Rabu, 04 November 2015

Pandora 08

Title : Pandora
Author : Veve
Genre : Fantasy, Comedy, Romance
Cast :
All Hey! Say! JUMP Members
Kawazoe Tori / OC
Ishihara Mio / OC
Watanabe Ayaka / OC
Fukushi Hiroko / OC
Other casts will revealed
Length : Chapter
*
Chapter 8


Mio melangkah masuk kamar, dia mendesis miris melihat Ryosuke yang tertidur pulas di kamarnya. Ryosuke diperbolehkan pulang oleh dokter, karena luka di lengannya sudah dijahit. Mio duduk di lantai, dia melihat lengan kanan Ryosuke yang terluka dengan tatapan tidak tega. Mio lalu menoleh menatap Ryosuke, dia membelai lembut rambut Ryosuke yang masih terlelap.

Mio menarik tangannya ketika Ryosuke membuka mata. ''Sudah jangan bangun,'' Mio mencegah Ryosuke yang akan bangun, ''kau berbaring saja. Lukamu belum sembuh.''

Ryosuke kembali berbaring, dia dan Mio bertatapan dalam diam. ''Baka,'' kata Mio, ''kau senang sekali membuatku khawatir.''

''Maaf,'' kata Ryosuke, ''maafkan aku.''

Mereka berdua kembali diam. Mio menunduk, dia menggigit bibirnya kuat-kuat. Ryosuke menatap Mio, dia mengangkat pelan lengan kirinya. Ryosuke meringis sedikit, dia menepuk pelan kepala Mio. ''Kau kenapa, Mio-Chan?'' tanya Ryosuke, ''kau ada masalah?''

Mio menggeleng, dia masih menunduk. Ryosuke bergeser dan mengintip, dia terhenyak melihat Mio menangis. ''Mio, kenapa kau menangis?'' tanya Ryosuke, ''apa aku yang salah? Kumohon jangan menangis.''

''Jangan membuatku khawatir terus,'' kata Mio terisak, ''jangan melakukan tindakan bodoh. Aku benci orang yang melakukan tindakan bodoh.''

Ryosuke terdiam, dia membelai rambut Mio. ''Kalau aku tidak melakukan hal bodoh, kau yang akan terluka,'' kata Ryosuke, ''aku menahan vampir itu agar kau tidak diserang. Bagiku tidak masalah kalau aku yang terluka, toh aku tidak mati.''

''Iya, itu karena ada Daiki dan Tori yang membantumu,'' kata Mio, dia menatap Ryosuke dengan mata berair dan merah, ''bagaimana kalau tidak ada mereka? Kau bisa mati.''

''Tidak apa-apa, asalkan kau tetap hidup,'' kata Ryosuke.

''Yamada Ryosuke!'' sentak Mio terisak, ''kubilang jangan melakukan hal bodoh!''

''Kalau melindungimu adalah hal bodoh, maka aku akan melakukan hal bodoh itu setiap saat,'' kata Ryosuke.

''Lalu kalau kau mati, siapa yang akan melindungiku selanjutnya?'' balas Mio, ''kalau kau mati, tidak akan ada yang melindungiku.''

''Ada yang lain,'' kata Ryosuke, ''dan aku juga tetap akan melindungimu meskipun aku sudah mati.''

Mio tertawa di sela tangisnya. ''Gombal,'' katanya, ''aku tidak mau melihatmu terluka seperti ini lagi.''

Ryosuke hanya tersenyum menanggapi kalimat Mio. Mio juga tersenyum, dia mengambil sebuah kotak bekal dari tasnya. ''Aku membuat makanan ini sendiri, lho,'' kata Mio, dia menunjukkan sebuah bekal yang ditata dengan cantik kepada Ryosuke. Ryosuke menengok, dia berkata, ''Ini kau yang membuat, kan?''

''Kau tidak percaya?'' tanya Mio.

''Aku baru tidak percaya kalau kau mengatakan Tori yang membuatnya,'' kata Ryosuke.

Mio tertawa. ''Mana mungkin,'' kata Mio, ''ini buatanku. Coba saja.'' Mio menyuapi Ryosuke dengan masakannya. Ryosuke memakan bekal buatan Mio, dia lalu memasang ekspresi yang aneh. ''It's delicious,'' katanya, ''tasty and.... Sweet.''

''Tch, sok komentator,'' kata Mio, dia terkekeh dan kembali menyuapi Ryosuke. Melihat Ryosuke yang terkekeh manis begitu membuat Mio tidak tega memberitahu kenyataan yang dia dengar dari Tatsuya malam itu.

Tapi Mio tidak bisa menyimpan rahasia terlalu lama.
*
''Yang perlu kalian lakukan hanya mencari keturunan Venom. Kalau Shora sampai menemukannya lebih dulu, mereka akan menguasai dunia manusia. Venom jelas akan membangkitkan tuannya, Tuan Besar Shora. Dan itu bencana untuk Pandora, juga untuk manusia.''

Hiroko dan Tori melangkah pelan menyusuri jalan. ''Mereka semua adalah keturunan Pandora,'' kata Hiroko pelan, ''Dai-Chanku.... Dia....'' Hiroko mengerang, dia mengacak rambutnya dan berkata, ''Kenapa harus dia raja Pandora?''

''Takdir,'' jawab Tori singkat.

Hiroko menunduk lemas. ''Aku tidak bisa memberitahunya, Tori,'' kata Hiroko.

''Kenapa?''

''Aku...'' Hiroko berhenti, dia merenung, ''aku hanya tidak mau dia meninggalkanku.''

Tori berhenti, dia menoleh dan menatap Hiroko yang memasang wajah sedih. ''Kau tidak bisa membelokkan takdir seseorang, Hiroko,'' kata Tori, ''Daiki akan tahu kalau dia adalah raja Pandora. Dan dia harus menyelesaikan misinya.''

Hiroko menatap Tori, dia berlari mendekat dan bertanya, ''Lalu dimana para Shora itu?''

''Mana aku tahu, kau pikir aku pelayan Shora?'' balas Tori, dia kembali berjalan dan memasukkan kedua tangannya di saku jaketnya. Tori sendiri sebenarnya berusaha menjernihkan pikirannya. Dia juga shock mengetahui Yuya adalah salah satu pengawal Pandora. Tori tidak siap dengan keadaan ini, dan sepertinya Yuya juga. Tori tidak bertemu Yuya sejak hari itu. Terhitung sudah dua hari sejak malam itu, Yuya tidak datang ke rumahnya. Menelepon juga tidak.

''Tori-Chan.''

Tori berhenti, dia berbalik menatap Hiroko. ''Aku.... Aku butuh bantuanmu,'' kata Hiroko.

''Apa?'' tanya Tori.

''Bantu aku memberi Dai-Chan pengertian,'' kata Hiroko, ''kau tahu... Dai-Chan yang membuka segel itu, dia pasti merasa bersalah dan akan sangat terpuruk. Bantu aku menyemangatinya.''

Mendengar itu, Tori terkekeh. ''Kau ini bagaimana,'' katanya, ''kau pacarnya, sudah jelas kau yang lebih bisa menyemangatinya.''

Hiroko menghela napas. ''Aku hanya tidak mau melihatnya merasa bersalah,'' kata Hiroko, ''kau tahu kan kalau....''

''Iya aku tahu,'' sela Tori, ''dia yang membuka segel Pandora. Tapi itu kan tidak sengaja, Hiroko. Siapa yang tahu kalau dia memang keturunan Pandora? Rajanya pula.'' Tori merangkul Hiroko, dia mengajak Hiroko berjalan sambil berkata, ''Sekarang kita fokus saja mencari keturunan Venom dan mencaritahu siapa saja Shora yang sudah lepas. Soal memberitahu Daiki, Ryosuke, Ryutaro, dan Hikaru, itu bisa diurus sambil lalu. Oke?''

Hiroko mengangguk pelan, dia merangkul Tori dan mereka berdua berjalan pelan. ''Um, Tori-Chan,'' panggil Hiroko.

''Apa?'' tanya Tori.

''Bagaimana hubunganmu dengan Yuya Senpai?''

Tori berhenti melangkah, dia terdiam. Hiroko menatap Tori, dia bisa melihat perubahan ekspresi sahabat sekaligus sepupu jauhnya itu. ''Aku tidak bertemu dengannya sejak malam itu,'' kata Tori, ''aku mencoba ke rumahnya, tapi kata Bibi dia tidak ada di rumah. Dia seperti sengaja menghindariku.''

Hiroko menepuk bahu Tori, dia berkata, ''Mungkin dia butuh waktu untuk menghadapi dirimu. Dia sekarang punya tugas penting, kan?''

Tori mengangguk pelan. ''Ayo ke rumah sakit,'' kata Tori, ''aku mau menjenguk Ryutaro. Setelah itu baru kita menjenguk Ryosuke.''
*
Pintu kamar rawat terbuka. Tegoshi melangkah masuk, dia mendekat dan berhenti di dekat Ryutaro yang masih belum sadar. Tegoshi menatap Ryutaro dengan mata tajam, dia menyeringai dan berkata pelan, ''Kasihan sekali kau, harus menderita seperti ini. Kau pengawal Pandora, dan harus menderita seperti ini.'' Tegoshi mengarahkan tangannya kepada Ryutaro, cakar tajam kemerahan muncul di jari-jarinya. ''Akan kuakhiri rasa sakitmu,'' kata Tegoshi sambil menyeringai.

''Sensei?''

Tegoshi segera menarik tangannya dan menyembunyikannya di saku jaket, dia menoleh dan tersenyum kepada Tori dan Hiroko yang melangkah masuk. ''Wah, Sensei datang,'' kata Hiroko, dia tersenyum memberi salam kepada Tegoshi.

''Ryutaro adalah muridku, jadi aku punya kewajiban menjenguknya,'' kata Tegoshi, dia menatap Tori yang hanya diam dan berkata, ''Tori, apa kau bertemu Takaki? Aku tidak melihatnya di sekolah dua hari ini.''

''Dia sedang tidak enak badan, Sensei,'' jawab Tori, ''dia terlalu banyak memakan saus, jadi perutnya sakit.''

Tegoshi mengangguk. 'Pembohong ulung,' batinnya.

Pintu terbuka. Tegoshi, Tori, dan Hiroko menoleh. Ayaka masuk, dia memekik tertahan melihat tiga orang itu. ''Astaga kalian membuatku kaget,'' kata Ayaka sambil menghela napas lega, ''ada Sensei juga. Terimakasih sudah mau menjenguk Ryutaro.'' Ayaka menatap Hiroko dan Tori, dia bertanya, ''Bagaimana keadaan Ryosuke?''

''Kalau itu tanyakan saja kepada Mio,'' kata Tori sambil melangkah mendekati Ryutaro. Tori membelai rambut teman sekelasnya itu, dia berkata, ''Aku berjanji akan menyegel ulang Shora. Bersama yang lain. Pegang janjiku, Ryutaro.''

''Aku harus pergi,'' kata Tegoshi, ''kakakku akan datang hari ini. Jadi aku harus menyiapkan makanan untuknya.'' Tegoshi membungkuk, dia tersenyum dan melangkah keluar kamar. Tegoshi melangkah pelan, dia lalu berhenti dan menoleh menatap kamar rawat Ryutaro. 'Sebelum kalian sadar, aku sudah menemukan Venom lebih dulu,' batin Tegoshi, 'dan sebelum kalian bertindak, aku dan yang lain sudah menguasai dunia.' Tegoshi tersenyum samar, dia melangkah meninggalkan rumah sakit.
*
Yuya menoleh, dia melihat keadaan sekelilingnya. Yuya sudah sangat terbiasa dengan suasana hutan, terutama di wilayah gerbang Pandora. Yuya menyentuh batu yang diselimuti lumut itu, dia berkata pelan, ''Dibalik batu ini, ada rumahku. Seperti apa rupanya sekarang? Apa indah seperti dunia peri yang sering diceritakan di dongeng? Atau sudah berubah?''

''Yang jelas tidak seaman dulu.''

Yuya menoleh, dia melihat Tatsuya melangkah tenang kearahnya bersama Yabu. ''Tidak ada yang duduk di singgasana,'' kata Tatsuya, ''semua rakyat bingung, bagaimana akhir dari kisah ini. Apakah Pandora yang menang, atau justru Shora yang berkuasa.''

''Shige adalah anak buah kesayangan Ninomiya,'' kata Yabu, ''Ninomiya adalah pengendali ilusi. Dia yang menguasai monster-monster yang menyerang melalui ilusi dan mimpi. Lalu Sho.... Aku tidak tahu siapa yang melepaskannya, tapi dia juga berbahaya. Masih ada Massu dan Keiichiro, serta dua tuan mereka, Jun dan Ohno.''

''Dan Venom,'' kata Yuya, ''bersama tuannya, entah siapa namanya.''

''Aiba,'' jawab Tatsuya, ''hanya Raja Pandora--Daiki--dan Venom.... Maksudku keturunannya yang bisa melepaskan Aiba. Dan Shora tentu saja mencari keturunan Venom, teman mereka.''

''Hikaru, Ryutaro, Ryosuke, dan Daiki belum tahu soal siapa mereka,'' kata Yuya sambil bersandar di gerbang Pandora, ''bagaimana ini?''

''Hikaru akan diberitahu Chinen dan Kei,'' kata Yabu, ''kalau tiga orang itu.... Biar para gadis yang menanganinya.''
*
''APA?! AKU?!''

Kei menggeplak kepala Hikaru, dia mendesis, ''Pelankan suaramu!''

Hikaru menutup mulutnya, dia menoleh kesana kemari lalu berbisik, ''Kalian bicara apa, sih?''

Chinen menghela napas dan menyeruput jusnya. ''Sudah kuduga dia tidak akan paham,'' katanya datar, ''kapasitas otaknya masih dibawah rata-rata.''

Hikaru menoleh, dia lantas menggeplak kepala Chinen dan membalas, ''Heh, aku seniormu. Yang sopan sedikit.''

''Sudah jangan bertengkar dulu,'' kata Kei melerai, ''Hikaru, aku tahu ini sulit dipercaya. Tapi ini kenyataan. Kita adalah pengawal Pandora, pengawal Daiki.''

Hikaru melongo, dia lalu berkata, ''Lalu Daiki sudah tahu?''

''Entahlah, mungkin Hiroko sudah memberitahunya,'' kata Kei, ''dan sekarang tugas kita adalah mencari keturunan Venom. Dan Shora yang lepas.''

''Jadi tugas kita itu mencari keturunan Venom atau memusnahkan Shora?'' tanya Hikaru.

''Dua-duanya,'' jawab Chinen.

Hikaru, Chinen, dan Kei menghela napas, mereka bersandar di kursi. ''Akan sangat sulit,'' kata Kei, ''kata Tatsuya, keturunan Venom ada di sekitar kita. Tapi siapa?''

''Mungkin.... Salah satu dari keempat gadis itu,'' kata Chinen.

''Tidak mungkin!'' Kei dan Hikaru menyahut bersamaan, membuat Chinen kaget. ''Aku tidak percaya kalau salah satu dari mereka adalah keturunan Venom,'' kata Hikaru.

''Kita juga belum menemukan Shora yang lepas,'' kata Chinen, ''kita punya tugas ganda, Senpai.''

''Begini saja,'' kata Hikaru, ''sebagian mencari keturunan Venom, sebagian lagi mencari Shora yang lepas.''

''Ah, benar,'' kata Kei, ''baiklah, aku akan menghubungi yang lain.''

''Yosh,'' kata Hikaru, ''nah, siapa yang akan membayar minuman ini?''
*
Hiroko mondar mandir, dia menoleh beberapa kali kearah jalanan. ''Dai-Chan, kau itu lambat sekali, sih,'' Hiroko menggerutu cemas, ''begitu, tuh, kalau berat badannya naik. Langkahnya jadi lamban.''

Hiroko menoleh, dia segera mendekat kearah Daiki yang berjalan kearahnya. ''Dai-Chan kau lama sekali,'' kata Hiroko, ''aku sudah menunggu lama.''

''Kau tumben sekali, sih, tidak sabar menunggu,'' kata Daiki, ''kau sudah merindukanku, ya?'' Daiki tertawa, dia mengaduh saat Hiroko menggeplak kepalanya. ''Baka,'' kata Hiroko, ''jangan tertawa dulu.''

''Iya iya,'' kata Daiki, ''ada apa, Hiroko-Chan?''

''Anoo.... Ada hal yang ingin kubicarakan,'' kata Hiroko. Dia sangat gelisah dan meremas jemarinya panik. Hiroko jadi bimbang harus memberitahu Daiki soal kenyataannya.

''Soal aku adalah Raja Pandora, kan?''
***
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar