Rabu, 16 Desember 2015

The School Lesson 02



 
Title : The School
Author : Veve
Genre : School, Drama
Cast :
BTS All Members
Han Jiyoo (OC)
Park Sena (OC)
Red Velvet All Members (start from Lesson 02)
And others
Length : Chapter
*
Holla minna-san
Ini FF Kpop pertamaku, atau mungkin yang pertama dipost
Eh yang kedua ding salah/?
FF ini terinfluence oleh drama Jepang Shiritsu Bakaleya Koukou dan Gokusen
Mohon maaf kalo ada banyak typo
Jangan bash saya dengan pairing di FF ini :v
Jangan diplagiat ya, susah tauk bikinnya *author banyak bacot
Enjoy!!!
*

Lesson 2

            “Jungkook-ah.”

            “Hm?”

            “Bolos, yuk.”

            Jungkook tersedak minumannya, dia menoleh kearah Taehyung yang memasang wajah malas. “Kau kenapa mendadak malas begitu, hah?” tanya Jungkook.

            “Habisnya hari ini, kan, murid-murid SMA Seolyeong datang,” kata Taehyung, “sekolah kita akan jadi super membosankan.”

            Jungkook terdiam, dia lalu menghela napas. “Benar juga,” katanya, “haaaah, kenapa kita harus mengalami nasib buruk seperti ini?” Jungkook menatap Taehyung dan berkata, “Bolos saja, yuk.” Mereka berdua kembali berjalan, tidak ada yang bicara. Taehyung sibuk dengan ponselnya, sedangkan Jungkook berkonsentrasi dengan minumannya. “Hoaaah, Namjoon daebak,” kata Taehyung, dia menunjukkan ponselnya yang menampilkan postingan status Namjoon kepada Jungkook,. “dia datang ke sekolah. Padahal semalam dia berkata tidak mau lagi ke sekolah.”

            “Taehyung-ah! Jungkook-ah!”

            Taehyung dan Jungkook menoleh. “Oh, annyeong, Ilhoon-ah,” sapa Taehyung, “tumben kau sudah muncul pagi-pagi begini.” Ilhoon berhenti berlari, dia terengah-engah mengatur napas lalu menatap Jungkook dan Taehyung. “Kalian cepatlah ke sekolah!” katanya panik, “ada masalah serius!”

            “Masalah apa?” Tanya Jungkook.

            “Papan nama sekolah kita hilang!” jawab Ilhoon, “dan meja kita juga!”

            Taehyung dan Jungkook saling pandang, mereka langsung berlari menuju sekolah. Jungkook berhenti sejenak, matanya terbelalak melihat papan nama SMA Narin berganti dengan tulisan ‘SMA Seolyeong II’ di sisi gerbang. Dia kembali berlari masuk, lalu menjeblak pintu kelas dan mendapati teman-temannya sudah ada disana. Jungkook dan Taehyung tercengang melihat penampilan baru kelas mereka. Dinding kelas berubah warna menjadi pink pastel, tirai jendela juga berganti warna menjadi pink. Tidak ada meja penuh coretan, semua diganti dengan bangku baru yang tertata rapi. Aroma lavender menguar di kelas, taplak meja dan vas berisi bunga lily cantik tertata rapi di meja guru.

            “Ige mwoya?” Jungkook tercengang, “apa-apaan ini?! Kemana meja kita?!”

            Taehyung segera memeriksa laci meja. “Majalah dan komik-komikku juga hilang!” sahutnya.

            “Toiletnya juga sangat bersih,” kata Jimin, “klosetnya terbuka otomatis seperti robot.”

            “Annyeonghasseo. Kalian menyukai kelas baru ini?”

            Semua anak menoleh. Sekelompok gadis berbaris rapi di dekat pintu. Seorang gadis berambut hitam sebahu tersenyum manis kepada mereka. Dia melangkah maju didampingi seorang gadis lain. “Namaku Han Jiyoo,” katanya memperkenalkan diri, “ini teman-temanku. Kami dari SMA Seolyeong, dan mulai hari ini kami akan menjadi teman sekelas kalian.” Jiyoo tersenyum, dia membungkuk dan berkata, “Bangapseumnida.”

            “Bangapseumnida,” gadis-gadis lain serempak mengikuti Jiyoo.

            Gerombolan laki-laki itu terdiam, mereka agak bingung dengan sikap para gadis. “Jadi kalian yang mengubah kelas ini?” tanya Jin.

            “Benar sekali,” jawab Jiyoo sambil tersenyum, “aku dan temanku, Sena-ssi mengadakan riset tiga hari lalu. Dan kami juga mengganti beberapa yang tidak layak pakai.”

            “Lalu ditaruh dimana meja-meja kami?” Yoongi bersuara.

            “Karena meja-meja itu sangat kotor dan tidak layak pakai, maka kami membuangnya,” jawab Jiyoo.

            “MWO?!” teriakan para laki-laki mengejutkan para gadis. Yoongi maju, dengan kesal dia menendang sebuah meja dan menatap kesal gadis-gadis itu. Para gadis merapat takut dibelakang Jiyoo dan Sena. “Tidak layak pakai katamu?!” sahut Yoongi keras, “kau jangan sok tahu! Meja itu sudah turun-temurun di kelas ini!”

            “Tapi meja-meja itu tidak sesuai dengan standar sekolah,” sahut Jiyoo tenang.

            “Meja itu adalah sebagian jiwa kami!” balas Jungkook, “itu adalah jiwa Bangtan!”

            “Aku tidak paham dengan itu,” kata Jiyoo.

            “Jelas saja, yang kau pahami cuma bagaimana bicara dengan sopan seperti putri malu,” ucap Jungkook sinis.

            “Tolong bicaralah dengan sopan kepada Jiyoo-ssi,” gadis bernama Sena akhirnya bersuara, “dia adalah ketua Dewan Murid.”

            “Hah? Ketua Dewan Murid?” Jungkook mengerutkan dahi bingung.

            Sena mengangguk. “Sebagai ketua Dewan Murid, dia memiliki wewenang mengatur sarana dan prasarana yang dibutuhkan disini,” katanya menjelaskan, “dan tugas utamanya adalah menyesuaikan standar sekolah ini dengan standar SMA Seolyeong.”

            Jungkook mendengus. “Kalau begitu, aku adalah ketua Dewan Murid SMA Narin,” katanya sambil menatap tajam Jiyoo, “jadi aku lebih berhak menentukan apapun disini. Ini SMA Narin, bukan SMA Seolyeong.”

            “Yeaahh! All hail Jungkook!” teriak Hoseok.

            Para laki-laki bersorak menyemangati Jungkook. Para gadis tampak keheranan dengan situasi di depan mereka, kecuali Jiyoo yang masih tenang dan Sena yang hanya mengerutkan dahi. Jungkook tersenyum mendengar sorakan teman-temannya, dia menatap tajam Jiyoo. “Dan aku menentukan bahwa meja-meja itu harus dikembalikan ke kelas ini,” katanya, “ayo kita ambil mejanya!”

            Yang lain mengikuti Jungkook, mereka keluar sambil menendangi meja-meja. “Jiyoo-ssi,” sahut Yeri, “apa mereka akan benar-benar mengambil meja mereka?”

            “Mereka, kan, tidak tahu mejanya dibuang dimana,” kata Wendy, “jadi kurasa mereka tidak akan menemukannya. Bukan begitu, Jiyoo-ssi?”

            Jiyoo tersenyum, dia menatap semua temannya. “Kajja, kita rapikan meja-meja ini,” ajaknya, “mereka hanya belum terbiasa. Nanti mereka pasti akan menyukai pemberian kita.” Jiyoo berbalik, dia mulai menata meja-meja dibantu yang lain.
*
            “Ketemu?”

            Taehyung melompat dari tumpukan meja bekas, dia menggeleng. “Sial, dimana mereka membuang meja kita?” umpat Yoongi, “kalau saja mereka bukan perempuan sudah kuhajar mereka.” “Ada banyak tempat pembuangan seperti ini,” kata Namjoon, “mau tidak mau kita harus mendatanginya satu persatu.”

            Ketujuh anak itu berjalan pelan. “Mereka benar-benar membawa masalah,” kata Jimin, “pertama mereka membuang papan nama dan meja kita. Mungkin nanti mereka akan menyuruh kita memakai rok.”

            “Yang benar saja,” sahut Hoseok, “kalau itu terjadi, aku tidak akan peduli lagi mereka laki-laki atau perempuan. Akan kuhajar mereka.”

            “Wah wah wah. Apa yang dilakukan gadis-gadis ini?”

            Jungkook dan yang lain berbalik. Sekelompok pemuda berdiri di hadapan mereka, memberi tatapan meremehkan. “Kenapa murid SMA Seolyeong ada disini?” sahut seorang dengan nada mengejek, “bukannya kalian seharunya ada di kelas mendengarkan guru kalian mendongeng?” “Lalu kenapa kalian memakai seragam SMA Narin?” ejek pemuda yang lain, “bukannya SMA Narin sudah tamat? Kalian harusnya memakai rok, kan?” Mereka lalu tertawa keras.

            Yoongi akan maju, tapi Jin dengan sigap menahan. “Kami tidak ada urusan dengan kalian,” kata Namjoon, “kami tidak punya waktu. Ayo kita pergi.” Namjoon berbalik, dia melangkah pergi diikuti yang lain.

            “Pergilah,” kata pemuda itu, “pergilah seperti pengecut.” “Mereka, kan, murid SMA Seolyeong,” sahut yang lain, “jadi mereka bertingkah seperti anak perempuan, yang lari saat ada masalah.”

            Yoongi seketika maju dan meninju muka pemuda itu. “Kami dari SMA Narin!” bentaknya, “bukan SMA Seolyeong!”

            “Yoongi babo,” decak Jin, “dia itu tidak pernah bias mengontrol emosinya.” Jin berlari dan menghajar seorang yang akan menyerang Yoongi dari belakang. Jungkook dan yang lain juga ikut membantu dua orang itu. Taehyung dan Jimin kompak menghantamkan kursi kepada lawan mereka. Jungkook beberapa kali terkena pukulan, tapi dia dengan sigap membalas serangan lawannya.

            Sementara di kelas, Jiyoo mulai khawatir dan menatap jajaran meja yang kosong. Dia menoleh kearah Sena dan berkata, “Sena-ssi, bagaimana jika mereka tidak datang lagi ke sekolah? Apa aku membuat kesalahan? Apa artinya aku gagal?”

            Sena berhenti menulis, dia menoleh juga kearah bangku-bangku kosong itu. “Jangan khawatir, Jiyoo-ssi,” Sena menghibur, “mereka tidak akan menemukan meja itu dan akan menyerah. Kau tidak gagal, hanya saja keberhasilanmu belum terlihat.” Sena tersneyum kepada Jiyoo. Jiyoo menghela napas, dia membalas senyuman Sena dan kembali fokus kepada pelajaran.

            Leeteuk menatap Jiyoo dan Sena, lalu beralih menatap jajaran bangku kosong itu. Dia menghela napas. Leeteuk paham dengan tekad kuat Jiyoo dan Sena mengubah kebiasaan murid-muridnya. Tapi Leeteuk lebih memahami karakter murid-muridnya, terutama Bangtan. Mereka tidak akan menyerah begitu saja. ‘Dasar tidak bias diatur,’ batin Leeteuk.
*
            “Mereka belum kembali bahkan sampai jam sekolah berakhir,” kata Seulgi, “mungkin mereka masih belum menyerah.” “Aku yakin mereka tidak akan menemukannya,” kata Joy, “mereka akan menyerah sebentar lagi.”

            Sena menoleh kearah jendela, dia berhenti dan berkata, “Kalian semua salah.”

            Jiyoo dan yang lain berhenti, lalu menengok kearah jendela. Jiyoo sangat terkejut melihat Tim Bangtan berjalan menuju sekolah mereka dengan membawa bangku yang tampak usang dan kotor. Teman-teman mereka yang lain juga berjalan dibelakang Bangtan, membawa bangku-bangku yang sama. Salah satunya memanggul papan nama kayu bertuliskan ‘SMA Narin’. Jiyoo mendadak teringat saat dia masih anak-anak. Ibunya memberikan hadish berupa sebuah gelang yang sangat bagus. Dan ketika Ayah membuang gelang itu karena dianggap sudah usang, Jiyoo mencarinya sampai ke tumpukan sampah dan tidak menyerah sampai menemukan gelang itu.

            Sena menoleh, dia melihat seulas senyum tersamar di wajah Jiyoo. “Tidak kusangka mereka menemukan meja itu,” kata Irene, “Jiyoo-ssi, kau tidak akan membiarkan mereka memakai meja itu, kan?”

            “Kajja, kita temui mereka,” kata Jiyoo. Dia melangkah diikuti yang lain menemui Tim Bangtan dan yang lain. “Aku ikut senang kalian menemukan meja kalian,” kata Jiyoo sambil tersenyum, “chukkahamnida.” “Sayangnya kalian tidak boleh menggunakan meja itu di kelas,” kata Sena, “itu sudah peraturan.”

            “Aku tidak akan membiarkan kalian menguasai sekolah ini,” sahut Jungkook, “aku adalah ketua di SMA Narin, kau dari SMA Seolyeong jangan sok kuasa.”

            Jiyoo tetap tersenyum. “Ngomong-ngomong soal ketua,” kata Wendy, “pemilihan ketua Dewan Murid akan diadakan sebentar lagi. Dan kami serta sekolah sudah sepakat menjadikan Jiyoo-ssi sebagai ketua Dewan Murid periode selanjutnya.”

            “Mana boleh begitu?” kata Jungkook, “kau perempuan dan tidak bisa berkelahi.”

            “Karena tidak ada kandidat lain, maka sesuai peraturan kami akan menunjuk ketua lama untuk kembali menjadi ketua di periode selanjutnya,” kata Irene.

            Mendengar ucapan Irene, terlintas sesuatu di pikiran Jiyoo. “Begini saja,” kata Jiyoo, “Jungkook-ssi, bagaimana kalau kau juga mencalonkan dirimu sebagai kandidat ketua Dewan Murid? Kalau kau memenangkan pemilihan, kau boleh memakai meja ini lagi. Kau juga akan menjabat sebagai ketua Dewan Murid. Eotte?”

            “Jiyoo-ssi, kenapa kau malah menawarinya ikut pemilihan?” sahut Yeri.

            Jiyoo tersenyum dan menjawab, “Bukannya dia ketua Dewan Murid juga? Dia juga berhak ikut pemilihan.”

            “Aku siap,” kata Jungkook mantap, “dimana kita melakukannya? Lapangan? Gedung kosong?”

            “Maaf, kita sedang mengadakan pemilihan, bukan berkelahi,” kata Sena.

            Krik.

            “Aaaah, apapun dan bagaimanapun caranya, aku akan mengalahkanmu,” kata Jungkook, “lihat bagaimana kami beraksi. Kalian akan kalah.” Jungkook menyeringai, dia dan yang lain berlalu dari hadapan Jiyoo dan teman-temannya dengan gaya yang aneh.

            “Mereka sangat percaya diri,” komentar Irene, “tapi aku yakin mereka tidak akan bisa mengalahkan Jiyoo-ssi.” “Kau benar, Irene-ssi,” kata Seulgi, “selama ini tidak ada yang bisa mengalahkan Jiyoo-ssi dalam pemilihan apapun.”

            Jiyoo tersenyum mendengar pujian teman-temannya. Sena menatap Jiyoo, dia melihat Jiyoo tampak cerah dan bersemangat. Sena tersenyum kecil, dia senang melihat Jiyoo berubah menjadi lebih cerah.
***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar