Title : Pandora
Author : Veve
Genre : Fantasy, Comedy, Romance
Cast :
All Hey! Say! JUMP Members
Kawazoe Tori / OC
Ishihara Mio / OC
Watanabe Ayaka / OC
Fukushi Hiroko / OC
Other casts will revealed
Length : Chapter
*
Chapter
10
Tori
melangkah pelan menyusuri hutan. Dia menengok kesana kemari, mencari sesuatu
yang mungkin saja bisa dijadikan petunjuk soal Venom. Tori berjalan menembus
kabut, dia lalu berhenti dan menatap batu besar di depannya. ''Kau benar-benar
batu yang menyebalkan,'' kata Tori, ''gara-gara kau, hidup kami berubah total.
Aku heran kenapa Pandora bisa tercipta, dan kenapa kalian harus berdekatan
dengan manusia?'' Tori berjalan mengelilingi batu besar itu. ''Kalau aku sudah
bisa menemukan Venom, aku akan membantu Pandora menyegel mereka dan aku akan
menghancurkanmu,'' katanya, ''jadi Pandora akan menjadi dongeng selamanya.''
''Tori?''
Tori
menoleh, dia terdiam melihat Yuya melangkah kearahnya. Mereka berdiri
berhadapan dengan jarak cukup jauh. Tori merasa bahagia dan sedih dalam waktu
bersamaan. Bahagia karena kembali melihat Yuya, dia baru tahu Yuya bertambah
gemuk sekarang. Entahlah, tapi Yuya kalau sedang ada masalah memang banyak
makan. Padahal orang kalau banyak masalah biasanya kehilangan nafsu makan. Tori
juga merasa sedih, mengingat Yuya menjauhinya beberapa hari ini. Apalagi Yuya
sekarang memberi tatapan seakan dia tidak suka dengan kehadiran Tori,
sepertinya Yuya memang tidak mau dia disana. ''Aku baru akan pergi,'' kata
Tori, ''aku kehilangan pin kesayanganku, kupikir terjatuh disini.'' Tori
tersenyum kaku, dia cepat-cepat melangkah melewati Yuya yang masih diam. ''Jaa
ne....'' Tori menghela napas, ''....Takaki Senpai.''
''Chotto
matte.''
Tori
berhenti, tapi dia tidak berbalik menatap Yuya. ''Matte yo,'' ucap Yuya pelan.
Tori
menunduk, dia berusaha keras menahan airmatanya. Tori bukan anak lemah, dia
pantang menangis hanya karena masalah kecil. Yuya berbalik, dia menatap
punggung Tori dalam diam. Matanya juga menyorotkan kesedihan dan kebahagiaan.
Dia senang sekali bisa bertemu Tori, setelah beberapa hari berusaha keras
menghindarinya. Tapi dia juga sedih melihat Tori juga berusaha menghindarinya,
bahkan memanggilnya Takaki Senpai, bukan Yuya seperti biasanya. ''Bagaimana
keadaanmu?'' tanya Yuya pelan, ''kau baik-baik saja?''
Tori
menoleh, Yuya seketika terhenyak melihat Tori memasang wajah terluka dan mata
yang berair. ''Tori....''
'Tidak
ada yang baik-baik saja,'' sela Tori, ''tidak sejak kau tiba-tiba menghindar
dan menolak menemuiku.'' Tori berjalan cepat kearahnya, dia dengan keras
meninju muka Yuya. ''Aku menunggu di depan rumahmu sampai larut malam,
Senpai!'' teriak Tori, ''aku datang ke rumahmu setiap hari! Mencarimu, tapi kau
sama sekali tidak ada etika menemuiku atau meneleponku! Sebenarnya apa maumu,
hah?!''
Yuya
diam, lidahnya kelu mendadak. ''Kalau aku memang bersalah, maafkan aku,'' kata
Tori, ''tapi jangan menjauhiku. Kau membuatku stres dengan sikapmu ini, Senpai,
kau tahu itu tidak?!'' Tori menarik Yuya untuk berdiri, dia lalu mendekap erat
pemuda itu. ''Gomenasai,'' ucap Tori dengan suara serak menahan tangis, ''honto
ni gomenasai.''
Yuya
perlahan membalas pelukan Tori. ''Aku yang harus minta maaf,'' kata Yuya, ''aku
menghindar hanya supaya kau aman.''
Tori
mendongak, menatap bingung Yuya. ''Kupikir kalau aku menjauhimu, kau akan marah
dan membenciku,'' kata Yuya, ''lalu kau tidak akan mau lagi ikut campur dalam
masalah ini. Dengan begitu, kau akan aman dari gangguan Shora dan
monster-monsternya.'' Yuya tertawa kecil, dia menunduk dan mengusap airmatanya.
''Aku sangat tersiksa,'' katanya, ''aku sangat tersiksa menjalani semua ini.''
''Kalau
kau tersiksa, kenapa kau tidak datang kepadaku?'' ucap Tori, ''lagipula alasan
macam apa itu, Senpai? Menghindar hanya supaya aku aman? Kenapa kau bodoh
sekali?''
Yuya
dan Tori saling menatap dalam diam selama beberapa saat. ''Saat aku, Hiroko,
Mio, dan Ayaka mendengar soal Pandora, saat itu kami semua terlibat secara
otomatis dalam masalah ini,'' kata Tori, ''meskipun kau menghindar, aku tetap
akan terlibat. Aku punya tugas menemukan Venom, membantu kalian mengalahkan
Shora. Hargai usaha kami, dong.''
''Bagaimana
kalau kau diserang?'' sahut Yuya.
'Takdir,''
jawab Tori cuek.
Yuya
menghela napas, dia mengacak rambut Tori dan tersenyum. ''Baka,'' kata Yuya
pelan, ''aku ini ingin melindungimu, tapi kelihatannya kau menolak
dilindungi.''
''Melindungi
itu seperti Daiki melindungi Hiroko, Ryosuke melindungi Mio, dan Ryutaro
melindungi Ayaka,'' kata Tori, ''bukan lari sepertimu. Baka.'' Tori terkekeh.
''Yuto saja masih mau melindungiku,'' katanya.
''Nani?
Yuto?'' Yuya terkejut, ''memangnya dia bisa melindungimu?''
''At
least he tried,'' sahut Tori, dia menjulurkan lidah kepada Yuya.
Yuya
terkekeh, dia merangkul Tori. ''Kau gendutan, ya,'' kata Yuya, ''kau tidak
pernah olahraga, ya?''
''Ck,
Senpai juga gendutan,'' kata Tori, ''pasti tidak pernah olahraga.''
Yuya
tertawa dan mengacak rambut Tori. ''Sekarang ayo olahraga,'' kata Yuya, dia
menyeret Tori keluar hutan. ''Lho Senpai!'' teriak Tori, ''ini sudah siang!''
''Like
I care,'' sahut Yuya, ''kau sudah semakin gendut sekarang. Kau mau jadi seperti
Daiki?'' Yuya terus menggeret Tori keluar hutan, tangannya menggenggam erat
tangan gadis itu. ''Kita lari dari sini sampai rumah,'' kata Yuya, ''setelah
itu lari dari rumah sampai sekolah, lalu dari sekolah ke kuil dan kembali ke
rumah. Mulai.'' Yuya melepaskan pegangan tangannya, dia langsung berlari
meninggalkan Tori. Tori sendiri hanya melongo, dia berdecak kesal dan akhirnya
berlari mengikuti Yuya yang sudah jauh di depannya.
***
''APA?!
TIDAK ADA DI KAMAR?!''
Ayaka
menutup mulut, dia membungkuk minta maaf kepada beberapa pasien dan perawat
yang terkejut mendengar teriakannya. ''Apa maksudmu tidak ada di kamar?'' tanya
Ayaka dengan suara yang kembali normal, ''Ryutaro belum siuman. Kalaupun
siuman, dia tidak akan bisa kemana-mana.''
''Saya
juga kurang tahu, Nona,'' jawab seorang perawat, ''saya masuk kamarnya untuk
mengecek keadaan bersama dokter, tapi ranjangnya sudah kosong.''
Ayaka
sangat panik, dia langsung berlari keluar rumah sakit. 'Kalau Shora terlibat
dalam kejadian ini, aku tidak akan memaafkan mereka,' batin Ayaka sambil
berlari, 'akan kuhabisi mereka dengan tanganku sendiri.' Ayaka menutup
mulutnya, isak tangis keluar bersamaan dengan airmata. 'Baka,' batin Ayaka,
'Ryutaro baka. Baka baka baka.'
Hiroko
dan Daiki berjalan berdua, mereka bergandengan tangan dan sama-sama makan
eskrim. Sesekali Daiki menyodorkan eskrim vanillanya kepada Hiroko, dan Hiroko
balas menyodorkan eskrim strawberrynya untuk dicicipi Daiki. Dua orang ini sama
sekali tidak tampak terbebani dengan masalah yang terpampang di depan wajah
mereka. Mereka malah berkencan dengan mesranya di jalanan, seakan tidak peduli
dengan kehadiran Shora. ''Setidaknya aku lebih beruntung daripada Tori,'' kata
Hiroko, ''kasihan sekali dia, kau tahu kan, Dai-Chan? Takaki Senpai
menjauhinya.''
Daiki
mengangguk. ''Yuya Senpai juga terlihat sedih sekali,'' katanya, ''dia tidak
bersemangat seperti biasanya. Aku tahu sebenarnya dia tidak bermaksud menjauhi
Tori. Dia pasti punya alasan sendiri, yang tidak diungkapkan kepada siapapun.''
Hiroko
mengangguk pelan. Dia menoleh, lalu berhenti dan mengerutkan dahi. ''Dai-Chan,
itu Ayaka?'' tanya Hiroko sambil menunjuk ke sebuah arah. Daiki menoleh, dia
melihat Ayaka tampak kebingungan tak jauh dari mereka. Daiki dan Hiroko segera
berlari menghampiri Ayaka. ''Ayaka-Chan, daijoubu?'' tanya Hiroko, ''kenapa kau
seperti kebingungan begitu?''
Ayaka
menoleh, dia langsung memeluk Hiroko dan menangis tersedu-sedu. ''Ryutaro,''
isak Ayaka, ''Ryutaro tidak ada di rumah sakit. Dia hilang.''
Hiroko
dan Daiki saling pandang kaget. ''Apa maksudmu tidak ada?'' tanya Daiki,
''Ryutaro belum siuman. Dan.... Kalaupun dia siuman, tidak mungkin bisa
langsung berjalan-jalan.'' Daiki menatap Hiroko, dia berkata, ''Aku akan
mencari Ryutaro. Kau bawa Ayaka ke rumahmu, oke?''
Hiroko
mengangguk. Daiki berlari menjauhi Hiroko dan Ayaka, dia membatin geram, 'Kalau
Shora ada dibalik semua ini, akan kuhabisi mereka.' Daiki meraih ponselnya, dia
memasukkan nomor dan menempelkan ponsel di telinga.
'Ya,
Daiki?'
''Yama,
bantu aku!'' teriak Daiki.
'Eh?
Ada apa?'
''Ryutaro
hilang!''
'Eh?!
Baiklah, aku akan mencarinya bersama yang lain.'
''Oke.''
Daiki mengantongi ponselnya, dia kembali berlari mencari Ryutaro.
''Daiki
kenapa?'' tanya Chinen, dia dan Keito fokus menatap layar televisi yang
menampilkan film action.
''Ryutaro
hilang,'' kata Ryosuke, ''ayo. Kita harus mencarinya.'' Ryosuke segera berlari
keluar rumahnya, disusul Chinen dan Keito. ''Lho bukannya Ryutaro masih dirawat
di rumah sakit?'' tanya Keito.
''Aku
juga tidak paham,'' sahut Ryosuke, ''Chii, hubungi yang lain. Keito, coba kau
minta bantuan Tatsuya.''
''Roger,''
kata Chinen, dia mulai menghubungi yang lain.
***
Shige,
Tegoshi, Ninomiya, dan Sho berdiri berhadapan dengan dua orang lain. ''Selamat
datang di Bumi,'' sahut Sho, ''Ohno-kun.'' ''Senang sekali bertemu denganmu,
Keiichiro-kun,'' sapa Tegoshi dengan senyum lebar, ''kau bisa menghirup udara
kemenangan, kan?''
''Mana
Venom?'' tanya Ohno, ''kenapa dia belum ditemukan?'' Ohno menatap Ninomiya, dia
berkata, ''Kau adalah pelacak, kenapa sampai sekarang kau belum bisa menemukan
Venom?''
''Sabar
sedikit,'' kata Ninomiya, ''kau ini sangat tidak sabaran.'' ''Kita sudah
menemukan keturunan Venom, Tuanku,'' sahut Shige dengan senyum angkuhnya, ''aku
yang akan membawanya ke hadapan Tuan dan kita akan memenangkan peperangan.''
''Harusnya
kita sudah menang ribuan tahun lalu,'' sahut Ohno kesal, ''kalau kau memang
sudah menemukannya, kenapa masih diam? Bawa dia, dan kita bebaskan tuannya.''
''Anak
itu sedikit grusa grusu, Tuan,'' kata Shige, ''dan dia dikelilingi semua
Pandora. Agak sulit mendapatkannya, tapi aku berjanji akan membawanya
kepadamu.'' Shige membungkuk, dia lalu menghilang dibalik kabut hitam.
Tegoshi
mengerutkan dahi, dia menatap tempat Shige berdiri. 'Grusa grusu?' batinnya,
'dia tidak seperti itu.' Tegoshi diam sejenak, dia terbelalak dan sedikit
tersentak. 'Tunggu, dia tidak mungkin salah orang,' batin Tegoshi, 'tidak.
Shige tidak boleh salah orang. Bukan dia yang dimaksud Shige.' Tegoshi mendadak
panik, dia meremas tangannya gelisah. 'Kalau dia salah orang, keadaan akan jadi
kacau,' batinnya, 'Tuan Besar tidak akan bisa lepas dan Shige akan dijatuhi hukuman.'
Tegoshi diam, dia menunduk dan menatap tajam lantai atap gedung tempatnya
berpijak. 'Aku harus membawanya lebih dulu,' batin Tegoshi, 'aku yang akan
membawa Venom ke hadapan mereka dan membebaskan Tuan Besar.'
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar