Title : The School
Author : Veve
Genre : School, Drama
Cast :
BTS All Members
Han Jiyoo (OC)
Park Sena (OC)
And others
Length : Chapter
*
Holla minna-san
Ini FF Kpop pertamaku, atau mungkin yang pertama dipost
Eh yang kedua ding salah/?
FF ini terinfluence oleh drama Jepang Shiritsu Bakaleya Koukou dan Gokusen
Mohon maaf kalo ada banyak typo
Jangan bash saya dengan pairing di FF ini :v
Jangan diplagiat ya, susah tauk bikinnya *author banyak bacot
Enjoy!!!
*
Lesson
01
Pagi
yang cerah.
Pintu
mobil terbuka. Jiyoo keluar, dia tersenyum kepada supirnya dan melangkah menuju
sekolahnya, SMA Seolyeong. Sesekali Jiyoo berhenti dan memberi salam dengan
senyum ramah kepada murid-murid lain yang berpapasan dengannya. Jiyoo berhenti,
dia duduk di tepi kolam dan menatap kearah gerbang sekolah.
Tak
lama, sebuah mobil berwarna merah masuk ke area sekolah dan berhenti di samping
kolam. Jiyoo beranjak, dia berjalan kearah seorang gadis yang keluar dari mobil
itu. “Annyeonghasseo, Sena-ssi,” sapa Jiyoo sambil membungkuk sopan. Gadis
bernama Sena itu tersenyum dan membungkuk juga. “Annyeonghasseo, Jiyoo-ssi,”
sapanya, “kudengar ayahmu mulai mengembangkan bisnis di Eropa. Chukkahamnida.”
Jiyoo
tersenyum senang. “Gamsahamnida,” ucapnya, “doakan saja bisnis ayahku semakin
berkembang. Kau juga, kudengar ibumu masuk nominasi aktris terbaik di Jepang.
Semoga ibumu memenangkan penghargaan.”
Sena
terkekeh renyah. “Terimakasih dukungannya,” kata Sena, “ayo kita ke kelas.”
“Kajja,”
ucap Jiyoo. Mereka berjalan masuk gedung SMA Seolyeong, SMA khusus perempuan.
SMA ini adalah salah satu SMA terbaik di Korea Selatan, dan bangunannya tidak
seperti gedung SMA kebanyakan. SMA Seolyeong memiliki bangunan bak istana
Eropa, dengan halaman luas yang ditumbuhi bunga beraneka warna dan kolam yang
bergaya klasik. Wajar saja, SMA Seolyeong memang didirikan oleh Yayasan Narin
yang bekerjasama dengan sekolah-sekolah di Eropa. Itu sebabnya, mereka diajari
tatakrama khas bangsawan Eropa.
“Sunbaenim,
annyeonghasseo.”
Jiyoo
dan Sena menoleh. “Sunbaenim, Choi Seonsaengnim memanggil Jiyoo Sunbaenim dan
Sena Sunbaenim ke ruangannya,” ucap seorang murid perempuan.
Jiyoo
dan Sena saling pandang. “Kami akan kesana,” kata Jiyoo, “terimakasih sudah
memberitahu.” Jiyoo dan Sena membungkuk memberi salam kepada murid tersebut, lalu
berjalan menyusuri lorong menuju ruangan Choi Seonsaengnim. “Sena-ssi,
menurutmu apa ada hal yang sangat penting?” tanya Jiyoo, “kenapa Choi
Seonsaengnim memanggil kita sepagi ini?”
“Entahlah,”
jawab Sena, “kita lihat saja nanti. Tapi kurasa memang ada hal yang penting.”
Mereka
berhenti di depan sebuah pintu yang digantungi papan bertuliskan “Vice
Principal”. Jiyoo menghela napas, dia melangkah dan mengetuk pelan pintu itu.
Jiyoo mundur selangkah, dia menunggu di sebelah Sena.
“Masuk.”
Jiyoo
dan Sena melangkah. Jiyoo membuka pintu, dia dan Sena melangkah masuk ruangan
dan membungkuk hormat kepada seorang pria yang duduk di hadapan mereka.
“Annyeonghasimnikka, Choi Seonsaengnim,” sapa Jiyoo, “apa ada hal penting yang
harus saya sampaikan kepada murid-murid lain?”
“Silahkan
duduk, Jiyoo-ssi, Sena-ssi,” ucap Choi Seonsaengnim. Jiyoo dan Sena duduk
berhadapan dengan Choi Seonsaengnim. Pria itu berdehem, lalu berkata, “Aku
ingin mengirim kalian untuk melakukan riset di SMA Narin.”
Jiyoo
dan Sena diam mendengarkan. “Beberapa hari yang lalu, seluruh Dewan Sekolah dan
ketua yayasan mengadakan rapat,” ujar Choi Seonsaengnim menjelaskan, “kalian
pasti sudah mendengar berita penutupan SMA Narin. Ketua yayasan memutuskan
untuk menyelamatkan sekolah tersebut dengan menjadikannya bagian dari SMA
Seolyeong, menjadi SMA Seolyeong II. Beberapa murid disini akan dipindahkan
kesana, untuk itu aku meminta kalian berdua kesana dan mengecek keadaan di
sekolah itu.”
Sena
menyahut, “SMA Narin itu SMA khusus laki-laki.”
“Benar
sekali, Sena-ssi,” balas Choi Seonsaengnim, “kalian berdua sebagai perwakilan
Dewan Murid juga akan dikirim kesana. Tugas kalian adalah membuat SMA itu
menjadi SMA yang berkualitas dan menyesuaikannya dengan standar sekolah kita.”
Choi Seonsaengnim menatap Sena dan Jiyoo. “Kalian bisa melakukannya?” tanyanya.
“Kami
akan menaikkan nama baik sekolah itu dan menyesuaikannya dengan standar SMA
Seolyeong,” sahut Jiyoo mantap. Sena
juga mengangguk menyetujui ucapan Jiyoo.
Choi
Seonsaengnim tampak senang mendengar ucapan Jiyoo. “Apa kami harus memberitahu
murid-murid lain soal ini?” tanya Sena.
“Biar
aku yang memberitahu mereka nanti,” kata Choi Seonsaengnim, “nah, sekarang
kembalilah ke kelas. Kalian akan kesana setelah jam sekolah berakhir.”
Jiyoo
dan Sena mengangguk. Mereka beranjak, membungkuk memberi hormat kepada Choi
Seonsaengnim dan berjalan keluar ruangan. “Aku membutuhkan bantuanmu,
Sena-ssi,” kata Jiyoo sambil melangkah pelan di koridor, “kita akan melakukan
yang terbaik.”
“Aku
selalu di belakangmu, Jiyoo-ssi,” balas Sena, “kau pasti bisa melakukan yang
terbaik. Kau bisa membawa sekolah kita menjadi nomor satu, jadi kau juga pasti
bisa menaikkan nama baik SMA Narin.” Sena tersenyum dan berkata, “Hwaiting.
Ganbatte!”
Jiyoo
tersenyum senang mendengar ucapan Sena. “Kau selalu mendukungku, Sena-ssi,”
kata Jiyoo, “gamsahamnida.”
“Cheonmaneyyo,”
balas Sena, “ayo kita masuk kelas.” Jiyoo tersenyum dan mengangguk, dia
melangkah bersama Sena menaiki tangga menuju kelas.
*
BRAK!
Seorang
laki-laki terhempas keras ke sebuah dinding, tak lama Yoongi muncul dan
menghajar laki-laki itu. “Jangan pernah meremehkan Bangtan!” teriak Yoongi,
“rasakan ini!” Yoongi beberapa kali memukul wajah laki-laki itu, dia memberi
sentuhan akhir berupa tendangan keras di perut laki-laki itu hingga tidak
berkutik lagi. Yoongi meludah kasar, dia berlari dan menghajar beberapa orang
lain.
Jungkook
menendang seorang laki-laki, dia beberapa kali terkena pukulan namun berhasil
dibalasnya. Dengan brutal Jungkook menghajar tiga lawannya sekaligus. Jungkook
tersenyum melihat tiga lawannya kalah, dia berlari keluar kelas.
Taehyung
menghajar lawannya dan menjejalkan salah satunya kedalam loker, lalu mengunci
loker itu dan menggulingkannya. Taehyung berbalik, dia menangkis serangan
lawannya dan menendang perut orang itu. “Kau piker menyerang dari belakang akan
berhasil?” ucap Taehyung, “babo.”
Pletak!
Taehyung
terhuyung saat sebuah tongkat besi mengenai kepalanya. “Eommaaaa,” Taehyung
mendadak mewek, “Eomma appoooo.”
Hoseok
dan Jin terpojok di sudut kelas, mereka berhadapan dengan dua orang dari kubu
lawan. “Aku yang kiri, kau yang kanan,” kata Hoseok, “deal?” “Deal,” jawab Jin.
Mereka seketika menendang dua lawan mereka hingga terhempas menabrak pintu
kelas. Jin maju dan menerjang lawannya, sementara Hoseok melindungi Jin dari
lawan satunya.
Namjoon
berdiri diatas meja, matanya menatap awas lawannya yang berdiri di hadapannya.
“Kau belum menyerah ternyata,” kata Namjoon, “Bang Yongguk.”
“Selama
kau belum kalah, jangan harap aku akan menyerah,” kata Yongguk.
Namjoon
tertawa. “Selamat berjuang,” katanya dengan nada mengejek.
Yongguk
menghajar Namjoon. Namjoon berdecih, dia lalu balas meninju muka Yongguk.
Selama beberapa saat mereka saling bergantian meninju. Agak bingung juga,
mereka ini sebenarnya berkelahi atau main monopoli. Sama sekali tidak ada
kebrutalan seperti yang terjadi di luar kelas.
Payah.
Yongguk
akan meninju muka Namjoon saat pintu menjeblak terbuka. “Yongguk Hyung, ada
polisi!” teriak seorang teman Yongguk. Yongguk dan Namjoon saling pandang,
mereka langsung melompat turun dari meja dan berlari kearah berlawanan. “Kau
dan aku belum selesai!” teriak Yongguk. Namjoon hanya tertawa mengejek, dia
menemui kelima temannya yang sudah siap kabur di belakang sekolah kosong itu.
“Lho, mana Jimin?” tanya Namjoon.
“Kau
lupa dia ada remedial?” balas Jungkook.
Namjoon
melongo, dia lalu tertawa. “Maaf, aku lupa,” katanya.
“Pikun,”
gumam Yoongi. Mereka berenam segera lari saat mendengar sirine mobil polisi.
Mereka terus berlari sampai belokan, lalu mengendap dan menyelinap masuk
sekolah melalui halaman belakang. Namjoon dan yang lain tidak menuju kelas,
melainkan masuk ke markas mereka di dekat gudang belakang sekolah. Jin
menghempaskan tubuhnya di sofa, Jungkook berbaring nyaman di lantai dan
mengerang. “Nanti ke game center, yuk,” ajak Jungkook, “aku bosan, nih.”
“Kau
itu bosan setiap hari,” sahut Taehyung, “karaoke sajalah. Kau tahu, kemarin aku
melihat ada pegawai baru disana. Cantik sekali.”
“Jinjja?”
Hoseok langsung menyahut, “seksi, tidak?”
Taehyung
tidak menjawab, dia hanya membuat gerakan melengkung di dada sambil tersenyum
penuh makna. Hoseok. Jin, Jungkook, Taehyung, dan Namjoon langsung membayangkan
sosok yang dimaksud Taehyung. Yoongi hanya melongo, dia lalu menggumam, “Babo.”
“Ya!
Yeorobun!”
Yoongi
dan yang lain menoleh. Jimin masuk, napasnya terengah-engah dan wajahnya sangat
panik. “Kelihatannya ada yang baru dikejar hantu,” goda Jin, “kau kenapa?”
“Lebih
gawat daripada itu!” sahut Jimin, “sekolah kita akan digabung dengan SMA
Seolyeong!”
Jungkook
dan Jin langsung berdiri, mereka dan tiga orang sisanya menatap kaget Jimin.
“Digabung?” sahut Jungkook kaget, “dengan SMA Seolyeong?” “Kau pasti bercanda,”
ujar Yoongi tercengang.
“Aku
mendengarnya sendiri,” sahut Jimin.
Namjoon
segera berlari diikuti yang lain. Mereka masuk ruang guru, menemui wali kelas
mereka. “Ya, Leeteuk-ah,” kata Jungkook, “benar SMA kita akan digabung dengan
SMA Seolyeong?”
Leeteuk
mengangguk. “Kenapa harus dengan mereka?!” sahut Yoongi gusar.
“Kenyataannya
sekolah kita akan ditutup,” kata Leeteuk, “dan SMA Seolyeong berbaik hati
menyelamatkan sekolah ini dari penutupan dan akan menjadikan sekolah ini
sebagai SMA Seolyeong II.”
“MWO?!”
ketujuh orang itu memekik. Leeteuk berjengit kaget dan bergumam sebal, “Kalian
ini bisa tidak, sih, memelankan suara?”
“Jadi
maksudnya…. Kita akan satu sekolah dengan anak-anak perempuan?!” sahut Hoseok,
“wowowo, tidak bisa. Reputasi kita bisa jatuh nanti.” “Lali kita akan bersikap
seperti mereka?” sahut Namjoon, dia menirukan gerakan anggun seorang gadis lalu
melanjutkan, “kalau begitu ceritanya, sih, aku lebih baik berhenti sekolah.”
“Sudahlah,”
kata Leeteuk, “kalian seharusnya berterimakasih. Sudah bagus kalian masih bisa
bersekolah. Sana kembali ke kelas.” Leeteuk kembali ke mejanya, dia baru akan
memeriksa soal remedial saat dia tersadar sesuatu dan mendongak menatap tujuh
orang itu dengan serius. “Kalian berenam tadi kemana?” tanya Leeteuk, “sepertinya
kalian tidak ada di kelas tadi.”
Krik..
Detik
berikutnya Leeteuk mengejar tujuh muridnya itu. Leeteuk berhenti di ujung
koridor, dia menghela napas pasrah. “Dasar tidak bisa diatur,” gumam Leeteuk,
dia akhirnya kembali ke ruang guru.
***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar