Title : Pandora
Author : Veve
Genre : Fantasy, Comedy, Romance
Cast :
All Hey! Say! JUMP Members
Kawazoe Tori / OC
Ishihara Mio / OC
Watanabe Ayaka / OC
Fukushi Hiroko / OC
Other casts will revealed
Length : Chapter
*
Bagi
sebagian orang—dan mungkin kalian juga—kisah ini hanyalah dongeng.
Tapi
tidak untukku.
Kisah
ini diceritakan secara turun-temurun di keluargaku. Kisah yang kami percayai
sebagai kisah yang nyata. Ini kisah tentang Pandora, sebuah kerajaan yang
letaknya berdekatan dengan dunia manusia, tapi tidak bisa dilihat oleh mata
manusia biasa.
Sangat
dongeng, bukan?
Kalian
boleh pergi jika kalian menganggap kisah ini tidak menarik. Kalau kalian
berminat, aku akan menceritakan kisah ini kepada kalian.
Seperti
yang kusebutkan tadi, Pandora adalah sebuah kerajaan yang letaknya berdekatan
dengan dunia manusia, tapi tidak bisa dilihat oleh mata manusia biasa. Pandora
terletak dibalik kabut tebal, diantara pepohonan dimana sinar matahari tidak bisa
menembus dedaunan untuk menghangatkan tanah. Kalau kalian sangat teliti, disana
kalian akan menemukan sebuah batu besar dengan retakan di tengah-tengahnya. Ada
tulisan Բարի Պանդորայի (Bari Pandorayi – Armenian) yang berarti “Selamat Datang Di
Pandora.” Itulah gerbang pembatas dimensi Pandora dan dunia manusia. Sayangnya,
manusia tidak bisa masuk kesana. Menurut cerita, gerbang itu hanya bisa dibuka
oleh Raja Pandora.
Dahulu kala, Pandora dan dunia
manusia hidup berdampingan dengan damai. Pandora disebut manusia sebagai
kerajaan para peri, dimana makhluk-makhluk ajaib hidup disana. Raja Pandora
yang mengendalikan kerajaannya agar makhluk-makhluk ajaib itu tidak mengacau di
dunia manusia. Raja Pandora dibantu oleh pengawal-pengawalnya bertugas menyegel
monster-monster yang berulah di dunia manusia.
Seperti kisah klasik lainnya, di
Pandora ada sekelompok orang—mereka biasa disebut Shora—yang merasa bahwa
manusia harusnya tunduk kepada mereka. Mereka beranggapan bahwa manusia
hanyalah makhluk lemah, yang seharusnya hidup dibawah kaki Pandora. Maka, Shora
mulai melepaskan monster-monster mereka untuk mengacaukan dunia manusia.
Rencana mereka adalah saat monster mereka semakin mengacau, Shora akan muncul
bak pahlawan dan memanfaatkan situasi untuk menguasai dunia manusia.
Tapi kejahatan tidak akan pernah
bertahan lama.
Pandora mencium rencana jahat Shora.
Mereka segera turun tangan membereskan kekacauan. Agak terlambat memang, karena
saat itu manusia sudah dipeluk oleh rasa takut dan tidak aman. Para monster yang
dilepaskan Shora sudah menghancurkan sebagian dunia manusia dengan sangat
brutal, menyisakan kengerian dan jejak kegelapan disana. Pandora berusaha
menyegel para monster sekaligus mengembalikan keadaan seperti semula, walaupun
sangat sulit tapi mereka optimis keadaan akan kembali seperti semula. Raja
Pandora marah dan memutuskan menyegel Shora juga, menjaga agar mereka tidak
lagi mengacau di dunia manusia. Raja Pandora menyembunyikan segel Shora dan
monster-monsternya di Dasar Pandora, tempat yang hanya diketahui Sang Raja.
Rupanya Raja Pandora melakukan satu
kesalahan. Dia melewatkan satu orang yang justru adalah pengendali utama para
monster milik Shora. Dia adalah Venom, pelayan setia dari pemimpin Shora.
Pandora bergegas mencari Venom, tapi pelayan satu ini sangat sulit dikenali.
Dia terus menebar teror dan bersumpah akan meneruskan apa yang dilakukan
tuannya.
Melihat keadaan yang semakin tidak
terkendali, Raja Pandora memutuskan untuk mengunci dimensi Pandora sehingga
tidak ada lagi kekacauan. Raja Pandora kemudian hilang begitu saja, begitupun
para pengawalnya. Bahkan Venom juga tidak lagi meneror manusia dengan
kekuatannya. Sebagian mempercayai bahwa penyegelan Pandora membuat kekuatan
Venom terkunci, sebagian mengatakan Venom ikut tersegel bersama Pandora,
sebagian lagi mengatakan Venom hanya menunggu waktu yang tepat untuk kembali
melaksanakan tugasnya.
Yang jelas, sejak hari itu manusia
tidak lagi mengingat Pandora. Generasi manusia berikutnya hanya menganggap
Pandora hanyalah dongeng pengantar tidur. Tapi keluarga kami, termasuk aku tahu
bahwa Pandora memang ada. Kami tahu bahwa Raja Pandora dan pengawalnya, bahkan
Venom kini berbaur dengan manusia. Mungkin keturunan mereka entah kapan akan
memulai kembali kisah Pandora.
Sampai hari itu dating, anggaplah
bahwa ini hanya dongeng.
*
“Dongeng yang bagus sekali.”
Daiki, Hiroko, dan Tori melangkah
pelan menyusuri jalan setapak dekat kuil. “Kau percaya Pandora itu ada?” Tanya
Daiki, “Hiroko?” “Percaya tidak percaya, sih,” jawab Hiroko, “tapi sepertinya
memang ada.”
“Ck, itu cuma dongeng,” kata Tori,
“mitos. Yabu saja yang berlebihan menceritakannya. Kalian kenapa malah percaya,
sih?”
“Tapi kalau ada betulan bagaimana?”
tanya Daiki.
“Kalian terlalu percaya kepada
Yabu,” kata Tori, “tidak ada hal seperti itu disini. Apalagi sekarang jaman
modern, mana ada monster atau negeri peri? Kau pikir kita hidup di dunian
fantasi?”
“Tapi kalau betulan bagaimana?”
Hiroko bertanya.
Tori menghela napas, dia menatap
Hiroko dan menjawab, “Kalau ada aku akan menikahi salah satu dari mereka.
Puas?”
Mereka berjalan melewati turunan.
Hiroko berhenti, dia segera menahan Daiki. “Dai-Chan, ayo kita cari gerbang
dimensi Pandora,” kata Hiroko antusias, “aku penasaran seperti apa gerbangnya.”
Daiki menatap Hiroko dengan dahi
berkerut. “Kau percaya dengan cerita itu?” Tanya Daiki.
Hiroko menggeleng. “Tidak terlalu
percaya, sih,” katanya, “tapi biasanya dongeng seperti itu pasti dibuat
berdasarkan satu tempat untuk membuat kisahnya terkesan nyata.” Hiroko menoleh,
dia tidak lagi melihat Tori. Hiroko kembali menatap Daiki dan melanjutkan,
“Mungkin saja memang ada batu seperti di dongeng itu. Ayo kita cari.”
Sementara itu, Tori melangkah
berbelok. “Daiki, nanti sore kau bawa tugas kelompok kita ke rumahku,” kata
Tori sambil memeriksa tasnya, “kita kerjakan saja disana. Ayahku sedang tidak
ada di rumah, dia ke Kyoto selama seminggu. Kau dengar, kan?”
“Kau bicara dengan siapa?”
Tori berhenti, dia seketika menoleh
dan terkejut melihat Yuto berdiri di belakangnya, bukan Daiki dan Hiroko. Tori
celingukan, dia mendengus kesal. “Sialan, jadi daritadi aku bicara sendiri,”
gerutu Tori, “awas saja mereka.”
“Jadi ayahmu ke Kyoto?”
Krik.
Tori terbelalak, dia terkekeh
garing. ‘Mati aku,’ batinnya, ‘kalau Yuto dengar ucapanku, bisa-bisa dia
bertamu dan tidak mau pulang.’ Tori menatap Yuto, dia menjawab, “Iya. Eh tapi
ayahku itu cuma sebentar, kok. Biasanya nanti sore sudah pulang.”
“Seminggu memang waktu yang
singkat,” kata Yuto, dia mendorong Tori ke dinding dan menumpukan lengannya untuk
menahan Tori. Sambil memasang senyum mautnya, Yuto berbisik, “Aku boleh, kan,
bertamu ke rumahmu?”
Tori tergagap, dia mendadak gugup.
Yuto ini entah kenapa senang sekali mengganggunya. Sudah rahasia umum kalau
Yuto memang perayu ulung, tidak ada perempuan yang bisa melepaskan diri dari
rayuan mautnya. Wajah tampan, postur tubuh bak model dan kata-kata manis
menjadi senjata utamanya. Tapi Tori adalah korban tetap Yuto. Entah karena Tori
tidak pernah termakan rayuan Yuto jadi dia penasaran, atau karena memang Yuto
yang iseng mengganggunya. “Kenapa tidak dijawab?’ Tanya Yuto sambil mendekatkan
wajahnya kepada Tori, “aku boleh, kan, main ke rumahmu? Mungkin menginap
semalam?”
“Ke laut saja sana.”
Yuto berteriak, Tori terkejut dan
menoleh. Tori bernapas lega melihat Yuya sudah ada di belakang Yuto dengan
memasang wajah garang. Yuto menyeringai, dia mengusap-usap kepalanya yang
terkena hantaman tas Yuya. “Hai, Senpai,” sapa Yuto, “apa kabar? Sudah lama
disitu?”
“Sejak kau mencoba merayu Tori,”
balas Yuya sengit, dia menarik Tori kearahnya dan meneruskan, “kalau kau berani
merayunya, akan kulempar kau ke puncak Himalaya.”
“Aku tidak merayunya,” Yuto setengah
merengek, “aku hanya ingin menjaganya.”
“Sudah ada aku yang menjaganya,”
kata Yuya ketus, “kalau kau yang menjaganya, dia malah tidak aman.” Yuya
mendesis kesal, dia lalu berjalan sambil menyeret Tori menjauhi Yuto yang
merengut.
Tori berjalan cepat bersama Yuya.
Tori menunduk menatap tangan Yuya yang menggenggam erat tangannya. “Senpai,
bisa lepaskan tanganku?” Tanya Tori, “Yuto, kan, sudah tidak ada.”
Yuya berhenti, dia melepaskan
pegangan tangannya. “Tumben kau pulang sendiri,” kata Yuya, “mana Daiki dan
Hiroko?”
“Tadi aku pulang bersama mereka,
tapi tiba-tiba mereka hilang begitu saja,” jawab Tori, “mereka pasti mencari
tahu soal dongeng itu. Dasar bocah.”
“Dongeng?” Yuya mengerutkan dahi,
“dongeng apa?”
“Dongeng Pandora itu,” kata Tori,
“yang sering diceritakan Yabu itu.”
Yuya tertawa kecil, dia menepuk
kepala Tori dan berkata, “Lain kali kau harus lebih teliti. Untung tadi aku
lewat, kalau tidak siapa yang akan menyelamatkanmu dari buaya darat itu? Jangan
membuatku khawatir, hm?”
“Eh?” Tori agak kaget mendengar
ucapan Yuya.
“Kau itu adikku,” ujar Yuya,
“memang, sih, ayahmu belum menikah dengan ibuku. Tapi kau sudah kuanggap
seperti adikku sendiri. Makanya aku khawatir kalau kau kenapa-kenapa.” Yuya
tersenyum, dia melangkah dan berkata, “Ayo ke rumahku. Ibuku masak kare hari
ini.”
Tori terdiam menatap Yuya yang
melangkah menjauhinya. ‘Adik, ya,’ batinnya, ‘kukira kau khawatir karena kau…
Ah, sudahlah.’ Tori menghela napas, dia berlari kecil mengikuti Yuya.
*
“Kau yakin disini tempatnya?"
“Yakin.”
“Berdasarkan apa?”
“Entahlah.”
Daiki menatap Hiroko dengan ekspresi
kau-itu-nekat-sekali-sih-kalau-kita-tersesat-dan-mendapat-masalah-bagaimana.
Hiroko menoleh, dia berkata, “Tidak akan terjadi apa-apa, Dai-Chan. Lagipula
hutan ini dekat dengan kuil, jadi kita aman.”
Daiki dan Hiroko melangkah melewati
pohon-pohon besar, mereka menoleh kesana kemari mencari batu besar yang katanya
merupakan gerbang dimensi Pandora. “Dibalik kabut, di tempat dimana sinar
matahari tidak bisa menembus dedaunan,” Hiroko bergumam menirukan ucapan Yabu.
Dia mendongak, matanya memicing lalu kembali menatap Daiki. “Bukan disini,”
katanya, “matahari masih terlihat. Kita harus masuk lebih jauh lagi.”
“Hayoooooo!”
Daiki dan Hiroko menjerit, mereka
refleks berpelukan dan menatap kaget Ayaka dan Mio yang sudah ada disana dengan
seringaian jahil. “Kalian sedang apa disini?” tanya Mio dengan tatapan jahil.
“Kalian pasti mencari tempat sepi untuk berduaan, ya?” goda Ayaka, dia dan Mio
lalu terkikik geli.
“Ck, dasar otak mesum,” kata Daiki,
“kami mencari batu yang katanya gerbang Pandora itu.”
“Eh? Seperti dongeng yang
diceritakan Yabu itu?” tanya Mio, “wah, kebetulan aku dan Ayaka juga
mencarinya. Aku penasaran sekali dengan cerita itu.” “Tapi apa kalian yakin
tempatnya disini?” tanya Ayaka, “masa kita harus masuk kesana, sih? Kalau ada
binatang buas bagaimana?”
“Tidak akan ada binatang
buas,” kata Hiroko, “kalaupun ada, kita jadikan saja Mio sebagai umpan.”
“Apa katamu?” Mio melotot,
“kau saja sana jadi umpan.”
“Daiki sajalah,” kata
Ayaka, “dagingnya kan banyak.”
“Lama-lama kalian semua
yang kujadikan umpan,” sahut Daiki mulai kesal, “ayo kita cari batunya. Hari sudah
semakin gelap, nih. Aku juga belum mengerjakan tugas kelompok bersama Tori.”
“Ngomong-ngomong Tori
kemana?” tanya Mio, “tumben sekali dia tidak bersama kalian.”
“Karena hanya dia yang
tidak percaya sepenuhnya dengan dongeng itu, aku memutuskan tidak mengajaknya,”
jawab Hiroko, “agak menyesal juga, sih. Masalahnya dia, kan, tidak takut dengan
gelap dan binatang buas, jadi harusnya aku mengajaknya.”
“Nanti saja kalau sudah
ketemu kita ajak dia kemari,” kata Daiki, “ayo.”
Daiki berjalan paling
depan, disusul Hiroko, Ayaka, dan Mio. Mereka berjalan jauh ke dalam hutan. Daiki
sesekali membantu yang lain melewati jalan yang dilintasi akar pohon besar. “Berapa
lama lagi kita akan berjalan?” kata Ayaka sambil menengok kesana kemari, “semakin
lama semakin gelap.”
Hiroko mendongak, dia
berkata, “Artinya tidak lama lagi batunya akan ketemu. Ayo, kalau sudah ketemu
kita potret dan kita tunjukkan kepada Tori.”
“Itu apa?”
Hiroko dan yang lain
berhenti, mereka menoleh kearah Daiki. Hiroko menengok, dia terkejut melihat
sebuah batu yang sangat besar menjulang di depan mereka. Ada retakan panjang di
tengah batu besar itu, membuatnya tampak seperti pintu. Sulur tanaman dan lumut
menyelimuti batu itu, jadi dari jauh memang tampak seperti batu biasa. “Ini ya
batunya?” Mio mendekat, dia mengamati batu besar itu, “masa, sih? Kelihatannya
tidak ada yang istimewa.”
Daiki dan yang lain
mendekat, mereka berjalan mengelilingi batu berharap menemukan sesuatu yang
menarik disana. “Sudah kubilang ini hanya batu biasa,” kata Ayaka, “tidak ada
apa-apa disini. Ayo kita pulang saja.”
Daiki menoleh, dahinya
berkerut menatap sebuah batu kecil di sisi kiri batu besar. Daiki berjongkok,
dia menatap batu itu penasaran. Bentuk batu itu agak berbeda dengan batu-batu
lain, bentuknya seperti segilima tak beraturan. Daiki berdiri, dia menumpukan
tangannya ke batu itu dan tubuhnya hampir terjatuh karena batu itu terempas
kedalam tanah. “Aw!” Daiki memekik kaget, dia meringis dan membersihkan
tangannya yang kotor karena terjatuh.
“Apa itu?”
Daiki menoleh, dia menatap
kearah batu dan terbelalak melihat ada asap keluar dari celah batu. “Jangan-jangan
itu segel monsternya!” pekik Hiroko, “Dai-Chan!” Hiroko menarik Daiki menjauhi
batu, mereka mendadak panik karena asap yang keluar semakin tebal menyelimuti
sekeliling.
“Telepon Tori!” kata Daiki
panik, “atau..... kita lari saja!”
“Lari kemana?! Aku tidak
bisa melihat apa-apa!” teriak Mio, dia terbatuk dan mengibas-ngibaskan
tangannya menghalau asap.
Daiki menggenggam erat
tangan Hiroko. “Ayaka, Mio!” panggil Hiroko, “kalian masih disana kan?”
“Ya kau pikir kita dimana
hah?!” sahut Mio kesal, “ayo kita pergi saja darisini!”
Daiki dengan sigap menarik
Hiroko menjauhi batu itu. Hiroko menarik tangan entah siapa, mereka berlari
menjauhi tempat yang diselimuti asap tebal itu. Tidak ada yang menoleh, mereka
hanya berlari dan berlari. Setelah agak jauh, Daiki berhenti dan berbalik
memastikan tidak ada yang tertinggal. “Tidak ada yang tertinggal,” Daiki
menghela napas lega, dia memeluk Hiroko dan berkata, “Astaga, kukira tadi gas
beracun.”
“Bukan gas beracun,” kata
Mio, “tapi kabut.”
Daiki dan yang lain
menoleh. Daiki melongo melihat asap tadi menutupi jalan menuju batu besar tadi.
“Pandora terletak dibalik kabut, kan?” kata Mio, “mungkin.... kabut itu yang
dimaksud.”
“Kita pulang saja, yuk,”
Ayaka merengek, “sudah gelap, nih. Kalau kita tersesat bagaimana?”
“Ayo pulang,” kata Hiroko,
dia dan Daiki melangkah meninggalkan tempat itu. Mio dan Ayaka menyusul. Mio berhenti,
dia menoleh dan menatap kabut tebal yang kini menutupi sempurna batu itu. Mio mengerutkan
dahi. ‘Masa iya Pandora benar-benar ada?’ batin Mio, ‘kalau benar-benar ada,
artinya Venom juga ada. Raja dan para pengawalnya juga ada. Lalu dimana mereka?’
“Mio.”
Mio menoleh, dia segera
berlari menyusul yang lain. Daiki menatap sekilas kearah tempat tadi, dia
mengendikkan bahu dan kembali berjalan meninggalkan hutan itu.
Seorang muncul dari balik
batu, dia melangkah menembus kabut. Matanya tajam memperhatikan keempat anak
yang melangkah menjauhinya. Dia tersenyum, lalu berkata, “Terimakasih sudah
membebaskanku. Anak-anak manis.” Sosok itu memasang senyum malaikatnya dan menoleh
kearah batu besar itu. “Sekarang aku hanya perlu memulai lagi apa yang dulu
dimulai oleh Tuanku. Venom, kita akan bertemu lagi, adik kecil.”
*
Gyaaaaaa~ berasa punya temen" anak kecil XD bawa aku ke Pandora ya !! Next next
BalasHapus