Title : Pandora
Author : Veve
Genre : Fantasy, Comedy, Romance
Cast :
All Hey! Say! JUMP Members
Kawazoe Tori / OC
Ishihara Mio / OC
Watanabe Ayaka / OC
Fukushi Hiroko / OC
Other casts will revealed
Length : Chapter
*
Chapter
3
Mio
terbangun saat ponselnya berdering. “Siapa, sih, menelepon sepagi ini?” erang
Mio, dia mengambil ponselnya dan melihat nama siapa yang muncul di layar.
‘Chicken’.
Mio
membuka mata, dia bangun dan menjawab panggilan yang masuk. “Ya, halo, Yamada?”
kata Mio. Astaga, ada angin apa Ryosuke menelepon sepagi ini?
‘Kau
sudah bangun belum?’ tanya Ryosuke.
Mio
memutar bolamatanya. “Ya kalau aku belum bangun siapa yang sekarang sedang
bicara, hah?” kata Mio, “baka.”
Terdengar
suara Ryosuke terkekeh. ‘Jalan-jalan, yuk,’ katanya, ‘aku traktir eskrim, deh.
Ayo.’
Mio
menghela napas. “Satu jam lagi di taman,” kata Mio, “tunggu aku disana, oke?”
‘Oke.’
Sambungan telepon terputus. Mio memekik senang, dia beranjak dan segera menuju
kamar mandi. Persetan dengan kamarnya yang berantakan, dia akan membereskannya
nanti.
*
“Tori!
Tori, astaga ayo bangun! TORI!”
Tori
membuka mata, dia menyibakkan selimut dan memicing kesal kearah pintu kamarnya
yang bergetar. “Kalau aku tidak ingat siapa dia, aku sudah melemparkannya ke
luar angkasa,” gerutu Tori. Dia beranjak dan melangkah menuju pintu lalu
membukanya.
Pletak!
“Aduh!”
Tori memekik, dia memegangi dahinya yang terkena jitakan Yuya. “Senpai ini
apa-apaan, sih?!” katanya kesal, “ini masih pagi, dan ini hari Minggu!”
“Peduli
setan dengan itu semua,” kata Yuya, “cepat ganti baju, kita akan lari pagi.”
“Apa?
Aku tidak mau,” kata Tori, dia akan menutup pintu kamar saat Yuya menahan pintu
dengan kakinya dan berkata, “Kau pilih, ikut aku lari pagi atau membantu ibuku
memasak.”
Ming.
“Sepuluh
menit,” Tori menutup pintu dan segera berganti pakaian. “Dasar Bakaki,”
gerutunya sambil berganti pakaian, “aaaah, kenapa aku harus menyukai orang
seperti dia? Dan kenapa dia yang akan menjadi kakak tiriku? Dia akan jadi
manusia bertanduk iblis nanti.”
“TORI!”
“BERISIK!
TERIAK SEKALI LAGI KUHAJAR KAU!”
*
“Aaaa.”
“Aaaam.”
Ayaka
terkikik, Ryutaro tersenyum dan menyuapi Ayaka kembang gula. Ayaka juga
menyuapi Ryutaro kembang gula, mereka duduk berdua dibawah pohon bunga sakura.
Mesra
sekali, bukan?
“Oh
iya, nanti kita ke kuil lagi, yuk,” ajak Ayaka, “tinggal sedikit lagi dan kuil
Yabu akan selesai. Kau akan membantu, kan?”
“Tentu
saja,” kata Ryutaro, “apalagi ada kau juga disana, aku jelas akan ikut.”
Ryutaro menatap Ayaka dan berkata, “Kan, dimana ada Ayaka disitu ada Ryutaro.”
Ayaka
tergelak, dan Ryutaro tersenyum saja melihat tawa Ayaka. Ryutaro tiba-tiba
berhenti tersenyum, dia lalu menoleh kebelakang. Ryutaro mengerutkan dahi, dia
celingukan memperhatikan keadaan di belakangnya.
“Ada
apa?” tanya Ayaka, dia mengerutkan dahi melihat tingkah aneh Ryutaro.
“Sepertinya
ada yang mengawasi kita,” kata Ryutaro, dia masih celingukan. Ayaka sendiri
jadi ikut-ikutan celingukan, walaupun dia tidak tahu apa yang dicari Ryutaro.
Ryutaro
beranjak, dia menggandeng tangan Ayaka dan mengajak gadis itu untuk pergi. “Aku
merasa tidak tenang, Ayaka-Chan,” kata Ryutaro, “kita pergi saja, yuk. Ah, kita
ke kuil saja, disana sudah jelas aman.”
*
Hiroko
menatap Daiki, dia khawatir melihat wajah Daiki yang pucat. “Kau itu masih
sakit, Dai-Chan,” kata Hiroko, “kenapa memaksakan diri lari pagi, hah? Ayo kita
pulang saja.”
Daiki
dengan sigap menahan Hiroko. “Aku baik-baik saja,” kata Daiki, “aku, kan, sudah
berjanji akan lari pagi bersamamu.”
“Tapi
kau masih sakit,” balas Hiroko, “kita bisa lari pagi lain kali, kan.”
Daiki
menegakkan tubuhnya, dia menghela napas dan menatap Hiroko dengan senyum cerah.
“Aku sudah sembuh,” katanya semangat, “tidak sakit lagi. Ayo lari pagi lagi.”
Hiroko
diam menatap Daiki yang tersenyum. Dia tidak tega melihat Daiki berpura-pura
sehat di depan Hiroko. Sikap Daiki ini kadang membuatnya terlihat seperti anak
kecil. “Baiklah,” kata Hiroko, “tapi kalau kau capek kau harus istirahat. Kalau
kau masih memaksakan diri, aku tidak mau bicara denganmu.”
“Siap,
Bos,” Daiki memberi sikap hormat kepada Hiroko. Hiroko tertawa melihat tingkah
Daiki, dia gemas dan mencubit pipi tembam Daiki. “Ayo,” ajak Hiroko.
“Senpai!
Kau itu kalau lari jangan cepat-cepat, dong!”
“Bukan
aku yang cepat, tapi kau yang lambat. Kura-kura saja masih lebih cepat daripada
kau.”
“Senpai!”
Hiroko
dan Daiki saling pandang dengan tatapan sweatdrop, mereka menghela napas dan
menoleh kearah turunan. Yuya tampak berlari kecil, di belakangnya ada Tori yang
tampak kelelahan menyusul Yuya. Melihat itu, seketika Daiki dan Hiroko menahan
tawa. “Tori itu malas olahraga malah diajak lari pagi,” kata Daiki, “lihat
wajahnya. Dia seperti menderita sekali.”
“Kalian
membicarakan siapa, hah?” sahut Tori, dia mengatur napasnya yang
terengah-engah. Yuya menoleh kearah Daiki dan Hiroko, lalu bertanya, “Kalian
lari pagi juga?”
“Iya,”
jawab Daiki, “aku bosan di rumah, makanya aku lari pagi.”
“Kau,
kan, masih sakit,” kata Tori, “kenapa memaksakan diri, sih?”
“Biar
cepat kurus,” jawab Daiki polos.
“Kau
itu sudah ditakdirkan jadi gemuk, jangan banyak tingkah,” sahut Tori.
“Lho,
kalian disini?”
Semua
menoleh, Hiroko dan Tori melambaikan tangan kepada Ryutaro dan Ayaka yang
bergandengan tangan mendekat kearah mereka. “Ini masih pagi, dan kalian sudah
berduaan,” kata Yuya, “dasar kalian ini.”
“Senpai
juga berduaan dengan Tori,” balas Ayaka, “Daiki dan Hiroko juga.”
“Kenapa
namaku disebut?” sahut Hiroko, “aku, kan, tidak mengatakan apa-apa.”
“Memangnya
kenapa kalau aku berduaan dengan Tori? Toh dia adikku,” kata Yuya sambil
menjulurkan lidahnya kepada Ayaka.
“Astaga,
apa ada arisan disini?”
Mio
dan Ryosuke muncul, mereka mendekati yang lain. “Kalian mau kemana?” tanya
Ryutaro.
“Tadinya
sih kami mau jalan-jalan di taman,” jawab Ryosuke, “tapi kita kan masih ada
tugas memperbaiki kuil. Makanya aku dan Mio mau kesana sekarang.”
“Baiklah,
kalau begitu kita kesana saja sekarang,” kata Yuya, “ayo.” Yuya berjalan lebih
dulu, diikuti Tori dan yang lain. Mereka berjalan sambil sesekali bercanda,
sasaran utamanya tentu saja Ayaka dan Ryutaro. “Kalian itu terlalu mengumbar
kemesraan,” komentar Mio, “kalau ada kalian, rasanya seluruh dunia ini berubah
warna jadi pink.”
“Dan
ada hati bertebaran dimana-mana,” sambung Ryosuke, mereka semua lalu tertawa.
“Biarkan
saja,” kata Ryutaro, “daripada kalian, dibilang pacaran tidak mesra sama
sekali. Tapi dibilang berteman biasa kalian itu seperti orang pacaran. Tidak
jelas.”
Tori
hanya menghela napas, dia melirik sekilas kearah hutan. Tori berhenti, dia lalu
berbalik menatap jalan setapak yang mengarah ke hutan. Tori mengerutkan dahi,
dia melangkah perlahan lalu berhenti tepat di tepi hutan. Tori menatap kearah
kabut yang sedikit menyembul diantara dedaunan, dia membatin, ‘Sepertinya aku
merasa ada yang aneh disana.’
“Tori.”
Tori
menoleh, dia melihat Yuya berdiri di dekatnya. “Kau melihat apa?” tanya Yuya.
Tori
menunjuk kearah hutan. “Aku mendengar ada suara dari sana, Senpai,” kata Tori,
“mungkin binatang dari hutan turun kesini. Yah, semoga saja tidak menyerang
warga.”
Yuya
menatap kearah hutan, dia mengerutkan dahinya. “Ayo kita pergi saja,” kata
Yuya, “kau mungkin cuma salah dengar.” Yuya menyentuh pundak Tori dan
menggiringnya menjauhi hutan. Tori menoleh, dia yakin sekali ada yang bergerak
disana.
Delapan
anak itu sampai di kuil. Chinen, Yuto, Hikaru, dan Keito sudah ada disana. Yabu
menoleh, dia melangkah menyambut mereka yang baru datang. “Selamat pagi,”
sapanya, “wah, ada yang baru berolahraga ternyata. Bagus sekali.”
“Lho
Tori olahraga?” sahut Hikaru, “kukira dia masih asyik berkelana di alam mimpi.”
Hikaru terkekeh, dia berkelit saat Tori menyabetkan handuk kecilnya kearah
Hikaru. Mio celingukan, dia lalu bertanya, “Inoo Senpai belum datang?”
Yabu
menoleh, dia lalu menjawab, “Sepertinya dia akan terlambat. Entahlah, aku belum
meneleponnya hari ini.” Yabu menatap yang lain, dia berkata, “Terimakasih
kalian sudah mau meluangkan waktu kalian. Ayo, sebentar lagi kuil akan selesai
diperbaiki.”
Yuya,
Ryosuke, Ryutaro, dan Daiki mengambil peralatan pertukangan di dekat pohon.
Hiroko dengan sigap mengambil palu dari tangan Daiki dan berkata, “Kau duduk
saja. Aku yang akan membantu mereka.”
“Hiroko…”
“Kau
masih sakit,” sela Hiroko, “duduk. Atau aku tidak mau lagi bicara kepadamu.”
Tori
menoleh, dia melangkah menjauhi kuil. “Tori kau mau kemana?” tanya Mio.
Tori
menoleh, dia memberi tanda kepada Mio agar tidak berisik. “Aku mau ke hutan
sebentar,” kata Tori, “diamlah, Yuya Senpai bisa mengamuk kalau aku ke hutan
sendirian.” Tori menatap Yuya, dia melesat masuk hutan. Tori masih penasaran
dengan suara dan aura aneh yang dirasakannya tadi.
Tori
berhenti, dia mengerutkan dahinya. “Lha kenapa aku jadi penasaran,” gumamnya,
“kembali saja deh.” Tori menghela napas, dia berbalik dan melangkah kembali ke
kuil.
“Grrrrrr.”
Langkah
Tori terhenti, dia diam seperti patung. Tori melirik, dia menerka-nerka suara
apa yang baru saja dia dengar. Tori menunduk, dia perlahan berjongkok dan
mengambil sebuah kayu yang terjatuh di tanah. Kayu itu dia lenturkan, lalu Tori
mengambil sebuah benang karet dan mengaitkannya di dua ujung kayu menyerupai
busur panah. Tori berbalik, dia menatap waspada ke sekeliling hutan.
“Grrrrr.”
Tori
bernapas perlahan, dia melangkah hati-hati masuk ke hutan. Tori sesekali
menoleh ke belakang, waspada kalau-kalau ada serangan yang tidak diinginkan.
Tori terus berjalan, dia mencari ranting atau apa saja yang bisa dia gunakan
sebagai anak panah.
Eh?
Tori
bersembunyi di balik pohon. Dia mengerutkan dahi melihat Kei dari kejauhan.
“Inoo Senpai sedang apa disana?” gumam Tori. Tori baru akan memanggil saat dia
menyadari Kei tampak tegang. Kei mundur teratur, Tori menoleh dan terbelalak
melihat ada sebuah monster melangkah maju kearah Kei. Monster itu bertubuh
bungkuk, tapi ukurannya jelas lebih tinggi daripada Kei. Moncongnya seperti
moncong buaya, tubuhnya berbulu lebat dan kedua tangannya hanya berjari tiga
dengan kuku tebal dan tajam seperti gading gajah.
Mungkin sekali sabet
akan menghancurkan tubuh Kei.
Tori menoleh kesana
kemari, dia segera menyambar sebuah ranting yang cukup panjang dan
membidikkannya kearah monster itu. Kei tidak melakukan apa-apa, dia jelas
sangat ketakutan. “Aku akan melakukan apapun,” kata Tori, “apapun monster itu,
dia harus dikalahkan.” Tori melepaskan ranting itu, melesat menancap di lengan
monster itu.
Raungan monster itu
menggema di hutan, memekakkan telinga Tori. “Senpai, lari!” teriak Tori, dia
menghambur dan menarik tangan Kei yang terkejut dengan kehadiran Tori disana.
Mereka berdua lari, dan monster itu mengejar meski masih tampak kesakitan.
“Tori kau sedang apa disini?!” teriak Kei.
“Harusnya aku yang
bertanya, Senpai!” balas Tori, “Senpai sedang apa disini?!”
Mereka bersembunyi
dibalik sebuah pohon besar. Kei terbatuk, dan Tori tersengal karena berlari
terlalu kencang. “Senpai, apa itu tadi?” tanya Tori sambil mengawasi keadaan.
“Monster,” jawab Kei,
“segel Pandora sudah lepas. Ada yang melepaskan monster itu.”
Tori berdecak kesal.
“Senpai, Pandora hanya dongeng!” sentaknya.
“Lalu kau pikir monster
itu apa, hah?!” balas Kei.
Dua anak itu berteriak
saat pohon tempat mereka bersembunyi terbelah dua. Tori dan Kei kembali
berlari, Tori mengambil sebuah ranting dan kembali menembakkannya kearah
monster itu. “Tidak akan bekerja, Tori!” sahut Kei, “kau pikir panah rantingmu
mengandung racun?!”
“Tori! Kei! Lewat
sini!”
Tori menoleh, dia
menarik Kei dan berbelok kearah jalan setapak. Mereka terus berlari, Tori
menjerit saat monster itu akan meraihnya. Kei menarik Tori, mereka keluar hutan
tepat saat monster itu mengayunkan cakarnya.
Tori dan Kei terkejut
melihat monster itu seperti terhalang kaca tak kasatmata. Monster itu meraung,
dia berusaha keluar tapi seakan ada yang menahannya agar tidak keluar hutan.
“Itu tabir pelindung
dari kuil. Monster itu tidak akan bisa menembusnya.”
Tori dan Kei menoleh,
mereka mengerutkan dahi melihat seorang pria berdiri di dekat mereka. Pria itu
tersenyum, dia menghampiri Tori dan Kei. “Kalian baik-baik saja?” tanya pria
itu, “kuharap kalian tidak terluka.”
“Kami baik-baik saja,”
Kei membungkuk sopan, “terimakasih sudah menolong kami.”
Pria itu tersenyum, dia
membungkuk kecil. “Aku belum pernah melihatmu disini,” kata Tori, “kau siapa?”
“Tori!”
Semua menoleh, Tori
seketika bersembunyi dibalik punggung pria itu melihat Yuya dan yang lain
mendekat. “Paman, lindungi aku,” pinta Tori.
Yuya mendekat, dia
menarik Tori keluar dari persembunyiannya dan menjitak kepala gadis itu. “Sudah
kubilang jangan ke hutan sembarangan!” kata Yuya kesal, “kau itu senang sekali,
sih, membuat orang khawatir?!”
Tori mendesis, dia
membalas, “Tapi kalau aku tidak kesana Inoo Senpai akan mati!”
“Sudah, sudah,” kata
Yabu, dia menatap pria itu dan tersenyum. “Terimakasih sudah mau menolong
mereka.”
Pria itu mengangguk,
dia berkata, “Jaga diri kalian. Ada banyak bahaya disini. Kalau kalian lengah,
kalian bisa terkena masalah.” Pria itu berlalu begitu saja.
“Ada apa?” tanya Yuto, “apa
yang terjadi?”
“Ada monster di hutan
sana,” kata Kei, “dia muncul di sekitar batu besar itu.”
Ayaka dan Mio memekik
seketika. “Jangan-jangan itu monster yang disegel Raja Pandora itu,” kata
Ayaka, “segelnya terbuka dan mereka lepas. Lalu mereka akan meneror manusia dan
tidak akan ada yang selamat karena Raja Pandora dan pengawalnya hilang!”
“Ck, berlebihan,”
gerutu Tori, “itu cuma dongeng saja. Kenapa dianggap serius, sih?”
“Lalu bagaimana dengan
monster tadi, Tori?” sahut Kei, “apa menurutmu mereka juga cuma dongeng?”
Tori akan menjawab,
Yabu segera menyela dengan berkata, “Sudahlah. Yang penting tidak ada yang
terluka. Sekarang ayo kita ke kuil. Kebetulan aku membawa banyak makanan.” Yabu
mengajak yang lain kembali ke kuil. Yuya menggandeng tangan Tori dan
menyeretnya ke kuil sambil mengomel tidak jelas.
Hikaru berhenti, dia
menoleh kearah hutan. Hikaru diam cukup lama, entah apa yang dia pikirkan. Hikaru
menghela napas, dia berlari menyusul yang lain.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar