Title : Pandora
Author : Veve
Genre : Fantasy, Comedy, Romance
Cast :
All Hey! Say! JUMP Members
Kawazoe Tori / OC
Ishihara Mio / OC
Watanabe Ayaka / OC
Fukushi Hiroko / OC
Other casts will revealed
Length : Chapter
*
Chapter
8
Mio melangkah masuk
kamar, dia mendesis miris melihat Ryosuke yang tertidur pulas di kamarnya.
Ryosuke diperbolehkan pulang oleh dokter, karena luka di lengannya sudah
dijahit. Mio duduk di lantai, dia melihat lengan kanan Ryosuke yang terluka
dengan tatapan tidak tega. Mio lalu menoleh menatap Ryosuke, dia membelai
lembut rambut Ryosuke yang masih terlelap.
Mio menarik tangannya
ketika Ryosuke membuka mata. ''Sudah jangan bangun,'' Mio mencegah Ryosuke yang
akan bangun, ''kau berbaring saja. Lukamu belum sembuh.''
Ryosuke kembali
berbaring, dia dan Mio bertatapan dalam diam. ''Baka,'' kata Mio, ''kau senang
sekali membuatku khawatir.''
''Maaf,'' kata Ryosuke,
''maafkan aku.''
Mereka berdua kembali
diam. Mio menunduk, dia menggigit bibirnya kuat-kuat. Ryosuke menatap Mio, dia
mengangkat pelan lengan kirinya. Ryosuke meringis sedikit, dia menepuk pelan
kepala Mio. ''Kau kenapa, Mio-Chan?'' tanya Ryosuke, ''kau ada masalah?''
Mio menggeleng, dia
masih menunduk. Ryosuke bergeser dan mengintip, dia terhenyak melihat Mio
menangis. ''Mio, kenapa kau menangis?'' tanya Ryosuke, ''apa aku yang salah?
Kumohon jangan menangis.''
''Jangan membuatku
khawatir terus,'' kata Mio terisak, ''jangan melakukan tindakan bodoh. Aku
benci orang yang melakukan tindakan bodoh.''
Ryosuke terdiam, dia
membelai rambut Mio. ''Kalau aku tidak melakukan hal bodoh, kau yang akan
terluka,'' kata Ryosuke, ''aku menahan vampir itu agar kau tidak diserang.
Bagiku tidak masalah kalau aku yang terluka, toh aku tidak mati.''
''Iya, itu karena ada
Daiki dan Tori yang membantumu,'' kata Mio, dia menatap Ryosuke dengan mata
berair dan merah, ''bagaimana kalau tidak ada mereka? Kau bisa mati.''
''Tidak apa-apa,
asalkan kau tetap hidup,'' kata Ryosuke.
''Yamada Ryosuke!''
sentak Mio terisak, ''kubilang jangan melakukan hal bodoh!''
''Kalau melindungimu
adalah hal bodoh, maka aku akan melakukan hal bodoh itu setiap saat,'' kata
Ryosuke.
''Lalu kalau kau mati,
siapa yang akan melindungiku selanjutnya?'' balas Mio, ''kalau kau mati, tidak
akan ada yang melindungiku.''
''Ada yang lain,'' kata
Ryosuke, ''dan aku juga tetap akan melindungimu meskipun aku sudah mati.''
Mio tertawa di sela
tangisnya. ''Gombal,'' katanya, ''aku tidak mau melihatmu terluka seperti ini
lagi.''
Ryosuke hanya tersenyum
menanggapi kalimat Mio. Mio juga tersenyum, dia mengambil sebuah kotak bekal
dari tasnya. ''Aku membuat makanan ini sendiri, lho,'' kata Mio, dia
menunjukkan sebuah bekal yang ditata dengan cantik kepada Ryosuke. Ryosuke
menengok, dia berkata, ''Ini kau yang membuat, kan?''
''Kau tidak percaya?''
tanya Mio.
''Aku baru tidak
percaya kalau kau mengatakan Tori yang membuatnya,'' kata Ryosuke.
Mio tertawa. ''Mana
mungkin,'' kata Mio, ''ini buatanku. Coba saja.'' Mio menyuapi Ryosuke dengan
masakannya. Ryosuke memakan bekal buatan Mio, dia lalu memasang ekspresi yang
aneh. ''It's delicious,'' katanya, ''tasty and.... Sweet.''
''Tch, sok
komentator,'' kata Mio, dia terkekeh dan kembali menyuapi Ryosuke. Melihat
Ryosuke yang terkekeh manis begitu membuat Mio tidak tega memberitahu kenyataan
yang dia dengar dari Tatsuya malam itu.
Tapi Mio tidak bisa
menyimpan rahasia terlalu lama.
*
''Yang perlu kalian
lakukan hanya mencari keturunan Venom. Kalau Shora sampai menemukannya lebih
dulu, mereka akan menguasai dunia manusia. Venom jelas akan membangkitkan
tuannya, Tuan Besar Shora. Dan itu bencana untuk Pandora, juga untuk manusia.''
Hiroko dan Tori
melangkah pelan menyusuri jalan. ''Mereka semua adalah keturunan Pandora,''
kata Hiroko pelan, ''Dai-Chanku.... Dia....'' Hiroko mengerang, dia mengacak
rambutnya dan berkata, ''Kenapa harus dia raja Pandora?''
''Takdir,'' jawab Tori
singkat.
Hiroko menunduk lemas.
''Aku tidak bisa memberitahunya, Tori,'' kata Hiroko.
''Kenapa?''
''Aku...'' Hiroko
berhenti, dia merenung, ''aku hanya tidak mau dia meninggalkanku.''
Tori berhenti, dia
menoleh dan menatap Hiroko yang memasang wajah sedih. ''Kau tidak bisa
membelokkan takdir seseorang, Hiroko,'' kata Tori, ''Daiki akan tahu kalau dia
adalah raja Pandora. Dan dia harus menyelesaikan misinya.''
Hiroko menatap Tori,
dia berlari mendekat dan bertanya, ''Lalu dimana para Shora itu?''
''Mana aku tahu, kau
pikir aku pelayan Shora?'' balas Tori, dia kembali berjalan dan memasukkan
kedua tangannya di saku jaketnya. Tori sendiri sebenarnya berusaha menjernihkan
pikirannya. Dia juga shock mengetahui Yuya adalah salah satu pengawal Pandora.
Tori tidak siap dengan keadaan ini, dan sepertinya Yuya juga. Tori tidak
bertemu Yuya sejak hari itu. Terhitung sudah dua hari sejak malam itu, Yuya
tidak datang ke rumahnya. Menelepon juga tidak.
''Tori-Chan.''
Tori berhenti, dia
berbalik menatap Hiroko. ''Aku.... Aku butuh bantuanmu,'' kata Hiroko.
''Apa?'' tanya Tori.
''Bantu aku memberi
Dai-Chan pengertian,'' kata Hiroko, ''kau tahu... Dai-Chan yang membuka segel
itu, dia pasti merasa bersalah dan akan sangat terpuruk. Bantu aku
menyemangatinya.''
Mendengar itu, Tori
terkekeh. ''Kau ini bagaimana,'' katanya, ''kau pacarnya, sudah jelas kau yang
lebih bisa menyemangatinya.''
Hiroko menghela napas.
''Aku hanya tidak mau melihatnya merasa bersalah,'' kata Hiroko, ''kau tahu kan
kalau....''
''Iya aku tahu,'' sela
Tori, ''dia yang membuka segel Pandora. Tapi itu kan tidak sengaja, Hiroko.
Siapa yang tahu kalau dia memang keturunan Pandora? Rajanya pula.'' Tori
merangkul Hiroko, dia mengajak Hiroko berjalan sambil berkata, ''Sekarang kita
fokus saja mencari keturunan Venom dan mencaritahu siapa saja Shora yang sudah
lepas. Soal memberitahu Daiki, Ryosuke, Ryutaro, dan Hikaru, itu bisa diurus
sambil lalu. Oke?''
Hiroko mengangguk
pelan, dia merangkul Tori dan mereka berdua berjalan pelan. ''Um, Tori-Chan,''
panggil Hiroko.
''Apa?'' tanya Tori.
''Bagaimana hubunganmu
dengan Yuya Senpai?''
Tori berhenti
melangkah, dia terdiam. Hiroko menatap Tori, dia bisa melihat perubahan
ekspresi sahabat sekaligus sepupu jauhnya itu. ''Aku tidak bertemu dengannya
sejak malam itu,'' kata Tori, ''aku mencoba ke rumahnya, tapi kata Bibi dia
tidak ada di rumah. Dia seperti sengaja menghindariku.''
Hiroko menepuk bahu
Tori, dia berkata, ''Mungkin dia butuh waktu untuk menghadapi dirimu. Dia
sekarang punya tugas penting, kan?''
Tori mengangguk pelan.
''Ayo ke rumah sakit,'' kata Tori, ''aku mau menjenguk Ryutaro. Setelah itu
baru kita menjenguk Ryosuke.''
*
Pintu kamar rawat
terbuka. Tegoshi melangkah masuk, dia mendekat dan berhenti di dekat Ryutaro
yang masih belum sadar. Tegoshi menatap Ryutaro dengan mata tajam, dia
menyeringai dan berkata pelan, ''Kasihan sekali kau, harus menderita seperti
ini. Kau pengawal Pandora, dan harus menderita seperti ini.'' Tegoshi
mengarahkan tangannya kepada Ryutaro, cakar tajam kemerahan muncul di
jari-jarinya. ''Akan kuakhiri rasa sakitmu,'' kata Tegoshi sambil menyeringai.
''Sensei?''
Tegoshi segera menarik
tangannya dan menyembunyikannya di saku jaket, dia menoleh dan tersenyum kepada
Tori dan Hiroko yang melangkah masuk. ''Wah, Sensei datang,'' kata Hiroko, dia
tersenyum memberi salam kepada Tegoshi.
''Ryutaro adalah
muridku, jadi aku punya kewajiban menjenguknya,'' kata Tegoshi, dia menatap
Tori yang hanya diam dan berkata, ''Tori, apa kau bertemu Takaki? Aku tidak
melihatnya di sekolah dua hari ini.''
''Dia sedang tidak enak
badan, Sensei,'' jawab Tori, ''dia terlalu banyak memakan saus, jadi perutnya
sakit.''
Tegoshi mengangguk.
'Pembohong ulung,' batinnya.
Pintu terbuka. Tegoshi,
Tori, dan Hiroko menoleh. Ayaka masuk, dia memekik tertahan melihat tiga orang
itu. ''Astaga kalian membuatku kaget,'' kata Ayaka sambil menghela napas lega,
''ada Sensei juga. Terimakasih sudah mau menjenguk Ryutaro.'' Ayaka menatap
Hiroko dan Tori, dia bertanya, ''Bagaimana keadaan Ryosuke?''
''Kalau itu tanyakan
saja kepada Mio,'' kata Tori sambil melangkah mendekati Ryutaro. Tori membelai
rambut teman sekelasnya itu, dia berkata, ''Aku berjanji akan menyegel ulang
Shora. Bersama yang lain. Pegang janjiku, Ryutaro.''
''Aku harus pergi,''
kata Tegoshi, ''kakakku akan datang hari ini. Jadi aku harus menyiapkan makanan
untuknya.'' Tegoshi membungkuk, dia tersenyum dan melangkah keluar kamar.
Tegoshi melangkah pelan, dia lalu berhenti dan menoleh menatap kamar rawat
Ryutaro. 'Sebelum kalian sadar, aku sudah menemukan Venom lebih dulu,' batin
Tegoshi, 'dan sebelum kalian bertindak, aku dan yang lain sudah menguasai
dunia.' Tegoshi tersenyum samar, dia melangkah meninggalkan rumah sakit.
*
Yuya menoleh, dia
melihat keadaan sekelilingnya. Yuya sudah sangat terbiasa dengan suasana hutan,
terutama di wilayah gerbang Pandora. Yuya menyentuh batu yang diselimuti lumut
itu, dia berkata pelan, ''Dibalik batu ini, ada rumahku. Seperti apa rupanya
sekarang? Apa indah seperti dunia peri yang sering diceritakan di dongeng? Atau
sudah berubah?''
''Yang jelas tidak
seaman dulu.''
Yuya menoleh, dia
melihat Tatsuya melangkah tenang kearahnya bersama Yabu. ''Tidak ada yang duduk
di singgasana,'' kata Tatsuya, ''semua rakyat bingung, bagaimana akhir dari
kisah ini. Apakah Pandora yang menang, atau justru Shora yang berkuasa.''
''Shige adalah anak
buah kesayangan Ninomiya,'' kata Yabu, ''Ninomiya adalah pengendali ilusi. Dia
yang menguasai monster-monster yang menyerang melalui ilusi dan mimpi. Lalu
Sho.... Aku tidak tahu siapa yang melepaskannya, tapi dia juga berbahaya. Masih
ada Massu dan Keiichiro, serta dua tuan mereka, Jun dan Ohno.''
''Dan Venom,'' kata
Yuya, ''bersama tuannya, entah siapa namanya.''
''Aiba,'' jawab
Tatsuya, ''hanya Raja Pandora--Daiki--dan Venom.... Maksudku keturunannya yang
bisa melepaskan Aiba. Dan Shora tentu saja mencari keturunan Venom, teman
mereka.''
''Hikaru, Ryutaro,
Ryosuke, dan Daiki belum tahu soal siapa mereka,'' kata Yuya sambil bersandar
di gerbang Pandora, ''bagaimana ini?''
''Hikaru akan
diberitahu Chinen dan Kei,'' kata Yabu, ''kalau tiga orang itu.... Biar para
gadis yang menanganinya.''
*
''APA?! AKU?!''
Kei menggeplak kepala
Hikaru, dia mendesis, ''Pelankan suaramu!''
Hikaru menutup
mulutnya, dia menoleh kesana kemari lalu berbisik, ''Kalian bicara apa, sih?''
Chinen menghela napas
dan menyeruput jusnya. ''Sudah kuduga dia tidak akan paham,'' katanya datar,
''kapasitas otaknya masih dibawah rata-rata.''
Hikaru menoleh, dia
lantas menggeplak kepala Chinen dan membalas, ''Heh, aku seniormu. Yang sopan
sedikit.''
''Sudah jangan
bertengkar dulu,'' kata Kei melerai, ''Hikaru, aku tahu ini sulit dipercaya.
Tapi ini kenyataan. Kita adalah pengawal Pandora, pengawal Daiki.''
Hikaru melongo, dia
lalu berkata, ''Lalu Daiki sudah tahu?''
''Entahlah, mungkin
Hiroko sudah memberitahunya,'' kata Kei, ''dan sekarang tugas kita adalah
mencari keturunan Venom. Dan Shora yang lepas.''
''Jadi tugas kita itu
mencari keturunan Venom atau memusnahkan Shora?'' tanya Hikaru.
''Dua-duanya,'' jawab
Chinen.
Hikaru, Chinen, dan Kei
menghela napas, mereka bersandar di kursi. ''Akan sangat sulit,'' kata Kei, ''kata
Tatsuya, keturunan Venom ada di sekitar kita. Tapi siapa?''
''Mungkin.... Salah
satu dari keempat gadis itu,'' kata Chinen.
''Tidak mungkin!'' Kei
dan Hikaru menyahut bersamaan, membuat Chinen kaget. ''Aku tidak percaya kalau
salah satu dari mereka adalah keturunan Venom,'' kata Hikaru.
''Kita juga belum
menemukan Shora yang lepas,'' kata Chinen, ''kita punya tugas ganda, Senpai.''
''Begini saja,'' kata
Hikaru, ''sebagian mencari keturunan Venom, sebagian lagi mencari Shora yang
lepas.''
''Ah, benar,'' kata
Kei, ''baiklah, aku akan menghubungi yang lain.''
''Yosh,'' kata Hikaru,
''nah, siapa yang akan membayar minuman ini?''
*
Hiroko mondar mandir,
dia menoleh beberapa kali kearah jalanan. ''Dai-Chan, kau itu lambat sekali,
sih,'' Hiroko menggerutu cemas, ''begitu, tuh, kalau berat badannya naik.
Langkahnya jadi lamban.''
Hiroko menoleh, dia
segera mendekat kearah Daiki yang berjalan kearahnya. ''Dai-Chan kau lama
sekali,'' kata Hiroko, ''aku sudah menunggu lama.''
''Kau tumben sekali,
sih, tidak sabar menunggu,'' kata Daiki, ''kau sudah merindukanku, ya?'' Daiki
tertawa, dia mengaduh saat Hiroko menggeplak kepalanya. ''Baka,'' kata Hiroko,
''jangan tertawa dulu.''
''Iya iya,'' kata
Daiki, ''ada apa, Hiroko-Chan?''
''Anoo.... Ada hal yang
ingin kubicarakan,'' kata Hiroko. Dia sangat gelisah dan meremas jemarinya
panik. Hiroko jadi bimbang harus memberitahu Daiki soal kenyataannya.
''Soal aku adalah Raja
Pandora, kan?''
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar