Selasa, 19 Agustus 2014

My Teacher, My Enemy, My...... Love? part 3B


Hollaaaaaaaaaa
Hai hai hai....
Ada yang kangen?
Atau malah bosen??
Ini sebenernya jadi satu sama part sebelumnya, makanya judulnya part 3B
Maklum, faktor M XD
Oke deh, enjoy ya :D
~~~

Satu bulan berlalu. Semua berjalan seperti biasa. Kouta tetap dengan nila rendahnya untuk matematika, dan yang lain harus berpusing-pusing mengajari Kouta. Namanya solidaritas tanpa batas ya gitu. Susah ditelen bareng-bareng.

Seperti deja vu, hari ini semua member Gaim berkumpul di markas dan sangat tegang duduk mengelilingi meja bundar. Mereka semua menatap selembar kertas terlipat di tengah-tengah meja dengan wajah seperti sedang menghadapi calon mertua. Tegang nggak ada santainya sama sekali. Kertas itu seakan menjadi penentu hidup dan mati mereka hari ini.

Kouta doang sih. Nggak tahu juga kenapa yang lain ikutan tegang.

"Gue nggak sanggup buat buka," gumam Kouta, "gue nerpes." "Nervous, Kak. Nervous," Mai mengoreksi dengan mulut monyong-monyong minta dicium Micchy.

"Iya tau," balas Kouta cepat. Dia kembali menatap kertas itu, susah payah dia menelan ludahnya sendiri. Kertas itu bahkan lebih mengerikan daripada amukan Akira. Dengan tangan gemetar, Kouta mengambil kertas itu dan membukanya lalu meletakkannya kembali di meja agar yang lain bisa melihat juga.

Matematika : 78

.

.

.

.

"KOUTAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!"

Sorak-sorak bergembira terdengar membahana badai ulala di markas. Semua anak loncat-loncat bahagia, mereka mengelu-elukan Kouta yang masih tidak percaya mendapat nilai 78. "Wah, kerja keras lo nggak sia-sia!" kata Rat memekik senang, "akhirnya elo dapet nilai diatas 50!"

"Gue yakin Kak Akira pasti balikin semua komik yang disita," sambung Rika.

Kouta tersenyum senang, akhirnya ikut melompat bahagia dengan yang lain. Eh, tapi kebahagiaan ini tidak boleh dirasakan sendiri. Kaito juga harus tahu kalau dia dapat nilai 78.

Kaito.

Perlahan senyum Kouta memudar, dia pelan-pelan menyingkir dari euforia kebahagiaan yang lain. Kouta menunduk, menatap lembar kertas di tangannya. Kaito, orang songong nan sombong itu berperan besar dalam kemajuan Kouta. Walaupun hanya seminggu, tapi dia telaten mengajari Kouta. Yah, walaupun dengan segala macam cacian dan hinaan, sih.

Haruskah Kouta memberitahu Kaito?

Kouta menoleh, tangannya meraih lembaran kertas di dalam tasnya. Kertas-kertas itu adalah rangkuman rumus dan contoh soal dari Kaito. Kouta menghela napas, dia menyadari kalau sebagian kecil hatinya merindukan kehadiran Kaito. Dia merindukan ejekan Kaito yang mengatainya bodoh, payah, tolol, oon, dan lain-lain. Dia merindukan Kaito yang kadang tersenyum kalau Kouta bisa menyelesaikan satu soal.

Intinya, Kouta merindukan Kaito.

Kouta kembali menghela napas. Dia merasa bersalah sudah membentak Kaito, dan sudah pasti Kaito akan marah besar. Pasti Kaito tidak mau melihatnya lagi. Kouta melirik kertas nilai ujiannya, membayangkan Kaito kalau saja hari itu tidak pernah terjadi.

Kaito pasti masih disini dan tidak akan bereaksi apa-apa. Biasalah, jaga image.

"Eh, gue pergi dulu, ya," Kouta menginterupsi yang lain. " Mau kemana? Ngasih tau Kak Akira?" tanya Yuuya. Kouta hanya tersenyum, dia langsung berlari meninggalkan yang lain.

Kouta harus menemuinya, apapun yang terjadi.
~~~
Kaito memeriksa ulang laporan yang akan dia serahkan kepada dosen besok. Dia yakin sekali kalau laporannya tidak akan mengalami yang namanya perbaikan atau apalah. Pede aja. Kaito, kan, anaknya pinter. Orang pinter, mah, nggak kenal perbaikan. Kenalnya cuma nilai bagus sama juara satu doang.

Kaito menghela napas, dia sudah yakin laporannya benar. Kaito meregangkan tubuhnya, lalu bersandar di dinding kamarnya. Zack dan Peco terdengar bermesraan di ruang tengah, dan jujur saja Kaito iri. Dia hanya sendirian di kamarnya. Jones sih.

Andaikan dia dan Kouta seperti itu.

Eh.

Kouta.

Kaito menatap langit-langit kamar. Bagaimana kabar anak itu? Setahunya sekarang ada ujian untuk anak-anak tingkat akhir SMA. Dia sangat penasaran apakah Kouta ada kemajuan. Apakah nilainya membaik, atau justru dapat nol. Kalau benar begitu, Kaito ingin sekali mengajarinya lagi.

Tapi....

Kouta sudah sangat marah kepadanya.

Kaito merutuki dirinya sendiri. Kenapa dia sekasar itu? Mengatai Kouta bodoh, bahkan memukul kepalanya tanpa ampun. Kouta pasti sangat membencinya sekarang. Dia merasa bersalah, tapi Kaito mempertahankan gengsinya. Dia ogah minta maaf duluan. It's totally not Kaito's style.

"Kaito. Woi."

Kaito menoleh. "Ada tamu," kata Peco, "mau nemuin elo katanya."

"Siapa?" tanya Kaito datar. Dalam hati dia berharap tamu itu adalah Kouta.

"Jonouchi. Dia mau ngambil makalah yang elo pinjem katanya."

Kaito mencelos. Oh, Jonouchi ternyata. Kaito mendengus, menyaut sebuah makalah dan berjalan malas ke pintu. Dia keluar, menemui Jonouchi yang....

"Ehem. Get a room please."

Kaito dengan jelas melihat keterkejutan Jonouchi dan Hase, sang kekasih. Jonouchi dengan sigap melepas cumbuan mesranya dan menatap Kaito dengan salah tingkah sendiri. "Nih, makasih makalahnya," Kaito menyodorkan makalah di tangannya, "lain kali kalo mau ngesuk-ngesuk jangan di muka umum. Dirazia tau rasa lo berdua."

"Oh, oke," Jonouchi masih agak salah tingkah, "aku... aku langsung aja ya. Bye." Jonouchi langsung ngacir bersama Hase tanpa menunggu jawaban dari Kaito. Kaito mendengus, dia agak jijik kalau melihat dua sejoli itu mengumbar kemesraan di muka umum. Berlebihan sekali. Kaito melangkah masuk, lalu menutup pintu.

"Kak Kaito!"

Jdugh!

"Aww!"

Kaito terkejut, dia membuka pintu dengan cepat. Matanya terbelalak melihat Kouta berdiri di depan pintu rumahnya sambil meringis mengusap-usap dahinya. Seketika Kaito merasakan letupan kebahagiaan melihat Kouta. Dia sangat rindu dengan anak SMA itu.

"Mau ngapain lo kesini?" tanya kaito, dia berusaha mendatarkan suaranya, "masih mau marah-marah? Sana ngomong sama tembok." Kaito baru akan menutup pintu ketika Kouta menyahut, "Nilai matematikaku 78!"

Kaito terpaku, tangannya berhenti seketika. "Nilaiku naik, Kak!" Kouta terdengar sangat gembira, "liat, deh. Emang, sih, masih kalah bagus dibandingin nilai-nilai yang lain, tapi seenggaknya nilaiku nggak dibawah 50 lagi."

Kaito berusaha keras menahan tawanya mendengar pengakuan anak SMA di depannya ini. "Halah nilai 78 aja bangganya selangit," balas Kaito, "gue yang dari brojol ditakdirin dapet nlai 100 aja nggak heboh kayak elo."

Kaito bisa melihat perubahan ekspresi Kouta dari tersenyum cerah menjadi kesal. "Masih sempet nyombongin diri," gumam Kouta, "songong amat ini orang satu."

"Ngatain gue songong lagi," sahut Kaito keras, "mending gue songong, daripada elo norak. Udah, ah, gue nggak ada waktu buat elo." Kaito langsung menutup pintu dengan agak keras.

"Kak!"

Kaito berdecak. "Apa lagi?!"

"Buka dulu pintunya!"

"Nyaman banget lo nyuruh gue buka pintu. Ogah!"

"Bentar doang, Kak! Buka dulu!"

"Gue bilang ogah ya ogah!"

"Tapi kaki gue kecepit, Kak! Adududuh!"

kaito terbelalak, dia cepat-cepat menunduk. Benar juga, ada sebuah kaki bersepatu putih terjepit di pintu. Kaito membuka pintu, lagi-lagi matanya melihat Kouta yang meringis kesakitan. Dia lagi-lagi berusaha menahan diri untuk tidak mendekati Kouta, dan akhirnya hanya memasang wajah datar andalannya.

"Aku mau minta maaf," kata Kouta, "maaf udah maki-maki kak Kaito waktu itu. Abisnya Kak Kaito juga nyebelin banget jadi orang. Lidahnya pedes kayak lidah mertua."

Kaito memutar matanya malas. Enak saja lidahnya disamakan dengan lidah mertua. Pedesan lidah mertua, tauk. "Elo minta maaf tapi dibelakangnya masih aja ngatain," kata Kaito, "sana pulang. Maaf gue mahal buat elo." Tanpa basa-basi Kaito menutup pintu. Dia tidak peduli mau Kouta kejedot kek, kakinya kejepit kek bodo amat dah.

"Halah elo pake gengsi segala," suara Zack terdengar. Kaito menoleh, matanya memicing menatap Zack yang tengah menyuapi Peco cake coklat. "maksud lo apaan?" tanya Kaito, "gue emang nggak minat sama anak SMA banyak tingkah kayak dia."

"Nggak usah ngeles kayak bis kejar setoran," sahut Zack, "gue udah kenal elo sejak SD. Gue paham banget kalo elo sebenernya naksir si Kouta itu, cuma elonya aja kegedean gengsi." "Makan tuh gengsi," sahut Peco sambil tertawa.

Kaito mendengus. Kata-kata Peco barusan membuatnya ingin menghajar orang itu andaikan tidak ada Zack di dekatnya. Kaito masuk kamar, menghempaskan tubuhnya di ranjang.

Gengsi.

Iya. Kaito gengsi ingin menyatakan perasaannya kepada Kouta. Sudah lama dia sadar kalau dia menyukai Kouta, apalagi sejak dia menjadi guru les matematika dadakan untuk bocah itu. Kouta itu blo'on, lelet, payah, cerewet kayak emak-emak, tapi itu yang disukai Kaito. Dia suka melihat senyuman kouta, matanya yang menyipit saat tertawa, suara cemprengnya, dan bibirnya yang melekuk indah menggoda iman.

Eh.

Kaito mengerjapkan mata. "Aaaahhhh!!!" Kaito mengerang frustrasi, "Kouta itu...... Aaaahhh!! Gue benci Kouta! Gue benciiiii!"
~~~


N.B : maafkan segala typo yang bertebaran. salahkan keyboard komputer warnet yang minta dibanting.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar