Senin, 02 November 2015

Pandora 07



Title : Pandora
Author : Veve
Genre : Fantasy, Comedy, Romance
Cast :
All Hey! Say! JUMP Members
Kawazoe Tori / OC
Ishihara Mio / OC
Watanabe Ayaka / OC
Fukushi Hiroko / OC
Other casts will revealed
Length : Chapter
*
Chapter 7


''Kau adalah keturunan para pengawal Pandora.''

Yuya menoleh, dia menatap heran laki-laki itu. ''Apa yang kau bicarakan?'' kata Yuya, ''ah, gara-gara kau aku harus meninggalkan sekolah.'' Yuya melangkah pergi, dia sudah sampai tepi hutan saat tubuhnya terpental kembali ke hutan. Yuya terjatuh, dia meringis kesakitan saat dia mendengar laki-laki itu tertawa. ''Sudah kuduga kau itu lemah,'' kata laki-laki itu, ''kau bahkan tidak bisa menembus tabirku. Kau tidak sekuat leluhurmu.''

Yuya menoleh, dia memicingkan mata. 'Tabir?' batinnya, 'astaga, ada apa ini?' Yuya berdiri, dia menatap waspada laki-laki itu. ''Leluhurmu yang menyegelku ratusan tahun lalu,'' kata laki-laki itu sambil melangkah pelan di sekitar Yuya, ''tapi sekarang aku bebas. Dan target utamaku tentu saja penyegelku, leluhurmu.'' Laki-laki itu menatap tajam Yuya. ''Kau,'' katanya.

''Aku tidak mengerti yang kau bicarakan,'' kata Yuya.

''Pantas gadismu itu selalu memanggilmu 'Baka','' kata laki-laki itu.

Yuya mengerutkan dahi. ''Gadis?'' gumamnya, ''siapa yang....'' Yuya terbelalak. Sekarang dia tahu trik tipuan yang memancingnya datang kemari. ''Jadi kau mengelabuiku dengan menyamar menjadi Tori dan membawaku kemari?'' kata Yuya.

''Aku tahu kau akan mengikutiku kalau kau melihatku sebagai gadis itu,'' kata laki-laki itu, ''sekarang kau hanya sendirian disini. Aku, pelayan setia Shora akan membereskanmu disini.''

Yuya memasang wajah tegang. Shora, dia akrab dengan nama itu. 'Mereka benar-benar bangkit,' batin Yuya, 'apa yang harus kulakukan?' Yuya berusaha tenang, walaupun sebenarnya dia sangat panik.

''Ucapkan selamat tinggal, Yuya,'' desis laki-laki itu, dia berlari maju menerjang Yuya dan menghunuskan pedangnya kearah Yuya.
*
Tori menoleh, dia melihat Ayaka yang masih menangis di pelukan Mio. ''Kalau saja aku tidak menuruti Ryutaro, semua ini tidak akan terjadi,'' Ayaka terisak, ''harusnya aku memaksanya tetap datang ke sekolah.''

Tori dan Ryosuke berpandangan, mereka berdua lalu menatap Mio. Tiga anak itu sama-sama merasa bersalah, pasalnya mereka yang menyuruh Ryutaro dan Ayaka untuk membolos. Tori menoleh kearah ICU, dia cemas dengan keadaan Ryutaro. Awalnya Ryutaro akan dibawa ke rumah Tegoshi, hanya saja karena lukanya terlalu parah Daiki mengusulkan agar membawanya ke rumah sakit saja.

Dan disinilah mereka sekarang. Cemas menunggu dokter memberitahu keadaan Ryutaro.

''Semua akan baik-baik saja, Ayaka,'' kata Tegoshi menenangkan, ''Ryutaro baik-baik saja. Jangan khawatir.''

''KYAAAA!''

Semua menoleh kaget. Beberapa perawat berlarian dengan panik, dari jauh terdengar suara ribut. ''Ada monster!'' pekik salah satu pengunjung rumah sakit sambil berlari menghindar.

Daiki menoleh, dia terkejut melihat seorang wanita yang terlihat mengerikan dengan wajah pucatnya muncul dan mulai mengacaukan rumah sakit. ''Vampir!'' teriak Daiki. Yang lain ikut terkejut, Ryosuke dengan sigap mendekat dan berdiri di depan Mio dan Ayaka.

''Lari!'' teriak Tegoshi, dia menggiring Mio, Ayaka, dan Hiroko menjauh. Daiki, Tori, dan Ryosuke menghadang vampir itu agar tidak melukai orang lain. ''Cepat lari!'' teriak Tori sambil mendorong wanita itu kuat-kuat, ''Sensei! Bawa mereka pergi!'' ''Kami akan menahan vampir ini!'' kata Daiki, dia sekuat tenaga berusaha menahan vampir itu agar tidak mendekati yang lain.

Tegoshi mengangguk, dia segera membawa pergi Mio, Ayaka, dan Hiroko. Vampir itu meraung, dia menghempaskan Tori, Daiki, dan Ryosuke hingga mereka terjatuh ke lantai dengan keras.

''Dai-Chan!'' Hiroko akan mendekat, namun Tegoshi segera menahannya. ''Kau bisa terluka kalau mendekatinya!'' kata Tegoshi.

Hiroko akan membalas, tapi Mio segera menariknya menjauh. Tinggal Daiki, Ryosuke, dan Tori yang masih disana. Mereka dengan sedikit kesakitan karena terbanting menghadap vampir wanita itu. ''Vampir itu cuma minum darah, tapi tenaganya besar sekali,'' kata Ryosuke, ''kita harus memancingnya dengan darah dan membawanya keluar dari tempat ini.''

''Darah,'' gumam Tori, dia menatap Ryosuke dan Daiki lalu berkata, ''Kalian tangani dia dulu. Aku akan mencari darah untuk memancingnya.'' Tori berlari, dia dengan gesit menghindar saat vampir itu akan menangkapnya.

''Oi! Disini!'' Daiki berteriak. Vampir itu menoleh, dia menerjang Daiki. Vampir itu akan menggigit leher Daiki, tapi Ryosuke menghantamkan tongkat besi yang entah dia dapat darimana ke tengkuk vampir itu. Vampir itu berbalik menyerang Ryosuke, dia merebut dan mematahkan tongkat besi di tangan Ryosuke. ''Aku akan membunuh kalian!'' raung vampir itu, dia mencengkeram lengan Ryosuke dan menggigitnya kuat-kuat.

''AAAAKKHH!'' Ryosuke menjerit, dia menarik lengannya sekuat tenaga hingga merobek lengan bajunya. Ryosuke terhuyung mundur, dia kesakitan memegangi lengannya. Sebuah luka memanjang terbuka di lengan, meneteskan darah cukup banyak.

Daiki dengan cepat menahan vampir itu, mendorongnya kuat-kuat. ''Kau tidak boleh melukai Ryosuke!'' katanya berteriak, dia berusaha menahan vampir itu. Tapi Daiki tidak cukup kuat menahan vampir itu. Dia terhempas kuat ke lantai. Vampir itu kembali menerjang Ryosuke, dia tampak kelaparan melihat darah yang mengalir dari luka di lengan Ryosuke.

''Oi!''

Vampir itu berhenti, dia menoleh dan menatap lapar Tori. Daiki menoleh, dia melongo melihat Tori muncul dengan seragam berlumuran darah. Wajah dan tangannya juga berdarah-darah, entah darah siapa yang dia pakai. ''Kau mau darah, hm?'' tanya Tori keras, ''lihat aku. Darahnya banyak sekali, kan? Kalau kau mau, coba tangkap aku.'' Tori melesat menjauh, dan sesuai dugaannya vampir itu meraung lalu mengejarnya.

Daiki bangkit, dia merobek lengan seragamnya dan membalutkannya di lengan Ryosuke yang terluka. ''Jangan khawatir, Yama-Chan,'' kata Daiki, ''kau akan baik-baik saja.'' Daiki memapah Ryosuke yang memucat karena darah terus mengalir, dia membawa Daiki menuju ICU.

Tori berhenti di atap gedung, dia berbalik menghadap vampir wanita itu. ''Kau suruhan Shora, kan?'' kata Tori lantang, ''kenapa kau muncul?''

''Karena sudah saatnya kami menguasai dunia,'' jawab vampir itu, ''Tuanku yang menyuruhku menghabisi Pandora.''

''Ck, jawaban murahan,'' kata Tori, ''Pandora tidak ada. Kau cari saja dia di kerajaanmu.''

''Jangan banyak bicara, kau manusia lemah!'' vampir itu menerjang Tori. Tori terbanting ke lantai, dia berusaha melepaskan diri dari vampir itu. ''Kau akan mati sebentar lagi,'' vampir itu tertawa keras, ''nikmati sisa hidupmu, manusia.''
*
Kei berhenti, dia mengatur napasnya. ''Astaga, dimana Yuya?'' tanya Kei pada diri sendiri, ''dia dalam bahaya. Aku harus menolongnya.'' Kei berlari masuk hutan, dia berharap segera menemukan Yuya.

Yuya menangkis serangan laki-laki itu dengan tongkat besi yang entah muncul darimana tiba-tiba saja ada di tangannya. ''Kenapa kau begitu lemah, hah?'' laki-laki itu mengejek, ''kau tidak sekuat leluhurmu.''

''Berisik!'' Yuya membalas, dia memukul lengan laki-laki itu dengan kuat. Yuya sebal sekali kalau dibilang lemah. Dia mantan yankee, bahkan mungkin sampai sekarang bisa dibilang yankee. Apa kata dunia kalau tahu yankee kalah melawan orang aneh ini? Yuya dengan serampangan menyerang laki-laki itu, tapi lawannya gesit sekali menghindar dan balas menyerang Yuya dengan sabetan pedang apinya.

Plok!

Yuya tersentak, dan laki-laki itu berhenti. Yuya menoleh, dia cengo melihat Kei berdiri disana dengan membawa segenggam tanah. Laki-laki itu menoleh, dia menyeringai menatap Kei. ''Halo, Tuan,'' sapanya, ''lama sekali tidak berjumpa.''

''Aku tidak mengenalmu, jadi jangan sok akrab,'' balas Kei ketus.

Laki-laki itu tertawa mengejek, dia membalas, ''Tentu saja kau tidak mengenalku. Tapi aku mengenalmu dengan baik.'' Dia mengangkat pedang apinya, lalu mendesis, ''Ayo bersenang-senang sedikit.'' Laki-laki itu mengayunkan pedangnya, meluncurkan kobaran api kearah Kei.

Kei dengan sigap menghindar, dia terbelalak melihat pohon di belakangnya tadi terbakar. ''Hei, kau merusak lingkungan!'' teriak Kei, ''membakar pohon, kau pikir kau siapa, hah?! Pohon itu sumber kehidupan, tahu tidak kau?!''

Yuya mendesis sweatdrop, dia mendekat dan menggeplak kepala Kei. ''Bukan waktunya kampanye cinta lingkungan, dasar aktivis amatir!'' kata Yuya.

Laki-laki itu kembali menyabetkan pedangnya. Yuya segera menangkis serangan laki-laki itu, dia balas menyerang lawannya dengan tongkat besinya. ''Kalau memang aku adalah pengawal Pandora, maka takdirku adalah menghabisimu,'' kata Yuya, ''dan akan kupenuhi takdirku.''

''Takdirmu adalah mati dibawah kakiku,'' ucap laki-laki itu, ''dan akan kubantu kau memenuhinya.''

Kei panik, dia bingung harus membantu Yuya dengan cara apa. Kei berusaha menemukan benda yang bisa dia gunakan untuk senjata.

Eh?

Kei menoleh, dia segera mengambil sebuah busur panah yang tergeletak begitu saja di tanah. Busur panah itu berwarna keemasan, berkilau dengan permata menghiasi busur. Kei menarik tali busur, dia terkejut melihat sebuah anak panah muncul dengan ajaib di tangannya. Kei mengarahkan panah kearah laki-laki itu, dia memicingkan mata membidik dan langsung melepaskan anak panahnya.

Kei berdecak saat anak panahnya meleset dan melebur menjadi udara. Kei baru akan membidik lagi saat sebuah bumerang melesat menghantam tangan laki-laki itu hingga pedangnya terlempar ke tanah.

Kei dan Yuya menoleh, mereka agak kaget melihat Chinen berdiri dengan memegang bumerang itu. Di sebelahnya ada Yabu yang tampak tenang dengan memegang trisula perak. ''Waktumu habis, Shige,'' kata Yabu, ''dan lagi, kami berempat sedangkan kau sendirian. Kami bisa menyegelmu lagi kalau kami mau.''

Shige menatap tajam Yabu dan Chinen, dia menghilang begitu saja. Yuya berlari mendekat, dia bertanya, ''Apa yang kudengar itu bohong?''

Yabu dan Chinen saling pandang. ''Kalian ikut kami ke kuil,'' kata Yabu, ''ada yang harus kuceritakan.''
*
Tori terbanting kesekian kalinya, dia terbatuk kesakitan dan kembali bangkit. Vampir itu tidak menyerah rupanya. Dia berusaha menyerang Tori, tapi tidak berhasil. Tori sendiri bingung darimana dia mendapat kekuatan melawan vampir itu. 'Kalau begini terus, tulangku bisa hancur,' batin Tori, 'harus kuapakan vampir ini?'

''Kau kuat juga,'' kata vampir itu mengejek, ''tapi tenagamu akan habis dan kau akan mati di tanganku.''

''Ck, cheesy,'' kata Tori, ''aku tidak akan mati di tanganmu. Siapapun kau, apapun tujuanmu kemari, aku tidak peduli. Hanya saja karena kau meresahkan banyak orang maka aku harus menanganimu.''

Vampir itu tertawa mengejek. ''Silahkan berkhayal, manusia,'' katanya. Vampir itu berlari kearah Tori, detik berikutnya dia sudah terhempas menjauhi Tori.

Tori menoleh, dia melihat Tatsuya melangkah tenang dan berhenti di depan Tori. Vampir itu berdiri, dia mendesis melihat Tatsuya. ''Kau lagi,'' katanya, ''minggir! Aku tidak ada urusan denganmu!''

''Tapi aku ada,'' kata Tatsuya, dia mengacungkan tangannya dan vampir itu meraung kesakitan. ''Kau akan kuhancurkan sekarang juga,'' kata Tatsuya, ''tidak ada kesempatan kedua untukmu, Minora.''

Vampir bernama Minora itu semakin meraung. Dia melotot kesakitan, membuat Tori bergidik ngeri karena baginya wajah itu seperti wajah orang yang akan meledak seperti di film-film horor. Minora menunjuk Tori, dia berkata di tengah raung kesakitannya, ''Kau akan mati! Kau akan musnah!''

Tatsuya mengepalkan tangannya, dan Minora langsung melebur menjadi kabut dan menguap seperti asap. Tori menelan ludahnya tercengang, dia menoleh kearah Tatsuya yang masih tenang menatapnya. ''Sebenarnya kau ini siapa?'' tanya Tori pelan, ''kenapa kau selalu muncul saat monster-monster itu mengacau?''

''Namaku Tatsuya,'' jawabnya, ''aku adalah salah satu penghuni Pandora. Aku datang kemari untuk membantu kalian, para penghuni Pandora menyegel kembali Shora.''

Ming.

''Aku.... Aku bukan penghuni Pandora,'' kata Tori cengo.

Tatsuya tersenyum. ''Memang bukan kau,'' katanya, ''nah, dimana teman-temanmu? Akan kuceritakan potongan kisah Pandora yang tidak pernah kalian dengar. Kisah ini yang akan membantu kalian mengenaliku. Dan Pandora lainnya.''
*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar