Senin, 26 Oktober 2015

Pandora 02


Title : Pandora
Author : Veve
Genre : Fantasy, Comedy, Romance
Cast :
All Hey! Say! JUMP Members
Kawazoe Tori / OC
Ishihara Mio / OC
Watanabe Ayaka / OC
Fukushi Hiroko / OC
Other casts will revealed
Length : Chapter
*


            “Apa katamu? Kabut?”

            Hiroko mengangguk, dia berkata, “Kabutnya tiba-tiba saja muncul dari celah batu. Dan menutupi hampir seluruh batu besar itu.” Ucapan Hiroko diiyakan Mio, Ayaka, dan Daiki.

            Tori menghela napas. “Ya mungkin saja itu cuma gas biasa,” katanya, “jangan dianggap serius ah. Cuma dongeng begitu saja dianggap serius.”

            “Tapi sepertinya dongeng itu betulan, deh,” kata Ayaka, “bayangkan saja. Tiba-tiba ada kabut setebal itu. Jangan-jangan batu yang tadi kau tekan dengan tanganmu itu segel Pandora.”

            Tori menghela napas dan memilih menyelesaikan tugas kelompoknya. Biar saja empat bocah itu mengoceh soal Pandora atau apalah itu. Tori mengetik makalah laporan, dia mengerutkan dahi mencoba untuk fokus.

            Dan Tori gagal.

            Tori menyingkirkan laptop, dia akhirnya bergabung dengan obrolan empat temannya itu. “Kalau Pandora benar-benar ada, artinya semua penghuninya yang kabur ke dunia manusia memang ada,” kata Tori, “dimana mereka sekarang? Apa mereka sama sekali tidak mau kembali ke dunia mereka? Kalau penjahatnya…. Siapa namanya? Venom? Ah terserahlah siapa namanya itu, kalau dia masih ada disini kenapa bukan dia saja yang membuka segelnya?”

            “Karena hanya rajanya saja yang bisa membuka segelnya,” jawab Mio.

            Tori langsung memasang wajah horor dibuat-buat dan menatap kearah Daiki. “Kau pasti rajanya,” kata Tori dramatis, “karena kau membuka segelnya.”

            “Eeee… Tori…. Itu cuma kabut asap biasa,” kata Daiki.

            Tori menepuk tangannya keras dan menunjuk Daiki seraya berkata, “Kau akhirnya tahu itu. Ayolah, itu Cuma kabut asap biasa, gas yang mungkin keluar dari dalam tanah. Kalian saja yang berlebihan menghubung-hubungkannya dengan dongeng Yabu itu.” Tori terkekeh dan mengambil manganya lalu mulai membaca.

            Hiroko menghela napas, dia menengok kearah jendela. Hiroko mengerutkan dahi, dia menengok dan menatap heran kearah luar jendela. “Siapa itu?” tanyanya bergumam, “Tori, ada yang berdiri dibawah lampu jalan.”

            “So?” tanya Tori tanpa menoleh.

            “Dia menatap kearah kamar ini. Dan…. Dia memakai jaket berwarna hitam. Seperti penguntit.”

            Seketika Mio, Ayaka, dan Daiki menyerbu ke jendela dan ikut memperhatikan orang yang dimaksud Hiroko. “Tori, sepertinya ada yang memperhatikan rumahmu,” kata Daiki, “akan kutelepon Yuya Senpai.” Daiki akan mengambil ponselnya, namun Tori menahan Daiki dan beranjak keluar kamar. Tori melangkah keluar rumahnya, dia melangkah mendekati orang itu dan membuka tudung jaketnya lalu menggeplak kepala orang itu. Daiki, Hiroko, dan Ayaka mendesis sambil meringis melihat kelakuan Tori, sementara Mio memekik tertahan.

            “Kau jangan menguntit rumahku seperti itu,” katanya ketus, “malam-malam begini kau malah berdiri seperti perampok.”

            Orang itu terkekeh, dia menggaruk kepalanya yang agak nyeri karena pukulan Tori. “Apa…. Apa Mio-Chan ada di rumahmu?” tanyanya.

            Tori memutar bolamatanya, dia mendongak dan berteriak, “Mio! Ryosuke mencarimu!” Tori lalu menatap Ryosuke dan berkata, “Lain kali telepon atau kirim pesan. Untung ayahku tidak ada di rumah, kalau ada kau sudah dikubur hidup-hidup.” Dia dan Ryosuke melangkah masuk rumah. Tori berhenti sejenak, dia menoleh kearah belokan. Tori celingukan, dia menghela napas dan melangkah masuk rumah.
*
            Ryutaro melangkah sambil bersiul pelan menyusuri trotoar, dia menatap sekotak coklat di tangannya dan tersenyum. “Ayaka pasti suka,” katanya, “coklat tidak harus diberikan saat valentine, kan?” Ryutaro tersenyum membayangkan reaksi Ayaka saat menerima coklat darinya, dia menghela napas dan melangkah menuju sekolah dengan semangat.

            “Permisi.”

            Ryutaro menoleh, dia menatap seorang berpakaian kasual di depannya. Orang itu tersenyum cerah, dia memegang selembar kertas dan membawa ransel. “Ada apa?” tanya Ryutaro.

            Laki-laki itu tersenyum dan mendekat. “Maaf, apa kau tahu dimana SMA Amuraboshi?” tanya laki-laki itu, “aku adalah guru baru untuk kelas kesenian. Aku masih baru disini, jadi aku tidak tahu jalan.”

            “Kebetulan sekali,” kata Ryutaro, “aku sekolah disana. Ayo kesana bersamaku.”

            Laki-laki itu tampak senang, dia dan Ryutaro berjalan bersama menuju SMA Amuraboshi. “Siapa nama Anda?” tanya Ryutaro, “nama saya Ryutaro. Dari kelas 2-2.”

            “Aku Yuya, Tegoshi Yuya,” kata laki-laki itu memperkenalkan diri, “tapi aku sering dipanggil Tegoshi. Jadi…. Panggil saja aku Tegoshi.”

            Ryutaro tersenyum. “Sensei berasal darimana?” tanya Ryutaro.

            “Hokkaido,” jawab Tegoshi tersenyum.

            “RYUUUUU!”

            Ryutaro dan Tegoshi menoleh. Ryutaro melambaikan tangan kepada Ayaka, Mio, Hiroko, dan Tori yang mengayuh sepeda mereka kearah Ryutaro. “Mana Daiki?” tanya Ryutaro, “bukannya dia selalu bersama Hiroko?”

            “Dia tidak masuk sekolah,” jawab Hiroko, “Daiki mendadak sakit perut. Padahal aku sudah mengingatkannya agar tidak terlalu banyak makan semalam. Dasar gembul.”

            Ryutaro dan yang lain terkekeh mendengar ucapan Hiroko. Tori menatap laki-laki di sebelah Ryutaro, dia bertanya, “Siapa dia?”

            “Ah, kenalkan,” kata Ryutaro, “dia adalah Tegoshi Yuya Sensei, guru kesenian kita yang baru.” Ryutaro menatap Tegoshi dan berkata, “Sensei, ini adalah teman-teman sekelas saya. Ini Tori, Hiroko, Ayaka, dan Mio.”

            Tegoshi membungkuk kepada mereka semua, empat gadis itu juga balas membungkuk hormat. “Senang bisa bertemu dengan Sensei,” kata Ayaka, “eh, Ryutaro, nanti giliran kelompok kita presentasi. Kau sudah membawa bahan presentasinya, kan?”

            Ryutaro mengangkat tas merah di tangannya. “Jangan khawatir, semua ada disini,” katanya tersenyum. Ayaka tersenyum, Ryutaro jadi terpesona menatapnya. Tori menghela napas dan berkata, “Kalian kalau mau pacaran nanti saja setelah presentasi. Ini masih pagi.” Tori mengayuh sepedanya menjauhi yang lain.

            “Dasar jomblo,” gumam Mio, dia terkikik dan ikut mengayuh sepedanya. Hiroko dan Ayaka menyusul setelah memberi salam kepada Tegoshi. Ryutaro terkekeh saja, dia berkata, “Mereka itu biang keributan di kelas. Sensei akan kewalahan menghadapi mereka.”

            Tori, Ayaka, Mio, dan Hiroko memarkir sepeda di samping sekolah. ''Seingatku guru pengganti di kelas kesenian itu perempuan, kenapa ini laki-laki?'' ucap Mio, ''apa diganti, ya?''

''Iya, setahuku juga begitu,'' kata Hiroko, ''mungkin saja guru perempuan itu batal mengajar disini. Dan laki-laki tadi yang menggantikan posisinya.''

Keempat gadis itu berjalan santai menuju kelas mereka. Sepanjang jalan Hiroko dan Mio membahas guru baru itu, sementara Ayaka sibuk dengan ponselnya. Tori sendiri memilih menatap kearah lapangan, dia lalu berhenti dan menatap kearah Ryutaro dan Tegoshi Sensei. Tori menopangkan dagunya, dia serius menatap dua orang itu. 'Sepertinya aku pernah melihatnya di satu tempat, tapi dimana ya?' batin Tori, 'ah sudahlah. Mungkin cuma perasaanku saja.'

''Tori.''

Tori menoleh, dia melihat Hikaru, seniornya. ''Ada apa?'' tanya Tori.

''Kau sudah dengar belum kalau kuil keluarga Yabu rusak parah semalam?'' tanya Hikaru.
Tori segera berbalik menghadap Hikaru, matanya terbelalak kaget. ''Masa, sih?'' tanyanya heran, ''apa ada perampok disana?''

''Bukan perampok,'' jawab Hikaru, ''tapi kuilnya hancur total. Kau tahu, seperti terkena ledakan bom. Untung saja tidak ada yang tewas. Kau, kan, tinggal dekat disana, masa tidak dengar ledakannya?''

Tori menggeleng pelan, dia mengerutkan dahi. ''Siapa juga yang kurang kerjaan meruntuhkan kuil?'' gumamnya, ''apa dia tidak takut dikutuk?''

''Dan banyak yang mengaitkan ini dengan dongeng yang sekarang sedang jadi pembicaraan itu,'' kata Hikaru, ''katanya segel Pandora sudah terbuka, dan monster-monsternya keluar lalu menyerang dunia manusia lagi.''

Krik.

Seketika wajah Tori berubah datar. ''Senpai kau juga termakan rumor itu, ya,'' katanya datar, ''tidak ada hubungannya dengan kisah itu. Ini murni kecelakaan, mungkin saja ada bom salah sasaran. Atau ada meteor, lebih masuk akal daripada monster Pandora.'' Tori melangkah, dia berhenti di depan pintu kelas dan kembali menatap Hikaru. ''Pandora itu tidak ada, Senpai,'' kata Tori, dia tersenyum dan melangkah masuk kelas lalu duduk di sebelah Ayaka.

''Sudah dengar belum kalau kuil Yabu hancur semalam?'' ucap Chinen.

''Aku baru diberitahu Hikaru Senpai tadi,'' jawab Tori, ''kita kesana, yuk. Bantuan kita akan sangat berarti untuk Yabu.''

''Aku bantu doa saja,'' kata Mio jahil, ''aku tidak mungkin ikut membangun kuil, kan.''

Yang lain tertawa mendengar ucapan Mio. Hiroko menoleh, dia mengerutkan dahi menatap Tori. ''Tori kau kenapa?'' tanya Hiroko.

Tori menoleh, dia menggeleng saja. Hiroko menatap Tori tajam. Dia tahu ada yang dipikirkan temannya itu. Hiroko mengalihkan pandangannya, dia memilih memainkan ponselnya.
*
Yabu sedang menyapu halaman kuil saat segerombolan anak SMA melangkah kearahnya. ''Yabuuuu,'' suara Ryosuke dan Yuto terdengar. Yabu menoleh, dia tersenyum dan melambaikan tangan kearah gerombolan anak SMA itu. ''Maaf, kuil sedang dalam perbaikan,'' kata Yabu, ''jadi kalian tidak bisa berdoa dulu. Kalau mau berdoa dan membuat harapan, pergilah ke kuil di dekat taman kota.''

''Kami kemari mau membantumu memperbaiki kuil, Yabu,'' kata Kei, ''ini kuil kesayangan kami, makanya kami harus memperbaikinya.''

Yabu tertawa kecil. ''Dasar kalian ini,'' katanya, ''baiklah. Maaf merepotkan kalian.'' Yabu menoleh, dia mengerutkan dahi lalu bertanya, ''Mana Daiki?''

Seketika semua menghela napas. ''Daiki sakit perut,'' jawab Hiroko, ''dia tidak masuk hari ini.''

Yabu tersenyum mendengar jawaban Hiroko. Yang lain mulai bergerak membantu Yabu. Para gadis menyapu halaman, dan para laki-laki saling membantu memperbaiki kuil. ''Apa yang terjadi, Yabu?'' tanya Yuya, ''bagaimana bisa kuil ini hancur?''

''Aku juga tidak paham,'' kata Yabu, ''semalam tiba-tiba saja aku melihat ada cahaya terang sekali disini dan terdengar suara seperti benda besar terbanting ke tanah. Saat aku datang, kuil sudah hancur.''

Keito menoleh, dia lalu berkata, ''Ini belum musim dingin. Kenapa ada kabut disana?''

Semua menoleh kearah yang ditunjuk Keito. Chinen mengerutkan dahi, dia berujar, ''Ada kabut di hutan.... Kok bisa? Ini belum musim dingin, kan?''

''Kabut tidak mengenal musim, Chii,'' kata Ryutaro, ''tapi.... Bukannya harusnya kabut itu hanya muncul saat pagi?''

Tori menatap Ayaka, Hiroko, dan Mio yang saling pandang. Dia mendekat, lalu bertanya, ''Apa itu kabut yang kalian maksud kemarin?''

Mereka bertiga mengangguk serempak menatap Tori. Tori menoleh kearah hutan, dahinya berkerut menatap kabut itu. 'Jadi disana lokasinya,' batin Tori, 'tapi.... Kenapa dulu tidak ada kabut disana?'

Tori menoleh kearah yang lain. Tori melihat Yabu diam menatap kabut itu, dia seperti memikirkan sesuatu. Tori ikut menatap kabut, lalu kembali menatap Yabu. Tori menghela napas, dia akhirnya kembali menyapu halaman bersama yang lain.
*
''Kau lama sekali.''

''Maaf, aku ada banyak urusan.''

''Ck, kau sok sibuk. Tapi aku berterimakasih kau mau melepaskanku.''

''Hal pertama yang kulakukan setelah aku bebas tentu saja membebaskan tuanku.''

''Bagus. Kau memang pintar. Sekarang kita hanya perlu mencari Venom.''

''Jangan khawatir, Tuan. Aku sudah menemukannya. Aku hanya perlu mendekatinya agar dia mau menurut kepada kita.''

''Apa maksudmu?''

''Dia sudah terlalu lama di dunia manusia. Anak itu keturunan Venom, dan sifat-sifatnya sangat manusia sekarang. Aku hanya perlu mengembalikannya ke jalur semula agar kita bisa mengendalikannya.''

''Ah, baiklah. Semua kuserahkan kepadamu.''

''Jangan khawatir, Tuan. Semua akan kembali seperti semula.''

''Aku menggantungkan harapan kepadamu, Tegoshi.''

Tegoshi tersenyum, dia membungkuk kepada seseorang yang berdiri di depan batu besar di hutan. ''Tuan bisa mengandalkanku,'' katanya dengan percaya diri.
***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar