Selasa, 02 Februari 2016

Pandora 10

Title : Pandora
Author : Veve
Genre : Fantasy, Comedy, Romance
Cast :
All Hey! Say! JUMP Members
Kawazoe Tori / OC
Ishihara Mio / OC
Watanabe Ayaka / OC
Fukushi Hiroko / OC
Other casts will revealed
Length : Chapter
*
Chapter 10

Tori melangkah pelan menyusuri hutan. Dia menengok kesana kemari, mencari sesuatu yang mungkin saja bisa dijadikan petunjuk soal Venom. Tori berjalan menembus kabut, dia lalu berhenti dan menatap batu besar di depannya. ''Kau benar-benar batu yang menyebalkan,'' kata Tori, ''gara-gara kau, hidup kami berubah total. Aku heran kenapa Pandora bisa tercipta, dan kenapa kalian harus berdekatan dengan manusia?'' Tori berjalan mengelilingi batu besar itu. ''Kalau aku sudah bisa menemukan Venom, aku akan membantu Pandora menyegel mereka dan aku akan menghancurkanmu,'' katanya, ''jadi Pandora akan menjadi dongeng selamanya.''

''Tori?''

Tori menoleh, dia terdiam melihat Yuya melangkah kearahnya. Mereka berdiri berhadapan dengan jarak cukup jauh. Tori merasa bahagia dan sedih dalam waktu bersamaan. Bahagia karena kembali melihat Yuya, dia baru tahu Yuya bertambah gemuk sekarang. Entahlah, tapi Yuya kalau sedang ada masalah memang banyak makan. Padahal orang kalau banyak masalah biasanya kehilangan nafsu makan. Tori juga merasa sedih, mengingat Yuya menjauhinya beberapa hari ini. Apalagi Yuya sekarang memberi tatapan seakan dia tidak suka dengan kehadiran Tori, sepertinya Yuya memang tidak mau dia disana. ''Aku baru akan pergi,'' kata Tori, ''aku kehilangan pin kesayanganku, kupikir terjatuh disini.'' Tori tersenyum kaku, dia cepat-cepat melangkah melewati Yuya yang masih diam. ''Jaa ne....'' Tori menghela napas, ''....Takaki Senpai.''

''Chotto matte.''

Tori berhenti, tapi dia tidak berbalik menatap Yuya. ''Matte yo,'' ucap Yuya pelan.

Tori menunduk, dia berusaha keras menahan airmatanya. Tori bukan anak lemah, dia pantang menangis hanya karena masalah kecil. Yuya berbalik, dia menatap punggung Tori dalam diam. Matanya juga menyorotkan kesedihan dan kebahagiaan. Dia senang sekali bisa bertemu Tori, setelah beberapa hari berusaha keras menghindarinya. Tapi dia juga sedih melihat Tori juga berusaha menghindarinya, bahkan memanggilnya Takaki Senpai, bukan Yuya seperti biasanya. ''Bagaimana keadaanmu?'' tanya Yuya pelan, ''kau baik-baik saja?''

Tori menoleh, Yuya seketika terhenyak melihat Tori memasang wajah terluka dan mata yang berair. ''Tori....''

'Tidak ada yang baik-baik saja,'' sela Tori, ''tidak sejak kau tiba-tiba menghindar dan menolak menemuiku.'' Tori berjalan cepat kearahnya, dia dengan keras meninju muka Yuya. ''Aku menunggu di depan rumahmu sampai larut malam, Senpai!'' teriak Tori, ''aku datang ke rumahmu setiap hari! Mencarimu, tapi kau sama sekali tidak ada etika menemuiku atau meneleponku! Sebenarnya apa maumu, hah?!''

Yuya diam, lidahnya kelu mendadak. ''Kalau aku memang bersalah, maafkan aku,'' kata Tori, ''tapi jangan menjauhiku. Kau membuatku stres dengan sikapmu ini, Senpai, kau tahu itu tidak?!'' Tori menarik Yuya untuk berdiri, dia lalu mendekap erat pemuda itu. ''Gomenasai,'' ucap Tori dengan suara serak menahan tangis, ''honto ni gomenasai.''

Yuya perlahan membalas pelukan Tori. ''Aku yang harus minta maaf,'' kata Yuya, ''aku menghindar hanya supaya kau aman.''

Tori mendongak, menatap bingung Yuya. ''Kupikir kalau aku menjauhimu, kau akan marah dan membenciku,'' kata Yuya, ''lalu kau tidak akan mau lagi ikut campur dalam masalah ini. Dengan begitu, kau akan aman dari gangguan Shora dan monster-monsternya.'' Yuya tertawa kecil, dia menunduk dan mengusap airmatanya. ''Aku sangat tersiksa,'' katanya, ''aku sangat tersiksa menjalani semua ini.''

''Kalau kau tersiksa, kenapa kau tidak datang kepadaku?'' ucap Tori, ''lagipula alasan macam apa itu, Senpai? Menghindar hanya supaya aku aman? Kenapa kau bodoh sekali?''

Yuya dan Tori saling menatap dalam diam selama beberapa saat. ''Saat aku, Hiroko, Mio, dan Ayaka mendengar soal Pandora, saat itu kami semua terlibat secara otomatis dalam masalah ini,'' kata Tori, ''meskipun kau menghindar, aku tetap akan terlibat. Aku punya tugas menemukan Venom, membantu kalian mengalahkan Shora. Hargai usaha kami, dong.''

''Bagaimana kalau kau diserang?'' sahut Yuya.

'Takdir,'' jawab Tori cuek.

Yuya menghela napas, dia mengacak rambut Tori dan tersenyum. ''Baka,'' kata Yuya pelan, ''aku ini ingin melindungimu, tapi kelihatannya kau menolak dilindungi.''

''Melindungi itu seperti Daiki melindungi Hiroko, Ryosuke melindungi Mio, dan Ryutaro melindungi Ayaka,'' kata Tori, ''bukan lari sepertimu. Baka.'' Tori terkekeh. ''Yuto saja masih mau melindungiku,'' katanya.

''Nani? Yuto?'' Yuya terkejut, ''memangnya dia bisa melindungimu?''

''At least he tried,'' sahut Tori, dia menjulurkan lidah kepada Yuya.

Yuya terkekeh, dia merangkul Tori. ''Kau gendutan, ya,'' kata Yuya, ''kau tidak pernah olahraga, ya?''

''Ck, Senpai juga gendutan,'' kata Tori, ''pasti tidak pernah olahraga.''

Yuya tertawa dan mengacak rambut Tori. ''Sekarang ayo olahraga,'' kata Yuya, dia menyeret Tori keluar hutan. ''Lho Senpai!'' teriak Tori, ''ini sudah siang!''

''Like I care,'' sahut Yuya, ''kau sudah semakin gendut sekarang. Kau mau jadi seperti Daiki?'' Yuya terus menggeret Tori keluar hutan, tangannya menggenggam erat tangan gadis itu. ''Kita lari dari sini sampai rumah,'' kata Yuya, ''setelah itu lari dari rumah sampai sekolah, lalu dari sekolah ke kuil dan kembali ke rumah. Mulai.'' Yuya melepaskan pegangan tangannya, dia langsung berlari meninggalkan Tori. Tori sendiri hanya melongo, dia berdecak kesal dan akhirnya berlari mengikuti Yuya yang sudah jauh di depannya.
***
''APA?! TIDAK ADA DI KAMAR?!''

Ayaka menutup mulut, dia membungkuk minta maaf kepada beberapa pasien dan perawat yang terkejut mendengar teriakannya. ''Apa maksudmu tidak ada di kamar?'' tanya Ayaka dengan suara yang kembali normal, ''Ryutaro belum siuman. Kalaupun siuman, dia tidak akan bisa kemana-mana.''

''Saya juga kurang tahu, Nona,'' jawab seorang perawat, ''saya masuk kamarnya untuk mengecek keadaan bersama dokter, tapi ranjangnya sudah kosong.''

Ayaka sangat panik, dia langsung berlari keluar rumah sakit. 'Kalau Shora terlibat dalam kejadian ini, aku tidak akan memaafkan mereka,' batin Ayaka sambil berlari, 'akan kuhabisi mereka dengan tanganku sendiri.' Ayaka menutup mulutnya, isak tangis keluar bersamaan dengan airmata. 'Baka,' batin Ayaka, 'Ryutaro baka. Baka baka baka.'

Hiroko dan Daiki berjalan berdua, mereka bergandengan tangan dan sama-sama makan eskrim. Sesekali Daiki menyodorkan eskrim vanillanya kepada Hiroko, dan Hiroko balas menyodorkan eskrim strawberrynya untuk dicicipi Daiki. Dua orang ini sama sekali tidak tampak terbebani dengan masalah yang terpampang di depan wajah mereka. Mereka malah berkencan dengan mesranya di jalanan, seakan tidak peduli dengan kehadiran Shora. ''Setidaknya aku lebih beruntung daripada Tori,'' kata Hiroko, ''kasihan sekali dia, kau tahu kan, Dai-Chan? Takaki Senpai menjauhinya.''

Daiki mengangguk. ''Yuya Senpai juga terlihat sedih sekali,'' katanya, ''dia tidak bersemangat seperti biasanya. Aku tahu sebenarnya dia tidak bermaksud menjauhi Tori. Dia pasti punya alasan sendiri, yang tidak diungkapkan kepada siapapun.''

Hiroko mengangguk pelan. Dia menoleh, lalu berhenti dan mengerutkan dahi. ''Dai-Chan, itu Ayaka?'' tanya Hiroko sambil menunjuk ke sebuah arah. Daiki menoleh, dia melihat Ayaka tampak kebingungan tak jauh dari mereka. Daiki dan Hiroko segera berlari menghampiri Ayaka. ''Ayaka-Chan, daijoubu?'' tanya Hiroko, ''kenapa kau seperti kebingungan begitu?''

Ayaka menoleh, dia langsung memeluk Hiroko dan menangis tersedu-sedu. ''Ryutaro,'' isak Ayaka, ''Ryutaro tidak ada di rumah sakit. Dia hilang.''

Hiroko dan Daiki saling pandang kaget. ''Apa maksudmu tidak ada?'' tanya Daiki, ''Ryutaro belum siuman. Dan.... Kalaupun dia siuman, tidak mungkin bisa langsung berjalan-jalan.'' Daiki menatap Hiroko, dia berkata, ''Aku akan mencari Ryutaro. Kau bawa Ayaka ke rumahmu, oke?''

Hiroko mengangguk. Daiki berlari menjauhi Hiroko dan Ayaka, dia membatin geram, 'Kalau Shora ada dibalik semua ini, akan kuhabisi mereka.' Daiki meraih ponselnya, dia memasukkan nomor dan menempelkan ponsel di telinga.

'Ya, Daiki?'

''Yama, bantu aku!'' teriak Daiki.

'Eh? Ada apa?'

''Ryutaro hilang!''

'Eh?! Baiklah, aku akan mencarinya bersama yang lain.'

''Oke.'' Daiki mengantongi ponselnya, dia kembali berlari mencari Ryutaro.

''Daiki kenapa?'' tanya Chinen, dia dan Keito fokus menatap layar televisi yang menampilkan film action.

''Ryutaro hilang,'' kata Ryosuke, ''ayo. Kita harus mencarinya.'' Ryosuke segera berlari keluar rumahnya, disusul Chinen dan Keito. ''Lho bukannya Ryutaro masih dirawat di rumah sakit?'' tanya Keito.

''Aku juga tidak paham,'' sahut Ryosuke, ''Chii, hubungi yang lain. Keito, coba kau minta bantuan Tatsuya.''

''Roger,'' kata Chinen, dia mulai menghubungi yang lain.
***
Shige, Tegoshi, Ninomiya, dan Sho berdiri berhadapan dengan dua orang lain. ''Selamat datang di Bumi,'' sahut Sho, ''Ohno-kun.'' ''Senang sekali bertemu denganmu, Keiichiro-kun,'' sapa Tegoshi dengan senyum lebar, ''kau bisa menghirup udara kemenangan, kan?''

''Mana Venom?'' tanya Ohno, ''kenapa dia belum ditemukan?'' Ohno menatap Ninomiya, dia berkata, ''Kau adalah pelacak, kenapa sampai sekarang kau belum bisa menemukan Venom?''

''Sabar sedikit,'' kata Ninomiya, ''kau ini sangat tidak sabaran.'' ''Kita sudah menemukan keturunan Venom, Tuanku,'' sahut Shige dengan senyum angkuhnya, ''aku yang akan membawanya ke hadapan Tuan dan kita akan memenangkan peperangan.''

''Harusnya kita sudah menang ribuan tahun lalu,'' sahut Ohno kesal, ''kalau kau memang sudah menemukannya, kenapa masih diam? Bawa dia, dan kita bebaskan tuannya.''

''Anak itu sedikit grusa grusu, Tuan,'' kata Shige, ''dan dia dikelilingi semua Pandora. Agak sulit mendapatkannya, tapi aku berjanji akan membawanya kepadamu.'' Shige membungkuk, dia lalu menghilang dibalik kabut hitam.

Tegoshi mengerutkan dahi, dia menatap tempat Shige berdiri. 'Grusa grusu?' batinnya, 'dia tidak seperti itu.' Tegoshi diam sejenak, dia terbelalak dan sedikit tersentak. 'Tunggu, dia tidak mungkin salah orang,' batin Tegoshi, 'tidak. Shige tidak boleh salah orang. Bukan dia yang dimaksud Shige.' Tegoshi mendadak panik, dia meremas tangannya gelisah. 'Kalau dia salah orang, keadaan akan jadi kacau,' batinnya, 'Tuan Besar tidak akan bisa lepas dan Shige akan dijatuhi hukuman.' Tegoshi diam, dia menunduk dan menatap tajam lantai atap gedung tempatnya berpijak. 'Aku harus membawanya lebih dulu,' batin Tegoshi, 'aku yang akan membawa Venom ke hadapan mereka dan membebaskan Tuan Besar.'
***
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar