Senin, 14 Desember 2015

The School Lesson 01

Title : The School
Author : Veve
Genre : School, Drama
Cast :
BTS All Members
Han Jiyoo (OC)
Park Sena (OC)
And others
Length : Chapter
*
Holla minna-san
Ini FF Kpop pertamaku, atau mungkin yang pertama dipost
Eh yang kedua ding salah/?
FF ini terinfluence oleh drama Jepang Shiritsu Bakaleya Koukou dan Gokusen
Mohon maaf kalo ada banyak typo
Jangan bash saya dengan pairing di FF ini :v
Jangan diplagiat ya, susah tauk bikinnya *author banyak bacot
Enjoy!!!
*
Lesson 01

            Pagi yang cerah.

            Pintu mobil terbuka. Jiyoo keluar, dia tersenyum kepada supirnya dan melangkah menuju sekolahnya, SMA Seolyeong. Sesekali Jiyoo berhenti dan memberi salam dengan senyum ramah kepada murid-murid lain yang berpapasan dengannya. Jiyoo berhenti, dia duduk di tepi kolam dan menatap kearah gerbang sekolah.

            Tak lama, sebuah mobil berwarna merah masuk ke area sekolah dan berhenti di samping kolam. Jiyoo beranjak, dia berjalan kearah seorang gadis yang keluar dari mobil itu. “Annyeonghasseo, Sena-ssi,” sapa Jiyoo sambil membungkuk sopan. Gadis bernama Sena itu tersenyum dan membungkuk juga. “Annyeonghasseo, Jiyoo-ssi,” sapanya, “kudengar ayahmu mulai mengembangkan bisnis di Eropa. Chukkahamnida.”

            Jiyoo tersenyum senang. “Gamsahamnida,” ucapnya, “doakan saja bisnis ayahku semakin berkembang. Kau juga, kudengar ibumu masuk nominasi aktris terbaik di Jepang. Semoga ibumu memenangkan penghargaan.”

            Sena terkekeh renyah. “Terimakasih dukungannya,” kata Sena, “ayo kita ke kelas.”

            “Kajja,” ucap Jiyoo. Mereka berjalan masuk gedung SMA Seolyeong, SMA khusus perempuan. SMA ini adalah salah satu SMA terbaik di Korea Selatan, dan bangunannya tidak seperti gedung SMA kebanyakan. SMA Seolyeong memiliki bangunan bak istana Eropa, dengan halaman luas yang ditumbuhi bunga beraneka warna dan kolam yang bergaya klasik. Wajar saja, SMA Seolyeong memang didirikan oleh Yayasan Narin yang bekerjasama dengan sekolah-sekolah di Eropa. Itu sebabnya, mereka diajari tatakrama khas bangsawan Eropa.

            “Sunbaenim, annyeonghasseo.”

            Jiyoo dan Sena menoleh. “Sunbaenim, Choi Seonsaengnim memanggil Jiyoo Sunbaenim dan Sena Sunbaenim ke ruangannya,” ucap seorang murid perempuan.

            Jiyoo dan Sena saling pandang. “Kami akan kesana,” kata Jiyoo, “terimakasih sudah memberitahu.” Jiyoo dan Sena membungkuk memberi salam kepada murid tersebut, lalu berjalan menyusuri lorong menuju ruangan Choi Seonsaengnim. “Sena-ssi, menurutmu apa ada hal yang sangat penting?” tanya Jiyoo, “kenapa Choi Seonsaengnim memanggil kita sepagi ini?”

            “Entahlah,” jawab Sena, “kita lihat saja nanti. Tapi kurasa memang ada hal yang penting.”

            Mereka berhenti di depan sebuah pintu yang digantungi papan bertuliskan “Vice Principal”. Jiyoo menghela napas, dia melangkah dan mengetuk pelan pintu itu. Jiyoo mundur selangkah, dia menunggu di sebelah Sena.

            “Masuk.”

            Jiyoo dan Sena melangkah. Jiyoo membuka pintu, dia dan Sena melangkah masuk ruangan dan membungkuk hormat kepada seorang pria yang duduk di hadapan mereka. “Annyeonghasimnikka, Choi Seonsaengnim,” sapa Jiyoo, “apa ada hal penting yang harus saya sampaikan kepada murid-murid lain?”

            “Silahkan duduk, Jiyoo-ssi, Sena-ssi,” ucap Choi Seonsaengnim. Jiyoo dan Sena duduk berhadapan dengan Choi Seonsaengnim. Pria itu berdehem, lalu berkata, “Aku ingin mengirim kalian untuk melakukan riset di SMA Narin.”

            Jiyoo dan Sena diam mendengarkan. “Beberapa hari yang lalu, seluruh Dewan Sekolah dan ketua yayasan mengadakan rapat,” ujar Choi Seonsaengnim menjelaskan, “kalian pasti sudah mendengar berita penutupan SMA Narin. Ketua yayasan memutuskan untuk menyelamatkan sekolah tersebut dengan menjadikannya bagian dari SMA Seolyeong, menjadi SMA Seolyeong II. Beberapa murid disini akan dipindahkan kesana, untuk itu aku meminta kalian berdua kesana dan mengecek keadaan di sekolah itu.”

            Sena menyahut, “SMA Narin itu SMA khusus laki-laki.”

            “Benar sekali, Sena-ssi,” balas Choi Seonsaengnim, “kalian berdua sebagai perwakilan Dewan Murid juga akan dikirim kesana. Tugas kalian adalah membuat SMA itu menjadi SMA yang berkualitas dan menyesuaikannya dengan standar sekolah kita.” Choi Seonsaengnim menatap Sena dan Jiyoo. “Kalian bisa melakukannya?” tanyanya.

            “Kami akan menaikkan nama baik sekolah itu dan menyesuaikannya dengan standar SMA Seolyeong,”  sahut Jiyoo mantap. Sena juga mengangguk menyetujui ucapan Jiyoo.

            Choi Seonsaengnim tampak senang mendengar ucapan Jiyoo. “Apa kami harus memberitahu murid-murid lain soal ini?” tanya Sena.

            “Biar aku yang memberitahu mereka nanti,” kata Choi Seonsaengnim, “nah, sekarang kembalilah ke kelas. Kalian akan kesana setelah jam sekolah berakhir.”

            Jiyoo dan Sena mengangguk. Mereka beranjak, membungkuk memberi hormat kepada Choi Seonsaengnim dan berjalan keluar ruangan. “Aku membutuhkan bantuanmu, Sena-ssi,” kata Jiyoo sambil melangkah pelan di koridor, “kita akan melakukan yang terbaik.”

            “Aku selalu di belakangmu, Jiyoo-ssi,” balas Sena, “kau pasti bisa melakukan yang terbaik. Kau bisa membawa sekolah kita menjadi nomor satu, jadi kau juga pasti bisa menaikkan nama baik SMA Narin.” Sena tersenyum dan berkata, “Hwaiting. Ganbatte!”

            Jiyoo tersenyum senang mendengar ucapan Sena. “Kau selalu mendukungku, Sena-ssi,” kata Jiyoo, “gamsahamnida.”

            “Cheonmaneyyo,” balas Sena, “ayo kita masuk kelas.” Jiyoo tersenyum dan mengangguk, dia melangkah bersama Sena menaiki tangga menuju kelas.
*
            BRAK!

            Seorang laki-laki terhempas keras ke sebuah dinding, tak lama Yoongi muncul dan menghajar laki-laki itu. “Jangan pernah meremehkan Bangtan!” teriak Yoongi, “rasakan ini!” Yoongi beberapa kali memukul wajah laki-laki itu, dia memberi sentuhan akhir berupa tendangan keras di perut laki-laki itu hingga tidak berkutik lagi. Yoongi meludah kasar, dia berlari dan menghajar beberapa orang lain.

            Jungkook menendang seorang laki-laki, dia beberapa kali terkena pukulan namun berhasil dibalasnya. Dengan brutal Jungkook menghajar tiga lawannya sekaligus. Jungkook tersenyum melihat tiga lawannya kalah, dia berlari keluar kelas.

            Taehyung menghajar lawannya dan menjejalkan salah satunya kedalam loker, lalu mengunci loker itu dan menggulingkannya. Taehyung berbalik, dia menangkis serangan lawannya dan menendang perut orang itu. “Kau piker menyerang dari belakang akan berhasil?” ucap Taehyung, “babo.”

            Pletak!

            Taehyung terhuyung saat sebuah tongkat besi mengenai kepalanya. “Eommaaaa,” Taehyung mendadak mewek, “Eomma appoooo.”

            Hoseok dan Jin terpojok di sudut kelas, mereka berhadapan dengan dua orang dari kubu lawan. “Aku yang kiri, kau yang kanan,” kata Hoseok, “deal?” “Deal,” jawab Jin. Mereka seketika menendang dua lawan mereka hingga terhempas menabrak pintu kelas. Jin maju dan menerjang lawannya, sementara Hoseok melindungi Jin dari lawan satunya.

            Namjoon berdiri diatas meja, matanya menatap awas lawannya yang berdiri di hadapannya. “Kau belum menyerah ternyata,” kata Namjoon, “Bang Yongguk.”

            “Selama kau belum kalah, jangan harap aku akan menyerah,” kata Yongguk.

            Namjoon tertawa. “Selamat berjuang,” katanya dengan nada mengejek.

            Yongguk menghajar Namjoon. Namjoon berdecih, dia lalu balas meninju muka Yongguk. Selama beberapa saat mereka saling bergantian meninju. Agak bingung juga, mereka ini sebenarnya berkelahi atau main monopoli. Sama sekali tidak ada kebrutalan seperti yang terjadi di luar kelas.

            Payah.

            Yongguk akan meninju muka Namjoon saat pintu menjeblak terbuka. “Yongguk Hyung, ada polisi!” teriak seorang teman Yongguk. Yongguk dan Namjoon saling pandang, mereka langsung melompat turun dari meja dan berlari kearah berlawanan. “Kau dan aku belum selesai!” teriak Yongguk. Namjoon hanya tertawa mengejek, dia menemui kelima temannya yang sudah siap kabur di belakang sekolah kosong itu. “Lho, mana Jimin?” tanya Namjoon.

            “Kau lupa dia ada remedial?” balas Jungkook.

            Namjoon melongo, dia lalu tertawa. “Maaf, aku lupa,” katanya.

            “Pikun,” gumam Yoongi. Mereka berenam segera lari saat mendengar sirine mobil polisi. Mereka terus berlari sampai belokan, lalu mengendap dan menyelinap masuk sekolah melalui halaman belakang. Namjoon dan yang lain tidak menuju kelas, melainkan masuk ke markas mereka di dekat gudang belakang sekolah. Jin menghempaskan tubuhnya di sofa, Jungkook berbaring nyaman di lantai dan mengerang. “Nanti ke game center, yuk,” ajak Jungkook, “aku bosan, nih.”

            “Kau itu bosan setiap hari,” sahut Taehyung, “karaoke sajalah. Kau tahu, kemarin aku melihat ada pegawai baru disana. Cantik sekali.”

            “Jinjja?” Hoseok langsung menyahut, “seksi, tidak?”

            Taehyung tidak menjawab, dia hanya membuat gerakan melengkung di dada sambil tersenyum penuh makna. Hoseok. Jin, Jungkook, Taehyung, dan Namjoon langsung membayangkan sosok yang dimaksud Taehyung. Yoongi hanya melongo, dia lalu menggumam, “Babo.”

            “Ya! Yeorobun!”

            Yoongi dan yang lain menoleh. Jimin masuk, napasnya terengah-engah dan wajahnya sangat panik. “Kelihatannya ada yang baru dikejar hantu,” goda Jin, “kau kenapa?”

            “Lebih gawat daripada itu!” sahut Jimin, “sekolah kita akan digabung dengan SMA Seolyeong!”

            Jungkook dan Jin langsung berdiri, mereka dan tiga orang sisanya menatap kaget Jimin. “Digabung?” sahut Jungkook kaget, “dengan SMA Seolyeong?” “Kau pasti bercanda,” ujar Yoongi tercengang.

            “Aku mendengarnya sendiri,” sahut Jimin.

            Namjoon segera berlari diikuti yang lain. Mereka masuk ruang guru, menemui wali kelas mereka. “Ya, Leeteuk-ah,” kata Jungkook, “benar SMA kita akan digabung dengan SMA Seolyeong?”

            Leeteuk mengangguk. “Kenapa harus dengan mereka?!” sahut Yoongi gusar.

            “Kenyataannya sekolah kita akan ditutup,” kata Leeteuk, “dan SMA Seolyeong berbaik hati menyelamatkan sekolah ini dari penutupan dan akan menjadikan sekolah ini sebagai SMA Seolyeong II.”

            “MWO?!” ketujuh orang itu memekik. Leeteuk berjengit kaget dan bergumam sebal, “Kalian ini bisa tidak, sih, memelankan suara?”

            “Jadi maksudnya…. Kita akan satu sekolah dengan anak-anak perempuan?!” sahut Hoseok, “wowowo, tidak bisa. Reputasi kita bisa jatuh nanti.” “Lali kita akan bersikap seperti mereka?” sahut Namjoon, dia menirukan gerakan anggun seorang gadis lalu melanjutkan, “kalau begitu ceritanya, sih, aku lebih baik berhenti sekolah.”

            “Sudahlah,” kata Leeteuk, “kalian seharusnya berterimakasih. Sudah bagus kalian masih bisa bersekolah. Sana kembali ke kelas.” Leeteuk kembali ke mejanya, dia baru akan memeriksa soal remedial saat dia tersadar sesuatu dan mendongak menatap tujuh orang itu dengan serius. “Kalian berenam tadi kemana?” tanya Leeteuk, “sepertinya kalian tidak ada di kelas tadi.”

            Krik..

            Detik berikutnya Leeteuk mengejar tujuh muridnya itu. Leeteuk berhenti di ujung koridor, dia menghela napas pasrah. “Dasar tidak bisa diatur,” gumam Leeteuk, dia akhirnya kembali ke ruang guru.
***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar