Title : The School
Author : Veve
Genre : School, Drama
Cast :
BTS All Members
Han Jiyoo (OC)
Park Sena (OC)
Red Velvet All Members (start from Lesson 02)
And others
Length : Chapter
*
FF ini terinfluence oleh drama Jepang Shiritsu Bakaleya Koukou dan Gokusen
Mohon maaf kalo ada banyak typo
Jangan bash saya dengan pairing di FF ini :v
Dan jangan diplagiat..... Kasihani saya *ngek
Enjoy!!!
*
Lesson
5
''Ya ampun, itu salah. Kau jangan kaku begitu,
dong.''
''Bukannya tadi kau bilang tubuh kita harus agak
kaku?''
''Hhh. Tapi tidak sekaku itu. Kau manusia atau
batang pohon hah?''
Hoseok mendengus kesal. Sulit sekali mengajari para
siswi, tubuh mereka kaku seperti batang pohon cemara. Hoseok berusaha untuk
sabar, dia kembali mengajari para gadis.
Jiyoo dan Sena mengamati dari kejauhan. Jungkook
menoleh, dia buru-buru mendekat dan memprotes, ''Ya, kalian kenapa tidak
latihan, hah? Curang sekali kalian. Menyuruh kami latihan tapi kalian sendiri
tidak latihan.''
''Kami bertugas mengawasi jalannya persiapan,
Jungkook-ssi,'' kata Jiyoo, ''aku dan Sena-ssi adalah panitia perayaan. Panitia
perayaan tidak boleh ikut tampil dalam perayaan.''
''Kenapa aku tidak dipilih menjadi panitia juga?''
Jungkook protes, ''aku, kan, wakil ketua Dewan Murid. Sena hanya ketua kelas,
tapi dia malah jadi panitia.''
''Kau masih pemula, jadi kau belum berpengalaman
menjadi panitia,'' sahut Sena.
Jungkook merengut mendengar ucapan menohok Sena
untuk kedua kalinya. ''Aku membencimu,'' gerutu Jungkook. Dia berbalik dan ikut
berlatih tari bersama Hoseok dan yang lain. Jiyoo menghela napas, dia menatap
Sena dan berkata, ''Sena-ssi, aku akan mengecek kelas lain. Tolong kau awasi
mereka, ne?'' Jiyoo tersenyum dan melangkah keluar kelas. Sena menghela napas,
dia duduk di lantai dan mengamati teman-temannya berlatih tari.
*
''Haaaaah, neomu jollyeo,'' Jimin mengerang, ''aku
jadi lapar. Makan apa kita? Ramyun?''
''Sushi,'' sahut Taehyung sambil menerawang, ''ya,
ayo kita ke restoran sushi di dekat game center. Pelayan disana cantik
sekali.''
''Ayo!'' sahut Jimin semangat, ''aku mau berkenalan
dengannya!''
Tim Bangtan sibuk berceloteh sendiri soal pelayan
cantik yang dibicarakan Taehyung. Jungkook berjalan pelan, dia memijit pelan
tengkuknya yang terasa lelah. Ini pertama kalinya Jungkook ambil bagian dalam
perayaan sekolah. Padahal sebelumnya Jungkook sama sekali tidak mau terlibat
dalam acara sekolah, datang saja kalau moodnya sedang baik. Tapi Jungkook
merasakan keseruan menyiapkan perayaan seperti ini, ditambah dia akan tampil
dalam pertunjukan mewakili kelasnya. Dia bertekad akan menunjukkan kepada semua
orang kalau dia adalah ketua Tim Bangtan yang berbakat dan pintar.
''Ya! Kalian!''
Tim Bangtan menoleh. ''Astaga, mereka lagi,'' gerutu
Jin kesal melihat geng yang tadi mengacau di sekolah mereka, ''kami tidak ada
urusan dengan kalian.''
''Urusan kita belum selesai,'' sahut si ketua geng
dengan angkuh, ''aku tidak sabar ingin mengalahkan kalian.''
Yoongi akan maju, tapi Hoseok menahannya. ''Meja,''
bisik Hoseok dengan wajah horor, membuat Yoongi merinding dan mundur. ''Mian,
kami benar-benar tidak ingin meladeni kalian,'' kata Jungkook malas, ''ayo
semua. Kita pergi saja.'' Jungkook menggiring teman-temannya meninggalkan geng
musuh yang melongo. ''Tumben mereka menolak tantangan kita, bos,'' sahut
seorang bertubuh gendut. Ketua geng itu mengendikkan bahu, dia masih cengo
menatap kepergian Tim Bangtan.
Wendy dan Seulgi keluar dari persembunyian mereka.
Wendy mengeluarkan handy talkie, dia berkata, ''Aman. Roger.'' Dua gadis itu
berjingkat mengikuti Tim Bangtan yang melangkah menyeberang jalan.
''Kenapa kau mencegahku menghajar orang sok itu,
sih?'' gerutu Yoongi, ''tanganku sudah gatal mau memukul mereka.''
''Lihat ke belakang,'' gumam Namjoon, ''ada yang
kurang kerjaan mengikuti kita. Entah siapa yang menyuruh, yang jelas salah satu
dari dua nenek sihir itu.''
Yoongi dan yang lain serempak menoleh ke belakang.
Yoongi mengerutkan dahi, dia lalu memutar bolamata saat melihat rok yang
berkelebat dibelakang standing banner sebuah kafe. ''Payah,'' dengus Yoongi,
''penyamaran yang tidak sempurna.'' Yoongi menghela napas, dia seketika
menyeringai dan berbisik, ''Aku ada ide.''
Yang lain menoleh menatap Yoongi yang menyeringai
jahil. ''Dalam hitungan ketiga,'' katanya, ''hana....dul....set.... LARI!''
Yoongi melesat kabur, Taehyung yang kaget langsung berlari mengikuti Yoongi
disusul yang lain. Wendy dan Seulgi terkejut, mereka segera berlari mengejar
Tim Bangtan. ''Sena-ssi mengatakan mereka tidak boleh lolos!'' kata Seulgi,
''ayo, Wendy-ssi! Kita kejar mereka!''
Wendy dan Seulgi berlari, lalu berhenti di belokan
dan mengatur napas sambil membungkuk. ''Bagaimana ini, Wendy-ssi?'' Seulgi
berucap khawatir, ''Sena-ssi akan kecewa kalau kita tidak melaksanakan tugas
dengan baik.'' ''Tapi mereka sudah melarikan diri,'' kata Wendy, ''kita pulang
saja. Sena-ssi pasti akan mengerti. Toh kalau begini, nanti juga Tim Bangtan
yang akan ditegur.''
''Kau benar,'' kata Seulgi, ''Sena-ssi pasti akan
memarahi mereka.'' Dua gadis itu kemudian berlalu dari tempat itu.
Tim Bangtan melongok dari balik tumpukan sampah,
mereka tertawa puas melihat Seulgi dan Wendy menyerah mengejar mereka. ''Tuan
Putri seperti mereka tidak akan sanggup mengejar kita,'' kata Yoongi,
''memangnya kita ini tahanan kota, harus diawasi segala?'' ''Sudah kuduga Sena
pasti yang menyuruh untuk mengawasi kita,'' gerutu Hoseok, ''dasar nenek
sihir.''
''Mungkin dia mengira kita berkelahi diluar
sekolah,'' sahut Taehyung.
Jungkook mendengus kesal. Nafsu makannya mendadak
hilang melihat ulah para gadis. ''Sudahlah, ayo kita makan saja,'' kata Jin,
''dimana pelayan cantiknya? Aku mau merayunya.''
*
Jungkook berhenti, dia menoleh dan menatap horor
kearah jalan di belakangnya. Jungkook mengelus tengkuknya, dia berbalik dan
kembali berjalan. Jungkook akan berbelok saat dia melihat sekelompok siswa dari
SMA Choseun bergerombol di dekat swalayan. Jungkook buru-buru pergi dari sana
sebelum mereka melihatnya. Bukan karena takut, tapi masalahnya dia tidak
mungkin berkelahi disaat seperti ini.
Irene dan Yeri muncul dari dalam toko aksesoris.
Mereka menatap Jungkook yang melangkah cepat, lalu Irene mengeluarkan handy
talkie dan berkata, ''Jungkook tidak berkelahi. Aman. Roger.''
^
Hoseok dan Jimin terkekeh-kekeh sambil membaca
majalah yang baru saja dibeli Jimin. ''Waaa, yeppeuda,'' sahut Hoseok melihat
model cantik yang memperagakan seragam di majalah itu, ''andai gadis ini bisa
jadi pacarku.''
''Bermimpilah sampai ke surga,'' sahut Jimin. Mereka
berbelok dan seketika berhenti saat berhadapan dengan segerombolan preman.
''Kalian!'' sahut seorang berambut mohawk, ''Bangtan! Aku belum selesai dengan
kalian!''
Ming.
''Kalau bukan karena meja aku akan meladeni
mereka,'' gumam Hoseok, dia segera menarik Jimin dan berlari sekencang mungkin
darisana. ''Ya! Jangan lari kalian!'' si rambut mohawk dan kawanannya berlari
mengejar, tapi kemudian dia berhenti lalu menatap heran Jimin dan Hoseok.
''Chamkamman,'' katanya, ''kenapa mereka lari? Biasanya mereka akan melawan
kita.''
Seulgi mengintip, dia mengunyah apel lalu
mengeluarkan handy talkie dan berkata, ''Hoseok dan Jimin aman. Roger.''
^
''Apa kubilang. Harganya mahal sekali,'' kata
Namjoon sambil mengulum lolipop, ''kau harus menabung selama berbulan-bulan
kalau mau membelinya.''
''Aku rela jalan kaki asal aku bisa membelinya,''
kata Yoongi, ''lihat saja. Aku pasti bisa membeli midi gear itu.''
Dua anak itu berjalan santai di trotoar. ''Ya, aku
dapat nomor ponsel si cantik itu,'' sahut Namjoon sambil menyeringai
menunjukkan ponselnya. Yoongi terbelalak, dia berkata, ''Kau curang! Tidak ada
satupun dari kami yang mendapatkan nomor ponselnya!''
''Ck, kalian kurang pengalaman soal merayu
perempuan,'' sahut Namjoon dengan gaya sok.
Mendengar itu, hidung Yoongi mengkerut dan pemuda
itu menatap kesal Namjoon. ''Kenapa dia mau saja dirayu orang jelek
sepertimu,'' gerutunya. Yoongi akan menyambar ponsel Namjoon, tapi Namjoon
dengan sigap menjauhkan ponselnya dari jangkauan Yoongi. ''Aku tidak akan
memberitahukan nomornya kepadamu,'' sahut Namjoon sambil menjulurkan lidahnya,
dia tertawa dan berlari menjauh.
''Ya! Kim Namjoon jangan lari!'' teriak Yoongi, dia
berlari mengejar Namjoon yang mentertawakannya. ''Jebal, beritahu aku nomornya!
Aku janji tidak akan memberitahu siapapun!'' pekik Yoongi.
''Never!'' teriak Namjoon sambil tertawa.
''Ayolah!'' sahut Yoongi, ''aku janji tidak a.....''
Brak!
''Aw!'' Yoongi memekik, dia menatap marah dua orang
laki-laki dan menyentak, ''Ya! Perhatikan jalanmu!''
''Kau anak kecil berani sekali bicara keras,'' gumam
salah satu laki-laki sambil mencengkeram kerah seragam Yoongi, ''dimana sopan
santunmu, hah?!''
Yoongi menggeram, dia akan menghajar laki-laki itu
saat Namjoon tiba-tiba datang dan membungkuk. ''Jeosonghamnida, Ahjussi!''
sahutnya, ''maafkan kami. Kami akan berhati-hati.''
''Namjoon-ah! Kenapa kau malah minta maaf?!'' sahut
Yoongi.
Namjoon mendesis dan menatap Yoongi. ''Meja,''
desisnya kesal.
Yoongi mengerjapkan mata. Dia berdecih pelan, dengan
terpaksa membungkuk dan berkata, ''Mia.... Jeosonghamnida.''
Dua laki-laki itu menatap Namjoon dan Yoongi dengan
angkuh. ''Lain kali perhatikan etika saat berbicara,'' katanya sambil melangkah
pergi. Yoongi dan Namjoon berdiri, Yoongi menatap kesal dua orang itu dan
menggerutu, ''Kalau bukan demi meja Bangtan sudah kuhabisi mereka.''
''Sudahlah,'' kata Namjoon, ''setelah kita
mengembalikan meja kita ke kelas, kita tidak perlu lagi menuruti sekumpulan
nenek sihir itu.'' Namjoon menarik Yoongi dan kembali berjalan menuju sekolah.
Wendy dan Joy menurunkan majalah yang mereka gunakan
untuk menutupi wajah mereka. Joy mengambil handy talkie dan berkata, ''Yoongi
dan Namjoon aman. Roger.'' Dua gadis itu beranjak dari kursi taman dan
mengendap mengikuti dua anggota Bangtan itu.
^
Taehyung berhenti, dia seketika berbalik dan
mendekap tubuhnya sendiri. ''Kau kenapa, Tae?'' tanya Jin.
''Aniya,'' jawab Taehyung, ''hanya saja.... Aku
merasa seperti ada yang mengikuti kita. Atau mengikutiku. Semoga bukan arwah
penasaran.''
Jin menatap sekeliling, dia menghela napas dan
berkata, ''Itu hanya perasaanmu. Ayo cepat. Kita sudah terlambat.''
Dua anak itu berjalan menyusuri pertokoan. ''Aku
bosan,'' dengus Taehyung, ''tidak berkelahi, tidak menerima tantangan dari SMA
lawan, benar-benar membosankan.'' ''Hanya sebentar, Tae,'' sahut Jin, ''kalau
kita sudah mendapatkan meja kita dan memakainya lagi, kita tidak perlu
mendengarkan omongan mereka.''
Taehyung kembali mengerang, Jin hanya tersenyum
melihat kelakuan bocah di sebelahnya ini. ''Tapi aku merasa hal ini menarik
juga,'' kata Jin, ''aku tidak sabar menunjukkan kemampuan danceku kepada para
gadis.''
Taehyung menatap remeh Jin, dia membalas, ''Tubuhmu
itu kaku seperti tiang listrik. Aku yang akan jadi pusat perhatian.''
''We'll see,'' kata Jin.
Mereka berdua terkekeh, lalu kembali berjalan. Jin
menatap ke depan, seketika dia berhenti saat melihat Yongguk dan Himchan, musuh
bebuyutan Bangtan muncul dari arah berlawanan. ''Sial,'' gerutu Jin, ''kenapa
kita harus bertemu dengan mereka sekarang?''
''Hm?'' Taehyung menoleh, raut wajahnya seketika
berubah melihat Yongguk dan Himchan. Dua orang itu juga berubah tegang saat
menatap Jin dan Taehyung. ''Oh, Bangtan rupanya,'' kata Himchan, ''kemana
teman-teman kalian yang lain hah? Apa geng kalian sudah bubar?'' ''Atau mungkin
mereka semua tewas saat berkelahi dan menyisakan kalian berdua,'' sahut
Yongguk.
Taehyung akan maju, namun Jin menahannya. ''Mereka
ada di sekolah,'' jawab Jin sambil berusaha menahan emosi, ''kami tidak berniat
bertarung dengan kalian. Kami punya banyak urusan yang lebih penting daripada
itu.''
''Ah, aku baru ingat kalau kalian sudah bergabung
dengan SMA Seolyeong,'' sahut Himchan dengan memasang wajah sok terkejut,
''jadi apa kesibukan kalian sekarang? Merajut? Atau memasak?'' ''Mungkin kalian
sedang diajari bagaimana cara mengganti popok bayi,'' ejek Yongguk, dia dan
Himchan tertawa terbahak.
''Ah, kebetulan sekali bertemu kalian disini.''
Mereka semua menoleh serempak kearah sebuah toko.
Sena keluar sambil membawa banyak barang, dia tampak kepayahan. Taehyung dengan
sigap membantu Sena membawakan beberapa barang, dan Jin membantu membawakan
kardus yang entah apa isinya. ''Omona, kalian sangat baik hati,'' puji Sena,
''aku padahal belum minta tolong. Baiklah, ayo kita kembali ke sekolah.
Barang-barang ini akan digunakan untuk menghias aula dan panggung.'' Sena
menatap Yongguk dan Himchan, dia tersenyum dan membungkuk sopan.
''Annyeonghasseo,'' sapanya ramah. Sena, Taehyung, dan Jin masuk ke van putih
sekolah, mereka berlalu begitu saja dari hadapan Yongguk dan Himchan.
Yongguk menoleh, dia mengerutkan dahi menatap
Himchan yang tampak serius menatap van SMA Seolyeong yang menjauh. ''Kau
kenapa, Hime?'' tanya Yongguk.
''Aniya,'' jawab Himchan, ''tapi.... Sepertinya aku
pernah bertemu dengan gadis itu sebelum ini.''
''Jinjja? Dimana?'' tanya Yongguk.
Himchan menghela napas. ''Molla, aku tidak ingat,''
katanya, ''sudahlah. Ayo.'' Himchan dan Yongguk kembali berjalan meninggalkan
tempat itu.
*
Jiyoo masuk kelas, dia mengerutkan dahi menatap Tim
Bangtan. ''Dimana Jin-ssi dan Taehyung-ssi?'' tanya Jiyoo, dia menoleh kearah
para gadis, ''dan dimana Sena-ssi?''
''Sena-ssi mengambil beberapa properti untuk
menghias panggung dan aula,'' jawab seorang siswi, ''tapi.... Aku tidak tahu
dengan dua orang lain.'' ''Jin dan Taehyung masih di jalan,'' jawab Yoongi,
''tunggu saja.''
Jiyoo mengangguk. Dia menoleh saat mendengar pintu
terbuka. Jiyoo menghela napas lega melihat Sena masuk bersama Jin dan Taehyung.
''Maaf kami terlambat, Jiyoo-ssi,'' sahut Sena sambil membungkuk memberi salam,
''aku, Jin-ssi, dan Taehyung-ssi harus meletakkan barang-barang di aula dulu.''
Sena tersenyum sambil menatap dua orang itu. ''Mereka sangat baik, mau
membantuku tanpa diminta,'' puji Sena.
''Oh jelas saja,'' kata Jimin, ''kami ini jelmaan
malaikat. Tidak seperti kalian, jelmaan nenek sihir.''
''Maaf, tapi yang kuanggap malaikat hanya Jin-ssi
dan Taehyung-ssi. Bukan kau, Jimin-ssi,'' sahut Sena.
Jleb.
Namjoon dan Yoongi langsung menahan tawa, sementara
Jimin menatap cengo Sena yang tersenyum. ''Yeorobun,'' kata Jiyoo, ''aku sangat
senang kalian sangat antusias mempersiapkan perayaan ini. Aku harap kelas kita
menampilkan yang terbaik.''
''Apa nanti kita akan jadi pemenang dan dapat
hadiah?'' tanya Jungkook.
Jiyoo tersenyum. ''Tidak, Jungkook-ssi,'' kata Jiyoo
menjawab, ''ini bukan perlombaan. Ini hanya perayaan biasa. Tidak ada kompetisi
apa-apa.''
''Ah, tidak seru,'' gerutu Hoseok. Jiyoo tersenyum
lalu berkata, ''Tapi kalau kalian tidak membuat masalah saat perayaan, aku akan
memberi kalian hadiah.''
Jungkook langsung mendekati Jiyoo. ''Jinjja? Kau
tidak bohong, kan?'' tanyanya antusias, ''apa hadiahnya? Makanan? Voucher main
game?''
''Kau boleh memakai meja lamamu di kelas,'' jawab
Jiyoo kalem.
Jungkook menatap sweatdrop Jiyoo yang tersenyum
manis. ''Itu sih bukan hadiah, tapi perjanjian,'' kata Jungkook, ''ah tapi
tidak apa-apa. Awas ya, kalau kau masih mencari-cari alasan agar kita tidak
bisa memakai meja lama kita. Kuhajar kau.''
Jiyoo tersenyum dan mengangguk. ''Nah, mari latihan
yang terakhir,'' kata Jiyoo, ''besok sudah hari perayaan. Aku dan Sena-ssi akan
mengecek persiapan di kelas lain.'' Jiyoo memberi salam, dia dan Sena melangkah
keluar kelas.
Hoseok berdiri dan berkata, ''Ayo latihan. Kita
harus menunjukkan yang terbaik.'' Tim Bangtan bersorak, mereka mengambil posisi
dan mulai menari sesuai iringan musik yang mengalun dari ponsel Namjoon.
''Sena-ssi, apa menurutmu mereka akan menampilkan
yang terbaik dan tidak membuat masalah?'' tanya Jiyoo sambil melangkah pelan
menyusuri koridor. Sena diam sejenak, dia menjawab, ''Kita doakan saja semoga
mereka tidak membuat masalah.'' Sena menatap Jiyoo dan meneruskan, ''Tapi
melihat usaha keras mereka menghindari perkelahian dengan geng manapun itu
sudah menunjukkan kalau mereka tidak akan membuat masalah.''
Jiyoo tersenyum, dan Sena membalas senyumannya.
''Terimakasih sudah membantuku membujuk mereka,'' kata Jiyoo, ''walaupun kau
menggunakan lidah tajammu, tapi aku senang dengan bantuanmu.''
Sena tersenyum menanggapi ucapan Jiyoo. Mereka
kembali berjalan. Sena menoleh, dia mengerutkan dahi melihat para siswa
berjalan mengendap-endap di sisi sekolah. Sena menghela napas dan menggumam,
''Aneh.''
*
Jungkook berputar untuk kesekian kalinya, dia
menatap diri sendiri di cermin. Jungkook tersenyum menatap dirinya yang memakai
pakaian hiphop yang keren. ''Aku memang keren dan tampan,'' pujinya kepada diri
sendiri, ''daebak, Jungkook-ah. Daebak. Kau ketua geng tertampan di dunia.''
''Cuih.''
Jungkook menoleh dan menatap datar Jimin yang
menatapnya jenaka. ''Aku lebih tampan,'' katanya sambil mematut diri di cermin,
''lihat saja, akan ada banyak gadis yang meneriakkan namaku nanti.''
''Ya, mereka akan berteriak, 'Jimin-ah, turun dari
panggung sekarang!','' sahut Yoongi, dia dan Jungkook lalu tertawa keras
sementara Jimin hanya menatap kesal keduanya.
Semua murid yang tampil sibuk merias diri. Para
siswi berdandan menata rambut mereka, sementara Tim Bangtan malah sibuk
berlatih diantara keriuhan kelas. Hoseok serius melatih gerakan, diikuti Jin
dan Taehyung di belakangnya. Jiyoo masuk kelas, dia tersenyum melihat Tim
Bangtan sudah ada disana. Jiyoo menoleh, dia menatap Sena yang mengetik sesuatu
di ponsel dan berkata, ''Sena-ssi, kurasa kita harus memindahkan sebagian
bangku ke gudang. Meja lama para siswa akan dipindahkan.''
''Hm?'' Sena menoleh, ''ah, arraseo. Aku akan
menghubungi pekerja sekolah untuk melakukannya nanti.'' Sena melangkah dan
berkata, ''Yeorobun, mari kita melakukan yang terbaik. Aku yakin latihan ini
akan menghasilkan penampilan yang spektakuler. Ganbatte kudasai!'' Ucapan Sena
disambut sorakan para siswa dan tepuk tangan serta senyuman para siswi.
''Ya! Ada masalah!''
Semua menoleh kearah pintu kelas. Gongchan dan
Jinyoung masuk dengan napas tersengal, Gongchan lalu berteriak, ''Papan nama
SMA Narin dan meja kita hilang!''
''MWO?!'' Tim Bangtan memekik kaget. Jiyoo dan yang
lain terbelalak mendengar ucapan Gongchan, Jiyoo segera menatap khawatir Sena
dan memberi tatapan pasti-akan-ada-masalah-sebentar-lagi. Sena mendekat dan
bertanya, ''Kalian sudah mencarinya?''
''Ada surat tantangan,'' Jinyoung merogoh saku dan
mengeluarkan selembar kertas, ''mereka yang mengambil papan nama dan meja kita.
Geng yang waktu itu mengacau di sekolah kita. Kalau kita tidak kesana, mereka
mengancam akan membakar meja dan papan nama SMA Narin.''
''Tidak akan kubiarkan mereka melakukannya!'' teriak
Yoongi marah, dia langsung berlari keluar kelas. Yang lain segera menyusul.
Jungkook akan keluar saat Sena bertanya, ''Jungkook-ssi! Bagaimana dengan
perayaannya?!''
''Persetan dengan perayaan sekolah!'' teriak
Jungkook, ''ini perayaan sekolah kalian, bukan sekolahku!'' Jungkook berdecih,
dia kembali berlari menyusul yang lain.
Jiyoo panik dan mendekati Sena. ''Sena-ssi,
bagaimana ini?'' tanya Jiyoo panik, ''kita tidak mungkin membatalkan
pertunjukan.''
''Show must go on, Jiyoo-ssi,'' kata Sena. Dia
menatap para siswa yang masih disana, lalu berkata, ''Aku yakin ada diantara
kalian yang bisa menari. Gantikan mereka, bisa, kan?''
Para siswa saling pandang ragu. ''Tapi kami tidak
hapal dengan gerakannya,'' kata Ilhoon pelan.
''Aku punya video rekaman saat latihan,'' kata Sena,
''kita masih punya waktu satu jam untuk berlatih. Kumohon, lakukan ini untuk
Tim Bangtan. Mereka berusaha mengambil meja dan papan nama sekolah kalian,
kehormatan kalian. Setidaknya hargai pengorbanan mereka dengan menggantikan
posisi mereka di atas panggung.''
Jiyoo menatap Sena. ''Sena-ssi....'' Jiyoo takjub
dengan kata-kata Sena, dia tidak menyangka Sena akan mengucapkan hal demikian.
''Aku seperti mendengar seorang yakuza berpidato,'' gumam Sungjae, ''baiklah.
Yeorobun, ayo kita tampilkan yang terbaik! Demi Bangtan! Demi SMA Narin!''
''Yeaah! All hail Bangtan! All hail Narin!'' sorak
yang lain.
Jiyoo menatap Sena dengan senyum lega. ''Siapkan
acara di panggung, Jiyoo-ssi,'' kata Sena, ''aku akan mengurus mereka.''
*
Jungkook menjeblak kasar pintu gudang. ''Beraninya
kalian mencuri meja dan papan nama sekolah kami!'' teriak Jungkook marah,
''kembalikan! Atau kuhajar kalian!''
Ketua geng itu mendengus, dia berkata, ''Ambil
kemari kalau kalian mau.'' Dia berdiri dan menendang meja milik Jungkook hingga
terguling, lalu tertawa terbahak-bahak.
Jungkook menggeram, dia langsung maju dan meninju
wajah ketua geng itu. Seketika Yoongi dan yang lain ikut menerjang geng lawan.
Jungkook dengan marah dan membabibuta menghajar lawannya tanpa ampun. Yoongi
menendang lawannya, dia lalu menghajar yang lain dan menghantamkan balok kayu
kepada satu lawannya. Jin dan Taehyung sama-sama berlari ke sisi gudang, Jin
membenturkan kepala lawannya ke dinding gudang sekeras mungkin sementara
Taehyung lebih banyak menghindar dan mencari celah untuk mengambil papan nama
sekolahnya. Namjoon sendiri dengan tenang menaiki meja dan menendang wajah
lawan-lawannya, dia meludah dan berkata, ''Jangan membuat masalah dengan
Bangtan, bung. Kau cari mati.''
''Oi!''
Hoseok menoleh, dia berteriak dan berlari menerjang
seorang lawan yang melemparkan papan nama sekolah mereka kedalam api.
''Beraninya kau!'' pekik Hoseok, dia dengan membabibuta meninju muka orang itu
hingga tidak jelas bentuknya. Jimin berlari, dia menyikut keras lawannya dan
mengambil papan nama sekolahnya. Matanya terbelalak melihat sebagian papan nama
SMA Narin menghitam karena terbakar, dia menggeram lalu menghantamkan bagian
yang masih panas kearah kepala si ketua geng. ''Aku tidak akan mengampuni
kalian!'' teriak Jimin, dia mencekik leher si ketua geng dan menendang perutnya
beberapa kali.
''Jimin-ah! Berhenti!'' Jungkook dan Namjoon segera
menahan Jimin. Jungkook menatap si ketua geng dan berteriak, ''Pergi atau aku
akan memanggil polisi! Kalau kalian berani mengusik kami lagi, akan kuhabisi
kalian!''
''Kau dan aku belum selesai!'' sahut si ketua geng
sambil berlalu bersama kawanannya. Jin mengambil papan nama itu, dia menatap
nanar tulisan SMA Narin yang menghitam sebagian. ''Aku tidak akan mengampuni
siapapun yang merusak barang-barang kita,'' katanya pelan.
''Kita bawa saja dulu meja-meja ini,'' kata Namjoon,
''ayo.'' Namjoon mengambil mejanya, dia berjalan sambil meringis menahan sakit
di wajahnya.
Jungkook mengerutkan dahi sejenak. ''Ya ampun!
Perayaannya!'' pekik Jungkook, ''bagaimana ini?!''
''Sudahlah, jangan berharap banyak,'' kata Hoseok,
''kita tidak menepati janji, jadi jangan harap Jiyoo dan Sena akan menepati
janji mereka.'' Hoseok mengambil mejanya, dia menatap yang lain dan berkata,
''Asal meja kita tidak dibuang, kurasa itu sudah cukup, kan.''
Jungkook terdiam. Dia menunduk, membayangkan wajah
kecewa Jiyoo seperti yang ditunjukkannya waktu itu. Jungkook menghela napas,
dia akhirnya mengambil mejanya dan berjalan lemas keluar gudang.
*
Jungkook berjalan santai sambil menyeruput jus
jeruk. Entah kenapa dia malas ke sekolah hari ini. Jungkook masih belum siap
menghadapi Jiyoo, dia pasti masih kecewa. Jungkook salut dengan teman-temannya
yang menggantikan posisi Tim Bangtan di pertunjukan, tapi dia juga merasa
bersalah dan malu.
''Lho. Kau tidak ke sekolah?''
Jungkook berbalik, dia berhenti saat melihat
Chansung, salah seorang alumni SMA Narin yang dulu adalah anggota geng disana.
''Annyeong, Hyung,'' sapa Jungkook.
Chansung tersenyum dan mengangguk saja. ''Kau kenapa
tidak ke sekolah, hah?'' kata Chansung, ''sadar diri, nilaimu jeblok semua. Kau
mau jadi siswa abadi, ya?''
''Aku tidak berani,'' gumam Jungkook.
Chansung langsung tertawa terbahak. ''Mwo? Ketua
geng Bangtan takut? Ada apa denganmu, hah?'' katanya dengan nada mengejek,
''kau takut dengan siapa, hm?''
''Dengan seorang ketua Dewan Murid,'' jawab
Jungkook, ''aku sudah membuatnya kecewa beberapa kali. Aku berjanji tidak akan
berkelahi, tapi aku melanggar janjiku sendiri.'' Jungkook menatap Chansung dan
melanjutkan, ''Hyung, dia pasti membenciku.''
Chansung menghela napas. ''Sejak kapan kau jadi
pengecut begini, hah?'' ucap Chansung sambil menoyor kepala Jungkook, ''kau
masih ingat waktu kau membuat kesal mendiang kakakmu berkali-kali? Tapi kau
masih berani menghadapinya, dan masih berani minta maaf meskipun kau tahu dia
sangat kecewa. Kenapa sekarang tidak? Jelaskan saja, dia akan mengerti.''
Jungkook menunduk dalam. ''Sana ke sekolah,'' kata
Chansung, ''dia akan semakin kecewa kalau kau tidak terlihat di kelas.''
Chansung tersenyum dan menepuk pundak Jungkook, lalu melangkah pergi sambil
bersiul. Jungkook menghela napas, dia menatap kearah jalan dan akhirnya mantap
menuju sekolah. ''Aku kan hanya ingin merebut mejaku lagi,'' gumam Jungkook,
''keterlaluan kalau dia tidak mau mengerti.''
Jungkook melangkah menyusuri koridor, dia dengan
lemas melangkah masuk kelas. Jungkook menoleh, sejenak dia terdiam dan tampak
bingung. Jungkook masih diam, detik berikutnya dia memekik senang dan berlari
ke mejanya. ''Mejakuuuuu!'' sahut Jungkook senang sambil mengelus-elus meja
lamanya yang entah sejak kapan ada di kelas, ''cintaku akhirnya kau kembali.
Bogoshippooooo.''
''Cheesy,'' gumam Namjoon pelan, dia tersenyum
senang melihat tawa bahagia Jungkook.
Jungkook tersadar, dia lalu mendongak dan menatap
sekeliling. Dia baru sadar para siswa memakai meja lama mereka. ''Chamkamman,''
katanya, dengan sigap Jungkook mendekati Jiyoo dan bertanya, ''kenapa mejaku
ada di kelas?''
''Sebagai hadiah atas penampilan yang bagus,'' sahut
Jiyoo tersenyum.
Jungkook terdiam menatap Jiyoo. ''Jiyoo-ah,
mianhae,'' sahut Jungkook pelan, ''aku melanggar janjiku. Tapi aku melakukannya
bukan tanpa alasan. Aku....''
''Aku tahu, Jungkook-ssi,'' sela Jiyoo, ''aku tahu
kau berusaha merebut kembali papan nama sekolah dan mejamu. Aku menghargai rasa
cintamu kepada SMA Narin, maka sebagai bentuk penghargaan aku memutuskan
mengijinkan kalian memakai meja lama kalian.'' Jiyoo tersenyum dan berkata,
''Aku ingin berlaku adil.''
Jungkook tersenyum kepada Jiyoo. ''Ya, tapi tidak
berarti kita berteman, ya,'' sahut Taehyung, ''kami masih tidak sudi berteman
dengan kalian.''
Jiyoo hanya tersenyum mendengar ucapan Taehyung.
Jungkook kembali ke bangkunya, dia sangat senang memakai meja lamanya. Meja
yang sangat berharga, warisan dari mendiang kakaknya yang juga ketua geng di
SMA Narin. Jungkook menatap Jiyoo yang sekarang asyik mengobrol bersama Sena,
dia membatin, 'Tidak terlalu buruk.' Jungkook menghela napas, dia kembali
mengelus-elus mejanya dengan manja.
***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar