Title : Vampire's Tale
Author : Veve
Genre : Comedy, Fantasy, Drama
Fandom : Tokusatsu
Cast :
Gou Shijima
Chase
And Others
Length : Chapter
*
Daaaannnn ini chapter tigaaaaaaaaaa
*
sumber gambar : Twitter
*
Vampire's Tale 03
''Chase!''
Heart tersentak bangun, dia menatap panik sekeliling tenda dan menghela napas lega menyadari dia cuma mimpi. Heart mengusap keringat di dahinya, dia mendadak gelisah. Apa Chase, putranya baik-baik saja? Apa Medic menjaga Chase dengan baik?
''Yang Mulia?''
Heart menoleh, dia melihat Brain masuk tenda bersama beberapa pelayan. Brain menoleh, dia menatap pelayan-pelayan itu. ''Apa yang kalian lakukan? Cepat ambilkan minuman untuk Yang Mulia!'' perintah Brain tegas.
Pelayan-pelayan itu pergi keluar tenda. Brain langsung duduk di dekat Heart, dia mengusap keringat di dahi Heart dengan saputangannya. ''Kau baik-baik saja?'' tanya Brain, ''mimpi buruk lagi, hm?''
''Aku ingin pulang saja,'' kata Heart, ''aku takut terjadi apa-apa dengan Chase.''
''Kau bilang kau ingin mengajarinya menjadi raja,'' kata Brain, ''lagipula ada Putri Medic yang menjaganya. Kalau kau ingin dia menjadi raja yang hebat, kau harus bisa melepaskannya. Biarkan dia belajar mengurus pemerintahan. Toh ada Tomari-san dan Kiriko-san yang akan membantunya.''
''Tapi dia putraku, Brain,'' kata Heart, ''aku sudah mendengar soal serangan vampir. Bagaimana jika Chase diserang? Kau pikir vampir itu seperti manusia biasa?''
''Tidak akan ada vampir yang mau menghisap Chase,'' gumam Brain, ''mukanya saja sudah seperti mayat hidup.''
''Apa katamu?''
Brain terkejut, dia terkekeh dan berkata, ''Sudahlah. Kau tidur saja. Chase baik-baik saja, jangan khawatir.''
Heart mengangguk, dia akhirnya berbaring lagi dan memejamkan mata. Brain menyelimuti Heart, dia lalu melangkah keluar tenda. Langkah Brain sigap menuju luar perkemahan. Dia terus melangkah, mendekati seseorang berjubah di dekat pohon besar. ''Kau bisa, kan, melindungi Chase?'' tanya Brain, ''Takatora.''
Takatora berbalik, dia menatap Brain. ''Serahkan saja semua kepadaku,'' katanya, ''akan kujaga dia baik-baik. Tapi aku ingin bertanya sesuatu kepadamu.''
''Apa?'' tanya Brain.
''Agak konyol memang,'' kata Takatora, ''kau vampir, tapi bagaimana caramu bertahan diantara manusia? Kau tidak bertambah tua, apa tidak menimbulkan kecurigaan?''
Brain tersenyum. ''Saat mereka mulai curiga, aku akan pergi,'' kata Brain, ''tapi selama Heart masih membutuhkanku, aku akan tetap disisinya.''
Takatora mengangguk paham. ''Mengesankan,'' katanya, ''nah, bagaimana caraku bisa berada di dekat Pangeran Chase?''
''Tiga hari lagi kami akan kembali ke istana,'' kata Brain sambil berlalu, ''kurasa aku tidak perlu memberitahu apa yang harus kau lakukan.''
Takatora tersenyum saja melihat Brain yang berlalu meninggalkannya. Takatora mendongak, dia menatap seorang bocah laki-laki yang asyik duduk dengan kaki berayun di dahan pohon. ''Micchy,'' panggil Takatora, ''kau siap dengan tugasmu?''
Bocah yang dipanggil Micchy itu tersenyum, dia mengangguk, ''Selalu siap, Nii-san.''
***
''Pangeran Chase dan Putri Medic memasuki ruang sidang.''
Semua pejabat istana berdiri dan memberi salam kepada Chase dan Medic. Chase melangkah masuk ruang sidang kerajaan, dia lalu duduk di singgasana yang biasa diduduki Heart, ayahnya. Medic duduk mendampingi Chase di sisi kanan, dan di sisi kiri ada Shinnosuke. ''Ada masalah apa?'' tanya Chase.
''Pangeran,'' Kiriko memulai, ''mereka datang kemari untuk meminta perlindungan.'' Kiriko menggiring sebuah keluarga ke tengah-tengah ruang sidang.
Chase menatap datar keluarga itu. Seorang pria maju, dia berlutut dan berkata sambil menangis, ''Yang Mulia, beri kami perlindungan. Vampir-vampir itu menyerang desa kami, banyak warga yang mati. Beri kami perlindungan, Yang Mulia.''
Chase menatap Shinnosuke, dia berkata pelan, ''Kukira masalah itu sudah selesai.''
''Tidak semudah itu, Pangeran,'' kata Shinnosuke, ''mereka tidak seperti musuh kebanyakan.''
Chase menatap keluarga itu. Dia menatap anak-anak mereka yang masih kecil. Anak-anak itu tampak tidak mengerti dengan teror yang sedang menghantui keluarga mereka. Chase menghela napas, dia berkata, ''Kalian bisa tinggal di desa dekat istana, di sebelah timur. Disana aman, kalian bisa memulai hidup kalian disana.''
Keluarga itu tampak lega, pasangan itu berlutut berterimakasih kepada Chase. Chase memberi kode kepada Kiriko, perempuan itu mengangguk dan menggiring keluarga itu keluar ruang sidang.
''Ada lagi?''
Akira, panglima perang kerajaan maju dan memberi salam kepada Chase. ''Pangeran, saya dan pasukan sudah mendatangi desa yang terkena serangan vampir,'' katanya melapor, ''tidak ada yang selamat disana. Bahkan seekor anjingpun tidak. Saya ingin memberi saran untuk memperketat keamanan di desa-desa lain dan di istana, karena perkiraan kelompok vampir itu akan menyerang istana.''
''Lakukan saja apa yang bisa menahan serangan itu,'' kata Chase, ''aku percaya kepadamu, Akira-san.'' Chase beranjak, seketika semua berdiri. Chase melangkah keluar ruang sidang bersama Medic sambil berkata, ''Sidang selesai. Tomari-san, aku ingin bicara kepadamu.''
Shinnosuke segera berjalan mengikuti Chase dan Medic. Chase melangkah menuju kamarnya, dia berbalik menatap Shinnosuke dan berkata, ''Ada yang ingin kukatakan. Tapi kuharap kalian tahu bagaimana cara menjaga rahasia.''
''Kau bisa mengandalkanku,'' kata Medic. ''Aku akan menjaganya,'' kata Shinnosuke.
Chase menghela napas. ''Sebenarnya sebelum serangan ini dimulai, ada seorang vampir yang masuk ke kamarku,'' kata Chase.
Shinnosuke dan Medic terbelalak. Medic segera mendekat dan memeriksa tubuh keponakannya itu dengan khawatir. ''Kenapa kau baru mengatakannya sekarang?!'' katanya panik, ''ini tidak bisa dibiarkan! Mereka harus ditemukan dan dihabisi!''
''Vampir itu tidak menyerangku, Kak,'' kata Chase.
''Tidak menyerang?'' Shinnosuke heran, ''benarkah?''
Chase mengangguk. ''Saat dia melihatku, tiba-tiba saja dia pergi menghindariku,'' katanya, ''aku tidak mengerti. Tapi kurasa dia bukan vampir yang jahat.''
''Tetap saja dia vampir,'' kata Medic, dia gelisah sekali. ''Tomari-san, kau perintahkan Akira-san memperketat keamanan di istana,'' kata Medic, ''kita harus memastikan tidak ada vampir yang masuk istana.''
Shinnosuke mengangguk, dia lalu melangkah keluar kamar Chase. ''Aku tidak akan memberitahu ayahmu,'' kata Medic, ''tapi kau harus bisa menjaga dirimu sendiri.'' Medic menyentuh pipi Chase, dia lalu melangkah keluar kamar Chase.
Chase menghela napas, dia melangkah dan membuka pintu balkonnya. Chase menatap kearah hutan, entah kenapa dia menantikan kehadiran vampir itu sekarang.
***
Gou melesat, dia lalu berhenti di dekat sebuah pohon. Gou melepas jubahnya, dia berdehem dan melangkah santai diantara kerumunan warga. Tidak santai, sih. Gou, kan, harus mati-matian menahan diri untuk tidak menghisap darah manusia. Berhubung sekarang Gou menyamar, mau tidak mau dia harus bersikap normal.
''Pengumuman! Semuanya, dengarkan pengumuman!''
Gou menoleh, dia melihat seorang berpakaian prajurit berdiri di atas balok kayu yang tinggi agar semua orang bisa melihatnya. ''Yang Mulia Pangeran Chase memerintahkan semua rakyat untuk berhati-hati,'' kata prajurit itu, ''serangan vampir semakin meluas sekarang. Keamanan akan diperketat, dan Yang Mulia meminta kerjasama kalian untuk mengamankan kerajaan. Jika kalian melihat ada yang mencurigakan, segera melapor.''
Keriuhan mulai terdengar. Beberapa orang berbisik-bisik, ada juga yang tampak gelisah. Gou mendengus, dia tersenyum kecil. 'Pangeran bodoh,' batinnya, 'dia menyuruh rakyatnya waspada tapi dia sendiri tidak waspada. Dia tidak tahu kalau aku mengincarnya.' Gou melangkah menyelinap keluar dari kerumunan, dia berjalan santai. Selama dia tidak melakukan hal aneh, sepertinya tidak akan ada yang curiga.
''Hei, kau.''
Gou menoleh, dia melihat dua prajurit yang mendekat kearahnya. ''Siapa kau?'' tanya seorang prajurit, ''kau bukan warga disini, kan?''
''Ah, aku baru saja datang dari kerajaan tetangga,'' jawab Gou tersenyum.
''Mana surat ijin masuknya?'' tanya prajurit itu.
Senyum Gou langsung lenyap. Dia menatap tajam dua prajurit itu. Salah Gou juga, dia tidak membawa surat ijin masuk. Eh tapi dia, kan, vampir. Untuk apa dia memakai surat ijin masuk kerajaan?
''Mana?''
Gou akan menjawab saat dia melihat sebuah kereta kuda mendekat. Dua prajurit itu berbalik dan membungkuk memberi hormat. Pintu kereta kuda terbuka, Gou agak kaget melihat pangeran bernama Chase itu muncul. Chase menatap Gou dengan wajah datarnya, dia lalu menatap dua prajurit itu dan bertanya, ''Ada apa ini?''
''Pangeran, anak ini tidak memiliki surat ijin masuk kerajaan,'' ucap seorang prajurit sambil menunjuk Gou, ''kami menanyainya tapi dia tidak memberikan jawaban yang pasti.''
Chase menatap Gou. Cukup lama dia diam, lalu Chase berkata, ''Dia datang dari desa sebelah selatan, jadi tidak perlu surat ijin. Aku yang menyuruhnya kemari untuk bekerja di istana.'' Chase mendekat kepada Gou, dia berkata, ''Ikutlah. Aku menunggumu sejak kemarin.''
Gou agak heran, tapi dia menurut dan mengikuti Chase masuk kereta kuda. Kereta kuda mulai bergerak menjauh, meninggalkan dua prajurit itu. Dua prajurit itu saling pandang, lalu seorang bertanya, ''Jadi dia itu dari kerajaan tetangga atau dari desa sebelah selatan?''
Gou menatap Chase, dia mengepalkan tangannya kuat-kuat menahan diri agar tidak lepas kendali. ''Kau tidak perlu menolongku,'' kata Gou kaku, ''aku bisa mengatasi masalah sendiri.''
''Dan kau akan dipenjara karena tidak membawa surat ijin masuk,'' kata Chase datar, ''kau seharusnya mengucapkan terimakasih.''
Gou menggeram, dia mencengkeram kuat kerah baju Chase. ''Beraninya kau mengajariku,'' geram Gou, ''usiaku ratusan tahun lebih tua daripada kau!''
''Kalau begitu kau harusnya tahu cara berterimakasih yang benar,'' kata Chase datar. Dia menatap Gou tanpa rasa takut sedikitpun.
Gou terhenyak, dia perlahan melepaskan cengkeraman tangannya dari Chase dan kembali duduk. Chase menatap keluar jendela, dia berkata, ''Segala sesuatu memerlukan timbal balik.''
''Hah?''
''Karena aku menolongmu, maka kau harus melakukan sesuatu untukku,'' kata Chase.
Gou memutar bolamatanya, dia memasang wajah dasar-manusia-apa-apa-minta-imbalan. ''Apa untungnya membantumu, hah?'' kata Gou, ''aku tidak mendapat apa-apa dengan membantumu.''
''Kau juga akan dapat imbalan kalau membantuku,'' kata Chase.
''Apa?''
Chase mengeluarkan sebuah belati dari balik kursinya, dia melukai tangannya dan menunjukkan telapak tangannya yang berdarah ke muka Gou. Seketika Gou tegang, dia berusaha keras tidak tergoda dengan darah Chase. Kepala Gou mendadak pening mencium aroma manis yang menguar masuk ke hidungnya. ''Kalau kau membantuku, kau boleh melakukan misimu semula,'' kata Chase, ''kau boleh membunuhku.''
***
''Chase!''
Heart tersentak bangun, dia menatap panik sekeliling tenda dan menghela napas lega menyadari dia cuma mimpi. Heart mengusap keringat di dahinya, dia mendadak gelisah. Apa Chase, putranya baik-baik saja? Apa Medic menjaga Chase dengan baik?
''Yang Mulia?''
Heart menoleh, dia melihat Brain masuk tenda bersama beberapa pelayan. Brain menoleh, dia menatap pelayan-pelayan itu. ''Apa yang kalian lakukan? Cepat ambilkan minuman untuk Yang Mulia!'' perintah Brain tegas.
Pelayan-pelayan itu pergi keluar tenda. Brain langsung duduk di dekat Heart, dia mengusap keringat di dahi Heart dengan saputangannya. ''Kau baik-baik saja?'' tanya Brain, ''mimpi buruk lagi, hm?''
''Aku ingin pulang saja,'' kata Heart, ''aku takut terjadi apa-apa dengan Chase.''
''Kau bilang kau ingin mengajarinya menjadi raja,'' kata Brain, ''lagipula ada Putri Medic yang menjaganya. Kalau kau ingin dia menjadi raja yang hebat, kau harus bisa melepaskannya. Biarkan dia belajar mengurus pemerintahan. Toh ada Tomari-san dan Kiriko-san yang akan membantunya.''
''Tapi dia putraku, Brain,'' kata Heart, ''aku sudah mendengar soal serangan vampir. Bagaimana jika Chase diserang? Kau pikir vampir itu seperti manusia biasa?''
''Tidak akan ada vampir yang mau menghisap Chase,'' gumam Brain, ''mukanya saja sudah seperti mayat hidup.''
''Apa katamu?''
Brain terkejut, dia terkekeh dan berkata, ''Sudahlah. Kau tidur saja. Chase baik-baik saja, jangan khawatir.''
Heart mengangguk, dia akhirnya berbaring lagi dan memejamkan mata. Brain menyelimuti Heart, dia lalu melangkah keluar tenda. Langkah Brain sigap menuju luar perkemahan. Dia terus melangkah, mendekati seseorang berjubah di dekat pohon besar. ''Kau bisa, kan, melindungi Chase?'' tanya Brain, ''Takatora.''
Takatora berbalik, dia menatap Brain. ''Serahkan saja semua kepadaku,'' katanya, ''akan kujaga dia baik-baik. Tapi aku ingin bertanya sesuatu kepadamu.''
''Apa?'' tanya Brain.
''Agak konyol memang,'' kata Takatora, ''kau vampir, tapi bagaimana caramu bertahan diantara manusia? Kau tidak bertambah tua, apa tidak menimbulkan kecurigaan?''
Brain tersenyum. ''Saat mereka mulai curiga, aku akan pergi,'' kata Brain, ''tapi selama Heart masih membutuhkanku, aku akan tetap disisinya.''
Takatora mengangguk paham. ''Mengesankan,'' katanya, ''nah, bagaimana caraku bisa berada di dekat Pangeran Chase?''
''Tiga hari lagi kami akan kembali ke istana,'' kata Brain sambil berlalu, ''kurasa aku tidak perlu memberitahu apa yang harus kau lakukan.''
Takatora tersenyum saja melihat Brain yang berlalu meninggalkannya. Takatora mendongak, dia menatap seorang bocah laki-laki yang asyik duduk dengan kaki berayun di dahan pohon. ''Micchy,'' panggil Takatora, ''kau siap dengan tugasmu?''
Bocah yang dipanggil Micchy itu tersenyum, dia mengangguk, ''Selalu siap, Nii-san.''
***
''Pangeran Chase dan Putri Medic memasuki ruang sidang.''
Semua pejabat istana berdiri dan memberi salam kepada Chase dan Medic. Chase melangkah masuk ruang sidang kerajaan, dia lalu duduk di singgasana yang biasa diduduki Heart, ayahnya. Medic duduk mendampingi Chase di sisi kanan, dan di sisi kiri ada Shinnosuke. ''Ada masalah apa?'' tanya Chase.
''Pangeran,'' Kiriko memulai, ''mereka datang kemari untuk meminta perlindungan.'' Kiriko menggiring sebuah keluarga ke tengah-tengah ruang sidang.
Chase menatap datar keluarga itu. Seorang pria maju, dia berlutut dan berkata sambil menangis, ''Yang Mulia, beri kami perlindungan. Vampir-vampir itu menyerang desa kami, banyak warga yang mati. Beri kami perlindungan, Yang Mulia.''
Chase menatap Shinnosuke, dia berkata pelan, ''Kukira masalah itu sudah selesai.''
''Tidak semudah itu, Pangeran,'' kata Shinnosuke, ''mereka tidak seperti musuh kebanyakan.''
Chase menatap keluarga itu. Dia menatap anak-anak mereka yang masih kecil. Anak-anak itu tampak tidak mengerti dengan teror yang sedang menghantui keluarga mereka. Chase menghela napas, dia berkata, ''Kalian bisa tinggal di desa dekat istana, di sebelah timur. Disana aman, kalian bisa memulai hidup kalian disana.''
Keluarga itu tampak lega, pasangan itu berlutut berterimakasih kepada Chase. Chase memberi kode kepada Kiriko, perempuan itu mengangguk dan menggiring keluarga itu keluar ruang sidang.
''Ada lagi?''
Akira, panglima perang kerajaan maju dan memberi salam kepada Chase. ''Pangeran, saya dan pasukan sudah mendatangi desa yang terkena serangan vampir,'' katanya melapor, ''tidak ada yang selamat disana. Bahkan seekor anjingpun tidak. Saya ingin memberi saran untuk memperketat keamanan di desa-desa lain dan di istana, karena perkiraan kelompok vampir itu akan menyerang istana.''
''Lakukan saja apa yang bisa menahan serangan itu,'' kata Chase, ''aku percaya kepadamu, Akira-san.'' Chase beranjak, seketika semua berdiri. Chase melangkah keluar ruang sidang bersama Medic sambil berkata, ''Sidang selesai. Tomari-san, aku ingin bicara kepadamu.''
Shinnosuke segera berjalan mengikuti Chase dan Medic. Chase melangkah menuju kamarnya, dia berbalik menatap Shinnosuke dan berkata, ''Ada yang ingin kukatakan. Tapi kuharap kalian tahu bagaimana cara menjaga rahasia.''
''Kau bisa mengandalkanku,'' kata Medic. ''Aku akan menjaganya,'' kata Shinnosuke.
Chase menghela napas. ''Sebenarnya sebelum serangan ini dimulai, ada seorang vampir yang masuk ke kamarku,'' kata Chase.
Shinnosuke dan Medic terbelalak. Medic segera mendekat dan memeriksa tubuh keponakannya itu dengan khawatir. ''Kenapa kau baru mengatakannya sekarang?!'' katanya panik, ''ini tidak bisa dibiarkan! Mereka harus ditemukan dan dihabisi!''
''Vampir itu tidak menyerangku, Kak,'' kata Chase.
''Tidak menyerang?'' Shinnosuke heran, ''benarkah?''
Chase mengangguk. ''Saat dia melihatku, tiba-tiba saja dia pergi menghindariku,'' katanya, ''aku tidak mengerti. Tapi kurasa dia bukan vampir yang jahat.''
''Tetap saja dia vampir,'' kata Medic, dia gelisah sekali. ''Tomari-san, kau perintahkan Akira-san memperketat keamanan di istana,'' kata Medic, ''kita harus memastikan tidak ada vampir yang masuk istana.''
Shinnosuke mengangguk, dia lalu melangkah keluar kamar Chase. ''Aku tidak akan memberitahu ayahmu,'' kata Medic, ''tapi kau harus bisa menjaga dirimu sendiri.'' Medic menyentuh pipi Chase, dia lalu melangkah keluar kamar Chase.
Chase menghela napas, dia melangkah dan membuka pintu balkonnya. Chase menatap kearah hutan, entah kenapa dia menantikan kehadiran vampir itu sekarang.
***
Gou melesat, dia lalu berhenti di dekat sebuah pohon. Gou melepas jubahnya, dia berdehem dan melangkah santai diantara kerumunan warga. Tidak santai, sih. Gou, kan, harus mati-matian menahan diri untuk tidak menghisap darah manusia. Berhubung sekarang Gou menyamar, mau tidak mau dia harus bersikap normal.
''Pengumuman! Semuanya, dengarkan pengumuman!''
Gou menoleh, dia melihat seorang berpakaian prajurit berdiri di atas balok kayu yang tinggi agar semua orang bisa melihatnya. ''Yang Mulia Pangeran Chase memerintahkan semua rakyat untuk berhati-hati,'' kata prajurit itu, ''serangan vampir semakin meluas sekarang. Keamanan akan diperketat, dan Yang Mulia meminta kerjasama kalian untuk mengamankan kerajaan. Jika kalian melihat ada yang mencurigakan, segera melapor.''
Keriuhan mulai terdengar. Beberapa orang berbisik-bisik, ada juga yang tampak gelisah. Gou mendengus, dia tersenyum kecil. 'Pangeran bodoh,' batinnya, 'dia menyuruh rakyatnya waspada tapi dia sendiri tidak waspada. Dia tidak tahu kalau aku mengincarnya.' Gou melangkah menyelinap keluar dari kerumunan, dia berjalan santai. Selama dia tidak melakukan hal aneh, sepertinya tidak akan ada yang curiga.
''Hei, kau.''
Gou menoleh, dia melihat dua prajurit yang mendekat kearahnya. ''Siapa kau?'' tanya seorang prajurit, ''kau bukan warga disini, kan?''
''Ah, aku baru saja datang dari kerajaan tetangga,'' jawab Gou tersenyum.
''Mana surat ijin masuknya?'' tanya prajurit itu.
Senyum Gou langsung lenyap. Dia menatap tajam dua prajurit itu. Salah Gou juga, dia tidak membawa surat ijin masuk. Eh tapi dia, kan, vampir. Untuk apa dia memakai surat ijin masuk kerajaan?
''Mana?''
Gou akan menjawab saat dia melihat sebuah kereta kuda mendekat. Dua prajurit itu berbalik dan membungkuk memberi hormat. Pintu kereta kuda terbuka, Gou agak kaget melihat pangeran bernama Chase itu muncul. Chase menatap Gou dengan wajah datarnya, dia lalu menatap dua prajurit itu dan bertanya, ''Ada apa ini?''
''Pangeran, anak ini tidak memiliki surat ijin masuk kerajaan,'' ucap seorang prajurit sambil menunjuk Gou, ''kami menanyainya tapi dia tidak memberikan jawaban yang pasti.''
Chase menatap Gou. Cukup lama dia diam, lalu Chase berkata, ''Dia datang dari desa sebelah selatan, jadi tidak perlu surat ijin. Aku yang menyuruhnya kemari untuk bekerja di istana.'' Chase mendekat kepada Gou, dia berkata, ''Ikutlah. Aku menunggumu sejak kemarin.''
Gou agak heran, tapi dia menurut dan mengikuti Chase masuk kereta kuda. Kereta kuda mulai bergerak menjauh, meninggalkan dua prajurit itu. Dua prajurit itu saling pandang, lalu seorang bertanya, ''Jadi dia itu dari kerajaan tetangga atau dari desa sebelah selatan?''
Gou menatap Chase, dia mengepalkan tangannya kuat-kuat menahan diri agar tidak lepas kendali. ''Kau tidak perlu menolongku,'' kata Gou kaku, ''aku bisa mengatasi masalah sendiri.''
''Dan kau akan dipenjara karena tidak membawa surat ijin masuk,'' kata Chase datar, ''kau seharusnya mengucapkan terimakasih.''
Gou menggeram, dia mencengkeram kuat kerah baju Chase. ''Beraninya kau mengajariku,'' geram Gou, ''usiaku ratusan tahun lebih tua daripada kau!''
''Kalau begitu kau harusnya tahu cara berterimakasih yang benar,'' kata Chase datar. Dia menatap Gou tanpa rasa takut sedikitpun.
Gou terhenyak, dia perlahan melepaskan cengkeraman tangannya dari Chase dan kembali duduk. Chase menatap keluar jendela, dia berkata, ''Segala sesuatu memerlukan timbal balik.''
''Hah?''
''Karena aku menolongmu, maka kau harus melakukan sesuatu untukku,'' kata Chase.
Gou memutar bolamatanya, dia memasang wajah dasar-manusia-apa-apa-minta-imbalan. ''Apa untungnya membantumu, hah?'' kata Gou, ''aku tidak mendapat apa-apa dengan membantumu.''
''Kau juga akan dapat imbalan kalau membantuku,'' kata Chase.
''Apa?''
Chase mengeluarkan sebuah belati dari balik kursinya, dia melukai tangannya dan menunjukkan telapak tangannya yang berdarah ke muka Gou. Seketika Gou tegang, dia berusaha keras tidak tergoda dengan darah Chase. Kepala Gou mendadak pening mencium aroma manis yang menguar masuk ke hidungnya. ''Kalau kau membantuku, kau boleh melakukan misimu semula,'' kata Chase, ''kau boleh membunuhku.''
***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar