Jumat, 29 April 2016

The School Lesson 05-B

Title : The School
Author : Veve
Genre : School, Drama
Cast :
BTS All Members
Han Jiyoo (OC)
Park Sena (OC)
Red Velvet All Members (start from Lesson 02)
And others
Length : Chapter
*
FF ini terinfluence oleh drama Jepang Shiritsu Bakaleya Koukou dan Gokusen
Mohon maaf kalo ada banyak typo
Jangan bash saya dengan pairing di FF ini :v
 Dan jangan diplagiat..... Kasihani saya *ngek
Enjoy!!!
*

Lesson 5


''Ya ampun, itu salah. Kau jangan kaku begitu, dong.''

''Bukannya tadi kau bilang tubuh kita harus agak kaku?''

''Hhh. Tapi tidak sekaku itu. Kau manusia atau batang pohon hah?''

Hoseok mendengus kesal. Sulit sekali mengajari para siswi, tubuh mereka kaku seperti batang pohon cemara. Hoseok berusaha untuk sabar, dia kembali mengajari para gadis.

Jiyoo dan Sena mengamati dari kejauhan. Jungkook menoleh, dia buru-buru mendekat dan memprotes, ''Ya, kalian kenapa tidak latihan, hah? Curang sekali kalian. Menyuruh kami latihan tapi kalian sendiri tidak latihan.''

''Kami bertugas mengawasi jalannya persiapan, Jungkook-ssi,'' kata Jiyoo, ''aku dan Sena-ssi adalah panitia perayaan. Panitia perayaan tidak boleh ikut tampil dalam perayaan.''

''Kenapa aku tidak dipilih menjadi panitia juga?'' Jungkook protes, ''aku, kan, wakil ketua Dewan Murid. Sena hanya ketua kelas, tapi dia malah jadi panitia.''

''Kau masih pemula, jadi kau belum berpengalaman menjadi panitia,'' sahut Sena.

Jungkook merengut mendengar ucapan menohok Sena untuk kedua kalinya. ''Aku membencimu,'' gerutu Jungkook. Dia berbalik dan ikut berlatih tari bersama Hoseok dan yang lain. Jiyoo menghela napas, dia menatap Sena dan berkata, ''Sena-ssi, aku akan mengecek kelas lain. Tolong kau awasi mereka, ne?'' Jiyoo tersenyum dan melangkah keluar kelas. Sena menghela napas, dia duduk di lantai dan mengamati teman-temannya berlatih tari.


*

''Haaaaah, neomu jollyeo,'' Jimin mengerang, ''aku jadi lapar. Makan apa kita? Ramyun?''

''Sushi,'' sahut Taehyung sambil menerawang, ''ya, ayo kita ke restoran sushi di dekat game center. Pelayan disana cantik sekali.''

''Ayo!'' sahut Jimin semangat, ''aku mau berkenalan dengannya!''

Tim Bangtan sibuk berceloteh sendiri soal pelayan cantik yang dibicarakan Taehyung. Jungkook berjalan pelan, dia memijit pelan tengkuknya yang terasa lelah. Ini pertama kalinya Jungkook ambil bagian dalam perayaan sekolah. Padahal sebelumnya Jungkook sama sekali tidak mau terlibat dalam acara sekolah, datang saja kalau moodnya sedang baik. Tapi Jungkook merasakan keseruan menyiapkan perayaan seperti ini, ditambah dia akan tampil dalam pertunjukan mewakili kelasnya. Dia bertekad akan menunjukkan kepada semua orang kalau dia adalah ketua Tim Bangtan yang berbakat dan pintar.

''Ya! Kalian!''

Tim Bangtan menoleh. ''Astaga, mereka lagi,'' gerutu Jin kesal melihat geng yang tadi mengacau di sekolah mereka, ''kami tidak ada urusan dengan kalian.''

''Urusan kita belum selesai,'' sahut si ketua geng dengan angkuh, ''aku tidak sabar ingin mengalahkan kalian.''

Yoongi akan maju, tapi Hoseok menahannya. ''Meja,'' bisik Hoseok dengan wajah horor, membuat Yoongi merinding dan mundur. ''Mian, kami benar-benar tidak ingin meladeni kalian,'' kata Jungkook malas, ''ayo semua. Kita pergi saja.'' Jungkook menggiring teman-temannya meninggalkan geng musuh yang melongo. ''Tumben mereka menolak tantangan kita, bos,'' sahut seorang bertubuh gendut. Ketua geng itu mengendikkan bahu, dia masih cengo menatap kepergian Tim Bangtan.

Wendy dan Seulgi keluar dari persembunyian mereka. Wendy mengeluarkan handy talkie, dia berkata, ''Aman. Roger.'' Dua gadis itu berjingkat mengikuti Tim Bangtan yang melangkah menyeberang jalan.

''Kenapa kau mencegahku menghajar orang sok itu, sih?'' gerutu Yoongi, ''tanganku sudah gatal mau memukul mereka.''

''Lihat ke belakang,'' gumam Namjoon, ''ada yang kurang kerjaan mengikuti kita. Entah siapa yang menyuruh, yang jelas salah satu dari dua nenek sihir itu.''

Yoongi dan yang lain serempak menoleh ke belakang. Yoongi mengerutkan dahi, dia lalu memutar bolamata saat melihat rok yang berkelebat dibelakang standing banner sebuah kafe. ''Payah,'' dengus Yoongi, ''penyamaran yang tidak sempurna.'' Yoongi menghela napas, dia seketika menyeringai dan berbisik, ''Aku ada ide.''

Yang lain menoleh menatap Yoongi yang menyeringai jahil. ''Dalam hitungan ketiga,'' katanya, ''hana....dul....set.... LARI!'' Yoongi melesat kabur, Taehyung yang kaget langsung berlari mengikuti Yoongi disusul yang lain. Wendy dan Seulgi terkejut, mereka segera berlari mengejar Tim Bangtan. ''Sena-ssi mengatakan mereka tidak boleh lolos!'' kata Seulgi, ''ayo, Wendy-ssi! Kita kejar mereka!''

Wendy dan Seulgi berlari, lalu berhenti di belokan dan mengatur napas sambil membungkuk. ''Bagaimana ini, Wendy-ssi?'' Seulgi berucap khawatir, ''Sena-ssi akan kecewa kalau kita tidak melaksanakan tugas dengan baik.'' ''Tapi mereka sudah melarikan diri,'' kata Wendy, ''kita pulang saja. Sena-ssi pasti akan mengerti. Toh kalau begini, nanti juga Tim Bangtan yang akan ditegur.''

''Kau benar,'' kata Seulgi, ''Sena-ssi pasti akan memarahi mereka.'' Dua gadis itu kemudian berlalu dari tempat itu.

Tim Bangtan melongok dari balik tumpukan sampah, mereka tertawa puas melihat Seulgi dan Wendy menyerah mengejar mereka. ''Tuan Putri seperti mereka tidak akan sanggup mengejar kita,'' kata Yoongi, ''memangnya kita ini tahanan kota, harus diawasi segala?'' ''Sudah kuduga Sena pasti yang menyuruh untuk mengawasi kita,'' gerutu Hoseok, ''dasar nenek sihir.''

''Mungkin dia mengira kita berkelahi diluar sekolah,'' sahut Taehyung.

Jungkook mendengus kesal. Nafsu makannya mendadak hilang melihat ulah para gadis. ''Sudahlah, ayo kita makan saja,'' kata Jin, ''dimana pelayan cantiknya? Aku mau merayunya.''


*

Jungkook berhenti, dia menoleh dan menatap horor kearah jalan di belakangnya. Jungkook mengelus tengkuknya, dia berbalik dan kembali berjalan. Jungkook akan berbelok saat dia melihat sekelompok siswa dari SMA Choseun bergerombol di dekat swalayan. Jungkook buru-buru pergi dari sana sebelum mereka melihatnya. Bukan karena takut, tapi masalahnya dia tidak mungkin berkelahi disaat seperti ini.

Irene dan Yeri muncul dari dalam toko aksesoris. Mereka menatap Jungkook yang melangkah cepat, lalu Irene mengeluarkan handy talkie dan berkata, ''Jungkook tidak berkelahi. Aman. Roger.''
^
Hoseok dan Jimin terkekeh-kekeh sambil membaca majalah yang baru saja dibeli Jimin. ''Waaa, yeppeuda,'' sahut Hoseok melihat model cantik yang memperagakan seragam di majalah itu, ''andai gadis ini bisa jadi pacarku.''

''Bermimpilah sampai ke surga,'' sahut Jimin. Mereka berbelok dan seketika berhenti saat berhadapan dengan segerombolan preman. ''Kalian!'' sahut seorang berambut mohawk, ''Bangtan! Aku belum selesai dengan kalian!''

Ming.

''Kalau bukan karena meja aku akan meladeni mereka,'' gumam Hoseok, dia segera menarik Jimin dan berlari sekencang mungkin darisana. ''Ya! Jangan lari kalian!'' si rambut mohawk dan kawanannya berlari mengejar, tapi kemudian dia berhenti lalu menatap heran Jimin dan Hoseok. ''Chamkamman,'' katanya, ''kenapa mereka lari? Biasanya mereka akan melawan kita.''

Seulgi mengintip, dia mengunyah apel lalu mengeluarkan handy talkie dan berkata, ''Hoseok dan Jimin aman. Roger.''
^
''Apa kubilang. Harganya mahal sekali,'' kata Namjoon sambil mengulum lolipop, ''kau harus menabung selama berbulan-bulan kalau mau membelinya.''

''Aku rela jalan kaki asal aku bisa membelinya,'' kata Yoongi, ''lihat saja. Aku pasti bisa membeli midi gear itu.''

Dua anak itu berjalan santai di trotoar. ''Ya, aku dapat nomor ponsel si cantik itu,'' sahut Namjoon sambil menyeringai menunjukkan ponselnya. Yoongi terbelalak, dia berkata, ''Kau curang! Tidak ada satupun dari kami yang mendapatkan nomor ponselnya!''

''Ck, kalian kurang pengalaman soal merayu perempuan,'' sahut Namjoon dengan gaya sok.

Mendengar itu, hidung Yoongi mengkerut dan pemuda itu menatap kesal Namjoon. ''Kenapa dia mau saja dirayu orang jelek sepertimu,'' gerutunya. Yoongi akan menyambar ponsel Namjoon, tapi Namjoon dengan sigap menjauhkan ponselnya dari jangkauan Yoongi. ''Aku tidak akan memberitahukan nomornya kepadamu,'' sahut Namjoon sambil menjulurkan lidahnya, dia tertawa dan berlari menjauh.

''Ya! Kim Namjoon jangan lari!'' teriak Yoongi, dia berlari mengejar Namjoon yang mentertawakannya. ''Jebal, beritahu aku nomornya! Aku janji tidak akan memberitahu siapapun!'' pekik Yoongi.

''Never!'' teriak Namjoon sambil tertawa.

''Ayolah!'' sahut Yoongi, ''aku janji tidak a.....''

Brak!

''Aw!'' Yoongi memekik, dia menatap marah dua orang laki-laki dan menyentak, ''Ya! Perhatikan jalanmu!''

''Kau anak kecil berani sekali bicara keras,'' gumam salah satu laki-laki sambil mencengkeram kerah seragam Yoongi, ''dimana sopan santunmu, hah?!''

Yoongi menggeram, dia akan menghajar laki-laki itu saat Namjoon tiba-tiba datang dan membungkuk. ''Jeosonghamnida, Ahjussi!'' sahutnya, ''maafkan kami. Kami akan berhati-hati.''

''Namjoon-ah! Kenapa kau malah minta maaf?!'' sahut Yoongi.

Namjoon mendesis dan menatap Yoongi. ''Meja,'' desisnya kesal.

Yoongi mengerjapkan mata. Dia berdecih pelan, dengan terpaksa membungkuk dan berkata, ''Mia.... Jeosonghamnida.''

Dua laki-laki itu menatap Namjoon dan Yoongi dengan angkuh. ''Lain kali perhatikan etika saat berbicara,'' katanya sambil melangkah pergi. Yoongi dan Namjoon berdiri, Yoongi menatap kesal dua orang itu dan menggerutu, ''Kalau bukan demi meja Bangtan sudah kuhabisi mereka.''

''Sudahlah,'' kata Namjoon, ''setelah kita mengembalikan meja kita ke kelas, kita tidak perlu lagi menuruti sekumpulan nenek sihir itu.'' Namjoon menarik Yoongi dan kembali berjalan menuju sekolah.

Wendy dan Joy menurunkan majalah yang mereka gunakan untuk menutupi wajah mereka. Joy mengambil handy talkie dan berkata, ''Yoongi dan Namjoon aman. Roger.'' Dua gadis itu beranjak dari kursi taman dan mengendap mengikuti dua anggota Bangtan itu.
^
Taehyung berhenti, dia seketika berbalik dan mendekap tubuhnya sendiri. ''Kau kenapa, Tae?'' tanya Jin.

''Aniya,'' jawab Taehyung, ''hanya saja.... Aku merasa seperti ada yang mengikuti kita. Atau mengikutiku. Semoga bukan arwah penasaran.''

Jin menatap sekeliling, dia menghela napas dan berkata, ''Itu hanya perasaanmu. Ayo cepat. Kita sudah terlambat.''

Dua anak itu berjalan menyusuri pertokoan. ''Aku bosan,'' dengus Taehyung, ''tidak berkelahi, tidak menerima tantangan dari SMA lawan, benar-benar membosankan.'' ''Hanya sebentar, Tae,'' sahut Jin, ''kalau kita sudah mendapatkan meja kita dan memakainya lagi, kita tidak perlu mendengarkan omongan mereka.''

Taehyung kembali mengerang, Jin hanya tersenyum melihat kelakuan bocah di sebelahnya ini. ''Tapi aku merasa hal ini menarik juga,'' kata Jin, ''aku tidak sabar menunjukkan kemampuan danceku kepada para gadis.''

Taehyung menatap remeh Jin, dia membalas, ''Tubuhmu itu kaku seperti tiang listrik. Aku yang akan jadi pusat perhatian.''

''We'll see,'' kata Jin.

Mereka berdua terkekeh, lalu kembali berjalan. Jin menatap ke depan, seketika dia berhenti saat melihat Yongguk dan Himchan, musuh bebuyutan Bangtan muncul dari arah berlawanan. ''Sial,'' gerutu Jin, ''kenapa kita harus bertemu dengan mereka sekarang?''

''Hm?'' Taehyung menoleh, raut wajahnya seketika berubah melihat Yongguk dan Himchan. Dua orang itu juga berubah tegang saat menatap Jin dan Taehyung. ''Oh, Bangtan rupanya,'' kata Himchan, ''kemana teman-teman kalian yang lain hah? Apa geng kalian sudah bubar?'' ''Atau mungkin mereka semua tewas saat berkelahi dan menyisakan kalian berdua,'' sahut Yongguk.

Taehyung akan maju, namun Jin menahannya. ''Mereka ada di sekolah,'' jawab Jin sambil berusaha menahan emosi, ''kami tidak berniat bertarung dengan kalian. Kami punya banyak urusan yang lebih penting daripada itu.''

''Ah, aku baru ingat kalau kalian sudah bergabung dengan SMA Seolyeong,'' sahut Himchan dengan memasang wajah sok terkejut, ''jadi apa kesibukan kalian sekarang? Merajut? Atau memasak?'' ''Mungkin kalian sedang diajari bagaimana cara mengganti popok bayi,'' ejek Yongguk, dia dan Himchan tertawa terbahak.

''Ah, kebetulan sekali bertemu kalian disini.''

Mereka semua menoleh serempak kearah sebuah toko. Sena keluar sambil membawa banyak barang, dia tampak kepayahan. Taehyung dengan sigap membantu Sena membawakan beberapa barang, dan Jin membantu membawakan kardus yang entah apa isinya. ''Omona, kalian sangat baik hati,'' puji Sena, ''aku padahal belum minta tolong. Baiklah, ayo kita kembali ke sekolah. Barang-barang ini akan digunakan untuk menghias aula dan panggung.'' Sena menatap Yongguk dan Himchan, dia tersenyum dan membungkuk sopan. ''Annyeonghasseo,'' sapanya ramah. Sena, Taehyung, dan Jin masuk ke van putih sekolah, mereka berlalu begitu saja dari hadapan Yongguk dan Himchan.

Yongguk menoleh, dia mengerutkan dahi menatap Himchan yang tampak serius menatap van SMA Seolyeong yang menjauh. ''Kau kenapa, Hime?'' tanya Yongguk.

''Aniya,'' jawab Himchan, ''tapi.... Sepertinya aku pernah bertemu dengan gadis itu sebelum ini.''

''Jinjja? Dimana?'' tanya Yongguk.

Himchan menghela napas. ''Molla, aku tidak ingat,'' katanya, ''sudahlah. Ayo.'' Himchan dan Yongguk kembali berjalan meninggalkan tempat itu.


*

Jiyoo masuk kelas, dia mengerutkan dahi menatap Tim Bangtan. ''Dimana Jin-ssi dan Taehyung-ssi?'' tanya Jiyoo, dia menoleh kearah para gadis, ''dan dimana Sena-ssi?''

''Sena-ssi mengambil beberapa properti untuk menghias panggung dan aula,'' jawab seorang siswi, ''tapi.... Aku tidak tahu dengan dua orang lain.'' ''Jin dan Taehyung masih di jalan,'' jawab Yoongi, ''tunggu saja.''

Jiyoo mengangguk. Dia menoleh saat mendengar pintu terbuka. Jiyoo menghela napas lega melihat Sena masuk bersama Jin dan Taehyung. ''Maaf kami terlambat, Jiyoo-ssi,'' sahut Sena sambil membungkuk memberi salam, ''aku, Jin-ssi, dan Taehyung-ssi harus meletakkan barang-barang di aula dulu.'' Sena tersenyum sambil menatap dua orang itu. ''Mereka sangat baik, mau membantuku tanpa diminta,'' puji Sena.

''Oh jelas saja,'' kata Jimin, ''kami ini jelmaan malaikat. Tidak seperti kalian, jelmaan nenek sihir.''

''Maaf, tapi yang kuanggap malaikat hanya Jin-ssi dan Taehyung-ssi. Bukan kau, Jimin-ssi,'' sahut Sena.

Jleb.

Namjoon dan Yoongi langsung menahan tawa, sementara Jimin menatap cengo Sena yang tersenyum. ''Yeorobun,'' kata Jiyoo, ''aku sangat senang kalian sangat antusias mempersiapkan perayaan ini. Aku harap kelas kita menampilkan yang terbaik.''

''Apa nanti kita akan jadi pemenang dan dapat hadiah?'' tanya Jungkook.

Jiyoo tersenyum. ''Tidak, Jungkook-ssi,'' kata Jiyoo menjawab, ''ini bukan perlombaan. Ini hanya perayaan biasa. Tidak ada kompetisi apa-apa.''

''Ah, tidak seru,'' gerutu Hoseok. Jiyoo tersenyum lalu berkata, ''Tapi kalau kalian tidak membuat masalah saat perayaan, aku akan memberi kalian hadiah.''

Jungkook langsung mendekati Jiyoo. ''Jinjja? Kau tidak bohong, kan?'' tanyanya antusias, ''apa hadiahnya? Makanan? Voucher main game?''

''Kau boleh memakai meja lamamu di kelas,'' jawab Jiyoo kalem.

Jungkook menatap sweatdrop Jiyoo yang tersenyum manis. ''Itu sih bukan hadiah, tapi perjanjian,'' kata Jungkook, ''ah tapi tidak apa-apa. Awas ya, kalau kau masih mencari-cari alasan agar kita tidak bisa memakai meja lama kita. Kuhajar kau.''

Jiyoo tersenyum dan mengangguk. ''Nah, mari latihan yang terakhir,'' kata Jiyoo, ''besok sudah hari perayaan. Aku dan Sena-ssi akan mengecek persiapan di kelas lain.'' Jiyoo memberi salam, dia dan Sena melangkah keluar kelas.

Hoseok berdiri dan berkata, ''Ayo latihan. Kita harus menunjukkan yang terbaik.'' Tim Bangtan bersorak, mereka mengambil posisi dan mulai menari sesuai iringan musik yang mengalun dari ponsel Namjoon.

''Sena-ssi, apa menurutmu mereka akan menampilkan yang terbaik dan tidak membuat masalah?'' tanya Jiyoo sambil melangkah pelan menyusuri koridor. Sena diam sejenak, dia menjawab, ''Kita doakan saja semoga mereka tidak membuat masalah.'' Sena menatap Jiyoo dan meneruskan, ''Tapi melihat usaha keras mereka menghindari perkelahian dengan geng manapun itu sudah menunjukkan kalau mereka tidak akan membuat masalah.''

Jiyoo tersenyum, dan Sena membalas senyumannya. ''Terimakasih sudah membantuku membujuk mereka,'' kata Jiyoo, ''walaupun kau menggunakan lidah tajammu, tapi aku senang dengan bantuanmu.''

Sena tersenyum menanggapi ucapan Jiyoo. Mereka kembali berjalan. Sena menoleh, dia mengerutkan dahi melihat para siswa berjalan mengendap-endap di sisi sekolah. Sena menghela napas dan menggumam, ''Aneh.''


*

Jungkook berputar untuk kesekian kalinya, dia menatap diri sendiri di cermin. Jungkook tersenyum menatap dirinya yang memakai pakaian hiphop yang keren. ''Aku memang keren dan tampan,'' pujinya kepada diri sendiri, ''daebak, Jungkook-ah. Daebak. Kau ketua geng tertampan di dunia.''

''Cuih.''

Jungkook menoleh dan menatap datar Jimin yang menatapnya jenaka. ''Aku lebih tampan,'' katanya sambil mematut diri di cermin, ''lihat saja, akan ada banyak gadis yang meneriakkan namaku nanti.''

''Ya, mereka akan berteriak, 'Jimin-ah, turun dari panggung sekarang!','' sahut Yoongi, dia dan Jungkook lalu tertawa keras sementara Jimin hanya menatap kesal keduanya.

Semua murid yang tampil sibuk merias diri. Para siswi berdandan menata rambut mereka, sementara Tim Bangtan malah sibuk berlatih diantara keriuhan kelas. Hoseok serius melatih gerakan, diikuti Jin dan Taehyung di belakangnya. Jiyoo masuk kelas, dia tersenyum melihat Tim Bangtan sudah ada disana. Jiyoo menoleh, dia menatap Sena yang mengetik sesuatu di ponsel dan berkata, ''Sena-ssi, kurasa kita harus memindahkan sebagian bangku ke gudang. Meja lama para siswa akan dipindahkan.''

''Hm?'' Sena menoleh, ''ah, arraseo. Aku akan menghubungi pekerja sekolah untuk melakukannya nanti.'' Sena melangkah dan berkata, ''Yeorobun, mari kita melakukan yang terbaik. Aku yakin latihan ini akan menghasilkan penampilan yang spektakuler. Ganbatte kudasai!'' Ucapan Sena disambut sorakan para siswa dan tepuk tangan serta senyuman para siswi.

''Ya! Ada masalah!''

Semua menoleh kearah pintu kelas. Gongchan dan Jinyoung masuk dengan napas tersengal, Gongchan lalu berteriak, ''Papan nama SMA Narin dan meja kita hilang!''

''MWO?!'' Tim Bangtan memekik kaget. Jiyoo dan yang lain terbelalak mendengar ucapan Gongchan, Jiyoo segera menatap khawatir Sena dan memberi tatapan pasti-akan-ada-masalah-sebentar-lagi. Sena mendekat dan bertanya, ''Kalian sudah mencarinya?''

''Ada surat tantangan,'' Jinyoung merogoh saku dan mengeluarkan selembar kertas, ''mereka yang mengambil papan nama dan meja kita. Geng yang waktu itu mengacau di sekolah kita. Kalau kita tidak kesana, mereka mengancam akan membakar meja dan papan nama SMA Narin.''

''Tidak akan kubiarkan mereka melakukannya!'' teriak Yoongi marah, dia langsung berlari keluar kelas. Yang lain segera menyusul. Jungkook akan keluar saat Sena bertanya, ''Jungkook-ssi! Bagaimana dengan perayaannya?!''

''Persetan dengan perayaan sekolah!'' teriak Jungkook, ''ini perayaan sekolah kalian, bukan sekolahku!'' Jungkook berdecih, dia kembali berlari menyusul yang lain.

Jiyoo panik dan mendekati Sena. ''Sena-ssi, bagaimana ini?'' tanya Jiyoo panik, ''kita tidak mungkin membatalkan pertunjukan.''

''Show must go on, Jiyoo-ssi,'' kata Sena. Dia menatap para siswa yang masih disana, lalu berkata, ''Aku yakin ada diantara kalian yang bisa menari. Gantikan mereka, bisa, kan?''

Para siswa saling pandang ragu. ''Tapi kami tidak hapal dengan gerakannya,'' kata Ilhoon pelan.

''Aku punya video rekaman saat latihan,'' kata Sena, ''kita masih punya waktu satu jam untuk berlatih. Kumohon, lakukan ini untuk Tim Bangtan. Mereka berusaha mengambil meja dan papan nama sekolah kalian, kehormatan kalian. Setidaknya hargai pengorbanan mereka dengan menggantikan posisi mereka di atas panggung.''

Jiyoo menatap Sena. ''Sena-ssi....'' Jiyoo takjub dengan kata-kata Sena, dia tidak menyangka Sena akan mengucapkan hal demikian. ''Aku seperti mendengar seorang yakuza berpidato,'' gumam Sungjae, ''baiklah. Yeorobun, ayo kita tampilkan yang terbaik! Demi Bangtan! Demi SMA Narin!''

''Yeaah! All hail Bangtan! All hail Narin!'' sorak yang lain.

Jiyoo menatap Sena dengan senyum lega. ''Siapkan acara di panggung, Jiyoo-ssi,'' kata Sena, ''aku akan mengurus mereka.''
*
Jungkook menjeblak kasar pintu gudang. ''Beraninya kalian mencuri meja dan papan nama sekolah kami!'' teriak Jungkook marah, ''kembalikan! Atau kuhajar kalian!''

Ketua geng itu mendengus, dia berkata, ''Ambil kemari kalau kalian mau.'' Dia berdiri dan menendang meja milik Jungkook hingga terguling, lalu tertawa terbahak-bahak.

Jungkook menggeram, dia langsung maju dan meninju wajah ketua geng itu. Seketika Yoongi dan yang lain ikut menerjang geng lawan. Jungkook dengan marah dan membabibuta menghajar lawannya tanpa ampun. Yoongi menendang lawannya, dia lalu menghajar yang lain dan menghantamkan balok kayu kepada satu lawannya. Jin dan Taehyung sama-sama berlari ke sisi gudang, Jin membenturkan kepala lawannya ke dinding gudang sekeras mungkin sementara Taehyung lebih banyak menghindar dan mencari celah untuk mengambil papan nama sekolahnya. Namjoon sendiri dengan tenang menaiki meja dan menendang wajah lawan-lawannya, dia meludah dan berkata, ''Jangan membuat masalah dengan Bangtan, bung. Kau cari mati.''

''Oi!''

Hoseok menoleh, dia berteriak dan berlari menerjang seorang lawan yang melemparkan papan nama sekolah mereka kedalam api. ''Beraninya kau!'' pekik Hoseok, dia dengan membabibuta meninju muka orang itu hingga tidak jelas bentuknya. Jimin berlari, dia menyikut keras lawannya dan mengambil papan nama sekolahnya. Matanya terbelalak melihat sebagian papan nama SMA Narin menghitam karena terbakar, dia menggeram lalu menghantamkan bagian yang masih panas kearah kepala si ketua geng. ''Aku tidak akan mengampuni kalian!'' teriak Jimin, dia mencekik leher si ketua geng dan menendang perutnya beberapa kali.

''Jimin-ah! Berhenti!'' Jungkook dan Namjoon segera menahan Jimin. Jungkook menatap si ketua geng dan berteriak, ''Pergi atau aku akan memanggil polisi! Kalau kalian berani mengusik kami lagi, akan kuhabisi kalian!''

''Kau dan aku belum selesai!'' sahut si ketua geng sambil berlalu bersama kawanannya. Jin mengambil papan nama itu, dia menatap nanar tulisan SMA Narin yang menghitam sebagian. ''Aku tidak akan mengampuni siapapun yang merusak barang-barang kita,'' katanya pelan.

''Kita bawa saja dulu meja-meja ini,'' kata Namjoon, ''ayo.'' Namjoon mengambil mejanya, dia berjalan sambil meringis menahan sakit di wajahnya.

Jungkook mengerutkan dahi sejenak. ''Ya ampun! Perayaannya!'' pekik Jungkook, ''bagaimana ini?!''

''Sudahlah, jangan berharap banyak,'' kata Hoseok, ''kita tidak menepati janji, jadi jangan harap Jiyoo dan Sena akan menepati janji mereka.'' Hoseok mengambil mejanya, dia menatap yang lain dan berkata, ''Asal meja kita tidak dibuang, kurasa itu sudah cukup, kan.''

Jungkook terdiam. Dia menunduk, membayangkan wajah kecewa Jiyoo seperti yang ditunjukkannya waktu itu. Jungkook menghela napas, dia akhirnya mengambil mejanya dan berjalan lemas keluar gudang.


*

Jungkook berjalan santai sambil menyeruput jus jeruk. Entah kenapa dia malas ke sekolah hari ini. Jungkook masih belum siap menghadapi Jiyoo, dia pasti masih kecewa. Jungkook salut dengan teman-temannya yang menggantikan posisi Tim Bangtan di pertunjukan, tapi dia juga merasa bersalah dan malu.

''Lho. Kau tidak ke sekolah?''

Jungkook berbalik, dia berhenti saat melihat Chansung, salah seorang alumni SMA Narin yang dulu adalah anggota geng disana. ''Annyeong, Hyung,'' sapa Jungkook.

Chansung tersenyum dan mengangguk saja. ''Kau kenapa tidak ke sekolah, hah?'' kata Chansung, ''sadar diri, nilaimu jeblok semua. Kau mau jadi siswa abadi, ya?''

''Aku tidak berani,'' gumam Jungkook.

Chansung langsung tertawa terbahak. ''Mwo? Ketua geng Bangtan takut? Ada apa denganmu, hah?'' katanya dengan nada mengejek, ''kau takut dengan siapa, hm?''

''Dengan seorang ketua Dewan Murid,'' jawab Jungkook, ''aku sudah membuatnya kecewa beberapa kali. Aku berjanji tidak akan berkelahi, tapi aku melanggar janjiku sendiri.'' Jungkook menatap Chansung dan melanjutkan, ''Hyung, dia pasti membenciku.''

Chansung menghela napas. ''Sejak kapan kau jadi pengecut begini, hah?'' ucap Chansung sambil menoyor kepala Jungkook, ''kau masih ingat waktu kau membuat kesal mendiang kakakmu berkali-kali? Tapi kau masih berani menghadapinya, dan masih berani minta maaf meskipun kau tahu dia sangat kecewa. Kenapa sekarang tidak? Jelaskan saja, dia akan mengerti.''

Jungkook menunduk dalam. ''Sana ke sekolah,'' kata Chansung, ''dia akan semakin kecewa kalau kau tidak terlihat di kelas.'' Chansung tersenyum dan menepuk pundak Jungkook, lalu melangkah pergi sambil bersiul. Jungkook menghela napas, dia menatap kearah jalan dan akhirnya mantap menuju sekolah. ''Aku kan hanya ingin merebut mejaku lagi,'' gumam Jungkook, ''keterlaluan kalau dia tidak mau mengerti.''

Jungkook melangkah menyusuri koridor, dia dengan lemas melangkah masuk kelas. Jungkook menoleh, sejenak dia terdiam dan tampak bingung. Jungkook masih diam, detik berikutnya dia memekik senang dan berlari ke mejanya. ''Mejakuuuuu!'' sahut Jungkook senang sambil mengelus-elus meja lamanya yang entah sejak kapan ada di kelas, ''cintaku akhirnya kau kembali. Bogoshippooooo.''

''Cheesy,'' gumam Namjoon pelan, dia tersenyum senang melihat tawa bahagia Jungkook.

Jungkook tersadar, dia lalu mendongak dan menatap sekeliling. Dia baru sadar para siswa memakai meja lama mereka. ''Chamkamman,'' katanya, dengan sigap Jungkook mendekati Jiyoo dan bertanya, ''kenapa mejaku ada di kelas?''

''Sebagai hadiah atas penampilan yang bagus,'' sahut Jiyoo tersenyum.

Jungkook terdiam menatap Jiyoo. ''Jiyoo-ah, mianhae,'' sahut Jungkook pelan, ''aku melanggar janjiku. Tapi aku melakukannya bukan tanpa alasan. Aku....''

''Aku tahu, Jungkook-ssi,'' sela Jiyoo, ''aku tahu kau berusaha merebut kembali papan nama sekolah dan mejamu. Aku menghargai rasa cintamu kepada SMA Narin, maka sebagai bentuk penghargaan aku memutuskan mengijinkan kalian memakai meja lama kalian.'' Jiyoo tersenyum dan berkata, ''Aku ingin berlaku adil.''

Jungkook tersenyum kepada Jiyoo. ''Ya, tapi tidak berarti kita berteman, ya,'' sahut Taehyung, ''kami masih tidak sudi berteman dengan kalian.''

Jiyoo hanya tersenyum mendengar ucapan Taehyung. Jungkook kembali ke bangkunya, dia sangat senang memakai meja lamanya. Meja yang sangat berharga, warisan dari mendiang kakaknya yang juga ketua geng di SMA Narin. Jungkook menatap Jiyoo yang sekarang asyik mengobrol bersama Sena, dia membatin, 'Tidak terlalu buruk.' Jungkook menghela napas, dia kembali mengelus-elus mejanya dengan manja.


***

Kamis, 28 April 2016

The School Lesson 05-A

Title : The School
Author : Veve
Genre : School, Drama
Cast :
BTS All Members
Han Jiyoo (OC)
Park Sena (OC)
Red Velvet All Members (start from Lesson 02)
And others
Length : Chapter
*
FF ini terinfluence oleh drama Jepang Shiritsu Bakaleya Koukou dan Gokusen
Mohon maaf kalo ada banyak typo
Jangan bash saya dengan pairing di FF ini :v
 Dan jangan diplagiat..... Kasihani saya *ngek
Enjoy!!!
*

Lesson 5

Pagi ini, semua murid di SMA Seolyeong disibukkan dengan persiapan perayaan 20 tahun berdirinya Yayasan Paran, yayasan yang menaungi SMA Seolyeong. Tidak semua, sih, hanya murid perempuan saja yang sibuk. Murid laki-laki sama sekali tidak peduli dan tidak ada niat membantu.

Jiyoo dan siswi perempuan kelas 2-3 sibuk membuat kolase. Sena dan Joy dengan teliti menggunting pola di kertas, sementara Jiyoo dan yang lain menempel kertas warna warni membentuk tulisan Paran dan beberapa foto kegiatan di SMA Seolyeong. ''Perayaan tahun ini terasa berbeda, ya,'' kata Wendy, ''ini pertama kalinya kita merayakan ulangtahun yayasan dengan murid laki-laki.''

''Tapi....'' Seulgi menoleh, ''kelihatannya mereka tidak antusias.''

Jiyoo dan yang lain menoleh, melihat para laki-laki malah asyik bermain kartu di sudut kelas. Jiyoo menghela napas, dia beranjak dan melangkah mendekati mereka. ''Teman-teman, tolong bantu kami agar pekerjaan cepat selesai,'' kata Jiyoo, ''setelah membuat kolase ini kita akan berdiskusi untuk menentukan pertunjukan apa yang akan kita tampilkan saat acara perayaan.''

''Ck, itu acara kalian, bukan acara kami,'' kata Taehyung, ''kenapa kami harus ikut-ikutan repot?''

''Kalian adalah bagian dari Seolyeong dan yayasan Paran,'' jawab Jiyoo tenang, ''maka kalian punya hak untuk berpartisipasi dalam acara.''

Jungkook berdiri dan menghadap Jiyoo. ''Kami tidak level dengan pekerjaan kacangan seperti itu,'' katanya, ''apa kata dunia kalau Tim Bangtan berkumpul dengan perempuan dan membuat kerajinan tangan?'' Jungkook menatap teman-temannya dan berkata, ''Ayo kita keluar. Kita pulang saja.''

''Tunggu, kau belum boleh pulang,'' cegah Jiyoo, ''jam sekolah belum berakhir.''

''Like I care,'' sahut Namjoon, dia dan teman-temannya melangkah keluar kelas.

''Ternyata Tim Bangtan itu payah, ya.''

Ming.

Tim Bangtan seketika menoleh kearah Sena yang masih konsentrasi menggunting pola di kertas. ''Sudah payah, bodoh pula,'' kata Sena tanpa menoleh, ''mengerjakan kolase seperti ini saja tidak bisa.''

''Ya! Jaga mulutmu!'' sahut Yoongi, ''mengerjakan kolase itu hal yang sangat mudah untuk kami!''

''Kalau begitu kenapa kalian menolak membantu?'' Sena akhirnya menoleh, ''hanya ada dua alasan seseorang menolak mengerjakan sesuatu. Pertama, dia sedang ada urusan lain, dan kedua dia tidak bisa mengerjakannya. Kalian kan tidak ada urusan apa-apa, jadi jelas kalian tidak bisa mengerjakan kolase ini.'' Sena tersenyum, dia kembali membantu para gadis yang menahan tawa mendengar ucapan menohok Sena.

Jiyoo menatap Jungkook dan Tim Bangtan, dia tahu ucapan Sena menjadi kartu mati untuk mereka. Kelihatan sekali kalau harga diri mereka terusik. ''Tentu saja kami bisa!'' sahut Jungkook, ''ayo, kita selesaikan pekerjaan mereka!'' Jungkook mendekat dan mengusir para gadis. ''Kami akan menyelesaikannya dalam waktu setengah jam!'' kata Jungkook penuh percaya diri, ''sana pergi. Kalian akan melihat kehebatan kami.''

''Kami bahkan menyelesaikan ini dalam waktu dua jam,'' kata Seulgi.

''Itu karena kalian perempuan, dan kalian lamban,'' ejek Jungkook, ''sudah sana. Kami akan menyelesaikannya dalam waktu setengah jam.''

Hoseok mendekat dan merebut gunting serta kertas di tangan Sena, lalu menggunting sesuai pola. Hoseok lalu menoleh, dia mengerutkan dahi saat Sena menatapnya dengan tatapan apa-kau-yakin-bisa-melakukannya-secepat-itu. ''Heh, apa-apaan tatapan itu?'' sahut Hoseok, ''sana pergi. Lihat kehebatan Tim Bangtan, dan kalian tidak akan macam-macam lagi dengan kami.'' Hoseok mendorong Sena menjauh, membuat gadis itu hanya menghela napas dan akhirnya menuruti Hoseok pergi dari kelas.

''Baiklah, kami percaya kalian bisa menyelesaikannya dengan cepat,'' kata Jiyoo sambil tersenyum, ''terimakasih atas bantuannya.'' Jiyoo memberi salam, dia dan teman-temannya berlalu keluar kelas.

Sepeninggal para gadis, Tim Bangtan saling pandang bersama murid lain. ''Ya, kau yakin kita bisa menyelesaikannya dalam waktu setengah jam?'' tanya Sungjae, ''kau tahu sendiri aku tidak bisa membuat kolase.'' ''Kalau kita tidak bisa menyelesaikannya sesuai target, kita yang malu,'' kata Ilhoon, ''eottokhae?''

Jungkook berdecak. ''Kita hanya perlu menggunting dan menempel-nempel kertas seperti ini,'' kata Jungkook sambil menunjuk kolase yang sudah setengah jadi, ''sudahlah, ayo cepat selesaikan.'' Jungkook sendiri sebenarnya tidak bisa mengerjakan hasta karya ini, tapi dia terlanjur mengatakan akan menyelesaikannya dalam waktu setengah jam. Pantang baginya mengingkari janji, karena itu sangat tidak Bangtan.

''Sena-ssi, kau sangat cerdik,'' puji Yeri, ''ucapanmu tadi berhasil membuat mereka membantu kita.'' ''Tapi, apa kalian yakin mereka bisa menyelesaikannya dalam waktu setengah jam?'' sahut Seulgi, ''kalau tidak bagaimana?''

''Seulgi-ssi, tidak masalah soal itu,'' sahut Jiyoo sambil tersenyum, ''yang penting mereka sudah mau membantu mereka, walaupun harus sedikit disentil.'' Jiyoo menatap Sena dan tersenyum seraya berkata, ''Gamsahamnida, Sena-ssi. Kau sangat membantu.''

Sena hanya tersenyum dan mengangguk dengan anggun. ''Ayo kita ke kantin,'' ajak Irene. Jiyoo menyahut dengan sopan, ''Jeosonghamnida, Irene-ssi. Tapi aku harus mengecek persiapan kelas-kelas lain.'' Jiyoo membungkuk, dia lalu tersenyum dan melangkah pergi. Irene menghela napas, dia berkata, ''Jiyoo-ssi benar-benar ketua yang bertanggungjawab. Dia memilih mengecek persiapan kelas lain daripada makan di kantin.''

''Seperti itulah ketua ideal Seolyeong,'' sahut Wendy. Dia dan yang lain melangkah menuju kantin sambil sesekali bercanda.

Jiyoo melangkah menyusuri koridor sekolah. Sesekali dia berhenti dan memberi salam sambil tersenyum kepada murid lain, lalu mengecek persiapan perayaan di kelas lain. Jiyoo tersenyum senang melihat antusiasme para siswi Seolyeong, dan semakin senang saat dia melihat beberapa siswa ikut membantu. Tidak semua, tapi itu cukup menunjukkan kalau para laki-laki sudah mulai menerima kehadiran siswi Seolyeong.

''Kyaaaa!''

Jiyoo tersentak, dia berlari dan melihat kearah luar sekolah. Jiyoo terkejut melihat sekumpulan siswa entah dari sekolah mana masuk sekolahnya dan mulai merusak beberapa properti untuk perayaan. Jiyoo menoleh, dia melihat Tim Bangtan berlari keluar kelas. Jiyoo menyadari hal buruk akan terjadi, dia segera berlari mengikuti Tim Bangtan.

''Jangan seenaknya merusak sekolah kami!'' teriak Namjoon sambil berlari, dia menghajar seorang laki-laki hingga terjatuh. ''Beraninya kalian datang kemari dan mengacau,'' geram Jungkook, ''mau apa kalian, hah?!''

''Kau belum menjawab tantangan kami!'' sahut seorang laki-laki.

Jungkook meludah kasar, dia berkata, ''Baiklah, akan kujawab tantangan kalian.'' Jungkook mencengkeram leher laki-laki itu dan menendangnya kuat-kuat. Jungkook menyeringai dan berkata, ''Babo.''

Beberapa laki-laki secara bersamaan menyerang Jungkook. Jin dan Hoseok dengan sigap menangkis serangan. ''Dasar pengecut!'' sahut Hoseok, ''kalian hanya berani mengeroyok! Maju satu persatu!'' Hoseok menghajar beberapa siswa, dan itu memicu perkelahian lain. Yoongi dengan cekatan menendang lawannya, dia menghindari beberapa pukulan dan ganti memukul lawannya dengan balok kayu. Namjoon, Taehyung, dan Jimin kompak mengerjai lawan mereka dengan terus berlari, dan saat lawan mereka mulai lelah Jimin dengan santai meninju muka mereka.

Jiyoo berlari keluar, dia disambut seorang siswi yang panik. ''Sunbaenim, mereka berkelahi!'' sahut siswi itu ketakutan, ''apa yang harus kita lakukan?''

Jiyoo sangat kaget melihat perkelahian di depannya ini. Keadaan sangat kacau, karya para siswi hancur berantakan karena mereka. ''Hentikan!'' teriak Jiyoo, ''kumohon hentikan!'' Jiyoo jadi ikut panik, apalagi suaranya kecil jadi mustahil bisa didengar Tim Bangtan.

Perkelahian seketika berhenti saat terdengar sirine mobil dari kejauhan. Jiyoo tercengang, dia agak bingung mendengar sirine itu. ''Polisi!'' sahut seorang laki-laki, dia dan kawan-kawannya berlari menjauh.

Jiyoo menghela napas lega dan mendekati Tim Bangtan yang sudah lusuh dan penuh luka. ''Kumohon jangan berkelahi,'' katanya, ''ini adalah hari bahagia, hindari perkelahian.''

''Tapi mereka menantang kami!'' sahut Jungkook.

''Tolak saja,'' kata Jiyoo.

''Mwo?'' Jungkook mendengus, ''ya, kami akan terlihat lemah kalau menolak tantangan dari sekolah lain.''

Jiyoo mendesah kecewa, dia menoleh dan melihat Sena berjalan kearah mereka bersama yang lain. ''Jangan berkelahi,'' kata Sena, ''ini perintah.''

''Perintah dari siapa, hah?'' sahut Jungkook, ''ketua kelas? Aku adalah wakil Dewan Murid, jabatanku lebih tinggi daripada kau.''

''Kalau begitu jabatanku lebih tinggi daripada kau, Jungkook-ssi,'' sahut Jiyoo cepat, ''aku adalah ketua Dewan Murid, dan aku minta kalian tidak berkelahi selama persiapan dan sampai festival berlangsung.'' Jiyoo menatap Jungkook yang tertegun menatapnya. ''Jebal,'' sahut Jiyoo pelan.

''Begini saja,'' kata Sena cepat, ''kalau kalian tidak berkelahi sampai perayaan berlangsung, kalian boleh memakai meja kalian.''

''Terakhir kali kau mengatakannya, tidak ada yang berubah,'' kata Jimin, ''kami tetap tidak boleh memakai meja kami.''

''Itu karena kalian kalah saat pertandingan, kan,'' sahut Joy, ''kalau kalian menang, tentu meja itu sudah kalian pakai sejak awal.''

Jiyoo menatap Tim Bangtan. ''Aku janji akan mengijinkan kalian memakai meja itu,'' katanya, ''tapi kumohon jangan berkelahi sampai perayaan berlangsung. Dan bekerjasamalah dengan kami agar perayaan ini menjadi sukses dan meriah.'' Jiyoo membungkuk di hadapan Tim Bangtan. ''Aku memohon kepada kalian atas nama SMA Seolyeong,'' katanya.

Sena melirik, dia melihat Tim Bangtan, terutama Jungkook jadi bimbang dan kesal. ''Arra, arra,'' kata Jungkook, ''kami akan bersikap baik. Tapi awas kalau kau sampai melarang kami memakai meja itu, kupatahkan lehermu.''

Jiyoo tersenyum, dia menatap Tim Bangtan dengan perasaan senang. ''Nah, sudah sampai mana pekerjaan kalian?'' tanya Jiyoo mengalihkan topik.

''Itu.... Tentu saja sudah akan selesai,'' sahut Jungkook cepat, dia terkekeh gugup dan membatin, 'Sialan, kenapa dia malah bertanya, sih?' Jungkook memasang gaya cool, bersikap normal agar Jiyoo tidak curiga.

''Ya! Apa yang harus kulakukan dengan potongan kertas ini?!''

Krik.

Tim Bangtan melongo mendengar teriakan Ilhoon. Jiyoo menunduk, dia menahan tawa. Wendy, Irene, Joy, Yeri, dan Seulgi juga menahan tawa. Hanya Sena yang diam, tapi seulas senyum tersamar di bibirnya. ''Ilhoon babo,'' desis Jungkook, dia salah tingkah dan buru-buru menyingkir dari hadapan para gadis. Hoseok menatap Sena yang menatapnya dengan tatapan sudah-kuduga-kalian-tidak-bisa-mengerjakannya, dia berdecih malu dan ikut menyingkir bersama yang lain.
*
''Ya, Jungkook-ah.''

''Hm.''

''Kita mau kemana?''

''Ke rumah Sena.''

''Dimana?''

Jungkook berhenti, dia menatap Tim Bangtan dan terkekeh. ''Aku tidak tahu arah,'' katanya, ''lewat mana, ya?''

Tim Bangtan sweatdrop melihat Jungkook. ''Kenapa kita harus menuruti mereka, sih?'' gerutu Taehyung, ''sekarang mereka seenaknya memerintah kita. Menyuruh kita datang ke rumah Sena.'' ''Jangan bilang kita kesana untuk membersihkan rumah mereka,'' kata Jimin.

''Kita kesana demi meja kita,'' kata Jin, ''sudahlah. Tidak ada salahnya juga kita menuruti mereka.'' Jin menyambar kertas di tangan Jungkook dan membacanya. Jin celingukan, dia berlari mendekati seorang petugas keamanan di seberang jalan. Jungkook dan yang lain menunggu di bawah pohon, mereka memperhatikan Jin yang tampak mendengarkan penjelasan petugas keamanan itu. Tak lama, Jin kembali kepada Tim Bangtan dan berkata, ''Kearah sana.''

Jin memimpin perjalanan menuju rumah Sena. ''Woaaaa,'' Jimin mengucap takjub, ''lihat, rumah-rumahnya besar sekali. Halamannya saja seluas rumahku.'' ''Dia putri pengawas pendidikan dan seorang aktris, jelas saja rumahnya besar,'' komentar Yoongi.

Tim Bangtan berhenti di depan sebuah rumah megah. Pagarnya menjulang tinggi dengan ukiran khas Eropa klasik. Halaman rumahnya diterangi lampu taman, terlihat kolam di tengah halaman yang memberi kesan mewah pada rumah itu. ''Bahkan di halaman saja diberi karpet merah,'' bisik Namjoon sambil menunjuk karpet yang terbentang di jalan depan mereka. ''Maklum, anak aktris,'' balas Hoseok, mereka berdua terkikik geli sendiri.

Jin menekan tombol merah di sisi gerbang. Tak lama terdengar sebuah suara, 'Selamat malam. Ada yang bisa saya bantu?'

Jungkook meringsek dan menjawab, ''Jungkook imnida. Mana dayang setia Jiyoo itu?''

'Siapa yang Anda maksud?'

Jin menggeplak sadis kepala Jungkook. ''Maaf, kami mencari Park Sena,'' ucap Jin, ''kami teman-temannya, dari SMA N.... Maksudnya SMA Seolyeong.''

'Sena-ssi masih belum pulang, Tuan. Sena-ssi masih di tempat bimbingan belajar.'

Tim Bangtan saling pandang. ''Geu saram,'' geram Yoongi, ''dia menyuruh kita datang cepat sedangkan dia sendiri malah belum pulang. Akan kuhajar dia nanti.''

Din din.

Semua menoleh, lalu menyingkir dari depan pagar. Pintu mobil terbuka, Sena muncul dan menatap kaget Tim Bangtan. ''Astaga, kalian sudah datang,'' katanya, ''aku bilang kita akan berkumpul jam delapan malam.''

''Ini sudah jam delapan,'' sahut Jungkook.

Sena menghela napas. ''Silahkan masuk,'' katanya. Sena kembali masuk mobil, dan pagar otomatis terbuka seiring mobil Sena yang bergerak masuk. Tim Bangtan dengan canggung mengikuti dari belakang. Seorang pelayan laki-laki berjalan dan membukakan pintu mobil untuk Sena. ''Tadi dia bisa membuka pintu sendiri,'' gumam Taehyung, ''kenapa sekarang dibukakan?''

Sena dan Tim Bangtan melangkah masuk rumah. Jungkook melongo takjub melihat rumah Sena yang sangat megah. Dekorasi budaya Korea, Eropa, dan Jepang berpadu manis di ruang utama. Sebuah foto keluarga berukuran besar terpajang di sisi kanan. Beberapa pelayan berjajar memberi salam kepada Sena yang dibalas dengan senyuman gadis itu. ''Masuklah, jangan sungkan,'' kata Sena, ''ayahku sedang berkunjung ke Belanda bersama Menteri Pendidikan, dan ibuku sedang menghadiri festival film Cannes. Jadi anggaplah rumah sendiri.'' Sena menatap seorang pelayan dan berkata, ''Antar mereka ke ruang tengah.''

Pelayan itu mengantar Tim Bangtan menuju ruang tengah. Saat mereka masuk, lagi-lagi mereka takjub dengan kemegahan ruangan itu. ''Benar-benar orang kaya,'' gumam Hoseok. Taehyung menghempaskan tubuhnya di sofa berwarna putih tulang, dia terkekeh dan berkata, ''Ya! Sofanya empuk sekali. Seperti terbuat dari bulu angsa.''

''Sarung bantalnya juga lembut sekali,'' ucap Jimin, ''seperti sutra.''

Sementara yang lain dengan norak mengomentari barang-barang disana, Jin dan Jungkook mengamati foto-foto di meja dekat jendela. Beberapa foto menampilkan foto Sena bersama orangtuanya, sebagian besar adalah foto Sena bersama gengnya.

''Annyeonghasseo.''

Jungkook dan yang lain menoleh. Jimin, Hoseok, Yoongi, Taehyung, dan Namjoon langsung bersikap cool saat melihat Jiyoo dan kelima gadis itu masuk ruang tengah. Mereka memberi salam kepada Tim Bangtan, lalu duduk di sofa. ''Aku senang kalian datang tepat waktu,'' kata Jiyoo sambil tersenyum, dia lalu menoleh dan bertanya, ''dimana Sena-ssi?''

''Molla,'' jawab Jungkook, dia melompat dan duduk seperti bos di sofa menghadap para gadis, ''ada apa kita semua disuruh kemari, hah?''

''Membahas pertunjukan yang akan kita tampilkan saat perayaan,'' jawab Jiyoo, ''dan Jungkook-ssi, tolong bersikaplah yang sopan. Ini rumah Sena-ssi.''

Tak lama, Sena masuk bersama beberapa pelayan yang membawakan makanan ringan dan minuman. Sena duduk di sofa tunggal menghadap semua temannya, dia menunggu para pelayan keluar ruangan. ''Terimakasih kalian sudah mau datang kemari,'' kata Sena, ''nah, mari kita mulai.''

''Aku seperti ada di rapat para menteri,'' gumam Jimin.

''Jadi, pertunjukan apa yang akan kita tampilkan?'' tanya Sena, ''Joy-ssi, kau ada ide?''

''Pertunjukan musik?'' usul Joy, ''aransemen musik yang sedikit diubah, mungkin akan menarik.''

''Drama panggung?'' Wendy memberi usul, ''kita bisa mengangkat kisah seperti Romeo And Juliet atau Butterfly Lovers.''

''Hiphop!'' sahut Yoongi, disambut sorakan Jimin dan Hoseok.

''Apa itu hiphop?'' tanya Jiyoo.

''Ck, masa kau tidak tahu hiphop?'' sahut Yoongi, ''itu musik terkeren sepanjang masa, lebih keren daripada musik klasik kesukaan kalian yang membosankan itu.''

''Bagaimana kalau kolaborasi?''

Semua mata mengarah kepada Namjoon. ''Kita akan menampilkan kolaborasi,'' kata Namjoon, ''perpaduan klasik dan hiphop. Classical Hiphop. Eotte? Jadi semua akan berpartisipasi?''

''Apakah akan ada tari-tarian juga, Namjoon-ssi?'' tanya Irene.

''Bisa dimasukkan,'' jawab Namjoon, ''tariannya juga bisa dipadukan antara tarian klasik dan hiphop.'' Namjoon menatap Hoseok yang tampak memikirkan sesuatu. ''Hoseok-ah, kau yang akan membuat koreografinya,'' sahut Namjoon, ''ini sekaligus menunjukkan kehebatan Tim Bangtan.''

Mendengar itu, Hoseok dan Tim Bangtan bersemangat. ''Serahkan kepadaku,'' katanya semangat, dia menatap sombong para gadis dan berkata, ''setelah ini kalian semua akan memujaku habis-habisan. Lihat saja.'' Hoseok tertawa bak pahlawan, sementara para gadis hanya menatapnya sweatdrop.

Jiyoo dan Sena saling melirik, mereka saling tersenyum samar. ''Baiklah,'' kata Jiyoo, ''sesuai keputusan, kita akan menampilkan perpaduan musik klasik dan hiphop. Ini akan sangat menarik.'' Jiyoo tersenyum senang, dia menatap Tim Bangtan lalu berkata, ''Mohon kerjasamanya.'' Jiyoo membungkukkan badan.

''Mohon kerjasamanya,'' sahut gadis-gadis lain sambil membungkuk.

Sena berkata, ''Silahkan nikmati hidangannya. Hanya camilan ringan, semoga kalian suka.''

Irene akan mengambil cookies saat Jimin mengambil stoples cookies dan memeluknya seakan dia memiliki cookies itu sendiri. Irene melongo, dia kaget dengan ulah Jimin. Tim Bangtan yang lain juga dengan sigap mengambil makanan yang disediakan sambil berteriak, ''Manhi duseyoooooo.''

Sena terkekeh kecil, dia geli melihat Tim Bangtan yang bertingkah seperti bocah berusia lima tahun. Dia bergeser dan berbisik kepada Jiyoo, ''Seperti yang aku duga, Jiyoo-ssi. Sangat mudah membuat mereka ikut ambil bagian dalam perayaan. Tapi....'' Sena menatap Jiyoo, ''Jiyoo-ssi apa kau akan benar-benar membiarkan mereka memakai meja lama mereka?''

Jiyoo tersenyum. ''Kalau mereka memang bisa menepati janji, aku akan mengijinkan mereka memakai meja lama mereka,'' jawabnya.

''Wae?''

''Karena aku ingin bersikap adil kepada mereka,'' jawab Jiyoo.

Sena menghela napas, dia mengangguk dan ikut bergabung bersama yang lain.
***