Title : The School
Author : Veve
Genre : School, Drama
Cast :
BTS All Members
Han Jiyoo (OC)
Park Sena (OC)
Red Velvet All Members (start from Lesson 02)
And others
Length : Chapter
*
Holla minna-san
Ini FF Kpop pertamaku, atau mungkin yang pertama dipost
Eh yang kedua ding salah/?
FF ini terinfluence oleh drama Jepang Shiritsu Bakaleya Koukou dan Gokusen
Mohon maaf kalo ada banyak typo
Jangan bash saya dengan pairing di FF ini :v
Jangan diplagiat ya, susah tauk bikinnya *author banyak bacot
Enjoy!!!
*
Lesson
2
“Jungkook-ah.”
“Hm?”
“Bolos,
yuk.”
Jungkook
tersedak minumannya, dia menoleh kearah Taehyung yang memasang wajah malas. “Kau
kenapa mendadak malas begitu, hah?” tanya Jungkook.
“Habisnya
hari ini, kan, murid-murid SMA Seolyeong datang,” kata Taehyung, “sekolah kita
akan jadi super membosankan.”
Jungkook
terdiam, dia lalu menghela napas. “Benar juga,” katanya, “haaaah, kenapa kita
harus mengalami nasib buruk seperti ini?” Jungkook menatap Taehyung dan
berkata, “Bolos saja, yuk.” Mereka berdua kembali berjalan, tidak ada yang
bicara. Taehyung sibuk dengan ponselnya, sedangkan Jungkook berkonsentrasi
dengan minumannya. “Hoaaah, Namjoon daebak,” kata Taehyung, dia menunjukkan
ponselnya yang menampilkan postingan status Namjoon kepada Jungkook,. “dia
datang ke sekolah. Padahal semalam dia berkata tidak mau lagi ke sekolah.”
“Taehyung-ah!
Jungkook-ah!”
Taehyung
dan Jungkook menoleh. “Oh, annyeong, Ilhoon-ah,” sapa Taehyung, “tumben kau
sudah muncul pagi-pagi begini.” Ilhoon berhenti berlari, dia terengah-engah
mengatur napas lalu menatap Jungkook dan Taehyung. “Kalian cepatlah ke sekolah!”
katanya panik, “ada masalah serius!”
“Masalah
apa?” Tanya Jungkook.
“Papan
nama sekolah kita hilang!” jawab Ilhoon, “dan meja kita juga!”
Taehyung
dan Jungkook saling pandang, mereka langsung berlari menuju sekolah. Jungkook berhenti
sejenak, matanya terbelalak melihat papan nama SMA Narin berganti dengan
tulisan ‘SMA Seolyeong II’ di sisi gerbang. Dia kembali berlari masuk, lalu
menjeblak pintu kelas dan mendapati teman-temannya sudah ada disana. Jungkook dan
Taehyung tercengang melihat penampilan baru kelas mereka. Dinding kelas berubah
warna menjadi pink pastel, tirai jendela juga berganti warna menjadi pink. Tidak
ada meja penuh coretan, semua diganti dengan bangku baru yang tertata rapi. Aroma
lavender menguar di kelas, taplak meja dan vas berisi bunga lily cantik tertata
rapi di meja guru.
“Ige
mwoya?” Jungkook tercengang, “apa-apaan ini?! Kemana meja kita?!”
Taehyung
segera memeriksa laci meja. “Majalah dan komik-komikku juga hilang!” sahutnya.
“Toiletnya
juga sangat bersih,” kata Jimin, “klosetnya terbuka otomatis seperti robot.”
“Annyeonghasseo.
Kalian menyukai kelas baru ini?”
Semua
anak menoleh. Sekelompok gadis berbaris rapi di dekat pintu. Seorang gadis
berambut hitam sebahu tersenyum manis kepada mereka. Dia melangkah maju
didampingi seorang gadis lain. “Namaku Han Jiyoo,” katanya memperkenalkan diri,
“ini teman-temanku. Kami dari SMA Seolyeong, dan mulai hari ini kami akan
menjadi teman sekelas kalian.” Jiyoo tersenyum, dia membungkuk dan berkata, “Bangapseumnida.”
“Bangapseumnida,”
gadis-gadis lain serempak mengikuti Jiyoo.
Gerombolan
laki-laki itu terdiam, mereka agak bingung dengan sikap para gadis. “Jadi
kalian yang mengubah kelas ini?” tanya Jin.
“Benar
sekali,” jawab Jiyoo sambil tersenyum, “aku dan temanku, Sena-ssi mengadakan
riset tiga hari lalu. Dan kami juga mengganti beberapa yang tidak layak pakai.”
“Lalu
ditaruh dimana meja-meja kami?” Yoongi bersuara.
“Karena
meja-meja itu sangat kotor dan tidak layak pakai, maka kami membuangnya,” jawab
Jiyoo.
“MWO?!”
teriakan para laki-laki mengejutkan para gadis. Yoongi maju, dengan kesal dia
menendang sebuah meja dan menatap kesal gadis-gadis itu. Para gadis merapat
takut dibelakang Jiyoo dan Sena. “Tidak layak pakai katamu?!” sahut Yoongi
keras, “kau jangan sok tahu! Meja itu sudah turun-temurun di kelas ini!”
“Tapi
meja-meja itu tidak sesuai dengan standar sekolah,” sahut Jiyoo tenang.
“Meja
itu adalah sebagian jiwa kami!” balas Jungkook, “itu adalah jiwa Bangtan!”
“Aku
tidak paham dengan itu,” kata Jiyoo.
“Jelas
saja, yang kau pahami cuma bagaimana bicara dengan sopan seperti putri malu,”
ucap Jungkook sinis.
“Tolong
bicaralah dengan sopan kepada Jiyoo-ssi,” gadis bernama Sena akhirnya bersuara,
“dia adalah ketua Dewan Murid.”
“Hah?
Ketua Dewan Murid?” Jungkook mengerutkan dahi bingung.
Sena
mengangguk. “Sebagai ketua Dewan Murid, dia memiliki wewenang mengatur sarana
dan prasarana yang dibutuhkan disini,” katanya menjelaskan, “dan tugas utamanya
adalah menyesuaikan standar sekolah ini dengan standar SMA Seolyeong.”
Jungkook
mendengus. “Kalau begitu, aku adalah ketua Dewan Murid SMA Narin,” katanya
sambil menatap tajam Jiyoo, “jadi aku lebih berhak menentukan apapun disini.
Ini SMA Narin, bukan SMA Seolyeong.”
“Yeaahh!
All hail Jungkook!” teriak Hoseok.
Para
laki-laki bersorak menyemangati Jungkook. Para gadis tampak keheranan dengan
situasi di depan mereka, kecuali Jiyoo yang masih tenang dan Sena yang hanya
mengerutkan dahi. Jungkook tersenyum mendengar sorakan teman-temannya, dia
menatap tajam Jiyoo. “Dan aku menentukan bahwa meja-meja itu harus dikembalikan
ke kelas ini,” katanya, “ayo kita ambil mejanya!”
Yang
lain mengikuti Jungkook, mereka keluar sambil menendangi meja-meja. “Jiyoo-ssi,”
sahut Yeri, “apa mereka akan benar-benar mengambil meja mereka?”
“Mereka,
kan, tidak tahu mejanya dibuang dimana,” kata Wendy, “jadi kurasa mereka tidak
akan menemukannya. Bukan begitu, Jiyoo-ssi?”
Jiyoo
tersenyum, dia menatap semua temannya. “Kajja, kita rapikan meja-meja ini,”
ajaknya, “mereka hanya belum terbiasa. Nanti mereka pasti akan menyukai
pemberian kita.” Jiyoo berbalik, dia mulai menata meja-meja dibantu yang lain.
*
“Ketemu?”
Taehyung
melompat dari tumpukan meja bekas, dia menggeleng. “Sial, dimana mereka
membuang meja kita?” umpat Yoongi, “kalau saja mereka bukan perempuan sudah
kuhajar mereka.” “Ada banyak tempat pembuangan seperti ini,” kata Namjoon, “mau
tidak mau kita harus mendatanginya satu persatu.”
Ketujuh
anak itu berjalan pelan. “Mereka benar-benar membawa masalah,” kata Jimin, “pertama
mereka membuang papan nama dan meja kita. Mungkin nanti mereka akan menyuruh
kita memakai rok.”
“Yang
benar saja,” sahut Hoseok, “kalau itu terjadi, aku tidak akan peduli lagi
mereka laki-laki atau perempuan. Akan kuhajar mereka.”
“Wah
wah wah. Apa yang dilakukan gadis-gadis ini?”
Jungkook
dan yang lain berbalik. Sekelompok pemuda berdiri di hadapan mereka, memberi
tatapan meremehkan. “Kenapa murid SMA Seolyeong ada disini?” sahut seorang
dengan nada mengejek, “bukannya kalian seharunya ada di kelas mendengarkan guru
kalian mendongeng?” “Lalu kenapa kalian memakai seragam SMA Narin?” ejek pemuda
yang lain, “bukannya SMA Narin sudah tamat? Kalian harusnya memakai rok, kan?”
Mereka lalu tertawa keras.
Yoongi
akan maju, tapi Jin dengan sigap menahan. “Kami tidak ada urusan dengan kalian,”
kata Namjoon, “kami tidak punya waktu. Ayo kita pergi.” Namjoon berbalik, dia
melangkah pergi diikuti yang lain.
“Pergilah,”
kata pemuda itu, “pergilah seperti pengecut.” “Mereka, kan, murid SMA
Seolyeong,” sahut yang lain, “jadi mereka bertingkah seperti anak perempuan,
yang lari saat ada masalah.”
Yoongi
seketika maju dan meninju muka pemuda itu. “Kami dari SMA Narin!” bentaknya, “bukan
SMA Seolyeong!”
“Yoongi
babo,” decak Jin, “dia itu tidak pernah bias mengontrol emosinya.” Jin berlari
dan menghajar seorang yang akan menyerang Yoongi dari belakang. Jungkook dan
yang lain juga ikut membantu dua orang itu. Taehyung dan Jimin kompak
menghantamkan kursi kepada lawan mereka. Jungkook beberapa kali terkena
pukulan, tapi dia dengan sigap membalas serangan lawannya.
Sementara
di kelas, Jiyoo mulai khawatir dan menatap jajaran meja yang kosong. Dia menoleh
kearah Sena dan berkata, “Sena-ssi, bagaimana jika mereka tidak datang lagi ke
sekolah? Apa aku membuat kesalahan? Apa artinya aku gagal?”
Sena
berhenti menulis, dia menoleh juga kearah bangku-bangku kosong itu. “Jangan
khawatir, Jiyoo-ssi,” Sena menghibur, “mereka tidak akan menemukan meja itu dan
akan menyerah. Kau tidak gagal, hanya saja keberhasilanmu belum terlihat.” Sena
tersneyum kepada Jiyoo. Jiyoo menghela napas, dia membalas senyuman Sena dan
kembali fokus kepada pelajaran.
Leeteuk
menatap Jiyoo dan Sena, lalu beralih menatap jajaran bangku kosong itu. Dia menghela
napas. Leeteuk paham dengan tekad kuat Jiyoo dan Sena mengubah kebiasaan
murid-muridnya. Tapi Leeteuk lebih memahami karakter murid-muridnya, terutama
Bangtan. Mereka tidak akan menyerah begitu saja. ‘Dasar tidak bias diatur,’
batin Leeteuk.
*
“Mereka
belum kembali bahkan sampai jam sekolah berakhir,” kata Seulgi, “mungkin mereka
masih belum menyerah.” “Aku yakin mereka tidak akan menemukannya,” kata Joy, “mereka
akan menyerah sebentar lagi.”
Sena
menoleh kearah jendela, dia berhenti dan berkata, “Kalian semua salah.”
Jiyoo
dan yang lain berhenti, lalu menengok kearah jendela. Jiyoo sangat terkejut
melihat Tim Bangtan berjalan menuju sekolah mereka dengan membawa bangku yang
tampak usang dan kotor. Teman-teman mereka yang lain juga berjalan dibelakang
Bangtan, membawa bangku-bangku yang sama. Salah satunya memanggul papan nama
kayu bertuliskan ‘SMA Narin’. Jiyoo mendadak teringat saat dia masih anak-anak.
Ibunya memberikan hadish berupa sebuah gelang yang sangat bagus. Dan ketika
Ayah membuang gelang itu karena dianggap sudah usang, Jiyoo mencarinya sampai
ke tumpukan sampah dan tidak menyerah sampai menemukan gelang itu.
Sena
menoleh, dia melihat seulas senyum tersamar di wajah Jiyoo. “Tidak kusangka
mereka menemukan meja itu,” kata Irene, “Jiyoo-ssi, kau tidak akan membiarkan
mereka memakai meja itu, kan?”
“Kajja,
kita temui mereka,” kata Jiyoo. Dia melangkah diikuti yang lain menemui Tim
Bangtan dan yang lain. “Aku ikut senang kalian menemukan meja kalian,” kata
Jiyoo sambil tersenyum, “chukkahamnida.” “Sayangnya kalian tidak boleh
menggunakan meja itu di kelas,” kata Sena, “itu sudah peraturan.”
“Aku
tidak akan membiarkan kalian menguasai sekolah ini,” sahut Jungkook, “aku
adalah ketua di SMA Narin, kau dari SMA Seolyeong jangan sok kuasa.”
Jiyoo
tetap tersenyum. “Ngomong-ngomong soal ketua,” kata Wendy, “pemilihan ketua
Dewan Murid akan diadakan sebentar lagi. Dan kami serta sekolah sudah sepakat
menjadikan Jiyoo-ssi sebagai ketua Dewan Murid periode selanjutnya.”
“Mana
boleh begitu?” kata Jungkook, “kau perempuan dan tidak bisa berkelahi.”
“Karena
tidak ada kandidat lain, maka sesuai peraturan kami akan menunjuk ketua lama
untuk kembali menjadi ketua di periode selanjutnya,” kata Irene.
Mendengar
ucapan Irene, terlintas sesuatu di pikiran Jiyoo. “Begini saja,” kata Jiyoo, “Jungkook-ssi,
bagaimana kalau kau juga mencalonkan dirimu sebagai kandidat ketua Dewan Murid?
Kalau kau memenangkan pemilihan, kau boleh memakai meja ini lagi. Kau juga akan
menjabat sebagai ketua Dewan Murid. Eotte?”
“Jiyoo-ssi,
kenapa kau malah menawarinya ikut pemilihan?” sahut Yeri.
Jiyoo
tersenyum dan menjawab, “Bukannya dia ketua Dewan Murid juga? Dia juga berhak
ikut pemilihan.”
“Aku
siap,” kata Jungkook mantap, “dimana kita melakukannya? Lapangan? Gedung kosong?”
“Maaf,
kita sedang mengadakan pemilihan, bukan berkelahi,” kata Sena.
Krik.
“Aaaah,
apapun dan bagaimanapun caranya, aku akan mengalahkanmu,” kata Jungkook, “lihat
bagaimana kami beraksi. Kalian akan kalah.” Jungkook menyeringai, dia dan yang
lain berlalu dari hadapan Jiyoo dan teman-temannya dengan gaya yang aneh.
“Mereka
sangat percaya diri,” komentar Irene, “tapi aku yakin mereka tidak akan bisa
mengalahkan Jiyoo-ssi.” “Kau benar, Irene-ssi,” kata Seulgi, “selama ini tidak
ada yang bisa mengalahkan Jiyoo-ssi dalam pemilihan apapun.”
Jiyoo
tersenyum mendengar pujian teman-temannya. Sena menatap Jiyoo, dia melihat
Jiyoo tampak cerah dan bersemangat. Sena tersenyum kecil, dia senang melihat
Jiyoo berubah menjadi lebih cerah.
***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar