Rabu, 29 Juli 2015

Untitled 1

 Title : Untitled
Cast : Shinnosuke Tomari
Gou Shijima
Chase
Genre : Tentukan sendiri aja
 ***
 HOLLAAAAA
Saya kembali setelah sekian lama ndak ngepost
Ini FF sebenernya udah pernah aku post di notes FBku, tapi gapapa deh aku post ulang muehehehe.....
Happy Reading!!
***
 

Chase membuka mata, matanya menyipit kesal menatap kearah pintu. Gimana nggak kesel, pagi-pagi bukannya dibangunin jam beker malah dibangunin suara ribut Papi sama Mami. Dikira kuping nggak pengang apa dengerin mereka ribut terus?

''Ya kamu pengertian dikit, dong. Udah tua juga masih aja keluar malem. Baik baik nggak masuk angin atau encok itu badan. Dikira nggak capek apa bangun tengah malem cuma buat ngerokin doang,'' suara sang Mami, Brain terdengar syahdu menyanyi indah.

Itu ngomel bloon. Dikira nyanyi.

''Masalahnya aku selalu ada kerjaan pas malem, Mi,'' suara Heart, sang Papi menyahut.

''Halah, emangnya situ tukang bangunan yang shift malem?'' balas Brain, ''bilang aja situ mau karaoke sama sekretaris yang kece itu. Nggak sadar umur, anak udah gede juga.''

Chase memegang kepalanya. Pusing kepala Chase denger orangtuanya ribut melulu. Kata orang kalau ada suami istri berantem itu tandanya mereka makin dekat. Tapi nggak tiap hari juga keles. Kalau tiap hari kan yang lain jadi nggak nyaman. Paling nggak dikurangi jadi tiap minggu kek, tiap bulan kek, mending nggak usah sekalian. Yang mesra kayak pasangan lain.

Chase yang selesai mandi melongo mendengar orangtuanya masih aja ribut kayak kucing rebutan ikan asin. Chase menoleh kearah jam, dia mendengus kesal. Udah dua jam, mamen. Dan mereka masih ribut. Chase makin sebel, dia kepingin minggat aja dari rumah. Dia ganti baju, menyambar tasnya dan melangkah dengan kaki sengaja dihentak-hentak biar kesindir itu dua orang bangkotan.

Brak! Bruk! Brak! Bruk!

Brain dan Heart menoleh, dengan memasang wajah ramah Brain mendekat dan mengelus pipi Chase. ''Sarapan dulu, ya, nak,'' kata Brain, ''Mami udah nyiapin sarapan. Telur orak arik kesukaanmu.''

''Udah kenyang, Mam,'' jawab Chase datar sedatar papan triplek.

''Lho? Kamu makan apa?'' tanya Brain.

''Makan keributan Mami sama Papi,'' sindir Chase, dia melangkah pergi meninggalkan Brain dan Heart yang melongo. Mampus lo semua, kesindir kan lo sama jawaban anak semata wayang tercinta lo berdua. Chase memacu motor hitamnya yang mirip motornya Kaito, dia harus cepet cabut dari rumah.
***
Gou mengintip, matanya berbinar-binar melihat seorang cowok cakep berpostur jangkung atletis yang bicara sama Kiriko, dosen sekaligus kakaknya di ruang dosen. Dia penasaran dengan cowok itu, yang dia tahu itu dosen baru. Dan artinya kakaknya harus ngenalin dia ke cowok itu. Harus. It's a must. Kudu. Wajib. Kalau nggak dosa besar nggak akan diampuni sama Tuhan.

Dikira dosa ngedukun kali ya nggak diampunin.

Sementara Gou masih sibuk ngintipin cowok cakep itu, Chase lewat dengan muka datarnya. Dia berhenti, menatap flat Gou yang jongkok sambil intip-intip ke ruang dosen. Chase ikut mengintip, detik berikutnya dia nyesel ikutan ngintip.

Ngapain coba Gou ngintipin kakaknya sendiri? Incest ini bocah.

Chase mendengus, dia lewat begitu saja mengabaikan Gou. Gou sadar Chase lewat, dia langsung mengejar sepupunya itu. ''Tumben elo dateng pagi,'' kata Gou, ''biasanya baru nongol di kuliah terakhir.''

Chase diam saja. ''Ada dosen baru kece banget,'' kata Gou, ''denger-denger dia bakal ngajar buat kuliah Metodologi Penelitian di kelas kita.''

''Trus gue harus bilang wow sambil ngesot-ngesot jablay gitu?'' balas Chase datar tapi makjleb, ''apa peduli gue sama dosen baru itu? Nggak ngaruh.'' Chase melangkah pergi, dan Gou mengejarnya.

''Jangan nyerobot dia, ya,'' kata Gou, ''kalau nggak gue makan lo.''

Chase menatap datar Gou. Dia lalu pergi begitu saja. ''Woi, kelasnya kelewatan!'' panggil Gou. Tapi Chase sama sekali nggak noleh, dia jalan terus. Gou berdecak, dia mengangkat bahu dan masuk kelas. Gou semangat buat mulai kelas Metodologi Penelitian.

Shinnosuke menghela napas, dia membenarkan dasinya dan melangkah masuk kelas. Shinnosuke berusaha ramah, dia tersenyum kepada semua mahasiswa yang mungkin jarak umurnya cuma beberapa tahun dari dia. ''Selamat pagi,'' katanya, ''saya adalah dosen baru menggantikan Pak Asata. Nama saya Shinnosuke Tomari. Kalian boleh manggil saya Pak Tomari atau Pak Shinnosuke. Panggil Shinnosuke aja juga nggak papa biar akrab.''

Shinnosuke membuka buku absen, dia mulai memanggil nama mahasiswa satu persatu sambil menghapal wajah mereka. Shinnosuke melihat Gou, dia tersenyum juga waktu mahasiswanya itu senyum manis banget ke dia. Manis nemper ceria. Dia tahu itu Gou adiknya Kiriko, soalnya tadi Kiriko udah cerita.

''Chase,'' panggil Shinnosuke. Dia menoleh celingukan saat tidak ada yang unjuk jari, ''mana Chase? Dia nggak masuk?''

''Dateng kok, Pak,'' sahut Gou, ''tapi dia nggak masuk kelas.''

''Terus dia dimana?'' tanya Shinnosuke.

''Nggak tau.''

Shinnosuke menghela napasnya. Dia mulai memberikan kuliah untuk yang lain. Tapi perasaannya terasa janggal. Dia ngerasa ada yang bisikin hatinya buat nyari Chase setelah kuliah selesai.

Gou menatap senang Shinnosuke. Dia semangat mendengarkan, dan bertekad bakal jadi pinter buat narik perhatian Shinnosuke. Apalagi dia adik Kiriko, dia bakal maksa kakaknya itu buat nyomblangin dia.

Kalau nggak awas aja.
***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar