Title : The School
Author : Veve
Genre : School, Drama
Cast :
BTS All Members
Han Jiyoo (OC)
Park Sena (OC)
Red Velvet All Members (start from Lesson 02)
And others
Length : Chapter
*
FF ini terinfluence oleh drama Jepang Shiritsu Bakaleya Koukou dan Gokusen
Mohon maaf kalo ada banyak typo
Jangan bash saya dengan pairing di FF ini :v
Dan jangan diplagiat..... Kasihani saya *ngek
Enjoy!!!
*
Lesson
5
Pagi
ini, semua murid di SMA Seolyeong disibukkan dengan persiapan perayaan 20 tahun
berdirinya Yayasan Paran, yayasan yang menaungi SMA Seolyeong. Tidak semua,
sih, hanya murid perempuan saja yang sibuk. Murid laki-laki sama sekali tidak
peduli dan tidak ada niat membantu.
Jiyoo
dan siswi perempuan kelas 2-3 sibuk membuat kolase. Sena dan Joy dengan teliti
menggunting pola di kertas, sementara Jiyoo dan yang lain menempel kertas warna
warni membentuk tulisan Paran dan beberapa foto kegiatan di SMA Seolyeong.
''Perayaan tahun ini terasa berbeda, ya,'' kata Wendy, ''ini pertama kalinya
kita merayakan ulangtahun yayasan dengan murid laki-laki.''
''Tapi....''
Seulgi menoleh, ''kelihatannya mereka tidak antusias.''
Jiyoo
dan yang lain menoleh, melihat para laki-laki malah asyik bermain kartu di
sudut kelas. Jiyoo menghela napas, dia beranjak dan melangkah mendekati mereka.
''Teman-teman, tolong bantu kami agar pekerjaan cepat selesai,'' kata Jiyoo,
''setelah membuat kolase ini kita akan berdiskusi untuk menentukan pertunjukan
apa yang akan kita tampilkan saat acara perayaan.''
''Ck,
itu acara kalian, bukan acara kami,'' kata Taehyung, ''kenapa kami harus
ikut-ikutan repot?''
''Kalian
adalah bagian dari Seolyeong dan yayasan Paran,'' jawab Jiyoo tenang, ''maka
kalian punya hak untuk berpartisipasi dalam acara.''
Jungkook
berdiri dan menghadap Jiyoo. ''Kami tidak level dengan pekerjaan kacangan
seperti itu,'' katanya, ''apa kata dunia kalau Tim Bangtan berkumpul dengan
perempuan dan membuat kerajinan tangan?'' Jungkook menatap teman-temannya dan
berkata, ''Ayo kita keluar. Kita pulang saja.''
''Tunggu,
kau belum boleh pulang,'' cegah Jiyoo, ''jam sekolah belum berakhir.''
''Like
I care,'' sahut Namjoon, dia dan teman-temannya melangkah keluar kelas.
''Ternyata
Tim Bangtan itu payah, ya.''
Ming.
Tim
Bangtan seketika menoleh kearah Sena yang masih konsentrasi menggunting pola di
kertas. ''Sudah payah, bodoh pula,'' kata Sena tanpa menoleh, ''mengerjakan
kolase seperti ini saja tidak bisa.''
''Ya!
Jaga mulutmu!'' sahut Yoongi, ''mengerjakan kolase itu hal yang sangat mudah
untuk kami!''
''Kalau
begitu kenapa kalian menolak membantu?'' Sena akhirnya menoleh, ''hanya ada dua
alasan seseorang menolak mengerjakan sesuatu. Pertama, dia sedang ada urusan
lain, dan kedua dia tidak bisa mengerjakannya. Kalian kan tidak ada urusan
apa-apa, jadi jelas kalian tidak bisa mengerjakan kolase ini.'' Sena tersenyum,
dia kembali membantu para gadis yang menahan tawa mendengar ucapan menohok Sena.
Jiyoo
menatap Jungkook dan Tim Bangtan, dia tahu ucapan Sena menjadi kartu mati untuk
mereka. Kelihatan sekali kalau harga diri mereka terusik. ''Tentu saja kami
bisa!'' sahut Jungkook, ''ayo, kita selesaikan pekerjaan mereka!'' Jungkook
mendekat dan mengusir para gadis. ''Kami akan menyelesaikannya dalam waktu
setengah jam!'' kata Jungkook penuh percaya diri, ''sana pergi. Kalian akan
melihat kehebatan kami.''
''Kami
bahkan menyelesaikan ini dalam waktu dua jam,'' kata Seulgi.
''Itu
karena kalian perempuan, dan kalian lamban,'' ejek Jungkook, ''sudah sana. Kami
akan menyelesaikannya dalam waktu setengah jam.''
Hoseok
mendekat dan merebut gunting serta kertas di tangan Sena, lalu menggunting
sesuai pola. Hoseok lalu menoleh, dia mengerutkan dahi saat Sena menatapnya
dengan tatapan apa-kau-yakin-bisa-melakukannya-secepat-itu. ''Heh, apa-apaan
tatapan itu?'' sahut Hoseok, ''sana pergi. Lihat kehebatan Tim Bangtan, dan
kalian tidak akan macam-macam lagi dengan kami.'' Hoseok mendorong Sena
menjauh, membuat gadis itu hanya menghela napas dan akhirnya menuruti Hoseok
pergi dari kelas.
''Baiklah,
kami percaya kalian bisa menyelesaikannya dengan cepat,'' kata Jiyoo sambil
tersenyum, ''terimakasih atas bantuannya.'' Jiyoo memberi salam, dia dan
teman-temannya berlalu keluar kelas.
Sepeninggal
para gadis, Tim Bangtan saling pandang bersama murid lain. ''Ya, kau yakin kita
bisa menyelesaikannya dalam waktu setengah jam?'' tanya Sungjae, ''kau tahu
sendiri aku tidak bisa membuat kolase.'' ''Kalau kita tidak bisa menyelesaikannya
sesuai target, kita yang malu,'' kata Ilhoon, ''eottokhae?''
Jungkook
berdecak. ''Kita hanya perlu menggunting dan menempel-nempel kertas seperti
ini,'' kata Jungkook sambil menunjuk kolase yang sudah setengah jadi,
''sudahlah, ayo cepat selesaikan.'' Jungkook sendiri sebenarnya tidak bisa
mengerjakan hasta karya ini, tapi dia terlanjur mengatakan akan
menyelesaikannya dalam waktu setengah jam. Pantang baginya mengingkari janji,
karena itu sangat tidak Bangtan.
''Sena-ssi,
kau sangat cerdik,'' puji Yeri, ''ucapanmu tadi berhasil membuat mereka
membantu kita.'' ''Tapi, apa kalian yakin mereka bisa menyelesaikannya dalam
waktu setengah jam?'' sahut Seulgi, ''kalau tidak bagaimana?''
''Seulgi-ssi,
tidak masalah soal itu,'' sahut Jiyoo sambil tersenyum, ''yang penting mereka
sudah mau membantu mereka, walaupun harus sedikit disentil.'' Jiyoo menatap
Sena dan tersenyum seraya berkata, ''Gamsahamnida, Sena-ssi. Kau sangat
membantu.''
Sena
hanya tersenyum dan mengangguk dengan anggun. ''Ayo kita ke kantin,'' ajak
Irene. Jiyoo menyahut dengan sopan, ''Jeosonghamnida, Irene-ssi. Tapi aku harus
mengecek persiapan kelas-kelas lain.'' Jiyoo membungkuk, dia lalu tersenyum dan
melangkah pergi. Irene menghela napas, dia berkata, ''Jiyoo-ssi benar-benar ketua
yang bertanggungjawab. Dia memilih mengecek persiapan kelas lain daripada makan
di kantin.''
''Seperti
itulah ketua ideal Seolyeong,'' sahut Wendy. Dia dan yang lain melangkah menuju
kantin sambil sesekali bercanda.
Jiyoo
melangkah menyusuri koridor sekolah. Sesekali dia berhenti dan memberi salam
sambil tersenyum kepada murid lain, lalu mengecek persiapan perayaan di kelas
lain. Jiyoo tersenyum senang melihat antusiasme para siswi Seolyeong, dan
semakin senang saat dia melihat beberapa siswa ikut membantu. Tidak semua, tapi
itu cukup menunjukkan kalau para laki-laki sudah mulai menerima kehadiran siswi
Seolyeong.
''Kyaaaa!''
Jiyoo
tersentak, dia berlari dan melihat kearah luar sekolah. Jiyoo terkejut melihat
sekumpulan siswa entah dari sekolah mana masuk sekolahnya dan mulai merusak
beberapa properti untuk perayaan. Jiyoo menoleh, dia melihat Tim Bangtan
berlari keluar kelas. Jiyoo menyadari hal buruk akan terjadi, dia segera
berlari mengikuti Tim Bangtan.
''Jangan
seenaknya merusak sekolah kami!'' teriak Namjoon sambil berlari, dia menghajar
seorang laki-laki hingga terjatuh. ''Beraninya kalian datang kemari dan
mengacau,'' geram Jungkook, ''mau apa kalian, hah?!''
''Kau
belum menjawab tantangan kami!'' sahut seorang laki-laki.
Jungkook
meludah kasar, dia berkata, ''Baiklah, akan kujawab tantangan kalian.''
Jungkook mencengkeram leher laki-laki itu dan menendangnya kuat-kuat. Jungkook
menyeringai dan berkata, ''Babo.''
Beberapa
laki-laki secara bersamaan menyerang Jungkook. Jin dan Hoseok dengan sigap
menangkis serangan. ''Dasar pengecut!'' sahut Hoseok, ''kalian hanya berani
mengeroyok! Maju satu persatu!'' Hoseok menghajar beberapa siswa, dan itu
memicu perkelahian lain. Yoongi dengan cekatan menendang lawannya, dia
menghindari beberapa pukulan dan ganti memukul lawannya dengan balok kayu.
Namjoon, Taehyung, dan Jimin kompak mengerjai lawan mereka dengan terus
berlari, dan saat lawan mereka mulai lelah Jimin dengan santai meninju muka
mereka.
Jiyoo
berlari keluar, dia disambut seorang siswi yang panik. ''Sunbaenim, mereka
berkelahi!'' sahut siswi itu ketakutan, ''apa yang harus kita lakukan?''
Jiyoo
sangat kaget melihat perkelahian di depannya ini. Keadaan sangat kacau, karya
para siswi hancur berantakan karena mereka. ''Hentikan!'' teriak Jiyoo,
''kumohon hentikan!'' Jiyoo jadi ikut panik, apalagi suaranya kecil jadi
mustahil bisa didengar Tim Bangtan.
Perkelahian
seketika berhenti saat terdengar sirine mobil dari kejauhan. Jiyoo tercengang,
dia agak bingung mendengar sirine itu. ''Polisi!'' sahut seorang laki-laki, dia
dan kawan-kawannya berlari menjauh.
Jiyoo
menghela napas lega dan mendekati Tim Bangtan yang sudah lusuh dan penuh luka.
''Kumohon jangan berkelahi,'' katanya, ''ini adalah hari bahagia, hindari
perkelahian.''
''Tapi
mereka menantang kami!'' sahut Jungkook.
''Tolak
saja,'' kata Jiyoo.
''Mwo?''
Jungkook mendengus, ''ya, kami akan terlihat lemah kalau menolak tantangan dari
sekolah lain.''
Jiyoo
mendesah kecewa, dia menoleh dan melihat Sena berjalan kearah mereka bersama
yang lain. ''Jangan berkelahi,'' kata Sena, ''ini perintah.''
''Perintah
dari siapa, hah?'' sahut Jungkook, ''ketua kelas? Aku adalah wakil Dewan Murid,
jabatanku lebih tinggi daripada kau.''
''Kalau
begitu jabatanku lebih tinggi daripada kau, Jungkook-ssi,'' sahut Jiyoo cepat,
''aku adalah ketua Dewan Murid, dan aku minta kalian tidak berkelahi selama
persiapan dan sampai festival berlangsung.'' Jiyoo menatap Jungkook yang
tertegun menatapnya. ''Jebal,'' sahut Jiyoo pelan.
''Begini
saja,'' kata Sena cepat, ''kalau kalian tidak berkelahi sampai perayaan
berlangsung, kalian boleh memakai meja kalian.''
''Terakhir
kali kau mengatakannya, tidak ada yang berubah,'' kata Jimin, ''kami tetap
tidak boleh memakai meja kami.''
''Itu
karena kalian kalah saat pertandingan, kan,'' sahut Joy, ''kalau kalian menang,
tentu meja itu sudah kalian pakai sejak awal.''
Jiyoo
menatap Tim Bangtan. ''Aku janji akan mengijinkan kalian memakai meja itu,''
katanya, ''tapi kumohon jangan berkelahi sampai perayaan berlangsung. Dan bekerjasamalah
dengan kami agar perayaan ini menjadi sukses dan meriah.'' Jiyoo membungkuk di
hadapan Tim Bangtan. ''Aku memohon kepada kalian atas nama SMA Seolyeong,''
katanya.
Sena
melirik, dia melihat Tim Bangtan, terutama Jungkook jadi bimbang dan kesal. ''Arra,
arra,'' kata Jungkook, ''kami akan bersikap baik. Tapi awas kalau kau sampai
melarang kami memakai meja itu, kupatahkan lehermu.''
Jiyoo
tersenyum, dia menatap Tim Bangtan dengan perasaan senang. ''Nah, sudah sampai
mana pekerjaan kalian?'' tanya Jiyoo mengalihkan topik.
''Itu....
Tentu saja sudah akan selesai,'' sahut Jungkook cepat, dia terkekeh gugup dan
membatin, 'Sialan, kenapa dia malah bertanya, sih?' Jungkook memasang gaya
cool, bersikap normal agar Jiyoo tidak curiga.
''Ya!
Apa yang harus kulakukan dengan potongan kertas ini?!''
Krik.
Tim
Bangtan melongo mendengar teriakan Ilhoon. Jiyoo menunduk, dia menahan tawa.
Wendy, Irene, Joy, Yeri, dan Seulgi juga menahan tawa. Hanya Sena yang diam,
tapi seulas senyum tersamar di bibirnya. ''Ilhoon babo,'' desis Jungkook, dia
salah tingkah dan buru-buru menyingkir dari hadapan para gadis. Hoseok menatap
Sena yang menatapnya dengan tatapan
sudah-kuduga-kalian-tidak-bisa-mengerjakannya, dia berdecih malu dan ikut
menyingkir bersama yang lain.
*
''Ya,
Jungkook-ah.''
''Hm.''
''Kita
mau kemana?''
''Ke
rumah Sena.''
''Dimana?''
Jungkook
berhenti, dia menatap Tim Bangtan dan terkekeh. ''Aku tidak tahu arah,''
katanya, ''lewat mana, ya?''
Tim
Bangtan sweatdrop melihat Jungkook. ''Kenapa kita harus menuruti mereka, sih?''
gerutu Taehyung, ''sekarang mereka seenaknya memerintah kita. Menyuruh kita
datang ke rumah Sena.'' ''Jangan bilang kita kesana untuk membersihkan rumah
mereka,'' kata Jimin.
''Kita
kesana demi meja kita,'' kata Jin, ''sudahlah. Tidak ada salahnya juga kita
menuruti mereka.'' Jin menyambar kertas di tangan Jungkook dan membacanya. Jin
celingukan, dia berlari mendekati seorang petugas keamanan di seberang jalan.
Jungkook dan yang lain menunggu di bawah pohon, mereka memperhatikan Jin yang
tampak mendengarkan penjelasan petugas keamanan itu. Tak lama, Jin kembali
kepada Tim Bangtan dan berkata, ''Kearah sana.''
Jin
memimpin perjalanan menuju rumah Sena. ''Woaaaa,'' Jimin mengucap takjub,
''lihat, rumah-rumahnya besar sekali. Halamannya saja seluas rumahku.'' ''Dia
putri pengawas pendidikan dan seorang aktris, jelas saja rumahnya besar,''
komentar Yoongi.
Tim
Bangtan berhenti di depan sebuah rumah megah. Pagarnya menjulang tinggi dengan
ukiran khas Eropa klasik. Halaman rumahnya diterangi lampu taman, terlihat
kolam di tengah halaman yang memberi kesan mewah pada rumah itu. ''Bahkan di
halaman saja diberi karpet merah,'' bisik Namjoon sambil menunjuk karpet yang
terbentang di jalan depan mereka. ''Maklum, anak aktris,'' balas Hoseok, mereka
berdua terkikik geli sendiri.
Jin
menekan tombol merah di sisi gerbang. Tak lama terdengar sebuah suara, 'Selamat
malam. Ada yang bisa saya bantu?'
Jungkook
meringsek dan menjawab, ''Jungkook imnida. Mana dayang setia Jiyoo itu?''
'Siapa
yang Anda maksud?'
Jin
menggeplak sadis kepala Jungkook. ''Maaf, kami mencari Park Sena,'' ucap Jin,
''kami teman-temannya, dari SMA N.... Maksudnya SMA Seolyeong.''
'Sena-ssi
masih belum pulang, Tuan. Sena-ssi masih di tempat bimbingan belajar.'
Tim
Bangtan saling pandang. ''Geu saram,'' geram Yoongi, ''dia menyuruh kita datang
cepat sedangkan dia sendiri malah belum pulang. Akan kuhajar dia nanti.''
Din
din.
Semua
menoleh, lalu menyingkir dari depan pagar. Pintu mobil terbuka, Sena muncul dan
menatap kaget Tim Bangtan. ''Astaga, kalian sudah datang,'' katanya, ''aku
bilang kita akan berkumpul jam delapan malam.''
''Ini
sudah jam delapan,'' sahut Jungkook.
Sena
menghela napas. ''Silahkan masuk,'' katanya. Sena kembali masuk mobil, dan
pagar otomatis terbuka seiring mobil Sena yang bergerak masuk. Tim Bangtan
dengan canggung mengikuti dari belakang. Seorang pelayan laki-laki berjalan dan
membukakan pintu mobil untuk Sena. ''Tadi dia bisa membuka pintu sendiri,''
gumam Taehyung, ''kenapa sekarang dibukakan?''
Sena
dan Tim Bangtan melangkah masuk rumah. Jungkook melongo takjub melihat rumah
Sena yang sangat megah. Dekorasi budaya Korea, Eropa, dan Jepang berpadu manis
di ruang utama. Sebuah foto keluarga berukuran besar terpajang di sisi kanan.
Beberapa pelayan berjajar memberi salam kepada Sena yang dibalas dengan
senyuman gadis itu. ''Masuklah, jangan sungkan,'' kata Sena, ''ayahku sedang
berkunjung ke Belanda bersama Menteri Pendidikan, dan ibuku sedang menghadiri
festival film Cannes. Jadi anggaplah rumah sendiri.'' Sena menatap seorang
pelayan dan berkata, ''Antar mereka ke ruang tengah.''
Pelayan
itu mengantar Tim Bangtan menuju ruang tengah. Saat mereka masuk, lagi-lagi
mereka takjub dengan kemegahan ruangan itu. ''Benar-benar orang kaya,'' gumam
Hoseok. Taehyung menghempaskan tubuhnya di sofa berwarna putih tulang, dia
terkekeh dan berkata, ''Ya! Sofanya empuk sekali. Seperti terbuat dari bulu
angsa.''
''Sarung
bantalnya juga lembut sekali,'' ucap Jimin, ''seperti sutra.''
Sementara
yang lain dengan norak mengomentari barang-barang disana, Jin dan Jungkook
mengamati foto-foto di meja dekat jendela. Beberapa foto menampilkan foto Sena
bersama orangtuanya, sebagian besar adalah foto Sena bersama gengnya.
''Annyeonghasseo.''
Jungkook
dan yang lain menoleh. Jimin, Hoseok, Yoongi, Taehyung, dan Namjoon langsung
bersikap cool saat melihat Jiyoo dan kelima gadis itu masuk ruang tengah.
Mereka memberi salam kepada Tim Bangtan, lalu duduk di sofa. ''Aku senang
kalian datang tepat waktu,'' kata Jiyoo sambil tersenyum, dia lalu menoleh dan
bertanya, ''dimana Sena-ssi?''
''Molla,''
jawab Jungkook, dia melompat dan duduk seperti bos di sofa menghadap para
gadis, ''ada apa kita semua disuruh kemari, hah?''
''Membahas
pertunjukan yang akan kita tampilkan saat perayaan,'' jawab Jiyoo, ''dan
Jungkook-ssi, tolong bersikaplah yang sopan. Ini rumah Sena-ssi.''
Tak
lama, Sena masuk bersama beberapa pelayan yang membawakan makanan ringan dan
minuman. Sena duduk di sofa tunggal menghadap semua temannya, dia menunggu para
pelayan keluar ruangan. ''Terimakasih kalian sudah mau datang kemari,'' kata
Sena, ''nah, mari kita mulai.''
''Aku
seperti ada di rapat para menteri,'' gumam Jimin.
''Jadi,
pertunjukan apa yang akan kita tampilkan?'' tanya Sena, ''Joy-ssi, kau ada
ide?''
''Pertunjukan
musik?'' usul Joy, ''aransemen musik yang sedikit diubah, mungkin akan
menarik.''
''Drama
panggung?'' Wendy memberi usul, ''kita bisa mengangkat kisah seperti Romeo And
Juliet atau Butterfly Lovers.''
''Hiphop!''
sahut Yoongi, disambut sorakan Jimin dan Hoseok.
''Apa
itu hiphop?'' tanya Jiyoo.
''Ck,
masa kau tidak tahu hiphop?'' sahut Yoongi, ''itu musik terkeren sepanjang
masa, lebih keren daripada musik klasik kesukaan kalian yang membosankan itu.''
''Bagaimana
kalau kolaborasi?''
Semua
mata mengarah kepada Namjoon. ''Kita akan menampilkan kolaborasi,'' kata
Namjoon, ''perpaduan klasik dan hiphop. Classical Hiphop. Eotte? Jadi semua
akan berpartisipasi?''
''Apakah
akan ada tari-tarian juga, Namjoon-ssi?'' tanya Irene.
''Bisa
dimasukkan,'' jawab Namjoon, ''tariannya juga bisa dipadukan antara tarian
klasik dan hiphop.'' Namjoon menatap Hoseok yang tampak memikirkan sesuatu.
''Hoseok-ah, kau yang akan membuat koreografinya,'' sahut Namjoon, ''ini
sekaligus menunjukkan kehebatan Tim Bangtan.''
Mendengar
itu, Hoseok dan Tim Bangtan bersemangat. ''Serahkan kepadaku,'' katanya
semangat, dia menatap sombong para gadis dan berkata, ''setelah ini kalian
semua akan memujaku habis-habisan. Lihat saja.'' Hoseok tertawa bak pahlawan,
sementara para gadis hanya menatapnya sweatdrop.
Jiyoo
dan Sena saling melirik, mereka saling tersenyum samar. ''Baiklah,'' kata
Jiyoo, ''sesuai keputusan, kita akan menampilkan perpaduan musik klasik dan
hiphop. Ini akan sangat menarik.'' Jiyoo tersenyum senang, dia menatap Tim
Bangtan lalu berkata, ''Mohon kerjasamanya.'' Jiyoo membungkukkan badan.
''Mohon
kerjasamanya,'' sahut gadis-gadis lain sambil membungkuk.
Sena
berkata, ''Silahkan nikmati hidangannya. Hanya camilan ringan, semoga kalian
suka.''
Irene
akan mengambil cookies saat Jimin mengambil stoples cookies dan memeluknya
seakan dia memiliki cookies itu sendiri. Irene melongo, dia kaget dengan ulah
Jimin. Tim Bangtan yang lain juga dengan sigap mengambil makanan yang
disediakan sambil berteriak, ''Manhi duseyoooooo.''
Sena
terkekeh kecil, dia geli melihat Tim Bangtan yang bertingkah seperti bocah
berusia lima tahun. Dia bergeser dan berbisik kepada Jiyoo, ''Seperti yang aku
duga, Jiyoo-ssi. Sangat mudah membuat mereka ikut ambil bagian dalam perayaan.
Tapi....'' Sena menatap Jiyoo, ''Jiyoo-ssi apa kau akan benar-benar membiarkan
mereka memakai meja lama mereka?''
Jiyoo
tersenyum. ''Kalau mereka memang bisa menepati janji, aku akan mengijinkan
mereka memakai meja lama mereka,'' jawabnya.
''Wae?''
''Karena
aku ingin bersikap adil kepada mereka,'' jawab Jiyoo.
Sena
menghela napas, dia mengangguk dan ikut bergabung bersama yang lain.
***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar