Selasa, 02 Februari 2016

Pandora 09

Title : Pandora
Author : Veve
Genre : Fantasy, Comedy, Romance
Cast :
All Hey! Say! JUMP Members
Kawazoe Tori / OC
Ishihara Mio / OC
Watanabe Ayaka / OC
Fukushi Hiroko / OC
Other casts will revealed
Length : Chapter
*
Chapter 9


''Soal aku adalah Raja Pandora, kan?''

Hiroko mendongak, dia menatap kaget Daiki yang menatapnya dengan tatapan tenang. ''Aku sudah tahu, Hiroko-Chan,'' kata Daiki, ''aku sudah mendengarnya.''

''Tapi.... Siapa....''

''Tori yang memberitahuku,'' kata Daiki, ''dia datang ke rumahku dan memberitahuku dengan caranya yang sangat khas itu.''

Hiroko menatap Daiki, ada rasa bersalah yang menyusup di benaknya. ''Jujur saja aku sangat kecewa karena aku tidak mendengarnya darimu, Hiroko-Chan,'' kata Daiki, ''bahkan sampai detik ini aku berharap mendengar ini darimu, bukan Tori.'' Daiki menatap Hiroko yang menunduk, dia mendekat dan memeluk Hiroko seerat mungkin. ''Tapi Tori memberitahuku kalau kau tidak sanggup mengatakannya,'' kata Daiki, ''boleh aku tahu kenapa?''

Hiroko tidak menjawab. Daiki menunggu, dia sedikit mempererat pelukannya. Daiki dengan sabar menunggu jawaban Hiroko, dia menenangkan gadis itu dengan membelai-belai rambutnya. ''Apa yang kau takutkan, Hiroko-Chan?'' tanya Daiki pelan, ''ceritakan kepadaku. Please.''

Hiroko balas memeluk Daiki, dia membenamkan kepalanya di pelukan Daiki. Daiki agak terhenyak mendengar Hiroko terisak, dan Daiki mengeratkan pelukannya. ''Dai-Chan, aku takut,'' Hiroko terisak, ''aku sangat takut.''

Daiki tidak menjawab, dia menunggu Hiroko bicara lagi. ''Aku takut mereka menyerangmu, Dai-Chan,'' kata Hiroko, ''aku mendengar kalau Shora sangat kuat. Aku takut mereka akan membunuhmu.''

''Mereka tidak akan membunuhku,'' kata Daiki, ''tidak pernah ada kisah kejahatan yang menang. Kejahatan akan kalah.'' Daiki semakin memeluk erat Hiroko, dia tersenyum dan berkata, ''Dan selama kau percaya kepadaku, aku akan bertahan.''

Hiroko tertawa, dan Daiki tersenyum mendengarnya. Hiroko perlahan melepaskan pelukan Daiki, dia menatap Daiki dengan mata berair. Daiki tersenyum, dia mengusap airmata di wajah Hiroko. ''Semua akan baik-baik saja, Hiroko-Chan,'' katanya pelan, ''jangan khawatir.''

''So sweet.''

Daiki dan Hiroko menjerit, mereka berbalik dan menoleh. Tori melangkah dengan seringai jahil, dia setengah melompat-lompat mendekati mereka. ''Halo,'' sapa Tori tanpa rasa bersalah, ''kalian mesra sekali. Aku jadi iri.''

''Ya kau minta saja Yuto menciptakan suasana mesra,'' kata Daiki.

Tori memutar bolamatanya, dan mereka berdua terkekeh. ''Kau sedang apa malam-malam begini?'' tanya Hiroko, ''kalau tidak ada ayahmu kau jadi sering keluar malam, ya.''

''Mumpung tidak ada Ayah,'' kata Tori, ''aku juga mencoba mencari petunjuk soal Shora yang lepas. Aku mau ke hutan.''

''Yuya Senpai akan mencekikmu,'' kata Daiki.

Tori menghela napas dan menunduk. ''Ya itu kalau dia masih ingat kepadaku,'' desah Tori.

Daiki dan Hiroko saling pandang. ''Tori,'' panggil Daiki, ''Yuya tidak marah kepadamu.''

''Aku tahu,'' kata Tori, ''ah, sudahlah. Aku pergi dulu, ya. Jaa Ne.'' Tori melambaikan tangan, dia berlari kecil berlalu meninggalkan Daiki dan Hiroko.

''Yah, hubungan mereka rumit,'' kata Daiki, ''Tori menyukai Yuya Senpai, dan dia berusaha membelokkan perasaannya dari menjadi sayang kepada saudara. Yuya Senpai sendiri sepertinya bingung bagaimana perasaannya. Dan dia juga berusaha membatasi perasaannya kepada Tori. Melihat Tori sebagai adiknya.'' Daiki menatap Hiroko, dia menggandeng tangan gadis itu dan mengajaknya pergi.

Tegoshi muncul, dia menatap kearah Daiki dan Hiroko lalu menoleh kearah Tori. Tegoshi menyeringai, entah apa yang dipikirkannya. Tegoshi dengan cepat menghilang dari tempat itu.
*
Yuto berjalan pelan sambil membaca tulisan di secarik kertas. ''Ah, mou,'' Yuto mengeluh, dia menatap merana tas kecil berisi kue buatan ibunya. ''Kenapa aku sial sekali hari ini,'' keluh Yuto, ''aku, kan, mau main bersama yang lain. Malah disuruh mengantar kue.'' Yuto kembali berjalan sambil mencari alamat yang dimaksud ibunya.

Hm?

Yuto menoleh, dia mengerutkan dahi. 'Sepertinya ada yang mengikutiku,' batinnya. Yuto diam sejenak, dia berbalik dan seketika berlari kencang. Dari auranya sepertinya bukan orang baik. Yuto harus segera menghindar. Tidak lucu kalau dia harus menghadapi Shora disaat dia masih dalam tugas mengantar kue. Kalau kuenya berantakan dia akan mati ditangan ibunya.

''Heh, playboy amatir! Tunggu aku!''

Yuto mengerem kakinya mendadak, dia menoleh dan menatap cengo Tori yang berlari kearahnya. Tori terengah-engah, dia menggeplak kepala Yuto. ''Kau itu kenapa malah lari, hah?'' kata Tori, ''gara-gara kau aku harus lari. Baka.''

Yuto menghela napas lega melihat Tori. ''Lama tidak bertemu denganmu, Tori-Chan,'' kata Yuto, ''kau sedang apa disini?''

''Jalan-jalan sambil mencari petunjuk soal Shora,'' jawab Tori.

Krik.

''Kau mencari petunjuk malah disini, dasar aneh,'' kata Yuto sweatdrop, ''kalau mau mencari petunjuk soal Shora, kau cari di hutan. Malah disini. Kau tidak akan mendapat apa-apa disini.''

''Setidaknya aku mencari,'' kata Tori, ''lagipula ada anggota Shora yang lepas, kan. Mereka pasti melepas monster mereka.''

BLAM!

Yuto dan Tori menoleh kaget, mereka melihat kepulan asap dari kejauhan. ''Dan kuharap itu hanya ledakan petasan, bukan ulah Shora,'' kata Tori, dia berlari menuju kepulan asap itu. Yuto berdecak, dia ikut berlari mengikuti Tori.

Tori berhenti di tepi lapangan, dia lalu berlari mendekat kearah kerumunan. ''Minggir, minggir,'' kata Tori, dia berhasil menembus kerumunan. Tori langsung menolong Tegoshi yang terluka di lengannya. ''Sensei, ada apa denganmu?!'' kata Tori, dia menatap yang lain dan berkata, ''Kalian ini ada orang terluka malah dijadikan tontonan! Cari bantuan!''

Yuto menembus kerumunan, dia membantu Tegoshi berdiri. Tegoshi mencengkeram tangan kedua muridnya, dia berbisik pelan, ''Monster....''

Tori dan Yuto mengerutkan dahi. ''Monster....'' Tegoshi tersengal, ''mereka bukan manusia.''

Yuto dan Tori saling pandang, lalu menatap kerumunan.

O-ow.
***
Mio dan Ryosuke berjalan berdua di halaman kuil. ''Yama-Chan,'' ucap Mio, ''ada yang ingin kuberitahukan kepadamu.''

''Apa?'' tanya Ryosuke.

''Aku sebenarnya sudah mengetahuinya di malam kau diserang,'' kata Mio.

Ryosuke berhenti, dia menatap Mio yang menunduk memainkan ujung jaketnya. Ryosuke mendekati Mio, dia bertanya, ''Ada apa, Mio-Chan?''

''Yabu memberitahuku kalau kau... Keturunan salah satu pengawal Pandora,'' ucap Mio pelan, ''seperti Yabu dan yang lain.''

Hening.

Mio menatap Ryosuke yang menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan, dia segera berkata, ''Aku tahu ini sulit dipercaya, aku juga tidak percaya. Kalau... Kalau kau tidak bisa menerimanya kau bisa...''

''Wow, keren.''

Mio mendongak menatap Ryosuke. ''Hah?'' Mio tampak terkejut.

Ryosuke menatap Mio, dia tampak sangat cerah dan bersemangat. ''Bukannya itu keren, Mio-Chan?'' kata Ryosuke, ''aku punya kekuatan, aku bukan manusia biasa. Mungkin setengah penyihir atau semacamnya. Itu kan, keren.''

Mio cengo menatap Ryosuke yang malah antusias, kebalikan dari yang lain yang shock mendengar semua ini. ''Kau tidak shock atau kaget atau semacamnya begitu?'' tanya Mio, ''dan.... Ya ampun Ryosuke, ini artinya kau kan harus melawan Shora. Kalau kau terluka bagaimana? Kalau kau seperti malam itu bagaimana?''

''Pahlawan akan selalu menang, Mio-Chan,'' kata Ryosuke percaya diri, ''kenapa aku harus shock? Aku kan punya kekuatan.'' Ryosuke mendekati Mio, dia memegang kedua pundak gadis itu dan menatapnya lekat-lekat. ''Kalau aku punya kekuatan, aku bisa melindungimu lebih baik lagi,'' kata Ryosuke, ''aku akan melindungimu, dan semua orang di dunia ini.'' Ryosuke tersenyum, dia memeluk erat Mio.

Mio menyandarkan kepalanya di bahu Ryosuke, dia merasa tenang sekarang. Tidak sepenuhnya tenang, tapi setidaknya dia tidak perlu stres karena dijauhi seperti yang dialami Tori.
***
Tori berlari bersama Yuto, mereka juga harus mengamankan Tegoshi agar tidak terkena serangan monster. ''Mereka seperti zombie!'' pekik Yuto, ''aku seperti berada di film Walking Dead.''

''Jangan menyamakan keadaan dengan film!'' teriak Tori, mereka bersembunyi di sebuah gang sempit. Tori menoleh, dia melihat Tegoshi yang kesakitan. Darah mengucur di lengannya. Tori melepas jaketnya, dia merobek lengan jaketnya dan membalutkannya di lengan Tegoshi. ''Kau akan dimarahi Yuya Senpai,'' kata Yuto, ''itu jaket pemberiannya, kan.''

''Tidak usah membahas orang itu,'' sahut Tori cepat, ''kalau dia marah aku akan menghadapinya nanti.'' Tori setengah meringis mencium aroma wangi mawar yang menguar, dia benci aroma mawar. Siapa, sih membuang parfum mawar disini?

Hm?

Tori menatap Tegoshi, dahinya berkerut. Tori mengerjapkan matanya, dia dan Yuto mengintip. ''Yuto, kau bawa Tegoshi Sensei,'' kata Tori, ''aku akan mengalihkan mereka.''

''Wo tidak nona, kau yang harus membawa Tegoshi Sensei pergi,'' kata Yuto, ''sana. Aku yang akan menghadapinya.''

''Tapi....''

''Bawa Tegoshi Sensei atau kunikahi kau sekarang juga,'' kata Yuto.

Krik.

''Aku pergi,'' kata Tori, dia mengawasi keadaan dan mengajak Tegoshi Sensei pergi. Ya daripada menikah dengan Yuto, dia bisa stres sepanjang waktu nanti. Tori berhenti sejenak di belokan, dia menatap khawatir Yuto. 'Bisa tidak, ya, dia?' batin Tori, 'semoga saja dia tidak apa-apa.'

Yuto berlari dan berhenti di depan gerombolan zombie itu. ''Kalian suruhan Shora, ya?'' kata Yuto, ''aku akan menghancurkan kalian.'' Yuto menjentikkan jari, di tangannya muncul sebuah pedang. Yuto berlari dan menebas zombie-zombie itu dengan pedangnya, dia tersenyum bangga saat zombie-zombie itu berjatuhan.

Eh?

Yuto menoleh, dia menjerit melihat zombie-zombie itu bangkit lagi. ''Aku tidak bisa menghadapi mereka,'' Yuto mewek, dia akhirnya berlari menghindari zombie-zombie itu.

Shige, Sho, dan Ninomiya muncul, mereka menatap zombie-zombie yang mengejar Yuto. ''Dimana Tegoshi?'' tanya Sho, ''kasihan anak itu. Dia melukai dirinya sendiri demi memancing Pandora.''

''Pengorbanan akan diperlukan di setiap pertempuran, Tuan,'' kata Shige, ''pengorbanan Tegoshi sangat berarti untuk kita.''

Ninomiya diam, dia serius memperhatikan jalanan. ''Kita akan membuat mereka sibuk nanti,'' kata Ninomiya, ''saat mereka sibuk, kita akan mencari keturunan Venom.''
***
Keito bersiul pelan sambil melangkah, dia mengamati sekeliling. 'Setidaknya aku bisa bersantai sejenak,' batinnya, 'ah, tugas yang berat. Mencari Shora, keturunan Venom, dan blabla.' Keito berhenti sejenak, dia lalu berbalik. 'Ke rumah Yuto, ah,' batinnya lagi, 'disana pasti banyak kue.'

''KEITOOOOOO!''

Keito menoleh, dia melongo melihat Yuto berlari kearahnya. ''Ada zombie!'' teriaknya, ''lari! Ayo cepat!''

Keito menoleh, dia langsung berlari mengikuti Yuto. ''Kau kenapa memancing zombie kemari, hah?!'' teriak Keito, dia melihat orang-orang mulai berteriak panik. Keito berhenti, dia mengeluarkan pedangnya. ''Kita harus memusnahkan mereka,'' kata Keito, ''ayo, Yuto!''

''Kita butuh bantuan Tatsuya!'' kata Yuto.

''Mau sampai kapan?!'' teriak Keito, ''saat bantuan datang, mereka sudah mati!'' Keito berlari, dia mengalahkan beberapa zombie yang mencoba menyerang beberapa warga.

Yuto terdiam, dia menatap pedang di tangannya. Yuto menatap Keito, ada perasaan bersalah di benaknya. Yuto berteriak, dia berlari menerjang beberapa zombie. ''Selamatkan diri kalian!'' teriak Yuto kepada orang-orang, ''cepat! Lari!'' Yuto menoleh, dia menebas leher seorang zombie di dekatnya.

''Yuto, minggir!''

Yuto menoleh, dia terkejut melihat sebuah anak panah melesat melewatinya dan meledakkan zombie. Yuto menoleh, dia melihat Kei, Hikaru, dan Chinen berlari kearahnya. Kei menembakkan panahnya kearah dua zombie. Chinen dan Hikaru membantu Keito.

''Tori meneleponku,'' kata Kei, ''dia memberitahu kalau kau dalam masalah.'' Kei menembakkan anak panahnya, lalu kembali berucap, ''Sekarang dimana Tori?''

''Dia bersama Tegoshi Sensei,'' jawab Yuto sambil melindungi Kei, ''dia sudah aman sekarang.''

Kei mengangguk, dia kembali menembakkan panahnya. Yuto juga menebas zombie-zombie itu, begitupun Keito. Sementara Chinen dan Hikaru bekerjasama menumpas zombie dengan tombak mereka.
***
Ayaka menoleh, dia menghela napas dan menutup bukunya lalu menatap Ryutaro. Sampai saat ini, Ryutaro belum juga sadar. Ayaka membelai rambut Ryutaro, dia berkata lirih, ''Kumohon bangunlah, Ryuu.''

''Sejak dulu dia masih jadi yang paling lemah.''

Ayaka menoleh, dia melihat Yabu mendekat bersama Tatsuya. ''Sejak dulu dia masih saja jadi yang paling lemah,'' kata Tatsuya, ''aku masih ingat di peperangan pertama, leluhurnya juga yang terluka paling parah. Ternyata menurun ke Ryutaro.''

''Dengan tenaga sebesar itu, sudah jelas kalau Ryutaro akan kalah,'' kata Ayaka membela, ''monster itu sangat kuat. Dan Ryutaro juga tidak tahu kalau dia Pandora, jadi dia tidak menyadari kekuatannya.''

Yabu melirik Ryutaro. ''Bagaimana perkembangannya?'' tanya Yabu, ''kau mendengar berita apa dari teman-temanmu?''

''Tori masih mencari keberadaan keturunan Venom,'' kata Ayaka, ''dan yang lain mencari Shora.'' Ayaka menatap Tatsuya, dia lalu bertanya, ''Sebenarnya siapa keturunan Venom?''

''Well, aku tidak bisa memberitahu kalian,'' kata Tatsuya, ''aku tidak mau kalian shock dan malah bertindak bodoh.'' Tatsuya menatap Ryutaro, dia mengulurkan tangannya dan meletakkannya di dahi Ryutaro. Tak lama Tatsuya menarik tangannya, dia lalu berkata, ''Kami pergi dulu. Jaga Ryutaro baik-baik, oke?'' Tatsuya tersenyum kepada Ayaka, dia dan Yabu melangkah keluar ruangan.

Ayaka menoleh kearah Ryutaro, dia lalu bergumam, ''Tapi kurasa akan lebih baik kalau kau tidur dulu, Ryuu. Keadaan masih belum terkendali, dan keturunan Venom belum ditemukan. Nanti saja kalau keadaan sudah membaik kau bangun.'' Ayaka beranjak dan meninggalkan Ryutaro. Dia lapar sekali, butuh asupan energi.

Pintu ruangan tertutup. Ryutaro membuka mata, dia lalu terbangun dan duduk di ranjang. Ryutaro menatap pintu kamar rawat, tatapannya sulit diartikan.

''Aku tidak bisa duduk diam, Ayaka-Chan. Maafkan aku.''
***
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar