Kamis, 17 Juli 2014

My Teacher, My Enemy, My...... Love? part 3

Part 3 is here everyone :D
>>>
"Heh, itu salah."

 "Apanya yang salah? Bener, kok."

"Ngeyel banget, sih, jadi orang. Salah itu."

"Yeee. Situ yang ngeyel. Aku ngitungnya bener, kok."

Kaito menarik kertas di dekat Kouta, mencoretinya dengan pensil. "Ngerjain soal pitagoras aja nggak bisa," kata Kaito, "payah." Kaito menghitung soal pitagoras yang diberikannya untuk Kouta, lalu menjelaskannya sekali lagi.

Kouta menatap Kaito. Laki-laki di depannya ini menyebalkan sekali, dia bahkan tidak ragu untuk memukul kepala Kouta kalau dia salah jawab atau mulai bersikap kurang ajar (menurut Kaito sih). Kaito juga tidak sungkan mengatainya bodoh atau payah atau apapun. Ya memang Kouta itu payah, tapi kan tidak perlu diperjelas begitu. Mentang-mentang pintar lalu dia seenaknya mengatai orang begitu? Guru macam apa itu? Mulutnya diajari tata krama tidak, sih?

"Jelas?" tanya Kaito membuyarkan lamunan Kouta. "Eh? Oh... Ee... Jelas, kok jelas. Aku itu udah ngerti, nggak usah dijelasin lagi," jawab Kouta agak gugup. Kaito menatap Kouta datar dengan sebelah alisnya terangkat, lalu menulis sesuatu diatas kertas dan menyodorkannya kepada Kouta. "Kerjain lima soal itu," kata Kaito, "elo nggak boleh kemana-mana sampe soal-soal itu kelar dan jawabannya bener semua."

Kouta melihat soal-soal itu, seketika matanya terbelalak. Oh, man. Soal ini lebih sulit dari yang tadi. "Soal yang itu, kan belum selesai," Kouta beralasan, "sini aku kerjain yang itu dulu." Tangan Kouta baru akan terulur meraih kertas soal yang lama saat tangan Kaito dengan cepat menyambarnya terlebih dahulu lalu meremasnya dan dilempar sembarangan. "Nggak berlaku," katanya, "nggak usah bawel nggak usah banyak bacot. Kerjain. Kalo situ nggak bisa, jangan harap bisa pulang. Gerak dikit aja gue lelepin lo di sungai."

Kouta mendengus kesal, dalam hati dia merutuki dirinya sendiri dan kekejaman Kaito. Dia menatap soal-soal itu, mencoba mengerjakannya. Dahi Kouta berkerut, dia berusaha mengingat penjelasan Kaito yang bahkan tidak dia dengar karena sibuk memaki Kaito dalam hati.

Kaito menatap Kouta, dia berusaha keras menahan senyum. Kouta tampak lucu sekali dengan wajah seriusnya. Seperti wajah orang menahan kentut. Mata Kaito mengamati setiap inci wajah Kouta, memandangi mata Kouta yang tertutupi sebagian poni rambutnya. Pandangan Kaito terus meneliti wajah Kouta, dan akhirnya pandangan itu berhenti di bibir Kouta.

Glup.

Susah payah Kaito menelan ludahnya. Bibir. Oh my God. Mata Kaito terus menatap bibir Kouta yang terkatup, mengamati lekuknya yang tampak sempurna itu. Kaito menggigit bibir bawahnya, berusaha keras menahan diri untuk tidak mengecup bibr itu. Kissable lips. Rasanya pasti manis.

Eh.

 Kaito mengerjapkan matanya, dengan sigap membuang muka. Masa Kaito jatuh cinta dengan anak SMA? Gengsi, dong. Apalagi anak SMAnya payah seperti Kouta. Mau ditaruh dimana mukanya nanti? Tapi mata tidak bisa berbohong, bung. Kaito kembali menatap Kouta, dia bisa melihat sebulir keringat menetes dari dahi muridnya itu. Kouta menyeka keringatnya, sebagian poninya tersibak memperlihatkan manik mata gelapnya.

Kaito melirik pekerjaan Kouta, dia melengos melihat Kouta masih mengerjakan soal nomor satu. Nomor satu, saudara sekalian! Ini sudah limabelas menit dan Kouta belum juga move on ke soal nomor dua. Sesuatu sekali.

"Udah selesai belum?" tanya Kaito dengan nada mengejek, "payah. Ngerjain satu soal aja limabelas menit nggak kelar-kelar. Anak SD disuruh ngerjain lima soal itu limabelas menit juga kelar. Udah payah, bego, lelet lagi."

"Duh, bisa diem nggak, sih?!" sentak Kouta kesal, "aku lagi berusaha ngerjain soalnya! Hargain usha orang dong! Songong banget sih jadi orang!"

Pletak.

"Adoh!" Kouta langsung balas menendang kursi Kaito hingga dia terjungkal. "Waaa!" Kaito meringis memegangi pinggulnya yang terbanting, lalu menarik kursi Kouta. Kouta langsung terjungkal, bahkan punggungnya membentur lantai cukup keras. "Woi biasa aja nggak usah anarkis!" teriak Kouta, langsung bangkit dan menjambak rambut Kaito.

"Elo yang anarkis duluan pake nendang kursi gue!" Kaito mendorong muka Kouta hingga rupanya...... yah, bahkan lebih buruk dari lukisan abstrak. Dua orang itu saling menyerang, entah bagaimana rupa mereka sekarang. Masih berwujud normal sudah syukur, kok.

"Woi woi woi! Berhenti!"

Yuuya danZack langsung memisahkan mereka berdua. Zack menahan Kaito dan Yuuya menarik Kouta menjauh, tangan Kouta masih berusaha meraih Kaito. "Udah berhenti!" teriak Micchy ikutan panik, "kalian ini udah bangkotan tingkahnya kayak anak SD! Woi, stop! Kak Kouta, udahan dong! Tangannya jangan kayak emak-emak rebutan baju obralan di mall! Kak Kaito, jangan nendang-nendang kayak bayi dipakein popok!"

"Micchy nggak usah ngelawak!" teriak Zack masih menahan Kaito dibantu Peco yang apesnya terkena seplakan Kaito. "Woi Kaito! Kenapa jadi Peco yang lo gampar?! Mau gue potong jadi dua lo?!"

"GUE NGGAK MAU BELAJAR SAMA DIA LAGI!"

Teriakan Kouta sukses menghentikan huru-hara, padahal dia biang keroknya.

"Lho?"

"Gue nggak betah! Seminggu belajar sama dia bikin gue stress! Dia buikannya ngajarin malah ngatain gue bego, payah, lelet, blo'on, dan sebagainya! Gue nggak betah! Pergi lo darisini! Gue nggak mau belajar sama elo lagi!" Kouta meraung marah sambil mengacak rambutnya frustrasi.

Semua anak terdiam. Rat, Chucky, dan Rika saling pandang. Ini pertama kalinya Kouta bicara sekeras itu. Orang ini juga pertama kalinya Kouta marah sampai gitu. kaito sendiri diam, dia tidak menyangka Kouta akan semarah itu. Sebenarnya Kaito sendiri emosi,. tapi sebagian kecil hatinya merasa agak nyeri saat menyadari Kouta marah karena dirinya. Napasnya terengah-engah, entah apa yang terjadi tapi saraf tubuhnya melemah. Dia tidak tahu harus membalas apa. Padahal biasana Kaito selalu punya sejuta kalimat sadis untuk menyerang orang-orang yang marah kepadanya.

"Fine gue pergi," akhirnya Kaito bersuara, "gue.... gue juga nggak betah ngajarin elo. Payah, otak lo cetek." Kaito menyambar tasnya, berjalan meninggalkan yang lain. "Semoga sukses, ya," kata Kaito dengan suara meremehkannya yang biasa. Kaito berjalan lagi, dan dia menghilang begitu saja.

"Eh gue pulang dulu," kata Zack. Dia bergegas menggandeng tangan Peco yang masih kesakitan gara-gara digampar Kaito keluar markas geng Gaim. Yuuya menatap Micchy, dia berbisik. "Bener, kan. Kouta nggak betah belajar sama Kaito."

Micchy menatap Kouta yang terengah-engah dengan mata agak berair. Ya siapa juga yang sabar dihina seperti itu? Kouta langsung membereskan kertas-kertas di meja, menjejalkannya ke dalam tas lalu pergi begitu saja tanpa bicara apapun.

"Semua salahku," Micchy menunduk, dia merasa bersalah karena ide belajar dengan Kaito berasal dari dia.
~~~
HWAAAAA!!!! Maafkan saya baru bisa post. faktor M menyerang. Hope you like it, comment, and...... enjoy!!!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar