Selasa, 09 Februari 2016

The School Lesson 04-B

 
Title : The School
Author : Veve
Genre : School, Drama
Cast :
BTS All Members
Han Jiyoo (OC)
Park Sena (OC)
Red Velvet All Members (start from Lesson 02)
And others
Length : Chapter
*
FF ini terinfluence oleh drama Jepang Shiritsu Bakaleya Koukou dan Gokusen
Mohon maaf kalo ada banyak typo
Jangan bash saya dengan pairing di FF ini :v
 Dan jangan diplagiat..... Kasihani saya *ngek
Enjoy!!!
*
 
Lesson 4
 
Hana menghela napas, dia menatap Sena dan berkata, ''Terimakasih sudah mentraktirku makan. Aku tidak pernah kemari sebelumnya.'' Hana menatap takjub dekorasi restoran masakan Perancis yang dia datangi bersama Sena, dia berkata, ''Benar-benar elegan. Kau pasti sering kemari, kan?''

''Seminggu sekali,'' jawab Sena sambil tersenyum, ''aku juga berterimakasih kau mau bercerita soal kejadian yang dialami Hoseok-ssi di bar.''

Hana tersenyum. ''Tidak kusangka kalian satu kelas dan sama-sama bertanding menjadi ketua kelas,'' kata Hana, ''Hoseok pernah jadi ketua kelas saat dia masih SD dan SMP. Dia juga sangat pintar dan menjadi kebanggaan guru-gurunya.''

Sena diam menatap Hana. ''Hoseok itu keras kepala, dia tidak bisa diatur,'' kata Hana, ''tapi dia cerdas dan bisa menjadi pemimpin yang tegas. Aku ingat dia selalu membuat kelasnya menjadi kelas unggulan. Hanya saja....'' Hana menghentikan ucapannya, dia menunduk diam.

''Hanya saja?'' tanya Sena.

''Sejak orangtua kami berpisah, dia berubah jadi tidak terkendali,'' sahut Hana, ''usaha biro perjalanan yang dirintis ayah kami bangkrut karena penipuan. Ibu kami pergi begitu saja dari rumah, dan tak lama setelah itu ayah kami tewas bunuh diri. Tidak ada yang ditinggalkan kecuali hutang yang menumpuk. Saat itu Hoseok akan menghadapi ujian kelulusan SMP dan kejadian itu sangat menghancurkan semua pertahanannya. Dia jadi pemarah, dan nilai-nilainya menurun drastis.''

Sena diam mendengarkan cerita Hana. ''Aku berhenti sekolah dan mulai bekerja, tapi Hoseok tidak kuijinkan melakukan hal sama,'' sambung Hana lagi, ''aku bekerja agar dia masih bisa sekolah, dan pelan-pelan membayar hutang ayahku. Saat pagi sampai siang aku bekerja di swalayan, setelah itu aku bekerja di tempat bimbingan belajar yang kau datangi, dan malamnya aku bekerja di bar. Awalnya memang berat, tapi aku menikmatinya. Apalagi aku melakukannya demi Hoseok. Saat dia memutuskan untuk ikut bekerja di bar, aku melarangnya tapi dia tidak mau dengar. Satu sisi aku khawatir dia akan mendapat masalah, tapi di sisi lain aku bangga dengan kedewasaannya.''

Sena masih diam mendengarkan. ''Kumohon, Sena-ssi,'' Sena terkejut saat Hana menggenggam tangannya, ''aku tidak mau Hoseok dikeluarkan dari sekolah. Kalau dia mendapat skorsing itu tidak masalah, asalkan dia tidak dikeluarkan. Hoseok akan sangat hancur kalau dia sampai dikeluarkan.''

Sena jadi bingung harus melakukan apa. ''Aku... Aku tidak tahu harus melakukan apa, Hana-ssi,'' katanya gugup, ''aku......'' Sena seketika teringat sesuatu, dia lalu bertanya, ''Siapa yang menghajar Hoseok-ssi?''

''Aku tidak tahu,'' kata Hana, ''tapi aku tahu mereka sering datang ke bar. Dan selalu bertiga.''

Sena mengangguk. ''Gamsahamnida informasinya,'' kata Sena, ''ah, akan kupanggilkan taksi untuk mengantarmu pulang, Hana-ssi. Mari.'' Mereka berdua beranjak, Sena membayar semua makanan yang dipesan dan berjalan keluar restoran. Sena menyetop sebuah taksi. ''Terimakasih sudah mau meluangkan waktu,'' kata Sena tersenyum, ''kita akan bertemu lagi di lain waktu.''

Hana mengangguk, dia tersenyum dan melambaikan tangan kepada Sena sementara taksi yang membawanya mulai bergerak. Sena menghela napas, dia mengambil ponselnya dan terkejut melihat ada 20 panggilan dari Eunkwang, pengawalnya dan 19 panggilan dari Jiyoo. ''Yabai,'' Sena terkejut, ''ya ampun aku lupa kalau aku melewatkan bimbingan belajar.'' (Yabai (bahasa Jepang) sama konotasinya dengan Omona (bahasa Korea).red) Sena berlari menuju mobilnya, dia menyetir mobil dengan kecepatan tinggi.

'Semoga aku tidak mendapat masalah,' batin Sena.
*
''MWO?!''

Jiyoo tersentak kaget mendengar teriakan Tim Bangtan. ''Mereka tidak mau mencabut laporan mereka,'' geram Yoongi, ''kurang ajar! Akan kuhajar mereka!'' Yoongi akan beranjak namun Jin menahannya. ''Kalau begini, Hoseok terancam hukuman penjara selama tiga tahun,'' kata Namjoon, ''ini tidak bisa dibiarkan! Hoseok tidak bersalah!''

''Hoseok-ssi masih dianggap bersalah karena dia bekerja di bar. Ingatlah, bekerja di bar saat usia kita masih dibawah umur juga masuk pelanggaran hukum.''

Semua menoleh kearah Sena yang berdiri di dekat pintu kelas. ''Kau jangan memperkeruh suasana!'' sentak Yoongi, ''diam saja! Jangan banyak bicara!'' ''Kau jelas senang kalau Hoseok mendapat masalah,'' sahut Jimin, ''tidak akan ada yang mengalahkanmu saat pemilihan ketua kelas nanti.''

Jiyoo berdiri dan mendekati Sena. ''Sena-ssi, kau kemana semalam?'' tanyanya, ''Eunkwang-ssi meneleponku dan memberitahu kalau kau....''

''Aku berjalan-jalan dan lupa kalau ada bimbingan belajar,'' sela Sena, ''ah, soal kasus pemukulan yang dialami Hoseok, aku ada informasi yang mungkin bisa kalian pakai.''

''Kami tidak butuh bantuanmu,'' sahut Jungkook, ''aku sendiri yang akan mencari informasi dan membebaskan Hoseok dari hukuman.''

Jiyoo menatap Sena. ''Informasi apa yang kau dapat, Sena-ssi?'' tanyanya.

''Well, aku pergi ke bar itu semalam,'' jawab Sena, ''dan darisana aku....''

''Woaaaa, kau pergi ke bar,'' sela Taehyung, ''kau juga harus dipenjara karena itu.''

''Tolong jangan menyela pembicaraan, Taehyung-ssi,'' sahut Jiyoo tegas, dia kembali menatap Sena dan berkata, ''lanjutkanlah, Sena-ssi.''

''Dari informasi yang kudapat, mereka sejak awal sudah menyukai Hana-ssi, kakak perempuan Hoseok-ssi,'' kata Sena, ''mereka sengaja membuat kejadian waktu itu seakan menjadi kesalahan Hoseok-ssi, dan melebih-lebihkan cerita. Hoseok-ssi tidak melukai satupun dari mereka, tapi mereka mengarang cerita dan menyogok kepolisian agar memenjarakan Hoseok-ssi jadi mereka bisa leluasa mendekati Hana-ssi.'' Sena menatap Tim Bangtan yang terbelalak kaget, dia melanjutkan, ''Satu-satunya cara, kita harus membuat mereka mencabut laporan itu. Jiyoo-ssi, aku ingin kau terus mendesak Kepala Sekolah untuk meringankan hukuman Hoseok-ssi. Kalian Tim Bangtan, aku tahu kalian suka berkelahi jadi kupikir tidak ada salahnya memberi mereka pelajaran. Dan aku....'' Sena menghela napas, ''....aku akan melaksanakan tes di tempat bimbingan belajar.''

Krik.

''Lama-lama kau yang kuhajar,'' gumam Jungkook kesal. Jiyoo menatap Sena, dia berkata, ''Aku akan melaksanakan rencanamu, Sena-ssi. Gamsahamnida.'' Jiyoo tersenyum senang, dia luar biasa senang saat mengetahui Sena masih membantu mereka.

''Sena-ssi, kenapa kau melakukan ini?'' tanya Wendy, ''kenapa kau melibatkan dirimu dalam masalah ini?''

''Yeorobun, ini soal kelas kita,'' kata Sena, ''kalau Hoseok-ssi dipenjara dan dikeluarkan, maka nama baik sekolah kita dan kelas kita akan tercemar. Nama baik kita juga akan tercemar. Aku tidak mau menjadi pembicaraan orang banyak. Kalian mengerti, kan?''

''Yang dikatakan Sena-ssi benar,'' kata Jiyoo, ''aku adalah ketua Dewan Murid, sudah jadi tugasku menjaga nama baik sekolah.''

''Kalian benar-benar daebak,'' puji Yeri, ''aku sangat mengagumi cara berpikir cerdas kalian.'' Yeri bertepuk tangan, gadis-gadis lain ikut bertepuk tangan memuji Jiyoo dan Sena.

Tim Bangtan melongo. ''Oh, jadi ini masih demi nama baik,'' sahut Jin, ''bukan karena persahabatan.'' ''Sahabat itu nomor sekian untuk mereka, Jin-ah,'' sahut Yoongi, ''jangan berharap banyak.''

''Arra!'' Jungkook naik ke meja dan berkata keras, ''yeorobun, ayo kita beri pelajaran orang-orang itu!''

Semua murid laki-laki bersorak menyetujui ucapan Jungkook. Jungkook melompat turun dan menghadap Sena. ''Dimana aku bisa menemuinya?'' tanya Jungkook.

''Bar,'' jawab Sena.

''Bagaimana caranya kita masuk?''

''Berjalan lewat pintu.''

Jungkook seketika sweatdrop. ''Kau itu.... Bodoh juga, ya,'' katanya, ''maksudku kita masih dibawah umur, bagaimana caranya kita masuk tanpa masalaaaaaaaah?''

Sena mengeluarkan sebuah kartu berwarna keemasan. ''Tunjukkan ini kepada penjaga di pintu masuk,'' katanya, ''kalian akan masuk tanpa masalah.''

Jungkook memperhatikan kartu itu. ''Seperti kartu kredit,'' katanya, ''darimana kau mendapatkan ini?''

''Itu milik ibuku,'' jawab Sena, ''jangan banyak bicara. Gunakan saja.''

Jungkook mengangguk. ''Kau tenang saja, Hoseok-ah,'' ucapnya penuh keyakinan, ''aku dan Tim Bangtan akan membebaskanmu. Kau tidak akan dikeluarkan dari sekolah ini, aku janji.''
*
''Eee.... Kalian mau kemana?''

''Masuk ke bar. Apa lagi?''

''Dengan pakaian seperti itu?''

Jiyoo, Leeteuk, dan Sena menatap sweatdrop Tim Bangtan yang mengenakan setelan jas berkilauan dan kacamata hitam berbingkai dengan tatanan rambut klimis. Tiga kancing atas kemeja mereka terbuka, ikat pinggang besar melingkar di pinggang dan sepatu lancip berwarna metalik terpasang di kaki mereka. ''Kalian yakin masuk dengan pakaian seperti itu?'' tanya Jiyoo, dia berusaha menahan tawa melihat penampilan norak Tim Bangtan.

''Pertanyaannya kenapa Leeteuk ada disini?'' tanya Yoongi.

''Leeteuk Seonsaengnim akan menemani Jiyoo-ssi menemui Kepala Sekolah,'' jawab Sena, ''kalian.... Ya lakukan tugas kalian, sementara aku akan menemui kepala polisi untuk membicarakan hukuman Hoseok-ssi.'' Sena menghela napas, akhirnya dia tidak bisa menahan diri dan tertawa terbahak-bahak. Jiyoo dan Leeteuk akhirnya ikut tertawa juga.

''Ya, Leeteuk-ah. Kau mentertawakan kami?'' sahut Jin.

''Apa? A... Aniya,'' jawab Leeteuk, dia menunduk dan berusaha sekuat tenaga menahan tawanya. Jiyoo juga tertawa, membuat Jungkook jadi malu setengah mati dan akhirnya membuang muka.

''Sudah sana masuk,'' kata Sena, ''jangan lupa siapkan kartunya.''

Jungkook merogoh saku celananya, seketika dia terbelalak dan berkata, ''Omo. Kartunya tidak ada.''

Senyum Sena seketika lenyap. ''Apa maksudmu tidak ada?'' tanya Sena kaget, ''Jungkook-ssi, kau tidak menghilangkannya, kan?''

''Aku menyimpannya di saku celana tadi!'' sahut Jungkook, ''kenapa tidak ada?!'' Dia dan Sena beserta Tim Bangtan seketika panik dan mencari kartu itu. ''Kalau sampai hilang, aku akan mendapat masalah,'' kata Sena, ''ibuku akan marah kalau dia tahu aku mengambil kartu itu.''

Jiyoo dan Leeteuk langsung menatap Sena. ''Sena-ssi,'' sahut Jiyoo kaget, ''kau.... Kau mencuri?''

''Aku tidak mencuri,'' sahut Sena, ''aku.... Hanya tidak sempat minta ijin.''

''Mencari ini, Sena-ssi?''

Semua menoleh, Sena terkejut melihat Eunkwang berdiri di depannya sambil menunjukkan kartu masuk bar Hormone. ''Saya menemukan ini di pintu kelas,'' kata Eunkwang, ''saya rasa ini yang Anda cari.''

Sena bernapas lega dan menyambar kartu itu. ''Astaga, kukira ini hilang,'' Sena sangat lega. Dia menatap Eunkwang dan berkata, ''Kumohon jangan beritahu Eomonim soal ini. Kau bisa menjaga rahasia, kan?''

''Kapan saya pernah mengadu kepada orangtua Anda?'' sahut Eunkwang sambil tersenyum.

Sena tersenyum, dia menatap Jungkook dan menyerahkan kartu itu. ''Jangan sampai hilang,'' kata Sena mengingatkan, ''sekarang masuklah. Ingat, mereka bisa saja melakukan hal yang sama seperti yang mereka lakukan kepada Hoseok-ssi jadi.... Yah, buat mereka tidak berkutik.''

''Serahkan kepada kami,'' kata Namjoon, ''lihatlah kehebatan Bangtan mengalahkan musuh.'' Mereka berjalan dengan gaya slengekan menuju bar.

Jiyoo menatap Sena yang masih menatap sweatdrop Bangtan. ''Sena-ssi, kau memang hebat,'' kata Jiyoo memuji, ''aku bahkan tidak bisa membuat rencana sehebat itu.'' Jiyoo menunduk dan menggumam, ''Aku ini payah, bukan?''

Sena menatap Jiyoo dan menyentuh pundak sahabatnya itu. ''Setiap orang punya kehebatannya masing-masing, Jiyoo-ssi,'' kata Sena menghibur, ''mungkin aku bisa membuat rencana, tapi aku kurang ahli bernegoisasi. Tidak sepertimu, kau mungkin tidak bisa membuat rencana, tapi kau pandai mengambil hati orang banyak.'' Sena tersenyum dan berkata, ''Kita hanya saling melengkapi, itulah persahabatan.''

Jiyoo tersenyum menatap Sena. ''Nah, kita biarkan saja mereka menjalankan rencana,'' kata Sena, ''kita harus melaksanakan tugas masing-masing. Kajja.'' Sena, Jiyoo, Leeteuk, dan Eunkwang berjalan meninggalkan area bar.
*
Jungkook menatap awas ke segala arah, mencari tiga orang yang dimaksud Sena. ''Aku tidak tahu yang mana orangnya,'' kata Jungkook, ''kalau begini bagaimana caraku menemukan mereka?'' Jungkook menoleh, dia melongo melihat Namjoon, Taehyung, dan Jimin malah menggoda hostess bar--atau lebih tepatnya mereka yang tergoda--sementara Yoongi dan Jin malah asyik mencicipi cocktail. ''Mereka tidak bisa diandalkan,'' Jungkook mengerang, dia menoleh dan melihat Hana berjalan diikuti tiga orang laki-laki. Jungkook terbelalak, dia segera beranjak dan berlari mengikuti Hana. Kelamaan kalau harus memanggil yang lain, toh mereka tidak akan memperhatikan.

Jungkook berbelok, dia melihat Hana ribut dengan tiga laki-laki itu. ''Ya!'' teriak Jungkook, ''jauhkan tangan kotor kalian dari Hana Noona!'' Jungkook menepis tangan seorang laki-laki dan melindungi Hana.

''Jungkook-ah! Kau sedang apa disini?'' tanya Hana kaget.

''Membuat orang-orang ini berhenti mengganggumu dan membebaskan Hoseok,'' kata Jungkook, dia beralih menatap tajam tiga orang itu, ''aku akan memberi kalian kesempatan untuk mencabut laporan palsu kalian terkait dengan Hoseok. Kalau kalian menolak, aku akan menggunakan cara kasar.''

Tiga orang itu tertawa mendengar ancaman Jungkook. ''Kau anak kecil jangan sok jagoan!'' sentak seorang diantara mereka, ''pulang dan minum susu sana.'' ''Kau harus cuci kaki dan tangan, lalu tidur, anak kecil,'' sahut yang lain, ''bukan berkeliaran di bar.''

''Jungkook, lari!'' kata Hana. Jungkook menatap Hana dan berkata, ''Kaulah yang harus lari!'' Jungkook menatap tiga orang itu dan menyeringai. ''Biar kuurus orang-orang ini,'' katanya.
*
Eunkwang dan Sena duduk berhadapan dengan Changmin, kepala polisi. Eunkwang menyodorkan amplop berwarna coklat kepada Changmin. Changmin mengerutkan dahi, dia menatap Sena dan berkata, ''Kau mau menyogok agar aku membebaskan temanmu, hm?''

''Bukan menyogok,'' jawab Sena, ''tolong jangan salah sangka. Uang ini hanya jaminan untuk Hoseok-ssi. Saya hanya minta polisi untuk meringankan hukumannya. Sesuai hukum, anak dibawah umur yang ketahuan berada di bar untuk alasan apapun ditahan selama satu bulan.''

''Tapi dia juga terlibat perkelahian,'' kata Changmin.

''Dia melakukannya untuk melindungi kakak perempuannya, Changmin-ssi,'' kata Sena, ''saya yakin Anda juga akan melakukan hal sama kalau Anda ada di posisinya.'' Sena tersenyum dan kembali berkata, ''Saya hanya ingin hukum berlaku adil kepada Hoseok-ssi.''
*
Jiyoo dan Leeteuk duduk berhadapan dengan Kyuhyun, kepala sekolah SMA Seolyeong II. ''Saya mohon ringankan hukumannya, Seonsaengnim,'' pinta Jiyoo, ''dia bekerja di bar untuk membiayai sekolahnya. Dia yatim piatu, tolong bantu dia. Dan dia berkelahi untuk melindungi kakaknya. Hal itu tidak bisa dikategorikan sebagai kejahatan.''

Kyuhyun menghela napas. ''Jiyoo-ssi, sesuai peraturan pelanggaran seperti itu termasuk pelanggaran berat,'' katanya, ''hukuman yang pantas adalah dengan....''

''Dia murid yang pintar,'' sela Leeteuk, ''saya mengenalnya sejak lama. Hoseok anak yang pintar, prestasinya agak turun karena dia harus bekerja untuk membiayai kehidupannya dan itu membuatnya tidak punya waktu untuk belajar.'' Leeteuk berdiri dan membungkuk seraya berkata, ''Saya mohon jangan keluarkan Hoseok dari sekolah ini.''

Jiyoo berdiri, dia juga membungkuk kepada Kyuhyun. ''Seonsaengnim, saya sebagai ketua Dewan Murid memohon untuk tidak mengeluarkan Hoseok-ssi,'' katanya, ''dan memohon untuk memberikan beasiswa kepada Hoseok-ssi.''

''Beasiswa hanya untuk anak yang berprestasi,'' kata Kyuhyun.

Jiyoo menegakkan tubuhnya dan berkata, ''Saya akan mengajukan proposal beasiswa untuk siswa yang tidak mampu kepada beberapa perusahaan dan donatur, Seonsaengnim. Ini akan jadi agenda Dewan Murid untuk memberi kesejahteraan kepada semua murid tanpa kecuali.''

Kyuhyun menatap Jiyoo dan Leeteuk bergantian, dia menghela napas dan tersenyum kecil. ''Baiklah,'' katanya, ''besok akan kuberikan surat ijin mengajukan proposal kepada beberapa perusahaan. Dan soal hukuman.... Yah, kurasa skorsing selama tiga minggu akan memberi efek jera kepada Hoseok-ssi.''

Jiyoo sangat senang dengan keputusan Kyuhyun. Dia dan Leeteuk membungkuk hormat. ''Gamsahamnida, Seonsaengnim,'' kata Jiyoo senang, ''saya permisi.'' Jiyoo dan Leeteuk keluar ruang kepala sekolah, mereka mendesah lega. ''Jiyoo-ssi, kau sangat hebat,'' kata Leeteuk, ''terimakasih atas semua bantuanmu.''

Jiyoo tersenyum. ''Seonsaengnim, ini adalah agenda saya sebagai ketua Dewan Murid,'' kata Jiyoo, ''tugas Dewan Murid adalah memastikan bahwa semua murid bisa belajar tanpa memikirkan beban apapun.''
*
Jungkook terhempas kesekian kali ke lantai. Jungkook meringis, dia berdiri dan kembali menerjang seorang laki-laki bertubuh kekar di depannya. Laki-laki itu dengan mudah menghempaskan Jungkook, dua temannya bersamaan menyerang namun Jungkook berhasil menghindar walaupun tubuhnya sakit luar biasa. Jungkook berdiri, dengan napas tersengal dia menatap tajam tiga orang itu.

''Jangan macam-macam,'' kata seorang laki-laki, ''kau pergi saja sebelum kau bernasib sama dengan temanmu itu.'' ''Kalau kau mau menyerah, kami tidak akan mengganggumu,'' sahut laki-laki kedua.

''Kalau kau mau mencabut laporanmu, kami juga tidak akan mengganggu.''

Tiga laki-laki itu menoleh dan menatap sinis Tim Bangtan yang mendekat. ''Babo,'' ucap Jin sambil membantu Jungkook, ''kenapa kau pergi begitu saja, hah?'' ''Untung kami cepat datang,'' kata Taehyung, ''nah, kita apakan orang-orang ini?'' Taehyung menggerak-gerakkan tangannya seperti melakukan pemanasan.

Tiga laki-laki itu tampak gentar melihat Tim Bangtan. ''Kami akan memberimu kesempatan kalau kau mau mencabut laporanmu dan membebaskan teman kami,'' kata Namjoon, ''tapi kalau kau tidak mau, kami akan memaksa.'' Namjoon berdehem, dan seketika sekelompok orang muncul sambil menodongkan pistol kearah tiga laki-laki itu. Namjoon mendekat, dia berkata, ''Kalian ditangkap atas tuduhan pengedaran uang palsu dan penyelundupan senjata ilegal.''

Jungkook, Hana, dan yang lain menatap bingung para polisi yang menggelandang tiga orang itu. ''Kau tahu darimana kalau mereka penjahat?'' tanya Jin.

''Well, aku hanya mengecek profil mereka tadi,'' kata Namjoon, ''meminta informasi soal mereka dari hostess yang tadi kutemui.'' Namjoon mendekat dan menggeplak keras kepala Jungkook. ''Makanya jangan sok tahu jadi orang,'' katanya ketus, ''kau pikir aku mendekati hostess itu hanya untuk menggodanya? Babo.'' Namjoon melangkah santai meninggalkan yang lain yang menatapnya dengan ekspresi melongo.
*
''Sena-ssi, chukkahamnida.''

Sena dan Jiyoo tersenyum saat para siswi di kelas memberikan buket bunga kepada Sena. ''Selamat atas terpilihnya Sena-ssi menjadi ketua kelas,'' kata Yeri, ''kami semua yakin Sena-ssi pasti bisa membawa nama baik kelas kita seperti Jiyoo-ssi.'' ''Kau benar, Yeri-ssi,'' sahut Joy, ''Jiyoo-ssi dan Sena-ssi itu sama-sama luar biasa. Mereka adalah keberuntungan untuk kelas dan sekolah kita.''

Para murid laki-laki menatap kesal tingkah para gadis, terutama Tim bangtan. Entah mereka kesal atau iri, atau mungkin kesal karena iri. ''Seperti kontes Miss Korea saja, pakai buket bunga segala,'' gumam Jimin, ''kenapa disitu tidak dituliskan 'Turut Berduka Cita' sekalian?''

Taehyung dan Namjoon menahan tawa mendengar celetukan asal Jimin. Hoseok menatap teman-temannya, dia berkata, ''Yeorobun, mianhae. Gara-gara kecerobohanku, kita kembali kalah dan mereka semakin menguasai sekolah kita. Aku benar-benar minta maaf.''

''Ya ampun, kau jahat sekali berkata begitu.''

Hoseok dan yang lain menoleh. Sena berjalan kearah Hoseok, dia berkata, ''Kau adalah wakil ketua kelas, jadi itu tidak bisa dikategorikan sebagai kekalahan, kan?''

Semua di kelas terkejut mendengar ucapan Sena. ''Hoseok-ssi adalah pemenang kedua,'' kata Sena, ''sesuai dengan peraturan, pemenang kedua akan menjadi wakil dari pemenang pertama. Maka Hoseok-ssi akan menjadi wakil ketua kelas, dan tugasnya adalah menggantikanku andaikan aku tidak hadir di kelas.''

''Sena-ssi, kukira kau menunjuk Irene-ssi menjadi wakilmu,'' kata Seulgi.

Sena tersenyum. ''Aku tidak bisa melakukannya,'' kata Sena, ''Irene-ssi tidak ikut dalam pemilihan ketua kelas. Lagipula, bukankah Hoseok-ssi pernah menjadi ketua kelas saat SMP? Tentu dia lebih berpengalaman. Aku membutuhkan bantuannya dalam mengatur kelas.'' Sena menatap Irene-ssi dan membungkuk. ''Jeosonghamnida, Irene-ssi,'' katanya, ''maaf aku tidak memilihmu menjadi wakilku.''

Irene tersenyum. ''Tidak masalah untukku,'' katanya, ''aku yakin kau membuat keputusan yang tepat.''

Hoseok menatap Sena, dia tertegun. Perlahan dia berdehem dan memasang gaya cool lalu berkata, ''Yah, pada akhirnya akulah yang berjasa membantumu mengatur kelas. Jangan khawatir, akan kuajari bagaimana cara mengatur kelas dengan baik.''

Sena tersenyum dan mengangguk. ''Terimakasih atas bantuannya, Hoseok-ssi,'' katanya sambil membungkuk, ''mari kita bekerjasama.''

Jiyoo tersenyum senang, dia sangat bahagia mendengar keputusan Sena. Dia sempat kecewa dengan keputusan awal Sena yang bersikeras akan menunjuk Irene sebagai wakilnya. Mungkin Sena tahu kalau Hoseok adalah sosok yang bisa diandalkan, makanya dia berubah pikiran.

Jungkook juga ikut senang dengan keputusan Sena. Yah, tidak apalah menjadi wakil ketua, toh dia bisa mengambil alih kekuasaan secara tidak langsung. Sama sepertinya, yang secara tidak langsung bisa mengatur Dewan Murid sesuai dengan jiwa SMA Narin.
***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar