Title : The School
Author : Veve
Genre : School, Drama
Cast :
BTS All Members
Han Jiyoo (OC)
Park Sena (OC)
Red Velvet All Members (start from Lesson 02)
And others
Length : Chapter
*
FF ini terinfluence oleh drama Jepang Shiritsu Bakaleya Koukou dan Gokusen
Mohon maaf kalo ada banyak typo
Jangan bash saya dengan pairing di FF ini :v
Dan jangan diplagiat..... Kasihani saya *ngek
Enjoy!!!
*
Lesson
4
Hana menghela napas,
dia menatap Sena dan berkata, ''Terimakasih sudah mentraktirku makan. Aku tidak
pernah kemari sebelumnya.'' Hana menatap takjub dekorasi restoran masakan Perancis
yang dia datangi bersama Sena, dia berkata, ''Benar-benar elegan. Kau pasti
sering kemari, kan?''
''Seminggu sekali,''
jawab Sena sambil tersenyum, ''aku juga berterimakasih kau mau bercerita soal
kejadian yang dialami Hoseok-ssi di bar.''
Hana tersenyum. ''Tidak
kusangka kalian satu kelas dan sama-sama bertanding menjadi ketua kelas,'' kata
Hana, ''Hoseok pernah jadi ketua kelas saat dia masih SD dan SMP. Dia juga
sangat pintar dan menjadi kebanggaan guru-gurunya.''
Sena diam menatap Hana.
''Hoseok itu keras kepala, dia tidak bisa diatur,'' kata Hana, ''tapi dia
cerdas dan bisa menjadi pemimpin yang tegas. Aku ingat dia selalu membuat
kelasnya menjadi kelas unggulan. Hanya saja....'' Hana menghentikan ucapannya,
dia menunduk diam.
''Hanya saja?'' tanya
Sena.
''Sejak orangtua kami
berpisah, dia berubah jadi tidak terkendali,'' sahut Hana, ''usaha biro
perjalanan yang dirintis ayah kami bangkrut karena penipuan. Ibu kami pergi
begitu saja dari rumah, dan tak lama setelah itu ayah kami tewas bunuh diri.
Tidak ada yang ditinggalkan kecuali hutang yang menumpuk. Saat itu Hoseok akan
menghadapi ujian kelulusan SMP dan kejadian itu sangat menghancurkan semua
pertahanannya. Dia jadi pemarah, dan nilai-nilainya menurun drastis.''
Sena diam mendengarkan
cerita Hana. ''Aku berhenti sekolah dan mulai bekerja, tapi Hoseok tidak
kuijinkan melakukan hal sama,'' sambung Hana lagi, ''aku bekerja agar dia masih
bisa sekolah, dan pelan-pelan membayar hutang ayahku. Saat pagi sampai siang
aku bekerja di swalayan, setelah itu aku bekerja di tempat bimbingan belajar
yang kau datangi, dan malamnya aku bekerja di bar. Awalnya memang berat, tapi
aku menikmatinya. Apalagi aku melakukannya demi Hoseok. Saat dia memutuskan
untuk ikut bekerja di bar, aku melarangnya tapi dia tidak mau dengar. Satu sisi
aku khawatir dia akan mendapat masalah, tapi di sisi lain aku bangga dengan
kedewasaannya.''
Sena masih diam
mendengarkan. ''Kumohon, Sena-ssi,'' Sena terkejut saat Hana menggenggam
tangannya, ''aku tidak mau Hoseok dikeluarkan dari sekolah. Kalau dia mendapat
skorsing itu tidak masalah, asalkan dia tidak dikeluarkan. Hoseok akan sangat
hancur kalau dia sampai dikeluarkan.''
Sena jadi bingung harus
melakukan apa. ''Aku... Aku tidak tahu harus melakukan apa, Hana-ssi,'' katanya
gugup, ''aku......'' Sena seketika teringat sesuatu, dia lalu bertanya, ''Siapa
yang menghajar Hoseok-ssi?''
''Aku tidak tahu,''
kata Hana, ''tapi aku tahu mereka sering datang ke bar. Dan selalu bertiga.''
Sena mengangguk.
''Gamsahamnida informasinya,'' kata Sena, ''ah, akan kupanggilkan taksi untuk
mengantarmu pulang, Hana-ssi. Mari.'' Mereka berdua beranjak, Sena membayar
semua makanan yang dipesan dan berjalan keluar restoran. Sena menyetop sebuah
taksi. ''Terimakasih sudah mau meluangkan waktu,'' kata Sena tersenyum, ''kita
akan bertemu lagi di lain waktu.''
Hana mengangguk, dia
tersenyum dan melambaikan tangan kepada Sena sementara taksi yang membawanya
mulai bergerak. Sena menghela napas, dia mengambil ponselnya dan terkejut
melihat ada 20 panggilan dari Eunkwang, pengawalnya dan 19 panggilan dari
Jiyoo. ''Yabai,'' Sena terkejut, ''ya ampun aku lupa kalau aku melewatkan
bimbingan belajar.'' (Yabai (bahasa Jepang) sama konotasinya dengan Omona
(bahasa Korea).red) Sena berlari menuju mobilnya, dia menyetir mobil dengan
kecepatan tinggi.
'Semoga aku tidak
mendapat masalah,' batin Sena.
*
''MWO?!''
Jiyoo tersentak kaget
mendengar teriakan Tim Bangtan. ''Mereka tidak mau mencabut laporan mereka,''
geram Yoongi, ''kurang ajar! Akan kuhajar mereka!'' Yoongi akan beranjak namun
Jin menahannya. ''Kalau begini, Hoseok terancam hukuman penjara selama tiga
tahun,'' kata Namjoon, ''ini tidak bisa dibiarkan! Hoseok tidak bersalah!''
''Hoseok-ssi masih
dianggap bersalah karena dia bekerja di bar. Ingatlah, bekerja di bar saat usia
kita masih dibawah umur juga masuk pelanggaran hukum.''
Semua menoleh kearah
Sena yang berdiri di dekat pintu kelas. ''Kau jangan memperkeruh suasana!''
sentak Yoongi, ''diam saja! Jangan banyak bicara!'' ''Kau jelas senang kalau
Hoseok mendapat masalah,'' sahut Jimin, ''tidak akan ada yang mengalahkanmu
saat pemilihan ketua kelas nanti.''
Jiyoo berdiri dan
mendekati Sena. ''Sena-ssi, kau kemana semalam?'' tanyanya, ''Eunkwang-ssi
meneleponku dan memberitahu kalau kau....''
''Aku berjalan-jalan
dan lupa kalau ada bimbingan belajar,'' sela Sena, ''ah, soal kasus pemukulan
yang dialami Hoseok, aku ada informasi yang mungkin bisa kalian pakai.''
''Kami tidak butuh
bantuanmu,'' sahut Jungkook, ''aku sendiri yang akan mencari informasi dan
membebaskan Hoseok dari hukuman.''
Jiyoo menatap Sena.
''Informasi apa yang kau dapat, Sena-ssi?'' tanyanya.
''Well, aku pergi ke
bar itu semalam,'' jawab Sena, ''dan darisana aku....''
''Woaaaa, kau pergi ke
bar,'' sela Taehyung, ''kau juga harus dipenjara karena itu.''
''Tolong jangan menyela
pembicaraan, Taehyung-ssi,'' sahut Jiyoo tegas, dia kembali menatap Sena dan
berkata, ''lanjutkanlah, Sena-ssi.''
''Dari informasi yang
kudapat, mereka sejak awal sudah menyukai Hana-ssi, kakak perempuan
Hoseok-ssi,'' kata Sena, ''mereka sengaja membuat kejadian waktu itu seakan
menjadi kesalahan Hoseok-ssi, dan melebih-lebihkan cerita. Hoseok-ssi tidak
melukai satupun dari mereka, tapi mereka mengarang cerita dan menyogok
kepolisian agar memenjarakan Hoseok-ssi jadi mereka bisa leluasa mendekati
Hana-ssi.'' Sena menatap Tim Bangtan yang terbelalak kaget, dia melanjutkan,
''Satu-satunya cara, kita harus membuat mereka mencabut laporan itu. Jiyoo-ssi,
aku ingin kau terus mendesak Kepala Sekolah untuk meringankan hukuman
Hoseok-ssi. Kalian Tim Bangtan, aku tahu kalian suka berkelahi jadi kupikir
tidak ada salahnya memberi mereka pelajaran. Dan aku....'' Sena menghela napas,
''....aku akan melaksanakan tes di tempat bimbingan belajar.''
Krik.
''Lama-lama kau yang
kuhajar,'' gumam Jungkook kesal. Jiyoo menatap Sena, dia berkata, ''Aku akan
melaksanakan rencanamu, Sena-ssi. Gamsahamnida.'' Jiyoo tersenyum senang, dia
luar biasa senang saat mengetahui Sena masih membantu mereka.
''Sena-ssi, kenapa kau
melakukan ini?'' tanya Wendy, ''kenapa kau melibatkan dirimu dalam masalah
ini?''
''Yeorobun, ini soal
kelas kita,'' kata Sena, ''kalau Hoseok-ssi dipenjara dan dikeluarkan, maka
nama baik sekolah kita dan kelas kita akan tercemar. Nama baik kita juga akan
tercemar. Aku tidak mau menjadi pembicaraan orang banyak. Kalian mengerti,
kan?''
''Yang dikatakan
Sena-ssi benar,'' kata Jiyoo, ''aku adalah ketua Dewan Murid, sudah jadi
tugasku menjaga nama baik sekolah.''
''Kalian benar-benar
daebak,'' puji Yeri, ''aku sangat mengagumi cara berpikir cerdas kalian.'' Yeri
bertepuk tangan, gadis-gadis lain ikut bertepuk tangan memuji Jiyoo dan Sena.
Tim Bangtan melongo.
''Oh, jadi ini masih demi nama baik,'' sahut Jin, ''bukan karena
persahabatan.'' ''Sahabat itu nomor sekian untuk mereka, Jin-ah,'' sahut
Yoongi, ''jangan berharap banyak.''
''Arra!'' Jungkook naik
ke meja dan berkata keras, ''yeorobun, ayo kita beri pelajaran orang-orang
itu!''
Semua murid laki-laki
bersorak menyetujui ucapan Jungkook. Jungkook melompat turun dan menghadap
Sena. ''Dimana aku bisa menemuinya?'' tanya Jungkook.
''Bar,'' jawab Sena.
''Bagaimana caranya
kita masuk?''
''Berjalan lewat
pintu.''
Jungkook seketika
sweatdrop. ''Kau itu.... Bodoh juga, ya,'' katanya, ''maksudku kita masih dibawah
umur, bagaimana caranya kita masuk tanpa masalaaaaaaaah?''
Sena mengeluarkan
sebuah kartu berwarna keemasan. ''Tunjukkan ini kepada penjaga di pintu
masuk,'' katanya, ''kalian akan masuk tanpa masalah.''
Jungkook memperhatikan
kartu itu. ''Seperti kartu kredit,'' katanya, ''darimana kau mendapatkan ini?''
''Itu milik ibuku,''
jawab Sena, ''jangan banyak bicara. Gunakan saja.''
Jungkook mengangguk.
''Kau tenang saja, Hoseok-ah,'' ucapnya penuh keyakinan, ''aku dan Tim Bangtan
akan membebaskanmu. Kau tidak akan dikeluarkan dari sekolah ini, aku janji.''
*
''Eee.... Kalian mau
kemana?''
''Masuk ke bar. Apa
lagi?''
''Dengan pakaian
seperti itu?''
Jiyoo, Leeteuk, dan
Sena menatap sweatdrop Tim Bangtan yang mengenakan setelan jas berkilauan dan
kacamata hitam berbingkai dengan tatanan rambut klimis. Tiga kancing atas
kemeja mereka terbuka, ikat pinggang besar melingkar di pinggang dan sepatu
lancip berwarna metalik terpasang di kaki mereka. ''Kalian yakin masuk dengan
pakaian seperti itu?'' tanya Jiyoo, dia berusaha menahan tawa melihat
penampilan norak Tim Bangtan.
''Pertanyaannya kenapa
Leeteuk ada disini?'' tanya Yoongi.
''Leeteuk Seonsaengnim
akan menemani Jiyoo-ssi menemui Kepala Sekolah,'' jawab Sena, ''kalian.... Ya
lakukan tugas kalian, sementara aku akan menemui kepala polisi untuk
membicarakan hukuman Hoseok-ssi.'' Sena menghela napas, akhirnya dia tidak bisa
menahan diri dan tertawa terbahak-bahak. Jiyoo dan Leeteuk akhirnya ikut
tertawa juga.
''Ya, Leeteuk-ah. Kau
mentertawakan kami?'' sahut Jin.
''Apa? A... Aniya,''
jawab Leeteuk, dia menunduk dan berusaha sekuat tenaga menahan tawanya. Jiyoo
juga tertawa, membuat Jungkook jadi malu setengah mati dan akhirnya membuang
muka.
''Sudah sana masuk,''
kata Sena, ''jangan lupa siapkan kartunya.''
Jungkook merogoh saku
celananya, seketika dia terbelalak dan berkata, ''Omo. Kartunya tidak ada.''
Senyum Sena seketika
lenyap. ''Apa maksudmu tidak ada?'' tanya Sena kaget, ''Jungkook-ssi, kau tidak
menghilangkannya, kan?''
''Aku menyimpannya di
saku celana tadi!'' sahut Jungkook, ''kenapa tidak ada?!'' Dia dan Sena beserta
Tim Bangtan seketika panik dan mencari kartu itu. ''Kalau sampai hilang, aku akan
mendapat masalah,'' kata Sena, ''ibuku akan marah kalau dia tahu aku mengambil
kartu itu.''
Jiyoo dan Leeteuk
langsung menatap Sena. ''Sena-ssi,'' sahut Jiyoo kaget, ''kau.... Kau
mencuri?''
''Aku tidak mencuri,''
sahut Sena, ''aku.... Hanya tidak sempat minta ijin.''
''Mencari ini,
Sena-ssi?''
Semua menoleh, Sena
terkejut melihat Eunkwang berdiri di depannya sambil menunjukkan kartu masuk
bar Hormone. ''Saya menemukan ini di pintu kelas,'' kata Eunkwang, ''saya rasa
ini yang Anda cari.''
Sena bernapas lega dan
menyambar kartu itu. ''Astaga, kukira ini hilang,'' Sena sangat lega. Dia
menatap Eunkwang dan berkata, ''Kumohon jangan beritahu Eomonim soal ini. Kau
bisa menjaga rahasia, kan?''
''Kapan saya pernah
mengadu kepada orangtua Anda?'' sahut Eunkwang sambil tersenyum.
Sena tersenyum, dia
menatap Jungkook dan menyerahkan kartu itu. ''Jangan sampai hilang,'' kata Sena
mengingatkan, ''sekarang masuklah. Ingat, mereka bisa saja melakukan hal yang
sama seperti yang mereka lakukan kepada Hoseok-ssi jadi.... Yah, buat mereka
tidak berkutik.''
''Serahkan kepada
kami,'' kata Namjoon, ''lihatlah kehebatan Bangtan mengalahkan musuh.'' Mereka
berjalan dengan gaya slengekan menuju bar.
Jiyoo menatap Sena yang
masih menatap sweatdrop Bangtan. ''Sena-ssi, kau memang hebat,'' kata Jiyoo
memuji, ''aku bahkan tidak bisa membuat rencana sehebat itu.'' Jiyoo menunduk
dan menggumam, ''Aku ini payah, bukan?''
Sena menatap Jiyoo dan
menyentuh pundak sahabatnya itu. ''Setiap orang punya kehebatannya
masing-masing, Jiyoo-ssi,'' kata Sena menghibur, ''mungkin aku bisa membuat
rencana, tapi aku kurang ahli bernegoisasi. Tidak sepertimu, kau mungkin tidak
bisa membuat rencana, tapi kau pandai mengambil hati orang banyak.'' Sena
tersenyum dan berkata, ''Kita hanya saling melengkapi, itulah persahabatan.''
Jiyoo tersenyum menatap
Sena. ''Nah, kita biarkan saja mereka menjalankan rencana,'' kata Sena, ''kita
harus melaksanakan tugas masing-masing. Kajja.'' Sena, Jiyoo, Leeteuk, dan
Eunkwang berjalan meninggalkan area bar.
*
Jungkook menatap awas
ke segala arah, mencari tiga orang yang dimaksud Sena. ''Aku tidak tahu yang
mana orangnya,'' kata Jungkook, ''kalau begini bagaimana caraku menemukan
mereka?'' Jungkook menoleh, dia melongo melihat Namjoon, Taehyung, dan Jimin
malah menggoda hostess bar--atau lebih tepatnya mereka yang tergoda--sementara
Yoongi dan Jin malah asyik mencicipi cocktail. ''Mereka tidak bisa
diandalkan,'' Jungkook mengerang, dia menoleh dan melihat Hana berjalan diikuti
tiga orang laki-laki. Jungkook terbelalak, dia segera beranjak dan berlari
mengikuti Hana. Kelamaan kalau harus memanggil yang lain, toh mereka tidak akan
memperhatikan.
Jungkook berbelok, dia
melihat Hana ribut dengan tiga laki-laki itu. ''Ya!'' teriak Jungkook,
''jauhkan tangan kotor kalian dari Hana Noona!'' Jungkook menepis tangan
seorang laki-laki dan melindungi Hana.
''Jungkook-ah! Kau
sedang apa disini?'' tanya Hana kaget.
''Membuat orang-orang
ini berhenti mengganggumu dan membebaskan Hoseok,'' kata Jungkook, dia beralih
menatap tajam tiga orang itu, ''aku akan memberi kalian kesempatan untuk
mencabut laporan palsu kalian terkait dengan Hoseok. Kalau kalian menolak, aku
akan menggunakan cara kasar.''
Tiga orang itu tertawa
mendengar ancaman Jungkook. ''Kau anak kecil jangan sok jagoan!'' sentak
seorang diantara mereka, ''pulang dan minum susu sana.'' ''Kau harus cuci kaki
dan tangan, lalu tidur, anak kecil,'' sahut yang lain, ''bukan berkeliaran di
bar.''
''Jungkook, lari!''
kata Hana. Jungkook menatap Hana dan berkata, ''Kaulah yang harus lari!''
Jungkook menatap tiga orang itu dan menyeringai. ''Biar kuurus orang-orang
ini,'' katanya.
*
Eunkwang dan Sena duduk
berhadapan dengan Changmin, kepala polisi. Eunkwang menyodorkan amplop berwarna
coklat kepada Changmin. Changmin mengerutkan dahi, dia menatap Sena dan
berkata, ''Kau mau menyogok agar aku membebaskan temanmu, hm?''
''Bukan menyogok,''
jawab Sena, ''tolong jangan salah sangka. Uang ini hanya jaminan untuk
Hoseok-ssi. Saya hanya minta polisi untuk meringankan hukumannya. Sesuai hukum,
anak dibawah umur yang ketahuan berada di bar untuk alasan apapun ditahan
selama satu bulan.''
''Tapi dia juga
terlibat perkelahian,'' kata Changmin.
''Dia melakukannya
untuk melindungi kakak perempuannya, Changmin-ssi,'' kata Sena, ''saya yakin
Anda juga akan melakukan hal sama kalau Anda ada di posisinya.'' Sena tersenyum
dan kembali berkata, ''Saya hanya ingin hukum berlaku adil kepada Hoseok-ssi.''
*
Jiyoo dan Leeteuk duduk
berhadapan dengan Kyuhyun, kepala sekolah SMA Seolyeong II. ''Saya mohon
ringankan hukumannya, Seonsaengnim,'' pinta Jiyoo, ''dia bekerja di bar untuk
membiayai sekolahnya. Dia yatim piatu, tolong bantu dia. Dan dia berkelahi
untuk melindungi kakaknya. Hal itu tidak bisa dikategorikan sebagai
kejahatan.''
Kyuhyun menghela napas.
''Jiyoo-ssi, sesuai peraturan pelanggaran seperti itu termasuk pelanggaran
berat,'' katanya, ''hukuman yang pantas adalah dengan....''
''Dia murid yang
pintar,'' sela Leeteuk, ''saya mengenalnya sejak lama. Hoseok anak yang pintar,
prestasinya agak turun karena dia harus bekerja untuk membiayai kehidupannya
dan itu membuatnya tidak punya waktu untuk belajar.'' Leeteuk berdiri dan
membungkuk seraya berkata, ''Saya mohon jangan keluarkan Hoseok dari sekolah
ini.''
Jiyoo berdiri, dia juga
membungkuk kepada Kyuhyun. ''Seonsaengnim, saya sebagai ketua Dewan Murid
memohon untuk tidak mengeluarkan Hoseok-ssi,'' katanya, ''dan memohon untuk
memberikan beasiswa kepada Hoseok-ssi.''
''Beasiswa hanya untuk
anak yang berprestasi,'' kata Kyuhyun.
Jiyoo menegakkan
tubuhnya dan berkata, ''Saya akan mengajukan proposal beasiswa untuk siswa yang
tidak mampu kepada beberapa perusahaan dan donatur, Seonsaengnim. Ini akan jadi
agenda Dewan Murid untuk memberi kesejahteraan kepada semua murid tanpa
kecuali.''
Kyuhyun menatap Jiyoo
dan Leeteuk bergantian, dia menghela napas dan tersenyum kecil. ''Baiklah,''
katanya, ''besok akan kuberikan surat ijin mengajukan proposal kepada beberapa
perusahaan. Dan soal hukuman.... Yah, kurasa skorsing selama tiga minggu akan
memberi efek jera kepada Hoseok-ssi.''
Jiyoo sangat senang
dengan keputusan Kyuhyun. Dia dan Leeteuk membungkuk hormat. ''Gamsahamnida,
Seonsaengnim,'' kata Jiyoo senang, ''saya permisi.'' Jiyoo dan Leeteuk keluar
ruang kepala sekolah, mereka mendesah lega. ''Jiyoo-ssi, kau sangat hebat,''
kata Leeteuk, ''terimakasih atas semua bantuanmu.''
Jiyoo tersenyum.
''Seonsaengnim, ini adalah agenda saya sebagai ketua Dewan Murid,'' kata Jiyoo,
''tugas Dewan Murid adalah memastikan bahwa semua murid bisa belajar tanpa
memikirkan beban apapun.''
*
Jungkook terhempas
kesekian kali ke lantai. Jungkook meringis, dia berdiri dan kembali menerjang
seorang laki-laki bertubuh kekar di depannya. Laki-laki itu dengan mudah menghempaskan
Jungkook, dua temannya bersamaan menyerang namun Jungkook berhasil menghindar
walaupun tubuhnya sakit luar biasa. Jungkook berdiri, dengan napas tersengal
dia menatap tajam tiga orang itu.
''Jangan macam-macam,''
kata seorang laki-laki, ''kau pergi saja sebelum kau bernasib sama dengan
temanmu itu.'' ''Kalau kau mau menyerah, kami tidak akan mengganggumu,'' sahut
laki-laki kedua.
''Kalau kau mau
mencabut laporanmu, kami juga tidak akan mengganggu.''
Tiga laki-laki itu
menoleh dan menatap sinis Tim Bangtan yang mendekat. ''Babo,'' ucap Jin sambil
membantu Jungkook, ''kenapa kau pergi begitu saja, hah?'' ''Untung kami cepat
datang,'' kata Taehyung, ''nah, kita apakan orang-orang ini?'' Taehyung
menggerak-gerakkan tangannya seperti melakukan pemanasan.
Tiga laki-laki itu
tampak gentar melihat Tim Bangtan. ''Kami akan memberimu kesempatan kalau kau
mau mencabut laporanmu dan membebaskan teman kami,'' kata Namjoon, ''tapi kalau
kau tidak mau, kami akan memaksa.'' Namjoon berdehem, dan seketika sekelompok
orang muncul sambil menodongkan pistol kearah tiga laki-laki itu. Namjoon
mendekat, dia berkata, ''Kalian ditangkap atas tuduhan pengedaran uang palsu
dan penyelundupan senjata ilegal.''
Jungkook, Hana, dan
yang lain menatap bingung para polisi yang menggelandang tiga orang itu. ''Kau
tahu darimana kalau mereka penjahat?'' tanya Jin.
''Well, aku hanya
mengecek profil mereka tadi,'' kata Namjoon, ''meminta informasi soal mereka
dari hostess yang tadi kutemui.'' Namjoon mendekat dan menggeplak keras kepala
Jungkook. ''Makanya jangan sok tahu jadi orang,'' katanya ketus, ''kau pikir
aku mendekati hostess itu hanya untuk menggodanya? Babo.'' Namjoon melangkah
santai meninggalkan yang lain yang menatapnya dengan ekspresi melongo.
*
''Sena-ssi,
chukkahamnida.''
Sena dan Jiyoo
tersenyum saat para siswi di kelas memberikan buket bunga kepada Sena.
''Selamat atas terpilihnya Sena-ssi menjadi ketua kelas,'' kata Yeri, ''kami
semua yakin Sena-ssi pasti bisa membawa nama baik kelas kita seperti
Jiyoo-ssi.'' ''Kau benar, Yeri-ssi,'' sahut Joy, ''Jiyoo-ssi dan Sena-ssi itu
sama-sama luar biasa. Mereka adalah keberuntungan untuk kelas dan sekolah
kita.''
Para murid laki-laki
menatap kesal tingkah para gadis, terutama Tim bangtan. Entah mereka kesal atau
iri, atau mungkin kesal karena iri. ''Seperti kontes Miss Korea saja, pakai
buket bunga segala,'' gumam Jimin, ''kenapa disitu tidak dituliskan 'Turut
Berduka Cita' sekalian?''
Taehyung dan Namjoon
menahan tawa mendengar celetukan asal Jimin. Hoseok menatap teman-temannya, dia
berkata, ''Yeorobun, mianhae. Gara-gara kecerobohanku, kita kembali kalah dan
mereka semakin menguasai sekolah kita. Aku benar-benar minta maaf.''
''Ya ampun, kau jahat
sekali berkata begitu.''
Hoseok dan yang lain
menoleh. Sena berjalan kearah Hoseok, dia berkata, ''Kau adalah wakil ketua
kelas, jadi itu tidak bisa dikategorikan sebagai kekalahan, kan?''
Semua di kelas terkejut
mendengar ucapan Sena. ''Hoseok-ssi adalah pemenang kedua,'' kata Sena,
''sesuai dengan peraturan, pemenang kedua akan menjadi wakil dari pemenang
pertama. Maka Hoseok-ssi akan menjadi wakil ketua kelas, dan tugasnya adalah
menggantikanku andaikan aku tidak hadir di kelas.''
''Sena-ssi, kukira kau
menunjuk Irene-ssi menjadi wakilmu,'' kata Seulgi.
Sena tersenyum. ''Aku
tidak bisa melakukannya,'' kata Sena, ''Irene-ssi tidak ikut dalam pemilihan
ketua kelas. Lagipula, bukankah Hoseok-ssi pernah menjadi ketua kelas saat SMP?
Tentu dia lebih berpengalaman. Aku membutuhkan bantuannya dalam mengatur
kelas.'' Sena menatap Irene-ssi dan membungkuk. ''Jeosonghamnida, Irene-ssi,''
katanya, ''maaf aku tidak memilihmu menjadi wakilku.''
Irene tersenyum.
''Tidak masalah untukku,'' katanya, ''aku yakin kau membuat keputusan yang
tepat.''
Hoseok menatap Sena,
dia tertegun. Perlahan dia berdehem dan memasang gaya cool lalu berkata, ''Yah,
pada akhirnya akulah yang berjasa membantumu mengatur kelas. Jangan khawatir,
akan kuajari bagaimana cara mengatur kelas dengan baik.''
Sena tersenyum dan
mengangguk. ''Terimakasih atas bantuannya, Hoseok-ssi,'' katanya sambil
membungkuk, ''mari kita bekerjasama.''
Jiyoo tersenyum senang,
dia sangat bahagia mendengar keputusan Sena. Dia sempat kecewa dengan keputusan
awal Sena yang bersikeras akan menunjuk Irene sebagai wakilnya. Mungkin Sena
tahu kalau Hoseok adalah sosok yang bisa diandalkan, makanya dia berubah
pikiran.
Jungkook juga ikut
senang dengan keputusan Sena. Yah, tidak apalah menjadi wakil ketua, toh dia
bisa mengambil alih kekuasaan secara tidak langsung. Sama sepertinya, yang
secara tidak langsung bisa mengatur Dewan Murid sesuai dengan jiwa SMA Narin.
***

