Title :My Teacher, My Enemy, My...... Love?
Author : Mickey
Genre : Romance, Comedy
Main Cast :
Kaito Kumon
Kouta Kazuraba
Supported Cast :
Akira Kazuraba (kakaknya Kouta)
Mai, Micchy, Rat, Yuuya, Rika, Chucky (temen-temennya Kouta)
Zack and Peco (gandengannya Kaito)
Dan cast-cast lain yang mungkin muncul namanya doang
>>>
Hollaaaaaaaaaaaa!!!!!!!!!!!!!!!
Mickey is back with new story!!
Yah, sekedar pemberitahuan kalau ini bukan K-Pop FF tapi Kamen Rider Gaim Fanfiction
Tapi peringatan, ini nggak ada hubungannya dengan pertarungan ala Kamen Rider, ya kawan-kawan
Ini drama, romantis dan pastinya komedi
Bahasanya seperti biasa pakai bahasa nggak baku untuk dialog
Selamat membaca
Like and Comment, ya :D
Plagiat? Dosa tanggung sendiri.
>>>
"KOUTA!!"
Kouta hanya bisa diam menunduk, menghindari tatapan melotot sang kakak di depannya. Oh, ini buruk. Bahkan kakaknya lebih mengerikan daripada hantu yang dia tonton di televisi. "Kamu ini belajar, nggak, sih?!" sentak Akira, kakak Kouta, "ini.... Ya ampun, Kouta! Nilai 30 ini apaan?!"
"Kak, soal-soalnya itu beda jauh sama yang di buku, aku bingung!" Kouta mencoba membela diri dengan sejuta alasannya. Padahal memang dasarnya dia yang malas belajar matematika. Matematika ibarat musuh untuk Kouta. " Ya kalau sama kayak di buku enak kamunya tinggal nyontek doang!" balas Akira, "lagian meskipun angkanya beda rumusnya kan sama. Masa gitu aja kamu nggak bisa? Sampe kiamat juga rumus matematika itu lagi itu lagi."
"Ya tapi kan kapasitas otakku nggak memenuhi ketentuan," gumam Kouta.
"Jangan ngedumel kayak tawon kurang makan!" sentak Akira lagi. Kouta mingkem, dia tidak berani lagi melawan Akira yang kalau marah persis tokoh antagonis di drama-drama cheesy. Doyan melotot dengan efek zoom-in zoom-out dan backsound simbal. "Pokoknya mulai hari ini komik, video game, sama laptopmu kakak sita," kata Akira sambil beranjak ke kamar Kouta yang rapinya ngalahin kamar cewek. Komik kececeran di lantai, kaos ada di segala penjuru kamar, sepatu geletakan di sudut kamar, ditambah laptop yang dengan nyamannya di kolong kasur, rapi, kan?
"APA?!" Kouta tersentak, dia langsung menahan Akira yang mulai mengemasi komik-komik dan video gamenya termasuk laptop. "Kak, jangan disita dong, Kak," Kouta mulai merengek sambil menghentak-hentakkan kakinya manja, "hidupku hampa tanpa semua itu, kak."
"Halah lebai," balas Akira cuek, "kalau kamu mau semua ini balik, bagusin dulu nilai matematikamu. Beres, kan?" 'Beres gigimu ompong,' batin Kouta sebal, 'otak gue bisa meledak kalau kebanyakan baca buku matematika.' "Yaudah aku belajar, Kak," kata Kouta, "tapi balikin komik-komik, game, sama laptopku." "Kalau nilaimu bagus ntar aku balikin semua," Akira tersenyum penuh kemenangan.
Kouta menghela napas. Repot ngelawan cewek keras kepala kayak Akira. Akira menatap Kouta yang melemas, sedikit perasaan bersalah menyelip ke hatinya. Dia sebenarnya tidak tega melihat adik semata wayangnya tidak bersemangat seperti itu. Tapi mau bagaimana lagi? Kalau dia tidak tegas, Kouta tidak akan terpacu untuk memperbaiki nilai matematikanya. Akira tidak mau Kouta tidak lulus ujian kelulusan hanya karena nilai matematikanya jeblok. 'Aku tahu sebentar lagi kamu bakal semangat belajar,' batin Akira, 'kamu cuma butuh sedikit gertakan biar semangat.'
"APA?!" Kouta tersentak, dia langsung menahan Akira yang mulai mengemasi komik-komik dan video gamenya termasuk laptop. "Kak, jangan disita dong, Kak," Kouta mulai merengek sambil menghentak-hentakkan kakinya manja, "hidupku hampa tanpa semua itu, kak."
"Halah lebai," balas Akira cuek, "kalau kamu mau semua ini balik, bagusin dulu nilai matematikamu. Beres, kan?" 'Beres gigimu ompong,' batin Kouta sebal, 'otak gue bisa meledak kalau kebanyakan baca buku matematika.' "Yaudah aku belajar, Kak," kata Kouta, "tapi balikin komik-komik, game, sama laptopku." "Kalau nilaimu bagus ntar aku balikin semua," Akira tersenyum penuh kemenangan.
Kouta menghela napas. Repot ngelawan cewek keras kepala kayak Akira. Akira menatap Kouta yang melemas, sedikit perasaan bersalah menyelip ke hatinya. Dia sebenarnya tidak tega melihat adik semata wayangnya tidak bersemangat seperti itu. Tapi mau bagaimana lagi? Kalau dia tidak tegas, Kouta tidak akan terpacu untuk memperbaiki nilai matematikanya. Akira tidak mau Kouta tidak lulus ujian kelulusan hanya karena nilai matematikanya jeblok. 'Aku tahu sebentar lagi kamu bakal semangat belajar,' batin Akira, 'kamu cuma butuh sedikit gertakan biar semangat.'
>>>
"BHUAHAHAHAHAAAAAAAA!!!!" tawa Rat membahana di markas geng Gaim, gengnya Kouta dan kawan-kawan. "Sialan," dengus Kouta, "temennya kesusahan malah diketawain. Untung elo temen gue, kalau bukan udah gue mutilasi lo." "Elo juga sih pake acara males belajar matematika," komentar Chucky, "coba elo rajin dan nilai lo bagus, Kak Akira nggak akan nyita barang-barang berharga lo itu." "Ya elo kan tahu sendiri," balas Kouta, "liat sampul depan buku matematika aja gue udah males duluan, gimana mau belajar?"
"Nah itu dia," suara Yuuya, satu-satunya mahasiswa di geng itu (mahasiswa mainnya sama anak SMA), "itu semua karena sugestimu sendiri. Kamu yang selalu mikir kalau kamu nggak suka matematika, akhirnya kamu bawaannya males terus. Coba, deh, sekali-sekali kamu coba buat seneng sama matematika. Pasti kamu semangat belajar lagi."
"Kak," suara mencicit Mai mengalihkan perhatian Kouta.
"Iya?" balas Kouta.
"Semangat, Kak. Hidup ini emang sulit. Sesulit niat Kak Kouta buat suka sama pelajaran matematika."
Krik.
"BWUAHAHAHAHAHAAAAAAA!!!!"
Kouta hanya sweatdrop menatap adik kelasnya yang imut-imut kayak boneka ini. Dan Mai tersenyum seakan tanpa dosa. "Yaudah gini aja," kata Rika yang daritadi asyik main Uno dengan Micchy, "sebagai rasa solidaritas tanpa batas kita bakal bantuin elo. Kita bakal ngajarin elo matematika sampe nilai-nilai lo bagusan dikit. Gimana?" Mendengar ucapan Rika, Kouta langsung mengangguk semangat. Yuuya menyahut, "Bagus itu. Biasanya materi bakal lebih nyantel kalau belajarnya sama temen sendiri. " Chucky mengangguk semangat, setuju dengan pernyataan Rika. "Aku juga bakal bantu," kata Micchy, "kalo perlu aku bakal minta Kak Takatora buat nyariin guru les matematika terbaik buat Kak Kouta." "Nggak usah," kata Rika, "Micchy kamu kan juga pinter matematika. Kamu juga bantuin kita. Kamu yang jadi guru les buat Kouta. Mai juga boleh."
Kouta antara terharu dan tengsin sebenarnya. Terharu karena niat tulus teman-temannya membantunya belajar matematika, tengsin karena dia bakal diajari oleh Mai dan Micchy yang notabene adalah adik kelasnya. Tapi demi komik laptop video game, Kouta akan semangat buat belajar.
Sementara yang lain sibuk mengoceh tentang metode seperti apa yang akan diterapkan untuk mengajari Kouta matematika, Rat hanya menatap datar semuanya. 'Lo semua bakal nyesel udah ngomong gitu,' batin Rat sambil mengunyah roti. Tapi dia juga akan membantu Kouta keluar dari kesulitannya. Hei, sahabat itu akan selalu membantu sekalipun yang dibantu otaknya minimum, kan?
>>>
2 minggu kemudian................
Suasana tegang memenuhi ruang geng Gaim. Kouta, Mai, Micchy, Yuuya, Rat, Rika, dan Chucky duduk mengitari meja bundar dengan mata terbelalak dan napas tertahan. Yuuya yang tampak tenang, tapi mata tidak bisa berbohong. Dia jelas ikut tegang sekarang. Meja bundar itu kosong, hanya ada sebuah amplop yang menjadi sumber ketegangan mereka. Amplop itu berisi nilai ujian Kouta. Hanya uji coba sebetulnya, tapi tetap saja nilai ini yang akan menunjukkan hasil belajar Kouta selama 2 minggu terakhir.
Yang ujian Kouta yang tegang satu geng.
Itulah fungsi persahabatan. Tegang bareng-bareng, seneng bareng-bareng, tapi mati nggak akan bareng-bareng.
"Gue buka," suara Kouta membuat yang lain tambah jedag jedug tidak karuan. Perlahan tangan Kouta mengambil amplop itu, membukanya dan mengambil selembar kertas dari dalamnya. Perlahan Kouta membuka lipatan kertas itu, matanya dan yang lain langsung tertuju pada nilai matematika yang tertera di barisan terbawah.
Matematika : 35
Siiiiinnggggggg.........
"KOUTA!!"
Detik berikutnya Yuuya dan Rat harus menahan Chucky dan Rika yang mengamuk gara-gara nilai Kouta hanya meningkat 5 poin. 5 poin, saudara-saudara sekalian! Luar biasa sekali, kan, Kouta kita tersayang ini? Sementara itu Micchy dan Mai malah sibuk menikmati popcorn di sudut ruangan. Ya itu karena mereka tidak terlalu berkontribusi mengajari Kouta. Dua anak ini hanya bantu doa, dan rupanya doa mereka masih belum didengar. Mungkin nanti. "Dua minggu dan elo cuma naik 5 poin?!" teriak Chucky, "ya ampun, Kouta! Elo baca materi yang kita bikinin nggak, sih?!"
"Baca kok!" balas Kouta tak mau kalah, "cuma pas ujian lupa semua."
"AKU TAU!"
Suara Micchy menghentikan keributan, dalam hati Yuuya dan Rat bersyukur anak ini bisa membantu menghentikan amukan dua cewek ini. "Aku tau siapa yang bisa ngajarin Kak Kouta," Micchy sangat bersemangat, "dan aku jamin nilai Kak Kouta bakal langsung bagus. Orang ini pinter banget matematikanya, dia juga punya metode yang pasti bikin Kak Kouta semangat belajar." Micchy menatap Mai dengan senyum cerahnya, "Kamu tau siapa yang aku maksud, sayangku."
Mai langsung tersenyum cerah, dia juga mendadak semangat. "Iya dia bisa!" Mai loncat-loncat kayak anak cewek dapet boneka barbie, "dia pasti bisa. Kak Kouta belajar sama dia aja."
"Siapa yang kamu maksud, Micchy?" tanya Rat.
Micchy tersenyum semakin lebar. "Kak Yuuya tau siapa yang aku maksud," katanya, "dia itu.........."
"INTERUPSI!" teriak Chucky, "Micchy! Tadi elo manggil Mai apa?! Sayangku?!" Micchy melongo, lalu dia nyengir penuh arti.
"Udah udah," kata Yuuya, "soal hubungan Micchy sama Mai ntar aja ngurusinnya. Jadi, maksud kamu siapa yang bisa ngajarin Kouta? Professor Ryouma? Bisa abis Kouta digamparin sama Minato kalo belajar disana."
"Yee, siapa juga yang mau ngumpanin Kak Kouta ke tante-tante galak kayak Minato," sahut Micchy, "kalo disana yang ada Kak Kouta bukannya belajar malah jadi kelinci percobaan buat penemuan-penemuannya Professor Ryouma."
Dan dua orang itu bersin di laboratorium mereka.
"Terus siapa dong?" tanya Kouta, "jangan bilang kakak lo yang bakal ngajarin gue."
Micchy menggeleng. Dia mengeluarkan senyum imut sejuta wattnya. "Kak Kaito yang bakal ngajarin Kak Kouta. Kak Yuuya pasti kenal, dong, sama Kak Kaito."
~To Be Continued~

Tidak ada komentar:
Posting Komentar