Title : Pandora
Author : Veve
Genre : Fantasy, Comedy, Romance
Cast :
All Hey! Say! JUMP Members
Kawazoe Tori / OC
Ishihara Mio / OC
Watanabe Ayaka / OC
Fukushi Hiroko / OC
Other casts will revealed
Length : Chapter
*
Chapter
9
''Soal aku adalah Raja
Pandora, kan?''
Hiroko mendongak, dia
menatap kaget Daiki yang menatapnya dengan tatapan tenang. ''Aku sudah tahu,
Hiroko-Chan,'' kata Daiki, ''aku sudah mendengarnya.''
''Tapi.... Siapa....''
''Tori yang memberitahuku,''
kata Daiki, ''dia datang ke rumahku dan memberitahuku dengan caranya yang
sangat khas itu.''
Hiroko menatap Daiki,
ada rasa bersalah yang menyusup di benaknya. ''Jujur saja aku sangat kecewa
karena aku tidak mendengarnya darimu, Hiroko-Chan,'' kata Daiki, ''bahkan
sampai detik ini aku berharap mendengar ini darimu, bukan Tori.'' Daiki menatap
Hiroko yang menunduk, dia mendekat dan memeluk Hiroko seerat mungkin. ''Tapi
Tori memberitahuku kalau kau tidak sanggup mengatakannya,'' kata Daiki, ''boleh
aku tahu kenapa?''
Hiroko tidak menjawab.
Daiki menunggu, dia sedikit mempererat pelukannya. Daiki dengan sabar menunggu
jawaban Hiroko, dia menenangkan gadis itu dengan membelai-belai rambutnya.
''Apa yang kau takutkan, Hiroko-Chan?'' tanya Daiki pelan, ''ceritakan
kepadaku. Please.''
Hiroko balas memeluk
Daiki, dia membenamkan kepalanya di pelukan Daiki. Daiki agak terhenyak
mendengar Hiroko terisak, dan Daiki mengeratkan pelukannya. ''Dai-Chan, aku
takut,'' Hiroko terisak, ''aku sangat takut.''
Daiki tidak menjawab,
dia menunggu Hiroko bicara lagi. ''Aku takut mereka menyerangmu, Dai-Chan,''
kata Hiroko, ''aku mendengar kalau Shora sangat kuat. Aku takut mereka akan
membunuhmu.''
''Mereka tidak akan
membunuhku,'' kata Daiki, ''tidak pernah ada kisah kejahatan yang menang.
Kejahatan akan kalah.'' Daiki semakin memeluk erat Hiroko, dia tersenyum dan
berkata, ''Dan selama kau percaya kepadaku, aku akan bertahan.''
Hiroko tertawa, dan
Daiki tersenyum mendengarnya. Hiroko perlahan melepaskan pelukan Daiki, dia
menatap Daiki dengan mata berair. Daiki tersenyum, dia mengusap airmata di
wajah Hiroko. ''Semua akan baik-baik saja, Hiroko-Chan,'' katanya pelan,
''jangan khawatir.''
''So sweet.''
Daiki dan Hiroko
menjerit, mereka berbalik dan menoleh. Tori melangkah dengan seringai jahil,
dia setengah melompat-lompat mendekati mereka. ''Halo,'' sapa Tori tanpa rasa
bersalah, ''kalian mesra sekali. Aku jadi iri.''
''Ya kau minta saja
Yuto menciptakan suasana mesra,'' kata Daiki.
Tori memutar
bolamatanya, dan mereka berdua terkekeh. ''Kau sedang apa malam-malam begini?''
tanya Hiroko, ''kalau tidak ada ayahmu kau jadi sering keluar malam, ya.''
''Mumpung tidak ada
Ayah,'' kata Tori, ''aku juga mencoba mencari petunjuk soal Shora yang lepas.
Aku mau ke hutan.''
''Yuya Senpai akan
mencekikmu,'' kata Daiki.
Tori menghela napas dan
menunduk. ''Ya itu kalau dia masih ingat kepadaku,'' desah Tori.
Daiki dan Hiroko saling
pandang. ''Tori,'' panggil Daiki, ''Yuya tidak marah kepadamu.''
''Aku tahu,'' kata Tori,
''ah, sudahlah. Aku pergi dulu, ya. Jaa Ne.'' Tori melambaikan tangan, dia
berlari kecil berlalu meninggalkan Daiki dan Hiroko.
''Yah, hubungan mereka
rumit,'' kata Daiki, ''Tori menyukai Yuya Senpai, dan dia berusaha membelokkan
perasaannya dari menjadi sayang kepada saudara. Yuya Senpai sendiri sepertinya
bingung bagaimana perasaannya. Dan dia juga berusaha membatasi perasaannya
kepada Tori. Melihat Tori sebagai adiknya.'' Daiki menatap Hiroko, dia
menggandeng tangan gadis itu dan mengajaknya pergi.
Tegoshi muncul, dia
menatap kearah Daiki dan Hiroko lalu menoleh kearah Tori. Tegoshi menyeringai,
entah apa yang dipikirkannya. Tegoshi dengan cepat menghilang dari tempat itu.
*
Yuto berjalan pelan
sambil membaca tulisan di secarik kertas. ''Ah, mou,'' Yuto mengeluh, dia
menatap merana tas kecil berisi kue buatan ibunya. ''Kenapa aku sial sekali
hari ini,'' keluh Yuto, ''aku, kan, mau main bersama yang lain. Malah disuruh
mengantar kue.'' Yuto kembali berjalan sambil mencari alamat yang dimaksud
ibunya.
Hm?
Yuto menoleh, dia
mengerutkan dahi. 'Sepertinya ada yang mengikutiku,' batinnya. Yuto diam
sejenak, dia berbalik dan seketika berlari kencang. Dari auranya sepertinya
bukan orang baik. Yuto harus segera menghindar. Tidak lucu kalau dia harus
menghadapi Shora disaat dia masih dalam tugas mengantar kue. Kalau kuenya
berantakan dia akan mati ditangan ibunya.
''Heh, playboy amatir!
Tunggu aku!''
Yuto mengerem kakinya
mendadak, dia menoleh dan menatap cengo Tori yang berlari kearahnya. Tori
terengah-engah, dia menggeplak kepala Yuto. ''Kau itu kenapa malah lari, hah?''
kata Tori, ''gara-gara kau aku harus lari. Baka.''
Yuto menghela napas
lega melihat Tori. ''Lama tidak bertemu denganmu, Tori-Chan,'' kata Yuto, ''kau
sedang apa disini?''
''Jalan-jalan sambil
mencari petunjuk soal Shora,'' jawab Tori.
Krik.
''Kau mencari petunjuk
malah disini, dasar aneh,'' kata Yuto sweatdrop, ''kalau mau mencari petunjuk
soal Shora, kau cari di hutan. Malah disini. Kau tidak akan mendapat apa-apa
disini.''
''Setidaknya aku
mencari,'' kata Tori, ''lagipula ada anggota Shora yang lepas, kan. Mereka
pasti melepas monster mereka.''
BLAM!
Yuto dan Tori menoleh
kaget, mereka melihat kepulan asap dari kejauhan. ''Dan kuharap itu hanya
ledakan petasan, bukan ulah Shora,'' kata Tori, dia berlari menuju kepulan asap
itu. Yuto berdecak, dia ikut berlari mengikuti Tori.
Tori berhenti di tepi
lapangan, dia lalu berlari mendekat kearah kerumunan. ''Minggir, minggir,''
kata Tori, dia berhasil menembus kerumunan. Tori langsung menolong Tegoshi yang
terluka di lengannya. ''Sensei, ada apa denganmu?!'' kata Tori, dia menatap
yang lain dan berkata, ''Kalian ini ada orang terluka malah dijadikan tontonan!
Cari bantuan!''
Yuto menembus
kerumunan, dia membantu Tegoshi berdiri. Tegoshi mencengkeram tangan kedua
muridnya, dia berbisik pelan, ''Monster....''
Tori dan Yuto
mengerutkan dahi. ''Monster....'' Tegoshi tersengal, ''mereka bukan manusia.''
Yuto dan Tori saling
pandang, lalu menatap kerumunan.
O-ow.
***
Mio dan Ryosuke
berjalan berdua di halaman kuil. ''Yama-Chan,'' ucap Mio, ''ada yang ingin
kuberitahukan kepadamu.''
''Apa?'' tanya Ryosuke.
''Aku sebenarnya sudah
mengetahuinya di malam kau diserang,'' kata Mio.
Ryosuke berhenti, dia
menatap Mio yang menunduk memainkan ujung jaketnya. Ryosuke mendekati Mio, dia
bertanya, ''Ada apa, Mio-Chan?''
''Yabu memberitahuku
kalau kau... Keturunan salah satu pengawal Pandora,'' ucap Mio pelan, ''seperti
Yabu dan yang lain.''
Hening.
Mio menatap Ryosuke
yang menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan, dia segera berkata, ''Aku
tahu ini sulit dipercaya, aku juga tidak percaya. Kalau... Kalau kau tidak bisa
menerimanya kau bisa...''
''Wow, keren.''
Mio mendongak menatap
Ryosuke. ''Hah?'' Mio tampak terkejut.
Ryosuke menatap Mio,
dia tampak sangat cerah dan bersemangat. ''Bukannya itu keren, Mio-Chan?'' kata
Ryosuke, ''aku punya kekuatan, aku bukan manusia biasa. Mungkin setengah
penyihir atau semacamnya. Itu kan, keren.''
Mio cengo menatap
Ryosuke yang malah antusias, kebalikan dari yang lain yang shock mendengar
semua ini. ''Kau tidak shock atau kaget atau semacamnya begitu?'' tanya Mio,
''dan.... Ya ampun Ryosuke, ini artinya kau kan harus melawan Shora. Kalau kau
terluka bagaimana? Kalau kau seperti malam itu bagaimana?''
''Pahlawan akan selalu
menang, Mio-Chan,'' kata Ryosuke percaya diri, ''kenapa aku harus shock? Aku
kan punya kekuatan.'' Ryosuke mendekati Mio, dia memegang kedua pundak gadis
itu dan menatapnya lekat-lekat. ''Kalau aku punya kekuatan, aku bisa
melindungimu lebih baik lagi,'' kata Ryosuke, ''aku akan melindungimu, dan
semua orang di dunia ini.'' Ryosuke tersenyum, dia memeluk erat Mio.
Mio menyandarkan
kepalanya di bahu Ryosuke, dia merasa tenang sekarang. Tidak sepenuhnya tenang,
tapi setidaknya dia tidak perlu stres karena dijauhi seperti yang dialami Tori.
***
Tori berlari bersama
Yuto, mereka juga harus mengamankan Tegoshi agar tidak terkena serangan
monster. ''Mereka seperti zombie!'' pekik Yuto, ''aku seperti berada di film
Walking Dead.''
''Jangan menyamakan
keadaan dengan film!'' teriak Tori, mereka bersembunyi di sebuah gang sempit.
Tori menoleh, dia melihat Tegoshi yang kesakitan. Darah mengucur di lengannya.
Tori melepas jaketnya, dia merobek lengan jaketnya dan membalutkannya di lengan
Tegoshi. ''Kau akan dimarahi Yuya Senpai,'' kata Yuto, ''itu jaket
pemberiannya, kan.''
''Tidak usah membahas
orang itu,'' sahut Tori cepat, ''kalau dia marah aku akan menghadapinya
nanti.'' Tori setengah meringis mencium aroma wangi mawar yang menguar, dia
benci aroma mawar. Siapa, sih membuang parfum mawar disini?
Hm?
Tori menatap Tegoshi,
dahinya berkerut. Tori mengerjapkan matanya, dia dan Yuto mengintip. ''Yuto,
kau bawa Tegoshi Sensei,'' kata Tori, ''aku akan mengalihkan mereka.''
''Wo tidak nona, kau
yang harus membawa Tegoshi Sensei pergi,'' kata Yuto, ''sana. Aku yang akan
menghadapinya.''
''Tapi....''
''Bawa Tegoshi Sensei
atau kunikahi kau sekarang juga,'' kata Yuto.
Krik.
''Aku pergi,'' kata
Tori, dia mengawasi keadaan dan mengajak Tegoshi Sensei pergi. Ya daripada
menikah dengan Yuto, dia bisa stres sepanjang waktu nanti. Tori berhenti
sejenak di belokan, dia menatap khawatir Yuto. 'Bisa tidak, ya, dia?' batin
Tori, 'semoga saja dia tidak apa-apa.'
Yuto berlari dan
berhenti di depan gerombolan zombie itu. ''Kalian suruhan Shora, ya?'' kata
Yuto, ''aku akan menghancurkan kalian.'' Yuto menjentikkan jari, di tangannya
muncul sebuah pedang. Yuto berlari dan menebas zombie-zombie itu dengan
pedangnya, dia tersenyum bangga saat zombie-zombie itu berjatuhan.
Eh?
Yuto menoleh, dia
menjerit melihat zombie-zombie itu bangkit lagi. ''Aku tidak bisa menghadapi
mereka,'' Yuto mewek, dia akhirnya berlari menghindari zombie-zombie itu.
Shige, Sho, dan
Ninomiya muncul, mereka menatap zombie-zombie yang mengejar Yuto. ''Dimana
Tegoshi?'' tanya Sho, ''kasihan anak itu. Dia melukai dirinya sendiri demi
memancing Pandora.''
''Pengorbanan akan
diperlukan di setiap pertempuran, Tuan,'' kata Shige, ''pengorbanan Tegoshi
sangat berarti untuk kita.''
Ninomiya diam, dia
serius memperhatikan jalanan. ''Kita akan membuat mereka sibuk nanti,'' kata
Ninomiya, ''saat mereka sibuk, kita akan mencari keturunan Venom.''
***
Keito bersiul pelan
sambil melangkah, dia mengamati sekeliling. 'Setidaknya aku bisa bersantai
sejenak,' batinnya, 'ah, tugas yang berat. Mencari Shora, keturunan Venom, dan
blabla.' Keito berhenti sejenak, dia lalu berbalik. 'Ke rumah Yuto, ah,'
batinnya lagi, 'disana pasti banyak kue.'
''KEITOOOOOO!''
Keito menoleh, dia
melongo melihat Yuto berlari kearahnya. ''Ada zombie!'' teriaknya, ''lari! Ayo
cepat!''
Keito menoleh, dia
langsung berlari mengikuti Yuto. ''Kau kenapa memancing zombie kemari, hah?!''
teriak Keito, dia melihat orang-orang mulai berteriak panik. Keito berhenti,
dia mengeluarkan pedangnya. ''Kita harus memusnahkan mereka,'' kata Keito,
''ayo, Yuto!''
''Kita butuh bantuan
Tatsuya!'' kata Yuto.
''Mau sampai kapan?!''
teriak Keito, ''saat bantuan datang, mereka sudah mati!'' Keito berlari, dia
mengalahkan beberapa zombie yang mencoba menyerang beberapa warga.
Yuto terdiam, dia
menatap pedang di tangannya. Yuto menatap Keito, ada perasaan bersalah di
benaknya. Yuto berteriak, dia berlari menerjang beberapa zombie. ''Selamatkan
diri kalian!'' teriak Yuto kepada orang-orang, ''cepat! Lari!'' Yuto menoleh,
dia menebas leher seorang zombie di dekatnya.
''Yuto, minggir!''
Yuto menoleh, dia
terkejut melihat sebuah anak panah melesat melewatinya dan meledakkan zombie.
Yuto menoleh, dia melihat Kei, Hikaru, dan Chinen berlari kearahnya. Kei
menembakkan panahnya kearah dua zombie. Chinen dan Hikaru membantu Keito.
''Tori meneleponku,''
kata Kei, ''dia memberitahu kalau kau dalam masalah.'' Kei menembakkan anak
panahnya, lalu kembali berucap, ''Sekarang dimana Tori?''
''Dia bersama Tegoshi
Sensei,'' jawab Yuto sambil melindungi Kei, ''dia sudah aman sekarang.''
Kei mengangguk, dia
kembali menembakkan panahnya. Yuto juga menebas zombie-zombie itu, begitupun
Keito. Sementara Chinen dan Hikaru bekerjasama menumpas zombie dengan tombak
mereka.
***
Ayaka menoleh, dia
menghela napas dan menutup bukunya lalu menatap Ryutaro. Sampai saat ini,
Ryutaro belum juga sadar. Ayaka membelai rambut Ryutaro, dia berkata lirih,
''Kumohon bangunlah, Ryuu.''
''Sejak dulu dia masih
jadi yang paling lemah.''
Ayaka menoleh, dia
melihat Yabu mendekat bersama Tatsuya. ''Sejak dulu dia masih saja jadi yang
paling lemah,'' kata Tatsuya, ''aku masih ingat di peperangan pertama,
leluhurnya juga yang terluka paling parah. Ternyata menurun ke Ryutaro.''
''Dengan tenaga sebesar
itu, sudah jelas kalau Ryutaro akan kalah,'' kata Ayaka membela, ''monster itu
sangat kuat. Dan Ryutaro juga tidak tahu kalau dia Pandora, jadi dia tidak
menyadari kekuatannya.''
Yabu melirik Ryutaro.
''Bagaimana perkembangannya?'' tanya Yabu, ''kau mendengar berita apa dari
teman-temanmu?''
''Tori masih mencari
keberadaan keturunan Venom,'' kata Ayaka, ''dan yang lain mencari Shora.''
Ayaka menatap Tatsuya, dia lalu bertanya, ''Sebenarnya siapa keturunan Venom?''
''Well, aku tidak bisa
memberitahu kalian,'' kata Tatsuya, ''aku tidak mau kalian shock dan malah
bertindak bodoh.'' Tatsuya menatap Ryutaro, dia mengulurkan tangannya dan
meletakkannya di dahi Ryutaro. Tak lama Tatsuya menarik tangannya, dia lalu
berkata, ''Kami pergi dulu. Jaga Ryutaro baik-baik, oke?'' Tatsuya tersenyum
kepada Ayaka, dia dan Yabu melangkah keluar ruangan.
Ayaka menoleh kearah
Ryutaro, dia lalu bergumam, ''Tapi kurasa akan lebih baik kalau kau tidur dulu,
Ryuu. Keadaan masih belum terkendali, dan keturunan Venom belum ditemukan.
Nanti saja kalau keadaan sudah membaik kau bangun.'' Ayaka beranjak dan
meninggalkan Ryutaro. Dia lapar sekali, butuh asupan energi.
Pintu ruangan tertutup.
Ryutaro membuka mata, dia lalu terbangun dan duduk di ranjang. Ryutaro menatap
pintu kamar rawat, tatapannya sulit diartikan.
''Aku tidak bisa duduk
diam, Ayaka-Chan. Maafkan aku.''
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar