Rabu, 21 Oktober 2015

Pandora 01



 Title : Pandora
Author : Veve
Genre : Fantasy, Comedy, Romance
Cast :
All Hey! Say! JUMP Members
Kawazoe Tori / OC
Ishihara Mio / OC
Watanabe Ayaka / OC
Fukushi Hiroko / OC
Other casts will revealed
Length : Chapter
*
            Bagi sebagian orang—dan mungkin kalian juga—kisah ini hanyalah dongeng.

            Tapi tidak untukku.

            Kisah ini diceritakan secara turun-temurun di keluargaku. Kisah yang kami percayai sebagai kisah yang nyata. Ini kisah tentang Pandora, sebuah kerajaan yang letaknya berdekatan dengan dunia manusia, tapi tidak bisa dilihat oleh mata manusia biasa.

            Sangat dongeng, bukan?

            Kalian boleh pergi jika kalian menganggap kisah ini tidak menarik. Kalau kalian berminat, aku akan menceritakan kisah ini kepada kalian.

            Seperti yang kusebutkan tadi, Pandora adalah sebuah kerajaan yang letaknya berdekatan dengan dunia manusia, tapi tidak bisa dilihat oleh mata manusia biasa. Pandora terletak dibalik kabut tebal, diantara pepohonan dimana sinar matahari tidak bisa menembus dedaunan untuk menghangatkan tanah. Kalau kalian sangat teliti, disana kalian akan menemukan sebuah batu besar dengan retakan di tengah-tengahnya. Ada tulisan Բարի Պանդորայի (Bari Pandorayi – Armenian) yang berarti “Selamat Datang Di Pandora.” Itulah gerbang pembatas dimensi Pandora dan dunia manusia. Sayangnya, manusia tidak bisa masuk kesana. Menurut cerita, gerbang itu hanya bisa dibuka oleh Raja Pandora.

            Dahulu kala, Pandora dan dunia manusia hidup berdampingan dengan damai. Pandora disebut manusia sebagai kerajaan para peri, dimana makhluk-makhluk ajaib hidup disana. Raja Pandora yang mengendalikan kerajaannya agar makhluk-makhluk ajaib itu tidak mengacau di dunia manusia. Raja Pandora dibantu oleh pengawal-pengawalnya bertugas menyegel monster-monster yang berulah di dunia manusia.

            Seperti kisah klasik lainnya, di Pandora ada sekelompok orang—mereka biasa disebut Shora—yang merasa bahwa manusia harusnya tunduk kepada mereka. Mereka beranggapan bahwa manusia hanyalah makhluk lemah, yang seharusnya hidup dibawah kaki Pandora. Maka, Shora mulai melepaskan monster-monster mereka untuk mengacaukan dunia manusia. Rencana mereka adalah saat monster mereka semakin mengacau, Shora akan muncul bak pahlawan dan memanfaatkan situasi untuk menguasai dunia manusia.
            Tapi kejahatan tidak akan pernah bertahan lama.

            Pandora mencium rencana jahat Shora. Mereka segera turun tangan membereskan kekacauan. Agak terlambat memang, karena saat itu manusia sudah dipeluk oleh rasa takut dan tidak aman. Para monster yang dilepaskan Shora sudah menghancurkan sebagian dunia manusia dengan sangat brutal, menyisakan kengerian dan jejak kegelapan disana. Pandora berusaha menyegel para monster sekaligus mengembalikan keadaan seperti semula, walaupun sangat sulit tapi mereka optimis keadaan akan kembali seperti semula. Raja Pandora marah dan memutuskan menyegel Shora juga, menjaga agar mereka tidak lagi mengacau di dunia manusia. Raja Pandora menyembunyikan segel Shora dan monster-monsternya di Dasar Pandora, tempat yang hanya diketahui Sang Raja.

            Rupanya Raja Pandora melakukan satu kesalahan. Dia melewatkan satu orang yang justru adalah pengendali utama para monster milik Shora. Dia adalah Venom, pelayan setia dari pemimpin Shora. Pandora bergegas mencari Venom, tapi pelayan satu ini sangat sulit dikenali. Dia terus menebar teror dan bersumpah akan meneruskan apa yang dilakukan tuannya.

            Melihat keadaan yang semakin tidak terkendali, Raja Pandora memutuskan untuk mengunci dimensi Pandora sehingga tidak ada lagi kekacauan. Raja Pandora kemudian hilang begitu saja, begitupun para pengawalnya. Bahkan Venom juga tidak lagi meneror manusia dengan kekuatannya. Sebagian mempercayai bahwa penyegelan Pandora membuat kekuatan Venom terkunci, sebagian mengatakan Venom ikut tersegel bersama Pandora, sebagian lagi mengatakan Venom hanya menunggu waktu yang tepat untuk kembali melaksanakan tugasnya.

            Yang jelas, sejak hari itu manusia tidak lagi mengingat Pandora. Generasi manusia berikutnya hanya menganggap Pandora hanyalah dongeng pengantar tidur. Tapi keluarga kami, termasuk aku tahu bahwa Pandora memang ada. Kami tahu bahwa Raja Pandora dan pengawalnya, bahkan Venom kini berbaur dengan manusia. Mungkin keturunan mereka entah kapan akan memulai kembali kisah Pandora.

            Sampai hari itu dating, anggaplah bahwa ini hanya dongeng.
*
            “Dongeng yang bagus sekali.”

            Daiki, Hiroko, dan Tori melangkah pelan menyusuri jalan setapak dekat kuil. “Kau percaya Pandora itu ada?” Tanya Daiki, “Hiroko?” “Percaya tidak percaya, sih,” jawab Hiroko, “tapi sepertinya memang ada.”

            “Ck, itu cuma dongeng,” kata Tori, “mitos. Yabu saja yang berlebihan menceritakannya. Kalian kenapa malah percaya, sih?”

            “Tapi kalau ada betulan bagaimana?” tanya Daiki.

            “Kalian terlalu percaya kepada Yabu,” kata Tori, “tidak ada hal seperti itu disini. Apalagi sekarang jaman modern, mana ada monster atau negeri peri? Kau pikir kita hidup di dunian fantasi?”

            “Tapi kalau betulan bagaimana?” Hiroko bertanya.

            Tori menghela napas, dia menatap Hiroko dan menjawab, “Kalau ada aku akan menikahi salah satu dari mereka. Puas?”

            Mereka berjalan melewati turunan. Hiroko berhenti, dia segera menahan Daiki. “Dai-Chan, ayo kita cari gerbang dimensi Pandora,” kata Hiroko antusias, “aku penasaran seperti apa gerbangnya.”

            Daiki menatap Hiroko dengan dahi berkerut. “Kau percaya dengan cerita itu?” Tanya Daiki.

            Hiroko menggeleng. “Tidak terlalu percaya, sih,” katanya, “tapi biasanya dongeng seperti itu pasti dibuat berdasarkan satu tempat untuk membuat kisahnya terkesan nyata.” Hiroko menoleh, dia tidak lagi melihat Tori. Hiroko kembali menatap Daiki dan melanjutkan, “Mungkin saja memang ada batu seperti di dongeng itu. Ayo kita cari.”

            Sementara itu, Tori melangkah berbelok. “Daiki, nanti sore kau bawa tugas kelompok kita ke rumahku,” kata Tori sambil memeriksa tasnya, “kita kerjakan saja disana. Ayahku sedang tidak ada di rumah, dia ke Kyoto selama seminggu. Kau dengar, kan?”

            “Kau bicara dengan siapa?”

            Tori berhenti, dia seketika menoleh dan terkejut melihat Yuto berdiri di belakangnya, bukan Daiki dan Hiroko. Tori celingukan, dia mendengus kesal. “Sialan, jadi daritadi aku bicara sendiri,” gerutu Tori, “awas saja mereka.”

            “Jadi ayahmu ke Kyoto?”

            Krik.

            Tori terbelalak, dia terkekeh garing. ‘Mati aku,’ batinnya, ‘kalau Yuto dengar ucapanku, bisa-bisa dia bertamu dan tidak mau pulang.’ Tori menatap Yuto, dia menjawab, “Iya. Eh tapi ayahku itu cuma sebentar, kok. Biasanya nanti sore sudah pulang.”

            “Seminggu memang waktu yang singkat,” kata Yuto, dia mendorong Tori ke dinding dan menumpukan lengannya untuk menahan Tori. Sambil memasang senyum mautnya, Yuto berbisik, “Aku boleh, kan, bertamu ke rumahmu?”

            Tori tergagap, dia mendadak gugup. Yuto ini entah kenapa senang sekali mengganggunya. Sudah rahasia umum kalau Yuto memang perayu ulung, tidak ada perempuan yang bisa melepaskan diri dari rayuan mautnya. Wajah tampan, postur tubuh bak model dan kata-kata manis menjadi senjata utamanya. Tapi Tori adalah korban tetap Yuto. Entah karena Tori tidak pernah termakan rayuan Yuto jadi dia penasaran, atau karena memang Yuto yang iseng mengganggunya. “Kenapa tidak dijawab?’ Tanya Yuto sambil mendekatkan wajahnya kepada Tori, “aku boleh, kan, main ke rumahmu? Mungkin menginap semalam?”

            “Ke laut saja sana.”

            Yuto berteriak, Tori terkejut dan menoleh. Tori bernapas lega melihat Yuya sudah ada di belakang Yuto dengan memasang wajah garang. Yuto menyeringai, dia mengusap-usap kepalanya yang terkena hantaman tas Yuya. “Hai, Senpai,” sapa Yuto, “apa kabar? Sudah lama disitu?”

            “Sejak kau mencoba merayu Tori,” balas Yuya sengit, dia menarik Tori kearahnya dan meneruskan, “kalau kau berani merayunya, akan kulempar kau ke puncak Himalaya.”

            “Aku tidak merayunya,” Yuto setengah merengek, “aku hanya ingin menjaganya.”

            “Sudah ada aku yang menjaganya,” kata Yuya ketus, “kalau kau yang menjaganya, dia malah tidak aman.” Yuya mendesis kesal, dia lalu berjalan sambil menyeret Tori menjauhi Yuto yang merengut.

            Tori berjalan cepat bersama Yuya. Tori menunduk menatap tangan Yuya yang menggenggam erat tangannya. “Senpai, bisa lepaskan tanganku?” Tanya Tori, “Yuto, kan, sudah tidak ada.”

            Yuya berhenti, dia melepaskan pegangan tangannya. “Tumben kau pulang sendiri,” kata Yuya, “mana Daiki dan Hiroko?”

            “Tadi aku pulang bersama mereka, tapi tiba-tiba mereka hilang begitu saja,” jawab Tori, “mereka pasti mencari tahu soal dongeng itu. Dasar bocah.”

            “Dongeng?” Yuya mengerutkan dahi, “dongeng apa?”

            “Dongeng Pandora itu,” kata Tori, “yang sering diceritakan Yabu itu.”

            Yuya tertawa kecil, dia menepuk kepala Tori dan berkata, “Lain kali kau harus lebih teliti. Untung tadi aku lewat, kalau tidak siapa yang akan menyelamatkanmu dari buaya darat itu? Jangan membuatku khawatir, hm?”

            “Eh?” Tori agak kaget mendengar ucapan Yuya.

            “Kau itu adikku,” ujar Yuya, “memang, sih, ayahmu belum menikah dengan ibuku. Tapi kau sudah kuanggap seperti adikku sendiri. Makanya aku khawatir kalau kau kenapa-kenapa.” Yuya tersenyum, dia melangkah dan berkata, “Ayo ke rumahku. Ibuku masak kare hari ini.”

            Tori terdiam menatap Yuya yang melangkah menjauhinya. ‘Adik, ya,’ batinnya, ‘kukira kau khawatir karena kau… Ah, sudahlah.’ Tori menghela napas, dia berlari kecil mengikuti Yuya.
*
            “Kau yakin disini tempatnya?"

            “Yakin.”

            “Berdasarkan apa?”

            “Entahlah.”

            Daiki menatap Hiroko dengan ekspresi kau-itu-nekat-sekali-sih-kalau-kita-tersesat-dan-mendapat-masalah-bagaimana. Hiroko menoleh, dia berkata, “Tidak akan terjadi apa-apa, Dai-Chan. Lagipula hutan ini dekat dengan kuil, jadi kita aman.”

            Daiki dan Hiroko melangkah melewati pohon-pohon besar, mereka menoleh kesana kemari mencari batu besar yang katanya merupakan gerbang dimensi Pandora. “Dibalik kabut, di tempat dimana sinar matahari tidak bisa menembus dedaunan,” Hiroko bergumam menirukan ucapan Yabu. Dia mendongak, matanya memicing lalu kembali menatap Daiki. “Bukan disini,” katanya, “matahari masih terlihat. Kita harus masuk lebih jauh lagi.”

            “Hayoooooo!”

            Daiki dan Hiroko menjerit, mereka refleks berpelukan dan menatap kaget Ayaka dan Mio yang sudah ada disana dengan seringaian jahil. “Kalian sedang apa disini?” tanya Mio dengan tatapan jahil. “Kalian pasti mencari tempat sepi untuk berduaan, ya?” goda Ayaka, dia dan Mio lalu terkikik geli.

            “Ck, dasar otak mesum,” kata Daiki, “kami mencari batu yang katanya gerbang Pandora itu.”

            “Eh? Seperti dongeng yang diceritakan Yabu itu?” tanya Mio, “wah, kebetulan aku dan Ayaka juga mencarinya. Aku penasaran sekali dengan cerita itu.” “Tapi apa kalian yakin tempatnya disini?” tanya Ayaka, “masa kita harus masuk kesana, sih? Kalau ada binatang buas bagaimana?”

            “Tidak akan ada binatang buas,” kata Hiroko, “kalaupun ada, kita jadikan saja Mio sebagai umpan.”

            “Apa katamu?” Mio melotot, “kau saja sana jadi umpan.”

            “Daiki sajalah,” kata Ayaka, “dagingnya kan banyak.”

            “Lama-lama kalian semua yang kujadikan umpan,” sahut Daiki mulai kesal, “ayo kita cari batunya. Hari sudah semakin gelap, nih. Aku juga belum mengerjakan tugas kelompok bersama Tori.”

            “Ngomong-ngomong Tori kemana?” tanya Mio, “tumben sekali dia tidak bersama kalian.”

            “Karena hanya dia yang tidak percaya sepenuhnya dengan dongeng itu, aku memutuskan tidak mengajaknya,” jawab Hiroko, “agak menyesal juga, sih. Masalahnya dia, kan, tidak takut dengan gelap dan binatang buas, jadi harusnya aku mengajaknya.”

            “Nanti saja kalau sudah ketemu kita ajak dia kemari,” kata Daiki, “ayo.”

            Daiki berjalan paling depan, disusul Hiroko, Ayaka, dan Mio. Mereka berjalan jauh ke dalam hutan. Daiki sesekali membantu yang lain melewati jalan yang dilintasi akar pohon besar. “Berapa lama lagi kita akan berjalan?” kata Ayaka sambil menengok kesana kemari, “semakin lama semakin gelap.”

            Hiroko mendongak, dia berkata, “Artinya tidak lama lagi batunya akan ketemu. Ayo, kalau sudah ketemu kita potret dan kita tunjukkan kepada Tori.”

            “Itu apa?”

            Hiroko dan yang lain berhenti, mereka menoleh kearah Daiki. Hiroko menengok, dia terkejut melihat sebuah batu yang sangat besar menjulang di depan mereka. Ada retakan panjang di tengah batu besar itu, membuatnya tampak seperti pintu. Sulur tanaman dan lumut menyelimuti batu itu, jadi dari jauh memang tampak seperti batu biasa. “Ini ya batunya?” Mio mendekat, dia mengamati batu besar itu, “masa, sih? Kelihatannya tidak ada yang istimewa.”

            Daiki dan yang lain mendekat, mereka berjalan mengelilingi batu berharap menemukan sesuatu yang menarik disana. “Sudah kubilang ini hanya batu biasa,” kata Ayaka, “tidak ada apa-apa disini. Ayo kita pulang saja.”

            Daiki menoleh, dahinya berkerut menatap sebuah batu kecil di sisi kiri batu besar. Daiki berjongkok, dia menatap batu itu penasaran. Bentuk batu itu agak berbeda dengan batu-batu lain, bentuknya seperti segilima tak beraturan. Daiki berdiri, dia menumpukan tangannya ke batu itu dan tubuhnya hampir terjatuh karena batu itu terempas kedalam tanah. “Aw!” Daiki memekik kaget, dia meringis dan membersihkan tangannya yang kotor karena terjatuh.

            “Apa itu?”

            Daiki menoleh, dia menatap kearah batu dan terbelalak melihat ada asap keluar dari celah batu. “Jangan-jangan itu segel monsternya!” pekik Hiroko, “Dai-Chan!” Hiroko menarik Daiki menjauhi batu, mereka mendadak panik karena asap yang keluar semakin tebal menyelimuti sekeliling.

            “Telepon Tori!” kata Daiki panik, “atau..... kita lari saja!”

            “Lari kemana?! Aku tidak bisa melihat apa-apa!” teriak Mio, dia terbatuk dan mengibas-ngibaskan tangannya menghalau asap.

            Daiki menggenggam erat tangan Hiroko. “Ayaka, Mio!” panggil Hiroko, “kalian masih disana kan?”

            “Ya kau pikir kita dimana hah?!” sahut Mio kesal, “ayo kita pergi saja darisini!”

            Daiki dengan sigap menarik Hiroko menjauhi batu itu. Hiroko menarik tangan entah siapa, mereka berlari menjauhi tempat yang diselimuti asap tebal itu. Tidak ada yang menoleh, mereka hanya berlari dan berlari. Setelah agak jauh, Daiki berhenti dan berbalik memastikan tidak ada yang tertinggal. “Tidak ada yang tertinggal,” Daiki menghela napas lega, dia memeluk Hiroko dan berkata, “Astaga, kukira tadi gas beracun.”

            “Bukan gas beracun,” kata Mio, “tapi kabut.”

            Daiki dan yang lain menoleh. Daiki melongo melihat asap tadi menutupi jalan menuju batu besar tadi. “Pandora terletak dibalik kabut, kan?” kata Mio, “mungkin.... kabut itu yang dimaksud.”

            “Kita pulang saja, yuk,” Ayaka merengek, “sudah gelap, nih. Kalau kita tersesat bagaimana?”

            “Ayo pulang,” kata Hiroko, dia dan Daiki melangkah meninggalkan tempat itu. Mio dan Ayaka menyusul. Mio berhenti, dia menoleh dan menatap kabut tebal yang kini menutupi sempurna batu itu. Mio mengerutkan dahi. ‘Masa iya Pandora benar-benar ada?’ batin Mio, ‘kalau benar-benar ada, artinya Venom juga ada. Raja dan para pengawalnya juga ada. Lalu dimana mereka?’

            “Mio.”

            Mio menoleh, dia segera berlari menyusul yang lain. Daiki menatap sekilas kearah tempat tadi, dia mengendikkan bahu dan kembali berjalan meninggalkan hutan itu.

            Seorang muncul dari balik batu, dia melangkah menembus kabut. Matanya tajam memperhatikan keempat anak yang melangkah menjauhinya. Dia tersenyum, lalu berkata, “Terimakasih sudah membebaskanku. Anak-anak manis.” Sosok itu memasang senyum malaikatnya dan menoleh kearah batu besar itu. “Sekarang aku hanya perlu memulai lagi apa yang dulu dimulai oleh Tuanku. Venom, kita akan bertemu lagi, adik kecil.”
*

1 komentar:

  1. Gyaaaaaa~ berasa punya temen" anak kecil XD bawa aku ke Pandora ya !! Next next

    BalasHapus