Title : Pandora
Author : Veve
Genre : Fantasy, Comedy, Romance
Cast :
All Hey! Say! JUMP Members
Kawazoe Tori / OC
Ishihara Mio / OC
Watanabe Ayaka / OC
Fukushi Hiroko / OC
Other casts will revealed
Length : Chapter
*
Chapter
7
''Kau adalah keturunan
para pengawal Pandora.''
Yuya menoleh, dia
menatap heran laki-laki itu. ''Apa yang kau bicarakan?'' kata Yuya, ''ah,
gara-gara kau aku harus meninggalkan sekolah.'' Yuya melangkah pergi, dia sudah
sampai tepi hutan saat tubuhnya terpental kembali ke hutan. Yuya terjatuh, dia
meringis kesakitan saat dia mendengar laki-laki itu tertawa. ''Sudah kuduga kau
itu lemah,'' kata laki-laki itu, ''kau bahkan tidak bisa menembus tabirku. Kau
tidak sekuat leluhurmu.''
Yuya menoleh, dia
memicingkan mata. 'Tabir?' batinnya, 'astaga, ada apa ini?' Yuya berdiri, dia
menatap waspada laki-laki itu. ''Leluhurmu yang menyegelku ratusan tahun
lalu,'' kata laki-laki itu sambil melangkah pelan di sekitar Yuya, ''tapi
sekarang aku bebas. Dan target utamaku tentu saja penyegelku, leluhurmu.''
Laki-laki itu menatap tajam Yuya. ''Kau,'' katanya.
''Aku tidak mengerti
yang kau bicarakan,'' kata Yuya.
''Pantas gadismu itu
selalu memanggilmu 'Baka','' kata laki-laki itu.
Yuya mengerutkan dahi.
''Gadis?'' gumamnya, ''siapa yang....'' Yuya terbelalak. Sekarang dia tahu trik
tipuan yang memancingnya datang kemari. ''Jadi kau mengelabuiku dengan menyamar
menjadi Tori dan membawaku kemari?'' kata Yuya.
''Aku tahu kau akan
mengikutiku kalau kau melihatku sebagai gadis itu,'' kata laki-laki itu,
''sekarang kau hanya sendirian disini. Aku, pelayan setia Shora akan
membereskanmu disini.''
Yuya memasang wajah
tegang. Shora, dia akrab dengan nama itu. 'Mereka benar-benar bangkit,' batin
Yuya, 'apa yang harus kulakukan?' Yuya berusaha tenang, walaupun sebenarnya dia
sangat panik.
''Ucapkan selamat
tinggal, Yuya,'' desis laki-laki itu, dia berlari maju menerjang Yuya dan
menghunuskan pedangnya kearah Yuya.
*
Tori menoleh, dia
melihat Ayaka yang masih menangis di pelukan Mio. ''Kalau saja aku tidak
menuruti Ryutaro, semua ini tidak akan terjadi,'' Ayaka terisak, ''harusnya aku
memaksanya tetap datang ke sekolah.''
Tori dan Ryosuke
berpandangan, mereka berdua lalu menatap Mio. Tiga anak itu sama-sama merasa
bersalah, pasalnya mereka yang menyuruh Ryutaro dan Ayaka untuk membolos. Tori
menoleh kearah ICU, dia cemas dengan keadaan Ryutaro. Awalnya Ryutaro akan
dibawa ke rumah Tegoshi, hanya saja karena lukanya terlalu parah Daiki
mengusulkan agar membawanya ke rumah sakit saja.
Dan disinilah mereka
sekarang. Cemas menunggu dokter memberitahu keadaan Ryutaro.
''Semua akan baik-baik
saja, Ayaka,'' kata Tegoshi menenangkan, ''Ryutaro baik-baik saja. Jangan
khawatir.''
''KYAAAA!''
Semua menoleh kaget.
Beberapa perawat berlarian dengan panik, dari jauh terdengar suara ribut. ''Ada
monster!'' pekik salah satu pengunjung rumah sakit sambil berlari menghindar.
Daiki menoleh, dia
terkejut melihat seorang wanita yang terlihat mengerikan dengan wajah pucatnya
muncul dan mulai mengacaukan rumah sakit. ''Vampir!'' teriak Daiki. Yang lain
ikut terkejut, Ryosuke dengan sigap mendekat dan berdiri di depan Mio dan
Ayaka.
''Lari!'' teriak
Tegoshi, dia menggiring Mio, Ayaka, dan Hiroko menjauh. Daiki, Tori, dan
Ryosuke menghadang vampir itu agar tidak melukai orang lain. ''Cepat lari!''
teriak Tori sambil mendorong wanita itu kuat-kuat, ''Sensei! Bawa mereka
pergi!'' ''Kami akan menahan vampir ini!'' kata Daiki, dia sekuat tenaga
berusaha menahan vampir itu agar tidak mendekati yang lain.
Tegoshi mengangguk, dia
segera membawa pergi Mio, Ayaka, dan Hiroko. Vampir itu meraung, dia
menghempaskan Tori, Daiki, dan Ryosuke hingga mereka terjatuh ke lantai dengan
keras.
''Dai-Chan!'' Hiroko
akan mendekat, namun Tegoshi segera menahannya. ''Kau bisa terluka kalau
mendekatinya!'' kata Tegoshi.
Hiroko akan membalas,
tapi Mio segera menariknya menjauh. Tinggal Daiki, Ryosuke, dan Tori yang masih
disana. Mereka dengan sedikit kesakitan karena terbanting menghadap vampir
wanita itu. ''Vampir itu cuma minum darah, tapi tenaganya besar sekali,'' kata
Ryosuke, ''kita harus memancingnya dengan darah dan membawanya keluar dari
tempat ini.''
''Darah,'' gumam Tori,
dia menatap Ryosuke dan Daiki lalu berkata, ''Kalian tangani dia dulu. Aku akan
mencari darah untuk memancingnya.'' Tori berlari, dia dengan gesit menghindar
saat vampir itu akan menangkapnya.
''Oi! Disini!'' Daiki
berteriak. Vampir itu menoleh, dia menerjang Daiki. Vampir itu akan menggigit
leher Daiki, tapi Ryosuke menghantamkan tongkat besi yang entah dia dapat
darimana ke tengkuk vampir itu. Vampir itu berbalik menyerang Ryosuke, dia
merebut dan mematahkan tongkat besi di tangan Ryosuke. ''Aku akan membunuh
kalian!'' raung vampir itu, dia mencengkeram lengan Ryosuke dan menggigitnya
kuat-kuat.
''AAAAKKHH!'' Ryosuke
menjerit, dia menarik lengannya sekuat tenaga hingga merobek lengan bajunya.
Ryosuke terhuyung mundur, dia kesakitan memegangi lengannya. Sebuah luka
memanjang terbuka di lengan, meneteskan darah cukup banyak.
Daiki dengan cepat
menahan vampir itu, mendorongnya kuat-kuat. ''Kau tidak boleh melukai
Ryosuke!'' katanya berteriak, dia berusaha menahan vampir itu. Tapi Daiki tidak
cukup kuat menahan vampir itu. Dia terhempas kuat ke lantai. Vampir itu kembali
menerjang Ryosuke, dia tampak kelaparan melihat darah yang mengalir dari luka
di lengan Ryosuke.
''Oi!''
Vampir itu berhenti,
dia menoleh dan menatap lapar Tori. Daiki menoleh, dia melongo melihat Tori
muncul dengan seragam berlumuran darah. Wajah dan tangannya juga
berdarah-darah, entah darah siapa yang dia pakai. ''Kau mau darah, hm?'' tanya
Tori keras, ''lihat aku. Darahnya banyak sekali, kan? Kalau kau mau, coba
tangkap aku.'' Tori melesat menjauh, dan sesuai dugaannya vampir itu meraung
lalu mengejarnya.
Daiki bangkit, dia
merobek lengan seragamnya dan membalutkannya di lengan Ryosuke yang terluka.
''Jangan khawatir, Yama-Chan,'' kata Daiki, ''kau akan baik-baik saja.'' Daiki
memapah Ryosuke yang memucat karena darah terus mengalir, dia membawa Daiki
menuju ICU.
Tori berhenti di atap
gedung, dia berbalik menghadap vampir wanita itu. ''Kau suruhan Shora, kan?''
kata Tori lantang, ''kenapa kau muncul?''
''Karena sudah saatnya
kami menguasai dunia,'' jawab vampir itu, ''Tuanku yang menyuruhku menghabisi
Pandora.''
''Ck, jawaban
murahan,'' kata Tori, ''Pandora tidak ada. Kau cari saja dia di kerajaanmu.''
''Jangan banyak bicara,
kau manusia lemah!'' vampir itu menerjang Tori. Tori terbanting ke lantai, dia
berusaha melepaskan diri dari vampir itu. ''Kau akan mati sebentar lagi,''
vampir itu tertawa keras, ''nikmati sisa hidupmu, manusia.''
*
Kei berhenti, dia
mengatur napasnya. ''Astaga, dimana Yuya?'' tanya Kei pada diri sendiri, ''dia
dalam bahaya. Aku harus menolongnya.'' Kei berlari masuk hutan, dia berharap
segera menemukan Yuya.
Yuya menangkis serangan
laki-laki itu dengan tongkat besi yang entah muncul darimana tiba-tiba saja ada
di tangannya. ''Kenapa kau begitu lemah, hah?'' laki-laki itu mengejek, ''kau
tidak sekuat leluhurmu.''
''Berisik!'' Yuya
membalas, dia memukul lengan laki-laki itu dengan kuat. Yuya sebal sekali kalau
dibilang lemah. Dia mantan yankee, bahkan mungkin sampai sekarang bisa dibilang
yankee. Apa kata dunia kalau tahu yankee kalah melawan orang aneh ini? Yuya
dengan serampangan menyerang laki-laki itu, tapi lawannya gesit sekali
menghindar dan balas menyerang Yuya dengan sabetan pedang apinya.
Plok!
Yuya tersentak, dan
laki-laki itu berhenti. Yuya menoleh, dia cengo melihat Kei berdiri disana
dengan membawa segenggam tanah. Laki-laki itu menoleh, dia menyeringai menatap
Kei. ''Halo, Tuan,'' sapanya, ''lama sekali tidak berjumpa.''
''Aku tidak mengenalmu,
jadi jangan sok akrab,'' balas Kei ketus.
Laki-laki itu tertawa
mengejek, dia membalas, ''Tentu saja kau tidak mengenalku. Tapi aku mengenalmu
dengan baik.'' Dia mengangkat pedang apinya, lalu mendesis, ''Ayo
bersenang-senang sedikit.'' Laki-laki itu mengayunkan pedangnya, meluncurkan
kobaran api kearah Kei.
Kei dengan sigap
menghindar, dia terbelalak melihat pohon di belakangnya tadi terbakar. ''Hei,
kau merusak lingkungan!'' teriak Kei, ''membakar pohon, kau pikir kau siapa,
hah?! Pohon itu sumber kehidupan, tahu tidak kau?!''
Yuya mendesis
sweatdrop, dia mendekat dan menggeplak kepala Kei. ''Bukan waktunya kampanye
cinta lingkungan, dasar aktivis amatir!'' kata Yuya.
Laki-laki itu kembali
menyabetkan pedangnya. Yuya segera menangkis serangan laki-laki itu, dia balas
menyerang lawannya dengan tongkat besinya. ''Kalau memang aku adalah pengawal
Pandora, maka takdirku adalah menghabisimu,'' kata Yuya, ''dan akan kupenuhi
takdirku.''
''Takdirmu adalah mati
dibawah kakiku,'' ucap laki-laki itu, ''dan akan kubantu kau memenuhinya.''
Kei panik, dia bingung
harus membantu Yuya dengan cara apa. Kei berusaha menemukan benda yang bisa dia
gunakan untuk senjata.
Eh?
Kei menoleh, dia segera
mengambil sebuah busur panah yang tergeletak begitu saja di tanah. Busur panah
itu berwarna keemasan, berkilau dengan permata menghiasi busur. Kei menarik
tali busur, dia terkejut melihat sebuah anak panah muncul dengan ajaib di tangannya.
Kei mengarahkan panah kearah laki-laki itu, dia memicingkan mata membidik dan
langsung melepaskan anak panahnya.
Kei berdecak saat anak
panahnya meleset dan melebur menjadi udara. Kei baru akan membidik lagi saat
sebuah bumerang melesat menghantam tangan laki-laki itu hingga pedangnya
terlempar ke tanah.
Kei dan Yuya menoleh,
mereka agak kaget melihat Chinen berdiri dengan memegang bumerang itu. Di
sebelahnya ada Yabu yang tampak tenang dengan memegang trisula perak. ''Waktumu
habis, Shige,'' kata Yabu, ''dan lagi, kami berempat sedangkan kau sendirian.
Kami bisa menyegelmu lagi kalau kami mau.''
Shige menatap tajam
Yabu dan Chinen, dia menghilang begitu saja. Yuya berlari mendekat, dia
bertanya, ''Apa yang kudengar itu bohong?''
Yabu dan Chinen saling
pandang. ''Kalian ikut kami ke kuil,'' kata Yabu, ''ada yang harus
kuceritakan.''
*
Tori terbanting
kesekian kalinya, dia terbatuk kesakitan dan kembali bangkit. Vampir itu tidak
menyerah rupanya. Dia berusaha menyerang Tori, tapi tidak berhasil. Tori
sendiri bingung darimana dia mendapat kekuatan melawan vampir itu. 'Kalau
begini terus, tulangku bisa hancur,' batin Tori, 'harus kuapakan vampir ini?'
''Kau kuat juga,'' kata
vampir itu mengejek, ''tapi tenagamu akan habis dan kau akan mati di tanganku.''
''Ck, cheesy,'' kata
Tori, ''aku tidak akan mati di tanganmu. Siapapun kau, apapun tujuanmu kemari,
aku tidak peduli. Hanya saja karena kau meresahkan banyak orang maka aku harus
menanganimu.''
Vampir itu tertawa
mengejek. ''Silahkan berkhayal, manusia,'' katanya. Vampir itu berlari kearah
Tori, detik berikutnya dia sudah terhempas menjauhi Tori.
Tori menoleh, dia
melihat Tatsuya melangkah tenang dan berhenti di depan Tori. Vampir itu
berdiri, dia mendesis melihat Tatsuya. ''Kau lagi,'' katanya, ''minggir! Aku
tidak ada urusan denganmu!''
''Tapi aku ada,'' kata
Tatsuya, dia mengacungkan tangannya dan vampir itu meraung kesakitan. ''Kau
akan kuhancurkan sekarang juga,'' kata Tatsuya, ''tidak ada kesempatan kedua
untukmu, Minora.''
Vampir bernama Minora
itu semakin meraung. Dia melotot kesakitan, membuat Tori bergidik ngeri karena
baginya wajah itu seperti wajah orang yang akan meledak seperti di film-film
horor. Minora menunjuk Tori, dia berkata di tengah raung kesakitannya, ''Kau
akan mati! Kau akan musnah!''
Tatsuya mengepalkan
tangannya, dan Minora langsung melebur menjadi kabut dan menguap seperti asap.
Tori menelan ludahnya tercengang, dia menoleh kearah Tatsuya yang masih tenang
menatapnya. ''Sebenarnya kau ini siapa?'' tanya Tori pelan, ''kenapa kau selalu
muncul saat monster-monster itu mengacau?''
''Namaku Tatsuya,''
jawabnya, ''aku adalah salah satu penghuni Pandora. Aku datang kemari untuk
membantu kalian, para penghuni Pandora menyegel kembali Shora.''
Ming.
''Aku.... Aku bukan
penghuni Pandora,'' kata Tori cengo.
Tatsuya tersenyum.
''Memang bukan kau,'' katanya, ''nah, dimana teman-temanmu? Akan kuceritakan
potongan kisah Pandora yang tidak pernah kalian dengar. Kisah ini yang akan
membantu kalian mengenaliku. Dan Pandora lainnya.''
*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar