Title : The School
Author : Veve
Genre : School, Drama
Cast :
BTS All Members
Han Jiyoo (OC)
Park Sena (OC)
Red Velvet All Members (start from Lesson 02)
And others
Length : Chapter
*
FF ini terinfluence oleh drama Jepang Shiritsu Bakaleya Koukou dan Gokusen
Mohon maaf kalo ada banyak typo
Jangan bash saya dengan pairing di FF ini :v
Dan jangan diplagiat..... Kasihani saya *ngek
Enjoy!!!
*
Lesson
4
''Annyeonghasseo.''
Para murid perempuan
saling memberi salam dan tersenyum ramah saat bertemu di koridor sekolah. Jiyoo
dan Sena berjalan berdampingan, mereka berhenti dan memberi salam kepada setiap
murid yang mereka temui di koridor. ''Jiyoo Sunbaenim, selamat atas keberhasilanmu
menjabat sebagai ketua Dewan Murid,'' ucap seorang siswi kelas dua, ''aku harap
Jiyoo Sunbaenim bisa semakin menaikkan nama baik SMA Seolyeong II ini.''
Jiyoo tersenyum manis.
''Gamsahamnida,'' katanya, ''terimakasih atas pujianmu. Aku akan berusaha keras
agar sekolah kita bisa menjadi sekolah dengan kualitas yang baik.'' Jiyoo dan
Sena memberi salam kepada siswi itu, mereka kembali berjalan. ''Semua anak
sangat senang kau kembali menjabat menjadi ketua Dewan Murid, Jiyoo-ssi,'' kata
Sena, ''tapi kenapa kau memilih Jungkook-ssi menjadi wakilmu? Apa kau tidak
takut dia justru akan menurunkan kualitas organisasi?''
Jiyoo tersenyum dan
menatap Sena. ''Aku hanya ingin berlaku adil, Sena-ssi,'' jawab Jiyoo,
''bukankah saat ada dua kandidat dalam pemilihan, maka pemenang kedua akan
menjadi wakil pemenang pertama? Jungkook-ssi adalah juara kedua, maka aku
memilihnya menjadi wakilku.'' Jiyoo menghela napas. ''Lagipula ini adalah
sekolahnya, SMA Narin,'' kata Jiyoo lagi, ''dia juga punya hak, bahkan harus ikut
serta dalam peningkatan kualitas sekolah. Aku benar, kan?''
Sena mengangguk mantap.
''Geurae, kau benar sekali, Jiyoo-ssi,'' katanya, ''kau benar-benar sangat
hebat. Pemikiranmu betul-betul dewasa, tidak heran pihak sekolah selalu
menjadikanmu ketua.'' Jiyoo tersenyum mendengar pujian Sena, dia berkata,
''Gamsahamnida, Sena-ssi. Kau sangat senang memujiku. Kajja, kita ke kelas.''
Jiyoo dan Sena ke kelas, mereka serempak berucap, ''Annyeonghasseo, yeorobun.''
Kedua gadis itu memberi salam, disahut salam yang sama dari siswi-siswi lain di
kelas.
Jiyoo menoleh, dia
tersenyum dan mendekat kearah Tim Bangtan. ''Annyeonghasseo,'' sapa Jiyoo
sambil memberi salam, dia menoleh dan berkata, ''Taehyung-ssi, aku senang kau
sudah kembali ke sekolah. Bagaimana keadaanmu?''
''Baik,'' sahut
Taehyung cuek, dia lalu menatap Sena. Taehyung menatap Jin yang mengangguk
singkat, dia lalu berdiri dan menatap Jiyoo. ''Jiyoo-ah, aku.... Jin memaksaku
mengucapkan terimakasih,'' kata Taehyung, ''padahal sebenarnya ini adalah bagian
dari tugas kalian untuk mengungkap pelaku aslinya. Jadi.... Gomawo.'' Taehyung
mendekat kearah Sena yang menatapnya heran, dia menggaruk gugup tengkuknya dan
berkata, ''Mian sudah menyalahkanmu atas kejadian waktu itu. Dan... Gomawo.''
Jiyoo tersenyum, dia
melangkah kearah Taehyung dan Sena seraya berkata, ''Gwaenchanha, Taehyung-ssi.
Kau adalah teman kami, sudah tugas kami untuk menjagamu. Bukankah sesama teman
harus saling menjaga?'' Jiyoo menatap Sena, dia berkata, ''Kau juga sudah
memaafkannya, kan, Sena-ssi?''
''Um.... Yah, karena
dia sudah minta maaf maka aku memaafkannya,'' kata Sena, dia tersenyum kepada
Taehyung.
''Ya, tapi tidak
berarti kalian menjadi teman kami,'' sahut Jungkook cepat, ''kami Tim Bangtan
anti berteman dengan perempuan.'' ''Itu benar sekali,'' sahut Taehyung cepat,
dia melesat dan merangkul Jungkook menandakan kalau dia mendukung Jungkook,
''berteman dengan perempuan sangat tidak Bangtan.'' Taehyung dan Jungkook
bersikap seakan mereka adalah pemenang, sementara Sena hanya melongo dan Jiyoo
masih tersenyum. ''Mari kita siapkan pelajaran, Sena-ssi,'' kata Jiyoo. Sena
mengangguk, mereka duduk dan mulai menyiapkan pelajaran.
Bel berbunyi. Tak lama,
Leeteuk masuk kelas sambil membawa setumpuk kertas. ''Berdiri,'' Jiyoo memberi
perintah, ''beri salam.'' Serempak para gadis membungkuk dan mengucap,
''Annyeonghasimnikka, Seonsaengnim.''
Leeteuk tersenyum,
jujur saja dia masih sedikit gugup kalau berhadapan dengan murid perempuannya.
Dulu, kan, tidak begini. Ada yang menyadari kehadirannya di kelas saja sudah
bagus. ''Nah, sebelum kita mulai pelajarannya,'' kata Leeteuk, ''aku ingin
mengumumkan sesuatu. Akan diadakan pemilihan ketua kelas minggu depan. Aku
ingin ada dua calon yang maju untuk pemilihan, dan seperti biasa sistem pemilihan
menggunakan suara terbanyak.''
''Seonsaengnim,''
Seulgi mengacungkan tangan, ''saya dan teman-teman sepakat mencalonkan
Jiyoo-ssi sebagai ketua.'' Ucapan Seulgi diiyakan siswi lain, sementara Jiyoo
hanya tersenyum menanggapi ucapan temannya itu.
''Wooaaaa, tidak
bisa!'' sahut Jungkook sambil berdiri, dia mengacungkan pemukul plastik kearah
Seulgi, ''kenapa harus dia lagi? Serakah sekali dia, sudah menjadi ketua Dewan
Murid masih mau menjabat sebagai ketua kelas. Aniya! Aku tidak setuju!''
''Kalian tidak punya calon lain selain Jiyoo, ya?'' sahut Jimin, ''babo. Payah.
Apa cuma Jiyoo yang bisa menjabat sebagai ketua di sekolah kalian?'' ''Lagipula
kalian perempuan, mana boleh jadi ketua?'' sahut Taehyung, ''kali ini laki-laki
yang akan maju.''
''Apa kau tidak
mendengarkan kata-kata Leeteuk Seonsaengnim?'' sahut Irene, ''kelas akan
mencalonkan dua orang. Kalau kalian punya calon yang sesuai, kalian ajukan
saja.''
Jiyoo diam sejenak, dia
lalu mengacungkan tangan dan berkata, ''Seonsaengnim, saya ingin mengajukan
Sena-ssi menjadi calon ketua kelas.''
Sena menoleh kearah
Jiyoo. ''Jiyoo-ssi, aku tidak bisa menjadi ketua,'' kata Sena, ''ah, bagaimana
kalau Irene-ssi saja yang menjadi calon ketua kelas? Bukankah dia sudah pernah
menjabat sebagai pengurus kelas?''
''Sama sekali tidak
kompak,'' komentar Jin. Jungkook langsung berkata, ''Leeteuk-ah, aku mengajukan
Hoseok sebagai ketua kelas!''
Ucapan Jungkook
disambut sorakan siswa-siswa yang lain. Hoseok melongo sejenak, dia lalu naik
ke meja dan berpose penuh kemenangan. ''Aku akan menjadi ketua kelas!'' katanya
percaya diri, ''kalau aku jadi ketua kelas, aku akan membuat kelas ini menjadi
berwarna!''
''YEAAAH! ALL HAIL
HOSEOK!'' yang lain bersorak.
''Sena-ssi, kau saja
yang menjadi ketua kelas,'' kata Yeri, ''kau sangat tegas seperti Jiyoo-ssi.''
''Yeri-ssi benar, Sena-ssi,'' sambung Joy, ''selama ini kau banyak membuat
keputusan yang sangat membantu kemajuan sekolah dan selalu mendampingi
Jiyoo-ssi. Kau pasti bisa mengatur kelas agar menjadi kelas yang baik.''
Sena menatap Jiyoo, dan
Jiyoo tersenyum sambil mengangguk. Sena menatap Leeteuk, dia berkata, ''Saya
yang akan maju menjadi calon ketua kelas mewakili teman-teman saya,
Seonsaengnim.''
Semua siswi bertepuk
tangan mendengar ucapan Sena. Jiyoo tersenyum, dia senang akhirnya Sena
menyerah dan mau ditunjuk menjadi pengurus kelas. Selama ini Sena selalu
menolak menjadi pengurus organisasi, walaupun kenyataannya dia sering ikut
campur dalam kepengurusan organisasi kelas maupun Dewan Murid. Sena beranjak
dan mendekati Hoseok, dia tersenyum sembari mengulurkan tangannya. ''Mari
bertanding secara sportif,'' katanya, ''Jung Hoseok-ssi.''
''Aaaah, aku selalu
sportif,'' kata Hoseok sambil melipat tangannya di dada alih-alih menyalami
Sena, ''kau siapkan saja mentalmu, jangan menangis kalau kukalahkan.'' Hoseok
menatap Sena dengan tatapan
aku-tidak-akan-kalah-darimu-karena-aku-adalah-Bangtan, sedangkan Sena masih
saja tersenyum.
''Baiklah,'' kata
Leeteuk membuyarkan aura permusuhan dari mereka--Tim Bangtan saja, sih, yang
menguarkan aura itu--, ''Jiyoo-ssi, tolong kau absen murid-murid.''
*
''Anda sangat hebat,
Sena-ssi,'' ucap Yuri, pemilik butik langganan Sena dan Jiyoo, ''menjadi ketua
kelas di SMA Seolyeong, itu jabatan yang bagus. Kau pasti bisa membawa kelasmu
menjadi kelas terbaik di Seolyeong.''
‘'Terimakasih, Yuri-ssi,'' jawab Sena sambil tersenyum, ''berapa harga rok ini?''
''500 ribu won (setara
5 juta rupiah),'' jawab Yuri.
Sena menyerahkan kartu
kreditnya. Setelah beberapa saat, Sena menerima kartu kreditnya beserta rok
pilihannya. Sena berjalan keluar butik, dia masuk mobilnya dan meletakkan tas
belanjaan di jok belakang. Sena menyetir mobilnya menjauhi butik, dia menyetir
dengan kecepatan sedang di jalanan yang lumayan ramai. Sejak SMP Sena sudah
bisa menyetir mobil sendiri, tapi dia baru benar-benar diijinkan menyetir mobil
saat masuk SMA. Sena tidak suka memakai supir, karena kadang-kadang supir suka
menyebalkan. Sena menoleh, dia memperhatikan jalanan dan melihat Hoseok masuk
ke sebuah bar.
Eh.
Apa?
Sena menoleh cepat, dia
lantas menepikan mobil dan memarkirnya di tepi jalan. Sena keluar mobil, dia
berjalan cepat menuju sebuah bar bernama Hormone. Sena akan masuk, tapi
kemudian dia berhenti dan mundur selangkah. 'Kalau aku masuk, aku akan membuat
masalah,' batin Sena, 'lagipula aku bisa saja salah lihat.' Sena berbalik, dia
kembali masuk mobilnya dan menyetirnya menjauhi tempat itu.
*
Tim Bangtan dan Jiyoo
masuk ke ruang guru, mereka segera mendekati Leeteuk yang berhadapan dengan dua
anggota kepolisian. ''Leeteuk-ah, ada apa lagi ini?'' tanya Jin, ''dan... Ya
ampun kalian lagi. Mau apa kalian kemari, hah?''
''Kalian tenanglah,''
Leeteuk berusaha menenangkan Tim Bangtan. ''Seonsaengnim, apa ada masalah
lagi?'' tanya Jiyoo, dia menatap dua polisi itu dan kembali bertanya, ''apa ada
masalah?''
''Teman kalian yang
bernama Jung Hoseok ditahan polisi atas kasus pemukulan di bar semalam,'' jawab
seorang polisi, ''dia berkelahi dengan beberapa pengunjung bar.'' ''Dan dari
kejadian itu kami mengetahui kalau dia bekerja di bar itu,'' kata Leeteuk,
''kami.... Pihak sekolah memutuskan menskors Hoseok sambil mempertimbangkan
keputusan terbaik. Kalau dia terbukti bersalah, dia akan dikeluarkan.''
''Tidak bisa begitu!''
Jungkook menggebrak meja mengejutkan yang lain, ''jangan sembarangan
mengeluarkan murid tanpa tahu alasan dibalik tindakannya!''
''Jungkook-ssi,
tenanglah,'' tegur Jiyoo, dia menatap Leeteuk dan berkata, ''apa pihak sekolah
sudah mengkonfirmasi hal ini kepada Hoseok-ssi? Maksud saya, sebaiknya Anda menemui
Hoseok-ssi terlebih dulu, atau keluarganya untuk membahas masalah ini. Setelah
itu baru bisa diambil keputusan dia bersalah atau tidak.''
''Ya, tumben kau
membela kami,'' sahut Yoongi, ''biasanya kau paling senang melihat kami
dihukum.'' ''Kau salah minum obat, ya?'' tanya Namjoon, ''atau kau terkena
hipnotis?''
Sena diam mendengarkan
dari balik pintu. Berarti benar apa yang dia lihat semalam. Itu adalah Hoseok.
Tapi untuk apa dia bekerja di bar? Memangnya tidak ada tempat lain yang lebih
layak untuk bekerja? Sena mengintip, dia melihat Jiyoo dan Jungkook masih
berdebat bersama Leeteuk dan dua polisi itu lalu melangkah cepat menuju kelas.
''Kalau skorsing untuk
pemukulan itu, saya setuju,'' kata Jiyoo, ''tapi kita juga harus tahu alasan
dibalik tindakannya. Kita tidak bisa sembarangan menghukum seseorang tanpa
mempertimbangkan maksud dia melakukan itu.'' ''Dia benar,'' sahut Jungkook,
''apalagi kalau sampai dikeluarkan, aku bersumpah akan mengobrak-abrik kantor
ini.'' Jungkook menarik Jiyoo, dia dan yang lain keluar ruang guru.
''Jiyoo-ah,'' kata Jungkook, ''gomawo sudah membela Hoseok. Tapi itu tidak
berarti kita berteman, ya. Kau masih musuh kami.''
Mereka semua kembali ke
kelas. ''Yeorobun, aku ingin bicara,'' kata Jiyoo, ''sebagai ketua Dewan Murid
aku ingin mencari dukungan untuk Hoseok-ssi dari kalian. Hoseok-ssi terancam
dikeluarkan dari sekolah karena dia bekerja di bar dan terlibat perkelahian
disana. Tapi aku dan Jungkook-ssi yakin dia tidak mungkin melakukannya tanpa
alasan. Maka aku sangat berharap kalian mau membuat petisi untuk mencegah
hukuman itu.'' Jiyoo menatap semua temannya, dia berkata, ''Kalian mau, kan,
membantuku?''
''Tapi Jiyoo-ssi,
bukankah anak dibawah umur dilarang bekerja di bar?'' sahut Yeri, ''sesuai
peraturan siapapun yang terlibat dengan kasus seperti itu memang harus
dikeluarkan, kan?'' ''Itu sudah tertulis di pedoman sekolah, Jiyoo-ssi,''
sambung Wendy, ''kita tidak bisa merubahnya.''
''Kalian selalu saja
mencari alasan untuk menjatuhkan kami!'' Yoongi kembali emosi, Yeri dan Wendy
segera berlindung dibelakang Sena, ''peraturan sekolah, apa itu?! Hoseok pasti
punya alasan kenapa dia bekerja di bar!'' ''Kalau kalian tidak mau membantu, ya
sudah,'' sahut Jin dingin, ''kami tidak berharap kalian membantu. Kami akan menanganinya
sendiri.''
Jiyoo menatap Sena yang
diam saja. ''Sena-ssi,'' Jiyoo berlutut di depan meja menghadap Sena, ''aku
sangat membutuhkan pendapatmu. Aku tahu ini egois, tapi kalau kau bicara Kim
Seonsaengnim mungkin akan mempertimbangkan keputusannya.'' Jiyoo menggenggam tangan
Sena, dia berkata, ''Jebal bantu kami. Kau adalah ketua kelas, kau harus
melakukan sesuatu untuk melindungi teman-temanmu.''
''Ya, dia belum menjadi
ketua kelas,'' sahut Jungkook, ''Hoseok yang akan jadi ketua kelas.''
''Makanya aku
mengatakan ini, Jungkook-ssi,'' balas Jiyoo, ''bagaimana Hoseok-ssi bisa
menjadi ketua kelas kalau dia tidak ada di kelas ini?'' Jiyoo menatap Sena dan
berkata, ''Sena-ssi pasti bisa membuat keputusan yang tepat. Aku yakin itu.''
Bel sekolah tanda
pelajaran berakhir berbunyi. Sena menghela napas, dia berkata, ''Aku harus
segera datang ke tempat bimbingan belajar. Jeosonghamnida, aku tidak bisa
membantu.'' Sena memberi salam, dia berjalan keluar meninggalkan Jiyoo yang
tertegun mendengar ucapannya.
''Disaat seperti ini kau
malah memikirkan kepentinganmu!'' sahut Taehyung, ''kalau kau jadi ketua kelas,
kau akan jadi orang egois!'' ''Kau bahkan tidak menuruti kata-kata Jiyoo!''
sahut Jimin, ''manusia macam apa kau ini hah?!''
Jiyoo menatap Sena yang
diam sejenak, dia mengira Sena akan kembali tapi Sena tetap berjalan keluar
kelas. ''Yeorobun, Sena adalah putri pengawas pendidikan,'' kata Jiyoo, ''dia
jelas menomorsatukan pendidikannya. Gwaenchanha, aku dan Jungkook-ssi akan
menemui Hoseok-ssi dan meminta penjelasan darinya. Aku akan berusaha agar dia
tidak dikeluarkan.''
''Kami ikut,'' kata
Namjoon, ''kami Tim Bangtan, kehadiran kami lebih diharapkan Hoseok daripada
dirimu.'' ''Setidaknya kami akan menetralkan suasana,'' kata Taehyung, ''kalau
kau sendirian kesana, Hoseok pasti akan marah.''
Jiyoo mengangguk. Dia
membereskan buku-bukunya dan melangkah bersama Tim Bangtan menuju kantor
polisi. ''Aku kecewa Sena-ssi tidak mau membantu,'' kata Jiyoo, ''tapi aku juga
tidak bisa memaksanya. Dia akan mendapat masalah kalau melewatkan jadwal
bimbingan belajar begitu saja.''
''Cih, menyedihkan
sekali hidupnya,'' komentar Yoongi, ''kalau aku jadi dia, aku akan mementingkan
sahabatku.''
*
Seorang gadis bertubuh
mungil berjalan keluar bar lewat pintu belakang. Tangannya membawa peti berisi
botol-botol bir yang sudah kosong, dia meletakkannya di pojokan dan mengambil
peti berisi botol-botol bir yang masih penuh. Gadis itu menghela napas sejenak.
''Hwaiting!'' gumamnya menyemangati diri sendiri, dia lalu mengangkat peti itu.
''Maaf, apa kau
mengenal Jung Hana?''
Gadis itu menoleh, dia
mengerutkan dahi menatap seorang gadis di depannya. ''Nan Jung Hana imnida,''
kata gadis itu, ''neoneun.... Nuguya?''
''Annyeonghasseo, nama
saya Park Sena. Saya dari SMA Seolyeong II. Saya teman sekelas adik Anda, Jung
Hoseok. Bisa bicara sebentar?''
*
(flashback on)
''Adaw! Ya! Noona,
sakit!''
''Sana pulang! Belajar
yang rajin! Ingat, nilaimu jeblok semua!''
''Masa bodo! Aku mau
bekerja disini!''
''Sudah ada aku yang
bekerja!''
''Aku kan anak
laki-laki! Gengsi, dong, minta uang saku kepada perempuan cebol sepertimu!''
''Mwo..... Ya kau
kurang ajar sekali!''
''Kalian niat bekerja
atau bertengkar, hah?''
Hoseok dan Hana
menoleh, mereka terkekeh salah tingkah saat melihat manajer bar memelototi
mereka dan mulai membersihkan kamar yang baru saja disewa oleh pelanggan bar.
''Awas kau ya,'' gumam Hana menggerutu sambil membersihkan sofa, ''akan kubabat
habis kau nanti.'' ''Aku tidak takut kepadamu,'' bisik Hoseok, ''mulai sekarang
aku akan mencari uang saku sendiri. Noona tidak usah khawatir, ne?''
Hana menghela napas,
dia pasrah saja mendengar ucapan adiknya. Hoseok ini keras kepala, larangan
berarti perintah untuknya. Tapi Hana bangga dengan Hoseok, dia benar-benar
seperti laki-laki dewasa, mau bekerja keras untuk mendapatkan uang. Tidak
seperti dulu, kerjanya hanya menghabiskan uang untuk bermain di game center.
''Katanya kau mau jadi ketua kelas, ya,'' kata Hana, ''daebak. Kau harus
menang, oke?''
''Tentu saja aku akan
menang,'' kata Hoseok, ''aku tidak akan kalah dari anak Seolyeong yang
menyebalkan itu.''
''Siapa namanya?''
tanya Hana.
''Sena. Kenapa?'' balas
Hoseok.
''Maksudmu Park Sena?''
''Molla. Kenapa, sih?''
''Aku juga bekerja di
lembaga bimbingan belajar saat siang hari,'' sahut Hana, ''ada satu murid
disana bernama Park Sena, dia dikenal paling pintar. Dan dia dari SMA
Seolyeong.''
Hoseok berdecak. ''Kau
bicara seperti kau sangat memujinya,'' kata Hoseok, ''payah.'' Dia beranjak dan
membawa kantung berisi sampah keluar ruangan sambil menggerutu. Dia menoleh,
melihat Hana keluar ruangan dan berbicara dengan tiga orang laki-laki. Hoseok
memperhatikan mereka, dia mengerutkan dahi melihat Hana yang kelihatan tidak
nyaman berbicara dengan tiga orang itu. Hoseok mendekat, dia berkata, ''Ada apa
ini?''
Hana segera bersembunyi
di belakang Hoseok. Hoseok tahu ada yang salah dengan mereka sampai Hana
langsung berlindung dibalik punggungnya. Hoseok menatap tajam tiga laki-laki
itu, dia berucap, ''Maaf, kami sedang bekerja. Kalau kalian ingin menyewa
seorang hostess, kalian bisa datang kesana.'' Hoseok menunjuk ruang utama bar
yang dipenuhi banyak pelanggan.
''Bocah sepertimu
jangan sok jadi jagoan,'' ucap seorang laki-laki dengan memasang muka garang.
Dia menatap Hana, lalu berkata, ''Kau terlalu cantik untuk menjadi seorang
cleaning service. Bagaimana kalau kita ngobrol sebentar? Mungkin sambil minum
bir? Aku akan membayar mahal dirimu.''
Hoseok langsung
menghajar laki-laki itu. ''Jangan melecehkan kakakku!'' sentaknya. Hoseok
menghajar laki-laki itu dengan membabi buta, dia sangat marah mendengar ucapan
laki-laki itu.
''Hoseok-ah! Hoseok,
berhenti!'' Hana memekik berusaha memisahkan mereka berdua, ''Hoseok-ah,
berhenti! Jangan berkelahi!''
Teriakan Hana tidak
diindahkan Hoseok. Dua laki-laki lain menerjang Hoseok, namun dengan sekali
serang Hoseok menjatuhkan mereka. Hana menjerit takut melihat adiknya dikeroyok
tiga orang, dia berusaha memisahkan mereka. ''Hajima! Jangan pukul adikku!
Hoseok-ah, berhenti!'' Hana menghalangi tiga laki-laki itu, tapi dia malah
terkena pukulan salah satu dari mereka.
Hoseok terbelalak, dia
menggeram marah dan balas meninju wajah laki-laki itu. ''Berani sekali kau
memukul kakakku!'' sentaknya. Dia semakin brutal, emosinya tidak terkendali
lagi. Hana berlari dan memanggil dua petugas keamanan bar. ''Tolong aku! Adikku
dikeroyok! Kumohon pisahkan mereka!'' kata Hana.
Dua petugas keamanan
berlari mengikuti Hana. ''Kalian! Berhenti atau akan kupanggil polisi!'' sahut
seorang petugas. Dia menyeret Hoseok menjauh, sementara seorang lain berusaha
menenangkan tiga orang itu. ''Tidak akan kuampuni mereka!'' teriak Hoseok,
''mereka sudah melecehkan kakakku! Kakakku bukan perempuan murahan! Dia bahkan
jauh lebih terhormat daripada seorang Dewi!''
(flashback off)
*
Jarum jam berdetak nyaring
di sebuah ruangan, cukup menjadi tanda akan kesunyian yang menyelimuti ruangan
itu. Jiyoo dan Jungkook duduk berhadapan dengan Hoseok. Jungkook merasa deja vu
sesaat, lalu dia ingat saat Taehyung ditahan dia juga menemui Taehyung disini.
Sekarang Jungkook kembali datang, hanya saja sekarang dia menemui Hoseok. Dan
bedanya tidak ada kaca sebagai pembatas.
Jangan-jangan nanti dia
menemui Yoongi atau Namjoon.
Eh.
Jungkook bergidik
ngeri, dia langsung menyingkirkan pikiran itu. ''Jadi... Kau berkelahi karena
melindungi kakak perempuanmu, begitu kan?'' suara Jiyoo menghancurkan
kesunyian, ''kalau seperti itu kejadiannya, maka kau tidak bersalah,
Hoseok-ssi. Kenapa kau tidak menjelaskan saja kepada mereka?''
''Ini kehidupan nyata,
bukan lingkungan keluargamu,'' sahut Hoseok, ''mereka bukan orangtua yang akan
menerima penjelasan anak begitu saja. Lagipula mereka akan membela yang punya
uang, kan. Aku bisa apa kalau sudah begitu?''
''Lalu kenapa kau
bekerja di bar?'' tanya Jungkook, ''kau kan bisa bekerja di tempat lain.
Swalayan mungkin, atau di stasiun seperti Taehyung. Kenapa harus di bar?''
''Sekalian menjaga Hana
Noona dari orang-orang brengsek seperti mereka,'' jawab Hoseok, ''aku ini anak
laki-laki, sudah jadi tugasku menjaga saudara perempuanku, kan? Appa memintaku
untuk menjaga Hana Noona baik-baik karena aku anak laki-laki. Lagipula aku juga
ingin punya uang saku tambahan, jadi apa salahnya aku ikut bekerja disana?''
Jiyoo terdiam, dia
tertegun mendengar ucapan Hoseok. Laki-laki di depannya ini sangat dewasa dan
tidak berpikir layaknya remaja. ''Tapi kau sekarang malah tidak bisa menjaga
kakakmu,'' kata Jiyoo, ''apa kau tidak merasa khawatir?''
''Pertanyaan apa itu?''
sahut Hoseok berdecak, ''tentu saja aku khawatir! Kau sudah tahu masih
bertanya. Babo.''
''Jungkook-ssi,
bukannya di sekolah kalian juga menyediakan beasiswa?'' tanya Jiyoo,
''Hoseok-ssi bisa mengurus beasiswa untuk dirinya, kan?''
''Kau itu bertanya dengan
niat menyindir, ya?'' balas Jungkook, ''ya, beasiswa itu hanya untuk yang
pintar. Orang seperti Hoseok mana bisa mendapatkan beasiswa.''
Ngek.
''Neo....'' Hoseok
menjitak kepala Jungkook, sementara Jungkook terkekeh puas sudah mengerjai
temannya itu. ''Ya! Aku tidak sebodoh itu!'' sahut Hoseok, ''enak saja
mengataiku. Awas kau, ya, akan kutenggelamkan kau di sungai Han nanti.''
''Lalu kenapa kau tidak
mengurus beasiswa?'' tanya Jiyoo.
Krik.
''Ee.... Geurae....
Aaaaah jangan membahas beasiswa!'' sahut Hoseok cepat. Mukanya sudah memerah
karena malu, membuat Jiyoo terkikik geli dan akhirnya tertawa. Jungkook juga
ikut tertawa, Hoseok yang kesal akhirnya ikut tertawa bersama dua orang itu.
''Kukira murid-murid Seolyeong tidak tahu cara bercanda,'' kata Jungkook, ''kau
bisa bercanda ternyata.''
''Aku belajar banyak
dari kalian,'' sahut Jiyoo sambil tersenyum, ''kalian punya selera humor yang
baik.''
''Itu artinya kau
mengakui kalau kami lebih hebat, kan?'' suara Yoongi menyahut. Dia berjalan
masuk bersama yang lain. ''Akui saja kalau kami memang lebih hebat,'' kata
Jimin, ''dan kau ikuti aturan kami. Jangan sok mengubah peraturan sekolah
kami.''
''Kalau soal itu aku
menolak, Jimin-ssi,'' kata Jiyoo, ''karena menyesuaikan standar sekolah dengan
SMA Seolyeong I adalah bagian dari tugasku.'' Jiyoo menatap Hoseok dan berkata,
''Aku berharap masalah ini cepat selesai. Dan kau bisa kembali ke sekolah untuk
mengikuti pemilihan ketua kelas.''
''Bicara soal ketua
kelas, mana dayang setiamu?'' tanya Hoseok, ''biasanya dia selalu mengikutimu
kemana-mana.''
''Aaaah, anak itu
sangat egois,'' kata Taehyung, ''disaat seperti ini dia tidak muncul dan lebih
mementingkan bimbingan belajarnya.'' ''Dia bukan teman yang baik,'' komentar
Namjoon, ''kalau aku jadi dia, aku akan melewatkan bimbingan belajar dan
melakukan segala cara untuk membela temanku.''
Jiyoo berkata, ''Aku
sudah bilang, Sena-ssi itu....''
''Ya ya ya, dia adalah
putri pengawas pendidikan, makanya dia selalu menomorsatukan pendidikannya,''
sela Jungkook, ''itu artinya persahabatan bukan yang terpenting, kan?
Menyedihkan sekali.''
Jiyoo termenung
mendengar ucapan Jungkook. Sena sahabat yang baik untuk Jiyoo, tapi apa benar
persahabatan bukan hal terpenting untuk Sena? Jiyoo jadi agak sedih, dia merasa
Sena mungkin tidak menganggapnya sahabat. Jin yang melihat perubahan ekspresi
wajah Jiyoo menjitak pelan kepala Jungkook dan berkata, ''Babo. Kau malah
membuat Jiyoo sedih.''
Jiyoo akan bicara saat
ponselnya berdering. Jiyoo segera menjawab panggilan yang masuk. ''Yeoboseyo,''
sahut Jiyoo, ''Han Jiyoo disini.''
'Jiyoo-ssi, Seo
Eunkwang imnida.'
''Ah, Eunkwang-ssi? Ada
yang bisa saya bantu?''
'Maaf, apa Sena-ssi
bersama Anda?'
Jiyoo mengerutkan dahi.
''Sena-ssi.... Bukannya dia sedang di tempat bimbingan belajar?''
'Sena-ssi tidak ada
disana, Jiyoo-ssi. Saya pikir dia bersama Anda. Dia juga belum pulang.'
Jiyoo terkejut. ''G...
Geurae, aku akan mencoba menghubunginya,'' kata Jiyoo, dia menutup telepon dan
berkata, ''Sena-ssi tidak ada di tempat bimbingan belajar. Dan dia belum
pulang.'' Jiyoo jadi gusar dan mencoba menghubungi Sena, dia semakin khawatir
karena Sena tidak menjawab panggilannya. ''Aku harus pergi,'' kata Jiyoo sambil
beranjak, ''Hoseok-ssi, aku akan mencoba untuk bicara dengan Kepala Sekolah.
Kau jangan khawatir.'' Jiyoo memberi salam dan berlari keluar ruangan.
''Waw, mengesankan,''
kata Yoongi, ''putri pengawas pendidikan membolos saat bimbingan belajar.''
''Tidak ada sesuatu yang sempurna,'' gumam Namjoon.
Hoseok diam, dia
menunduk dan berpikir. 'Kata Noona Sena itu paling pintar dan jadi kebanggaan,'
batinnya, 'lalu ini apa? Masa anak kebanggaan membolos? Aneh.'
***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar