Rabu, 28 Oktober 2015

Pandora 03

Title : Pandora
Author : Veve
Genre : Fantasy, Comedy, Romance
Cast :
All Hey! Say! JUMP Members
Kawazoe Tori / OC
Ishihara Mio / OC
Watanabe Ayaka / OC
Fukushi Hiroko / OC
Other casts will revealed
Length : Chapter
*
 
 
Chapter 3


            Mio terbangun saat ponselnya berdering. “Siapa, sih, menelepon sepagi ini?” erang Mio, dia mengambil ponselnya dan melihat nama siapa yang muncul di layar.

            ‘Chicken’.

            Mio membuka mata, dia bangun dan menjawab panggilan yang masuk. “Ya, halo, Yamada?” kata Mio. Astaga, ada angin apa Ryosuke menelepon sepagi ini?

            ‘Kau sudah bangun belum?’ tanya Ryosuke.

            Mio memutar bolamatanya. “Ya kalau aku belum bangun siapa yang sekarang sedang bicara, hah?” kata Mio, “baka.”

            Terdengar suara Ryosuke terkekeh. ‘Jalan-jalan, yuk,’ katanya, ‘aku traktir eskrim, deh. Ayo.’

            Mio menghela napas. “Satu jam lagi di taman,” kata Mio, “tunggu aku disana, oke?”

            ‘Oke.’ Sambungan telepon terputus. Mio memekik senang, dia beranjak dan segera menuju kamar mandi. Persetan dengan kamarnya yang berantakan, dia akan membereskannya nanti.
*
            “Tori! Tori, astaga ayo bangun! TORI!”

            Tori membuka mata, dia menyibakkan selimut dan memicing kesal kearah pintu kamarnya yang bergetar. “Kalau aku tidak ingat siapa dia, aku sudah melemparkannya ke luar angkasa,” gerutu Tori. Dia beranjak dan melangkah menuju pintu lalu membukanya.

            Pletak!

            “Aduh!” Tori memekik, dia memegangi dahinya yang terkena jitakan Yuya. “Senpai ini apa-apaan, sih?!” katanya kesal, “ini masih pagi, dan ini hari Minggu!”

            “Peduli setan dengan itu semua,” kata Yuya, “cepat ganti baju, kita akan lari pagi.”

            “Apa? Aku tidak mau,” kata Tori, dia akan menutup pintu kamar saat Yuya menahan pintu dengan kakinya dan berkata, “Kau pilih, ikut aku lari pagi atau membantu ibuku memasak.”

            Ming.

            “Sepuluh menit,” Tori menutup pintu dan segera berganti pakaian. “Dasar Bakaki,” gerutunya sambil berganti pakaian, “aaaah, kenapa aku harus menyukai orang seperti dia? Dan kenapa dia yang akan menjadi kakak tiriku? Dia akan jadi manusia bertanduk iblis nanti.”

            “TORI!”

            “BERISIK! TERIAK SEKALI LAGI KUHAJAR KAU!”
*
            “Aaaa.”

            “Aaaam.”

            Ayaka terkikik, Ryutaro tersenyum dan menyuapi Ayaka kembang gula. Ayaka juga menyuapi Ryutaro kembang gula, mereka duduk berdua dibawah pohon bunga sakura.

            Mesra sekali, bukan?

            “Oh iya, nanti kita ke kuil lagi, yuk,” ajak Ayaka, “tinggal sedikit lagi dan kuil Yabu akan selesai. Kau akan membantu, kan?”

            “Tentu saja,” kata Ryutaro, “apalagi ada kau juga disana, aku jelas akan ikut.” Ryutaro menatap Ayaka dan berkata, “Kan, dimana ada Ayaka disitu ada Ryutaro.”

            Ayaka tergelak, dan Ryutaro tersenyum saja melihat tawa Ayaka. Ryutaro tiba-tiba berhenti tersenyum, dia lalu menoleh kebelakang. Ryutaro mengerutkan dahi, dia celingukan memperhatikan keadaan di belakangnya.

            “Ada apa?” tanya Ayaka, dia mengerutkan dahi melihat tingkah aneh Ryutaro.

            “Sepertinya ada yang mengawasi kita,” kata Ryutaro, dia masih celingukan. Ayaka sendiri jadi ikut-ikutan celingukan, walaupun dia tidak tahu apa yang dicari Ryutaro.

            Ryutaro beranjak, dia menggandeng tangan Ayaka dan mengajak gadis itu untuk pergi. “Aku merasa tidak tenang, Ayaka-Chan,” kata Ryutaro, “kita pergi saja, yuk. Ah, kita ke kuil saja, disana sudah jelas aman.”
*
            Hiroko menatap Daiki, dia khawatir melihat wajah Daiki yang pucat. “Kau itu masih sakit, Dai-Chan,” kata Hiroko, “kenapa memaksakan diri lari pagi, hah? Ayo kita pulang saja.”

            Daiki dengan sigap menahan Hiroko. “Aku baik-baik saja,” kata Daiki, “aku, kan, sudah berjanji akan lari pagi bersamamu.”

            “Tapi kau masih sakit,” balas Hiroko, “kita bisa lari pagi lain kali, kan.”

            Daiki menegakkan tubuhnya, dia menghela napas dan menatap Hiroko dengan senyum cerah. “Aku sudah sembuh,” katanya semangat, “tidak sakit lagi. Ayo lari pagi lagi.”

            Hiroko diam menatap Daiki yang tersenyum. Dia tidak tega melihat Daiki berpura-pura sehat di depan Hiroko. Sikap Daiki ini kadang membuatnya terlihat seperti anak kecil. “Baiklah,” kata Hiroko, “tapi kalau kau capek kau harus istirahat. Kalau kau masih memaksakan diri, aku tidak mau bicara denganmu.”

            “Siap, Bos,” Daiki memberi sikap hormat kepada Hiroko. Hiroko tertawa melihat tingkah Daiki, dia gemas dan mencubit pipi tembam Daiki. “Ayo,” ajak Hiroko.

            “Senpai! Kau itu kalau lari jangan cepat-cepat, dong!”

            “Bukan aku yang cepat, tapi kau yang lambat. Kura-kura saja masih lebih cepat daripada kau.”

            “Senpai!”

            Hiroko dan Daiki saling pandang dengan tatapan sweatdrop, mereka menghela napas dan menoleh kearah turunan. Yuya tampak berlari kecil, di belakangnya ada Tori yang tampak kelelahan menyusul Yuya. Melihat itu, seketika Daiki dan Hiroko menahan tawa. “Tori itu malas olahraga malah diajak lari pagi,” kata Daiki, “lihat wajahnya. Dia seperti menderita sekali.”

            “Kalian membicarakan siapa, hah?” sahut Tori, dia mengatur napasnya yang terengah-engah. Yuya menoleh kearah Daiki dan Hiroko, lalu bertanya, “Kalian lari pagi juga?”

            “Iya,” jawab Daiki, “aku bosan di rumah, makanya aku lari pagi.”

            “Kau, kan, masih sakit,” kata Tori, “kenapa memaksakan diri, sih?”

            “Biar cepat kurus,” jawab Daiki polos.

            “Kau itu sudah ditakdirkan jadi gemuk, jangan banyak tingkah,” sahut Tori.

            “Lho, kalian disini?”

            Semua menoleh, Hiroko dan Tori melambaikan tangan kepada Ryutaro dan Ayaka yang bergandengan tangan mendekat kearah mereka. “Ini masih pagi, dan kalian sudah berduaan,” kata Yuya, “dasar kalian ini.”

            “Senpai juga berduaan dengan Tori,” balas Ayaka, “Daiki dan Hiroko juga.”

            “Kenapa namaku disebut?” sahut Hiroko, “aku, kan, tidak mengatakan apa-apa.”

            “Memangnya kenapa kalau aku berduaan dengan Tori? Toh dia adikku,” kata Yuya sambil menjulurkan lidahnya kepada Ayaka.

            “Astaga, apa ada arisan disini?”

            Mio dan Ryosuke muncul, mereka mendekati yang lain. “Kalian mau kemana?” tanya Ryutaro.

            “Tadinya sih kami mau jalan-jalan di taman,” jawab Ryosuke, “tapi kita kan masih ada tugas memperbaiki kuil. Makanya aku dan Mio mau kesana sekarang.”

            “Baiklah, kalau begitu kita kesana saja sekarang,” kata Yuya, “ayo.” Yuya berjalan lebih dulu, diikuti Tori dan yang lain. Mereka berjalan sambil sesekali bercanda, sasaran utamanya tentu saja Ayaka dan Ryutaro. “Kalian itu terlalu mengumbar kemesraan,” komentar Mio, “kalau ada kalian, rasanya seluruh dunia ini berubah warna jadi pink.”

            “Dan ada hati bertebaran dimana-mana,” sambung Ryosuke, mereka semua lalu tertawa.

            “Biarkan saja,” kata Ryutaro, “daripada kalian, dibilang pacaran tidak mesra sama sekali. Tapi dibilang berteman biasa kalian itu seperti orang pacaran. Tidak jelas.”

            Tori hanya menghela napas, dia melirik sekilas kearah hutan. Tori berhenti, dia lalu berbalik menatap jalan setapak yang mengarah ke hutan. Tori mengerutkan dahi, dia melangkah perlahan lalu berhenti tepat di tepi hutan. Tori menatap kearah kabut yang sedikit menyembul diantara dedaunan, dia membatin, ‘Sepertinya aku merasa ada yang aneh disana.’

            “Tori.”

            Tori menoleh, dia melihat Yuya berdiri di dekatnya. “Kau melihat apa?” tanya Yuya.

            Tori menunjuk kearah hutan. “Aku mendengar ada suara dari sana, Senpai,” kata Tori, “mungkin binatang dari hutan turun kesini. Yah, semoga saja tidak menyerang warga.”

            Yuya menatap kearah hutan, dia mengerutkan dahinya. “Ayo kita pergi saja,” kata Yuya, “kau mungkin cuma salah dengar.” Yuya menyentuh pundak Tori dan menggiringnya menjauhi hutan. Tori menoleh, dia yakin sekali ada yang bergerak disana.

            Delapan anak itu sampai di kuil. Chinen, Yuto, Hikaru, dan Keito sudah ada disana. Yabu menoleh, dia melangkah menyambut mereka yang baru datang. “Selamat pagi,” sapanya, “wah, ada yang baru berolahraga ternyata. Bagus sekali.”

            “Lho Tori olahraga?” sahut Hikaru, “kukira dia masih asyik berkelana di alam mimpi.” Hikaru terkekeh, dia berkelit saat Tori menyabetkan handuk kecilnya kearah Hikaru. Mio celingukan, dia lalu bertanya, “Inoo Senpai belum datang?”

            Yabu menoleh, dia lalu menjawab, “Sepertinya dia akan terlambat. Entahlah, aku belum meneleponnya hari ini.” Yabu menatap yang lain, dia berkata, “Terimakasih kalian sudah mau meluangkan waktu kalian. Ayo, sebentar lagi kuil akan selesai diperbaiki.”

            Yuya, Ryosuke, Ryutaro, dan Daiki mengambil peralatan pertukangan di dekat pohon. Hiroko dengan sigap mengambil palu dari tangan Daiki dan berkata, “Kau duduk saja. Aku yang akan membantu mereka.”

            “Hiroko…”

            “Kau masih sakit,” sela Hiroko, “duduk. Atau aku tidak mau lagi bicara kepadamu.”

            Tori menoleh, dia melangkah menjauhi kuil. “Tori kau mau kemana?” tanya Mio.

            Tori menoleh, dia memberi tanda kepada Mio agar tidak berisik. “Aku mau ke hutan sebentar,” kata Tori, “diamlah, Yuya Senpai bisa mengamuk kalau aku ke hutan sendirian.” Tori menatap Yuya, dia melesat masuk hutan. Tori masih penasaran dengan suara dan aura aneh yang dirasakannya tadi.

            Tori berhenti, dia mengerutkan dahinya. “Lha kenapa aku jadi penasaran,” gumamnya, “kembali saja deh.” Tori menghela napas, dia berbalik dan melangkah kembali ke kuil.

            “Grrrrrr.”

            Langkah Tori terhenti, dia diam seperti patung. Tori melirik, dia menerka-nerka suara apa yang baru saja dia dengar. Tori menunduk, dia perlahan berjongkok dan mengambil sebuah kayu yang terjatuh di tanah. Kayu itu dia lenturkan, lalu Tori mengambil sebuah benang karet dan mengaitkannya di dua ujung kayu menyerupai busur panah. Tori berbalik, dia menatap waspada ke sekeliling hutan.

            “Grrrrr.”

            Tori bernapas perlahan, dia melangkah hati-hati masuk ke hutan. Tori sesekali menoleh ke belakang, waspada kalau-kalau ada serangan yang tidak diinginkan. Tori terus berjalan, dia mencari ranting atau apa saja yang bisa dia gunakan sebagai anak panah.

            Eh?

            Tori bersembunyi di balik pohon. Dia mengerutkan dahi melihat Kei dari kejauhan. “Inoo Senpai sedang apa disana?” gumam Tori. Tori baru akan memanggil saat dia menyadari Kei tampak tegang. Kei mundur teratur, Tori menoleh dan terbelalak melihat ada sebuah monster melangkah maju kearah Kei. Monster itu bertubuh bungkuk, tapi ukurannya jelas lebih tinggi daripada Kei. Moncongnya seperti moncong buaya, tubuhnya berbulu lebat dan kedua tangannya hanya berjari tiga dengan kuku tebal dan tajam seperti gading gajah.

Mungkin sekali sabet akan menghancurkan tubuh Kei.

Tori menoleh kesana kemari, dia segera menyambar sebuah ranting yang cukup panjang dan membidikkannya kearah monster itu. Kei tidak melakukan apa-apa, dia jelas sangat ketakutan. “Aku akan melakukan apapun,” kata Tori, “apapun monster itu, dia harus dikalahkan.” Tori melepaskan ranting itu, melesat menancap di lengan monster itu.

Raungan monster itu menggema di hutan, memekakkan telinga Tori. “Senpai, lari!” teriak Tori, dia menghambur dan menarik tangan Kei yang terkejut dengan kehadiran Tori disana. Mereka berdua lari, dan monster itu mengejar meski masih tampak kesakitan. “Tori kau sedang apa disini?!” teriak Kei.

“Harusnya aku yang bertanya, Senpai!” balas Tori, “Senpai sedang apa disini?!”

Mereka bersembunyi dibalik sebuah pohon besar. Kei terbatuk, dan Tori tersengal karena berlari terlalu kencang. “Senpai, apa itu tadi?” tanya Tori sambil mengawasi keadaan.

“Monster,” jawab Kei, “segel Pandora sudah lepas. Ada yang melepaskan monster itu.”

Tori berdecak kesal. “Senpai, Pandora hanya dongeng!” sentaknya.

“Lalu kau pikir monster itu apa, hah?!” balas Kei.

Dua anak itu berteriak saat pohon tempat mereka bersembunyi terbelah dua. Tori dan Kei kembali berlari, Tori mengambil sebuah ranting dan kembali menembakkannya kearah monster itu. “Tidak akan bekerja, Tori!” sahut Kei, “kau pikir panah rantingmu mengandung racun?!”

“Tori! Kei! Lewat sini!”

Tori menoleh, dia menarik Kei dan berbelok kearah jalan setapak. Mereka terus berlari, Tori menjerit saat monster itu akan meraihnya. Kei menarik Tori, mereka keluar hutan tepat saat monster itu mengayunkan cakarnya.

Tori dan Kei terkejut melihat monster itu seperti terhalang kaca tak kasatmata. Monster itu meraung, dia berusaha keluar tapi seakan ada yang menahannya agar tidak keluar hutan.

“Itu tabir pelindung dari kuil. Monster itu tidak akan bisa menembusnya.”

Tori dan Kei menoleh, mereka mengerutkan dahi melihat seorang pria berdiri di dekat mereka. Pria itu tersenyum, dia menghampiri Tori dan Kei. “Kalian baik-baik saja?” tanya pria itu, “kuharap kalian tidak terluka.”

“Kami baik-baik saja,” Kei membungkuk sopan, “terimakasih sudah menolong kami.”

Pria itu tersenyum, dia membungkuk kecil. “Aku belum pernah melihatmu disini,” kata Tori, “kau siapa?”

“Tori!”

Semua menoleh, Tori seketika bersembunyi dibalik punggung pria itu melihat Yuya dan yang lain mendekat. “Paman, lindungi aku,” pinta Tori.

Yuya mendekat, dia menarik Tori keluar dari persembunyiannya dan menjitak kepala gadis itu. “Sudah kubilang jangan ke hutan sembarangan!” kata Yuya kesal, “kau itu senang sekali, sih, membuat orang khawatir?!”
 
Tori mendesis, dia membalas, “Tapi kalau aku tidak kesana Inoo Senpai akan mati!”

“Sudah, sudah,” kata Yabu, dia menatap pria itu dan tersenyum. “Terimakasih sudah mau menolong mereka.”

Pria itu mengangguk, dia berkata, “Jaga diri kalian. Ada banyak bahaya disini. Kalau kalian lengah, kalian bisa terkena masalah.” Pria itu berlalu begitu saja.

“Ada apa?” tanya Yuto, “apa yang terjadi?”

“Ada monster di hutan sana,” kata Kei, “dia muncul di sekitar batu besar itu.”

Ayaka dan Mio memekik seketika. “Jangan-jangan itu monster yang disegel Raja Pandora itu,” kata Ayaka, “segelnya terbuka dan mereka lepas. Lalu mereka akan meneror manusia dan tidak akan ada yang selamat karena Raja Pandora dan pengawalnya hilang!”

“Ck, berlebihan,” gerutu Tori, “itu cuma dongeng saja. Kenapa dianggap serius, sih?”

“Lalu bagaimana dengan monster tadi, Tori?” sahut Kei, “apa menurutmu mereka juga cuma dongeng?”

Tori akan menjawab, Yabu segera menyela dengan berkata, “Sudahlah. Yang penting tidak ada yang terluka. Sekarang ayo kita ke kuil. Kebetulan aku membawa banyak makanan.” Yabu mengajak yang lain kembali ke kuil. Yuya menggandeng tangan Tori dan menyeretnya ke kuil sambil mengomel tidak jelas.

Hikaru berhenti, dia menoleh kearah hutan. Hikaru diam cukup lama, entah apa yang dia pikirkan. Hikaru menghela napas, dia berlari menyusul yang lain.
***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar