Kamis, 28 April 2016

The School Lesson 05-A

Title : The School
Author : Veve
Genre : School, Drama
Cast :
BTS All Members
Han Jiyoo (OC)
Park Sena (OC)
Red Velvet All Members (start from Lesson 02)
And others
Length : Chapter
*
FF ini terinfluence oleh drama Jepang Shiritsu Bakaleya Koukou dan Gokusen
Mohon maaf kalo ada banyak typo
Jangan bash saya dengan pairing di FF ini :v
 Dan jangan diplagiat..... Kasihani saya *ngek
Enjoy!!!
*

Lesson 5

Pagi ini, semua murid di SMA Seolyeong disibukkan dengan persiapan perayaan 20 tahun berdirinya Yayasan Paran, yayasan yang menaungi SMA Seolyeong. Tidak semua, sih, hanya murid perempuan saja yang sibuk. Murid laki-laki sama sekali tidak peduli dan tidak ada niat membantu.

Jiyoo dan siswi perempuan kelas 2-3 sibuk membuat kolase. Sena dan Joy dengan teliti menggunting pola di kertas, sementara Jiyoo dan yang lain menempel kertas warna warni membentuk tulisan Paran dan beberapa foto kegiatan di SMA Seolyeong. ''Perayaan tahun ini terasa berbeda, ya,'' kata Wendy, ''ini pertama kalinya kita merayakan ulangtahun yayasan dengan murid laki-laki.''

''Tapi....'' Seulgi menoleh, ''kelihatannya mereka tidak antusias.''

Jiyoo dan yang lain menoleh, melihat para laki-laki malah asyik bermain kartu di sudut kelas. Jiyoo menghela napas, dia beranjak dan melangkah mendekati mereka. ''Teman-teman, tolong bantu kami agar pekerjaan cepat selesai,'' kata Jiyoo, ''setelah membuat kolase ini kita akan berdiskusi untuk menentukan pertunjukan apa yang akan kita tampilkan saat acara perayaan.''

''Ck, itu acara kalian, bukan acara kami,'' kata Taehyung, ''kenapa kami harus ikut-ikutan repot?''

''Kalian adalah bagian dari Seolyeong dan yayasan Paran,'' jawab Jiyoo tenang, ''maka kalian punya hak untuk berpartisipasi dalam acara.''

Jungkook berdiri dan menghadap Jiyoo. ''Kami tidak level dengan pekerjaan kacangan seperti itu,'' katanya, ''apa kata dunia kalau Tim Bangtan berkumpul dengan perempuan dan membuat kerajinan tangan?'' Jungkook menatap teman-temannya dan berkata, ''Ayo kita keluar. Kita pulang saja.''

''Tunggu, kau belum boleh pulang,'' cegah Jiyoo, ''jam sekolah belum berakhir.''

''Like I care,'' sahut Namjoon, dia dan teman-temannya melangkah keluar kelas.

''Ternyata Tim Bangtan itu payah, ya.''

Ming.

Tim Bangtan seketika menoleh kearah Sena yang masih konsentrasi menggunting pola di kertas. ''Sudah payah, bodoh pula,'' kata Sena tanpa menoleh, ''mengerjakan kolase seperti ini saja tidak bisa.''

''Ya! Jaga mulutmu!'' sahut Yoongi, ''mengerjakan kolase itu hal yang sangat mudah untuk kami!''

''Kalau begitu kenapa kalian menolak membantu?'' Sena akhirnya menoleh, ''hanya ada dua alasan seseorang menolak mengerjakan sesuatu. Pertama, dia sedang ada urusan lain, dan kedua dia tidak bisa mengerjakannya. Kalian kan tidak ada urusan apa-apa, jadi jelas kalian tidak bisa mengerjakan kolase ini.'' Sena tersenyum, dia kembali membantu para gadis yang menahan tawa mendengar ucapan menohok Sena.

Jiyoo menatap Jungkook dan Tim Bangtan, dia tahu ucapan Sena menjadi kartu mati untuk mereka. Kelihatan sekali kalau harga diri mereka terusik. ''Tentu saja kami bisa!'' sahut Jungkook, ''ayo, kita selesaikan pekerjaan mereka!'' Jungkook mendekat dan mengusir para gadis. ''Kami akan menyelesaikannya dalam waktu setengah jam!'' kata Jungkook penuh percaya diri, ''sana pergi. Kalian akan melihat kehebatan kami.''

''Kami bahkan menyelesaikan ini dalam waktu dua jam,'' kata Seulgi.

''Itu karena kalian perempuan, dan kalian lamban,'' ejek Jungkook, ''sudah sana. Kami akan menyelesaikannya dalam waktu setengah jam.''

Hoseok mendekat dan merebut gunting serta kertas di tangan Sena, lalu menggunting sesuai pola. Hoseok lalu menoleh, dia mengerutkan dahi saat Sena menatapnya dengan tatapan apa-kau-yakin-bisa-melakukannya-secepat-itu. ''Heh, apa-apaan tatapan itu?'' sahut Hoseok, ''sana pergi. Lihat kehebatan Tim Bangtan, dan kalian tidak akan macam-macam lagi dengan kami.'' Hoseok mendorong Sena menjauh, membuat gadis itu hanya menghela napas dan akhirnya menuruti Hoseok pergi dari kelas.

''Baiklah, kami percaya kalian bisa menyelesaikannya dengan cepat,'' kata Jiyoo sambil tersenyum, ''terimakasih atas bantuannya.'' Jiyoo memberi salam, dia dan teman-temannya berlalu keluar kelas.

Sepeninggal para gadis, Tim Bangtan saling pandang bersama murid lain. ''Ya, kau yakin kita bisa menyelesaikannya dalam waktu setengah jam?'' tanya Sungjae, ''kau tahu sendiri aku tidak bisa membuat kolase.'' ''Kalau kita tidak bisa menyelesaikannya sesuai target, kita yang malu,'' kata Ilhoon, ''eottokhae?''

Jungkook berdecak. ''Kita hanya perlu menggunting dan menempel-nempel kertas seperti ini,'' kata Jungkook sambil menunjuk kolase yang sudah setengah jadi, ''sudahlah, ayo cepat selesaikan.'' Jungkook sendiri sebenarnya tidak bisa mengerjakan hasta karya ini, tapi dia terlanjur mengatakan akan menyelesaikannya dalam waktu setengah jam. Pantang baginya mengingkari janji, karena itu sangat tidak Bangtan.

''Sena-ssi, kau sangat cerdik,'' puji Yeri, ''ucapanmu tadi berhasil membuat mereka membantu kita.'' ''Tapi, apa kalian yakin mereka bisa menyelesaikannya dalam waktu setengah jam?'' sahut Seulgi, ''kalau tidak bagaimana?''

''Seulgi-ssi, tidak masalah soal itu,'' sahut Jiyoo sambil tersenyum, ''yang penting mereka sudah mau membantu mereka, walaupun harus sedikit disentil.'' Jiyoo menatap Sena dan tersenyum seraya berkata, ''Gamsahamnida, Sena-ssi. Kau sangat membantu.''

Sena hanya tersenyum dan mengangguk dengan anggun. ''Ayo kita ke kantin,'' ajak Irene. Jiyoo menyahut dengan sopan, ''Jeosonghamnida, Irene-ssi. Tapi aku harus mengecek persiapan kelas-kelas lain.'' Jiyoo membungkuk, dia lalu tersenyum dan melangkah pergi. Irene menghela napas, dia berkata, ''Jiyoo-ssi benar-benar ketua yang bertanggungjawab. Dia memilih mengecek persiapan kelas lain daripada makan di kantin.''

''Seperti itulah ketua ideal Seolyeong,'' sahut Wendy. Dia dan yang lain melangkah menuju kantin sambil sesekali bercanda.

Jiyoo melangkah menyusuri koridor sekolah. Sesekali dia berhenti dan memberi salam sambil tersenyum kepada murid lain, lalu mengecek persiapan perayaan di kelas lain. Jiyoo tersenyum senang melihat antusiasme para siswi Seolyeong, dan semakin senang saat dia melihat beberapa siswa ikut membantu. Tidak semua, tapi itu cukup menunjukkan kalau para laki-laki sudah mulai menerima kehadiran siswi Seolyeong.

''Kyaaaa!''

Jiyoo tersentak, dia berlari dan melihat kearah luar sekolah. Jiyoo terkejut melihat sekumpulan siswa entah dari sekolah mana masuk sekolahnya dan mulai merusak beberapa properti untuk perayaan. Jiyoo menoleh, dia melihat Tim Bangtan berlari keluar kelas. Jiyoo menyadari hal buruk akan terjadi, dia segera berlari mengikuti Tim Bangtan.

''Jangan seenaknya merusak sekolah kami!'' teriak Namjoon sambil berlari, dia menghajar seorang laki-laki hingga terjatuh. ''Beraninya kalian datang kemari dan mengacau,'' geram Jungkook, ''mau apa kalian, hah?!''

''Kau belum menjawab tantangan kami!'' sahut seorang laki-laki.

Jungkook meludah kasar, dia berkata, ''Baiklah, akan kujawab tantangan kalian.'' Jungkook mencengkeram leher laki-laki itu dan menendangnya kuat-kuat. Jungkook menyeringai dan berkata, ''Babo.''

Beberapa laki-laki secara bersamaan menyerang Jungkook. Jin dan Hoseok dengan sigap menangkis serangan. ''Dasar pengecut!'' sahut Hoseok, ''kalian hanya berani mengeroyok! Maju satu persatu!'' Hoseok menghajar beberapa siswa, dan itu memicu perkelahian lain. Yoongi dengan cekatan menendang lawannya, dia menghindari beberapa pukulan dan ganti memukul lawannya dengan balok kayu. Namjoon, Taehyung, dan Jimin kompak mengerjai lawan mereka dengan terus berlari, dan saat lawan mereka mulai lelah Jimin dengan santai meninju muka mereka.

Jiyoo berlari keluar, dia disambut seorang siswi yang panik. ''Sunbaenim, mereka berkelahi!'' sahut siswi itu ketakutan, ''apa yang harus kita lakukan?''

Jiyoo sangat kaget melihat perkelahian di depannya ini. Keadaan sangat kacau, karya para siswi hancur berantakan karena mereka. ''Hentikan!'' teriak Jiyoo, ''kumohon hentikan!'' Jiyoo jadi ikut panik, apalagi suaranya kecil jadi mustahil bisa didengar Tim Bangtan.

Perkelahian seketika berhenti saat terdengar sirine mobil dari kejauhan. Jiyoo tercengang, dia agak bingung mendengar sirine itu. ''Polisi!'' sahut seorang laki-laki, dia dan kawan-kawannya berlari menjauh.

Jiyoo menghela napas lega dan mendekati Tim Bangtan yang sudah lusuh dan penuh luka. ''Kumohon jangan berkelahi,'' katanya, ''ini adalah hari bahagia, hindari perkelahian.''

''Tapi mereka menantang kami!'' sahut Jungkook.

''Tolak saja,'' kata Jiyoo.

''Mwo?'' Jungkook mendengus, ''ya, kami akan terlihat lemah kalau menolak tantangan dari sekolah lain.''

Jiyoo mendesah kecewa, dia menoleh dan melihat Sena berjalan kearah mereka bersama yang lain. ''Jangan berkelahi,'' kata Sena, ''ini perintah.''

''Perintah dari siapa, hah?'' sahut Jungkook, ''ketua kelas? Aku adalah wakil Dewan Murid, jabatanku lebih tinggi daripada kau.''

''Kalau begitu jabatanku lebih tinggi daripada kau, Jungkook-ssi,'' sahut Jiyoo cepat, ''aku adalah ketua Dewan Murid, dan aku minta kalian tidak berkelahi selama persiapan dan sampai festival berlangsung.'' Jiyoo menatap Jungkook yang tertegun menatapnya. ''Jebal,'' sahut Jiyoo pelan.

''Begini saja,'' kata Sena cepat, ''kalau kalian tidak berkelahi sampai perayaan berlangsung, kalian boleh memakai meja kalian.''

''Terakhir kali kau mengatakannya, tidak ada yang berubah,'' kata Jimin, ''kami tetap tidak boleh memakai meja kami.''

''Itu karena kalian kalah saat pertandingan, kan,'' sahut Joy, ''kalau kalian menang, tentu meja itu sudah kalian pakai sejak awal.''

Jiyoo menatap Tim Bangtan. ''Aku janji akan mengijinkan kalian memakai meja itu,'' katanya, ''tapi kumohon jangan berkelahi sampai perayaan berlangsung. Dan bekerjasamalah dengan kami agar perayaan ini menjadi sukses dan meriah.'' Jiyoo membungkuk di hadapan Tim Bangtan. ''Aku memohon kepada kalian atas nama SMA Seolyeong,'' katanya.

Sena melirik, dia melihat Tim Bangtan, terutama Jungkook jadi bimbang dan kesal. ''Arra, arra,'' kata Jungkook, ''kami akan bersikap baik. Tapi awas kalau kau sampai melarang kami memakai meja itu, kupatahkan lehermu.''

Jiyoo tersenyum, dia menatap Tim Bangtan dengan perasaan senang. ''Nah, sudah sampai mana pekerjaan kalian?'' tanya Jiyoo mengalihkan topik.

''Itu.... Tentu saja sudah akan selesai,'' sahut Jungkook cepat, dia terkekeh gugup dan membatin, 'Sialan, kenapa dia malah bertanya, sih?' Jungkook memasang gaya cool, bersikap normal agar Jiyoo tidak curiga.

''Ya! Apa yang harus kulakukan dengan potongan kertas ini?!''

Krik.

Tim Bangtan melongo mendengar teriakan Ilhoon. Jiyoo menunduk, dia menahan tawa. Wendy, Irene, Joy, Yeri, dan Seulgi juga menahan tawa. Hanya Sena yang diam, tapi seulas senyum tersamar di bibirnya. ''Ilhoon babo,'' desis Jungkook, dia salah tingkah dan buru-buru menyingkir dari hadapan para gadis. Hoseok menatap Sena yang menatapnya dengan tatapan sudah-kuduga-kalian-tidak-bisa-mengerjakannya, dia berdecih malu dan ikut menyingkir bersama yang lain.
*
''Ya, Jungkook-ah.''

''Hm.''

''Kita mau kemana?''

''Ke rumah Sena.''

''Dimana?''

Jungkook berhenti, dia menatap Tim Bangtan dan terkekeh. ''Aku tidak tahu arah,'' katanya, ''lewat mana, ya?''

Tim Bangtan sweatdrop melihat Jungkook. ''Kenapa kita harus menuruti mereka, sih?'' gerutu Taehyung, ''sekarang mereka seenaknya memerintah kita. Menyuruh kita datang ke rumah Sena.'' ''Jangan bilang kita kesana untuk membersihkan rumah mereka,'' kata Jimin.

''Kita kesana demi meja kita,'' kata Jin, ''sudahlah. Tidak ada salahnya juga kita menuruti mereka.'' Jin menyambar kertas di tangan Jungkook dan membacanya. Jin celingukan, dia berlari mendekati seorang petugas keamanan di seberang jalan. Jungkook dan yang lain menunggu di bawah pohon, mereka memperhatikan Jin yang tampak mendengarkan penjelasan petugas keamanan itu. Tak lama, Jin kembali kepada Tim Bangtan dan berkata, ''Kearah sana.''

Jin memimpin perjalanan menuju rumah Sena. ''Woaaaa,'' Jimin mengucap takjub, ''lihat, rumah-rumahnya besar sekali. Halamannya saja seluas rumahku.'' ''Dia putri pengawas pendidikan dan seorang aktris, jelas saja rumahnya besar,'' komentar Yoongi.

Tim Bangtan berhenti di depan sebuah rumah megah. Pagarnya menjulang tinggi dengan ukiran khas Eropa klasik. Halaman rumahnya diterangi lampu taman, terlihat kolam di tengah halaman yang memberi kesan mewah pada rumah itu. ''Bahkan di halaman saja diberi karpet merah,'' bisik Namjoon sambil menunjuk karpet yang terbentang di jalan depan mereka. ''Maklum, anak aktris,'' balas Hoseok, mereka berdua terkikik geli sendiri.

Jin menekan tombol merah di sisi gerbang. Tak lama terdengar sebuah suara, 'Selamat malam. Ada yang bisa saya bantu?'

Jungkook meringsek dan menjawab, ''Jungkook imnida. Mana dayang setia Jiyoo itu?''

'Siapa yang Anda maksud?'

Jin menggeplak sadis kepala Jungkook. ''Maaf, kami mencari Park Sena,'' ucap Jin, ''kami teman-temannya, dari SMA N.... Maksudnya SMA Seolyeong.''

'Sena-ssi masih belum pulang, Tuan. Sena-ssi masih di tempat bimbingan belajar.'

Tim Bangtan saling pandang. ''Geu saram,'' geram Yoongi, ''dia menyuruh kita datang cepat sedangkan dia sendiri malah belum pulang. Akan kuhajar dia nanti.''

Din din.

Semua menoleh, lalu menyingkir dari depan pagar. Pintu mobil terbuka, Sena muncul dan menatap kaget Tim Bangtan. ''Astaga, kalian sudah datang,'' katanya, ''aku bilang kita akan berkumpul jam delapan malam.''

''Ini sudah jam delapan,'' sahut Jungkook.

Sena menghela napas. ''Silahkan masuk,'' katanya. Sena kembali masuk mobil, dan pagar otomatis terbuka seiring mobil Sena yang bergerak masuk. Tim Bangtan dengan canggung mengikuti dari belakang. Seorang pelayan laki-laki berjalan dan membukakan pintu mobil untuk Sena. ''Tadi dia bisa membuka pintu sendiri,'' gumam Taehyung, ''kenapa sekarang dibukakan?''

Sena dan Tim Bangtan melangkah masuk rumah. Jungkook melongo takjub melihat rumah Sena yang sangat megah. Dekorasi budaya Korea, Eropa, dan Jepang berpadu manis di ruang utama. Sebuah foto keluarga berukuran besar terpajang di sisi kanan. Beberapa pelayan berjajar memberi salam kepada Sena yang dibalas dengan senyuman gadis itu. ''Masuklah, jangan sungkan,'' kata Sena, ''ayahku sedang berkunjung ke Belanda bersama Menteri Pendidikan, dan ibuku sedang menghadiri festival film Cannes. Jadi anggaplah rumah sendiri.'' Sena menatap seorang pelayan dan berkata, ''Antar mereka ke ruang tengah.''

Pelayan itu mengantar Tim Bangtan menuju ruang tengah. Saat mereka masuk, lagi-lagi mereka takjub dengan kemegahan ruangan itu. ''Benar-benar orang kaya,'' gumam Hoseok. Taehyung menghempaskan tubuhnya di sofa berwarna putih tulang, dia terkekeh dan berkata, ''Ya! Sofanya empuk sekali. Seperti terbuat dari bulu angsa.''

''Sarung bantalnya juga lembut sekali,'' ucap Jimin, ''seperti sutra.''

Sementara yang lain dengan norak mengomentari barang-barang disana, Jin dan Jungkook mengamati foto-foto di meja dekat jendela. Beberapa foto menampilkan foto Sena bersama orangtuanya, sebagian besar adalah foto Sena bersama gengnya.

''Annyeonghasseo.''

Jungkook dan yang lain menoleh. Jimin, Hoseok, Yoongi, Taehyung, dan Namjoon langsung bersikap cool saat melihat Jiyoo dan kelima gadis itu masuk ruang tengah. Mereka memberi salam kepada Tim Bangtan, lalu duduk di sofa. ''Aku senang kalian datang tepat waktu,'' kata Jiyoo sambil tersenyum, dia lalu menoleh dan bertanya, ''dimana Sena-ssi?''

''Molla,'' jawab Jungkook, dia melompat dan duduk seperti bos di sofa menghadap para gadis, ''ada apa kita semua disuruh kemari, hah?''

''Membahas pertunjukan yang akan kita tampilkan saat perayaan,'' jawab Jiyoo, ''dan Jungkook-ssi, tolong bersikaplah yang sopan. Ini rumah Sena-ssi.''

Tak lama, Sena masuk bersama beberapa pelayan yang membawakan makanan ringan dan minuman. Sena duduk di sofa tunggal menghadap semua temannya, dia menunggu para pelayan keluar ruangan. ''Terimakasih kalian sudah mau datang kemari,'' kata Sena, ''nah, mari kita mulai.''

''Aku seperti ada di rapat para menteri,'' gumam Jimin.

''Jadi, pertunjukan apa yang akan kita tampilkan?'' tanya Sena, ''Joy-ssi, kau ada ide?''

''Pertunjukan musik?'' usul Joy, ''aransemen musik yang sedikit diubah, mungkin akan menarik.''

''Drama panggung?'' Wendy memberi usul, ''kita bisa mengangkat kisah seperti Romeo And Juliet atau Butterfly Lovers.''

''Hiphop!'' sahut Yoongi, disambut sorakan Jimin dan Hoseok.

''Apa itu hiphop?'' tanya Jiyoo.

''Ck, masa kau tidak tahu hiphop?'' sahut Yoongi, ''itu musik terkeren sepanjang masa, lebih keren daripada musik klasik kesukaan kalian yang membosankan itu.''

''Bagaimana kalau kolaborasi?''

Semua mata mengarah kepada Namjoon. ''Kita akan menampilkan kolaborasi,'' kata Namjoon, ''perpaduan klasik dan hiphop. Classical Hiphop. Eotte? Jadi semua akan berpartisipasi?''

''Apakah akan ada tari-tarian juga, Namjoon-ssi?'' tanya Irene.

''Bisa dimasukkan,'' jawab Namjoon, ''tariannya juga bisa dipadukan antara tarian klasik dan hiphop.'' Namjoon menatap Hoseok yang tampak memikirkan sesuatu. ''Hoseok-ah, kau yang akan membuat koreografinya,'' sahut Namjoon, ''ini sekaligus menunjukkan kehebatan Tim Bangtan.''

Mendengar itu, Hoseok dan Tim Bangtan bersemangat. ''Serahkan kepadaku,'' katanya semangat, dia menatap sombong para gadis dan berkata, ''setelah ini kalian semua akan memujaku habis-habisan. Lihat saja.'' Hoseok tertawa bak pahlawan, sementara para gadis hanya menatapnya sweatdrop.

Jiyoo dan Sena saling melirik, mereka saling tersenyum samar. ''Baiklah,'' kata Jiyoo, ''sesuai keputusan, kita akan menampilkan perpaduan musik klasik dan hiphop. Ini akan sangat menarik.'' Jiyoo tersenyum senang, dia menatap Tim Bangtan lalu berkata, ''Mohon kerjasamanya.'' Jiyoo membungkukkan badan.

''Mohon kerjasamanya,'' sahut gadis-gadis lain sambil membungkuk.

Sena berkata, ''Silahkan nikmati hidangannya. Hanya camilan ringan, semoga kalian suka.''

Irene akan mengambil cookies saat Jimin mengambil stoples cookies dan memeluknya seakan dia memiliki cookies itu sendiri. Irene melongo, dia kaget dengan ulah Jimin. Tim Bangtan yang lain juga dengan sigap mengambil makanan yang disediakan sambil berteriak, ''Manhi duseyoooooo.''

Sena terkekeh kecil, dia geli melihat Tim Bangtan yang bertingkah seperti bocah berusia lima tahun. Dia bergeser dan berbisik kepada Jiyoo, ''Seperti yang aku duga, Jiyoo-ssi. Sangat mudah membuat mereka ikut ambil bagian dalam perayaan. Tapi....'' Sena menatap Jiyoo, ''Jiyoo-ssi apa kau akan benar-benar membiarkan mereka memakai meja lama mereka?''

Jiyoo tersenyum. ''Kalau mereka memang bisa menepati janji, aku akan mengijinkan mereka memakai meja lama mereka,'' jawabnya.

''Wae?''

''Karena aku ingin bersikap adil kepada mereka,'' jawab Jiyoo.

Sena menghela napas, dia mengangguk dan ikut bergabung bersama yang lain.
***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar