Title : Pandora
Author : Veve
Genre : Fantasy, Comedy, Romance
Cast :
All Hey! Say! JUMP Members
Kawazoe Tori / OC
Ishihara Mio / OC
Watanabe Ayaka / OC
Fukushi Hiroko / OC
Other casts will revealed
Length : Chapter
*
“Apa
katamu? Kabut?”
Hiroko
mengangguk, dia berkata, “Kabutnya tiba-tiba saja muncul dari celah batu. Dan
menutupi hampir seluruh batu besar itu.” Ucapan Hiroko diiyakan Mio, Ayaka, dan
Daiki.
Tori
menghela napas. “Ya mungkin saja itu cuma gas biasa,” katanya, “jangan dianggap
serius ah. Cuma dongeng begitu saja dianggap serius.”
“Tapi
sepertinya dongeng itu betulan, deh,” kata Ayaka, “bayangkan saja. Tiba-tiba
ada kabut setebal itu. Jangan-jangan batu yang tadi kau tekan dengan tanganmu
itu segel Pandora.”
Tori
menghela napas dan memilih menyelesaikan tugas kelompoknya. Biar saja empat
bocah itu mengoceh soal Pandora atau apalah itu. Tori mengetik makalah laporan,
dia mengerutkan dahi mencoba untuk fokus.
Dan
Tori gagal.
Tori
menyingkirkan laptop, dia akhirnya bergabung dengan obrolan empat temannya itu.
“Kalau Pandora benar-benar ada, artinya semua penghuninya yang kabur ke dunia
manusia memang ada,” kata Tori, “dimana mereka sekarang? Apa mereka sama sekali
tidak mau kembali ke dunia mereka? Kalau penjahatnya…. Siapa namanya? Venom? Ah
terserahlah siapa namanya itu, kalau dia masih ada disini kenapa bukan dia saja
yang membuka segelnya?”
“Karena
hanya rajanya saja yang bisa membuka segelnya,” jawab Mio.
Tori
langsung memasang wajah horor dibuat-buat dan menatap kearah Daiki. “Kau pasti
rajanya,” kata Tori dramatis, “karena kau membuka segelnya.”
“Eeee…
Tori…. Itu cuma kabut asap biasa,” kata Daiki.
Tori
menepuk tangannya keras dan menunjuk Daiki seraya berkata, “Kau akhirnya tahu
itu. Ayolah, itu Cuma kabut asap biasa, gas yang mungkin keluar dari dalam
tanah. Kalian saja yang berlebihan menghubung-hubungkannya dengan dongeng Yabu
itu.” Tori terkekeh dan mengambil manganya lalu mulai membaca.
Hiroko
menghela napas, dia menengok kearah jendela. Hiroko mengerutkan dahi, dia
menengok dan menatap heran kearah luar jendela. “Siapa itu?” tanyanya bergumam,
“Tori, ada yang berdiri dibawah lampu jalan.”
“So?”
tanya Tori tanpa menoleh.
“Dia
menatap kearah kamar ini. Dan…. Dia memakai jaket berwarna hitam. Seperti
penguntit.”
Seketika
Mio, Ayaka, dan Daiki menyerbu ke jendela dan ikut memperhatikan orang yang
dimaksud Hiroko. “Tori, sepertinya ada yang memperhatikan rumahmu,” kata Daiki,
“akan kutelepon Yuya Senpai.” Daiki akan mengambil ponselnya, namun Tori
menahan Daiki dan beranjak keluar kamar. Tori melangkah keluar rumahnya, dia
melangkah mendekati orang itu dan membuka tudung jaketnya lalu menggeplak
kepala orang itu. Daiki, Hiroko, dan Ayaka mendesis sambil meringis melihat
kelakuan Tori, sementara Mio memekik tertahan.
“Kau
jangan menguntit rumahku seperti itu,” katanya ketus, “malam-malam begini kau
malah berdiri seperti perampok.”
Orang
itu terkekeh, dia menggaruk kepalanya yang agak nyeri karena pukulan Tori.
“Apa…. Apa Mio-Chan ada di rumahmu?” tanyanya.
Tori
memutar bolamatanya, dia mendongak dan berteriak, “Mio! Ryosuke mencarimu!”
Tori lalu menatap Ryosuke dan berkata, “Lain kali telepon atau kirim pesan.
Untung ayahku tidak ada di rumah, kalau ada kau sudah dikubur hidup-hidup.” Dia
dan Ryosuke melangkah masuk rumah. Tori berhenti sejenak, dia menoleh kearah
belokan. Tori celingukan, dia menghela napas dan melangkah masuk rumah.
*
Ryutaro
melangkah sambil bersiul pelan menyusuri trotoar, dia menatap sekotak coklat di
tangannya dan tersenyum. “Ayaka pasti suka,” katanya, “coklat tidak harus
diberikan saat valentine, kan?” Ryutaro tersenyum membayangkan reaksi Ayaka
saat menerima coklat darinya, dia menghela napas dan melangkah menuju sekolah
dengan semangat.
“Permisi.”
Ryutaro
menoleh, dia menatap seorang berpakaian kasual di depannya. Orang itu tersenyum
cerah, dia memegang selembar kertas dan membawa ransel. “Ada apa?” tanya
Ryutaro.
Laki-laki
itu tersenyum dan mendekat. “Maaf, apa kau tahu dimana SMA Amuraboshi?” tanya
laki-laki itu, “aku adalah guru baru untuk kelas kesenian. Aku masih baru
disini, jadi aku tidak tahu jalan.”
“Kebetulan
sekali,” kata Ryutaro, “aku sekolah disana. Ayo kesana bersamaku.”
Laki-laki
itu tampak senang, dia dan Ryutaro berjalan bersama menuju SMA Amuraboshi.
“Siapa nama Anda?” tanya Ryutaro, “nama saya Ryutaro. Dari kelas 2-2.”
“Aku
Yuya, Tegoshi Yuya,” kata laki-laki itu memperkenalkan diri, “tapi aku sering
dipanggil Tegoshi. Jadi…. Panggil saja aku Tegoshi.”
Ryutaro
tersenyum. “Sensei berasal darimana?” tanya Ryutaro.
“Hokkaido,”
jawab Tegoshi tersenyum.
“RYUUUUU!”
Ryutaro
dan Tegoshi menoleh. Ryutaro melambaikan tangan kepada Ayaka, Mio, Hiroko, dan
Tori yang mengayuh sepeda mereka kearah Ryutaro. “Mana Daiki?” tanya Ryutaro,
“bukannya dia selalu bersama Hiroko?”
“Dia
tidak masuk sekolah,” jawab Hiroko, “Daiki mendadak sakit perut. Padahal aku
sudah mengingatkannya agar tidak terlalu banyak makan semalam. Dasar gembul.”
Ryutaro
dan yang lain terkekeh mendengar ucapan Hiroko. Tori menatap laki-laki di
sebelah Ryutaro, dia bertanya, “Siapa dia?”
“Ah,
kenalkan,” kata Ryutaro, “dia adalah Tegoshi Yuya Sensei, guru kesenian kita
yang baru.” Ryutaro menatap Tegoshi dan berkata, “Sensei, ini adalah
teman-teman sekelas saya. Ini Tori, Hiroko, Ayaka, dan Mio.”
Tegoshi
membungkuk kepada mereka semua, empat gadis itu juga balas membungkuk hormat.
“Senang bisa bertemu dengan Sensei,” kata Ayaka, “eh, Ryutaro, nanti giliran
kelompok kita presentasi. Kau sudah membawa bahan presentasinya, kan?”
Ryutaro
mengangkat tas merah di tangannya. “Jangan khawatir, semua ada disini,” katanya
tersenyum. Ayaka tersenyum, Ryutaro jadi terpesona menatapnya. Tori menghela
napas dan berkata, “Kalian kalau mau pacaran nanti saja setelah presentasi. Ini
masih pagi.” Tori mengayuh sepedanya menjauhi yang lain.
“Dasar
jomblo,” gumam Mio, dia terkikik dan ikut mengayuh sepedanya. Hiroko dan Ayaka
menyusul setelah memberi salam kepada Tegoshi. Ryutaro terkekeh saja, dia
berkata, “Mereka itu biang keributan di kelas. Sensei akan kewalahan menghadapi
mereka.”
Tori,
Ayaka, Mio, dan Hiroko memarkir sepeda di samping sekolah. ''Seingatku guru
pengganti di kelas kesenian itu perempuan, kenapa ini laki-laki?'' ucap Mio,
''apa diganti, ya?''
''Iya, setahuku juga
begitu,'' kata Hiroko, ''mungkin saja guru perempuan itu batal mengajar disini.
Dan laki-laki tadi yang menggantikan posisinya.''
Keempat gadis itu
berjalan santai menuju kelas mereka. Sepanjang jalan Hiroko dan Mio membahas
guru baru itu, sementara Ayaka sibuk dengan ponselnya. Tori sendiri memilih
menatap kearah lapangan, dia lalu berhenti dan menatap kearah Ryutaro dan
Tegoshi Sensei. Tori menopangkan dagunya, dia serius menatap dua orang itu.
'Sepertinya aku pernah melihatnya di satu tempat, tapi dimana ya?' batin Tori,
'ah sudahlah. Mungkin cuma perasaanku saja.'
''Tori.''
Tori menoleh, dia
melihat Hikaru, seniornya. ''Ada apa?'' tanya Tori.
''Kau sudah dengar
belum kalau kuil keluarga Yabu rusak parah semalam?'' tanya Hikaru.
Tori segera berbalik
menghadap Hikaru, matanya terbelalak kaget. ''Masa, sih?'' tanyanya heran,
''apa ada perampok disana?''
''Bukan perampok,''
jawab Hikaru, ''tapi kuilnya hancur total. Kau tahu, seperti terkena ledakan
bom. Untung saja tidak ada yang tewas. Kau, kan, tinggal dekat disana, masa
tidak dengar ledakannya?''
Tori menggeleng pelan,
dia mengerutkan dahi. ''Siapa juga yang kurang kerjaan meruntuhkan kuil?''
gumamnya, ''apa dia tidak takut dikutuk?''
''Dan banyak yang
mengaitkan ini dengan dongeng yang sekarang sedang jadi pembicaraan itu,'' kata
Hikaru, ''katanya segel Pandora sudah terbuka, dan monster-monsternya keluar
lalu menyerang dunia manusia lagi.''
Krik.
Seketika wajah Tori
berubah datar. ''Senpai kau juga termakan rumor itu, ya,'' katanya datar,
''tidak ada hubungannya dengan kisah itu. Ini murni kecelakaan, mungkin saja
ada bom salah sasaran. Atau ada meteor, lebih masuk akal daripada monster
Pandora.'' Tori melangkah, dia berhenti di depan pintu kelas dan kembali
menatap Hikaru. ''Pandora itu tidak ada, Senpai,'' kata Tori, dia tersenyum dan
melangkah masuk kelas lalu duduk di sebelah Ayaka.
''Sudah dengar belum
kalau kuil Yabu hancur semalam?'' ucap Chinen.
''Aku baru diberitahu
Hikaru Senpai tadi,'' jawab Tori, ''kita kesana, yuk. Bantuan kita akan sangat
berarti untuk Yabu.''
''Aku bantu doa saja,''
kata Mio jahil, ''aku tidak mungkin ikut membangun kuil, kan.''
Yang lain tertawa
mendengar ucapan Mio. Hiroko menoleh, dia mengerutkan dahi menatap Tori. ''Tori
kau kenapa?'' tanya Hiroko.
Tori menoleh, dia
menggeleng saja. Hiroko menatap Tori tajam. Dia tahu ada yang dipikirkan
temannya itu. Hiroko mengalihkan pandangannya, dia memilih memainkan ponselnya.
*
Yabu sedang menyapu
halaman kuil saat segerombolan anak SMA melangkah kearahnya. ''Yabuuuu,'' suara
Ryosuke dan Yuto terdengar. Yabu menoleh, dia tersenyum dan melambaikan tangan
kearah gerombolan anak SMA itu. ''Maaf, kuil sedang dalam perbaikan,'' kata
Yabu, ''jadi kalian tidak bisa berdoa dulu. Kalau mau berdoa dan membuat
harapan, pergilah ke kuil di dekat taman kota.''
''Kami kemari mau
membantumu memperbaiki kuil, Yabu,'' kata Kei, ''ini kuil kesayangan kami,
makanya kami harus memperbaikinya.''
Yabu tertawa kecil.
''Dasar kalian ini,'' katanya, ''baiklah. Maaf merepotkan kalian.'' Yabu
menoleh, dia mengerutkan dahi lalu bertanya, ''Mana Daiki?''
Seketika semua menghela
napas. ''Daiki sakit perut,'' jawab Hiroko, ''dia tidak masuk hari ini.''
Yabu tersenyum
mendengar jawaban Hiroko. Yang lain mulai bergerak membantu Yabu. Para gadis
menyapu halaman, dan para laki-laki saling membantu memperbaiki kuil. ''Apa
yang terjadi, Yabu?'' tanya Yuya, ''bagaimana bisa kuil ini hancur?''
''Aku juga tidak
paham,'' kata Yabu, ''semalam tiba-tiba saja aku melihat ada cahaya terang
sekali disini dan terdengar suara seperti benda besar terbanting ke tanah. Saat
aku datang, kuil sudah hancur.''
Keito menoleh, dia lalu
berkata, ''Ini belum musim dingin. Kenapa ada kabut disana?''
Semua menoleh kearah
yang ditunjuk Keito. Chinen mengerutkan dahi, dia berujar, ''Ada kabut di
hutan.... Kok bisa? Ini belum musim dingin, kan?''
''Kabut tidak mengenal
musim, Chii,'' kata Ryutaro, ''tapi.... Bukannya harusnya kabut itu hanya
muncul saat pagi?''
Tori menatap Ayaka,
Hiroko, dan Mio yang saling pandang. Dia mendekat, lalu bertanya, ''Apa itu
kabut yang kalian maksud kemarin?''
Mereka bertiga
mengangguk serempak menatap Tori. Tori menoleh kearah hutan, dahinya berkerut
menatap kabut itu. 'Jadi disana lokasinya,' batin Tori, 'tapi.... Kenapa dulu
tidak ada kabut disana?'
Tori menoleh kearah
yang lain. Tori melihat Yabu diam menatap kabut itu, dia seperti memikirkan
sesuatu. Tori ikut menatap kabut, lalu kembali menatap Yabu. Tori menghela
napas, dia akhirnya kembali menyapu halaman bersama yang lain.
*
''Kau lama sekali.''
''Maaf, aku ada banyak
urusan.''
''Ck, kau sok sibuk.
Tapi aku berterimakasih kau mau melepaskanku.''
''Hal pertama yang
kulakukan setelah aku bebas tentu saja membebaskan tuanku.''
''Bagus. Kau memang
pintar. Sekarang kita hanya perlu mencari Venom.''
''Jangan khawatir,
Tuan. Aku sudah menemukannya. Aku hanya perlu mendekatinya agar dia mau menurut
kepada kita.''
''Apa maksudmu?''
''Dia sudah terlalu
lama di dunia manusia. Anak itu keturunan Venom, dan sifat-sifatnya sangat
manusia sekarang. Aku hanya perlu mengembalikannya ke jalur semula agar kita
bisa mengendalikannya.''
''Ah, baiklah. Semua
kuserahkan kepadamu.''
''Jangan khawatir,
Tuan. Semua akan kembali seperti semula.''
''Aku menggantungkan
harapan kepadamu, Tegoshi.''
Tegoshi tersenyum, dia
membungkuk kepada seseorang yang berdiri di depan batu besar di hutan. ''Tuan
bisa mengandalkanku,'' katanya dengan percaya diri.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar