar membahana badai ulala di markas. Semua anak loncat-loncat bahagia, mereka mengelu-elukan Kouta yang masih tidak percaya mendapat nilai 78. "Wah, kerja keras lo nggak sia-sia!" kata Rat memekik senang, "akhirnya elo dapet nilai diatas 50!"

"Gue yakin Kak Akira pasti balikin semua komik yang disita," sambung Rika.

Kouta tersenyum senang, akhirnya ikut melompat bahagia dengan yang lain. Eh, tapi kebahagiaan ini tidak boleh dirasakan sendiri. Kaito juga harus tahu kalau dia dapat nilai 78.

Kaito.

Perlahan senyum Kouta memudar, dia pelan-pelan menyingkir dari euforia kebahagiaan yang lain. Kouta menunduk, menatap lembar kertas di tangannya. Kaito, orang songong nan sombong itu berperan besar dalam kemajuan Kouta. Walaupun hanya seminggu, tapi dia telaten mengajari Kouta. Yah, walaupun dengan segala macam cacian dan hinaan, sih.

Haruskah Kouta memberitahu Kaito?

Kouta menoleh, tangannya meraih lembaran kertas di dalam tasnya. Kertas-kertas itu adalah rangkuman rumus dan contoh soal dari Kaito. Kouta menghela napas, dia menyadari kalau sebagian kecil hatinya merindukan kehadiran Kaito. Dia merindukan ejekan Kaito yang mengatainya bodoh, payah, tolol, oon, dan lain-lain. Dia merindukan Kaito yang kadang tersenyum kalau Kouta bisa menyelesaikan satu soal.

Intinya, Kouta merindukan Kaito.

Kouta kembali menghela napas. Dia merasa bersalah sudah membentak Kaito, dan sudah pasti Kaito akan marah besar. Pasti Kaito tidak mau melihatnya lagi. Kouta melirik kertas nilai ujiannya, membayangkan Kaito kalau saja hari itu tidak pernah terjadi.

Kaito pasti masih disini dan tidak akan bereaksi apa-apa. Biasalah, jaga image.

"Eh, gue pergi dulu, ya," Kouta menginterupsi yang lain. " Mau kemana? Ngasih tau Kak Akira?" tanya Yuuya. Kouta hanya tersenyum, dia langsung berlari meninggalkan yang lain.

Kouta harus menemuinya, apapun yang terjadi.
~~~
Kaito memeriksa ulang laporan yang akan dia serahkan kepada dosen besok. Dia yakin sekali kalau laporannya tidak akan mengalami yang namanya perbaikan atau apalah. Pede aja. Kaito, kan, anaknya pinter. Orang pinter, mah, nggak kenal perbaikan. Kenalnya cuma nilai bagus sama juara satu doang.

Kaito menghela napas, dia sudah yakin laporannya benar. Kaito meregangkan tubuhnya, lalu bersandar di dinding kamarnya. Zack dan Peco terdengar bermesraan di ruang tengah, dan jujur saja Kaito iri. Dia hanya sendirian di kamarnya. Jones sih.

Andaikan dia dan Kouta seperti itu.

Eh.

Kouta.

Kaito menatap langit-langit kamar. Bagaimana kabar anak itu? Setahunya sekarang ada ujian untuk anak-anak tingkat akhir SMA. Dia sangat penasaran apakah Kouta ada kemajuan. Apakah nilainya membaik, atau justru dapat nol. Kalau benar begitu, Kaito ingin sekali mengajarinya lagi.

Tapi....

Kouta sudah sangat marah kepadanya.

Kaito merutuki dirinya sendiri. Kenapa dia sekasar itu? Mengatai Kouta bodoh, bahkan memukul kepalanya tanpa ampun. Kouta pasti sangat membencinya sekarang. Dia merasa bersalah, tapi Kaito mempertahankan gengsinya. Dia ogah minta maaf duluan. It's totally not Kaito's style.

"Kaito. Woi."

Kaito menoleh. "Ada tamu," kata Peco, "mau nemuin elo katanya."

"Siapa?" tanya Kaito datar. Dalam hati dia berharap tamu itu adalah Kouta.

"Jonouchi. Dia mau ngambil makalah yang elo pinjem katanya."

Kaito mencelos. Oh, Jonouchi ternyata. Kaito mendengus, menyaut sebuah makalah dan berjalan malas ke pintu. Dia keluar, menemui Jonouchi yang....

"Ehem. Get a room please."

Kaito dengan jelas melihat keterkejutan Jonouchi dan Hase, sang kekasih. Jonouchi dengan sigap melepas cumbuan mesranya dan menatap Kaito dengan salah tingkah sendiri. "Nih, makasih makalahnya," Kaito menyodorkan makalah di tangannya, "lain kali kalo mau ngesuk-ngesuk jangan di muka umum. Dirazia tau rasa lo berdua."

"Oh, oke," Jonouchi masih agak salah tingkah, "aku... aku langsung aja ya. Bye." Jonouchi langsung ngacir bersama Hase tanpa menunggu jawaban dari Kaito. Kaito mendengus, dia agak jijik kalau melihat dua sejoli itu mengumbar kemesraan di muka umum. Berlebihan sekali. Kaito melangkah masuk, lalu menutup pintu.

"Kak Kaito!"

Jdugh!

"Aww!"

Kaito terkejut, dia membuka pintu dengan cepat. Matanya terbelalak melihat Kouta berdiri di depan pintu rumahnya sambil meringis mengusap-usap dahinya. Seketika Kaito merasakan letupan kebahagiaan melihat Kouta. Dia sangat rindu dengan anak SMA itu.

"Mau ngapain lo kesini?" tanya kaito, dia berusaha mendatarkan suaranya, "masih mau marah-marah? Sana ngomong sama tembok." Kaito baru akan menutup pintu ketika Kouta menyahut, "Nilai matematikaku 78!"

Kaito terpaku, tangannya berhenti seketika. "Nilaiku naik, Kak!" Kouta terdengar sangat gembira, "liat, deh. Emang, sih, masih kalah bagus dibandingin nilai-nilai yang lain, tapi seenggaknya nilaiku nggak dibawah 50 lagi."

Kaito berusaha keras menahan tawanya mendengar pengakuan anak SMA di depannya ini. "Halah nilai 78 aja bangganya selangit," balas Kaito, "gue yang dari brojol ditakdirin dapet nlai 100 aja nggak heboh kayak elo."

Kaito bisa melihat perubahan ekspresi Kouta dari tersenyum cerah menjadi kesal. "Masih sempet nyombongin diri," gumam Kouta, "songong amat ini orang satu."

"Ngatain gue songong lagi," sahut Kaito keras, "mending gue songong, daripada elo norak. Udah, ah, gue nggak ada waktu buat elo." Kaito langsung menutup pintu dengan agak keras.

"Kak!"

Kaito berdecak. "Apa lagi?!"

"Buka dulu pintunya!"

"Nyaman banget lo nyuruh gue buka pintu. Ogah!"

"Bentar doang, Kak! Buka dulu!"

"Gue bilang ogah ya ogah!"

"Tapi kaki gue kecepit, Kak! Adududuh!"

kaito terbelalak, dia cepat-cepat menunduk. Benar juga, ada sebuah kaki bersepatu putih terjepit di pintu. Kaito membuka pintu, lagi-lagi matanya melihat Kouta yang meringis kesakitan. Dia lagi-lagi berusaha menahan diri untuk tidak mendekati Kouta, dan akhirnya hanya memasang wajah datar andalannya.

"Aku mau minta maaf," kata Kouta, "maaf udah maki-maki kak Kaito waktu itu. Abisnya Kak Kaito juga nyebelin banget jadi orang. Lidahnya pedes kayak lidah mertua."

Kaito memutar matanya malas. Enak saja lidahnya disamakan dengan lidah mertua. Pedesan lidah mertua, tauk. "Elo minta maaf tapi dibelakangnya masih aja ngatain," kata Kaito, "sana pulang. Maaf gue mahal buat elo." Tanpa basa-basi Kaito menutup pintu. Dia tidak peduli mau Kouta kejedot kek, kakinya kejepit kek bodo amat dah.

"Halah elo pake gengsi segala," suara Zack terdengar. Kaito menoleh, matanya memicing menatap Zack yang tengah menyuapi Peco cake coklat. "maksud lo apaan?" tanya Kaito, "gue emang nggak minat sama anak SMA banyak tingkah kayak dia."

"Nggak usah ngeles kayak bis kejar setoran," sahut Zack, "gue udah kenal elo sejak SD. Gue paham banget kalo elo sebenernya naksir si Kouta itu, cuma elonya aja kegedean gengsi." "Makan tuh gengsi," sahut Peco sambil tertawa.

Kaito mendengus. Kata-kata Peco barusan membuatnya ingin menghajar orang itu andaikan tidak ada Zack di dekatnya. Kaito masuk kamar, menghempaskan tubuhnya di ranjang.

Gengsi.

Iya. Kaito gengsi ingin menyatakan perasaannya kepada Kouta. Sudah lama dia sadar kalau dia menyukai Kouta, apalagi sejak dia menjadi guru les matematika dadakan untuk bocah itu. Kouta itu blo'on, lelet, payah, cerewet kayak emak-emak, tapi itu yang disukai Kaito. Dia suka melihat senyuman kouta, matanya yang menyipit saat tertawa, suara cemprengnya, dan bibirnya yang melekuk indah menggoda iman.

Eh.

Kaito mengerjapkan mata. "Aaaahhhh!!!" Kaito mengerang frustrasi, "Kouta itu...... Aaaahhh!! Gue benci Kouta! Gue benciiiii!"
~~~


N.B : maafkan segala typo yang bertebaran. salahkan keyboard komputer warnet yang minta dibanting.

Kamis, 17 Juli 2014

My Teacher, My Enemy, My...... Love? part 3

Part 3 is here everyone :D
>>>
"Heh, itu salah."

 "Apanya yang salah? Bener, kok."

"Ngeyel banget, sih, jadi orang. Salah itu."

"Yeee. Situ yang ngeyel. Aku ngitungnya bener, kok."

Kaito menarik kertas di dekat Kouta, mencoretinya dengan pensil. "Ngerjain soal pitagoras aja nggak bisa," kata Kaito, "payah." Kaito menghitung soal pitagoras yang diberikannya untuk Kouta, lalu menjelaskannya sekali lagi.

Kouta menatap Kaito. Laki-laki di depannya ini menyebalkan sekali, dia bahkan tidak ragu untuk memukul kepala Kouta kalau dia salah jawab atau mulai bersikap kurang ajar (menurut Kaito sih). Kaito juga tidak sungkan mengatainya bodoh atau payah atau apapun. Ya memang Kouta itu payah, tapi kan tidak perlu diperjelas begitu. Mentang-mentang pintar lalu dia seenaknya mengatai orang begitu? Guru macam apa itu? Mulutnya diajari tata krama tidak, sih?

"Jelas?" tanya Kaito membuyarkan lamunan Kouta. "Eh? Oh... Ee... Jelas, kok jelas. Aku itu udah ngerti, nggak usah dijelasin lagi," jawab Kouta agak gugup. Kaito menatap Kouta datar dengan sebelah alisnya terangkat, lalu menulis sesuatu diatas kertas dan menyodorkannya kepada Kouta. "Kerjain lima soal itu," kata Kaito, "elo nggak boleh kemana-mana sampe soal-soal itu kelar dan jawabannya bener semua."

Kouta melihat soal-soal itu, seketika matanya terbelalak. Oh, man. Soal ini lebih sulit dari yang tadi. "Soal yang itu, kan belum selesai," Kouta beralasan, "sini aku kerjain yang itu dulu." Tangan Kouta baru akan terulur meraih kertas soal yang lama saat tangan Kaito dengan cepat menyambarnya terlebih dahulu lalu meremasnya dan dilempar sembarangan. "Nggak berlaku," katanya, "nggak usah bawel nggak usah banyak bacot. Kerjain. Kalo situ nggak bisa, jangan harap bisa pulang. Gerak dikit aja gue lelepin lo di sungai."

Kouta mendengus kesal, dalam hati dia merutuki dirinya sendiri dan kekejaman Kaito. Dia menatap soal-soal itu, mencoba mengerjakannya. Dahi Kouta berkerut, dia berusaha mengingat penjelasan Kaito yang bahkan tidak dia dengar karena sibuk memaki Kaito dalam hati.

Kaito menatap Kouta, dia berusaha keras menahan senyum. Kouta tampak lucu sekali dengan wajah seriusnya. Seperti wajah orang menahan kentut. Mata Kaito mengamati setiap inci wajah Kouta, memandangi mata Kouta yang tertutupi sebagian poni rambutnya. Pandangan Kaito terus meneliti wajah Kouta, dan akhirnya pandangan itu berhenti di bibir Kouta.

Glup.

Susah payah Kaito menelan ludahnya. Bibir. Oh my God. Mata Kaito terus menatap bibir Kouta yang terkatup, mengamati lekuknya yang tampak sempurna itu. Kaito menggigit bibir bawahnya, berusaha keras menahan diri untuk tidak mengecup bibr itu. Kissable lips. Rasanya pasti manis.

Eh.

 Kaito mengerjapkan matanya, dengan sigap membuang muka. Masa Kaito jatuh cinta dengan anak SMA? Gengsi, dong. Apalagi anak SMAnya payah seperti Kouta. Mau ditaruh dimana mukanya nanti? Tapi mata tidak bisa berbohong, bung. Kaito kembali menatap Kouta, dia bisa melihat sebulir keringat menetes dari dahi muridnya itu. Kouta menyeka keringatnya, sebagian poninya tersibak memperlihatkan manik mata gelapnya.

Kaito melirik pekerjaan Kouta, dia melengos melihat Kouta masih mengerjakan soal nomor satu. Nomor satu, saudara sekalian! Ini sudah limabelas menit dan Kouta belum juga move on ke soal nomor dua. Sesuatu sekali.

"Udah selesai belum?" tanya Kaito dengan nada mengejek, "payah. Ngerjain satu soal aja limabelas menit nggak kelar-kelar. Anak SD disuruh ngerjain lima soal itu limabelas menit juga kelar. Udah payah, bego, lelet lagi."

"Duh, bisa diem nggak, sih?!" sentak Kouta kesal, "aku lagi berusaha ngerjain soalnya! Hargain usha orang dong! Songong banget sih jadi orang!"

Pletak.

"Adoh!" Kouta langsung balas menendang kursi Kaito hingga dia terjungkal. "Waaa!" Kaito meringis memegangi pinggulnya yang terbanting, lalu menarik kursi Kouta. Kouta langsung terjungkal, bahkan punggungnya membentur lantai cukup keras. "Woi biasa aja nggak usah anarkis!" teriak Kouta, langsung bangkit dan menjambak rambut Kaito.

"Elo yang anarkis duluan pake nendang kursi gue!" Kaito mendorong muka Kouta hingga rupanya...... yah, bahkan lebih buruk dari lukisan abstrak. Dua orang itu saling menyerang, entah bagaimana rupa mereka sekarang. Masih berwujud normal sudah syukur, kok.

"Woi woi woi! Berhenti!"

Yuuya danZack langsung memisahkan mereka berdua. Zack menahan Kaito dan Yuuya menarik Kouta menjauh, tangan Kouta masih berusaha meraih Kaito. "Udah berhenti!" teriak Micchy ikutan panik, "kalian ini udah bangkotan tingkahnya kayak anak SD! Woi, stop! Kak Kouta, udahan dong! Tangannya jangan kayak emak-emak rebutan baju obralan di mall! Kak Kaito, jangan nendang-nendang kayak bayi dipakein popok!"

"Micchy nggak usah ngelawak!" teriak Zack masih menahan Kaito dibantu Peco yang apesnya terkena seplakan Kaito. "Woi Kaito! Kenapa jadi Peco yang lo gampar?! Mau gue potong jadi dua lo?!"

"GUE NGGAK MAU BELAJAR SAMA DIA LAGI!"

Teriakan Kouta sukses menghentikan huru-hara, padahal dia biang keroknya.

"Lho?"

"Gue nggak betah! Seminggu belajar sama dia bikin gue stress! Dia buikannya ngajarin malah ngatain gue bego, payah, lelet, blo'on, dan sebagainya! Gue nggak betah! Pergi lo darisini! Gue nggak mau belajar sama elo lagi!" Kouta meraung marah sambil mengacak rambutnya frustrasi.

Semua anak terdiam. Rat, Chucky, dan Rika saling pandang. Ini pertama kalinya Kouta bicara sekeras itu. Orang ini juga pertama kalinya Kouta marah sampai gitu. kaito sendiri diam, dia tidak menyangka Kouta akan semarah itu. Sebenarnya Kaito sendiri emosi,. tapi sebagian kecil hatinya merasa agak nyeri saat menyadari Kouta marah karena dirinya. Napasnya terengah-engah, entah apa yang terjadi tapi saraf tubuhnya melemah. Dia tidak tahu harus membalas apa. Padahal biasana Kaito selalu punya sejuta kalimat sadis untuk menyerang orang-orang yang marah kepadanya.

"Fine gue pergi," akhirnya Kaito bersuara, "gue.... gue juga nggak betah ngajarin elo. Payah, otak lo cetek." Kaito menyambar tasnya, berjalan meninggalkan yang lain. "Semoga sukses, ya," kata Kaito dengan suara meremehkannya yang biasa. Kaito berjalan lagi, dan dia menghilang begitu saja.

"Eh gue pulang dulu," kata Zack. Dia bergegas menggandeng tangan Peco yang masih kesakitan gara-gara digampar Kaito keluar markas geng Gaim. Yuuya menatap Micchy, dia berbisik. "Bener, kan. Kouta nggak betah belajar sama Kaito."

Micchy menatap Kouta yang terengah-engah dengan mata agak berair. Ya siapa juga yang sabar dihina seperti itu? Kouta langsung membereskan kertas-kertas di meja, menjejalkannya ke dalam tas lalu pergi begitu saja tanpa bicara apapun.

"Semua salahku," Micchy menunduk, dia merasa bersalah karena ide belajar dengan Kaito berasal dari dia.
~~~
HWAAAAA!!!! Maafkan saya baru bisa post. faktor M menyerang. Hope you like it, comment, and...... enjoy!!!!

Rabu, 04 Juni 2014

BALADA KOTA ZAWAME

Title : Balada Kota Zawame
Author : Mickey
Genre : Gado-gado
>>>
HOLAAAAAA!!!!!!!
Mickey is back with new FF
Tapi yang ini masih pengenalan
Enjoy!!
>>>
Cast And Character


1. Takatora
Takatora adalah direktur perusahaan robot-robotan bernama Yggdrasil. Agak nggak jelas juga kenapa namanya Yggdrasil, orang Takatora juga nggak ngerti artinya apa. Asal comot nama aja biar lain dari yang lain. Takatora adalah sosok pemimpin yang berwibawa serta ayah yang sangat tegas dan cenderung galak sama dua anaknya, Kouta dan Mitsuzane. Tapi segalak-galaknya Takatora, dia tetep aka bakal berubah lembek dan agak alay kalau di deket suaminya, Ryouma.

2. Ryouma

Ryouma adalah suaminya Takatora, sifatnya lembut dan suka bercanda sama anak-anaknya, jadi anak-anaknya lebih nurut sama Ryouma daripada sama Takatora. Dia benar-benar menjiwai peran 'Ibu', sensitif dan lebih gampang khawatir kalau ada hal buruk menyangkut keluarganya. Ryouma awalnya adalah desainer dan pencipta robot-robotan di Yggdrasil, dan dengan kisah cinta yang unik dia bisa menikah dengan Takatora. Hanya Ryouma yang bisa menenangkan Takatora. Ryouma jago masak, walaupun kadang Mitsuzane iseng manggil dia Mama karena kelembutannya, dia tetaplah laki-laki yang perkasa. Lebih macho daripada Takatora kadang-kadang.

3. Minato
Yoko Minato adalah asisten Ryouma sekaligus sahabat ilmuwan yang kadang sengklek itu. Awalnya dia jadi sasaran kecemburuan Takatora yang nggak suka Minato deket-deket sama Ryouma, bahkan hampir dipecat segala saking cemburunya Takatora sama dia. Tapi akhirnya justru Minato yang mendekatkan Ryouma dan Takatora, mendamaikan mereka kalau mereka berantem, bahkan dia dengan ikhlas meminjamkan rahimnya untuk menampung bayi-bayi dua orang itu (kan nggak mungkin cowok hamil). Minato berkepribadian seperti wanita kebanyakan, murah senyum, cerewet, biang gosip dan ramah. Tapi kalo marah setan aja kalah serem sama dia.

4. Sid
Sid adalah teman Takatora, dia sales buat robot-robot yang diproduksi Yggdrasil. Kerennya marketing gitu, bagian pemasaran. Sid ini yang kadang jadi juru damai kalau Minato sama Kouta mulai berantem.

5. Kouta
Kouta adalah anak sulung Takatora dan Ryouma. Dia cenderung nakal dan banyak tingkah, persis Takatora, Tapi sebenernya dia anak baik-baik, kok. Senakal-nakalnya Kouta dia tetep aja manja ke Takatora dan Ryouma. Sebadung-badungnya dia, dia masih pamitan kalau mau minggat. Kurang baik apa coba? Walaupun Kouta lahir dari rahim Minato, dua orang ini adalah musuh besar. Kouta selalu menjuluki Minato 'Tante Perawan Tua', dan Minato selalu dibuat kesal dengan sikap Kouta yang persis Takatora. Tapi biar begitu sebenarnya Kouta sangat menyayangi Minato dan menghormatinya sebagaimana seorang anak menghormati ibunya seperti dia menyayangi Ryouma.

6. Mitsuzane
Mitsuzane yang akrab disapa Micchy ini adalah anak bungsu Takatora dan Ryouma. Beda jauh dengan Kouta, Micchy ini super pinter dan jauh lebih tenang seperti Ryouma. Tapi tetep aja namanya bocah ya nakal, mulutnya manis banget, makanya pinter ngerayu orang. Micchy selalu bermanja-manja dengan sang Papa, Takatora. Dan Micchy adalah orang kedua yang mampu meluluhkan Takatora setelah Ryouma. Kalau Micchy mau ngapel ke rumahnya Mai, dia bakal ngerayu sang Papa dengan membuatkan teh dan memuji sealay mungkin sampai Takatora tersanjung dan dengan gampang mengeluarkan uang dari dompetnya.

7. Kaito
Kaito adalah pacar kesayangan Kouta. Dia mahasiswa di sebuah Universitas, dan dia sangat cerdas. Tapi songong. Dia cenderung suka meremehkan orang lain dan tidak mau mengalah. Gengsinya juga tinggi banget. Tapi khusus buat Kouta dia rela meninggalkan segala image coolnya dan beralih jadi cowok super alay dan sengklek.

8. Mai
Mai adalah kekasih kesayangan Micchy. Mai ini anaknya sangat polos, mungkin cenderung oon. Tapi Micchy sangat menyayangi Mai, dan Mai juga sama. Kalau Mai sama Micchy ketemuan, aura lope-lope langsung menguar ke segala penjuru dunia Zawame.

9. Rat, Chucky, Yuuya, Rika
Mereka adalah sahabat-sahabatnya Kouta. Mereka yang akan menyediakan solidaritas tanpa batas untuk Kouta. Ada Yuuya yang bijaksana tapi gampang dibegoin,  Rat yang pecicilan kayak tikus kurang makan, Chucky yang sangat keibuan, dan Rika yang cerewet ini selalu mewarnai kehidupan Kouta dan Kaito (maksudnya selalu gangguin kalau dua orang ini pacaran).

10. Zack And Peco
Dua orang ini ibarat abdi setia Kaito. Zack yang galak dan cenderung grusa grusu ditambah Peco yang lemotnya maksimal selalu sukses bikin Kaito pusing. Zack dan Peco adalah pasangan yang serasi dan saling menyayangi. Zack yang bakal marah pertama kali kalau Peco mulai dibully, dia bahkan ngambek ke Kaito waktu Kaito dengan sadisnya nyuruh-nyuruh Peco.

11. Jonouchi

Jonouchi adalah cowok pesolek yang parfumnya kecium dari jarak 200 meter. Dia alaynya maksimal, persis Takatora, sampai Micchy curiga jangan-jangan Jonouchi ini anak terselubung papanya.

12. Hase
Hase ini pacarnya Jonouchi. Dia preman menye-menye, galak luarnya doang tapi kalo berhadapan sama yang lebih gede (minimal sama Kaito atau Zack) nyalinya langsung ciut. Meskipun Hase jijik sama anak alay (padahal dianya sendiri alay). entah gimana caranya dia jadian sama Jonouchi. Hidup penuh misteri.

13. Bunda Oren
Tukang kue kesayangan penghuni kota Zawame. Kue-kue buatannya terkenal enak banget, tiada duanya deh.  Bunda Oren adalah fans berat Takatora, mungkin bisa dikategorikan fanatik. Takatora sampai ngeri sendiri. Tapi sebenarnya rasa cinta Oren hanya sebatas fans saja. Bahkan saking ngefansnya sama Takatora, dia menggratiskan kuenya khusus buat Takatora dan keluarganya.

14. Akira
Akira adalah rekan kerja Minato. Dia baik, ramah, dan jadi incerannya Yuuya.  Dia kadang berperan sebagai guru privat sekaligus kakak buat Kouta.

15. DJ Sagara
DJ juru promosi robot-robotan di Yggdrasil.


















Oke itu cuma pengenalan karakter. Untuk episode pertama akan tayang kapan saja saya bisa post *plakk *jduagh*. Comment, okey?? :D

Sabtu, 31 Mei 2014

My Teacher, My Enemy, My...... Love? part 2

HOLLAAAAAAAA!!!!!!!!!
I'm back with part 2
*gak ada yang nanya* *oh yaudah makasih*
Oke, mungkin di part 2 ini lucunya cuma dikit dan mungkin FTV banget
Maklum, gak bakat bikin cerita romance
Enjoy!!!
>>>
"Micchy."

"Ya, Kak Yuuya?"

"Kamu yakin mau minta Kaito ngajarin Kouta?"

 "Yakin. Kenapa sih?"

"Nggak. Masalahnya kamu, kan, tau sendiri gimana otaknya Kouta. Dan Kaito bukan orang yang sabaran. Kamu nggak takut Kouta bakal disikat abis sama Kaito?"

"Kalo disikat abis tapi jadi pinter sih nggak masalah, Kak."

"Ya sama aja bo'ong. Dia jadi pinter tapi mati disikat Kaito."

Micchy dan Yuuya mengadakan sesi diskusi kecil di dekat tong sampah. Yup, karena pembicaraan ini bersifat privat jadi mereka diskusinya disana. Siapa yang mau deket-deket tong sampah yang baunya semerbak itu? Mau lewat di deket tong sampah aja udah syukur.

"Udahlah, Kak," kata Micchy, "Kak Kaito itu sebenernya baik, kok. Cuma songongnya aja keterlaluan."

Yuuya menghela napas. Ada baiknya juga Kouta belajar sama Kaito. Kaito, teman sekampusnya itu memang terkenal super cerdas untuk pelajaran matematika dan punya metode belajar yang pasti bisa membuat Kouta pinteran dikit. Dikit aja jangan banyak-banyak, nanti kekenyangan.

Tapi....

Kaito itu....

Songongnya....

Keterlaluan....

Yang membuat Yuuya khawatir, betah nggak Kouta belajar sama Kaito? Bisa sabar nggak Kaito ngajarin Kouta? Yuuya yang super sabar aja jadi senewen sendiri kalau sudah berurusan dengan Kouta, apalagi Kaito yang senewen sejak lahir.

"Kak."

"Apa?"

"Udahan yuk diskusinya. Bau, nih."

Yuuya tersadar daritadi mereka nongkrong di tong sampah, akhirnya dia berdiri  dan beranjak kembali ke markas bersama Micchy.
~~~
"Skak mat."

"Eh? Lho?"

"Apanya yang lho? Skak mat. Gue menang, situ kalah."

"Yaah, kalah lagi."

"Oke. Time to get some punishment, Peco."

"Jangan ngasih hukuman yang aneh-aneh. Satu aja."

"Oke, just one. Kiss me."

Kaito dengan cuek memainkan kartu-kartunya, sama sekali tidak terpengaruh dengan aura penuh cinta yang diumbar Zack dan Peco. Dia sudah tahu maksud Zack menantang Peco bermain catur. Zack itu jagoan catur, Peco mah seujung kuku doang. Jelas ada niat terselubung dibalik tantangan itu.

"Kak Kaito. Kak"

Kaito melirik datar seorang anak yang berjalan kearahnya. "Bocah SMA itu dateng sama temennya, Kak," kata anak itu, "katanya ada perlu sama Kakak."

Kaito membereskan kartu-kartunya. "Suruh masuk," katanya memberi perintah. Anak itu segera keluar, lalu kembali bersama dua anak berseragam SMA Negeri Zawame. Kaito melirik, dan detik berikutnya dia terkejut dengan seorang anak.

'Lho? Micchy ngapain bawa anak itu kesini?'

"Hai, Kak Kaito,"  Micchy langsung menyapa ramah Kaito, yang hanya ditanggapinya dengan wajah datar. "Apaan?" tanya Kaito jutek. "Gini, Kak," kata Micchy sambil duduk menghadap Kaito yang setia dengan wajah datar nan sombongnya, "aku mau minta tolong sama Kak Kaito. Temenku ini agak kesulitan nyerap materi matematika. Nah, Kak Kaito kan pinter matematika, tolong lah dia diajarin biar pinternya Kak Kaito nular ke dia."

Kaito melirik anak yang mengekor di belakang Micchy, lalu mendengus kesal. Dian ingat dengan jelas insiden memalukan yang membuatnya senewen seminggu penuh dengan anak ini.

#Flashback On#
 Kaito berjalan pelan pulang kuliah tanpa Zack dan Peco. Hal ini cukup menyenangkan, mengingat sebagian besar hidupnya selalu bersama dua orang itu. Apalagi dua anak itu menurut Kaito sangat menyebalkan. Kalau pulang barengan pasti minta ditraktir ini itu. Peco apalagi, yang perutnya nggak jauh beda sama karung beras.

Untunglah dua anak itu sedang menikmati masa awal jadian mereka.

Kaito menyeruput es cappucino yang dibelinya di kedai kopi langganannya. Panas-panas minum es cappucino itu bagaikan surga dunia. Kaito mengabaikan pandangan kagum anak-anak SMP yang berpapasan dengannya  Kaito nggak level pacaran sama anak kecil.

Brak!

Butuh waktu lima detik bagi Kaito untuk memulihkan diri dari shocknya. Matanya terbelalak, mulutnya menganga melihat es cappucinonya tumpah dan saus berwarna orange mengotori pakaiannya. Kaito dengan cepat menatap tajam seorang anak berpakaian SMA yang juga melongo kaget.

"Heh!" sentak Kaito, "jalan itu pake mata! Lo pikir ini jalan punya bapak moyang lo?! Liat, baju gue kotor gara-gara makanan lo!"

"Maaf, Kak," suara pelan anak itu terdengar. Kaito melihat anak itu mendongak.

Dan Kaito terkesiap.

Anak laki-laki di depannya itu menatapnya innocent, dengan mata yang penuh dengan kata 'sorry'. Kaito menelan ludahnya, entah kenapa jantungnya dag dig dug tidak karuan melihat wajah anak di depannya ini. 

"Maaf!" anak itu mengeluarkan  saputangannya, niatnya ingin membersihkan noda di baju Kaito. Tapi yang ada noda itu justru meluas, membuat Kaito benar-benar geram.

"Aaaahh udah udah!" sergah Kaito menyingkirkan lengan anak itu kasar, "bukannya bersihin malah bikin tambah kotor. Sekalian aja lo jorokin gue ke selokan biar kotornya sebadan."

Ups.

Kaito sadar ucapannya salah total. anak itu benar-benar mendorongnya ke selokan di belakang Kaito.  Dan sialnya seloka itu kotor, jadi;ah seluruh tubuh Kaito kotor. Bahkan sebagian air selokan terciprat ke mukanya.

"Heh!" teriak Kaito, "kenapa gue didorong?!"

"Lha tadi katanya biar sekalian kotor," jawab anak itu tanpa dosa, "udah ah. Aku pulang dulu. Dah. Maaf ya." Dia berlari, lalu berhenti dan menoleh. "Oh iya," katanya, "dimana-mana jalan itu pake kaki bukan mata. Nggak lulus TK, ya? Gitu aja nggak tau." Anak itu kembali berlari meninggalkan Kaito yang cengo di selokan. Anak itu..................... Bego apa bloon? Kenapa malah nggak ngerasa bersalah?

"Ma, Kaka itu aneh, ya. Masa mandi di selokan.

"Sst. Jangan diliatin, itu orang gila."

Kaito terkejut mendengar ucapan ibu dan anak yang melewatinya. "Aaaaahhh!!" teriaknya frustrasi. Bebas dari Zack dan Peco, tapi malah sial dua kal lipat.

Kaito menggeram, matanya menatap tajam jalan yang tadi dilewati anak itu. 'Awas lo,' batinnya dengan memasang ekspresi antagonis penuh dendam kesumat, 'kalo ketemu gue cekek trus gue lelepin lo ke selokan.'
#Flashback End#

"Kak!"

"Gue nggak mau," jawab Kito cepat.

"Aaaaa........ Ayo dong, Kaaakk," Micchy setengah merajuk, " kasian dia, Kak. Matematikanya dapet jelek, seenggaknya ditolong lah biar dia bagusan dikit nilainya."

"Kok jadi elo yang mita?" tanya Kaito, " lha dianya aja adem ayem kayak kucing dikasih ikan sekilo." Kaito menatap anak itu, lalu bertanya, "Apa yang bikin elo  dateng keisni dan minta tolong gue ngajarin elo matematika?"

"Eh?" anak itu agak terkejut ditanyai tiba-tiba, "anu......... Aku.......... Biar komikku balik."

Kaito berdiri, dengan sigap mendorong Micchy dan temannya itu keluar ruangannya, "Gue nggak mau ngajarin orang yang belajar cuma demi hal nggak penting," katanya, "sana pulang. Elo ganggu waktu santai gue."

Kaito menutup pintu, kembali duduk dan memainkan kartu-kartunya. Perlahan bibirnya tertarik membentuk sebuah senyuman kecil, entah apa yang dirasakannya tapi jujur saja dia merindukan tatapan bocah SMA itu.

Eh?

Apa-apaan?

Kaito, mahasiswa pandai kebanggan universitas jatuh cinta dengan anak SMA?

Dunia belum kiamat, kan?

Kaito mengerjapkan matanya. Dia menapmar pipinya beberapa kali. "Sadar, Kaito," katanya bergumam, "elo nggak mungkin jatuh cinta sama anak nggak punya otak kayak dia. Ayo sadar."

"Ayo dong, Kak. Seminggu aja deh."

"Waaaa!!" Kaito terlonjak kaget. Bagaimana caranya anak tadi masuk? Anak itu menatapnya dengan tatapan memelas. "Seminggu aja," pintanya memelas, "ya, Kak? Ya?"

Kaito mendengus, dia berusaha menormalkan detak jantungnya yang tidak karuan melihat wajah polos anak itu. Sebenarnya apa yang terjadi?

"Kaaakk," anak itu merajuk.

"Nggak," jawab Kaito, "daripada gue buang-buang waktu buat ngajarin anak blo'on kayak elo mending gue belajar buat diri sendiri. Sana pergi."

Anak itu menunduk, terlihat jelas kekecewaan di wajahnya. Kaito melirik, hatinya agak mencelos melihat ekspresi anak itu. "Sana pergi," ujar Kaito sambil mengibaskan tangannya, "gue ini orang penting, banyak kesibukan. Artis aja kalah sibuk sama gue. Sana pergi. Hush."

Perlahan anak itu berbalik, berjalan meninggalkan Kaito dengan kepala menunduk dalam. Kaito sampai ngeri sendiri, jangan-jangan nanti kepala anak itu putus gara-gara menunduk sedalam itu. Tapi Kaito harus menjaga wibawanya. Dia tidak mau sembarangan memberi privat kepada orang lain.

Yaaah, walaupun jauh di dalam hati Kaito yang paliiiiiinngg dalam, dia merasa agak bersalah juga.
~~~
Brak! Bug! Gedubrak! Gubrak! Prang! Meow.....

"Kouta! Berisik!"

Kouta manyun semanyun-manyunnya. "Sombong banget sih jadi orang," gerutunya, "mentang-mentang dia pinter trus dia seenaknya ngatain gue blo'on? Sepinter apa. sih, dia sampe kepalanya gede gitu?"

"Heh," suara Akira menginterupsi di dekat pintu, "ngapain, sih, kamu? Bukannya tidur malah bikin ribut.  Berisik, tauk. Baek-baek nggak ada tetangga yang bawa golok kesini gara-gara kamu."

"Kakak nggak ngerti!" sahut Kouta, "tadi tuh ada mahasiswa yang songongnya minta ampun, Kak. Mentang-mentang dia pnter trus dia ngatain aku blo'on. Aku nggak blo'on, Kak. Cuma kurang pinter dikit."

"Siapa?"

"Dia itu kenalannya Micchy. Tau deh Micchy kenalnya dimana. Namanya...... Ee..... Kaaaa.... Kaito! Iya Kaito! Kaitonggosongong!"

Akira melongo. Bisa-bisanya Kouta mengganti nama orang seenak udelnya. "Pokoknya aku bakal buktiin  kalo aku nggak blo'on, biar dia tau rasa!" teriak Kouta. Dia meraih buku matematikanya, mulai membaca meskipun......... Yah, you know what I want to write.

Akira tersenyum, dia hanya menggelengkan kepalanya. Kouta hanya perlu sedikit dorongan agar dia mau belajar. Perlahan Akira menutup pintu kamar Kouta, kebali ke kamarnya.
~~~
Kaito melangkah keluar rumah, mengunci pintu dan bersiap menuju kampus. Sambil bersiul pelan, dia berjalan menuruni tangga.

"Kak Kaito."

Kaito menoleh, dia tersentak kaget melihat anak SMA yang kemarin berdiri di belakangnya. Kaito melirik name tag di seragam anak itu, membaca namanya.

Kouta Kazuraba.

Pertanyaannya gimana caranya anak itu bisa sampai disini? Masa iya dikasih tau Micchy? Micchy aja nggak tau rumah ini.

"Apa?" Kaito bertanya dengan suara datarnya.

Kouta menunduk, dia menggaruk kepalanya salah tingkah. Oh, baiklah Kaito harus menahan diri. Entah siapa yang melakukannya tapi dimata Kaito sikap Kouta itu sangat menggoda iman. "Gini, Kak," kata Kouta, "pertama-tama aku mau minta maaf soal kejadian waktu itu. Yang aku dorong Kak Kaito ke selokan."

Kaito masih memasang wajah datarnya. "Iya," jawabnya, "tapi bukan berarti gue mau ngasih elo les matematika. Gue pergi dulu."

"Tunggu, Kak!" Kouta dengan sigap menahan lengan Kaito, mencegahnya pergi. Kaito melirik tangan Kouta yang memegangi lengannya dengan wajah flat.

"Please ajarin aku matematika, Kak," pinta Kouta memelas, "aku nggak tau harus belajar sama siapa lagi. Bahkan metodenya temen-temenku nggak ada yang berhasil. Aku mohon, Kak. Seminggu aja deh, nanti aku bayar."

"Anak SMA kayak elo mau bayar pake apa?" balas Kaito, "uang monopoli? Sekali gue bilang enggak ya nggak. Nggak usah maksa." Kaito menyentakkan lengannya, melangkah pergi.

"Aku cuma pengen kakakku bangga sama aku, Kak."

Langkah Kaito berhenti. Dia tidak berbalik, tapi ucapan itu sukses membuatnya ingin mendengar alasan Kouta lebih jauh lagi.

"Aku pengen kakakku berhenti marah sama aku," Kouta menunduk, "kakakku kepingin liat nilaiku bagus-bagus. Iya awalnya aku belajar biar komikku balik, tapi aku sadar bukan itu tujuanku. Aku pengen kakakku bangga sama aku, dan aku juga pengen lulus dengan nilai bagus jadi aku bisa masuk universitas ternama dan dapet pekerjaan yang enak kayak kakakku. Bantuin dia biar  nggak kelimpungan ngebiayain hidup sendirian.

"Aku tau aku ini bukan anak yang pinter, tapi aku mau berusaha. Aku bakal bayar berapapun yang Kak Kaito minta, nanti aku kerja part time deh. Tapi Kak Kaito mau ngajarin aku, ya, Kak."

Krik.

.
.
.
.
.
.
.
"DASAR KAITONGGOSONGONG SIALAN! GUE UDAH NGOMONG PANJANG KALI LEBAR KALI TINGGI MALAH DITINGGAL! JADI DARITADI GUE NGOMONG SENDIRIAN KAYAK ORANG GILA?! AWAS LO YA!"
~~~
"Kouta, kamu yakin nggak mau pulang sampe kamu nyelesaiin pe.er matematikanya?" tanya Rika.

Kouta hanya menjawab "Hm" tanpa menoleh sedikitpun. Dahinya berkerut mengerjakan soal-soal itu. "Ini udah malem," kata Chucky, "ntar Kak Akira nyariin lho. Ayo pulang. Mau dikunci sama Kak Yuuya."

"Kunciin aja nggak papa," kata Kouta, "gue nginep disini. Ni pe.er harus kelar sekarang."

Semua saling berpandangan khawatir. Bagaimanapun juga mereka tidak tega melihat Kouta seperti itu. Bahkan Kouta tidak mau dibantu siapa-siapa. Mencontek juga tidak mau, padahal biasanya dia maunya instan, nyalin punyanya Chucky.

"Pe.ernya, kan, masih buat minggu depan," bujuk Yuuya, "besok diselesaiin lagi." "Nggak," kata Kouta, "pokoknya harus selesai sekarang."

"Udah pulang aja. Biar anak itu gue yang jagain."

Semua anak termasuk Kouta menoleh kearah pintu. Mata Kouta terbelalak melihat sesosok bertubuh tegap berjalan dengan gayanya yang sok bos itu kearahnya dan yang lain.

"Kak Kaito," sapa Micchy, "tau darimana tempat ini?"

"Gue tadi mampir ke rumah lo," kata Kaito, "sekalian ngambil data penelitian gue yang dipinjem Professor Ryouma. Trus kata Kak Takatora elo ada disini, yaudah gue kesini atas alamat yang dikasih kakak lo." Dia melirik Kouta yang masih melongo, mendengus kecil. "Dia biar gue yang jaga. Elo semua pulang aja."

"Yakin?" tanya Yuuya.

"Nggak usah kuatir," jawab Kaito, "gue nggak nafsu sama anak blo'on itu. Cakepan juga Peco daripada dia."

"PECO PUNYA GUE! NYEROBOT GUE BACOK LO!"

"IYA BAWEL! TIKUS GOT JUGA TAU KALO PECO PUNYA LO!"

Kaito kembali menatap Yuuya dan yang lain. "Pada nungguin apa?" tanya Kaito, "sana pulang. Biar gue yang jagain dia sampe pe.ernya selesai."

Yuuya menatap yang lain, memberi isyarat untuk pulang. "Gue percaya sama elo," kata Yuuya menepuk pundak Kaito, "kunci gue taruh dibawah keset." Dia berjalan keluar diikuti yang lain. "Dah semua," ujar Micchy sambil melambaikan tangannya.

Kaito menatap Kouta, lalu menarik kursi dan duduk di depannya. Koura menatap Kaito dengan tatapan tidak suka, lalu kembali berkutat dengan tugasnya.

"Sana pulang," ujar Kouta, "aku nggak butuh penjagaan orang songong kayak situ."

"Nggak sopan," dengus Kaito, "jadi gitu cara lo ngomong sama guru lo?"

Tangan Kouta berhenti menulis. Dia menatap Kaito dengan tatapan elo-ngomong-apaan-gue-nggak-ngerti-plis-dijelasin.

Kaito tersenyum sombong, kedua tangannya menopang dagu. "Mulai sekarang gue guru lo," katanya, "jadi elo harus sopan sama gue atau gue siksa lo sampe jadi ikan asin."
~TO BE CONTINUED~